cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 3 (2021)" : 5 Documents clear
Tritium: Implies Young Groundwater Age? Insight from the Isotope and Hydrochemical Data of Mud Volcano and Hydrocarbon Well in East Java Lambok M. Hutasoit, Ph.D.; Agus M. Ramdhan; Irwan Iskandar; Arifin Arifin
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 3 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i3.388

Abstract

ABSTRACT The use of tritium isotope is one of the methods for determining groundwater age. It can be used to determine the age of groundwater classified as young. However, if it is the only method used, the results may not be valid. In this study, tritium application in determining groundwater age was evaluated based on deuterium and oxygen-18 isotopes and hydrochemical data from seven mud volcanoes and one hydrocarbon production well in East Java Basin. The tritium analysis shows that the age of groundwater samples is young, 1.75 to 9 years. However, deuterium, oxygen-18, and hydrochemical analysis indicate that the groundwater age is relatively old. It shows that the results of groundwater age analysis using tritium are not valid in this study. It is because tritium is not only from the atmosphere but also from tritium enrichment below the surface through water and rock interaction. The shifting of oxygen-18 isotope, which becomes heavier, indicates that isotope enrichment occurred in the subsurface. Based on the composition of the major cations and anions, the groundwater samples in this study have Na-Cl type with high TDS values as saline water. The shifting of oxygen-18 isotope, the water type, and the high TDS value also indicate that water and rock interaction occurs beneath the surface and can increase the tritium content in groundwater.Keywords: deuterium, groundwater age, hydrochemical data, mud volcano, oxygen-18, tritiumABSTRAK Salah satu metode untuk menentukan umur airtanah adalah dengan menggunakan isotop tritium. Tritium dapat digunakan untuk menentukan umur airtanah yang tergolong muda. Namun, jika hanya menggunakan metode ini, maka hasil yang diperoleh mungkin tidak valid. Dalam studi ini, penggunaan tritium untuk menentukan umur airtanah dievaluasi berdasarkan data isotop deuterium dan oksigen-18, serta data hidrokimia dari tujuh gunung lumpur dan satu sumur produksi hidrokarbon di Cekungan Jawa Timur. Analisis tritium menunjukkan umur sampel airtanah yang tergolong muda, yaitu 1,75 hingga 9 tahun. Namun, analisis deuterium, oksigen-18, dan analisis hidrokimia menunjukkan bahwa umur airtanah tergolong tua. Hal tersebut memperlihatkan bahwa hasil analisis umur airtanah berdasarkan tritium pada studi ini tidak valid. Hal ini disebabkan karena tritium tidak hanya berasal dari atmosfer, tetapi dapat juga berasal dari pengayaan tritium di bawah permukaan melalui reaksi air dan batuan. Pergeseran nilai oksigen-18 yang menjadi semakin berat mengindikasikan bahwa terjadi pengayaan isotop tersebut di bawah permukaan. Berdasarkan komposisi kation dan anion utama, sampel airtanah dalam studi ini memiliki tipe Na-Cl dengan nilai TDS yang tinggi dan air yang tergolong asin. Pergeseran oksigen-18, tipe air dan nilai TDS yang tinggi tersebut juga menunjukkan bahwa terjadi interaksi air dan batuan di bawah permukaan yang dapat meningkatkan nilai tritium pada airtanah.Kata kunci: deuterium, umur airtanah, data hidrokimia, mud volcano, oksigen-18, tritium
Penentuan Ketebalan Sedimen pada Segmen Kumering, Sesar Sumatra di Daerah Liwa Lampung Barat dengan Menggunakan Metode Seismik Aktif MASW Ashar Muda Lubis; Angga Saputra; Suhendra Suhendra; Rio Saputra; Rida Samdara
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 3 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i3.334

