cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 3 (2013)" : 5 Documents clear
Karakteristik erupsi dan potensi bahaya Gunung Dukono, Halmahera, Maluku Utara Deden Wahyudin
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 4, No 3 (2013)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.795 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v4i3.59

Abstract

ABSTRAKGunung Dukono (1087 m dpl.) dengan kawah aktif Malupang-Warirang merupakan salah satu gunung api aktif dan sering meletus sampai saat ini, terletak di wilayah Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Gunung api ini merupakan yang paling muda dan masih aktif di antara gunung api lainnya yang sudah tidak aktif yang tumbuh dalam suatu zona depresi vulkanik. Dari data geologi yang tercermin dari batuan penyusun Kompleks Gunung Dukono-Warirang dan sejarah erupsi Gunung Dukono sejak 1550 sampai saat ini, karakteristik erupsi gunung api ini bersifat eksplosif dan efusif yang menghasilkan abu, lontaran batu pijar, aliran piroklastika, dan aliran lava. Dengan memperhatikan jenis, volume, dan pelamparan produk erupsi di masa lalu maupun sampai sekarang, erupsi Gunung Dukono dapat diklasifikasikan ke dalam erupsi eksplosif dan efusif bertipe Stromboli – Vulkano berskala kecil sampai menengah. Potensi bahaya primer erupsi Gunung Dukono terdiri atas aliran piroklastika (awan panas), jatuhan piroklastika (lontaran batu dan abu vulkanik), gas beracun, dan aliran lava. Sedangkan jenis bahaya sekunder adalah aliran lahar. Dari potensi bahaya erupsi Gunung Dukono teridentifikasi tiga kawasan rawan bencana gunung api, yaitu Kawasan Rawan Bencana III, II, dan I.Kata kunci: Dukono, karakteristik erupsi, potensi bahaya, Maluku UtaraABSTRACTMt. Dukono (1087 m asl) with the active crater Malupang-Warirang is an active volcano and often erupting up to now, located in North Halmahera Regency, North Maluku Province. This volcano is the youngest and still active in between the other dormant volcanoes which is located and appeared in a volcanic depression zone. From geological data which shown by the rock composition of Dukono-Malupang Warirang volcanic complex and historical eruption of Dukono volcano since 1550 up to present time, the eruption characteristic of Dukono volcano is explosive and effusive, produced ash, ejection of incandescent rocks, pyroclastic flows, and lava flows. Based on the type, volume, and distribution of the last eruption products of Dukono volcano, the eruption of the volcano is classified as explosive and effusive eruptions with Strombolian-Vulcanian types from small to medium in scale. The potential primary hazard of Dukono eruption consists of pyroclastic flows (nue ardantes), pyroclastic falls (ballistic rocks and volcanic ash), poisonous gas and lava flows. Whereas the secondary hazards are lahar flows. From the potential hazards of Dukono eruption can be identified there are three volcanic hazard zones namely Volcanic Hazard Zones III, II, and I.Keywords: Dukono, eruption characteristic, potensial hazards, North Maluku
Analisis data gayaberat daerah Porong dalam studi kasus struktur dan deformasi geologi bawah permukaan Tatang Padmawijaja
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 4, No 3 (2013)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1116.5 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v4i3.60

