cover
Contact Name
Verna A. Suoth
Contact Email
vernaalbert@gmail.com
Phone
+628124757878
Journal Mail Official
mipa.unsrat.online@gmail.com
Editorial Address
EDITOR IN CHIEF Gerald H. Tamuntuan, Universitas Sam Ratulangi, Indonesia MANAGING EDITOR Verna A. Suoth, Universitas Sam Ratulangi, Indonesia BOARD OF EDITOR Audy Wuntu, Fakultas MIPA Univesitas Sam Ratulangi BOARD OF EDITOR Nio Song Ai, Universitas Sam Ratulangi, Indonesia BOARD OF EDITOR Nelson Naingolang, Universitas Sam Ratulangi, Indonesia
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal MIPA
ISSN : -     EISSN : 23023899     DOI : https://doi.org/10.35799/jmuo.10.2.2021.33592
Core Subject : Science, Education,
Jurnal MIPA menjadi sarana publikasi bagi akademisi dan peneliti. Jurnal MIPA mempublikasikan artikel hasil penelitian di bidang : Matematika Fisika Biologi Kimia
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2015)" : 17 Documents clear
Sianida: Klasifikasi, Toksisitas, Degradasi, Analisis (Studi Pustaka) Pitoi, M. M.
Jurnal MIPA Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.4.1.2015.6893

Abstract

Tulisan ini adalah studi pustaka mengenai sianida. Sianida adalah kelompok senyawa yang mengandung gugus siano yang umumnya diklasifikasikan sebagai sianida bebas, sianida sederhana dan kompleks sianida. Ketoksikan sianida ditentukan oleh jenis dan konsentrasinya yang umumnya dilihat dari kemampuannya melepaskan ion CN‒ yang berada yang berada dalam kesetimbangan dengan HCN yang toksik. Sianida dapat terdegradasi secara anorganik maupun biodegradasi. Beberapa metode dapat digunakan untuk menganalisis sianida sebagai sianida bebas (free cyanide), amenable cyanide, CN WAD, dan total sianida.This paper is a literature review of cyanide, which is a group of compounds consist of cyano. Cyanide is classified as free cyanide, simple inorganic cyanide and complex cyanide. Toxicity of cyanide is determined by its type and concentration and usually related to its ability to release CN‒ ion which is in equilibrium with HCN, a toxic species. Cyanide is able to be degraded inorganically and biologically. Several methods have been used to analyse cyanide as free cyanide, amenable cyanide, CN WAD and total cyanide.
Analisis Beberapa Asam Organik pada Nira Aren Menggunakan HPLC Fasa Terbalik Kolom YMC Triart C18 Limo, Sitti R.
Jurnal MIPA Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.4.1.2015.6905

Abstract

Metode HPLC fasa terbalik dengan kolom YMC Triart C18 dapat digunakan untuk pemisahan dan perhitungan konsentrasi asam organik pada nira aren. Metode analisis HPLC ini dilakukan pada suhu kolom 400C dan dideteksi pada panjang gelombang 210 nm dengan kalium dihidrogen fosfat (pH 2.8) sebagai fase gerak. Sampel yang diuji pada penelitian ini adalah nira aren yang diperoleh dari daerah kota Tomohon. Penentuan asam-asam organik dalam nira aren dilakukan menggunakan asam-asam standard asam malat, asam askorbat, asam laktat, asam asetat, asam sitrat, asam piroglutamat, dan asam fumarat. Ketujuh asam organik ini terdeteksi dalam sampel nira aren. Akan tetapi, keberadaan asam organik tersebut bergantung pada kondisi nira itu sendiri karena nira aren mudah mengalami fermentasi. Perhitungan konsentrasi asam organik pada nira aren menggunakan kurva standard dan diperoleh konsentrasi asam organik yang tertinggi dalam nira aren adalah asam malat yaitu  0.198 g/100mL untuk sampel A dan 0.774 g/100mL untuk sampel B.Reverse phase HPLC method using YMC Triart C18 can used to separating and calculating concentration of organic acid in palm juice. This method did on 40 0C column temperature and detected on  wavelength 210 cm with potassium dihydrogen phosphate (pH 2.8) as a mobile phase. Sample which tested on this research is palm juice with getted from Tomohon city. Determining of organic acids on palm juice did used standard acids such as malic acid, ascorbic acid, lactic acid, acetic acid, citric acid, pyroglutamic acid and fumaric acid. This seventh organic acids was detected on the palm juice sample, but the presence of its organic acid was dependent on condition of the palm juice its self, because the palm juice can fermenting easily. Calculating of concentration of organic acid on palm juice used standard curve and getted the highest concentration of organic acid was malic acid that is 0.198 g/100 mL for sample A and  0.774 g/100 mL for sample B.
Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Patikan Emas (Euprorbia prunifolia Jacq.) dan Bawang Laut (Proiphys amboinensis (L.) Herb) Mondong, Fendy R.
Jurnal MIPA Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.4.1.2015.6910

