cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 2 (2021)" : 5 Documents clear
Identifikasi Situs Geologi Cekungan Soa - Flores, Sebagai Salah Satu Warisan Geologi Agustina Djafar; Ifan Yoga Pratama Suharyogi; Unggul Prasetyo Wibowo
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 2 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v11i2.260

Abstract

ABSTRAK Cekungan Soa secara geografis terletak pada koordinat 80 39’ 00” LS - 80 46’ 00” LS dan 1210 03’ 00” BT - 1210 13’ 00” BT dan secara administratif terletak di Kabupaten Ngada dan Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Cekungan Soa memiliki keragaman geologi yang unik dan dapat dikembangkan menjadi destinasi geowisata yang menarik. Tujuan studi ini adalah untuk menginvetariasi keragaman geologi di Cekungan Soa, mengklasifikasikan peringkat nilai keragaman geologinya berdasarkan manfaatnya untuk selanjutnya dilakukan penilaian secara kuantitatif sebagai situs warisan geologi (geoheritage), dan merekomendasikan potensi situs warisan geologi tersebut untuk dikonservasi dalam bentuk Kawasan Cagar Alam Geologi (KCAG). Metode yang digunakan dalam studi ini berdasarkan “Standar teknis inventarisasi keragaman geologi dan Petunjuk Teknis Asesmen Sumberdaya Geologi” yang dikeluarkan oleh Pusat Survei Geologi pada tahun 2017. Ada 24 situs keragaman geologi di Cekungan Soa, yang memiliki peringkat nilai keragaman geologi menengah hingga terkemuka berdasarkan rekaman ilmiah dan fenomena geologi khusus untuk tujuan pendidikan maupun penelitian, sehingga pantas dijadikan sebagai geoheritage. Salah satunya adalah Situs Mata Menge yang memiliki nilai scientific sangat tinggi (91,25%). Dari hasil studi, kawasan Cekungan Soa direkomendasikan untuk dikonservasi menjadi KCAG.Kata kunci: Cekungan Soa, geowisata, keragaman geologi, warisan geologi, Kawasan Cagar Alam GeologiABSTRACT Soa Basin geographically situated at 80 39’ 00” S - 80 46’ 00” S and 1210 03’ 00” E - 1210 13’ 00” E in Ngada and Nagekeo District, Flores Island, East Nusa Tenggara. Soa Basin has unique geodiversity and can be developed into an interesting geotourism destination. This study aims to inventory the geological sites in the Soa Basin, to classify them as the geoheritage and to recommend them to be conserved in the form of Geoconservation Area (GCA). The method used in this study is based on the “Technical Standard of Geological Diversity Inventory and Technical Guidelines for Geological Resource Assessment” issued by the Geological Survey Center in 2017. There are 24 sites of geodiversities in the Soa Basin, which rank intermediate to prominent geological diversity values based on its scientific records and geological phenomena specifically for educational and research purposes, so the Soa Basin deserve to become as a geoheritage. Mata Menge, one of the site, has a very high scientific value of 91.25%. From the results of the assessment, it is recommended that the Soa Basin area be conserved as a GCA.Keywords: Soa Basin, geotourism, geodiversity, geoheritage, Geoconservation Are
Analisis Kerentanan Seismik dan Model Vs30 Berdasarkan Survei Mikrotremor HVSR dan SPAC (Studi Kasus: Kota Banda Aceh) Andrean Vesalius Hasiholan Simanjuntak; Yusran Yusran; Muksin Umar; Rahmati Rahmati
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 2 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i2.324

