Articles
26 Documents
Search results for
, issue
"Vol 1, No 1 (2000): June 2000"
:
26 Documents
clear
ANALISIS DEBIT DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BATANGHARI PROPINSI JAMBI
Tikno, Sunu
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 1, No 1 (2000): June 2000
Publisher : BPPT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (248.542 KB)
|
DOI: 10.29122/jstmc.v1i1.2111
Ketersediaan data debit (aliran sungai) di setiap wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah sangat penting bagi kegiatan program perencanaan dan pengembangan sumberdaya air. DAS Batanghari yang yang terletak di Propinsi Jambi, dengan luas total4,537,881 Ha, yang terbagi menjadi 6 (enam) Sub DAS yaitu: Batanghari Hulu; BatangTebo; Batang Tabir; Batang Sumai; Batang Merangin-Tembesi dan Batanghari Hilir dimana secara keseluruhan mempunyai potensi sumberdaya air yang cukup tinggi.Dalam analisis debit ini menggunakan dua pendekatan yaitu : analisis debit rerata bulanan dan analisis kurva duration debit (discharge duration curve). Hasil analisis kurva duration debit untuk estimasi debit andalan (probability 80%) di beberapa Sub DAS adalah sebagai berikut: Batang Tebo sebesar 60 m3/det; Batang Tabir sebesar 27 m3/det; Merangin Tembesi sebesar 53 m3/det dan Batanghari Hilir-Muara Tembesi sebesar 1000m3/det.Availability of discharge (stream flow) data at any region or catchment area were veryimportant for development and planning of water resources program. Batanghari catchment area which consist of 6 sub catchment area i.e. Batanghari Hulu, BatangTebo, Batang Tabir, Batang Sumai, Batang Merangin Tembesi and Batanghari Hilir andtotal cathment area was 4.537.881 Ha. Discharge analysis within Batanghari catchmentarea was conducted consist two of part analysis i.e. monthly average discharge and duration curve of discharge. Result of duration curve analysis for mainstay discharge(80% probability) for several sub catchment area i.e. Batang Tebo: 60 m3/sec.; BatangTabir: 27 m3/sec.; Merangin Tembesi: 53 m3/sec. and Batanghari Hilir-Muara Tembesi:1000 m3/sec.
HUJAN ES (HAIL) DI JAKARTA, 20 APRIL 2000
Karmini, Mimin
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 1, No 1 (2000): June 2000
Publisher : BPPT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (463.408 KB)
|
DOI: 10.29122/jstmc.v1i1.2102
Hujan es sudah terjadi beberapa kali di Jakarta. Hujan es terjadi lagi di Jakarta Pusat(sekitar Jl. Thamrin) pada tanggal 20 April 2000 pukul 15:15 wib. Kejadian ini seperti taklazim terjadi di Jakarta mengingat Jakarta terletak di wilayah equator. Selain itu, hail sangat jarang terjadi meskipun kilat (badai guntur) sering terjadi di Indonesia. Tulisan iniakan menjelaskan mekanisme terbentuknya hujan es (hail) dalam awan badai, bagaimana hujan es dapat terjadi di Jakarta, dan analisa kondisi cuaca yang mendukung terjadinya hujan es di Jakarta pada tanggal 20 April 2000.Hail has occurred several times in Jakarta. Hail taken place again in Central Jakarta (Jl.Thamrin and vicinity) on 20 April 2000 at 15:15 Western Indonesia Standard Time. It seems unusual event that hail occurs in Jakarta considering that Jakarta is located within equatorial belt. Moreover, hail is hardly to come about even lightnings (thunderstorms)are frequently to occur in Indonesia. This paper will describe the mechanism of hail formation within cloud, how hail could occur in Jakarta, and weather condition analysis that supports hail incidence in Jakarta on 20 April 2000.
PERCOBAAN MENJALANKAN REGIONAL SPECTRAL MODEL (RSM) DAN VALIDASINYA BAGI DAERAH PANTURA 21 DAN 22 DESEMBER 1998
Kudsy, Mahally;
Goenawan, R. Djoko
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 1, No 1 (2000): June 2000
Publisher : BPPT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (605.929 KB)
|
DOI: 10.29122/jstmc.v1i1.2107
Paper ini membahas hasil-hasil dari percobaan menjalankan Regional Spectral Model(RSM) menggunakan data ECHAM. Percobaan menjalankan RSM dilakukan untuk simulasi kondisi cuaca tanggal 21 dan 22 Desember 1998 dan hasilnya dibandingkan dengan kondisi cuaca yang actual. Percobaan dilakukan dengan menggunakan interval 6 jam. RSM mampu membuat prediksi 1-3 bulan kedepan. Luaran dari model untuk area tertentu telah dianalisa dan dikalibrasi dengan menggunakan data satelit dan synop, sementara hubungan dari luaran telah dianalisa secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil analisa menunjukkan bahwa prediksi seperti tutupan awan, curah hujan, gerakan ke atas dan surface lifted index sesuai dengan nilai aktual.This paper discusses about the results of experimental run of the Regional Spectral Model (RSM) using the ECHAM data. The run was made to simulate conditions of 21 and 22 December 1998 and the results were compared with the actual condition. The run was made by using 6-hour intervals. The RSM is capable to make 1 to 3-month forecasts. The output of this model for the selected area were analysed and calibrated using satellite and synoptic data, while the relationship of the output was qualitatively and quantitatively analized. The analyses revealed that the results of predictions such as cloud coverage, rainfall, upmotion and the surface lifted index were in accordance to the actual values.