Abstract

ABSTRAKSemburan Lumpur Sidoarjo telah mengakibatkan dampak lingkungan terhadap wilayah di luar kolam penampungan lumpur, yaitu di bagian baratnya berupa amblesan tanah, tembusan gas dan semburan air bercampur lumpur di Siring Barat dan Desa Besuki. Data gayaberat dan deformasi permukaan menunjukkan bahwa zona anomali gayaberat rendah dengan deformasi permukaan sebagai dinamika struktur geologi dangkal. Zona anomali gayaberat rendah menunjukkan penurunan rapat massa yang menggambarkan sebagai struktur geologi dangkal bawah permukaan dengan indikasi amblesan tanah, tembusan gas, dan semburan air bercampur lumpur. Struktur geologi dangkal dari kelurusan anomali gayaberat residual ditafsirkan sebagai sesar dan rekahan yang digunakan sebagai media dimana terjadi tembusan gas berarah selatan barat daya – utara timur laut. Tembusan gas maupun amblesan di daerah Siring Barat dan Tanggulangin merupakan deformasi bawah permukaan sebagai penurunan rapat massa dari pengukuran gayaberat secara priodik.Kata kunci: gayaberat, struktur geologi, deformasi bawah permukaanABSTRACTSidoarjo mudflow has environmental impacts beyond the mud pool, is in the western part appears of the land subsidence, gas and water effluent, and mudflow in Siring western and eastern Besuki village appear mudflow. Analysis of gravity data dan surface deformation indicate that the zone of low gravity anomaly with a surface slope deformation as the dynamics of shallow geological structure. Zone of low gravity anomaly as a decrease in density that show the deformation of shallow subsurface geology with land subsidence, gas and water effluent, and mudflow in West Siring western and eastern parts of the Besuki village pond mud. Analysis of regional and detailed gravity data obtained lineament anomaly as regional geological structure in the western part of the pool of mud. Shallow geological structure indicated by the residual gravity anomaly lineament lineament is a fault and stocky as a medium in which the effluent gas occurred southwest of the southern direction - north northeast. Land subsidence and effluent gas and water, and mud flow in the area West Siring and subsurface deformation Tanggulangin is indicated by a decrease in density of periodic gravity measurements.Keywords: gravity, structural geology, subsurface deformation
Pemodelan 2D perubahan tekanan air pori hubungannya dengan Likuifaksi: Studi kasus Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta Arifan Jaya Syahbana; Khori Sugianti
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 4, No 3 (2013)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1003.13 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v4i3.56

Abstract

ABSTRAKYogyakarta merupakan daerah rawan gempa bumi. Tanggal 27 Mei 2006 terjadi gempa dengan skala 6,2 Mw yang mengakibatkan banyak berjatuhan korban dan kerugian material. Peristiwa ini juga menimbulkan bahaya sekunder yang lain, yaitu likuifaksi. Penelitian ini menyajikan validasi besaran tekanan angka pori yang dapat memicu likuifaksi dengan analisis 2 Dimensi. Pemodelan disimulasikan menggunakan perangkat lunak Liqit untuk mengetahui profil tanah yang berpotensi likuifaksi dan nilai PGAnya. Nilai PGA diaplikasikan pada program PLAXIS untuk mengetahui perkembangan tekanan air porinya. Hasil simulasi menunjukkan perkembangan tekanan air pori di lokasi penelitian ada yang merata dan terlokalisir. Selain itu pendekatan data SPT akan memberikan efek suatu jenis tanah akan lebih mudah mengalami likuifaksi daripada CPTu. Dengan asumsi lebih mudah mengalami likuifaksi maka sebuah profil yang mengalami likuifaksi akan menghasilkan tekanan air pori yang lebih kecil dibandingkan dengan perhitungan CPTu pada nilai PGA yang sama. Simulasi dengan data SPT akan menghasilkan perbandingan tekanan air pori terhadap tegangan total tanah sekisar 61%, sementara pada data CPTu akan memberikan hasil sekitar 88%. Secara teoritis, semakin besar perbandingan, maka kemungkinan likuifaksi akan semakin besar.Kata kunci: likuifaksi, tekanan air pori, 2 dimensiABSTRACTYogyakarta is the area prone to earthquakes. 27th May 2006 earthquake strucked Yogyakarta with a 6.2 Mw scale which resulted in a lot of many casualties and material losses. This incident also raises the danger of liquefaction. This research presents the validation of pore water pressure quantity which can trigger liquefaction with 2 dimensional analysis. Simulated Modeling using the Liqit software to know the profile of the ground which has liquefaction potential and value of the PGA. PGA value then applied to PLAXIS program to determine the pore water pressure developments. The simulation results show the development of pore water pressure in research location are vary, some evenly and localized. In addition, the SPT data approaches will give the effect of a certain soil type will be more prone to liquefaction than CPTu’s one. Assuming more prone to liquefaction, profile will result in smaller pore water  pressure than compared with CPTu method on same PGA value. When SPT data used, it will produce the pore water pressure ratio against the soil total stress range on the number 61%, while in the CPTu data will give the results number ranging in 88%. Theoretically, the larger the comparison, the greater the possibility of liquefaction will occur.Keywords: liquefaction, pore water pressure, 2 dimensions 
Semburan gas bercampur air dan lumpur di Desa Metatu, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik, Jawa Timur Akhmad Zaennudin; Hanik Humaida; Ugan B. Saing; Rachmad W. Laksono
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 4, No 3 (2013)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.414 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v4i3.57