Abstract

ABSTRAK Banda Aceh dikategorikan sebagai kota besar yang rentan akan bahaya gempa bumi karena terletak pada sistem tektonik aktif yaitu Patahan Sumatra yang tersegmentasi yaitu Seulimeum di bagian timur dan Aceh di bagian barat. Aktivitas kedua segmen yang membangkitkan kegempaan lokal dapat memberikan potensi kerusakan besar pada masa mendatang. Potensi tersebut dapat dipelajari dengan analisis kerentanan seismik berdasarkan parameter mikrotremor seperti nilai frekuensi (f0), amplifikasi (A), kerentanan seismik (Kg) dan kecepatan geser (Vs30). Dalam studi ini, kami melakukan survei mikrotremor Horizontal Vertical Spectral Ratio (HVSR) dan SPatial AutoCorrelation (SPAC) pada daerah Peukan Bada yang menjadi bagian Kota Banda Aceh. Sebanyak 19 titik HVSR dianalisis dengan perbandingan spektrum H/V dan 3 titik SPAC dianalisis dengan F-K analisis pada kurva dispersi gelombang rayleigh untuk mendaptkan nilai kecepatan geser pada kedalaman 30m (Vs 30). Hasil parameter yang diperoleh yaitu frekuensi 2.5 – 4 Hz dan periode 0 – 0.5 detik berasal dari formasi sedimen aluvial muda (Qh) yang terbentuk sejak Kenozoik. Amplifikasi tertinggi berada bagian barat dengan nilai > 1, sedangkan bagian barat nilai kecil < 1 karena dekat dengan formasi batuan gamping tersier (Murl). Sekitar 63% wilayah studi area sangat rentan terhadap gempabumi karena nilai indeks kerentanan yang tinggi dari formasi batuan lunak atau tidak kompak. Selain itu, Vs30 yang diperoleh berkisar pada nilai 200-250 m/s yang berasal dari formasi peralihan batuan lunak-keras. Kondisi tersebut membuat indeks kerentanan seismik bernilai cukup tinggi dan gelombang gempa bumi berpotensi dikuatkan karena melewati formasi batuan-batuan lunak. Hasil yang diperoleh dari studi ini diharapkan bisa menjadi pendukung mitigasi dan memahami kondisi geologi Banda Aceh dari segi kerentanan seismik.Kata kunci: mikrotremor, kerentanan seismik, Banda AcehABSTRACT Banda Aceh is categorized as a city that is prone to earthquake as it is located in an active tectonic system, named the Sumatran Fault, stretched from Seulimeum in the east and Aceh in the west. The activities of the two segments with its local seismicity can potentially caused major damage in the future. This potential can be studied by seismic susceptibility analysis based on microtremor parameters such as frequency (f0), amplification (A), seismic susceptibility (Kg) and shear velocity (Vs30). In this study, we conducted a HVSR and SPAC microtremor survey in the Peukan Bada at the outskirt of Banda Aceh. A total of 19 HVSR points were analyzed with a comparison of the H/V spectrum and 3 SPAC points analyzed by F-K analysis on the Rayleigh wave dispersion curve to obtain the value of shear velocity at a depth of 30m (Vs 30). The parameter results obtained are a frequency of 2.5 - 4 Hz and a period of 0 - 0.5 seconds derived from the formation of young aluvial sediments (Qh) formed since Cenozoic. The highest amplification is in the western part with a value of> 1, whereas the western part has a small value <1 because it is close to the tertiary limestone (Murl) rock formation. About 63% of the study area is highly vulnerable to earthquakes due to the high susceptibility index values of soft or non-compact rock formations. In addition, the value of Vs 30 obtained is in the range of 200-250 m / s which is derived from the intermediate soft-hard rock formation. These conditions make the seismic vulnerability index is recorded as high enough and earthquake waves have the potential to be amplified as they pass through soft rock formations. The results from this study are expected to be a supporting for mitigation measurement and for having greater understanding to the geological conditions of Banda Aceh in terms of seismic vulnerability. Keywords: microtremor, seismic susceptibility, Banda Aceh
Analisis Kimiawi Air Tanah Akibat Pemompaan Berlebih di Cilincing-Koja-Kelapa Gading, Jakarta Utara Arini Dian; A. Asseggaf; Himmes Fitra Yuda
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 2 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i2.340

