cover
Contact Name
Zaini Tamin AR
Contact Email
zainitamim@gmail.com
Phone
+6285732024211
Journal Mail Official
zainitamim@gmail.com
Editorial Address
Jl. Wedoro PP No. 66, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia, 61253
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam
ISSN : 20874820     EISSN : 25798995     DOI : https://doi.org/10.54180/elbanat
Core Subject : Religion, Education,
FOCUS The focus of this paper is an attempt to actualize a better understanding of the science of islam and Islamic thought, both locally and internationally through the publication of articles, research reports, and book reviews. SCOPE This journal Contains Islamic studies included education , legal, political , economic , social and cultural
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 1 (2019): Juni" : 6 Documents clear
Kepercayaan Diri dalam Peningkatan Keterampilan Komunikasi Moch. Kalam Mollah
EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 9 No. 1 (2019): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.154 KB) | DOI: 10.54180/elbanat.2019.9.1.1-20

Abstract

Setiap individu memiliki kelebihan namun banyak yang tidak menyadarinya. Ini disebabkan kurang pekanya mereka terhadap potensi diri sendiri. Persoalan ini ditengarai berawal dari kurangnya kemampuan individu dalam berkomunikasi baik dengan orang lain maupun dirinya sendiri yang berkaitan dengan kepercayaan diri dalam menggambarkan identitas, jati diri, seseorang maupun pandangan orang lain terhadap sesuatu. Rasa percaya diri sejatinya hadir dalam pelbagai bentuk: Self confidence; efficacy; concept; maupun esteem. Untuk mendorong perkembangan hal tersebut diperlukan pelbagai hal, seperti keahliannya, auto sugesti; latihan; konsistensi; sikap cuek dan pengutaraan perasaan. Artikel ini hadir guna mengelaborasi pelbagai persoalan tersebut.
Spiritualitas Muhammadiyah: Kontekstualisasi Gagasan Sufisme Ahmad Dahlan dalam Masyarakat Postmodern Rangga Sa’adillah S.A.P.
EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 9 No. 1 (2019): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.773 KB) | DOI: 10.54180/elbanat.2019.9.1.21-34

Abstract

Kiai Dahlan sebagai hoofdBestuur Muhammadiyah adalah tipe ulama purifikatif dan rasional dalam beragama. Ia menekankan pentingnya aksi dari pada berteori, pentingnya akal dari pada takhayul. Dalam praktik keberagamaannya terdapat potret-potret kehidupan sufistik yang merupakan bagian dari wilayah tasawuf. Kiai Dahlan mengajarkan tentang tazkiyat al-nafs, dhikr al-mawt yang merupakan bagian dari tema kesufian. Modernisme dikembangkan atas pelbagai postulat pemikiran rasionalisme, empirisme dan positivisme, sengaja mengabaikan dimensi kehidupan yang sangat mendasar, sedangkan postmodernisme cenderung lebih konstruktif, karena berupaya menawarkan pelbagai visi alternatif mengenai kebenaran. Dus, bukan sekedar dekonstruksi terus-menerus tanpa henti, tetapi juga rekonstruksi yang bersifat positif. Gagasan spiritualime yang dipancarkan oleh kiai Dahlan berpendar dari dimensi esoteris jiwanya, atau lebih nyaman disebut dengan sufi akan tetapi tidak terikat pada tarekat. Sebab, sufi ala kiai Dahlan adalah sufisme makrifat, ketundukkan totalitas pada Tuhan melalui syariat-Nya, kedalaman ilmu, kesabaran amal dan kebijaksanaan dalam penghayatan.
Kerjasama Guru dan Spervisor dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di SMP Ar-Rohmah Boarding School Pesantren Hidayatullah Dau Malang Muhammad Rouf; Nur Ajeng Maftukhah
EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 9 No. 1 (2019): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.246 KB) | DOI: 10.54180/elbanat.2019.9.1.35-61

Abstract

Kualitas pembelajaran yang baik hanya akan bisa tercapai apabila para guru yang ada di dalamnya dapat menciptakan pembelajaran yang berkualitas. Dalam hal ini peran yang sangat besar ada pada supervisor pendidikan, yaitu kepala sekolah sebagai supervisor internal dan pengawas sekolah sebagai supervisor eksternal. Fokus penelitian dalam penelitian ini adalah implementasi tugas pokok dan fungsi supervisor dalam melakukan peningkatan pembelajaran, implementasi tugas pokok dan fungsi guru dalam melakukan peningkatan pembelajaran, dan kerja sama antara supervisor dan guru dalam meningkatkan pembelajaran siswa di SMP Boarding School Pesantren Hidayatullah Dau Malang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Adapun teknik pengumpulan data meliputi pengamatan terlibat, wawancara mendalam dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data menggunakan SWOT (Strenght, Weaknesses, Opportunities, Threats) pada setiap fokus penelitian yang telah dirumuskan. Dalam penelitian ini, ada tiga temuan penting sebagai hasil analisis. Pertama, supervisor kurang maksimal dalam memberikan pembinaan secara aktif kepada guru di SMP Ar-Rohmah ini. Kedua, Mayoritas guru di SMP Ar-rohmah ini melakukan pembelajaran dengan baik dan mematuhi semua SOP (Standard Operating Procedure) yang telah ditetapkan di sekolah. Walaupun penguasaan metode pembelajaran kurang, mereka sangat antusias untuk belajar berinovasi dalam melakukan pembelajaran di kelas. Ketiga, kerja sama antara guru dan pengawas lebih banyak dilakukan di dalam sekolah yang diinisiasi oleh sekolah sendiri. SMP Ar-Rohmah lebih berperan aktif dari pada pembinaan yang dilakukan oleh supervisor eksternal.
Peran Lingkungan Sekolah dalam Pengembangan Mental Siswa Edi Kuswadi
EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 9 No. 1 (2019): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.551 KB) | DOI: 10.54180/elbanat.2019.9.1.62-78

