cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL ILMIAH PLATAX
ISSN : 23023589     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Mencakup Penulisan yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian yang dilakukan secara mandiri, atau kelompok, dan berdasarkan Ruang Lingkup Pengelolaan Wilayah Pesisir, Konservasi, Ekowisata, dan Keanekaragaman Hayati Perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017" : 16 Documents clear
Potential and Management of Juvenil Payangka fish Ophieleotris aporos in lake Tondano Jan W F S Tamanampo; Nego E. Bataragoa
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.2.2017.17967

Abstract

At this time, the nike fish in Tondano Lake has been exploited intensively in the great times.  The results show that the number of nike fishing fleets operating every  night during August 2017 fluctuated from 41 to 234 with an average of 108 fleet catchers. . Nike fish catches each month from 108 catchers are 1.2773 tonwith an individual number of 61.705.314.337,  If effectively the fisherman operate 11 month then the production of nike fish used by fisherman is 14.047 ton/year.            Fish payangka spawn throughout the year in declared with the the maturity level found gonado IV (ready to spawn phase).  The Gonad Maturity Index (GMI or IKG) shows the spawning peak in July 2017 (2.85 %  ale and Female 6.57 % and August 2017 (3.16 % male and 3.31 %).  Fecundity (number of eggs) on average each month varies based on time and location are 12.409 – 60.591 grain with an overall average of 25.613 grains.Keywords: Potential, juvenile fish, IKG, and Fecundity   AbstrakPada saat ini ikan nike  di danau Tondano telah dieksploitasi secara intensif dalam kala besar. Hasil pencatatan menunjukkan bahwa jumlah armada penangkap ikan nike yang beroperasi setiap malam sepanjang bulan Agustus 2017 berfluktuasi dari  41 sampai 234  dengan rata-rata 108 armada penangkap. Hasil tangkapan ikan nike setiap bulan dari  108  alat penangkap  adalah 1.2773 Ton, dengan jumlah individu sebanyak 61.705.314.337 . Bila secara efektif nelayan beroperasi 11 bulan maka produksi ikan nike yang dimanfaatkan nelayan sebesar 14.047 Ton / Tahun.Ikan Payangka memijah sepanjang tahun di nyatakan dengan ditemukan Tingkat Kematangan Gonad IV ( fase siap memijah). Indeks Kematangan Gonad (IKG) memperlihatkan puncak pemijahan  di  Juli 2017 (IKG Jantan 2.85 % dan betina 6.57 %) dan Agustus 2017 ( IKG Jantan 3.16 % dan betina 8.31 %).  Fekunditas (jumlah telur) rata-rata setiap bulan bervariasi berdasarakan waktu dan lokasi yakni 12.409 – 60.591 butir dengan rata-rata keseluruhan 26.613 butir.Kata kunci: Potensi, juvenile ikan, IKG,dan  Fekunditas
The Growth Rate Of Acropora sp. Transplanted On Artificial Reefs In Kareko Waters Of North Lembeh Sub-District Of Bitung City Kayyan Mompala; Ari B Rondonuwu; Unstain N. W. J Rembet
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.2.2017.16999