Abstract

AbstrakSemburan gas bercampur air dan lumpur di Desa Metatu, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik, JawaTimur terjadi pada bulan November 2012. Semburan tersebut dipicu oleh akumulasi gas hidrokarbon yang terperangkapdi bawah permukaan. Desa Metatu dan sekitarnya merupakan wilayah minyak dan gas bumi yang telah diusahakan sejak zaman Belanda, sehingga banyak dijumpai sumur minyak peninggalan Belanda. Gas hidrokarbon yang memicu semburan Metatu tersebut didominasi oleh gas metana berasal dari oil windowseperti yang terdapat di gunung lumpur LUSI, Sidoarjo, tetapi kedua mempunyai perbedaan dalam tingkat kematangannya. Kematangan gas metana dari semburan gas Metatu mempunyai tingkat kematangan yanglebih rendah dari tingkat kematangan LUSI.Kata kunci: Metatu, semburan gas, lumpurAbstractGases outburst mixed of water and mud in Metatu village, Benjeng subdistrict, Gresik regency, East Java occurred in November 2012. This outburst was trigerred by high pressure of hydrocarbon gases that were accumalted beneath the surface. Metatu and its surrounding is potensially petroleum and natural gases which was developed since Ducth era, so this area plenty of oil wells that were construted by Ducth. Hydrocarbon gases that trigger a gas outburst at Metatu is dominated by methane gas of oil window origin like as in LUSI mud volcano, Sidoarjo, but among them different in maturity degree. Hydrocarbon gas maturity of Metatu gas outburst is lower than LUSI.keywords: Metatu, gases outburst, mud
Erupsi Gunung Lokon berdasarkan kegempaan, deformasi, dan geokimia pada Januari 2013 Yasa Suparman; Ugan B. Saing; Akhmad Zaennudin
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 4, No 3 (2013)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1384.488 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v4i3.58

Abstract

ABSTRAKPeriode erupsi Gunung Lokon terjadi sejak tahun 2011 yang diawali oleh letusan freatik pada 22 Februari 2011, kemudian berlanjut dengan letusan yang terjadi pada 26 Juni 2011 dan letusan-letusan lainnya baik letusan freatik, freatomagmatik dan magmatik. Data kegempaan menunjukkan bahwa peningkatan kegiatan Gunung Lokon ditandai dengan meningkatnya Gempa Vulkanik (VA dan VB), Tremor dan Gempa Hembusan. Gempa Letusan dengan energi yang besar diawali dengan meningkatnya kejadian Gempa Vulkanik atau terekamnya Gempa Vulkanik dengan energi besar pada sehari atau beberapa jam sebelumnya. Interval waktu yang pendek antara peningkatan Gempa Vulkanik dengan terjadinya letusan menunjukkan bahwa Gunung Lokon masih belum stabil. Data deformasi menunjukkan bahwa terjadi inflasi pada saat sebelum terjadinya letusan. Nilai fluks SO2 serta rasio Cl/SO4 hasil analisis ash leachate pada Januari 2013 masih relatif sama dibandingkan tahun 2011 dan 2012.Kata kunci: Gunung Lokon, letusan Lokon, gempa vulkanik ABSTRACTLokon eruption period occured since 2011 was started by phreatic eruption on 22nd February 2011, followed by 26th June 2011 eruption and continous with phreatic; phreatomagmatic and magmatic eruptions. Seismic data shows that the increasing of Lokon activity charactarized by increased of Volcanic earthquakes (VA and VB), Tremor and Hembusan earthquakes. Large energy of explosion earthquakes begins with the increasing of volcanic earthquakes or volcanic earthquakes being recoreded with large of energy on a day or few hours before. Short time interval between increasing of volcanic earthquake and the occurrence of eruption showed that Lokon volcano is still not stable yet. Deformation data indicate that inflation occurred before the eruption. Value of SO2 fulks and Cl/SO4 ratio from results of ash leachate analysis in January 2013 remained relatively stable compared to 2011 and 2012.Keywords: Lokon Volcano, Lokon eruption, volcanic earthquakes

Page 1 of 1 | Total Record : 5