cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
pharmacon@unsrat.ac.id
Editorial Address
Pharmacy Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Science, Sam Ratulangi University, Manado, North Sulawesi, Indonesia, 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
PHARMACON
ISSN : 23022493     EISSN : 27214923     DOI : 10.35799
Core Subject : Health,
Pharmacon is the journal published by Pharmacy Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sam Ratulangi University, Indonesia (P-ISSN: 2302-2493 E-ISSN: 2721-4923). Pharmacon was established in 2012 and published four times a year. Pharmacon is an open access journal and has been indexed by main indexing Google Scholar, GARUDA, Crossref.
Arjuna Subject : -
Articles 45 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 4 (2015): Pharmacon" : 45 Documents clear
HUBUNGAN KEBIASAAN MENYIKAT GIGI DAN STATUS KESEHATAN GINGIVA PADA PENGGUNA GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN DI KELURAHAN BATU KOTA Gosal, Angelica A.
PHARMACON Vol 4, No 4 (2015): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.4.2015.10196

Abstract

HUBUNGAN KEBIASAAN MENYIKAT GIGI DAN STATUS KESEHATAN GINGIVA PADA PENGGUNA GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN DI KELURAHAN BATU KOTA Angelica A. Gosal1), Krista V. Siagian1), Vonny N.S. Wowor1) 1) Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran, UNSRAT   ABSTRACT Removable partial dentures (RPDs) are generally chosen as an alternative in replacing the missing teeth in partially edentulous situation, however the usage of removable partial dentures has a disadvantage in increasing the food debris accumulation that caused dental plaque formation. Plaque is an essential factor in the ethiology of gingivitis, as such plaque can only be mechanically removed by tooth brushing. The act of tooth brushing is the only effective way for plaque control, however the majorities yet to perform the act of tooth brushing correctly. The aim of this study was to explore the relation between the habit of tooth brushing and the status of gingival health on removable partial denture wearers in Batu Kota Manado. This study is an analytical descriptive with cross sectional approach that had done to 81 RPD wearers in Batu Kota Manado recruited by purposive sampling technique. The data were collected by questionnaire for surveying the habit of tooth brushing and gingival index observation towards the respondents. The result of this study shows respondents with a good habit of tooth brushing suffered only from minor gingival inflammation (75.9%), on the other hand respondents that performed a bad habit of tooth brushing appeared to have moderate (82.6%) to advanced (4.4%) gingival inflammation. The statistic evaluation used Chi-Square test resulted in p value = 0.000 < a (0.05), therefore H0 were rejected, wherease this concluded that there is relation between habit of tooth brushing and status of gingival health on removable partial denture wearers in Batu Kota Manado.   Key words: Habit of tooth brushing, gingival index, removable partial denture ABSTRAK Gigi tiruan sebagian lepasan umumnya dipilih sebagai salah satu alternatif untuk menanggulangi kehilangan sebagian gigi, namun pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan dapat meningkatkan penumpukan sisa makanan yang mengakibatkan pembentukan plak. Plak merupakan salah satu penyebab utama terjadinya gangguan pada kesehatan gingiva atau gingivitis, dan tidak dapat dibersihkan hanya dengan berkumur-kumur, semprotan air atau udara tetapi plak dapat dibersihkan secara mekanis yaitu dengan menyikat gigi. Menyikat gigi merupakan tindakan kontrol plak yang paling efektif, namun masih banyak masyarakat yang belum melakukan tindakan menyikat gigi dengan benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva pada pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di Kelurahan Batu Kota Manado. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada 81 responden pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di Kelurahan Batu Kota, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuisioner penilaian kebiasaan menyikat gigi dan pemeriksaan indeks gingiva responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memiliki kebiasaan baik dalam menyikat gigi hanya mengalami keradangan ringan pada gingiva (75,9%), sedangkan responden yang memiliki kebiasaan kurang baik dalam menyikat gigi umumnya mengalami keradangan bersifat sedang (82,6%) hingga berat (4,4%) pada gingiva. Hasil perhitungan statistik dengan menggunakan uji Chi Square diketahui p value = 0,000 < a (0,05), maka H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva pada pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di Kelurahan Batu Kota.   Kata kunci: Kebiasaan menyikat gigi, indeks gingiva, gigi tiruan sebagian lepasan   Gigi tiruan merupakan perangkat tiruan yang digunakan untuk menggantikan fungsi gigi yang hilang pada seseorang yang mengalami  kehilangan gigi serta digunakan untuk mencegah dampak negatif yang dapat ditimbulkannya. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional tahun 2013, sebanyak 1,5% masyarakat Indonesia yang berusia ³12 tahun menggunakan gigi tiruan, baik gigi tiruan cekat maupun lepasan.1 Gigi tiruan lepasan yang dibuat untuk menanggulangi kehilangan satu atau beberapa gigi pada seseorang disebut sebagai gigi tiruan sebagian lepasan. Gigi tiruan sebagian lepasan umumnya dipilih sebagai salah satu alternatif untuk menanggulangi kehilangan sebagian gigi, antara lain karena biaya pembuatannya relatif lebih terjangkau dibandingkan gigi tiruan cekat. Di sisi lainnya gigi tiruan sebagian lepasan memiliki kelemahan, terutama pada pengguna yang kurang memerhatikan kebersihan gigi tiruan yang digunakannya. Pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan yang tidak diperhatikan pemeliharaan kebersihannya dapat menimbulkan permasalahan baru pada gigi geligi asli yang masih ada serta jaringan pendukungnya. Salah satu permasalahan yang dapat timbul sebagai dampak pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan, yaitu meningkatnya penumpukan sisa makanan pada bagian yang berkontak langsung dengan permukaan gigi asli maupun mukosa rongga mulut.2 Penumpukan sisa makanan yang terjadi bila tidak dibersihkan berperan dalam peningkatan perkembangan bakteri dan pembentukan plak yang merupakan salah satu penyebab utama terjadinya gangguan pada gingiva berupa gingivitis.3,4 Plak bersifat sangat tipis, baru terlihat setelah dilakukan pewarnaan, dan tidak dapat dibersihkan hanya dengan berkumur-kumur, semprotan air atau udara tetapi plak dapat dibersihkan secara mekanis yaitu dengan menyikat gigi.5 Menyikat gigi merupakan tindakan kontrol plak yang paling efektif, efisien dan ekonomis karena mudah dilakukan sendiri di rumah dan tidak membutuhkan biaya yang besar. Menurut hasil RISKESDAS tahun 2013, prevalensi menyikat gigi setiap hari di Indonesia telah mencapai 94,2%, namun hanya 2,3% yang menyikat gigi dengan benar.1 Menurut penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Fernatubun di Kelurahan Batu Kota pada tahun 2014, ditemukan kerusakan pada jaringan pendukung gigi penyangga sebanyak 72 kasus dari 81 responden pengguna gigi tiruan sebagian lepasan. Kerusakan jaringan pendukung yang paling banyak ditemukan yaitu gingivitis dengan persentase sebesar 48,6%.6   METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional study. Setiap responden hanya diobservasi satu kali tanpa intervensi dan diukur menurut keadaan atau status waktu diobservasi. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Batu Kota Kecamatan Malalayang Manado pada bulan Maret-September 2015. Populasi penelitian ini adalah masyarakat Kelurahan Batu Kota yang menggunakan gigi tiruan sebagian lepasan yaitu sebanyak 355 orang. Besar sampel pada penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus Slovin yaitu sebanyak 81 responden. Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu menentukan sampel berdasarkan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi sehingga didapatkan jumlah sampel yang dibutuhkan sesuai besaran sampel. Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu laki-laki dan perempuan berusia 18-60 tahun yang sehat dan tidak memiliki keterbatasan motorik ataupun keterbelakangan mental yang dapat menghambat kebiasaan menyikat gigi responden, bersedia berpartisipasi dengan sukarela untuk menjadi responden penelitian dengan menandatangani lembar persetujuan kesediaan menjadi responden penelitian, serta bersikap kooperatif selama pengambilan data. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini yaitu responden yang sudah kehilangan gigi-gigi indeks yang akan diperiksa, responden yang memiliki kebiasaan merokok, responden yang sedang hamil atau dalam masa menopause atau gangguan hormonal lainnya yang ikut memengaruhi kondisi kesehatan gingiva, serta responden yang memiliki faktor sistemik yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan gingiva, seperti penyakit DM, nutrisional dan hematologi (penyakit darah). Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas yaitu kebiasaan menyikat gigi dan variabel terikat yaitu status kesehatan gingiva. Kebiasaan menyikat gigi, yaitu tindakan menyikat gigi yang sudah menjadi perilaku responden, meliputi cara menyikat, frekuensi, waktu, serta durasi menyikat gigi setiap kali tindakan ini dilakukan. Penilaian kebiasaan menyikat gigi responden yaitu melalui pengisian lembar kuesioner yang berisi pernyataan-pernyataan yang disusun berdasarkan teori dan pilihan jawaban yang menggunakan skala Likert. Status kesehatan gingiva,  adalah keadaan yang menggambarkan kondisi klinis gingiva saat diperiksa. Penilaian status kesehatan gingiva ditentukan berdasarkan Indeks Gingiva menurut Loe and Sillness. Instrumen penelitian terdiri atas lembar pemeriksaan status gingiva dan kuesioner untuk penilaian kebiasaan menyikat gigi. Penelitian dilakukan setelah mendapat izin penelitian dari Lurah Batu Kota berdasarkan surat permohonan izin dari PSPDG UNSRAT dan adanya lembar persetujuan kesediaan menjadi responden penelitian yang telah ditandatangani oleh responden. Pendataan dilakukan untuk mendapatkan responden penelitian yang memenuhi syarat sesuai kriteria inklusi. Responden menyatakan kesediaannya dengan menandatangani lembar persetujuan kesediaan menjadi responden dalam penelitian. Responden yang telah memenuhi syarat kriteria inklusi dan menandatangani lembar persetujuan, akan diperiksa status kesehatan gingivanya berdasarkan Indeks Gingiva menurut Loe and Sillness, kemudian data hasil pemeriksaan dicatat di lembar pemeriksaan yang telah disediakan. Responden yang telah diperiksa kemudian mengisi lembar kuesioner untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penilaian kebiasaan menyikat gigi. Setelah pemeriksaan dan pengisian kuesioner selesai pada satu responden, dilanjutkan pemeriksaan pada responden lainnya dengan menggunakan alat yang telah disterilisasi dan pengisian lembar kuesioner seperti pada responden sebelumnya. Semua data hasil penelitian yang diperoleh akan diproses dan diolah dengan komputer menggunakan program SPSS versi 16 dan disajikan dalam bentuk tabel sesuai dengan tujuan penelitian. Data yang diperoleh dari penelitian kemudian dianalisis secara univariate untuk memperoleh gambaran dan distribusi setiap variabel yang diteliti, baik variabel bebas maupun terikat. Data juga dianalisis secara bivariate untuk mengetahui interaksi dari dua variabel tersebut, kemudian diuji menggunakan uji Chi - square. HASIL PENELITIAN Karakteristik responden pada penelitian ini dilihat berdasarkan jenis kelamin dan usia. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh gambaran karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin sebagaimana diperlihatkan dalam Tabel 1.     Tabel 1. Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin Jenis kelamin n % Perempuan Laki-laki 65 16 80,2 19,8 Total 81 100,0 Tabel 1 menunjukkan bahwa responden terbanyak menurut jenis kelamin yaitu responden berjenis kelamin perempuan yang berjumlah 65 orang atau sebesar 80,2%, sedangkan responden berjenis kelamin laki-laki berjumlah 16 orang atau sebesar 19,8%. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh gambaran karakteristik responden berdasarkan usia sebagaimana diperlihatkan dalam Tabel 2. Tabel 2. Distribusi frekuensi responden berdasarkan usia   Usia (tahun) n % 20-30 31-40 41-50 51-60 4 17 31 29 4,9 21,0 38,3 35,8 Total 81 100,0 Tabel 2 menunjukkan bahwa responden terbanyak yaitu responden yang berusia 41-50 tahun yang berjumlah 31 orang atau sebesar 38,3%, sedangkan responden paling sedikit yaitu responden yang berusia 20-30 tahun yang berjumlah 4 orang atau sebesar 4,9%. Gambaran kebiasaan menyikat gigi responden dapat dilihat pada hasil data distribusi frekuensi responden berdasarkan kebiasaan menyikat gigi yang disajikan dalam Tabel 3. Tabel 3. Distribusi frekuensi responden berdasarkan kebiasaan menyikat gigi Kebiasaan Menyikat Gigi n % Baik Kurang baik 58 23 71,6 28,4 Total 81 100,0   Tabel 3 memperlihatkan gambaran kebiasaan menyikat gigi pada  responden, dengan responden paling banyak memiliki kebiasaan baik yaitu berjumlah 58 orang atau sebesar 71,6%, sedangkan responden yang memiliki kebiasaan kurang baik yaitu berjumlah 23 orang atau sebesar 28,4%. Gambaran status kesehatan gingiva responden dapat dilihat pada hasil data distribusi frekuensi responden berdasarkan indeks gingiva yang disajikan dalam Tabel 4.   Tabel 4. Distribusi frekuensi responden berdasarkan indeks gingiva   Indeks Gingiva n % Ringan Sedang Berat 47 33 1 58,0 40,8 1,2 Total 81 100,0   Tabel 4 memperlihatkan gambaran status kesehatan gingiva pada responden, dengan responden paling banyak memiliki indeks gingiva ringan yaitu berjumlah 47 orang atau sebesar 58,0%, sedangkan yang memiliki indeks gingiva sedang yaitu berjumlah 33 orang atau sebesar 40,8% dan yang memiliki indeks gingiva berat yaitu berjumlah 1 orang atau sebesar 1,2%. Hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva responden dapat dilihat dari data hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva responden yang disajikan dalam bentuk tabulasi silang pada Tabel 5.   Tabel 5. Tabulasi silang hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva responden   Kebiasaan menyikat gigi Indeks gingiva Total p value Ringan Sedang Berat n % n % n % n %       0,000 Baik Kurang baik 44 3 75,9 13,0 14 19 24,1 82,6 0 1 0,0 4,4 58 23 71,6 28,4 Total 81 100,0 Tabel 5 memperlihatkan hasil data hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva responden dalam bentuk tabulasi silang. Responden yang memiliki kebiasaan baik dalam menyikat gigi dan memiliki indeks gingiva ringan berjumlah 44 orang atau sebesar 75,9%, sedangkan responden yang memiliki kebiasaan kurang baik dalam menyikat gigi dan memiliki indeks gingiva ringan berjumlah 3 orang atau sebesar 13,0%. Responden yang memiliki kebiasaan baik dan indeks gingiva sedang berjumlah 14 orang atau sebesar 24,1%, sedangkan responden yang memiliki kebiasaan kurang baik dan indeks gingiva sedang berjumlah 19 orang atau sebesar 82,6%. Responden dengan kebiasaan baik tidak ada yang memiliki indeks gingiva berat, sedangkan responden dengan kebiasaan kurang baik dan memiliki indeks gingiva berat berjumlah 1 orang atau sebesar 4,4%. Hasil uji statistik hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva responden dengan menggunakan uji Chi – Square diperoleh bahwa p value = 0,000. PEMBAHASAN Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa responden terbanyak berjenis kelamin perempuan, yakni sebesar 80,2%, sedangkan responden berjenis kelamin laki-laki hanya sebesar 19,8% (Tabel 1). Responden terbanyak menurut usia yaitu responden yang berusia 41-50 tahun yakni sebesar 38,3% (Tabel 2). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Pimtip dan juga hasil penelitian Fernatubun, yang menunjukkan bahwa responden yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak yang memakai GTSL dibandingkan responden yang berjenis kelamin laki-laki.6,7 Hasil penelitian Fernatubun juga menunjukkan bahwa responden dengan kelompok usia serupa merupakan responden terbanyak yang menggunakan GTSL di Kelurahan Batu Kota.6 Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa sebagian besar responden sudah memiliki kebiasaan menyikat gigi yang baik yaitu sebesar 71,6% (Tabel 3). Hal ini dibuktikan dengan responden yang sebagian besar sudah menyikat gigi 2 kali atau lebih setiap hari dan sebagian besar responden juga sudah menyikat gigi dengan durasi lebih dari 2 menit. Hal ini sesuai dengan rekomendasi American Dental Association (ADA) yang menyatakan bahwa menyikat gigi dua kali sehari adalah rekomendasi untuk kontrol plak serta oral malodor, dan menyikat gigi dengan durasi 2-4 menit terbukti efektif dalam menghilangkan lebih banyak plak pada gigi .8,9 Sebagian responden dalam penelitian juga masih ada yang memiliki kebiasaan kurang baik dalam menyikat gigi yaitu sebesar 28,4% (Tabel 3). Hal ini disebabkan oleh sebagian responden yang menyikat gigi pada waktu dan dengan cara yang kurang tepat. Menyikat gigi sangat dianjurkan dilakukan sesudah makan pada pagi hari dan sebelum tidur pada malam hari, sedangkan cara atau teknik menyikat gigi yang paling baik adalah teknik kombinasi.10,11 Sebagian responden dalam penelitian menyatakan sudah menyikat gigi 2 kali setiap hari, tetapi dilakukan pada saat mandi pagi atau sore dan teknik menyikat gigi yang paling sering dilakukan adalah teknik horizontal. Hal ini sesuai dengan data RISKESDAS tahun 2013 yang menyatakan bahwa prevalensi menyikat gigi setiap hari di Indonesia telah mencapai 94,2%, namun masih banyak masyarakat yang menyikat gigi pada waktu dan dengan cara yang kurang tepat.1 Salah satu dampak pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan yaitu meningkatnya penumpukan plak yang dapat mengakibatkan gangguan pada kesehatan gingiva.2 Hasil penelitian membuktikan bahwa pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di Kelurahan Batu Kota yang diperiksa sebagai responden umumnya mengalami gangguan pada kesehatan gingiva. Gangguan yang terjadi berupa keradangan bersifat ringan dengan persentase sebesar 58,0%, keradangan bersifat sedang dengan persentase sebesar 40,8% dan hanya 1,2% responden yang ditemukan mengalami keradangan berat pada gingiva (Tabel 4). Penelitian sebelumnya yang dilakukan Fernatubun di Kelurahan Batu Kota menunjukkan hasil yang serupa, dimana ditemukan kerusakan pada jaringan pendukung gigi penyangga sebanyak 72 kasus dari 81 responden pengguna GTSL, dan kasus yang paling banyak ditemukan yaitu gingivitis dengan persentase sebesar 48,6%.6 Pada penelitian ini ditemukan bahwa sebagian besar responden yang memiliki kebiasaan baik dalam menyikat gigi hanya mengalami keradangan ringan pada gingiva (75,9%), sedangkan responden yang memiliki kebiasaan kurang baik dalam menyikat gigi umumnya mengalami keradangan bersifat sedang (82,6%) hingga berat (4,4%) pada gingiva (Tabel 5). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Stanmeyer yang melaporkan bahwa terdapat penurunan keradangan gingiva dengan meningkatnya frekuensi menyikat gigi, serta hasil penelitian Prijantojo yang mengungkapkan bahwa peningkatan kesehatan gingiva bergantung pada teknik menyikat gigi yang benar.12,13 Hasil uji statistik menyatakan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva pada pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di Kelurahan Batu Kota. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji Chi – Square dimana diperoleh p value = 0,000 < a (0,05), sehingga H0 ditolak dan H1 diterima (Tabel 5). Hal ini juga sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa menyikat gigi adalah cara yang paling efektif dalam menghilangkan plak pada gigi, dimana plak adalah salah satu faktor utama penyebab gangguan kesehatan pada gingiva.8,9 SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva pada pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di Kelurahan Batu Kota Manado. SARAN Masyarakat khususnya yang menggunakan GTSL diharapkan lebih memerhatikan penyikatan gigi secara teratur dengan cara yang benar dan pada waktu yang tepat, sehingga dapat meningkatkan dan mempertahankan kebersihan serta kesehatan gigi dan mulut.Dokter gigi dan institusi pemerintah dalam hal ini dinas kesehatan dan puskesmas setempat perlu lebih aktif dalam mengadakan promosi kesehatan tentang pentingnya menerapkan kebiasaan menyikat gigi yang baik dan benar. Dilakukan penelitian lebih lanjut dengan jumlah dan kondisi responden yang lebih variatif untuk mengetahui faktor-faktor lain yang berhubungan dengan gangguan kesehatan gingiva pada pengguna GTSL. DAFTAR PUSTAKA Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan RI. Laporan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional tahun 2013. Jakarta, 2013. h. 176-93. (cited 23 April 2015) Tersedia di URL: http://labmandat.litbang.depkes.go.id/images/download/laporan/RKD/2013/RKD_dalam_angka_final.pdf Rodan R, Al-Jabrah O, Ajarmah M. Adverse effects of removable partial dentures on periodontal status and oral health of partially edentulous patients. Journal of The Royal Medicine Services, Vol. 19 No. 3: Sep 2012, p. 53-9.Dula LJ, Ahmedi EF, Shala KS. Clinical evaluation of removable partial dentures on the periodontal health of abutment teeth: A Retrospective Study. The Open Dentistry Journal, Vol. 9: 2015, p. 132-9.Suryono. Buku ajar kepaniteraan periodonsia. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada.Tjahja NI, Lely MA. Hubungan kebersihan gigi dan mulut dengan pengetahuan dan sikap responden di beberapa puskesmas di Jawa Barat. Media Litbang Kesehatan, Vol. XV No. 4: 2005, h. 1-7.Fernatubun. Gambaran kerusakan gigi penyangga pada pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di kelurahan Batu Kota. Jurnal e-Gigi, Vol. 3 No. 1: 2015.Pimtip. A clinical survey of removable partial denture after 2 years of usage. [Thesis] University of Sydney. Australia 1979.Attin T, Hornecker E. Tooth brushing and oral health: how frequently and when should tooth brushing be performed? [serial online]. (cited 25 Mei 2015) Available from URL: http://www.quintpub.com/userhome/ohpd/ohpd_2005_03_s135.pdfFelton A, Chapman A, Felton S. Basic guide to oral health education and promotion. United Kingdom: Wiley Blackwell, 2013. p. 178-179.Notoatmodjo S. Promosi kesehatan dan perilaku kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta, 2010. h.121-148.Derby M L, Walsh M M. Dental hygiene theory and practice. Canada: Evolve, 2010. p. 390-400, 280.Stanmeyer, WR. A measure of tissue response to frequency of toothbrushing. [serial online] 2005. (cited 2 September 2015) Available from URL: http://archive.rubicon-foundation.org/8305Prijantojo. Kondisi jaringan periodonsium dari kelompok masyarakat di daerah pedesaan dengan perbedaan teknik menyikat gigi. Majalah kesehatan masyarakat Indonesia 1996; 24(2), h. 23-7    
GAMBARAN STATUS KARIES PEMINUM ALKOHOL DI DESA PAKU WERU DUA Kaurow, Christian
PHARMACON Vol 4, No 4 (2015): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.4.2015.10402