Abstract

The purpose of this research is to know the success rate of Acropora sp coral growth rate transplanted on different artificial reefs (iron and concrete) in Kareko waters of North Lembeh Sub-district of Bitung City. The study was conducted in November 2016 - February 2017. The data were collected by SCUBA divers and counted the number of dead and surviving coral transplants and measured the absolute length increase for each month. The results showed that the survival rate and the growth rate of coral transplant of iron-made reefs were 70% (survival rate) and 1.00 cm / month (growth rate), while artificial reefs were recorded had 50% (survival rate) and 0.93 cm / month (growth rate). Coral transplant growth rates on different substrates (iron and concrete) were not significantly different (P> 0.05). Keywords : Growth rate, Acropora sp, Transplantation, Artificial reef  ABSTRAKTujuan penelitian yaitu mengetahui tingkat keberhasilan hidup laju pertumbuhan karang Acropora sp yang ditransplantasi pada terumbu buatan yang berbeda (besi dan beton) di Perairan Kareko Kecamatan Lembeh Utara Kota Bitung.  Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2016 – Februari 2017.  Pengambilan data dilakukan dengan penyelaman SCUBA dan menghitung jumlah transplant yang mati dan yang masi bertahan hidup serta mengukur pertambahan panjang mutlak setiap bulan.  Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat keberhasilan hidup dan laju pertumbuhan transplant pada terumbu buatan besi yaitu 70% (survival rate) dan 1.00 cm/bulan (laju pertumbuhan), sedangkan pada terumbu buatan beton yaitu 50% (survival rate) dan 0.93 cm/bulan (laju pertumbuhan).  Laju pertumbuhan transplant pada substrat yang berbeda (besi dan beton) tidak berbeda nyata (P>0.05). Kata Kunci: Laju pertumbuhan, Acropora sp, Transplantasi, Terumbu buatan
Study on Ecological Economic Benefits of Mangrove in Sauk Village, Lolak Sub-district, Bolaang Mongondow District Muhammad Yusran Boynauw; Ridwan Lasabuda; Unstain N. W. J. Rembet
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.2.2017.15911

Abstract

This study was carried out in Sauk village,  Lolak district, Bolaang Mongondow regency on June 10th – August 11th, 2016, around mangrove ecosystem at the geographic position of 00 50’ 10’’ N and 1230 56’ 40’’E. It was aimed to a) assess the ecological condition of the mangrove ecosystem of Sauk village based upon the community structure and (b) estimate the economic value of the mangrove ecosystem from direct and indirect benefit. Results found that the ecological value of the mangrove ecosystem was categorized as “rare” (<1000 trees/Ha), with low diversity index (< 2), and Sonneratia alba had very important role with the highest IVI. Total economic value was IDR. 1,116,830,000 per year based upon the benefit value.Keywords : economic benefit, ecology, mangrove ecosystem, Sauk village. ABSTRAKPenelitian ini dilakukan di Desa Sauk Kec, Lolak Kab. Bolaang Mongondow pada tanggal 10 juni–11 Agustus 2016, di sekitaran kawasan ekosistem mangrove Desa Sauk yang terletak pada posisi geografis N 00 50’ 10’’ dan E 1230 56’ 40’’. Tujuan penelitian ini adalah : (a) Menilai kondisi ekologi ekosistem mangrove di Desa Sauk berdasarkan struktur komunitas. (b) Menghitung nilai ekonomi ekosistem mangrove berdasarkan nilai guna langsung dan tidak langsung. Nilai ekologi  ekosistem mangrove di Desa Sauk dikategorikan “jarang” (<1000 pohon per Ha), dengan indeks keanekaragaman  rendah (< 2) dan jenis yang yang sangat berperan adalah Sonneratia alba yang memliki INP tertinggi. Sedangkan nilai ekonomi total berdasarkan nilai manfaat sebesar Rp.1.116.830.000 per tahun.Kata Kunci : Manfaat ekonomi, ekologi ekosistem mangrove Desa Sauk
Growth Of Brown Algae, Padina australis, In The Coastal waters of Serei Village, West Likupang District, North Minahasa Regency Franklin R Kemenangan; Gaspar D Manu; Fransine B Manginsela
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.2.2017.17003