Abstract

ABSTRAK Masyarakat Kawasan Cilincing-Koja-Kelapa Gading menggunakan air tanah hanya untuk mandi-cuci-kakus (MCK) saja, sedangkan untuk makan-minum membeli air galon (40 liter) untuk dua hari. Penelitian ini untuk mengetahui penyebab air tanah tidak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Metode yang digunakan di antaranya pemetaan muka air tanah (MAT) sumur gali/pantek, pengambilan contoh air, pengukuran sifat fisik air tanah dan analisis kimiawi air tanah. Sebaran MAT menghasilkan cone of depression (Kelapa Gading Utara). Ini menunjukkan telah terjadi pengambilan air tanah berlebih menggunakan mesin pompa. Fasies ion dominan (70%) HCO3 + SO4 /Cl pada 7 lokasi fasies Cl + SO4 (30%) di 3 lokasi dan ion logam yang dikaji hanya ion Mn menggunakan baku mutu PerMenKes No 492/MEN.KES/PER/IV/2010. Salinitas mengacu kadar TDS umumnya masuk kategori tawar (<1.000 mg/l), dan 3 lokasi kategori payau (1.000-10.000 mg/l). Analisis konsentrasi Cl pada 5 lokasi masuk kategori payau (100-1.000 mg/l), 3 lokasi kategori asin Cl >1.000 mg/l yaitu 2 lokasi Barat dan 1 lokasi Timur dan hanya 2 lokasi masuk kategori tawar (Cl <100 mg/l) terletak di bagian tengah serta utara. Air tanah fasies awal NaK-HCO3 mengalir ke arah selatan terjadi perubahan menjadi fasies NaK-Cl. Beberapa lokasi mempunyai kandungan ion Mn telah melampaui baku mutu di antaranya Mn; 3 lokasi di Barat dan 1 lokasi di Timur, sedangkan lokasi lainnya masih di bawah baku mutu yang disyaratkan. Lokasi Kelapa Gading Utara dan Marunda mempunyai kadar TDS (<500 mg/l) dan Klorida/Cl (<100 mg/l) yang digunakan masyarakat sebagai sumber air baku untuk makan-minum, karena rasa air tanahnya tawar. Sedangkan lokasi air tanah (SG/SP) lainnya, tidak dapat digunakan masyarakat sebagai air baku untuk makan-minum, karena tingginya nilai TDS di atas normal berkisar 500 - 4020 mg/l yang mempunyai rasa air payau hingga asin.Kata kunci: air tanah, fasies hidrokimia, Jakarta Utara, kimiawi air tanah, muka air tanah, TDSABSTRACT People of the Cilincing-Koja-Kelapa Gading area use groundwater only for bathing-washing-toilet, while for eating and drinking they buy water gallon (40 litres) for 2 days. This study is to determine the cause of groundwater not being used for daily needs. The methods used include mapping the groundwater level of dug wells, taking water samples, measuring the physical properties of groundwater and chemical analysis of groundwater. The distribution of groundwater levels shows a cone of depression (North Kelapa Gading). This indicates that there has been excess groundwater extraction using a pump machine. Dominant ion facies (70%), HCO3 + SO4 / Cl at 7 locations Cl + SO4 facies (30%) in 3 locations and only metal ions studied were Mn ions using the quality standard of PerMenKes No 492/MEN.KES/PER/IV/2010. Salinity refers to the levels of TDS, generally are in the fresh category (<1,000 mg / l), and 3 locations in the brackish category (1,000 - 10,000 mg / l). Analysis of chloride / Cl concentrations at 5 locations are in the brackish category (100 - 1,000 mg / l), 3 locations in the salty category of Cl> 1,000 mg / l, which are 2 locations in the West and 1 in the East and only 2 locations in the fresh category (Cl <100 mg / l) which are located in the Central and North. The initial NaK - HCO3 facies groundwater flows to the South and changes to NaK - Cl facies. Several locations that contain Mn ions have exceeded the quality standard, including Mn; 3 locations in the West and 1 location in the East, while the other locations are still below the required quality standard. The locations of Kelapa Gading Utara and Marunda have levels of TDS (<500 mg/l) and chloride/Cl (<100 mg/l) which are used by the community as a source of raw water for food and drink because the groundwater tastes fresh. Meanwhile, other groundwater (SG/SP) locations cannot be used by the community as raw water for food and drink, because the high TDS value above normal ranges from 500 - 4020 mg/l, which has a brackish to salty taste. Keywords: groundwater, chemical facies, North Jakarta, chemical groundwater, groundwater level, TDS
Metode G-ALDIT dan G-ALDITLcR untuk Evaluasi Kerentanan Air Tanah Dangkal Akibat Pengaruh Intrusi Air Laut (Studi Kasus: Air Tanah Dangkal Kawasan Pesisir Bagian Utara dan Selatan Kota Makassar) Annisa Dwi Damayanti; Surihanto Notodarmodjo
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 2 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i2.368

