cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Ilmiah Material, Komponen dan Konstruksi
ISSN : 08524866     EISSN : -     DOI : -
Material : Rekayasa (Teknik) dan Teknologi material alat transportasi, bangunan dan industri Komponen: Rekayasa (Teknik) dan Teknologi komponen alat transportasi, bangunan dan industri Konstruksi: Rekayasa (Teknik) dan Teknologi konstruksi sarana transportasi, bangunan dan industri.
Arjuna Subject : -
Articles 92 Documents
ANALISIS PEMBUATAN PIPA BAJA SISTEM DUA BAGIAN LAS ASTM A139 DENGAN MENGGUNAKAN METODA LSAW = MANUFACTUR ANALYSIS DUAL SEAM WELD STEEL PIPE ASTM A139 BY USING LSAW METHODE Djoko W. Karmiadji; Gery Setiadi
Jurnal Material Komponen dan Konstruksi Vol. 14 No. 1 (2014)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mkk.v14i1.1652

Abstract

One of the main components of the manufacture of steel pipe is in the form of plate steel sheet, slab or hot roll coil, which of these materials may be made for various types of pipes, among others, seamless, Electric Wire Resistance, Spiral and Longitudinal pipes.The main material used welding steel pipe is a steel plate or hot roll coil. Material procurement dependence becomes an obstacle for welding steel pipe mill, which at this moment in our country's steel mills have not been able to produce material of diameter of 24 "steel pipe used primarily in the oil and gas sector.In this research, the analysis of welded steel pipe manufacture using local plate material consisting of two sections then welded with GMAW and SMAW welding type, where the manufacture of welded steel pipe with dimensions Ø 28 "x 8.7 mm x 12.000 mm is done using the LSAW (Longitudinal Sub Merged Arc Welding) method. Mechanical testing and inspection conducted in accordance with ASTM A139.Based on the analysis of the results of testing and inspection, it can be concluded that the method of manufacture of welded steel pipes using dual seam weld longitudinal submerged arc welding compliant as required in the standard ASTM A139.Keywords : steel pipe, dual seam weld, ASTM A139Abstrak Salah satu komponen utama dari pembuatan pipa baja adalah baja berupa plat lembaran, slab atau hot roll coil, dimana dari bahan ini dapat dibuat berbagai jenis pipa antara lain pipa seamless, pipa Electric Wire Resistance, pipa Spiral, dan Pipa Longitudinal.Material utama pipa baja las yang digunakan adalah plat baja atau hot roll coil. Ketergantungan pengadaan material menjadi kendala bagi pabrik pipa baja las, dimana pada saat ini pabrik baja di negara kita belum mampu memproduksi bahan pipa baja berdiameter lebih dari 24” terutama digunakan pada sektor minyak dan gas.Pada penelitian ini dilakukan analisis pembuatan pipa baja las dengan menggunakan bahan plat lokal yang terdiri dari dua bagian kemudian di las dengan jenis las GMAW dan SMAW, dimana pembuatan pipa baja las dengan dimensi Ø 28” x 8,7 mm x 12.000 mm dilakukan menggunakan metoda LSAW (Longitudinal Sub Merged Arc Welding). Teknik pengujian dan pemeriksaan dilakukan dengan mengacu pada standar ASTM A139.Berdasarkan analisis hasil pengujian dan pemeriksaan, dapat di simpulkan bahwa metode pembuatan pipa baja las menggunakan metode dual seam weld longitudinal submerged arc welding memenuhi persyaratan standar sebagaimana yang dipersyaratkan pada standar ASTM A139.Kata kunci: pipa baja, las dua bagian, ASTM A139
ANALISIS KEGAGALAN SHAFT POMPA SUBMERSIBLE PADA UNIT PENGEBORAN MINYAK BUMI = FAILURE ANALYSIS OF PUMP SHAFT SUBMERSIBLE ON OIL DRILLING UNIT Hadi Sunandrio; Sutarjo .
Jurnal Material Komponen dan Konstruksi Vol. 14 No. 1 (2014)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mkk.v14i1.1653