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji seberapa besar peran lingkungan sekolah dalam pengembangan mental peserta didiknya. Asumsi yang beredar adalah adanya keterhubungan erat penuh pengertian antara sekolah, peserta didik, wali serta masyarakat. Penelitian ini secara umum mendapati bahwa secara garis besar peran lingkungan sekolah dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan penyediaan informasi yang diperlukan bagi peserta didik sanagt penting. Ia harus mampu memberikan pelbagai alternatif keputusan yang dapat dipergunakan peserta didik guna menjalani hidup dan menyelesaikan seluruh problematik yang dihadapinya. Oleh karena itu, pelaksanaan proses pendidikan mental dan konseling harus diupayakan untuk memperoleh informasi yang diinginkan dari rangkaian program yang telah direncanakan dan dilaksanakan di sekolah. Di sekolah guru mengumpulkan data untuk merekap siswa-siswa yang butuh bimbingan. Hal tersebut memudahkan guru bimbingan dalam melaksanakan tugasnya Karena hal tersebut bisa merekap siwa dalam mencapai targetnya.
Studi Perbandingan Pendidikan Akhlak Perspektif al-Ghazāli dan al-Attas Moch. Tolchah
EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 9 No. 1 (2019): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.833 KB) | DOI: 10.54180/elbanat.2019.9.1.79-106

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami gagasan pendidikan fundamental dari tokoh cendikiawan muslim Abū Hāmid Muḥammad al-Ghazālī dan Syed Muhammad Naquib al-Attas tentang pendidikan akhlak. Konsep tersebut dijadikan sebagai gagasan dasar dalam membangun sumber daya manusia. Beberapa temuan dalam penulisan ini dapat disimpulkan: Pertama, konsep pendidikan akhlak menurut al-Ghazālī merupakan proses menghilangkan sifat-sifat tercela yang ada pada diri dan menanamkan sifat terpuji, yang bertujuan menghasilkan insān kāmil dan mendekatkan diri kepada Allāh. Pendidikan akhlak yang dikemukakan al-Ghazālī menekankan pada unsur jiwa yang mempunyai kedudukan sentral pada diri manusia sehingga dalam metode pendidikan akhlak beliau memilih menggunakan metode tazkīyat al-nafs, mujāhadah dan riyāḍah. Menurut al-Ghazālī guru mempunyai tugas dan kedudukan yang agung sebagaimana Rasul, serta memberikan kriteria kepribadian yang dimiliki guru dan murid. Kedua, konsep pendidikan akhlak al-Attas diadopsi dari konsep ta’dīb yang sudah mencakup unsur-unsur ‘ilm, ta‘līm dan tarbīyah serta penekanannya cenderung lebih banyak pada perbaikan budi pekerti dengan menggunakan metode tawhīd, cerita dan metafora. Di lain pihak Al-Attas menganjurkan pendidik dan peserta didik mempunyai niat ikhlas dalam mengajar dan menuntut ilmu. Ketiga, konsep pendidikan akhlak yang ditawarkan al-Ghazālī dan al-Attas mempunyai tujuan yang sama, membentuk insān kāmil dan taqarrub kepada Allāh. Mereka menganjurkan sifat keihklasan dimiliki oleh guru dan murid dalam pembelajaran, karena pembelajaran adalah kegiatan memberi dan menerima yang akan tersampaikan jika ada niat ikhlas dalam pelaksanaannya.
Implementasi Nilai Pendidikan Karakter pada Anak Sekolah Dasar Nur Fatimah
EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 9 No. 1 (2019): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.456 KB) | DOI: 10.54180/elbanat.2019.9.1.107-128

Abstract

Wacana akan terjadinya diintegrasi karakter masyarakat dalam beberapa dekade ini tampaknya mendekati kenyataan. Dalam kondisi semacam ini menjadi perlu adanya pendidikan karakter yang baik dan harus diaplikasikan sejak masa golden age. Mengapa demikian? Jawaban dari persoalan ini menjadi kajian utama dalam artikel ini. Penelitian ini mendapati bahwa para ahli prikologi menilai bahwa pendidikan karakter sudah harus semestinya dari dalam keluarga, karena keluarga merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan anak. Selain itu, pendidikan karakter juga perlu diberikan kepada anak-anak saat masuk dalam lingkungan sekolah dan masyarakat. Penekanan usia dini menjadi penting sebab pada usia tersebut nilai-nilai religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab mulai terbentuk dan tertanam dalam alam bawah sadar mereka.

Page 1 of 1 | Total Record : 6