Abstract

GAMBARAN STATUS KARIES PEMINUM ALKOHOL DI DESA PAKU WERU DUA   Christian Kaurow1), Vonny N.S Wowor1), D. H. C Pangemanan1) 1)Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran, Universitas Sam Ratulangi   ABSTRACT Dental caries is a disease that is often experienced by each individual. Changes in the level of economic and lifestyle into several causes. Lack of public awareness of oral health is also one of the causes of dental caries. One of the reasons that the consumption of alcoholic beverages is one habit that is almost inseparable in public life in some areas. This study aims to describe the status of caries in alcohol drinkers in the village of Ure Two Paku. This type of research is a descriptive study. The amount of research data of 50 samples. The results showed the frequency of alcohol> 3 times per week with 34 (68%) of people and consumption of <2 times per week tedapat 16 (32%) of people. The volume of alcohol drinkers in the day there were 29 (58%) of people who consume> 3 cups a day and there were 21 (42%) of people who consume ˂ 2 cups a day. Time consuming alcoholic beverages, obtained 36 (70%) of people who consume the night time, and 14 (28%) of people who consume alcohol in addition to night. caries status of respondents in alcohol drinkers in the village of Ure Paku Two of the 50 samples contained 37 (74%) of respondents who drink alcohol are caries and 13 (26%) of respondents were not there caries. Key word : Caries, alcohol drunk. ABSTRAK Karies gigi merupakan salah satu penyakit yang sering dialami oleh setiap individu.faktor ekonomi dan tingkat pekerjaan serta pola hidup menjadi beberapa pemicunya. Kurangnya kesadaran masyarakat akan kesehatan gigi dan mulut juga menjadi salah satu pemicu karies pada gigi. Salah satu faktor pemicu yaitu mengonsumsi minuman beralkohol yang merupakan salah satu kebiasaan yang hampir tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat di beberapa daerah.         Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status karies peminum alkohol di desa Paku Ure Dua. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Jumlah data penelitian yang diambil yaitu 50. Hasil penelitian menunjukan peminum alkohol dengan frekuensi > 3 kali per minggu sebanyak 34 responden (68%) memiliki status karies dengan indeks DMF-T  rata-rata  8.08 dan konsumsi < 2 kali per minggu sebanyak 16  responden (32%) memiliki status karies dengan  DMF-T rata-rata 6.3. peminum alkohol dalam sehari sebanyak 29 responden  (58%)  yang mengkonsumsi > 3 gelas sehari memiliki status karies dengan penilaian indeks DMF-T rata-rata sebesar 7.02, dan sebanyak 21 responden (42%) yang mengkonsumsi ˂ 2 gelas sehari memiliki status karies dengan penilaian indeks DMF-T rata-rata 7.09. Waktu mengonsumsi minuman alkohol, sebanyak 36 responden (70%) yang waktu konsumsi malam memiliki status karies penilaian indeks DMF-T rata-rata  7.94, dan 14 responden (28%) yang mengonsumsi alkohol selain malam memiliki status karies penilaian indeks DMF-T rata-rata  6.42. status karies responden pada peminum alkohol di desa Paku Ure Dua dari 50 sampel memiliki penilaian indeks DMF-T rata-rata adalah 7.52. Kata Kunci : Karies, peminum alkohol
UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK BUAH MENGKUDU (M. citrifolia, L) TERHADAP PERTUMBUHAN Streptococcus mutans SECARA IN VITRO Malinggas, Feibe
PHARMACON Vol 4, No 4 (2015): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.4.2015.10187