Abstract

Vital component of a pump is the shaft, which serves to continue the torque of the driving during the operation and the seat of the impeller and other rotating parts.This research will be observed and taken action to find the cause of the damage that the sentence is not complete.The results showed that the main cause of damage to the pump shaft submersible because one shaft surfaces that are in the bearings rub against each other to generate heat, consequently between the shaft and the bearing sticking together, so the shaft is stopped suddenly resulting in rows experiencing shock loads (impact load) then the motor continues to rotate, resulting in shaft having torsional force. Because the area is an area that has a radius concentrated high voltage, then the broken shaft in the arearesulted in the remaining of word is not clear a broken pump shaft on oil drilling unit.Examinations and tests performed on the pump shaft, include: fraktografi and metallographic examination and hardness testing. Data from the results of examination and tests are then analyzed to determine the cause of the fracture on the pump shaft.Keywords : pump shaft, impact loads, torsional force, brokenAbstrak Komponen vital dari sebuah pompa adalah shaft, yang berfungsi untuk meneruskan momen puntir dari penggerak selama beroperasi dan tempat kedudukan impeller dan bagian-bagian yang berputar lainnya.Pada penelitian ini akan diamati dan diambil tindakan untuk mencari penyebab kerusakan yang mengakibatkan patahnya shaft pompa submersible pada unit pengeboran minyak bumi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab utama kerusakan dari shaft pompa karena salah satu permukaan shaft yang berada di dalam bearing saling bergesekan hingga menimbulkan panas, akibatnya antara shaft dan bearing saling menempel, sehingga shaft terhenti secara tiba-tiba yang mengakibatkan shaf mengalami beban kejut (impact load) saat itu motor masih terus berputar, akibatnya shaft mengalami gaya puntir. Karena di daerah radius merupakan daerah yang mempunyai konsentrsi tegangan tinggi, maka shaft patah di daerah tersebut.Pemeriksaan dan pengujian yang dilakukan terhadap shaft pompa, meliputi : pemeriksaan fraktografi dan metalografi dan uji kekerasan. Data dari hasil pemeriksaan dan pengujian tersebut kemudian di analisa untuk mengetahui penyebab terjadinya patah pada shaft pompa tersebut.Kata kunci : shaft pompa, beban kejut, gaya puntir, patah
DAMAGE ANALYSIS AND DESIGN OF ADDITIONAL CROSS BEAM REINFORCEMENT USING FE METHOD = ANALISA KERUSAKAN DAN MERANCANG TAMBAHAN KONSTRUKSI PENGUAT UNTUK PENINGKATAN KEKUATAN BATANG LINTANG DENGAN TRIAL AND ERROR MENGGUNAKAN METODA ELEMEN HINGGA Agus Sasmito; Tresna Priyana Soemardi; Harkali Setyono; Abdul Rohman Farid
Jurnal Material Komponen dan Konstruksi Vol. 13 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mkk.v13i1.1654

Abstract

The paper focuses on structural damage of cross beam arms  for brake rod in the car of  train. Analysis of cross beam was based on the design and actual conditions of the car application. Investigation the cross beam damage was done by finite element analysis. Based on the finite element analysis results, it is known  that damage mechanism  and design fault were caused by yield stress of cross beam that exceededthe material yield strength.Futher, a design improvement  of  cross beam was done by additional structure that can reduce the stress into  safe limits.AbstrakRiset ini fokus pada kerusakan struktur batang lintang yang berfungsi untuk dudukan lengan rem pada kereta makan pada rangkaian kereta api. Analisa kerusakan batang lintang didasarkan pada kondisi desain dan kondisi aktual pemakaianya. Investigasi kerusakan batang lintang dilakukan dengan analisa finite elemen. Berdasarkan pada hasil analisa diketahui faktor penyebab dan mekanisme kerusakan pada batang lintang adalah akibat kesalahan desain yang menyebabkan tegangan melampaui tegangan yield material, selanjutnya dibuat perbaikan desain untuk kereta yang telah diproduksi dengan membuat struktur penguat sehingga tegangan yang terjadi turun pada batas aman. Kata Kunci    : Analisa Kerusakan, Kereta Api, Finite Element, Cross Beam, Beban Eksentrik.  
EVALUASI KINERJA DAN PERBAIKAN STRUKTUR BETON GEDUNG PENDINGIN AIR = EVALUATION ON THE PERFORMANCE OF AND REPAIR OF THE CONCRETE STRUCTURE OF A COOLING WATER TOWER Hendro Ahmad Fauzi
Jurnal Material Komponen dan Konstruksi Vol. 13 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mkk.v13i1.1655