Abstract

Marine algae is one resource that has important economic value because it has cagar, carrageen and alginate ontent (Indriani and Sumiarsih, 1999). In the world of science, the word algae comes from the Greek , algor which means cold (Nontji, 2002). Padina australis is a species of marine algae belong to Phaeophyta Division (brown algae) which is commonly found in marine waters, from shallow to deep waters. This algae has a wide transparent brown sheet or filament shape. This study was aimed to observe the growth of algae P. australis by using case study method where samples of Padina algae taken from nature were placed into basket as container for culturing. While the technique used is cultivation using basket; in order to determine the growth, algae was analyzed further by measuring the maximum weight of P. australis living without substrate. Some environmental factors such as temperature, salinity, depth and tides were recorded to see their impact on the growth of P. australis. Serei village is the location of the research on the growth of this P. australis. The result also records that P. australis can only live about three weeks and after that die. The growth of P. australis was greatest in the 8th container weighing 23 gr.Keywords: Growth, Padina australis, Desa Serei ABSTRAKAlga laut adalah salah satu sumberdaya yang mempunyai nilai ekonomis penting karena memiliki kandungan agar, karaginan dan alginat (Indriani dan Sumiarsih, 1999). Dalam dunia ilmu pengetahuan, alga berasal dari bahasa Yunani yaitu Algor yang berarti dingin (Nontji, 2002). Padina australis merupakan spesies alga laut dari Divisi Phaeophyta (alga cokelat) yang pada umumnya tersebar di perairan laut, mulai perairan laut dangkal hingga perairan dalam. Alga ini memiliki bentuk lembaran atau filamen yang lebar yang berwarna cokelat transparan. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pertumbuhan alga Padina australis lewat metode studi kasus dimana sampel alga Padina yang diambil dari alam  kemudian ditempatkan ke dalam keranjang sebagai wadah budidaya alga Padina australis. Sedangkan teknik yang digunakan adalah teknik budidaya dengan menggunakan keranjang. Pertumbuhan dianalisis berdasrakan pertambahan berat malsimum P. australis yang hidup tanpa substrat. Beberapa factor lingkungan antara lain suhu, salinitas, kedalaman dan pasang surut diukur untuk melihat dampaknya terhadap pertumbuhan P. australis. Desa Serei merupakan lokasi dilakukannya penelitian pertumbuhan alga P. australis ini. Setelah dilakukan pengamatan P. australis hanya bisa hidup sekitar tiga minggu dan setelah itu mati dan hancur. Pertumbuhan P. australis paling besar terjadi pada wadah ke-8 dengan berat 23 gr.                                                                                                                   Kata kunci : Pertumbuhan, Padina australis, Desa Serei
Size Distribution and Growth of young Payangka Fish, Ophieleotris aporos (Bleeker) from Lake Tondano Mayangsari Kimberli Susanto; Nego E. Bataragoa; Ruddy D Moningkey
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.2.2017.15884