PARAMETERIZATION OF SURFACE MOMENTUM FLUX DURING CONVECTIVE CONDITIONS
Santoso, Edi
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 1, No 1 (2000): June 2000
Publisher : BPPT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (133.479 KB)
|
DOI: 10.29122/jstmc.v1i1.2103
Parameterization of surface momentum flux estimates near-surface turbulent momentum fluxes from differences of mean wind speeds between the surface skin and the mid-mixed layer (ML). The rate of this turbulent transport is proportional to the product of a convective velocity times an empirical transport coefficient. To further investigate parameterization of surface momentum flux, some topics are discussed. New data from three different sites within Boundary Layer Experiment - 1996 (BLX96) are presented, and used to evaluate surface momentum flux parameterization. Old data from three other field programs (BLX83, Koorin, and TOGA-COARE) are re-analyzed to test this parameterization. Evidence from virtually all of these experiments indicates that the empirical transport coefficients for momentum fluxes depend on surface roughness.Fluks momentum turbulen dekat permukaan dapat diestimasi dari selisih antara kecepatan angin di batas permukaan (surface skin) dan di bagian tengah lapisan tercampur (mid-mixed layer). Kecepatan dari transpor turbulen ini sebanding dengan perkalian antara koefisien empiris transpor dengan kecepatan konvektif. Untuk pengamatan lebih lanjut akan didiskusikan beberapa hal. Data baru dari hasil pengukuran BLX96 pada 3 lokasi yang berbeda akan digunakan untuk mengevaluasi parameterisasi ini. Sementara data yang diperoleh dari yang pernah dilakukan sebelumnya (BLX83, Koorin, and TOGA-COARE) digunakan untuk menguji hasil parameterisasi ini. Hasil yang diperoleh mengindikasikan bahwa koefisien empiris transpor untuk fluks momentum tergantung pada kekasaran permukaan (surface roughness).
KONFIGURASI KOMPUTER UNTUK MENJALANKAN REGIONAL SPECTRAL MODEL MEMAKAI DATA ECHAM
Kudsy, Mahally
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 1, No 1 (2000): June 2000
Publisher : BPPT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (49.243 KB)
|
DOI: 10.29122/jstmc.v1i1.2108
Percobaan menjalankan program prakiraan iklim dan cuaca yang dikenal dengan Spectral Regional Model (RSM) dilakukan dengan memakai perangkat keras Digital Workstation pada wilayah dengan ukuran 81x57 dengan resolusi kasar dan resolusi halus. Untuk membuat satu prakiraan diperlukan waktu total sekitar 2 jam dan ruang penyimpanan sebesar kira-kira 500 MB, yang sebagian besar dipakai untuk menyimpanan data ECHAM. Untuk menghasilkan pakiraan 3 bulan kedepan, ruangharddisk minimal untuk menyimpan data adalah 10,5 GB dengan waktu pemakaiankomputer selama 180 jam.Lamanya waktu untuk menjalankan run menjadi kendala untuk menghasilkan prakiraan secara cepat, karena itu disini disarankan agar dipakai komputer dengan prosesor pararelExperimental runs of the climate and weather prediction programme called the Regional Spectral Model were performed on a Digital Alpha Workstation for a region having a size of 81x57 grid-points. The run were made at crude and fine resolutions. To make a one- day prediction, 2 hour run and approximately 500 MB of storage were required. Most of this storage was used for filing the ECHAM data which were used as initial data. To complete a run of 3 month prediction, required computing time was approximately 180 hours and storage size of approximately 10.5 GB. From this result, it is recommended that a more powerful hardware such as Cray or SGI with parallel processors is required to speed up the calculation.
MINIMALISASI KONSENTRASI PENYEBARAN ASAP AKIBAT KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DENGAN METODE MODIFIKASI CUACA
Nugroho, Sutopo Purwo
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 1, No 1 (2000): June 2000
Publisher : BPPT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (81.757 KB)
|
DOI: 10.29122/jstmc.v1i1.2099
Forest and land fire that happen at the long time in 1997 have caused smog disaster in huge area. High concentration of smog caused low visibility and influence of the people activity. One of technology alternative has been applied was weather modification to overcome that disaster. Weather modification activity has been conducted in order to rain making and wash out process with according weather condition on that time. The material has been used CaO, Ca(OH)2, NaCl, and CaCl2 were dispersed by the aircraft. The whole result of the weather modification indicated by increased of visibility on the surface. Those increase caused by the pressure of area that has been seeding become low. Nevertheless, existence very high concentration of smog and distribution in huge area has caused the different not significant.Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi selama tahun 1997 telah menyebabkan terjadinya bencana asap yang tersebar secara luas. Adanya konsentrasi asap yang demikian pekat dan luas telah menyebabkan jarak pandang menjadi sangat pendek sehingga mengganggu aktivitas penduduk. Untuk itulah maka diterapkan teknologi modifikasi cuaca sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi bencana tersebut. Kegiatan dilakukan dengan menerapkan teknologi hujan buatan dan proses pembersihan asap secara simultan dan disesuaikan dengan kondisi cuaca yang saat itu terjadi. Bahan-bahan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah CaO, Ca(OH)2, NaCl, dan CaCl2 yang ditaburkan dari pesawat terbang pada lapisan asap. Hasil kegiatan modifikasi secara keseluruhan menunjukkan adanya perubahan jarak pandang di permukaan. Kenaikan ini sebagai akibat terjadinya tekanan udara lokal pada daerah yang ditaburi bahan. Namun adanya akumulasi asap yang pekat dan tersebar luas menyebabkan massa asap kembali mengisi ruang tersebut sehingga kenaikan jarak pandang yang terjadi tidak berubah secara ekstrim.