cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 16, No 2 (2010)" : 7 Documents clear
EKSTRAKSI INFORMASI PENUTUP LAHAN MENGGUNAKAN SPEKTROMETER LAPANGAN SEBAGAI MASUKAN ENDMEMBER PADA DATA HIPERSPEKTRAL RESOLUSI SEDANG Kamal, Muhammad; Arjasakusuma, Sanjiwana
GEOMATIKA Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.921 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2010.16-2.240

Abstract

Hyperspectral sensor captures a large number of narrow and contiguous spectral bands, mostly covering from 400 to 2500 nm of electromagnetic spectrum. This characteristics offer recognition of high-detailed object spectral reflectance, which serve as basic information on object analysis using hyperspectral data. This research aims to study the applicability of field-based endmember collection as input for land cover mapping, and assess the accuracy of resulted map. The mapping algorithm used was Spectral Angle Mapper (SAM), which compares the angle between endmember’s vector and each pixel’s vector in n-dimension space. Smaller angle values indicate higher similarity between pixels and the endmember. The result of this research is a land cover map of 26 land cover classes, with overall accuracy of 60.82% (Kappa 0.52). Overall, the utility of field-based spectrometer for endmember input is potentially high; however, the effect of time difference between data acquisition and field work and image resolution is remains problematic.Keywords: hyperspectral, endmembers, field spectrometer, spectral angle mapper, land cover.ABSTRAKSensor hiperspektral merekam saluran spektral yang sangat banyak, dengan julat tiap saluran sempit, yang umumnya beroperasi pada spektrum 400 – 2500 nm. Karakeristik ini dapat memberikan pola reflektansi spektral obyek yang sangat rinci, yang bertindak sebagai informasi dasar dalam analisis obyek menggunakan data hiperspektral. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan teknik pengambilan endmember berbasis lapangan sebagai masukan untuk penutup lahan, dan menilai akurasi hasilnya. Algoritma pemetaan yang digunakan adalah Spectral Angle Mapper (SAM), yaitu dengan membandingkan sudut antara vektor endmembers dan tiap vektor piksel dalam ruang n-dimensi. Semakin kecil sudut piksel terhadap suatu endmember maka semakin sesuai piksel untuk masuk ke dalam kelas endmember tersebut. Hasil klasifikasi berupa peta penutup lahan untuk 26 kelas penutup lahan, dengan akurasi keseluruhan sebesar 60,82% (Kappa 0,52). Secara keseluruhan, utilitas spektrometer lapangan untuk mengumpulkan endmember berbasis lapangan berpotensi tinggi, namun dampak yang disebabkan oleh perbedaan waktu akuisisi citra dan kerja lapangan dan resolusi citra masih menjadi problem.Kata Kunci: Hiperspektral, endmembers, spectrometer lapangan, spectral angle mapper, penggunaan lahan.
MAPPING EARTHQUAKE HAZARD BY USING GIS AND MULTI-CRITERIA ANALYSIS IN BANTUL REGENCY Nugroho, Budi Haryo; Hardjomidjojo, Hartrisari; Subagio, Habib
GEOMATIKA Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (872.004 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2010.16-2.241