Abstract

ABSTRAK Ketidakseimbangan lingkungan seperti kerentanan air tanah terhadap intrusi air laut dapat disebabkan karena eksploitasi air tanah yang berlebihan. Eksploitasi air tanah merupakan konsekuensi logis dari peningkatan jumlah penduduk, khususnya di daerah Pesisir Makassar yang merupakan pesisir yang terletak di kawasan berkembang. Metode GALDIT merupakan salah satu metode untuk mengukur tingkat kerentanan air tanah terhadap intrusi air laut. Modifikasi dan pengembangan GALDIT dilakukan dengan dua tipe yaitu G-ALDIT dan G-ALDITLcR. Modifikasi ini dibuat dengan penyesuaian kondisi lapangan dan pengembangan dilakukan dengan penambahan parameter di antaranya tutupan lahan dan jarak dari muara sungai. Penambahan parameter ini dianggap lebih efektif untuk mewakili kondisi kerentanan air tanah. Metode ini menggabungkan bobot dan rating tingkat kepentingan penilaian faktor untuk menilai zona rawan terhadap intrusi air laut. Penyesuaian bobot pada setiap faktor pengembangan dilakukan dengan metode Perbandingan Berpasangan-Analysis Hierarchy Process (AHP) menggunakan aplikasi Expert Choice 11. Pemetaan akhir kerentanan air tanah dangkal dipetakan dengan analisis overlay menggunakan ArcGIS 10.3. Hasil penilaian kerentanan menggunakan G-ALDIT menunjukkan bahwa zona kerentanan intrusi air laut hanya menunjukkan kerentanan sebesar 10,23%. Setelah menggunakan metode G-ALDITLcR, zona kerentanan tinggi terlihat meningkat menjadi 28,61% dengan menambahkan kriteria tutupan lahan dan jarak dari muara sungai. Dengan pengembangan metode G-ALDITLcR secara lebih jelas dapat menunjukkan daerah yang memiliki tingkat kerentanan yang tinggi sehingga dapat meningkatkan sensitivitas penilaian.Kata kunci: intrusi air laut, kerentanan air tanah, Analysis Hierarchy Process (AHP), GALDITABSTRACT Environmental imbalances such as groundwater susceptibility to seawater intrusion can be caused by overexploitation of groundwater. The exploitation of groundwater is a logical consequence of the increasing population, especially in coastal areas of Makassar, which are located in developing areas. GALDIT method is one of the methods to measure the level of vulnerability of groundwater to seawater intrusion. Modification and development of GALDIT is called G-ALDIT and G-ALDITLcR. This modification was made by adjusting field conditions and the development was carried out by adding parameters including land cover and distance from estuary. The addition of this parameter is considered more effective to represent the condition of groundwater vulnerability. This method combines weight and rating of factor assessment importance to assess zones prone to seawater intrusion. Weight adjustment in each development factor is done by Paired Comparison-Analysis Hierarchy Process (AHP) method using Expert Choice 11 application. Final mapping of shallow groundwater vulnerabilities is mapped with overlay analysis using ArcGIS 10.3. The results of vulnerability assessment using G-ALDIT method showed that the vulnerability zone of seawater intrusion shows a vulnerability of 10.23%. After using the G-ALDITLcR method, the high vulnerability zone was seen increasing to 28.61% by adding criteria for land cover and distance from the estuary. The development of the G-ALDITLcR method can more clearly show areas that have a high level of vulnerability that can increase the assessment sensitivity. Keywords: seawater intrusion, groundwater vulnerability, Analysis Hierarchy Process (AHP), GALDIT
Evaluasi Nilai Parameter Akuifer Tidak Tertekan Berdasarkan Data Uji Pemompaan dan Analisis Ukuran Butir Agus Mochamad Ramdhan; Arifin Arifin; Rusmawan Suwarman
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 2 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i2.376