Abstract

Euphorbia prunifolia Jacq dan Proipys amboinensis (L.) Herb adalah dua jenis tanaman yang masih belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat karena kurangnya informasi mengenai kedua tanaman tersebut. Menurut informasi masyarakat tanaman patikan emas digunakan sebagai obat tradisioanal penurun kolestrol dan bawang laut digunakan sebagai obat anti kanker. Berdasarkan informasi tersebut dilakukan penelitian mengenai skrining fitokimia dan uji antioksidan dengan metode DPPH dari daun patikan emas dan daun bawang laut. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa kedua tanaman tersebut mengandung senyawa metabolit sekunder. Untuk daun patikan emas mengandung fenolik, flavonoid dan steroid sedangkan daun bawang laut mengandung fenolik, flavonoid, steroid dan tanin. Pada penelitian ini juga dilakukan uji total kandungan flavonoid dan kandungan total fenolik dimana daun patikan emas mempunyai nilai lebih tinggi dari daun bawang laut. Untuk hasil pengujian aktivitas antioksidan dari daun patikan emas yaitu memperoleh nilai diatas 50% sedangkan bawang laut dibawah 50%.Euphorbia prunifolia Jacq and Proipys amboinensis (L.) Herb are two types of plants that are still not widely used by the community because of a lack of information about both of these plants. According to the information from society, gold patikan plant used as a cholesterol-lowering drug tradisioanal and sea onion used as an anti-cancer drug. Based on this information had been done the research about phytochemical screening and antioxidant testing by DPPH method of patikan gold leaf and scallions sea. This research showed that both of these plants contains secondary metabolites. For patikan gold leaf containing phenolic, flavonoids and steroids while scallions sea contains phenolic, flavonoids, steroids and tannins. In this research also tests the total flavonoid and total phenolic content which patikan leaf gold has a higher value than scallions sea. For the test results of antioxidant activity from gold patikan leaf obtaining a value above 50% and below 50% of sea onion.
Penentuan Barcode DNA berdasarkan Gen matK dan Analisis In-silico MatK Rumput Macan (Lantana camara L.) Mokoagow, Billy L.
Jurnal MIPA Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.4.1.2015.6900

Abstract

DNA barcoding merupakan metode identifikasi spesies menggunakan potongan DNA pendek yang disebut barcode DNA. Gen matK merupakan gen standar untuk penentuan  barcode DNA tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan barcode DNA tumbuhan rumput macan (L. camara L.) berdasarkan gen matK, serta melakukan analisis in-silico terhadap produk gen matK tumbuhan rumput macan (L. camara L.) dengan kerabat terdekatnya. Gen matK L. camara L. telah berhasil diamplifikasi dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) menggunakan primer forward matK-1RKIM-f dan primer reverse matK-3FKIM-r. Analisis terhadap sekuens matK L. camara L. menunjukkan bahwa barcode DNA tumbuhan rumput macan (L. camara L.) terdiri dari 843 nukleotida. Selanjutnya, hasil analisis in-silico menunjukkan bahwa matK Lantana camara L. bersifat basa, stabil, dan dapat berinteraksi baik dengan air.DNA barcoding is a method of species identification using short pieces of DNA called DNA barcode. matK is a standard gene to determine DNA barcode of a plant. The aim of this research was to determine the DNA barcode of Rumput Macan plant (Lantana camara L.) based on matK gene, as well as in-silico analysis of the product matK gene Rumput Macan (L camara L.) with its closest relatives. L. camara L. matK gene was successfully amplified by Polymerase Chain Reaction (PCR) using forward primer MATK-1RKIM-f and reverse primer MATK-3FKIM-r. Analysis of the matK sequence of L. camara L. showed that the barcode DNA of rumput macan plant (L. camara L.) consisting of 843 nucleotides. Furthermore, the result of in-silico analysis showed that the matK of L camara L. is alkaline, stable, and able to interact well with water.
Perbandingan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol dan Heksana dari Daun Gedi Merah (Abelmoschus manihot) Prawira, Juan A. W.
Jurnal MIPA Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.4.1.2015.6894