Abstract

UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK BUAH MENGKUDU (M. citrifolia, L) TERHADAP PERTUMBUHAN Streptococcus mutans SECARA IN VITRO Feibe Malinggas1), D.H.C. Pangemanan2), Ni Wayan Mariati1) 1)Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi 2) Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran, UNSRAT     ABSTRACT Streptococcus mutans is a bacteria wich exist in mouth and have an most important bacteria in the process of forming tooth caries. As the development of ages continue, there are already a lot of studies for antibiotic to inhibit Streptococcus mutans growth,but there are also a lot of antibiotics wich already resistant to this bacteria. Therefore, many scientists has started using natural plants instead of antibiotics. One of the natural plants that contains active elements as antibacteria, anticancer and analgetic, that is Noni fruit (M. citrifolia, L).The purpose of this study is toacknowledge the inhibition power from noni fruit extract to Streptococcus mutans growth. This study is a laboratorium experimental study with post test only control group design and is done at Pharmacy Laboratorium of Science Faculty Sam Ratulangi University on July 2015.From the result, it is known that the average inhibit  zone diameter of noni fruit is 20,41 mm and the positive control clindamycin is 29,58 mm, the negative control aquades has no inhibition zone. The inhibition zone extensive of noni fruit extract is 330,66 mm2, positive control clindamycin is 689,88 mm2, and negative control aquades is 0,00 mm2. From this study, it can be concluded that noni fruit extract can inhibit Streptococcus mutans growth. Keywords : Streptococcus mutans, caries, noni fruit extract, antibacterial.   ABSTRAK Streptoccocus mutans merupakan bakteri yang terdapat dalam rongga mulut dan mempunyai peran penting dalam proses terjadinya karies gigi. Seiring dengan berkembangnya zaman sudah banyak penelitian yang menggunakan antibiotik untuk menghambat pertumbuhan bakteri Streptoccocus mutans, namun sudah banyak antibiotik yang resisten terhadap bakteri ini. Oleh karena itu banyak peneliti mulai menggunakan tumbuhan alami sebagai pengganti antibiotik. Salah satu tanaman alami yang mengandung senyawa aktif sebagai antibakteri, yaitu buah mengkudu (M. citrifolia. L).Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui adanya daya hambat dari ekstrak buah mengkudu terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium menggunakan rancangan post test only control group design dan dilakukan di Laboratorium Farmasi Fakultas MIPA Universitas Sam Ratulangi Manado pada bulan Juli 2015.Hasil penelitian didapatkan nilai rerata diameter zona hambat ekstrak buah mengkudu sebesar 20,41 mm, kontrol positif clindamycin sebesar 29,58 mm sedangkan kontrol negatif akuades tidak memiliki zona hambat. Nilai rerata luas zona hambat ekstrak buah mengkudu sebesar 330,66 mm2, kontrol positif clindamycin sebesar 689,88 mm2 dan kontrol negatif akuades sebesar 0,00 mm2. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa ekstrak buah mengkudu dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Kata kunci :Streptococcus mutans, Karies, Ekstrak Buah Mengkudu, Antibakteri.  
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) PADA PELAJAR DI SD INPRES SUKUR KECAMATAN AIRMADIDI KABUPATEN MINAHASA UTARA Koem, Zitty A.R.
PHARMACON Vol 4, No 4 (2015): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.4.2015.10219

Abstract

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) PADA PELAJAR DI SD INPRES SUKUR KECAMATAN AIRMADIDI KABUPATEN MINAHASA UTARA   Zitty A.R Koem1), Barens Joseph1), Recky C. Sondakh1) 1)Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi ABSTRACT School children are capitol point and asset for future developed which need to keep, improve and protect them to stay healthy. Healthy and clean life behavior is a second factor most influenced the health of individual, group and society after environment factor. Based on Edi Paulik (2010) research, only 5,5% people have a good and complete health attitude, include the healthy and clean life behavior. To determine relationship between student knowledge and student attitude with healthy and clean life behavior in INPRES elementary school of Sukur, Airmadidi, North Minahasa.The study was a survey analytic with cross sectional approach. This study was do in INPRES elementary school of Sukur in april 2014 to june 2014. Sample in this study is 112 children. Data sources from questioner and live interview. Analysis of unvaried and bivaried using Chi_Square test in SPSS program are use in this study.Statistical test result show there have a strong relationship between student knowledge with healthy and clean life behavior (p = <0,001), same with statistical test result for student attitude with healthy and clean life behavior show there have a strong relationship ( p = <0,005). Conclusion of this study is there have a strong relationship between student knowledge and student attitude with healthy and clean life behavior in INPRES elementary school of Sukur, Airmadidi, North Minahasa.   Key Word: Student Knowledge, Student Attitude, Healthy and Clean Life Behavior. ABSTRAK   Anak sekolah merupakan asset atau modal utama pembangunan dimasa depan yang perlu dijaga, ditingkatkan dan dilindungi kesehatannya. Perilaku hidup yang bersih dan sehat merupakan factor kedua terbesar setelah factor lingkungan yang mempengaruhi kesehatan individu, kelompok, atau masyarakat. Sesuai penelitian Edi Paulik (2010), hanya 5.5% orang memiliki perilaku kesehatan yang lengkap dan baik, termasuk didalamnya perilaku hidup bersih dan sehat. Tujuan   Penelitian untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan siswa dan sikap siswa dengan perilaku hidup bersih dan sehat pada pelajar di SD Inpres Sukur Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara.Jenis penelitian ini adalah Survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di Sekolah Dasar INPRES Sukur Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara pada bulan April tahun 2014 sampai Juni tahun 2014. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 112 orang. Data diperoleh melalui kuesioner dan wawancara langsung. Analisis data dilakukan meliputi analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji Chi-square pada program SPSS.Hasil uji statistic menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan siswa dengan perilaku hidup bersih dan sehat (p = <0,001), begitu juga dengan hasil uji statistic antara sikap siswa dengan perilaku hidup bersih dan sehat yang menunjukkan adanya hubungan yang bermakna (p = <0,005). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan siswa dan sikap siswa dengan perilaku hidup bersih dan sehat di SD INPRES sukur Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara. Kata Kunci: Pengetahuan Siswa, Sikap Siswa, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, PHBS.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BUNGA DAN BIJI TANAMAN PACAR AIR (Impatiens balsamina L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa DAN Escherichia coli SECARA IN-VITRO. Budiana, Sang Made Adi
PHARMACON Vol 4, No 4 (2015): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.4.2015.10210