Abstract

This paper presents the evaluation of performance and strenght ofstructure by visual inspection and quality testing of concrete in the field by using aSchmidt hammer and UPV. The evaluation on the performance of the structure,strength columns, beams and plates refer to SNI-2847-2002, in which theimplementation of earthquake loads was based on SNI-1726-2002.The paperproposes improvements and retrofitting necessary structures. SAP2000 is usedfor structural analysis necessary to obtain the required strength values (Ru).Beton2000 is used for structural analysis of existing conditions in order to get thedesigned strength values (Rn). The structure components are in safe condition ifits design strength is greater or equal than required strength or (Ø.Rn) ≥ Ru.Improvements were made to the structural element by coating and injectionmethods.Keywords : structural performance evaluation, improvement AbstrakMakalah ini menyajikan evaluasi kinerja dan kekuatan struktur denganmetode pemeriksaan secara visual dan pengujian mutu beton di lapangandengan alat Schmidt hammer dan UPV. Evaluasi kinerja struktur, kekuatankolom, balok serta pelat mengacu pada SNI-2847-2002, dengan penerapanbeban gempa berdasarkan SNI-1726-2002, serta memberikan usulan perbaikandan perkuatan struktur yang diperlukan. SAP 2000 digunakan untuk analisisstruktur guna mendapatkan nilai kuat perlu (Ru). Beton 2000 digunakan untukanalisis struktur kondisi existing guna mendapatkan kuat rencana (Rn).Komponen struktur dikatakan aman jika kuat rencana lebih besar atau samadengan kuat rencana atau (ф . Rn) ≥ Ru. Perbaikan elemen struktur dilakukandengan metode coating dan injeksi..Kata kunci : evaluasi kinerja struktur, metode perbaikan
EVALUASI PENYEBAB KEGAGALAN DAN PERBAIKAN STRUKTUR JEMBATAN RANGKA BAJA DENGAN BENTANG 54 m = EVALUATION OF THE CAUSES OF FAILURE AND REPAIR OF 54 M SPAN TRUSS BRIDGE STRUCTURE Tri Handayani
Jurnal Material Komponen dan Konstruksi Vol. 13 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mkk.v13i1.1656