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perbandingan aktivitas antioksidan ekstrak etanol dan heksana daun gedi merah dalam menghambat proses oksidasi lipida. Penelitian dimulai dengan mengekstraksi serbuk daun gedi merah yang sudah dikeringanginkan menggunakan cara maserasi selama 48 jam dengan pelarut etanol 75% dan pelarut heksana, selanjutnya ditentukan kandungan total fenolik serta aktivitas penghambatan oksidasi. Aktivitas penghambatan oksidasi diukur berdasarkan analisis kadar peroksida dan malondialdehida (MDA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol memiliki kandungan total fenolik sebesar 28,68 mg/kg dan ekstrak n-heksana sebesar 2,86 mg/kg. Kemampuan penghambatan peroksida maupun MDA oleh ekstrak etanol lebih tinggi daripada ekstrak n-heksana.The purpose of this research is to compare the antioxidant activity of ethanol and hexane extract of leaves of red gedi in inhibiting lipid oxidation process. The research begins by extracting the red gedi leaf powder that has been dried using maceration for 48 hours with 75% ethanol and hexane solvent, then determined the total phenolic content and oxidation inhibition activity. Oxidation inhibition activity was measured by analysis of the levels of peroxide and malondialdehyde (MDA). The results showed that the ethanol extract has a total phenolic content of 28.68 mg/kg and n-hexane extract at 2.86 mg/kg. The ability MDA and peroxide inhibition by ethanol extract higher than n-hexane extract.
Fotoreduksi Besi Fe3+ Menggunakan Ekstrak Limbah Daun, Kulit, dan Cangkang Biji Pala (Myristica fragrans) Tempomona, Yosep
Jurnal MIPA Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.4.1.2015.6904

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk menganalisis kandungan fitokimia dari limbah daun, kulit dan cangkang biji pala dan kemampuanya dalam reaksi fotoreduksi. Daun, kulit dan cangkang biji pala diekstrak dengan pelarut etanol 80% dengan metode panas (refluks) selama 3 jam. Selanjutnya dilakukan analisis kandungan fitokimia meliputi fenolik total, flavanoid total dan tannin total menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Pengujian reaksi fotoreduksi dilakukan pada tiga cahaya dengan variasi tiga konsentrasi. Hasil penelitian menunjukan ekstraksi dengan metode panas (refluks) memiliki efek reaksi fotoreduksi yang baikStudies to analyze the  phytochemical content of the waste leaves, bark, and shells of nutmeg and the ability in photoreduction reaction has been carried out. The leaves, bark, and shells of nutmeg extracted with 80% ethanol by heat method (reflux) for 3 hours. Further phytochemical content analysis include total phenolic, total flavonoids and tanins total using UV-Vis spectrophotometer. Photoreduction reaction testing done by two methods of extraction in three variations of light with three concentrations. The results showed that extraction with heat method (reflux) has a good photoreduction reaction effect.
Densitas dan Jenis Pakan Burung Rangkong (Rhyticeros cassidix) di Cagar Alam Tangkoko Batuangus Mangangantung, Brayen
Jurnal MIPA Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.4.1.2015.6911