Abstract

ABSTRAKUji pemompaan merupakan metode yang dianggap paling baik dalam menentukan nilai parameter akuifer. Namun, ada kemungkinan bahwa nilai parameter akuifer yang dihitung menggunakan data uji pemompaan tersebut tidak merepresentasikan nilai parameter akuifer yang sebenarnya. Sebagai sebuah studi kasus, data uji pemompaan akuifer tidak tertekan dari dua sumur observasi (1 dan 2) pada salah satu daerah di SE Asia dianalisis menggunakan metode pencocokan kurva dengan dua skenario. Pada skenario 1, nilai parameter akuifer dihitung dengan mengasumsikan sumur pemompaan dan observasi menembus seluruh ketebalan akuifer (fully penetrating well), sedangkan pada skenario 2 nilai parameter akuifer dihitung berdasarkan kondisi sumur pemompaan dan observasi yang sebenarnya, yaitu menembus hanya sebagian ketebalan akuifer (partially penetrating well). Selain itu, nilai konduktivitas hidraulik akuifer juga diestimasi berdasarkan analisis ukuran butir. Hasilnya menunjukkan bahwa asumsi pada skenario 1 akan menyebabkan nilai konduktivitas hidraulik dalam arah vertikal menjadi lebih besar dari yang seharusnya. Nilai specific yield yang mendekati nilai referensi, berdasarkan litologi pasir kerikilan yang dominan pada daerah studi, hanya diperoleh menggunakan data uji pemompaan dari sumur observasi 1 pada kedua skenario. Adapun hasil estimasi nilai konduktivitas hidraulik berdasarkan analisis ukuran butir memperlihatkan nilai konduktivitas hidraulik yang lebih besar dibandingkan nilai konduktivitas hidraulik yang dihitung berdasarkan data uji pemompaan.Kata kunci: akuifer tidak tertekan, analisis ukuran butir, parameter akuifer, uji pemompaanABSTRACT The pumping test is considered as the best method in determining the values of the aquifer parameter. However, there is a possibility that the values calculated using the pumping test data do not represent the actual aquifer parameter values. As a case study, pumping test data of unconfined aquifer from two observation wells (1 and 2) in an area of SE Asia were analyzed using the Neuman’curve matching method with two scenarios. In scenario 1, the aquifer parameter values were calculated by assuming the pumping and observation wells penetrate the entire thickness of the aquifer (fully penetrating well), while in scenario 2 the values were calculated based on the actual conditions of the pumping and observation wells, i.e., penetrating the aquifer thickness partially (partially penetrating well). In addition, the hydraulic conductivity of the aquifer was also estimated based on grain size analysis. The results show that the assumptions in scenario 1 will cause the vertical hydraulic conductivity value to be greater than it should be. The specific yield value close to the reference value, based on the dominant lithology of gravelly sand in the study area, was only obtained using the pumping test data from the observation well 1 in both scenarios. The results of the hydraulic conductivity value estimation based on grain size analysis show that the hydraulic conductivity value is greater than the hydraulic conductivity value calculated based on the pumping test data. Keywords: unconfined aquifer, grain size analysis, aquifer parameter, pumping test

Page 1 of 1 | Total Record : 5