cover
Contact Name
Andri Restiyadi
Contact Email
sangkhakala.balarsumut@kemdikbud.go.id
Phone
+6282160904164
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Balai Arkeologi Sumatera Utara Jalan Seroja Raya, Gang Arkeologi No. 1, Tanjung Selamat, Medan Tuntungan, Medan 20134
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Berkala Arkeologi SANGKHAKALA
ISSN : 14103974     EISSN : 25808907     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
"SANGKHAKALA" refers to the shell horns that blown regularly to convey certain messages. In accordance with the meaning, this journal expected to become an instrument in the dissemination of archaeological information to the public which is published on an ongoing basis. Berkala Arkeologi Sangkhakala is a peer-reviewed journal published biannual by the Balai Arkeologi Sumatera Utara in May and November. The first edition was published in 1997 and began to be published online in an e-journal form using the Open Journal System tool in 2015. Berkala Arkeologi Sangkhakala aims to publish research papers, reviews and studies covering the disciplines of archeology, anthropology, history, ethnography, and culture in general.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 23 No 2 (2020)" : 5 Documents clear
EKSISTENSI LELUHUR DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT NIAS: [Ancestor Existence In The Life of Nias Society] Ketut Wiradnyana
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 23 No 2 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/bas.v23i2.412

Abstract

The Nias community adheres to patrilineal kinship patterns system, which in various aspects of their culture are related to male bloodlines. The patrilineal concept is closely related to the idea of worshiping ancestors. Ancestor worship is one of belief in Megalithic culture and in many communities this belief affecting various aspects of cultural community life. In this regard, Nias culture can be recognized through understanding the existence of ancestors in Nias people's lives. This study also describing the relation of ancestor existence to economic and social aspects in Nias culture. Descriptive-qualitative approach is used to examining archeological and ethnographic data. The conclusion of this study indicates that the existence of ancestors is closely related to patrilineal and power. Masyarakat Nias menganut pola kekerabatan patrilineal, yang dalam berbagai aspek kebudayaannya sangat terkait dengan garis keturunan laki-laki. Konsep patrilineal tersebut sangat terkait dengan ide konsepsi pemujaan terhadap leluhur. Konsepsi pemujaan terhadap leluhur itu merupakan salah satu konsepsi religi pada budaya Megalitik dan berkaitan dengan konsepsi ekonomi dan sosial. Berkenaan dengan itu maka konsepsi pemujaan leluhur menjadi sangat berperan penting dalam berbagai aspek kehidupan masyarakatnya. Jadi, upaya memahami kebudayaan masyarakat Nias itu diantaranya dapat juga dikenali melalui pemahaman tentang eksistensi leluhur, dengan berbagai peranannya di masyarakat. Pencapaiannya melalui alur pemikiran deskriptif-kualitatif yang dilakukan atas hasil penelitian arkeologis, etnografis dan juga mikrobiologi, pada akhirnya data yang terhimpun dianalisis dan dibandingkan dengan berbagai aspek pada kebudayaan dalam kaitannya dengan konsep leluhur pada masyarakat tradisional lainnya. Metode itu akan membantu mengidentifikasi berbagai aspek yang berkaitan dengan leluhur masyarakat Nias, seperti halnya aspek asal muasal dan waktu migrasinya ke Pulau Nias beserta berbagai peran konsepsi leluhur pada kehidupan masyarakatnya.
FOLKLOR PENINGGALAN-PENINGGALAN PUTRI HIJAU DI DESA SEBERAYA, KARO: [THE FOLKLORE OF PUTRI HIJAU’S RELICTS IN SEBERAYA VILLAGE, KARO] Elwyn Bastian Sinaga; Hariati br Sembiring
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 23 No 2 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/bas.v23i2.421

Abstract

Putri Hijau Cave in Seberaya, Tiga Panah sub-district, Karo District is the birthplace of Putri Hijau. Putri Hijau has two siblings, namely Nini Naga and Nini Cannon. The legacy of the Putri Hijau or Green Princess in Seberaya Village as historical evidence is believed by the community, contain historical value. This value is related to the life of the people of Seberaya. This study aims to identify and describe the remnants of the Green Princess that still exist today in the Village of Seberaya, Karo District and to know the views of the Seberaya people towards these remnants. The method used in this research is descriptive qualitative method. This method is used to describe the state of the inheritance object based on the available facts. The research data was obtained from observations and interviews with three informants. Observation is done by visiting the location of the object. Interviews were conducted with informants who knew the Putri Hijau story. Based on the research results, there are three relics that still exist, namely the Green Princess Bath, Green Princess Cave, and the Green Princess Playing Site. Gua Putri Hijau di Seberaya, kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo adalah tempat kelahiran Putri Hijau. Putri Hijau memiliki dua orang saudara, yaitu Nini Naga dan Nini Meriam. Peninggalan Putri Hijau yang ada di Desa Siberaya sebagai bukti sejarah yang diyakini masyarakat mengandung nilai sejarah. Nilai tersebut sangat berhubungan dengan kehidupan masayarakat Seberaya. Penelitian ini bertujuan mengetahui dan mendeskrpsikan peningalan-peningalan Putri Hijau yang masih ada saat ini di Desa Seberaya, Kabupaten Karo serta mengetahui pandangan masyarakat Seberaya terhadap peingalan-peniggalan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Metode ini diguakan untuk melukiskan keadaan objek peninggalan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Data penelitian ini diproleh dari hasil observasi dan wawancara kepada tiga informan. Observasi dilakukan dengan mengujungi lokasi keberadaan objek. Wawancara dilakukan kepada informan-informan yang mengetahui cerita Putri Hijau. Berdasarkan hasil penelitian diketahui ada tiga peninggalan yang masih ada, yakni Permandian Putri Hijau, Gua Putri Hijau, dan tempat Permainan Putri Hijau.
BENTUK DAN STRUKTUR BANGUNAN PADA MASA KLASIK DI SUMATRA DAN JAWA BERDASARKAN TEMUAN GENTING : [Classic Period Building Form and Structure In Sumatra and Java Based on The Roof Tiles Findings] Repelita Wahyu Oetomo
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 23 No 2 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/bas.v23i2.425

Abstract

All this time, there’s an assumption that the use of tile roofs in the archipelago was brought around the 20th century by the Dutch, but archaeological evidence shows that the use of roof tiles has been known long before. This is known from several precarious findings in the former kingdom of Samudera-Pasai, Padang Lawas, Muaro Jambi and in the former capital of Majapahit kingdom. There’s not much information to explain how far the roof tiles has been used in Sumatra and Java over classical times, such as what kind of buildings used roof tiles at that time, because of the very limited findings. Several fragments that found in the archaeological research were analyzed and compared with the findings on the spot and compared with several recent building finds. The aim is to see the functions, how to use it and how was the connection with the supporting building around it. The use of tile in the past was still very limited, considering that organic materials for roofs are still widely available and only important building could use these expensive commodity. Recently, the use of tile in the archipelago has become more common because of the efficiency, more presentable, durable and cheaper than the organic materials. Selama ini terdapat anggapan bahwa pemakaian atap genting di nusantara dikenalkan oleh Belanda pada sekitar abad ke- 20, namun bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa penggunaan genting telah dikenal jauh sebelumnya. Hal ini diketahui dari beberapa temuan genting di bekas kerajaan Samudera- Pasai, Padang Lawas, Muaro Jambi dan di bekas ibukota kerajaan Majapahit. Tidak banyak informasi yang didapat untuk melihat seberapa jauh penggunanan genting sebagai atap di Sumatera dan Jawa pada masa-masa klasik, serta bangunan-bangunan seperti apa yang menggunakan atap genting pada saat itu, mengingat jumlahnya temuannya sangat terbatas. Beberapa fragmen genting berhasil ditemukan dalam penelitian arkeologis yang dilakukan, selanjutnya temuan tersebut, dianalisis serta dibandingkan dengan temuan-temuan di tempat serta dibandingkan dengan beberapa temuan bangunan pada masa belakangan. Tujuannya adalah untuk mengetahui fungsi, tata cara penggunaan serta bagaimana kemungkinan struktrur bangunan pendukungnya. Penggunaan genteng pada masa lalu masih sangat terbatas, mengingat ketersediaan bahan-bahan organis untuk atap masih banyak tersedia. Penggunaan genting pada masa lalu terbatas hanya untuk bangunan-bangunan penting karena genting masih dianggap sebagai komoditas yang cukup mahal. Belakangan penggunaan genteng di nusantara semakin umum karena penggunaan atap genteng dianggap lebih efisien, rapi, awet dan lebih murah karena bahan-bahan organis semakin sulit didapat
AKULTURASI BUDAYA: Studi Kasus Komunitas Samin di Kudus Jawa Tengah: [CULTURE ACULTURATION: Case Study Samin Community In Kudus Central Java] Moh Rosyid
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 23 No 2 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/bas.v23i2.428