Abstract

Penelitian burung rangkong sulawesi sudah banyak dilakukan tetapi informasi mengenai densitas dan jenis pakannya masih sedikit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui densitas dan jenis pakan burung rangkong sulawesi (Rhyticeros cassidix) di Cagar Alam Tangkoko Batuangus, Sulawesi Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni-Agustus 2014. Penelitian ini menggunakan metode garis transek (Transek Line) yang berjumlah 3 garis transek dengan panjang 2 km dan lebar transek 400 m, mulai dari ketinggian 11-208 m dpl. Hasil Penelitian ini menunjukan densitas tertinggi berada pada T2 dengan jumlah 47 ekor/km2, dan terendah pada T1 31 ekor/km2, dengan densitas rata-rata 37 ekor/ km2. Hasil pengamatan mendapatkan 13 jenis makanan burung rangkong, yang meliputi 8 jenis buah dan 5 jenis serangga. Burung rangkong Sulawesi mengkonsumsi buah dan serangga, seperti buah beringin (Ficus benjamina), Asar mampuduar (Ficus virens), pohon dewan (Ficus altissima), Ficus caulocarpa, karet kerbau (Ficus elastic), kayu ara (Ficus tinctoria), pohon rao (Dracotomelon dao), kananga (Cananga odorata) dan jenis serangga seperti, kumbang tanduk (Oryctes rhinoceross), kumbang tanduk panjang (Batocera numitor), kumbang kelapa (Rhynchophorus vulneratus), kumbang tanduk rusa (Odontolabis bellicose), belalang (Valanga nigricornis).There are many researches about Sulawesi Hornbill have been done but only few information about its density and type of food is available. The purpose of this study was to determine the density and type of food of Sulawesi hornbill (Rhyticeros cassidix) in Batuangus Tangkoko Nature Reserve, North Sulawesi. This study was conducted in June-August 2014. This study used three transect lines with a length of 2 km, a width of 400 m, and an altitude of 11-208 m above sea level. The results of this study showed the highest density was at T2 which is 47 head / km2 and the lowest at T1 which is 31 individuals / km2. The average density is 37 individuals / km2. From the observation 13 kinds of food hornbill were found included eight kinds of fruit and five species of insects. Sulawesi hornbill eats fruits and insects, such as figs (Ficus benjamina), Asar mampuduar (Ficus virens), boards tree (Ficus altissima), Ficus caulocarpa, buffalo rubber (Ficus elastic), wood fig (Ficus tinctoria), tree rao (Dracotomelon dao), Kananga (Cananga odorata) and insects such as horn beetle (Oryctes rhinoceross), long-horn beetle (Batocera numitor), palm weevils (Rhynchophorus vulneratus), deer horn beetle (Odontolabis bellicose), grasshoppers (Valanga nigricornis).There are many researches about Sulawesi Hornbill have been done but only few information about its density and type of food is available. The purpose of this study was to determine the density and type of food of Sulawesi hornbill (Rhyticeros cassidix) in Batuangus Tangkoko Nature Reserve, North Sulawesi. This study was conducted in June-August 2014. This study used three transect lines with a length of 2 km, a width of 400 m, and an altitude of 11-208 m above sea level. The results of this study showed the highest density was at T2 which is 47 head / km2 and the lowest at T1 which is 31 individuals / km2. The average density is 37 individuals / km2. From the observation 13 kinds of food hornbill were found included eight kinds of fruit and five species of insects. Sulawesi hornbill eats fruits and insects, such as figs (Ficus benjamina), Asar mampuduar (Ficus virens), boards tree (Ficus altissima), Ficus caulocarpa, buffalo rubber (Ficus elastic), wood fig (Ficus tinctoria), tree rao (Dracotomelon dao), Kananga (Cananga odorata) and insects such as horn beetle (Oryctes rhinoceross), long-horn beetle (Batocera numitor), palm weevils (Rhynchophorus vulneratus), deer horn beetle (Odontolabis bellicose), grasshoppers (Valanga nigricornis).
Aktivitas Antioksidan dari Akar Bawang Daun (Allium fistulosum L.) Udjaili, Sulistiawaty
Jurnal MIPA Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.4.1.2015.6898

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan aktivitas antioksidan yang terdapat dalam akar bawang daun. Penelitian dimulai dengan mendestilasi sampel akar bawang daun yang sudah dikering anginkan menggunakan cara destilasi uap dengan pelarut akuades, selanjutnya ditentukan kandungan total fenolik, flavonoid, tanin serta aktivitas penangkal radikal bebas DPPH. Hasilnya menunjukkan ekstrak fenolik dari akar bawang daun kering memiliki kandungan total fenolik, flavonoid dan tanin serta aktivitas penangkal radikal bebas yang paling baik untuk menangkal radikal bebas DPPH diikuti dengan ekstrak fenolik dari akar bawang daun segar.Objective of this research were to determine the antioxidant inside the onion root. The study was start with distilling the leek roots sample that have wind-dried using steam distillation with the solvent distilled water, and then determined the content of total phenolics, flavonoids, tannins and free radical prophylactic activity of DPPH. The results showed that the phenolic extract of the dried leaves of onion roots have total content of phenolic, flavonoid and tannin as well as the activity of free radical scavengers that are best to counteract free radical DPPH, this can be seen in free-radical scavengers activity test using DPPH test that phenolic extracts of onion root dry leaves is higher than the value percentage of phenolic extracts from fresh leaves of onion root.
Efek Ekstrak Fenolik dari Beberapa Limbah Tanaman Terhadap Fotoreduksi Fe3+ Menjadi Fe2+ Dawanaka, Maradja
Jurnal MIPA Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.4.1.2015.6895