Abstract

In this paper the evaluation and repair of a bridge failure are presented. The method is of analytical bridge evaluation, which consists of in-situ visual inspection, measurement of the bridge dimensions and quality test of the steel material. The data were used as input in structure modeling using SAP 2000 in order to calculate the required strength (Ru) of each structural members. Calculation were done to obtain the design strength (ØRn) of structural members and connections.The bridge components are in a safe condition if its design strength is greater than or equal to the required strength or ØRn ≥ Ru, If not, the bridge is categorized as failed and then a repair method and strengthening shall be be performed. The result showed that all of structural members and connections are in a safe condition. Bridge failure is caused by such factors as less precise execution in the field, combination of a large bolt holes and tightening bolts that have not reached the minimum tensile strength.The proposed bridge repair method is to provide two pieces of plates. The plates were welded at the end of the rod and drilled at the position of the existing bolt holes in order to avoid the bolt shifting.Keywords : bridge failure, bridge evaluation, required strength, design strength, , repaired method  AbstrakPada makalah ini disajikan evaluasi dan perbaikan dari kasus kegagalan sebuah jembatan. Metode yang digunakan adalah evaluasi jembatan secara analitis yang terdiri dari pemeriksaan secara visual di lapangan, pengukuran dimensi jembatan dan pengujian mutu bahan baja. Data tersebut sebagai input dalam pemodelan struktur dengan SAP 2000 dan diperoleh kuat perlu (Ru) masing-masing batang. Perhitungan juga dilakukan terhadap kuat rencana (ØRn) baik batang maupun sambungan. Komponen jembatan dikatakan aman jika kuat rencana lebih besar atau sama dengan kuat perlu atau ØRn ≥ Ru. Kemudian dilakukan penentuan kegagalan jembatan serta metode perbaikannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua batang dan sambungan aman sehingga penyebab kegagalan jembatan bukan karena kekuatan batang maupun sambungannya melainkan faktor pelaksanaan di lapangan yang tidak tepat yaitu kombinasi antara adanya lubang baut yang besar dan pengencangan baut yang belum mencapai gaya tarik minimumnya. Metode perbaikan jembatan yang diusulkan adalah dengan memberi dua buah pelat penguat yang dilas pada ujung batang dan dilubangi sesuai dengan posisi lubang baut yang ada agar tidak terjadi pergeseran baut.Kata kunci : kegagalan jembatan, evaluasi jembatan, kuat perlu, kuat rencana, , metode perbaikan
PENGARUH JENIS AGREGAT RINGAN BUATAN TERHADAP KUAT TEKAN BETON RINGAN = EFFECT OF ARTIFICIAL LIGHTWEIGHT AGGREGATE TYPE FOR COMPRESSIVE STRENGTH OF LIGHTWEIGHT CONCRETE Nurul aini sulistyowati; Deden suripto
Jurnal Material Komponen dan Konstruksi Vol. 13 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mkk.v13i1.1657

Abstract

The aim of the research was to know the mechanical and physical properties of lightweight aggregate and compressive strength of concrete with lightweight aggregate. The raw materials for manufacturing lightweight aggregate include the mix composition of shale + sawdust, shale + rice husk, shale + rice husk ash, and shale. Th structural lightweight concrete was designed to have a compressive strength of 25 MPa. The specimen was cylindrical of 10 diameter and 20 cm high. The compressive strength of concrete tested at ages of 14 days, 21 days, and 28 days. Specific gravity of lightweight aggregate was less than 1.5, the best water absorption was of the lightweight aggregate shale and the best hardness that of the lightweight aggregate shale+ rice husk ash. The compressive strength of concrete with lightweight aggregate shale + sawdust 265.04 kg/cm2 and shale + rice husk ash 264.73 kg/cm2, all of which were higher than compressive strength. The compressive strength of concrete with lightweight aggregate shale + rice was husk 234.82 kg/cm2 and that of the shale was 212.23 kg/cm2 , which were lower than the designed compressive strength.Keywords : artificial lightweight aggregate, lightweight concrete, shale, sawdust, rice husk, rice husk ash AbstrakPenelitian bertujuan untuk mengetahui sifat fisis dan mekanis agregat ringan serta kuat tekan beton yang menggunakan agregat ringan. Pembuatan agregat ringan menggunakan komposisi campuran shale + serbuk gergaji kayu, shale + abu sekam padi, shale + sekam padi, serta shale. Pembuatan beton ringan struktural menggunakan rancangan campuran dengan kuat tekan rencana sebesar 25 MPa. Benda uji berbentuk silinder dengan diameter 10 cm dan tinggi 20 cm. Pengujian kuat tekan beton dilakukan pada umur 14 hari, 21hari dan 28 hari. Berat jenis agregat ringan kurang dari 1,5 dengan penyerapan air terbaik pada agregat ringan shale dan kekerasan terbaik pada agregat ringan shale + abu sekam padi. Kuat tekan beton agregat ringan shale + serbuk gergaji sebesar 265,04 kg/cm2 dan agregat ringan shale + abu sekam padi 264,73 kg/cm2 lebih tinggi dari kuat tekan rencana. Kuat tekan beton agregat ringan shale + sekam padi sebesar 234,82 kg/cm2 dan agregat ringan shale sebesar 212,23 kg/cm2 lebih rendah dari kuat tekan rencana.Kata kunci : agregat ringan buatan,beton ringan, shale, serbuk gergaji kayu, sekam padi, abu sekam padi
APLIKASI PEMERIKSAAN KEDALAMAN TIANG PANCANG DENGAN PILE INTEGRITY TEST PADA STRUKTUR BANGUNAN TURAP = THE APPLICATION OF PILES DEPTH EXAMINATION OF THE RETAINING WALL STRUCTURE BY PILE INTEGRITY TESTER Tri Handayani
Jurnal Material Komponen dan Konstruksi Vol. 13 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mkk.v13i1.1658

