cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2017)" : 5 Documents clear
Sub-Segmentasi Sesar Pada Segmen Kumering Antara Danau Ranau Hingga Lembah Suoh, Lampung Barat Subdivision Of Segmentation In Kumering Segment Between Ranau Lake To Suoh Valley, West Lampung Sonny Aribowo; Dicky Muslim; Danny H. Natawidjaja; Mudrik R. Daryono
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9849.194 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v8i1.168

Abstract

ABSTRAKSesar Sumatra merupakan sesar mendatar yang tersusun atas beberapa segmen. Evolusi sesar memainkan peranan penting terhadap retakan permukaan akibat gempabumi dan juga pencabangan sesar. Segmen Kumering merupakan sesar yang menjadi sumber gempabumi yang bersifat merusak pada tahun 1933 dan 1994. Kami melakukan delineasi pada Segmen Kumering berdasarkan interpretasi pada citra SRTM dengan resolusi 30 m untuk memberikan pandangan yang paling mutakhir mengenai sesar yang menjadi sumber gempa tersebut. Kami juga melakukan tinjauan untuk dimensi dari sub-segmen dalam hubungannya dengan offset sesar maksimum. Dari hasil interpretasi citra teridentifikasi 12 sub-segmen yang dibatasi oleh adanya step dan/atau tekukan serta hilangnya jejak morfologi pada kenampakan citra. Kompleksitas sesar mendatar tergambarkan dalam hubungan antara jumlah step dan atau tekukan dengan panjang maksimum offset sesar. Tren linear menunjukkan bahwa jarak offset maksimum yang semakin panjang pada segmen sesar yang lebih panjang dan memiliki jumlah step dan/atau tekukan yang semakin sedikit. Hasil penelitian memberikan gambaran yang lebih baik secara resolusi. Hasil ini juga membuktikan adanya pencabangan sesar yang berasosiasi dengan sesar utama pada lingkungan vulkanik.Kata kunci: sesar mendatar, segmen sesar, offset sesar, SRTM30, Kumering, Sesar Sumatra ABSTRACTSumatran fault is well known as highly segmented strike-slip fault. The evolution of fault segmentation plays crucial role to the dimension of earthquake ruptures as well as fault splays. Kumering Segment of the Sumatran Fault Zone allegedly as the source of Liwa’s 1933 and 1994 earthquakes. To update the prediction of geometrical attribute of strike-slip system in the Sumatran Fault Zone,we delineate sub-segmentation in the Kumering Segment based on SRTM30 imagery. We studied the dimension of each subsegments and correlate them to the maximum fault offset. From imageries interpretation, we identify twelve subdivision of Kumering Segment bounded by step and the subdued of geomorphic trace. We show strike-slip complexity by relationship between number of steps with maximum fault offset length. Linear trend shows that our data fit with previous study, which concluded that faults have longer segments and fewer steps when their offsets increase. This article also intended to obtain better understanding in characterizing source of earthquake triggered by right lateral Sumatran Fault. Our results provide better resolution for fault segmentation. The results may also reveal the orientation of secondary fault formed by splaying associated with first order fault in the volcanic environment.Keywords: strike-slip fault, fault segment, fault offset, SRTM30, Kumering, Sumatran Fault.
Manajemen Data Kejadian Gerakan Tanah dalam Penyusunan Basis Data Spasial Longsor Indonesia (Studi Kasus: Kabupaten Garut) Management of Ground Movement Occurrence Data in Building Indonesian Landslide Spatial Database (Case Study: Garut Regency) Sukristiyanti Sukristiyanti; Hilda Lestiana; Andarta F. Khoir; Afnindar Fakhrurrozi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2149.689 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v8i1.169