Abstract

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BUNGA DAN BIJI TANAMAN PACAR AIR (Impatiens balsamina L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa DAN Escherichia coli SECARA IN-VITRO. Sang Made Adi Budiana1), Novel S. Kojong1), Defny Silvia Wewengkang1) 1)Prodi Farmasi, FMIPA, UNSRAT, Manado   ABSTRACT Indonesia is a country which is rich with biodiversity, and one of them can be used as anti infection drugs. This research aims to test the antibacterial activity of pacar air flowers and seeds ethanol extract with difference concentration against the growth inhibition of S. aureus, P. aeruginosa and E. coli. The results analyzed with one way anova method and continue with duncan test. The anova data showed that the ethanol extract of pacar air flowers and seeds 10, 20, 40 and 80% concentration has given the activity to inhibit the growth of the bacterias. The flower extract 20, 40 and 80% concentration was effective to inhibit the growth of the three species bacterias while the seeds extract with same concentrations was not effective to inhibit the growth of the three species bacterias. The difference of the pacar air flowers and seeds ethanol extract concentration influence the growth inhibition of the three species bacterias, if the extract concentration was high so the growth inhibition was too.   keywords : pacar air, antibacterial activity, pathogen bacterial, agar difussion method ABSTRAK Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayati, salah satunya bisa digunakan sebagai obat penyakit infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri dan pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak etanol bunga dan biji tanaman pacar air (Impatiens balsamina L.) terhadap penghambatan pertumbuhan Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa dan Escherichia coli. Hasil uji aktivitas antibakteri dianalisa dengan metode analisa varians satu arah dilanjutkan dengan uji Duncan. Data anova menunjukan bahwa konsentrasi esktrak etanol bunga dan biji tanaman pacar air 10, 20, 40 dan 80% telah memberikan aktivitas yang menghambat pertumbuhan bakteri uji. Untuk ekstrak bunga, pada konsentrasi 20, 40 dan 80% efektif menghambat pertumbuhan ketiga bakteri uji, sedangkan untuk ekstrak biji, pada semua konsentrasi tidak efektif untuk menghambat pertumbuhan ketiga bakteri uji. Perbedaan konsentrasi ekstrak etanol dari bunga dan biji tanaman pacar air mempengaruhi penghambatan pertumbuhan ketiga bakteri uji, dimana jika semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang diberikan, maka semakin tinggi pula aktivitas penghambatan pertumbuhan bakteri.   Kata kunci : tanaman pacar air (Impatiens balsamina L.), aktivitas antibakteri, bakteri pathogen, metode difusi agar.  
GKANDUNGAN VINKRISTIN PADA KULTUR KALUS Catharaanthus roseus (L) G. DON YANG DIBERI PERLAKUAN TRIPTOFAN DAN VINDOLIN Lombonbitung, Ellen
PHARMACON Vol 4, No 4 (2015): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.4.2015.10201

Abstract

KANDUNGAN VINKRISTIN PADA KULTUR KALUS Catharaanthus roseus (L) G. DON YANG DIBERI PERLAKUAN TRIPTOFAN DAN VINDOLIN Ellen Lombonbitung1), W. Tilaar1), Dingse Pandiangan2) 1)Program Studi Agronomi, Pasca Sarjana Universitas Sam Ratulangi Manado 2)Jurusan Biologi Fak. MIPA Universitas Samratulangi Manado.   ABSTRACT Catharanthus roseus (L) G. Don also called Tapak dara plant is cultivated plant, besides its function as ornamental plant but also can be functioned as medicinal plant. Alkaloid compounds from this plant has been isolated and used as an anti cancer drug, are vinblastine and vincristine. Vinblastin and vincristine were poor alkaloid compounds produced in plants. Vincristine made from joined catharantine and vindolin, cause it is expected that vindolin be able to increase the content of  vincristine. The research was carried out to knew the vincristine content of  callus culture were given tryptophan treatment and vindolin. The research plan used was completely random design, by tryptophan combination (0, 75 and 150 mg/L) and Vindolin (0, 0,2, 0,4 and 0,6 mg/L), factorial. The vincristine content was determined  by high performance liquid chromatography (HPLC). Based on HPLC data, it was made standar curve and regression linear equation that describe the relationship between standar vincristine concentration of area. The obtained result from the research proved the tryptophan and vindoline treatment affecting the vincristine content. The highest vincristine content was showed to T1V0 treatment (Tryptophan 150 mg/L and Vindolin 0 mg/L), is 2,352 µg/g dw.   Keywords : Vincristine, Tryptophan, Vindolin ABSTRAK Catharanthus roseus (L) G. Don yang disebut juga tanaman tapak dara merupakan tanaman yang banyak dibudidayakan selain sebagai tanaman hias juga berkhasiat obat. Senyawa kelompok alkaloid dari tanaman ini telah diisolasi dan dijadikan obat anti kanker, yaitu vinblastin dan vinkristin. Vinblastin dan vinkristin adalah senyawa alkaloid yang sangat kecil dihasilkan dalam tanaman. Produksi alkaloid dari Catharanthus roseus (L) G. Don   Vinkristin terbentuk dari gabungan katarantin dengan vindolin, karena itu diharapkan dengan vindolin dapat meningkatkan kandungan vinkristin. Penelitian dilakukan untuk mengetahui Kandungan  Vinkristin pada Kultur Kalus Catharanthus roseus (L) G. Don yang diberi Perlakuan Triptofan dan Vindolin. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) secara faktorial dengan  perlakuaan kombinasi triptofan (0, 0,75 dan 150 mg/L) dan vindolin (0, 0,2, 0,4 dan 0,6 mg/L). Kandungan Vinkristin ditentukan dengan menggunakan metoda Kromatografi Cair Kinerja Tingggi (KCKT). Berdasarkan hasil KCKT dibuat kurva standar      dan persamaan regresi yang menggambarkan hubungan antara konsentrasi vinkristin standar terhadap luas area. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini membuktikan perlakuan triptofan dan vindolin mempengaruhi kandungan vinkristin. Kandungan vinkristin tertinggi berada pada perlakuan T1V0 (Triptofan 75 mg/L dan Vindolin 0 mg/L), yaitu sebesar 2,352 µg/g bk. Kata Kunci : Vinkristin, Triptofan, Vindolin   
VALIDASI METODE ANALISIS UNTUK PENETAPAN KADAR PARASETAMOL DALAM SEDIAAN TABLET SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET Tulandi, Grace P.
PHARMACON Vol 4, No 4 (2015): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.4.2015.10205