Abstract

Earthquakes are natural events that are difficult to predict and are always causing casualties or major damage. The concept of mitigation associated with the earthquake hazard requires a hazard map that can be used as the basis of land use regulation in order to avoid casualties in case of disaster. Map of the earthquake hazard have been prepared based on a combination of geologic map information; lithology (rock structure) map, earthquake intensity map, slope map, and a map of fault lines. GIS Method of multi-criteria analysis is used as a means of model simulation. The result of the disaster analysis map shows 13% of the area categorized as low or very prone to stability in case of earthquakes, with the main factor is the existence of fault lines. The result of comparison with previous studies showing there is a similarity level of damage and disaster map analysis, with notes need to increase the level of detail map geological information to improve the accuracy of maps of disaster.Keywords: earthquake, hazard, GIS, multi-criteria analysisABSTRAKGempa adalah kejadian alam yang sulit diprediksi dan selalu menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan yang besar. Konsep mitigasi terkait dengan bencana gempa bumi memerlukan sebuah peta bahaya yang bisa dijadikan dasar pengaturan penggunaan lahan dengan tujuan menghindari korban jika terjadi bencana. Peta bencana gempa bumi disusun berdasarkan kombinasi peta informasi geologi yaitu peta litologi (struktur batuan), peta intensitas gempa, peta kelerengan, dan peta jalur patahan. Metode GIS multi-kriteria analisis digunakan sebagai alat simulasi model . Hasil peta analisis bencana menunjukan 13% area masuk kategori stabilitas rendah atau sangat rawan jika terjadi gempa bumi, dengan faktor utama yaitu keberadaan jalur patahan. Hasil komparasi dengan studi-studi sebelumnya menunjukan ada kesamaan tingkat kerusakan dan peta bencana hasil analisis, dengan catatan perlu adanya peningkatan tingkat kedetailan peta informasi geologi untuk meningkatkan akurasi peta bencana.Kata kunci: gempa bumi, rawan, SIG, analisa multi kriteria
ANALISA SEDIMENTASI DI MUARA KALI PORONG AKIBAT PEMBUANGAN LUMPUR LAPINDO MENGGUNAKAN DATA CITRA SATELIT ASTER Pahlevi, Arizona Maulidiyan; Wiweka, Wiweka
GEOMATIKA Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1383.094 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2010.16-2.237

Abstract

Kali Porong is Lapindo mud vulcano disposal area, possibility that Lapindo mud vulcano flow caused sediment material in the area of Kali Porong estuary, which is located in the Madura strait. Therefore, necessary of research on sedimentation use remote sensing technology, with Aster satellite imagery as main data, Landsat7 and Landsat 5 satellite imagery as comparing data. Image processing used Lemigas algoritm (1997), which is based on the Digital Number (DN) and Jing Li algorithm (2008), which is based on the reflectan values. It also sought land change and potential for sediment deposition, based on the results of image processing, tidal data, tidal currents, and bathimetric contours. Results of this research are Lemigas algorithm have determination coefficient (R2) of 0.605 against the field data, and Jing Li algorithms have determination coefficient (R2) of 0.827 against the field data. Sedimentation distribution in Kali Porong estuary likely dynamic, influenced by seasonal factors, tidal and tidal currents, bathimetric contours, and source of materials sediment. Potential precipitation occurs in the sediments along sidoarjo-Pasuruan coast, especially in the Kali Ketingan Estuary and Kali Porong Estuary. The largest rate of Land change occurred in the year 2006 - 2007 with a rate 93.298 ha / year.Keywords : Sedimentation, Lemigas Algorithm, Jing Li Algorithm, Land changeABSTRAKKali Porong merupakan area pembuangan lumpur lapindo. Tidak menutup kemungkinan bahwa adanya aliran lumpur lapindo mengakibatkan material mengendap di daerah muara Kali Porong, yang berada di Selat Madura. Oleh karena itu diperlukan penelitian mengenai sedimentasi menggunakan teknologi penginderaan jauh, yaitu dengan data citra satelit ASTER tahun 2005 hingga 2008 sebagai data utama, citra satelit Landsat7 ETM+ tahun 2003 dan Landsat 5 TM tahun 1994 sebagai data pembanding. Algoritma yang digunakan untuk pengolahan citra adalah algoritma Lemigas (1997) yang didasarkan pada Digital Number (DN) dan algoritma Jing Li (2008) yang didasarkan pada nilai reflektan. Selain itu juga dicari perubahan daratan serta potensi endapan sedimen berdasarkan hasil pengolahan citra, data pasang surut, data arus, dan kontur bathimetri. Hasil penelitian ini adalah algoritma Lemigas mempunyai nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.605 terhadap data lapangan, untuk algoritma Jing Li mempunyai nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.827 terhadap data lapangan. persebaran sedimentasi di Muara Kali Porong cenderung dinamis, dengan dipengaruhi oleh faktor musim, pasang surut dan arus pasang surut, serta kontur bathimetri dan sumber material sedimen. Potensi pengendapan sedimen terbesar terjadi di hampir sepanjang pesisir sidoarjo-pasuruan, terutama di Muara Kali Ketingan dan Muara Kali Porong. Laju pertambahan daratan terbesar adalah tahun 2006-2007, dengan laju 93.298 Ha/tahun.Kata Kunci: Sedimentasi, algoritma Lemigas, Algoritma Jing Li, Perubahan lahan
MAPPING THE FISHERIES RESOURCES MANAGEMENT: A NATURAL RESOURCES ACCOUNTING APPROACH Sutrisno, Dewayany; Nahib, Irmadi; Dewi, Ratna Sari
GEOMATIKA Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (746.323 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2010.16-2.244