Abstract

ABSTRAK Dampak energi yang dilepas oleh gempa bumi Liwa Mw 7.0 tahun 1994 pada segmen Kumering daerah selatan Sesar Sumatra mengakitbatkan hilangnya nyawa manusia dan kerusakan berat pada infrastuktur. Tingkat kerusakan gempa bumi selain dipengaruhi oleh besarnya magnitudo gempa bumi, juga dikontrol oleh struktur bawah permukaan dan ketebalan sedimen pada daerah itu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur lapisan bawah permukaan di daerah Liwa melalui pengamatan kecepatan gelombang sekunder (Vs) dan ketebalan sedimen dengan menggunakan metode seismik aktif Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW). Survei seismik dengan panjang lintasan total 192 m menggunakan seismograf digital PASI 16S24 dan 24 geophone. Pengolahan data seismik dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak seismik komersial ParkSeis. Hasil penelitan menunjukkan bahwa struktur lapisan di daerah Liwa terdiri dari 3 lapisan ketebalan sedimen 15-20 m, nilai Vs sekitar 250-300 m/s dan densitas sekitar 1,7-2,2 gr/cm3 . Lapisan kedua merupakan lapisan transisi antara lapisan sedimen dan lapisan batuan dasar dengan ketebalan rata-rata 5 m dan nilai Vs 600-800 m/s. Selanjutnya lapisan ketiga berada pada kedalaman 25-50 m yang ditandai dengan nilai Vs antara 800-1000 m/s. Lapisan pertama diduga berupa pasir padat menengah/tuff pasiran, dilluvial lunak yang bercampur dengan kerikil dan sisipan lempung yang dipengaruhi oleh keberadaan air bawah tanah dan pergerakan aktif segmen Kumering. Kondisi ini akan memudahkan terjadi amplifikasi atau penguatan terhadap getaran gempa bumi. Oleh karena itu upaya adaptasi dan mitigasi terhadap bencana gempa bumi di daerah Liwa sangat mendesak untuk dilakukan terutama dalam perencanaan.Kata kunci: Gempa bumi, Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW), ketebalan sedimen, struktur lapisanABSTRACT The impact of the energy released by the 1994 Liwa Mw earthquake in 1994 in the Kumering region south of Sumatra Fault, were not only human loss, but also severely damaged infrastructures. The level of earthquake damage is influenced by the size of the earthquake and controlled by the subsurface structure and the sediment thickness. This study aims to determine the local subsurface structure in the Liwa area by observing shear wave velocity (Vs) and sediment thickness using the active seismic method of Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW). A seismic survey with a total track seismic length of 192 m has been carried out using digital seismographs PASI 16S24 and 24 geophones, and the seismic data were processed by using ParkSeis commercial seismic software. The results show that the local subsurface structure in the Liwa area consists of 3 layers. Estimated sediment thickness is 15-20 m with Vs value of 250-300 m/s and the density of 1.7-2.2 gr/cm3 . The second layer is a transition layer between the sedimentary layer and the hard bedrock with an average thickness of 5 m and a Vs value of 600-800 m / s. Furthermore, the third layer is at a depth of 25-50 m which is characterized by Vs value between 800-1000 m/s. The first layer is assumed to be a medium dense sand, soft dilluvial sand mixed with gravel/ rigid clay which is influenced by the presence of underground water and the active tectonic movement of the Kumering segment. Hence, this condition will facilitate the amplification or strengthening of earthquake vibrations. Therefore, adaptation and mitigation efforts associated with the earthquake disaster prevention in the Liwa area are very urgent to establish for urban planning.Keywords: earthquake, Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW), sediment’s thickness, structure layer
Prospeksi dan Masalah Lingkungan Akibat Penambangan Timah di Pulau Karimun Ronaldo Irzon
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 3 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i3.367