Abstract

VALIDASI METODE ANALISIS UNTUK PENETAPAN KADAR PARASETAMOL DALAM SEDIAAN TABLET SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET   Grace Pricilia Tulandi1), Sri Sudewi1), Widya Astuty Lolo1) Prodi Farmasi, FMIPA, UNSRAT, Manado   ABSTRACT   Now a days, many people in society prefer to use branded medicine compare to generic ones. They think that branded medicine is more efficacious the generic medicine. The lack of knowledge in the society about the equality of effectiveness between generic medicine and branded medicine with the same active material, cause them to choose branded medicine. This research aiming to determine the paracetamol content in tablet preparations and the validation test using ultraviolet spectrophotometer analysis. From the analysis validation result , precision and accuration method were obtained, that qualitied the analysis validation requirements, that is 0,0595 for standard deviation (SD) value, 0,0048 fr variation coefficient value, and 99,0795 % for accuration method. r = 0,9982 were obtained as linearity value with 1,4684 ppm as detection limit and 4,8985 as quantity limit. The average result from the paracetamol content determination from generic and branded medicine successively are 3,034 ± 0,294 ppm; 3,049 ± 0,070 ppm; 3,019 ± 0,199 ppm; 3,079 ± 0,139 ppm.   Keyword : Paracetamol, Validation, Ultraviolet Spectrophotometer.     ABSTRAK   Saat ini banyak masyarakat yang lebih memilih menggunakan obat merek dagang dibandingkan obat generik. Mereka menganggap bahwa obat merek dagang lebih berkhasiat dibanding obat generik. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang efektifitas yang sama antara obat generik dengan obat merek dagang yang memiliki bahan aktif yang sama, menyebabkan mereka lebih memilih menggunakan obat dengan merek dagang. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menetapkan kadar parasetamol dalam sediaan tablet dan uji validasinya menggunakan metode analisis spektrofotometri ultraviolet. Hasil validasi analisis yang dilakukan didapat presisi dan akurasi metode yang memenuhi persyaratan validasi analisis, yaitu untuk nilai standar deviasi (SD) sebesar 0,0595; koefisien variasi (KV) sebesar 0,0048 dan akurasi metode sebesar 99,0795%. Diperoleh nilai linearitas sebesar r = 0,9982 dengan batas deteksi 1,4684 ppm dan batas kuantitasi 4,8945 ppm. Hasil rata-rata penetapan kadar parasetamol generik dan merek dagang secara berturut-turut adalah 3,034 ± 0,294 ppm; 3,049 ± 0,070 ppm; 3,019 ± 0,199 ppm; 3,079 ± 0,139 ppm.   Kata kunci : Parasetamol, Validasi, Spektrofotometri Ultraviolet.  
EVALUASI PELAKSANAAN PELAYANAN RESEP OBAT GENERIK PADA PASIEN BPJS RAWAT JALAN DI RSUP. PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI-JUNI 2014 Tanner, Angela E.
PHARMACON Vol 4, No 4 (2015): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.4.2015.10193

Abstract

EVALUASI PELAKSANAAN PELAYANAN RESEP OBAT GENERIK PADA PASIEN BPJS RAWAT JALAN DI RSUP. PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI-JUNI 2014 Angela Erlitha Tanner1), Lily Ranti1), Widya Astuty Lolo1) 1)PS. Farmasi, FMIPA, Unsrat   ABSTRACT Indonesian government published PerMenKes No. HK.02.02/MENKES/068/I/2010 requires to write prescription with a generic name at the health government facilities to anticipate the high price of medication. Besides, the government also prepared National Formulary as a reference in selection of drug on JKN patients. This research conducted in RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado to measure the percentage of generic drugs prescription and conformity prescription with National Formulary in outpatient BPJS patients in RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado Period January-June 2014. The method used descriptive univariat analisys with 500 sheets of prescription as sample. The result showed that the average percentage of write the prescription with a generic name period of January-June 2014 amount to 72.82% and the average percentage of National Formulary compliance is 91.87%. The prescriptions that fully use generic names and suitable with National Formulary only have an average percentage of 33.21%. However, the result showed that an increased percentage every month, even not reach 100%.   Keywords:  BPJS Health, National Formulary, Generic Drug   ABSTRAK Pemerintah RI mengeluarkan PerMenKes RI No. HK.02.02/MENKES/068/I/2010 yang mewajibkan penulisan resep dengan nama generik di Fasilitas Kesehatan Pemerintah untuk mengantisipasi tingginya harga obat. Disamping itu, Pemerintah juga menyusun Formularium Nasional sebagai acuan dalam pemilihan obat pada pasien JKN. Penelitian dilakukan di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado untuk mengukur persentase penulisan resep dalam nama generik dan kesesuaian resep dengan Formularium Nasional pada pasien BPJS rawat jalan di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode Januari-Juni 2014. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif univariat dengan pengambilan 500 lembar resep sebagai sampel. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata persentase penulisan resep dengan nama generik periode Januari-Juni 2014 sebesar 72.82% dan persentase kesesuaian dengan Formularium Nasional rata-rata sebesar 91.87%. Resep yang sepenuhnya menggunakan nama generik dan sesuai Formularium Nasional hanya memiliki persentase rata-rata sebesar 33.21%. Akan tetapi, hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan persentase setiap bulan walaupun belum mencapai 100%.   Kata Kunci : BPJS Kesehatan, Formularium Nasional, Obat Generik    
HUBUNGAN ANTARA ASUPAN ZAT BESI DAN PROTEIN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA SISWI SMP NEGERI 10 MANADO Soedijanto, Sharon G.A.
PHARMACON Vol 4, No 4 (2015): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.4.2015.10239