Abstract

Marine resources, especially capture fisheries, become one of the leading sector that need to be improved for the future of national economy. For the need of capture fisheries management, a mapping model should be employed to provide such user friendly information of fisheries sector to the local or national government. Fisheries resources accounting map can fulfill this need by giving some reliable information. Using Poso in Central Celebes province, a model was developed to meet the need of information. The result indicates the prospect of capture fisheries can be developed for further local fishermen prosperity and local regional income. Indeed, the result also indicates the fisheries resource accounting map, a spatial information model, is good tool in providing condition and possible management of capture fisheries sector.Keywords: capture fisheries, fisheries accounting, spatial modelABSTRAKSumberdaya laut, terutama sektor perikanan tangkap merupakan sektor utama yang harus terus ditingkatkan guna menunjang peningkatan pendapatan ekonomi negara. Untuk keperluan manajemen perikanan tangkap ini, maka dirasakan sangat perlu dibuat suatu model spasial guna mendukung program perikanan yang berkesinambungan. Akutansi sumberdaya perikanan dapat memenuhi kebutuhan ini melalui pemodelan ekologi-ekonomi. Sebagai studi kasus digunakan perairan pesisir daerah Poso, Sulawesi Tengah. Hasil yang diperoleh menunjukan, bahwa melalui pemodelan spasial ini dapat dilihat prospek sektor perikanan tangkap untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan dan pendapatan pemerintah kabupaten. Selain itu, hasil kajian ini juga memperlihatkan peran model spasial akutansi sumberdaya perikanan sebagai alat yang dapat diandalkan untuk menunjang manajemen perikanan tangkap. Kata Kunci: perikanan tangkap, akuntansi perikanan, model spasial
COMPARING SCORING METHOD AND MODIFIED USDA METHOD TO DETERMINE LAND USE FUNCTION IN SPATIAL PLANNING Wati, S. Eka; Sartohadi, J; Rossiter, D.G.
GEOMATIKA Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.662 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2010.16-2.238