Abstract

ABSTRAKData kejadian gerakan tanah adalah informasi yang penting dalam upaya mitigasi bencana gerakan tanah. Data bersumber dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Namun, data tersebut masih tabular nonspasial, dengan beragam format. Makalah ini membahas mengenai manajemen data gerakan tanah dalam proses penyusunan basis data spasial untuk kejadian longsor di Kabupaten Garut. Basis data spasial tersebut merupakan bagian dari basis data longsor Indonesia. Metode yang dilakukan dalam manajemen data gerakan tanah meliputi pendekatan spasial dan filtering data. Pendekatan spasial digunakan untuk melakukan konversi data nonspasial menjadi spasial. Filtering data dilakukan untuk membuat sebuah format data baru berupa tabel normal yang dapat menampung semua data. Hasil yang diperoleh dari pendekatan spasial berkaitan dengan pemetaan data gerakan tanah di Kabupaten Garut adalah (1) sistem proyeksi geografis (LL/ Latitude-Longitude) sebagai sistem proyeksi yang dipilih, (2) kenampakan titik untuk memetakan lokasi kejadian gerakan tanah, dan (3) pendekatan wilayah lokasi kejadian untuk mengeplot data yang tidak memiliki informasi koordinat lintang-bujur. Hasil filtering data adalah satu tabel normal yang berisi empat belas kolom data gerakan tanah. Manajemen data telah memberikan solusi berupa strategi penyusunan basis data spasial yang dibangun dari data nonspasial.Kata kunci: basis data spasial, data nonspasial, data kejadian gerakan tanahABSTRACTGround movement occurrence data are important information in ground movement disaster mitigation. The sources of the data in Indonesia are Centre for Volcanology and Geological Hazard Mitigation (PVMBG) and Regional Disaster Management Agencies (BPBDs). However, the data are still tabular and in various formats. This paper discusses about the management of ground movement occurrence data in building landslide spatial database of Garut Regency. The database is part of landslide spatial database of Indonesia. Two methods were conducted i.e. spatial approach and data filtering. Spatial approach was needed in converting data from nonspatial to spatial. Data filtering was done to arrange a new form/normal table which can accommodate the whole landslide data. The results of spatial approach regarding to ground movement data mapping in Garut were (1) the geographic projection system (LL/ Latitude-Longitude) as the chosen system, (2) the feature of point to map ground movement occurrence data, and (3) the regional approach of the locations for plotting data that do not have the latitude-longitude coordinate information. The result of the data filtering was a normal table that contained fourteen columns of landslide data. Data management has given a solution in the form a strategic of spatial database building which is constructed from non spatial data.Keywords: landslide spatial database, nonspatial data, ground movement occurrence data
Pentarikhan Radiokarbon dalam Penentuan Umur Aktivitas Sesar Sumatra di Liwa, Lampung Radiocarbon Dating for Sumatra Fault Activity Age Determination in Liwa, Lampung Darwin Alijasa Siregar; Yudhicara Yudhicara
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1954.658 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v8i1.165

Abstract

ABSTRAK Gempa bumi tahun 1994 di daerah Liwa dan sekitarnya merupakan gempa yang cukup besar dan memakan banyak korban jiwa. Untuk itu penelitian sesar aktif di daerah tersebut dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mengurangi risiko bencana gempa bumi. Metode pentarikhan radiokarbon dengan fase gas asetilena diperkenalkan dalam tulisan ini untuk menentukan umur absolut batuan atau endapan pada suatu singkapan paleoseismik, sehingga dapat merekonstruksi kejadian gempa bumi pada masa lampau, yang bersumber pada sistem tektonik sesar Sumatra yang terdapat di Liwa, Lampung. Metode ini memanfaatkan material yang mengandung unsur karbon radioaktif yang terdapat di dalam suatu percontoh batuan atau sedimen dengan kisaran umur tidak lebih dari 50.000 tahun BP (Before Present). Berdasarkan hasil pentarikhan tersebut diketahui aktivitas tektonik sesar Sumatra di daerah Liwa (Segmen Semangko) terjadi pada 5370 - 5280 ±120 tahun B.P. dan 2980 - 2880 ± 120 tahun B.P. Kata kunci: gas asetilena, Liwa, Pentarikhan radio karbon, Sesar Sumatra ABSTRACT The 1994 earthquake in Liwa and its surroundings is the most severe earthquake which caused many fatalities. Therefore a research of active faults has been done as an effort to mitigate the earthquake hazard. In this paper, dating method is introduced using asetilena gas phase which is one of dating methods applied to rocks or sediment from a paleoseismic exposure to reconstruct a paleo-earthquake event. This method uses material containing radioactive carbon and resulting the age that is no more than 50.000 BP (Before Present). This method determine that there is tectonic activity of Sumatra Fault in Liwa region, which occured in 5,370 – 5,280 ± 120 years B.P. and 2,980 – 2,880 ± 120 years B.P. Keywords: asetilena gas, carbon dating, Liwa, Sumatra Fault
Analisis Kerentanan Longsoran Menggunakan Proses Hirarki Analitik di Daerah Sukatani dan Sekitarnya, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat Landslide Susceptibility Analysis Using Analytic Hierarchy Process In Sukatani And Its Surroundings, Purwakarta Regency, West Java Misbahudin Misbahudin; Abdullah Husna; Rusdi Toriq; Agus Marwantho
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9747.603 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v8i1.167