Abstract

This paper presents the case of non-detructive method application for the measurement of concrete pile depth on retaining wall structure. The method used is of ultrasonic impact echo (pile integrity tester). Measurement was conducted on piles and sheetpiles at points that can be reached due to difficult site in a poor site. Twenty 20 specimens were measured and 7 sheetpiles were measured. Measurements were performed not less than five times. Results of measurement were show that the length of pile ranges 4.4 – 13 m and the length of sheetpile ranges 9.9 – 12.1 m. This means that there is no joint at pile or sheetpile but crack occurs.Keywords : pile, sheetpile, depth, pile integrity tester, ultrasonic, crack.1. PENDAHULUANStruktur bangunan yang sudah berdiri kadang-kadang memerlukan pemeriksaan. Hal ini bisa terjadi karena berbagai alasan, di antaranya adalah untuk verifikasi disain apakah struktur yang sudah berdiri tersebut sudah dibangun sesuai dengan disain yang direncanakan atau tidak. Selain itu, kadang-kadang suatu struktur bangunan memerlukan pemeriksaan karena bangunan tersebut mengalami kerusakan dan akan diperbaiki, namun tidak ada data/informasi Abstrak Makalah ini menyajikan kasus aplikasi cara tidak merusak untuk pengukuran kedalaman tiang pancang beton pada suatu bangunan turap. Metode yang digunakan adalah ultrasonic impact echo (pile integrity tester). Pengukuran dilakukan terhadap komponen tiang pancang dan turap pada lokasi-lokasi yang bisa terjangkau mengingat medan yang sulit di lapangan. Jumlah komponen tiang pancang yang diukur adalah 20 sampel dan jumlah komponen turap yang diukur adalah 7 sampel. Setiap pengukuran dilakukan minimal lima kali. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa komponen tiang pancang kedalaman berkisar 4.4 – 13 m sedangkan komponen turap kedalaman berkisar 9.9 – 12.1 m. Hal ini berarti tidak ada sambungan baik pada komponen tiang pancang maupun turap akan tetapi terjadi retak.Kata kunci : tiang pancang, turap, kedalaman, pile integrity tester, ultrasonic, retak
ANALISA KERUSAKAN PIPA PEMANAS AIR UNTUK UAP PEMBANGKIT LISTRIK = FAILURE ANALYSIS OF WATER HEATER PIPE FOR STEAM GENERATOR Sutarjo .; M. Syahril
Jurnal Material Komponen dan Konstruksi Vol. 14 No. 2 (2014)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mkk.v14i2.1659