Abstract

HUBUNGAN ANTARA ASUPAN ZAT BESI DAN PROTEIN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA SISWI SMP NEGERI 10 MANADO Sharon G. A. Soedijanto1), Nova H. Kapantow1), Anita Basuki1) 1)Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado ABSTRACT Iron deficiency anemia is the most common nutritional problem in the world and attacked all the age groups especially vulnerable groups.  Iron deficiency anemia occurs at all stages of the life cycle, but is more prevalent in pregnant women and young children. Adolescents, particularly girls, are vulnerable to iron deficiency. The effect of iron deficiency anemia including reduced growth and development, fatigue, increased rates of infection, decreased the function of the immune system, decreased physical performance and endurance, increased susceptibility to poisoning. The purpose of this study is to determine the correlation between iron intake and protein intake with anemia among students in SMPN 10 Manado.This study used cross sectional design. based on the results of measurements of hemoglobin levels show that 10,2% subject were anemia, 75% subject were low in iron intake and while 90,9% subject were in enough categories for protein intake. This study showed that there was a correlation between iron intake (p=0,047) and protein intake (0,000) with the incidence of anemia.   Keywords: iron intake, protein intake, anemia ABSTRAK Anemia defisiensi besi merupakan masalah gizi yang paling sering ditemukan di dunia dan menyerang semua kelompok umur terutama golongan rentan. Anemia defisiensi besi terjadi dalam seluruh tingkat kehidupan, tapi lebih sering terjadi pada wanita hamil dan anak – anak. Remaja, terutama remaja putri, rentan terhadap defisiensi besi. Efek dari anemia defisiensi besi termasuk perlambatan pertumbuhan dan perkembangan, kelelahan, peningkatan kerentanan terhadap infeksi dan penurunan fungsi sistem imun, penurunan performa fisik dan ketahanan, dan peningkatan kerentanan terhadap keracunan. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara asupan zat besi dan protein dengan kejadian anemia pada siswi SMP Negeri 10 Manado. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional. Berdasarkan hasil pengukuran kadar hemoglobin didapatkan sebanyak 10,2% responden mengalami anemia. 75% responden tidak memenuhi nilai kecukupan asupan zat besi sedangkan 90,9% responden telah memenuhi nilai kecukupan untuk asupan protein. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara asupan zat besi (p=0,047) dan protein (p=0,000) dengan kejadian anemia. Kata Kunci: asupan zat besi, asupan protein, anemia  
PERBEDAAN EFEKTIVITAS OBAT KUMUR ANTISEPTIK BERALKOHOL DAN NON ALKOHOL DALAM MENURUNKAN AKUMULASI PLAK Talumewo, Marcella
PHARMACON Vol 4, No 4 (2015): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.4.2015.10184

Abstract

PERBEDAAN EFEKTIVITAS OBAT KUMUR ANTISEPTIK BERALKOHOL DAN NON ALKOHOL DALAM MENURUNKAN AKUMULASI PLAK Marcella Talumewo1), Christy Mintjelungan1), Mona Wowor1) 1) Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran, UNSRAT   ABSTRACT The common factor which causes dental and mouth diseases is a thinned layer name dental plaque. The best way to prevent the accumulation of plaque. The plaqueis chemically controlled by using mouthash is in indispensable to help the work of cleaning the oral cavity instead of replacing it. The purpose of this research is to know the difference in the activity of alcohol antiseptic and  non alcohol of mouthwash in lowering the accumulation of plaques.This study is experimental with pretest and posttest controlled group design. The population in this study are students of Dental Education, Faculty of Medicine, the existing class of 2011 numbered 128 students, but the sample used in this research are 40 people who had inclusion criteria, each divided into two treatment groups. The results shows that there are differences in the effectiveness of antiseptic mouthwash alcoholic and non alcoholic in reducing the accumulation of plaque which is based on statistical test unpaired t-test p value <0.05. Key word: moutwash alcohol antiseptic, moutwash  non alcohol, the plaque     ABSTRAK Faktor umum yang menyebabkan terjadinya penyakit gigi dan mulut ialah lapisan tipis yang dinamakan plak gigi. Cara terbaik untuk mencegah akumulasi plak, yaitu dengan melakukan kontrol plak. Kontrol plak secara kimiawi dengan penggunaan obat kumur sangat diperlukan untuk membantu kerja pembersihan rongga mulut secara mekanis bukan mengganti. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui perbedaan efektivitas obat kumur antiseptik beralkohol dan non alkohol dalam menurunkan akumulasi plak. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan rancangan pretest and posttest controlled grup design. Populasi pada penelitian ini yaitu mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi, Fakultas Kedokteran angkatan 2011 yang ada berjumlah 128 mahasiswa, namun sampel penelitian yang digunakan berjumlah 40 orang yang memiliki kriteria inklusi, masing masing dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan efektivitas obat kumur antiseptik beralkohol dan non alkohol dalam menurunkan akumulasi plak dimana berdasarkan Uji statistik T-test tidak berpasangan didapatkan nilai p<0,05.   Kata Kunci: Obat Kumur beralkohol, obat kumur non alkohol, plak  

Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 3 (2025): PHARMACON Vol. 13 No. 3 (2024): PHARMACON Vol. 13 No. 2 (2024): PHARMACON Vol. 13 No. 1 (2024): PHARMACON Vol. 12 No. 3 (2023): PHARMACON Vol. 12 No. 2 (2023): PHARMACON Vol. 12 No. 1 (2023): PHARMACON Vol. 11 No. 4 (2022): PHARMACON Vol. 11 No. 3 (2022): PHARMACON Vol. 11 No. 2 (2022): PHARMACON Vol. 11 No. 1 (2022): PHARMACON Vol. 10 No. 4 (2021): PHARMACON Vol 10, No 3 (2021): PHARMACON Vol 10, No 2 (2021): PHARMACON Vol 10, No 1 (2021): PHARMACON Vol 9, No 4 (2020): PHARMACON Vol 9, No 3 (2020): PHARMACON Vol 9, No 2 (2020): PHARMACON Vol 9, No 1 (2020) Vol 9, No 1 (2020): PHARMACON Vol 8, No 4 (2019) Vol 8, No 4 (2019): PHARMACON Vol 8, No 3 (2019): PHARMACON Vol 8, No 3 (2019) Vol 8, No 2 (2019): PHARMACON Vol 8, No 2 (2019) Vol 8, No 1 (2019): Pharmacon Vol 7, No 4 (2018): Pharmacon Vol 7, No 3 (2018): Pharmacon Vol 7, No 2 (2018): Pharmacon Vol 7, No 1 (2018): Pharmacon Vol 6, No 4 (2017): Pharmacon Vol 6, No 3 (2017): Pharmacon Vol 6, No 2 (2017): Pharmacon Vol 6, No 1 (2017): Pharmacon Vol 5, No 4 (2016): Pharmacon Vol 5, No 3 (2016): Pharmacon Vol 5, No 2 (2016): Pharmacon Vol 5, No 1 (2016): Pharmacon Vol 4, No 4 (2015): Pharmacon Vol 4, No 3 (2015): Pharmacon Vol 4, No 1 (2015): pharmacon Vol 3, No 4 (2014): pharmacon Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 4 (2013) Vol 2, No 3 (2013): pharmacon Vol 2, No 2 (2013): pharmacon Vol 2, No 1 (2013): pharmacon Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue