cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Ilmiah Material, Komponen dan Konstruksi
ISSN : 08524866     EISSN : -     DOI : -
Material : Rekayasa (Teknik) dan Teknologi material alat transportasi, bangunan dan industri Komponen: Rekayasa (Teknik) dan Teknologi komponen alat transportasi, bangunan dan industri Konstruksi: Rekayasa (Teknik) dan Teknologi konstruksi sarana transportasi, bangunan dan industri.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 14 No. 1 (2014)" : 10 Documents clear
KONSEP DESAIN ALAT UJI KINERJA SERVO-VALVE = DESIGN CONCEPT OF TESTING MACHINE OF SERVO-VALVE PERFORMANCES Zaenal, Harris
Jurnal Material Komponen dan Konstruksi Vol. 14 No. 1 (2014)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.743 KB) | DOI: 10.29122/mkk.v14i1.1650

Abstract

Design concept of performance test equipment for servo-valve consists of mechanical and electronic systems. The mechanical parts includes a hydraulic power pack equipped with safety and monitoring of pressure and flow-rate, servo-valve and its base-plate, flow-meter for monitoring flow-rate in A and B ports. The electronic system parts includes a signal generator to the servo- valve, output signal from flow meter A and B ports, acquisition for signal output flow-meter, hardware and software computer. The form of graph Input Signal (m- Ampere) versus Output Signal (LPM) can help analyze to determine servo-valve performance, that are accuracy and detect damage which can be taken for further maintenance and repair.Keywords : servo-valve, signal input, flow rate output , performance test machine.Abstrak Konsep desain alat uji kinerja servo-valve terdiri atas konsep desain mekanis dan konsep desain elektronik. Konsep desain mekanis meliputi hydraulic power pack yang dilengkapi pengaman dan monitor tekanan dan flow- rate, servo-valve dan base-plate-nya, flow-meter untuk monitor flow-rate di port A dan B. Konsep desain elektronik meliputi pembangkit signal input kepada servo-valve, signal output dari flow-meter A dan B, akuisisi signal output flow- meter, hardware dan software komputer. Grafik Signal Input (m-Ampere) versus Signal Output (LPM) dapat membantu analisa untuk mengetahui kinerja servo-valve antara lain keakurasian, mendeteksi kerusakan servo-valve untuk selanjutnya dapat diambil tindakan pemeliharaan dan perbaikan.Kata Kunci : servo-valve, input signal, output flow rate ,alat uji kinerja.
ANALISIS KEKUATAN STRUKTUR KERETA BARANG “FLAT WAGON” = STRENGTH ANALYSIS OF FLAT WAGON STRUCTURES ., Anwar; ruhimat, Ade
Jurnal Material Komponen dan Konstruksi Vol. 14 No. 1 (2014)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.333 KB) | DOI: 10.29122/mkk.v14i1.1651

Abstract

This paper describes strength analysis for the flat wagon. The analysis is conducted by experiment methods using testing the flat wagon prototype with static loads such as vertical load, compression load, twist load, jacking load, and combination of them.The result of test such as stress and camber is analyzed against the design requirement and national regulation to assess the reliability of the flat wagon structure.The result of test shows that the critical area under compression load and vertical load occurs at the “end center sill” and the “central center sill”, respectively. Maximum stress of the flat wagons structure is 271.32 N/mm2 equal to 76.4% of yield stress of base material. It occurs at combination of vertical and compression loads. It indicates that the flat wagon structure is feasible to be operated with maximum capacity of 40 tons.Keywords : flat wagon, static load test, compression load, stress analysis.Abstrak Makalah ini membahas analisis kekuatan struktur gerbong kereta barang tipe gerbong datar (flat wagon). Analisis dilakukan dengan menguji prototipe struktur flat wagon secara eksperimental dengan jenis beban statis yang terdiri dari beban vertikal, kompresi, twist, jacking, dan kombinasi.Hasil pengujian berupa besaran tegangan dan camber, dianalisis terhadap persyaratan desain dan peraturan menteri untuk menilai kelayakan dari struktur flat wagon.Dari hasil pengujian diperoleh titik kritis akibat beban kompresi adalah di lokasi ”end center sill”, sedangkan akibat beban vertikal, adalah di lokasi ”central center sill”. Tegangan terbesar yang terjadi akibat pengujian yaitu sebesar 271.32 N/mm2 atau setara dengan 76.4% dari tegangan yield material dasarnya, terjadi pada kondisi beban kombinasi antara beban vertikal dan beban kompresi.Dari analisis dan verifikasi hasil uji terhadap persyaratan desain dan peraturan menteri, disimpulkan bahwa struktur flat wagon mampu dan layak digunakan dengan kapasitas daya angkut maksimum 40 ton.Kata Kunci : gerbong datar, uji beban statis, beban kompresi, analisis tegangan.
ANALISIS PEMBUATAN PIPA BAJA SISTEM DUA BAGIAN LAS ASTM A139 DENGAN MENGGUNAKAN METODA LSAW = MANUFACTUR ANALYSIS DUAL SEAM WELD STEEL PIPE ASTM A139 BY USING LSAW METHODE Karmiadji, Djoko W.; Setiadi, Gery
Jurnal Material Komponen dan Konstruksi Vol. 14 No. 1 (2014)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (905.809 KB) | DOI: 10.29122/mkk.v14i1.1652

Abstract

One of the main components of the manufacture of steel pipe is in the form of plate steel sheet, slab or hot roll coil, which of these materials may be made for various types of pipes, among others, seamless, Electric Wire Resistance, Spiral and Longitudinal pipes.The main material used welding steel pipe is a steel plate or hot roll coil. Material procurement dependence becomes an obstacle for welding steel pipe mill, which at this moment in our country's steel mills have not been able to produce material of diameter of 24 "steel pipe used primarily in the oil and gas sector.In this research, the analysis of welded steel pipe manufacture using local plate material consisting of two sections then welded with GMAW and SMAW welding type, where the manufacture of welded steel pipe with dimensions Ø 28 "x 8.7 mm x 12.000 mm is done using the LSAW (Longitudinal Sub Merged Arc Welding) method. Mechanical testing and inspection conducted in accordance with ASTM A139.Based on the analysis of the results of testing and inspection, it can be concluded that the method of manufacture of welded steel pipes using dual seam weld longitudinal submerged arc welding compliant as required in the standard ASTM A139.Keywords : steel pipe, dual seam weld, ASTM A139Abstrak Salah satu komponen utama dari pembuatan pipa baja adalah baja berupa plat lembaran, slab atau hot roll coil, dimana dari bahan ini dapat dibuat berbagai jenis pipa antara lain pipa seamless, pipa Electric Wire Resistance, pipa Spiral, dan Pipa Longitudinal.Material utama pipa baja las yang digunakan adalah plat baja atau hot roll coil. Ketergantungan pengadaan material menjadi kendala bagi pabrik pipa baja las, dimana pada saat ini pabrik baja di negara kita belum mampu memproduksi bahan pipa baja berdiameter lebih dari 24” terutama digunakan pada sektor minyak dan gas.Pada penelitian ini dilakukan analisis pembuatan pipa baja las dengan menggunakan bahan plat lokal yang terdiri dari dua bagian kemudian di las dengan jenis las GMAW dan SMAW, dimana pembuatan pipa baja las dengan dimensi Ø 28” x 8,7 mm x 12.000 mm dilakukan menggunakan metoda LSAW (Longitudinal Sub Merged Arc Welding). Teknik pengujian dan pemeriksaan dilakukan dengan mengacu pada standar ASTM A139.Berdasarkan analisis hasil pengujian dan pemeriksaan, dapat di simpulkan bahwa metode pembuatan pipa baja las menggunakan metode dual seam weld longitudinal submerged arc welding memenuhi persyaratan standar sebagaimana yang dipersyaratkan pada standar ASTM A139.Kata kunci: pipa baja, las dua bagian, ASTM A139
ANALISIS KEGAGALAN SHAFT POMPA SUBMERSIBLE PADA UNIT PENGEBORAN MINYAK BUMI = FAILURE ANALYSIS OF PUMP SHAFT SUBMERSIBLE ON OIL DRILLING UNIT Sunandrio, Hadi; ., Sutarjo
Jurnal Material Komponen dan Konstruksi Vol. 14 No. 1 (2014)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1930.778 KB) | DOI: 10.29122/mkk.v14i1.1653

Abstract

Vital component of a pump is the shaft, which serves to continue the torque of the driving during the operation and the seat of the impeller and other rotating parts.This research will be observed and taken action to find the cause of the damage that the sentence is not complete.The results showed that the main cause of damage to the pump shaft submersible because one shaft surfaces that are in the bearings rub against each other to generate heat, consequently between the shaft and the bearing sticking together, so the shaft is stopped suddenly resulting in rows experiencing shock loads (impact load) then the motor continues to rotate, resulting in shaft having torsional force. Because the area is an area that has a radius concentrated high voltage, then the broken shaft in the arearesulted in the remaining of word is not clear a broken pump shaft on oil drilling unit.Examinations and tests performed on the pump shaft, include: fraktografi and metallographic examination and hardness testing. Data from the results of examination and tests are then analyzed to determine the cause of the fracture on the pump shaft.Keywords : pump shaft, impact loads, torsional force, brokenAbstrak Komponen vital dari sebuah pompa adalah shaft, yang berfungsi untuk meneruskan momen puntir dari penggerak selama beroperasi dan tempat kedudukan impeller dan bagian-bagian yang berputar lainnya.Pada penelitian ini akan diamati dan diambil tindakan untuk mencari penyebab kerusakan yang mengakibatkan patahnya shaft pompa submersible pada unit pengeboran minyak bumi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab utama kerusakan dari shaft pompa karena salah satu permukaan shaft yang berada di dalam bearing saling bergesekan hingga menimbulkan panas, akibatnya antara shaft dan bearing saling menempel, sehingga shaft terhenti secara tiba-tiba yang mengakibatkan shaf mengalami beban kejut (impact load) saat itu motor masih terus berputar, akibatnya shaft mengalami gaya puntir. Karena di daerah radius merupakan daerah yang mempunyai konsentrsi tegangan tinggi, maka shaft patah di daerah tersebut.Pemeriksaan dan pengujian yang dilakukan terhadap shaft pompa, meliputi : pemeriksaan fraktografi dan metalografi dan uji kekerasan. Data dari hasil pemeriksaan dan pengujian tersebut kemudian di analisa untuk mengetahui penyebab terjadinya patah pada shaft pompa tersebut.Kata kunci : shaft pompa, beban kejut, gaya puntir, patah
KERUSAKAN TUBE FURNACE AKIBAT DEPOSIT DAN KOROSI SULFIDA DI INDUSTRI MIGAS = THE FAILURE OF FURNACE TUBE CAUSED BY DEPOSIT AND SULFIDE CORROSION IN MIGAS INDUSTRY Sari, Laili Novita
Jurnal Material Komponen dan Konstruksi Vol. 14 No. 1 (2014)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (872.723 KB) | DOI: 10.29122/mkk.v14i1.1649

Abstract

When furnace 1 and 2 were shutdown, we did in situ metallography on furnace tube randomly to know its reliability. Tube which damage a failed tube was taken to laboratory to be analyed the failure cuased to avoid the same failure in the future. The examination and testing held on tube furnace 1 and 2 CDU III was : fractography and metallography examination, hardness testing, chemical composition analysis and SEM – EDX examination. From the examination and testing can be concluded that the tube furnace can not resist over heating as a result of deposit , graphite was formed in outer side and sulfide corrosion was formed in inner side causing diameter thinning. Depletion and graphitization region is a critical area so if the tube receives a static load and the excess temperature the tube will damage.Keywords : tube furnace, over heating, corrosion, depositeAbstrak Pada saat Furnace 1 dan 2 dishutdown, kami melakukan kegiatan insitu metallografi pada tube furnace tersebut secara acak untuk menentukan ketahanannya (reliabilitasnya). Pada pemeriksaan tersebut diambil satu buah tube yang mengalami kerusakan yang berat untuk dianalisa penyebab kerusakannya sehingga dapat dilakukan tindakan penanggulangan untuk di kemudian hari. Pemeriksaan dan pengujian yang dilakukan terhadap tube Furnace 1 dan 2 , meliputi : pemeriksaan fraktografi dan metalografi, uji kekerasan, analisa komposisi kimia, serta pemeriksaan dengan SEM dan EDAX. Data dari hasil pemeriksaan dan pengujian tersebut kemudian di analisa untuk mengetahui penyebab kerusakan tube furnace tersebut. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa tube nomer D29 furnace II coil 2 tidak mampu menerima panas berlebih dampak dari deposit sehingga pada permukaan diameter luar terbentuk grafit dan pada permukaan diameter dalam terserang korosi sulfidasi yang akibatnya terjadi penipisan ketebalan. Daerah penipisan dan daerah grafitisasi merupakan daerah yang kritis sehingga jika tube menerima beban statis dan temperatur berlebih maka mengalami kerusakan.Kata kunci : tube furnace , over heating, korosi, deposit.
KERUSAKAN TUBE FURNACE AKIBAT DEPOSIT DAN KOROSI SULFIDA DI INDUSTRI MIGAS = THE FAILURE OF FURNACE TUBE CAUSED BY DEPOSIT AND SULFIDE CORROSION IN MIGAS INDUSTRY Laili Novita Sari
Jurnal Material Komponen dan Konstruksi Vol. 14 No. 1 (2014)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mkk.v14i1.1649

Abstract

When furnace 1 and 2 were shutdown, we did in situ metallography on furnace tube randomly to know its reliability. Tube which damage a failed tube was taken to laboratory to be analyed the failure cuased to avoid the same failure in the future. The examination and testing held on tube furnace 1 and 2 CDU III was : fractography and metallography examination, hardness testing, chemical composition analysis and SEM – EDX examination. From the examination and testing can be concluded that the tube furnace can not resist over heating as a result of deposit , graphite was formed in outer side and sulfide corrosion was formed in inner side causing diameter thinning. Depletion and graphitization region is a critical area so if the tube receives a static load and the excess temperature the tube will damage.Keywords : tube furnace, over heating, corrosion, depositeAbstrak Pada saat Furnace 1 dan 2 dishutdown, kami melakukan kegiatan insitu metallografi pada tube furnace tersebut secara acak untuk menentukan ketahanannya (reliabilitasnya). Pada pemeriksaan tersebut diambil satu buah tube yang mengalami kerusakan yang berat untuk dianalisa penyebab kerusakannya sehingga dapat dilakukan tindakan penanggulangan untuk di kemudian hari. Pemeriksaan dan pengujian yang dilakukan terhadap tube Furnace 1 dan 2 , meliputi : pemeriksaan fraktografi dan metalografi, uji kekerasan, analisa komposisi kimia, serta pemeriksaan dengan SEM dan EDAX. Data dari hasil pemeriksaan dan pengujian tersebut kemudian di analisa untuk mengetahui penyebab kerusakan tube furnace tersebut. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa tube nomer D29 furnace II coil 2 tidak mampu menerima panas berlebih dampak dari deposit sehingga pada permukaan diameter luar terbentuk grafit dan pada permukaan diameter dalam terserang korosi sulfidasi yang akibatnya terjadi penipisan ketebalan. Daerah penipisan dan daerah grafitisasi merupakan daerah yang kritis sehingga jika tube menerima beban statis dan temperatur berlebih maka mengalami kerusakan.Kata kunci : tube furnace , over heating, korosi, deposit.
KONSEP DESAIN ALAT UJI KINERJA SERVO-VALVE = DESIGN CONCEPT OF TESTING MACHINE OF SERVO-VALVE PERFORMANCES Harris Zaenal
Jurnal Material Komponen dan Konstruksi Vol. 14 No. 1 (2014)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mkk.v14i1.1650

Abstract

Design concept of performance test equipment for servo-valve consists of mechanical and electronic systems. The mechanical parts includes a hydraulic power pack equipped with safety and monitoring of pressure and flow-rate, servo-valve and its base-plate, flow-meter for monitoring flow-rate in A and B ports. The electronic system parts includes a signal generator to the servo- valve, output signal from flow meter A and B ports, acquisition for signal output flow-meter, hardware and software computer. The form of graph Input Signal (m- Ampere) versus Output Signal (LPM) can help analyze to determine servo-valve performance, that are accuracy and detect damage which can be taken for further maintenance and repair.Keywords : servo-valve, signal input, flow rate output , performance test machine.Abstrak Konsep desain alat uji kinerja servo-valve terdiri atas konsep desain mekanis dan konsep desain elektronik. Konsep desain mekanis meliputi hydraulic power pack yang dilengkapi pengaman dan monitor tekanan dan flow- rate, servo-valve dan base-plate-nya, flow-meter untuk monitor flow-rate di port A dan B. Konsep desain elektronik meliputi pembangkit signal input kepada servo-valve, signal output dari flow-meter A dan B, akuisisi signal output flow- meter, hardware dan software komputer. Grafik Signal Input (m-Ampere) versus Signal Output (LPM) dapat membantu analisa untuk mengetahui kinerja servo-valve antara lain keakurasian, mendeteksi kerusakan servo-valve untuk selanjutnya dapat diambil tindakan pemeliharaan dan perbaikan.Kata Kunci : servo-valve, input signal, output flow rate ,alat uji kinerja.
ANALISIS KEKUATAN STRUKTUR KERETA BARANG “FLAT WAGON” = STRENGTH ANALYSIS OF FLAT WAGON STRUCTURES Anwar .; Ade ruhimat
Jurnal Material Komponen dan Konstruksi Vol. 14 No. 1 (2014)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mkk.v14i1.1651

Abstract

This paper describes strength analysis for the flat wagon. The analysis is conducted by experiment methods using testing the flat wagon prototype with static loads such as vertical load, compression load, twist load, jacking load, and combination of them.The result of test such as stress and camber is analyzed against the design requirement and national regulation to assess the reliability of the flat wagon structure.The result of test shows that the critical area under compression load and vertical load occurs at the “end center sill” and the “central center sill”, respectively. Maximum stress of the flat wagons structure is 271.32 N/mm2 equal to 76.4% of yield stress of base material. It occurs at combination of vertical and compression loads. It indicates that the flat wagon structure is feasible to be operated with maximum capacity of 40 tons.Keywords : flat wagon, static load test, compression load, stress analysis.Abstrak Makalah ini membahas analisis kekuatan struktur gerbong kereta barang tipe gerbong datar (flat wagon). Analisis dilakukan dengan menguji prototipe struktur flat wagon secara eksperimental dengan jenis beban statis yang terdiri dari beban vertikal, kompresi, twist, jacking, dan kombinasi.Hasil pengujian berupa besaran tegangan dan camber, dianalisis terhadap persyaratan desain dan peraturan menteri untuk menilai kelayakan dari struktur flat wagon.Dari hasil pengujian diperoleh titik kritis akibat beban kompresi adalah di lokasi ”end center sill”, sedangkan akibat beban vertikal, adalah di lokasi ”central center sill”. Tegangan terbesar yang terjadi akibat pengujian yaitu sebesar 271.32 N/mm2 atau setara dengan 76.4% dari tegangan yield material dasarnya, terjadi pada kondisi beban kombinasi antara beban vertikal dan beban kompresi.Dari analisis dan verifikasi hasil uji terhadap persyaratan desain dan peraturan menteri, disimpulkan bahwa struktur flat wagon mampu dan layak digunakan dengan kapasitas daya angkut maksimum 40 ton.Kata Kunci : gerbong datar, uji beban statis, beban kompresi, analisis tegangan.
ANALISIS PEMBUATAN PIPA BAJA SISTEM DUA BAGIAN LAS ASTM A139 DENGAN MENGGUNAKAN METODA LSAW = MANUFACTUR ANALYSIS DUAL SEAM WELD STEEL PIPE ASTM A139 BY USING LSAW METHODE Djoko W. Karmiadji; Gery Setiadi
Jurnal Material Komponen dan Konstruksi Vol. 14 No. 1 (2014)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mkk.v14i1.1652

Abstract

One of the main components of the manufacture of steel pipe is in the form of plate steel sheet, slab or hot roll coil, which of these materials may be made for various types of pipes, among others, seamless, Electric Wire Resistance, Spiral and Longitudinal pipes.The main material used welding steel pipe is a steel plate or hot roll coil. Material procurement dependence becomes an obstacle for welding steel pipe mill, which at this moment in our country's steel mills have not been able to produce material of diameter of 24 "steel pipe used primarily in the oil and gas sector.In this research, the analysis of welded steel pipe manufacture using local plate material consisting of two sections then welded with GMAW and SMAW welding type, where the manufacture of welded steel pipe with dimensions Ø 28 "x 8.7 mm x 12.000 mm is done using the LSAW (Longitudinal Sub Merged Arc Welding) method. Mechanical testing and inspection conducted in accordance with ASTM A139.Based on the analysis of the results of testing and inspection, it can be concluded that the method of manufacture of welded steel pipes using dual seam weld longitudinal submerged arc welding compliant as required in the standard ASTM A139.Keywords : steel pipe, dual seam weld, ASTM A139Abstrak Salah satu komponen utama dari pembuatan pipa baja adalah baja berupa plat lembaran, slab atau hot roll coil, dimana dari bahan ini dapat dibuat berbagai jenis pipa antara lain pipa seamless, pipa Electric Wire Resistance, pipa Spiral, dan Pipa Longitudinal.Material utama pipa baja las yang digunakan adalah plat baja atau hot roll coil. Ketergantungan pengadaan material menjadi kendala bagi pabrik pipa baja las, dimana pada saat ini pabrik baja di negara kita belum mampu memproduksi bahan pipa baja berdiameter lebih dari 24” terutama digunakan pada sektor minyak dan gas.Pada penelitian ini dilakukan analisis pembuatan pipa baja las dengan menggunakan bahan plat lokal yang terdiri dari dua bagian kemudian di las dengan jenis las GMAW dan SMAW, dimana pembuatan pipa baja las dengan dimensi Ø 28” x 8,7 mm x 12.000 mm dilakukan menggunakan metoda LSAW (Longitudinal Sub Merged Arc Welding). Teknik pengujian dan pemeriksaan dilakukan dengan mengacu pada standar ASTM A139.Berdasarkan analisis hasil pengujian dan pemeriksaan, dapat di simpulkan bahwa metode pembuatan pipa baja las menggunakan metode dual seam weld longitudinal submerged arc welding memenuhi persyaratan standar sebagaimana yang dipersyaratkan pada standar ASTM A139.Kata kunci: pipa baja, las dua bagian, ASTM A139
ANALISIS KEGAGALAN SHAFT POMPA SUBMERSIBLE PADA UNIT PENGEBORAN MINYAK BUMI = FAILURE ANALYSIS OF PUMP SHAFT SUBMERSIBLE ON OIL DRILLING UNIT Hadi Sunandrio; Sutarjo .
Jurnal Material Komponen dan Konstruksi Vol. 14 No. 1 (2014)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mkk.v14i1.1653

Abstract

Vital component of a pump is the shaft, which serves to continue the torque of the driving during the operation and the seat of the impeller and other rotating parts.This research will be observed and taken action to find the cause of the damage that the sentence is not complete.The results showed that the main cause of damage to the pump shaft submersible because one shaft surfaces that are in the bearings rub against each other to generate heat, consequently between the shaft and the bearing sticking together, so the shaft is stopped suddenly resulting in rows experiencing shock loads (impact load) then the motor continues to rotate, resulting in shaft having torsional force. Because the area is an area that has a radius concentrated high voltage, then the broken shaft in the arearesulted in the remaining of word is not clear a broken pump shaft on oil drilling unit.Examinations and tests performed on the pump shaft, include: fraktografi and metallographic examination and hardness testing. Data from the results of examination and tests are then analyzed to determine the cause of the fracture on the pump shaft.Keywords : pump shaft, impact loads, torsional force, brokenAbstrak Komponen vital dari sebuah pompa adalah shaft, yang berfungsi untuk meneruskan momen puntir dari penggerak selama beroperasi dan tempat kedudukan impeller dan bagian-bagian yang berputar lainnya.Pada penelitian ini akan diamati dan diambil tindakan untuk mencari penyebab kerusakan yang mengakibatkan patahnya shaft pompa submersible pada unit pengeboran minyak bumi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab utama kerusakan dari shaft pompa karena salah satu permukaan shaft yang berada di dalam bearing saling bergesekan hingga menimbulkan panas, akibatnya antara shaft dan bearing saling menempel, sehingga shaft terhenti secara tiba-tiba yang mengakibatkan shaf mengalami beban kejut (impact load) saat itu motor masih terus berputar, akibatnya shaft mengalami gaya puntir. Karena di daerah radius merupakan daerah yang mempunyai konsentrsi tegangan tinggi, maka shaft patah di daerah tersebut.Pemeriksaan dan pengujian yang dilakukan terhadap shaft pompa, meliputi : pemeriksaan fraktografi dan metalografi dan uji kekerasan. Data dari hasil pemeriksaan dan pengujian tersebut kemudian di analisa untuk mengetahui penyebab terjadinya patah pada shaft pompa tersebut.Kata kunci : shaft pompa, beban kejut, gaya puntir, patah

Page 1 of 1 | Total Record : 10