Abstract

Heater’s pipes are used as a media for heating of fluids or changing of their ofphase from liquid to vapor/gas. Rupture of these pipes may cause all systems inthe production process stopand the high economic losses. This study aims toavoid the cases to accur in the future.Visual inspection, macrography, microstructure, hardness test and SEM-EDAXexamination were the methods applied in this study. It was known that the piperuptured atthe 6 o'clock area, the hardness value of which was identical to thematerial tensile strength (476 MPa), conforming to the standard specification andthe same indication was also indicated from the microstructure of the normalferrite-pearlite phase. At atemperature of about 390 C and traces of wall thinningin around 4:30 to 7:30, the pipes ruptured due to the thin walls could notwithstand the internal pressure of the pipe . The thinking occurred because thewater-level in the heater’s pipes was to low,resulting in cavitation of vaporbubbles on the inside surface of pipe wall.Keywords: Pipe, rupture, thin-wall, water-level, temperature, cavitation.AbstrakPipa heater digunakan sebagai media untuk memanaskan fluida atau untukmerubah fase dari cair menjadi uap/gas. Pecahnya pipa dapat menyebabkansemua sistim dalam proses produksi akan menjadi berhenti dan potensi kerugiansecara ekonomi tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menghindari kasuskerusakan yang serupa dimasa mendatang.Pemeriksaan visual, makrografi, struktur mikro, uji kekerasan dan pemeriksaanSEM dan EDAX merupakan metode yang diterapkan dalam penelitian ini.Diketahui bahwa pipa pecah pada area jam 6,nilai kekerasan yang identik dengankekuatan tarik material (476 MPa) masih di atas standar spesifikasi dan indikasiyang sama juga ditunjukkan dari struktur mikro yaitu fase ferit – pearlit normal.Dengan suhu sekitar 390 C dan jejak penipisan dinding di sekitar 4:30-7:30,sehingga pecahnya pipa karena dinding tipis tidak bisa menahan tekanan dalampipa dan penipisan terjadi disebabkan air tingkat di pemanas pipa terlalu rendah,sehingga mengakibatkan kavitasi gelembung uap pada permukaan dalam dindingpipa.Kata Kunci : Pipa, pecah, dinding tipis, tingkat-air, temperatur, kapitasi.
KARAKTERISASI KOROSI BAJA PADUAN RENDAH DI LINGKUNGAN 60% LiBr PADA SUHU DIDIH = CORROSION CHARACTERIZATION OF LOW-ALLOY STEEL UNDER 60% LiBr ENVIRONMENT AT BOILING TERMPERATURE Harsisto .
Jurnal Material Komponen dan Konstruksi Vol. 14 No. 2 (2014)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mkk.v14i2.1660