Abstract

ABSTRAK Penambangan timah di Asia Tenggara yang kaitannya dengan sabuk timah telah dimulai sejak abad ke-19. Eksploitasi tersebut tentu telah meninggalkan beberapa lokasi pembuangan limbah timah yang dapat membahayakan lingkungan. Namun demikian, limbah pertambangan juga memungkinan masih mengandung bahan-bahan yang bernilai ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari komposisi bahan sisa dari beberapa lokasi pembuangan tailing timah di Pulau Karimun agar dapat mengetahui potensi maupun dampaknya terhadap lingkungan. Hasil analisis XRF dan ICP-MS menunjukkan bahwa kandungan Al2 O3 dan Ce pada beberapa lokasi cukup prospektif. Kedua oksida tersebut menarik untuk dipisahkan karena merupakan bahan buangan, berada tidak jauh dari permukaan, lunak, dan memiliki luas permukaan yang besar. Limbah penambangan timah di Karimun terbukti telah menyebabkan polusi aluminium, magnesium, dan potasium pada tingkat beragam. Program reboisasi, penggunaan bakteri pengurai, dan penambahan beberapa bahan kimia sesuai dosis dapat diadaptasi dalam perbaikan kondisi lingkungan pasca penambangan timah.Kata kunci: geokimia, Karimun, limbah timah, prospeksi, polusiABSTRACT Tin mining in Southeast Asia, which is closely associated with the tin belt, was initiated in the 19th century. The exploitation certainly created tin waste disposal locations which may endanger the environment. On the other hand, mining waste might also contain valuable materials. This study aims to analyse the composition of the residual materials from several tin tailings disposal sites on Karimun Island for any potential prospects and environmental impacts The results of XRF and ICP-MS measurements show that Al2 O3 and Ce in some sites are prospective and interesting to be beneficiated on behalf of their condition as waste material, located near the surface, soft, and a large surface area. On the other hand, the tin mining wastes of Karimun lead to aluminium, magnesium and potassium pollutants at various degrees. The revegetation program, the use of decomposing bacteria, and the addition of several environmentally friendly chemicals with certain dosage could be adapted to improve environmental conditions after tin mining.Keywords: geochemistry, Karimun, pollution, prospecting, tin tailings
Analisis Pentingnya Gempa Bumi sebagai Faktor Pemicu Kejadian Gerakan Tanah di Lampung Barat Satrio Muhammad Alif; Annisa Nurul Hidayah; Adam Irwansyah Fauzi; Redho Surya Perdana
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 3 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i3.356

Abstract

ABSTRAKGempa bumi merupakan faktor pemicu utama pada kejadian gerakan tanah dan kaitannya dapat diteliti di lokasi dengan intensitas baik gempa bumi dan gerakan tanah yang tinggi seperti di Lampung Barat. Tidak hanya gempa bumi dengan kekuatan besar yang dapat mengakibatkan gerakan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kaitan antara kejadian gerakan tanah dan gempa bumi di Lampung Barat dengan menggunakan data kemiringan lereng, curah hujan, jenis batuan, dan tutupan lahan. Data yang digunakan bersumber dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Lampung, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Informasi Geospasial, dan citra Landsat 8. Setiap titik kejadian gerakan tanah yang telah terjadi dari 2015 hingga 2019 dilakukan skoring, pembobotan, dan klasifikasi dari empat parameter untuk menentukan potensi bencana gerakan tanah. Hal ini dilakukan untuk melihat kesesuaian kejadian gerakan tanah yang sudah terjadi di suatu wilayah dengan potensi bencana gerakan tanah di wilayah tersebut. Kejadian gerakan tanah yang terjadi di wilayah dengan kelas rendah dikaitkan dengan keberadaan gempa bumi sebelum setiap kejadian gerakan tanah. Terdapat 24% dari gerakan tanah di Lampung Barat terjadi setelah gempa bumi. Dua kejadian gerakan tanah terjadi setelah gempa bumi dengan magnitudo di atas 6. Gempa bumi dengan magnitudo di atas 4 dapat memicu gerakan tanah terutama di wilayah dengan radius 50 km dari sesar. Gempa bumi sebaiknya digunakan dalam penentuan wilayah yang berpotensi terjadi gerakan tanah untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat ketika telah terjadi gempa bumi.Kata kunci: bencana, curah hujan, gempa bumi, gerakan tanah, skoringABSTRACT Earthquakes are a major factor for the occurrence of ground motion and its relation can be investigated in locations with high intensity of both earthquakes and ground movements such as in West Lampung. It is not only earthquakes of great strength that can cause ground motion. This study aims to analyze the relationship between ground motion and earthquakes in West Lampung using slope data, rainfall, rock types, and land cover. The data used were obtained from the Lampung Provincial Disaster Management Agency, Meteorology Climatology and Geophysics Agency, Center for Volcanology and Geological Hazard Mitigation, Geospatial Information Agency, and Landsat 8 imagery. weighting, and classification of the four parameters to determine the potential for landslides to occur. This is done to see the suitability of ground motion events that have occurred in an area with the potential for landslide disasters in that area. Earth movement events that occur in low-class areas are associated with the presence of an earthquake before each ground motion event. There are 24% of the ground motion in West Lampung occurred after the earthquake. Two ground motion events occur after an earthquake with a magnitude above 6. An earthquake with a magnitude above 4 can trigger ground motion, especially in areas with a radius of 50 km from the fault. Earthquakes should be used in determining areas that have the potential for landslides to occur to increase community preparedness when an earthquake has occurred.Keywords: disaster, rainfall, earthquake, landslide, scoring 
Potensi Bahaya Gempa Bumi Berdasarkan Kondisi Tapak Lokal di Daerah Amlapura, Karangasem, Bali Rahayu Robiana; Athanasius Cipta
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 3 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i3.372