Abstract

The research was conducted at the location of Lake Tondano, Minahasa District.The young payangka fish, locally known as nike fish by fishermen of the area. This study aims to determine the size distribution, length-weight relationships and to know the captivity growth in the aquarium. The research is expected to be a source of information about the fish of young payangka (Nike) and be able to contribute on the efforts of nike fish management in Lake Tondano for the future. Sampling is done by using a triangular shaped trap (sibusibu) with a length of 4m, width of 1.30m (top), and a mesh size of 0.5mm. The length frequency distribution with the size mode appeared most during the first of observation was in the range of 13.5 to 15.4 class size and changed in size in the third week of the 19.5-21.4 class sizes. Later in the fifth week the mode is in the range of 15.5-17.4 class size and changes in size in the seventh week at the range of 23.5-25.4 class size. The length-weight relationship of the study was showed by allometric growth (b = 2.70; b <3) which means the length increases faster than weight gain. Absolute weight growth of 0.2532g was recorded and absolute length growth of 10.12mm for 12 weeks was observed as well. Growth of a relatively large weight gained with value of 0.067mg occurs between the seventh week and the eighth week.Keywords : Nike Fish, growth, Tondano ABSTRAKPenelitian  ini dilaksanakan di lokasi Danau Tondano Kabupaten Minahasa. Ikan payangka muda dikenal dengan sebutan  ikan nike oleh masyarakat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran, hubungan panjang-berat dan untuk mengetahui pertumbuhan yang di pelihara di akuarium. Manfaat penelitian yaitu diharapkan dari penelitian ini dapat menjadi sumber informasi mengenai ikan payangka serta payangka muda (Nike) dan mampu memberikan kontribusi bagi upaya pengelolaan ikan nike di Danau Tondano di masa yang akan datang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan alat tangkap serok (sibusibu) yang berbentuk segitiga dan memiliki ukuran panjang 4m, lebar 1,30m (bagian atas), dan ukuran mata jaring 0,5mm. Distribusi frekuensi ukuran panjang dengan modus atau ukuran yang paling banyak muncul pada minggu pertama terdapat pada kelas ukuran 13,5-15,4 dan mengalami perubahan ukuran pada minggu ketiga pada kelas ukuran 19,5-21,4. Selanjutnya pada minggu kelima modusnya ada pada kelas ukuran 15,5-17,4 dan mengalami perubahan ukuran pada minggu ketujuh  di kelas ukuran 23,5-25,4. Hubungan panjang dan berat dari penelitian didapatkan hasil pertumbuhan alometrik (b=2,70),  b<3 yang artinya pertambahan panjang lebih cepat dari pertambahan berat. Pertumbuhan berat mutlak sebesar 0,2532g dan pertumbuhan panjang mutlak sebesar 10,12mm selama 12 minggu. Pertumbuhan berat yang relative besar nilainya yaitu 0.067mg terjadi antara minggu ketujuh dengan minggu kedelapan.Kata kunci : Ikan Nike, Pertumbuhan, Tondano
Coral Fishes Community On The Artificial Coral Reefs Of Kareko Waters, North Lembeh Island District, Bitung City, North Sulawesi Awuy, Gisela; Rondonuwu, Ari B.; Kambey, Alex Denny
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.2.2017.15811

Abstract

The aim of this research is to determine the species richness, individual abundance, and the ecology index of the coral fishes on the artificial reef of Kareko waters,  District of North Lembeh - Bitung City. The data is collected using “Visual Census” technique by scuba diving. The amount of the reef fishes found in the artificial coral reefs were 53 species. The abundance species in the artificial reefs which made from metal were 34 species and which made from concrete were 35 species. The total of number individuals of coral fishes from 47 species is 210.50 individuals/30m2. The total density was 7,017 individuals/m2. The highest relative density on iron-made reefs was found in Dascyllus trimaculatus (15.73%) and and which made from concrete were Dascyllus reticulatus (10.85%).  Based on H’, H’max, and H’min, the diversity Index  of coral fishes in both artificial reefs including high.Keywords : Coral Fishes, Artificial Reef, Kareko ABSTRAKTujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kekayaan spesies, kelimpahan individu, dan indeks ekologi ikan karang pada terumbu buatan di Perairan Kareko. Kecamatan Lembeh Utara, Kota Bitung. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik “Sensus Visual” dengan melakukan penyelaman SCUBA. Jumlah spesies ikan karang yang ditemukan pada terumbu buatan yaitu 53 spesies. Kekayaan spesies di terumbu buatan yang terbuat dari besi berjumlah 34 spesies, sedangkan di terumbu buatan beton berjumlah 35 spesies. Kelimpahan individu total ikan karang dari 47 spesies yaitu 210,50 individu/30 m2 sedangkan kepadatan/densitas total adalah 7,017 individu/m2. Kepadatan relative tertinggi untuk terumbu buatan besi ditemukan pada jenis Dascyllus trimaculatus (15,73%) dan untuk terumbu buatan beton ditemukan pada jenis Dascyllus reticulatus (10,85%). Berdasarkan nilai H’, H’max, and H’min, indeks keanekeragaman ikan karang pada kedua jenis terumbu buatan tergolong tinggi.Keywords : Coral Fishes, Artificial Reef, Kareko
Ecosystem Protection Of Mangrove Based Society By Village Decision (Case In The Bay Of Labuan Uki, Regensi Of Bolaang Mongondow) Hariyano Hasantua; Ridwan Lasabuda; Adnan S. Wantasen
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.2.2017.15933

Abstract

The decrease of mangrove ecosystem in the coast Labuan Uki bay loak subdistrict, bolaang mongondow province caused by conversion land on each parts of mangrove become industry area and people residance. It’s  has effect to fish production, when there has low area of mangrove aqual to fisherman income. It means that, mangrove has no fungsion as development facility of marine biota will give the effect to the organism in that area.To make protection to mangrove ecosystem area in the bay of Labuan Uki. The researcher do the research of mangrove ecosystem based society by village decision. To know the wide and the study case of useless in labuan uki area. The result of this research to analys using qualitatife description method.The result of this research to give information to the researcer about the village regulation able to accept by villager with one hundred percent (30 persons total respondents). Than in the village regulation is kinds of mangrove ecosystem protection  based society that purpose to the cuntinue basic development in the bay of labuan uki and have been to apply solid system and partnerships. And the wide of mangrove about ± 241.75 ha. In there has genus Rhizophora, genus Sonneratia, Genus Bruiguera and genus Avicennia. But the most genus in Labuan Uki is dominate of  genus Rhizphora. In this case has to identificate effect of this problem that is to find out location of it. For the first in Sauk village dusun 1 the wide about ± 7.500 m2 as a talung conversion area. Secondly batubara II village dusun 3 the wide about ± 204 m2 and ± 3 ha. To conversion as location to make residance and fishpond area. And the last Labuan Uki village dusun IV the wide about ± 3 ha and about ± 3 ha. To conversion as fishpond area and PT. BETAGAS factory area.The key : defect case, mangrove, joint village regulation ABSTRAK Berkurangnya ekosistem hutan mangrove di pesisir Teluk Labuan Uki Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow dikarenakan oleh konversi lahan pada beberapa daerah dari hutan mangrove menjadi daerah perindustrian dan pemukiman penduduk. Hal tersebut berpengaruh pada produksi perikanan, dimana penurunan areal hutan mangrove berbanding lurus dengan tingkat pendapatan nelayan. Artinya, hilangnya fungsi hutan mangrove sebagai fasilitas perkembangbiakan biota laut akan dapat mempengerahui keberadaan organisme laut disekitanya.Untuk mendekati upaya perlindungan di sekitar ekosistem hutan mangrove di kawasan teluk Labuan Uki, maka dilakukan penelitian ekosistem hutan mangrove berbasis masyarakat melalui penetapan peraturan desa bersama. Guna mengetahui luasan dan kasus kegiatan pemanfaatan yang terjadi di kawasan teluk Labuan uki. Hasil penelitian selanjutnya di analisis menggunakan metode deskriptif kualitatif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa peraturan desa bersama dapat disetujui masyrakat desa dengan nilai 100 % (dari total responden 30 orang). Sedangkan penulisan peraturan desa bersama adalah bentuk upaya perlindungan ekosistem hutan mangrove berbasis masyarakat yang mengarah pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan teluk Labuan Uki dan telah menerapkan sistem keterpaduan dan kemitraan. Dan ekosistem hutan mangrove terdapat luas ± 241.75 ha. Serta banyak ditumbuhi oleh genus Rhizophora, genus Sonneratia, Genus Bruiguera dan genus Avicennia. Namun yang mendominasi kawasan teluk Labuan Uki adalah genus Rhizphora. Di samping itu, indentifikasi pemangku kepentingan dan permasalahan dari kasus kegiatan kerusakan hutan mangrove ditemukan beberapa titik, Desa Sauk dusun I luasan ± 7.500 m2 yang di konversi sebagai lahan talung (pemecah ombak) dan ± 1.500 m2 untuk  jalan perahu. Desa Baturapa II dusun 3 luasan ± 204 m2 dan ± 3 ha yang dikonversi sebagai lahan pembuatan rumah dan tambak. Dan Desa Labuan Uki dusun IV luasan ± 3 ha dan luasan ± 3 ha yang dikonversi sabagai lahan tambak dan perusahaan pabrik PT. BETAGAS.Kata kunci:      Kasus kerusakan, hutan mangrove, peraturan desa bersama.
Macrozoobenthic community structure in subtidal soft-bottom area along the coast of Lembeh Island -North Sulawesi Ruddy D. Moningkey; Lawrence J. L. Lumingas; Unstain N. W. J. Rembet
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.2.2017.15531

Abstract

The present paper describes the soft-bottom macrozoobenthic community structure inhabiting Lembeh Island’s waters (North Sulawesi). Material for the study was collected from 5 stations in October 2013 using a La Motte grab (600 cm2) and subsequently sieved through a 1 mm square mesh sieve. A total of 1147 individuals belonging to 78 species (taxa) of macrozoobenthos  and representative of higher taxonomic groups belonging to 12 phyla were recorded and identified. Univariate analysis showed low abundance of individuals and number of species in the Pintu Kota station which has a black sludge of sediment but Shannon index values at this station is the highest. Instead Motto station relatively far from anthropogenic disturbance showed a high abundance of individuals and number of species but Shannon  index values at this station is the lowest. The station is dominated by Tanais sp at a density of 9533 individuals m-2. Shannon index is less sensitive to measure the effect of anthropogenic disturbances compared with the abundance of individuals and number of species. The multivariate analysis (Cluster Analysis and Correspondence Analysis) managed to separate the three groups (essemblage) makrozoobethos: Group A (Posokan), Group B (Motto) and Group C (Pancoran, Mawali and Pintu Kota). Abiotic factors such as granulometri, physicochemical, hydrodynamics and anthropogenic factors believed to be the factors controlling the formation of the ecological group.Keywords: macrozoobenthos, anthropogenic impact, multivariate analysis, Lembeh Island.   ABSTRAKTulisan ini menggambarkan struktur komunitas makrozoobentos substrat lunak yang menghuni perairan Pulau Lembeh (Sulawesi Utara). Materi untuk studi ini dikumpulkan dari 5 stasiun pada Oktober 2013 dengan menggunakan grab La Motte (600 cm2) dan kemudian disaring dengan saringan berukuran 1 mm persegi mata saringan. Sebanyak 1147 individu yang termasuk dalam 78 spesies (taksa) makrozoobentos dan mewakili 12 fila atau grup taksonomi telah dicatat dan diidentifikasi. Analisis univariat menunjukkan rendahnya kelimpahan individu dan jumlah spesies di stasiun Pintu Kota yang memiliki sedimen lumpur berwarna hitam tetapi nilai indeks Shannon di stasiun ini adalah yang tertinggi. Sebaliknya di stasiun Motto yang relatif jauh dari gangguan antropogenik menunjukkan tingginya kelimpahan individu dan jumlah spesies tetapi nilai indeks Shannonnya adalah yang terendah. Stasiun ini didominasi oleh Tanais sp dengan kepadatan 9533 individual m-2. Indeks Shannon kurang peka mengukur pengaruh gangguan antropogenik dibandingkan dengan nilai kelimpahan individual dan jumlah spesies. Analisis multivariat (Analysis Kluster dan Analisis Korespondensi) berhasil memisahkan 3 grup (essemblage) makrozoobetos: Grup A (Posokan), Grup B (Motto) dan Grup C (Pancoran, Mawali dan Pintu Kota). Faktor abiotik seperti granulometri, hidrodinamika dan fisika-kimia perairan serta faktor antropogenik diduga merupakan faktor-faktor pengendali pembentukan grup ekologis tersebut.Kata kunci: makrozoobentos, dampak antropogenik, analisis multivariat, Pulau Lembeh.  
Demersal fish stock development as the sustainability of coral fish under artificial reef made of bamboo (BambooReef) in the coastal waters of Malalayang Dua, Manado Alex D. Kambey; Anneke V. Lohoo
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.2.2017.17485