Abstract

ABSTRAKDaerah penelitian terletak di wilayah Sukatani dan sekitarnya, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Daerah tersebut memiliki kondisi geomorfologi yang berbukit-bukit akibat pengaruh produk vulkanik berupa lahar, aliran piroklastika, dan intrusi. Pada daerah tersebut terdapat laporan mengenai longsoran yang terjadi di beberapa lokasi dekat tempat tinggal penduduk. Atas dasar tersebut, peta kerentanan longsoran dibuat untuk memberikan informasi mengenai persebaran tingkat kerentanan longsoran pada daerah penelitian. Peta yang digunakan sebagai dasar pembuatan adalah peta sebaran litologi, struktur geologi, kemiringan lereng, relief relatif, kebasahan lahan, dan tutupan lahan. Parameter tersebut dikelaskan berdasarkan faktor evaluasi bahaya longsoran. Tingkat kerentanan terhadap longsoran diperoleh dengan metode proses hirarki analitik dan pengujian rasio konsistensi. Tahapan penggabungan peta menggunakan cara tumpang susun. Secara umum, peta kerentanan longsoran yang telah dibuat menunjukkan korelasi yang baik sesuai dengan kondisi di lapangan. Tingkat kerentanan sangat rendah meliputi 43% daerah penelitian, tingkat kerentanan rendah meliputi 40,5% daerah penelitian, tingkat kerentanan sedang meliputi 14,5% daerah penelitian, dan tingkat kerentanan tinggi meliputi 2% daerah penelitian. Kemiringan lereng adalah kontrol utama faktor-faktor penyebab longsoran di daerah penelitian. Zona kerentanan menengah hingga tinggi umumnya berada pada lereng terjal dengan material berupa breksi piroklastika.Kata kunci: Kerentanan longsoran, proses hirarki analitik, Purwakarta, SukataniABSTRACTThe researched area is located in Sukatani and surrounding areas, Purwakarta, West Java. The area has a hilly geomorphological condition due to the influence of volcanic products in the form of lava, pyroclastic flows, and intrusion. In that area there are reports of landslide that occurred at several locations near residences. On that basis, a landslide susceptibility map was made to provide information about the distribution of susceptibility level of landslides in the researched area. Maps which are used as the basis are maps of lithology, structural geology, slope, relative relief, soil wetness, and land cover. Those parameters are classified based on the landslide hazard evaluation factors. Landslide susceptibility index was obtained by using the method of analytic hierarchy process and by testing the consistency ratio. Stages for merging maps used the overlaying method. In general, a landslide susceptibility mapthat has been made shows a good agreement with conditions in the field. The level of very low susceptibility covered 43% of the studied area, the low level covered 40.5%, the medium level covered 14.5%, and the high level included2% of the researched area. A slope is the main control of factors that cause landslides. Medium to high susceptibility zones are generally on steep slopes with pyroclastic breccia materials.Keywords: Analytic Hierarchy Process, landslide susceptibility, Purwakarta, Sukatani
Pemodelan Aliran Awanpanas (Aliran Piroklastik) Sebagai Data Pendukung Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi (Studi Kasus Gunungapi Sinabung Sumatra Utara) Pyroclastic Flows Modeling as a Supporting Data for Volcanic Hazard Map (case study Sinabung Volcano-North Sumatra) Agoes Loeqman; Nana Sulaksana; Helman Hamdani; Wening Sulistri
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11430.519 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v8i1.164

Abstract

ABSTRAK Indonesia mempunyai 127 gunungapi aktif dan berdasarkan sejarah erupsi 67 di antaranya merupakan gunungapi berbahaya. Erupsi gunungapi memiliki risiko merusak dan mematikan tidak hanya bagi masyarakat yang bermukim disekitarnya tapi juga menyebabkan bencana bagi masyarakat luas. Salah satu bahaya primer erupsi gunungapi adalah aliran awanpanas, produk erupsi gunungapi yang sampai saat ini paling banyak menyebabkan jatuhnya korban jiwa, untuk itu diperlukan suatu simulasi/pemodelan untuk mengetahui pola aliran awanpanas guna mendukung penentuan Kawasan Rawan Bencana (KRB) erupsi gunungapi. Simulasi/pemodelan aliran awanpanas ini dibuat berdasarkan data Model Elevasi Digital (DEM) dan memanfaatkan aplikasi Sistem Informasi Geografis (GIS), dengan output berupa representasi dinamis dari kecepatan aliran awanpanas, ketebalan deposit, dan daerah terdampak, dengan studi kasus Gunungapi Sinabung Sumatera Utara. Setelah erupsi terakhir 1200 tahun lalu (sutawidjaja, 2013), peningkatan aktivitas Gunungapi sinabung ditandai dengan terjadinya letusan freatik pada periode Agustus-September 2010. Setelah 3 tahun beristirahat, aktivitas erupsi kembali terjadi sejak September 2013 hingga saat ini. Aktivitas erupsi berupa pertumbuhan kubah lava dan luncuran awanpanas telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa serta memaksa penduduk mengungsi menjauhi daerah bahaya. Simulasi/pemodelan aliran awanpanas Gunungapi Sinabung karena runtuhnya kubah lava dibuat ke berbagai arah dengan skenario volume kubah lava ; 1, 2 dan 3 juta m3 . Hasil overlay antara daerah landaan awanpanas dengan skenario 3 juta m3 pada Peta KRB menunjukan jangkauan aliran awanpanas pada sektor tenggara, barat dan timurlaut telah sedikit melewati batas KRB III (kawasan sangat berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, guguran lava dan gas beracun). Kata kunci : awanpanas, Simulasi/model, titan2d, KRB ABSTRACT Indonesia has 127 active volcanoes and based on historical eruption, 67 of them are dangerous. Volcano eruption having destructive risk and deadly, not only for the people who lived around, but also caused disaster for large society.  One of the primary danger of volcano eruption is the pyroclastic flow, volcano eruption products that until recently was the most caused the loss of life, therefore necessary creating a simulation/modeling to know pyroclastic flow pattern to support of a determination the Volcanic hazard map. Pyroclastic flow Simulation/modeling is made based on the Digital Elevation Model (DEM) data and using Geographical Information System (GIS) application, with output of representation dynamic from the pyroclastic flow velocity, the thickness of deposit, and affected areas, with case Sinabung Volcano in North Sumatra. Since lates eruption about 1.200 years ago, Increased activity Sinabung volcano started by phreatic eruptions during August – September 2010. After three years of rest, eruption activity occurs again on September 2013 until today, with lava dome growth and pyroclastic flow acitvity have caused casualties and forcing residents were being evacuated away from the danger area. The pyroclastic flow simulation/modeling due the lava dome collapse is made into various directions with scenario of lava dome volume ; 1, 2 and 3 million m3 . The results of overlay between areas affected by pyroclastic flow model with scenario 3 million m3 and volcanic hazard map showed the range of pyroclastic flow to the southeast, west and northeast sector reached the limit of zone III at volcanic hazard map (Very potentially affected by pyroclastic flow, lava flow, lava avalanche, and toxic volcanic gas ). Keywords : pyroclastic, simulation/modeling Titan2D, volcanic hazard map

Page 1 of 1 | Total Record : 5