Abstract

The purpose of writing this article is to describe the form of cultural acculturation carried out by the Samin community in Kudus, Central Java against the Muslim tradition of Nahdliyin is traditions to response local wisdom and don’t contradicting by syariah. Data obtained by interview, literature review, and observation. Data collection was analyzed using a qualitative descriptive approach. The culture that Samin responded to took the form of a life cycle slogan and circumcision of a boy. Acculturation creates a symbiotic mutualism because people Nahdlatul Ulama is also responsive to local Javanese traditions. The specificity that is still maintained by the Samin community is wearing tokong pants, headbands, all in black for men, and for women wearing a jarit. When attending a marriage and dying. When at home or in the fields, wear other people's usual clothes. There is also a nahdliyin culture that Samin does not respond to because it avoids the similarity of tradition, such as a cap. As for sarong, it is a Samin tradition that is only used when a man marries. The basic principles of nahdliyin in tradition are tawasuth (moderate), tawazun (balance between faith and reality), al i’tidal (upright, not easily provoked), at tasamuh (tolerant). It's just that, the impact of urbanization Samin residents, the culture of the city is also a tradition like polished hair. Senior Samin was powerless to deal with it. If this is not controlled, the culture of the city changes the uniqueness of Samin. Tujuan penulisan artikel ini untuk mendeskripsikan bentuk akulturasi budaya yang dilakukan komunitas Samin di Kudus, Jawa Tengah terhadap tradisi muslim Nahdliyinyakni tradisi yang merespon kearifan lokal dan tidak bertentangan dengan syariat Islam.Data diperoleh dengan wawancara, kajian literatur, dan observasi. Terkumpulnya data dianalisis dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Budaya yang direspon Samin berupa slametan daur kehidupan dan khitan anak lelaki. Akulturasi tercipta simbiosis mutualisme karena Nahdliyin juga responsif terhadap tradisi lokal Jawa. Kekhasan yang masih dipertahankan komunitas Samin adalah memakai celana tokong, ikat kepala, berwarna serba hitam bagi lelaki, dan bagi perempuan memakai jarit. Bila menghadiri perkawinan dan melayat kematian. Bila di rumah atau di sawah memakai pakaian lazimnya warga lain. Ada pula budaya nahdliyin yang tidak direspon Samin karena menghindari keserupaan tradisi, seperti berpeci. Adapun bersarung menjadi tradisi Samin yang hanya digunakan ketika lelaki menikah. Prinsip dasar nahdliyin dalam tradisi adalah tawasuth (moderat), tawazun (keseimbangan antara akidah dengan realita), al I’tidal (tegak lurus, tak mudah terprovokasi), at tasamuh (toleran). Hanya saja, imbas urbanisasi warga Samin, budaya kota menjadi tradisinya pula seperti rambut disemir. Senior Samin pun tidak berdaya menghadapinya. Bila hal ini tidak dikendalikan maka budaya kota mengubah kekhasan Samin.
A IDENTIFIKASI TINGGALAN ARKEOLOGIS DI SITUS KAPAL TENGGELAM SENGGILING: [Identification of Archaeological Remain in Senggiling Shipwreck Site] Stanov Purnawibowo
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 23 No 2 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/bas.v23i2.446

Abstract

Senggiling shipwreck site is a potential underwater archeological remains locate on the north coast of Bintan Island. The aim of this study is to identificate the artefactual data of the site. The data are acquired by performing an observation through survey techniques and underwater exvacation. The analysis is conducted on the shape, space, and time aspects to find out the type variants of the shape, location and time of production. The result of this study shows the site’s artifact type variants in the form of a wooden ship with 19th-century European production technology. The ship was loaded with square igneous rocks, porcelains, earthenware figurines, glass bottles, metal plates, wooden ship pegs, clay floors, porcelain spoons, and stone medicine bottles. All of them are identified as being produced in Europe and China in the 18th -- 19th century. Situs Kapal tenggelam Senggiling merupakan salah satu potensi tiggalan arkeologi bawah air yang berada di Pesisir Utara Pulau Bintan. Tujuan penelitian ini adalah melakukan identifikasi terhadap data artefaktual di situs tersebut. Metode perolehan data dilakukan dengan cara observasi dengan teknik survei dan ekskavasi bawah air. Analisis dilakukan pada aspek bentuk, keruangan, dan waktu untuk mengetahui ragam jenis bentuk, tempat pembuatan, dan masa pembuatannya. Hasil penelitian menunjukan ragam jenis artefak dari situs tersebut berupa kapal kayu dengan teknologi pembuatan abad ke-19 dari Eropa. Barang muatannya berupa batuan beku persegi, barang porselen, figurin earthenware, botol kaca, lempengan logam, pasak kayu kapal, lantai tanah liat, sendok porselen, dan botol obat berbahan stoneware. Identifikasi barang muatan kapalnya berasal dari Eropa dan Cina abad ke-18 hingga ke-19.

Page 1 of 1 | Total Record : 5