Abstract

Efforts to maintain and prepare the fish stock availability, coastal resources management in Malalayang Dua waters was carried out through coral reef rehabilitation in public fisheries zone, artificial reef “BambooReef” placement as an effort of innovation creation to prepare an alternative artificial reef model. In 1 -2 years, new habitat is expected to be present, could increase the fish biomass, and create the area to be able to supply reef fish stock in Malalayang Dua waters and its surroundings.The artificial reef “bambooReef” was laid around the natural coral reefs at the depth of 5 to 7 m. Data collected were presence and attraction of the coral fish (no. species and density).Results showed that there were 15 species found around the “BambooReef”, with the highest recorded as mayor species group (13 species), followed by indicator species, and 1 target species. Total number was 137 individuals and the density was 8.56 ind./m2 or 85.625 ind/ha.  The fifteen species of coral fish did not, in general, belong to optimum size for fishing.  Nevertheless, this study reflects that the artificial reef placement has created new habitat for the coral fish. Keywords: Artificial reef, bambooreef, bamboo, demersal.   AbstrakUpaya untuk menjaga, memelihara dan sekaligus mempersiapkan  penyediaan stok ikan di perairan, dibuatkan  pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir di Kelurahan  Malalayang Dua dengan konsep pengelolaan melalui perbaikan  kondisi terumbu karang zona perikanan masyarakat, dengan konsep rehabilitasi tempat hidup dan berkembang ikan yaitu peletakan terumbu buatan dari bahan dasar bambu “BambuReef”, sebagai upaya menciptakan inovasi bahkan menciptakan model terumbu buatan alternatif (baru).  Diharapkan dalam waktu dalam waktu 1-2 Tahun akan tercipta habitat baru, meningkatkan biomassa ikan, menciptakan daerah yang dapat menyediakan stock ikan karang di perairan pantai Kelurahan Malalayang Dua dan sekitarnya.Terumbu buatan “bambooReef” diletakkan pada daerah sekitar  terumbu karang alami di perairan pesisir Malalayang Dua Kota Manado, pada kedalaman 5 s/d 7 meter. Data yang diperoleh dari peletakkan/penerapan terumbu buatan “BambooReef” adalah kehadiran dan ketertarikan jenis ikan karang (jumlah jenis dan kepadatannya),Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 15 spesies yang ditemukan di sekitar terumbu buatan “BambooReef” dimana tertinggi termasuk pada kelompok spesies mayor (13 jenis), kemudian diikuti spesies indikator berjumlah 1 jenis, dan spesies target 1 jenis, dengan jumlah 137 individu, serta kepadatan 8,56 indv/m2 atau sebesar  85.625 individu per hektar.   15 jenis ikan karang yang ditemukan umumnya belum dalam ukuran optimum untuk ditangkap.  Namun demikian hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penempatan  terumbu buatan telah memberikan habitat baru bagi ikan karang.Kata kunci: Terumbu buatan, bambooreef, bambu, demersal.  
Preliminary Study of Fish Abundance and Size in Intertidal Waters Around Unsrat Likupang Laboratory of North Minahasa Regency Ariesta Akbar Martino; Nego E. Bataragoa; Leonardo J. Tombokan
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.2.2017.15935