Abstract

Research-based characterization of low alloy steel chrome andmanganese is done because of the problem of corrosion and corrosion limit water evenly on low carbon steel. Based on the findings, the engine coolant is switched on-and off every day so there was influence of outside air and the decrease of the temperature to room temperature. Based on the research and discussion of the characteristics of the five types low alloy steel containing 0.5 wt% manganese in the medium 60% LiBr + 0.2% LiOH at a temperature of (150 ± 2) ° C and exposure to atmospheric air for 50 hours and 110 hours , it showed that the corrosion rate is dependent on the level of content of the chromium. In the addition of the chromium in low alloy steels exposed in the test solution, there is no consistency in the natural corrosion potential value, but in general all test objects were in a corroded state.Keywords : air conditioner, low alloy steel, corrosion, LiBr, LiOH, the boiling temperature and the room temperature.AbstrakPenelitian karakterisasi baja paduan rendah berbasis krom dan mangan ini dilakukan karena adanya masalah korosi merata dan korosi batas air pada baja karbon rendah. Berdasar fakta di lapangan,mesin pendingin tersebut dilakukan “on-Off” setiap hari sehingga ada pengaruh udara luar dan turunnya suhu hingga suhu ruangan. Berdasarkan penelitian dan pembahasan tentang karakteristik 5 jenis baja paduan rendah dengan kandungan 0,5% berat unsur mangan dalam media 60% LiBr + 0,2% LiOH pada suhu(150±2) °C dan ekspos udara atmosfer selama 50 jam dan 110 jam, hasilnya menunjukkan bahwa laju korosi masih tergantung pada kadar kandungan unsur krom. Pada penambahan unsur krom dalam baja paduan rendah yang diekspos dalam larutan uji, tidak menunjukkan adanya konsistensi harga potensial korosi alaminya, tetapi secara umum semua benda uji berada dalam keadaanterkorosi.Kata Kunci : mesin pendingin ruangan, baja paduan rendah, korosi, LiBr,LiOH, suhu didih dan suhu ruangan.AbstrakPenelitian karakterisasi baja paduan rendah berbasis krom dan mangan inidilakukan karena adanya masalah korosi merata dan korosi batas air padabaja karbon rendah.Berdasar fakta di lapangan,mesin pendingin tersebut dilakukan “on-Off” setiaphari sehingga ada pengaruh udara luar dan turunnya suhu hingga suhuruangan. Berdasarkan penelitian dan pembahasan tentang karakteristik 5jenis baja paduan rendah dengan kandungan 0,5% berat unsur mangandalam media 60% LiBr + 0,2% LiOH pada suhu(150±2) °C dan ekspos udaraatmosfer selama 50 jam dan 110 jam, hasilnya menunjukkan bahwa lajukorosi masih tergantung pada kadar kandungan unsur krom. Padapenambahan unsur krom dalam baja paduan rendah yang diekspos dalamlarutan uji, tidak menunjukkan adanya konsistensi harga potensial korosialaminya, tetapi secara umum semua benda uji berada dalam keadaanterkorosi.Kata Kunci : mesin pendingin ruangan, baja paduan rendah, korosi, LiBr,LiOH, suhu didih dan suhu ruangan.
ANALISIS KERUSAKAN POROS GENERATOR PEMBANGKIT LISTRIK = DAMAGE ANALYSIS OF A POWER GENERATOR SHAFT Soedardjo, SA; Bambang Purnomo Y
Jurnal Material Komponen dan Konstruksi Vol. 14 No. 2 (2014)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mkk.v14i2.1661

Abstract

The damage shafts of a power generator have analyzed. The background of this analysis is the shaft generators for electricity in Indonesia frequently are broken. The purpose of the analysis is to determine the cause of damage to the shaft generators. Methodologies used include interviews with the owners and employees at the site, visual inspection on site, visual inspection at the workshop, the workshop hardness testing, chemical composition in the laboratory and analysis based on several references. Analysis of the results obtained are: generator shaft number 1A fracture due to rotation overload, shaft number 1B is cracked circular in the fillet, shaft number 2 cracks oriented at an angle of about 45° to the axis of the shaft. The conclusion that can be taken, power generator shaft fractures due to the design of the fillets as a stress concentration is not perfect, excessive loads, and occurred material ductile fracture.Keywords : Shaft, power generator, hardness testing, chemical composationAbstrak Telah dianalisis kerusakan beberapa poros dari suatu generatorpembangkit listrik. Latar belakang analisis ini adalah seringnya terjadi poros generator pembangkit listrik di Indonesia yang patah. Tujuan dari analisis adalah untuk mengetahui penyebab kerusakan poros  generator pembangkit listrik. Metodologi yang digunakan antara lain  wawancara dengan pemilik dan karyawan di lokasi, pemeriksaan visual di situs, pemeriksaan visual di bengkel, uji kekerasan di bengkel, komposisi kimia di laboratorium dan analisis berdasarkan beberapa referensi. Hasil Analisis yang diperoleh adalah: poros generator nomor 1A patah karena terjadi kelebihan beban putaran, poros nomor 1B retak melingkar di daerah fillet, poros nomor 2 retak yang berorientasi pada sudut sekitar 45° terhadap sumbu poros. Kesimpulan yang dapat diambil, poros generator pembangkit listrik patah karena desain fillet sebagai sumber tegangan yang tidak sempurna, beban berlebihan, dan material mengalami patah ulet.Kata Kunci : poros, pembangkit listrik,uji kekerasan,komposisi kimia

Page 8 of 10 | Total Record : 92