Abstract

ABSTRAK Bahaya gempa bumi dapat dievaluasi setidaknya dari dua sudut pandang, yaitu sumber dan area yang berpotensi terdampak. Dari sudut pandang area berpotensi terdampak, kondisi geologi lokal memegang peranan penting dalam memperbesar dampak kerusakan akibat guncangan gempa bumi. Kecepatan gelombang geser merupakan parameter penting untuk mengevaluasi perilaku dinamis tanah di bawah permukaan. Pemodelan profil kecepatan menggambarkan kedalaman batuan sedimen dan batuan dasar di Amlapura yang menunjukkan ketebalan sedimen lunak yang bervariasi mulai dari 50 m hingga 150 m. Indeks kerentanan terhadap gempa bumi yang dihitung berdasarkan parameter faktor amplifikasi, frekuensi dominan, serta percepatan tanah puncak (pga) pada batuan dasar digunakan untuk menilai potensi dampak guncangan gempa bumi seperti likuefaksi/ gerakan tanah/ kerusakan berat pada bangunan di Amlapura, sehingga diketahui pada pga 0,3 g atau lebih besar, potensi longsor, bangunan runtuh dan likuefaksi meluas terutama di bagian timur kota Amlapura dimana morfologi pedataran bertemu morfologi pebukitan bergelombang.Kata kunci: Amlapura, bahaya gempa bumi, kecepatan gelombang geser, kondisi tapak lokal, percepatan tanah puncakABSTRACT Earthquake hazard can be evaluated at least from two point of views, the source and area which potentialy affected. From the perspective of the potential affected area, local geological conditions play an important role in magnifying the impact of damage due to earthquake shocks. Shear wave velocity is an important parameter for evaluating the dynamic behavior of subsurface soils. Shear wave profile modelling illustrates the depth of sedimentary rocks and bedrock in Amlapura which shows the thickness of soft sediments that vary from 50 m to 150 m. An earthquake susceptibility index calculated based on parameters of amplification factors, dominant frequency, and peak soil acceleration (pga) on bedrock is used to assess potential impacts of earthquake shocks such as liquefaction / ground motion / heavy damage to buildings in Amlapura, so that it is known at the pga 0.3 g and 0.4 g potential for landslides, buildings collapse and liquefaction extends mainly in the eastern part of the city of Amlapura where the flat meets the the surging hills morphology.Keywords: Amlapura, earthquake hazard, shear-wave velocity, site class, peak ground acceleration

Page 1 of 1 | Total Record : 5