Abstract

Fish that migrate to tidal areas are usually dominated by the juvenile phase. This research was conducted in order to know the abundance and variation of species that present in the intertidal water areas around Likupang Field Laboratory. Sampling for data was conducted by using a coastal net during the new moon, quater and full moon phase in the months of October and November 2016. The species abundance was calculated based on the Importance Value Index (IVI) formula, length variation and length frequency distribution. During the field study, 723 individuals were recorded that belong to 93 species. The species abundance calculations, based on the important value index (IVI), were found ranging from 6.90% to 0.38%. It was recorded also that there are 3 species with relatively higher IVI score i.e Chelonodon patoca (6.90%), Paraplotosus albilabris (4.74%) and Caranx melampygus (3.75%). The variations in the size among migratory fish are generally abserved in the juvenile phase, except for some species such as Ambassador urotaenia, Plotosus lineatus, Taeniura lymma, and Terapon jarbua that reach adult size.Keywords: juvenile phase, abundance, size variation, important value index ABSTRAKIkan yang bermigrasi ke daerah pasang-surut biasanya didominasi pada fase juvenile. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kelimpahan spesies dan variasi ukuran spesies yang ada di daerah intertidal sekitar Laboratorium Basah Likupang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan jaring pantai pada fase bulan baru, kwartir dan purnama pada bulan oktober dan November tahun 2016. Kelimpahan spesies di analisis dengan pendekatan Indeks Nilai Penting (INP), Variasi Ukuran Panjang dan Distribusi Frekuensi Panjang. Selama penelitian didapat 723 individu dari 93 spesies. Kelimpahan spesies berdasarkan indeks nilai penting (INP) berkisar antara 6,90% sampai 0,38%. Terdapat 3 spesies dengan nilai INP relatif besar yaitu Chelonodon patoca (6,90%), Paraplotosus albilabris (4,74%) dan Caranx melampygus (3,75%). Variasi ukuran ikan yang bermigrasi umumnya adalah ikan dalam fase juvenile, kecuali beberapa spesies yang mencapai ukuran dewasa seperti Ambassis urotaenia, Plotosus lineatus, Taeniura lymma, Terapon jarbua.Kata kunci : Fase juvenile, Kelimpahan, Variasi ukuran, Indeks Nilai Penting

Page 1 of 2 | Total Record : 16


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 1 (2026): ISSUE JANUARY-JUNE 2026 Vol. 13 No. 2 (2025): ISSUE JULY-DECEMBER 2025 Vol. 13 No. 1 (2025): ISSUE JANUARY-JUNE 2025 Vol. 12 No. 2 (2024): ISSUE JULY-DECEMBER 2024 Vol. 12 No. 1 (2024): ISSUE JANUARY-JUNE 2024 Vol. 11 No. 2 (2023): ISSUE JULY-DECEMBER 2023 Vol. 11 No. 1 (2023): ISSUE JANUARY-JUNE 2023 Vol. 10 No. 2 (2022): ISSUE JULY-DECEMBER 2022 Vol. 10 No. 1 (2022): ISSUE JANUARY-JUNE 2022 Vol. 9 No. 2 (2021): ISSUE JULY-DECEMBER 2021 Vol. 9 No. 1 (2021): ISSUE JANUARY - JUNE 2021 Vol. 8 No. 2 (2020): ISSUE JULY-DECEMBER 2020 Vol. 8 No. 1 (2020): ISSUE JANUARY-JUNE 2020 Vol. 7 No. 2 (2019): ISSUE JULY - DECEMBER 2019 Vol. 7 No. 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019 Vol 7, No 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019 Vol. 6 No. 2 (2018): ISSUE JULY-DECEMBER 2018 Vol 6, No 1 (2018): ISSUE JANUARY-JUNE 2018 Vol 6, No 1 (2018): EDISI JANUARI-JUNI 2018 Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017 Vol. 5 No. 1 (2017): ISSUE JANUARY - JUNE 2017 Vol. 4 No. 2 (2016): EDISI JULI-DESEMBER 2016 Vol. 4 No. 1 (2016): EDISI JANUARI-JUNI 2016 Vol 3, No 2 (2015): EDISI JULI - DESEMBER 2015 Vol. 3 No. 1 (2015): EDISI JANUARI-JUNI 2015 Vol. 2 No. 3 (2014): EDISI SEPTEMBER-DESEMBER 2014 Vol. 2 No. 2 (2014): EDISI MEI - AGUSTUS 2014 Vol. 2 No. 1 (2014): Edisi Januari - April 2014 Vol. 1 No. 4 (2013): Edisi September - Desember 2013 Vol. 1 No. 3 (2013): EDISI MEY - AGUSTUS 2013 Vol. 1 No. 2 (2013): EDISI JANUARI - APRIL 2013 Vol. 1 No. 1 (2012): (Edisi September - Desember 2012) More Issue