Abstract

ujuan dari penelitian ini yaitu untuk mempelajari efek ekstrak fenolik dari beberapa limbah tanaman terhadap fotoreduksi Fe3+ menjadi Fe2+ . Sebanyak 10 g serbuk masing-masing sampel diekstraksi dengan cara refluks menggunakan 200 mL pelarut etanol 80% selama 2 jam. Selanjutnya, dilakukan analisis kandungan fenolik dan efek fotoreduksi Fe3+ menjadi Fe2+ dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak sabut kelapa memiliki kandungan fenolik tertinggi diikuti daun cengkeh, cangkang pala, sekam padi, kulit durian, kulit pisang dan kulit kacang. Ekstrak sabut kelapa juga memiliki kemampuan tertinggi dalam fotoreduksi Fe3+ menjadi Fe2+ diikuti daun cengkeh, cangkang pala, sekam padi, kulit durian, kulit pisang dan kulit kacang. Limbah tanaman seperti sabut kelapa, daun cengkeh, cangkang pala, sekam padi, kulit durian, kulit pisang dan  kulit kacang memilki kandungan ekstrak fenolik yang mampu berperan sebagai sensitizer dalam fotoreduksi Fe3+ menjadi Fe2+ yang dicahayai dengan lampu fluorescent.  Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ekstrak fenolik dari limbah tanaman memiliki kemampuan sebagai fotoreduksi Fe3+ menjadi Fe2+.The main purpose of this research was to study effect of phenolic extract from several waste plants against photoreduction Fe3+ to Fe2+. An amount of 10 g powder each sample was exracted by reflux with using 200 mL of 80% ethanol solvent for 2 hours. Furthermore to analyzed of phenolic compound and photoreduction effect Fe3+ to Fe2+ by using UV-Vis spectrofotometer. Results showed that the extract coconout fiber has the highest phenolic compound and followed by flove leaves, nutmeg shells, rice husks, durian peels, banana peels and nuts. The extract coconout fiber also has the highest ability of photoreduction Fe3+ to Fe2+ and followed by flove leaves, nutmeg shells, rice husks, durian peels, banana peels and nuts. The waste plants such as  flove leaves, nutmeg shells, rice husks, durian peels, banana peels and nuts have phenolic compound as ingridients who act as sensitizer of photoreduction Fe3+ to Fe2+ which was exposed to light by fluorescent lamp. Results showed that phenolic extract from several waste plants have act agent of photoreduction Fe3+ to Fe2+.
Isolasi Senyawa Flavonoid Pada Biji Pinang Yaki (Areca vestiaria Giseke) Satolom, Cindy C.
Jurnal MIPA Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.4.1.2015.6903

Abstract

Pinang Yaki (Areca vestiaria Giseke) adalah tanaman endemik Sulawesi Utara yang berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa biji dan kulit Pinang Yaki mengandung flavonoid (Samosir et al., 2012; Mamonto et al., 2014). Sekarang akan dilaporkan Isolasi Senyawa Flavonoid dari biji Pinang Yaki. Metoda yang dilakukan sebagai berikut: Ekstrak metanol difraksinasi dengan n-heksan, etil asetat dan air. Fraksi etil asetat dimurnikan dengan metode Kromatografi Lapis Tipis Kresgel G60 F254 dan Kromatografi Kolom dengan berbagai pelarut, setiap pemisahan dipandu dengan AlCl3 5% dalam etanol yang menampakan warna khas dari flavonoid. Isolat murni yang didapatkan selanjutnya dikarakterisasi dengan menggunakan metode spektroskopi UV dan H-NMR. Isolat murni yang diperoleh diduga adalah Afzelekin.Pinang Yaki (Areca vestiaria Giseke) is a endemic plant of North sulawesi that efficacious for various disease treatment. Same research reported that Pinang Yaki seed and skin seed contain Flavonoid compound (Samosir et al., 2012; Mamonto et al., 2014).  This research reported isolation of Flavonoid compound from Pinang Yaki seed, The methods is: methanol ekstract fractionating with n-hexane, ethyl acetate dan aquades. Ethyl acetate fraction was purified by Thin Layer Chromatography Kresgel G60 F254 method and Column Chromatography with various solvent, every separation guided by 5% AlCl3 in ethanol which reveals the typical colour of Flavonoid compound. After that, the obtained pure isolates was characterized by various UV-Spectroscopy and H-NMR methods. The structure of isolate compound predicted as Afzelechin.

Page 1 of 2 | Total Record : 17