Abstract

Land use function is basic information in spatial planning process. Land use function describes the area division based on its capability. Usually, land use function can be divided into three categories which are protected area, buffer area, and cultivated area. Recently, land use function in spatial plan document is generated by applying scoring method. However, land use function can be also obtained from land capability assessment published by USDA (United States Department of Agriculture). Land use function in this research is determined by using scoring method (regarding to legal document of Ministry of Agriculture number 837/Kpts/UM/11/1980 and number 683/Kpts/UM/8/1981) and proposed method (developed by modifying USDA land capability assessment). Land capability itself is assessed by using landform approach. Landform is obtained through interpretation of satellite image, topographic map, and field survey. Based on scoring method, the obtained range score is 90-195. The study area can be classified into protected zone (51%), buffer zone (31%), and cultivated zone (18%).On the other hand, proposed method gives some results that study area consists of five land capability classes, i.e. IV, V, VI, VII, and VIII. The percentage for each class is 26%, 2%, 2%, 12%, and 58% respectively. Related to land use function, this result represents that 58% of total area is allocated as protected zone, 16% of total area is classified as buffer zone, and the rest area is provided as cultivated zone.Key Words: Scoring method, USDA land capability classification, land use functionABSTRAKFungsi kawasan merupakan informasi dasar yang diperlukan proses dalam penyusunan rencana tata ruang. Fungsi kawasan menggambarkan pembagian area berdasarkan kemampuan yang dimilikinya. Pada umumnya, fungsi kawasan dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu kawasan lindung, kawasan penyangga, dan kawasan budidaya/penanaman. Saat ini, fungsi kawasan dalam dokumen rencana tata ruang ditentukan dengan menggunakan metode skor. Meskipun demikian, fungsi kawasan dapat juga ditentukan dengan memanfaatkan perkiraan kemampuan lahan yang diterbitkan oleh USDA (United States Department of Agriculture). Fungsi kawasan pada penelitian ini ditentukan berdasarkan metode skor yang bersumber dari SK Menteri Pertanian No. 837/Kpts/UM/11/1980 dan No. 683/Kpts/UM/8/1981, sedangkan metode yang diusulkan dikembangkan dengan memodifikasi penilaian kemampuan lahan yang diterbitkan oleh USDA. Kemampuan lahan tersebut dinilai dengan menggunakan pendekatan bentanglahan. Bentang lahan diperoleh melalui interpretasi foto satelit, peta topografi dan survei lapangan. Berdasarkan metode skor, range skor yang didapatkan adalah 90 – 195. Wilayah studi dapat diklasifikasikan menjadi kawasan lindung (51%), kawasan penyangga (31%) dan kawasan budidaya (18%). Di sisi lain, metode yang diusulkan menghasilkan lima kelas kemampuan lahan yaitu kelas IV, V, VI, VII, dan VIII. Prosentase setiap kelas secara berurutan adalah 26%, 2%, 2%, 12%, and 58%. Berkaitan dengan fungsi penggunaan lahan, hasil ini menunjukkan bahwa 58% dari seluruh wilayah studi dialokasikan sebagai kawasan lindung, 16% dari total wilayah studi diklasifikasikan sebagai kawasan penyangga, sedangkan sisanya sebagai kawasan budidaya.Kata Kunci : Metode skor, klasifikasi kemampuan lahan USDA, fungsi kawasan
PADDY CROP COVERAGE IDENTIFICATION USING COMBINATION OF GREENNESS AND WETNESS FOR AGRICULTURAL CROPPING PATTERN CHANGE DETECTION Shofyati, Rizatus; G.P, Dwi Kuncoro
GEOMATIKA Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2010.16-2.245

Abstract

Rice, as a staple food for Indonesian, should be continuously available and at the purchasable level of price. It is of great significance to obtain the paddy crop condition information at early stages in the paddy growing season. Along with the development of remote sensing applications, satellite data have become the uppermost data source to monitor large-scale crop condition. In the last twenty years, more than a dozen of methods based on remote sensing data were developed to monitor crop condition. Time series of NDVI and Wetness of Tasseled Cap Transformation derived from Landsat TM during the crop season (June to October 2004) have been used for analyzing the cropping pattern. The logical inference analysis based on knowledge of paddy growing stage can produce the crop calendar matrix. This study is attempted to describe alternative methods of remote sensing techniques to monitor agricultural condition. Further analysis on such data and information would be useful for considering a reasonable planning of agricultural management.Keywords: agricultural copping pattern, wetness, greenness, logical inference analysis.ABSTRAKBeras, sebagai makanan pokok untuk bangsa Indonesia, harus terus menerus tersedia dan dapat dibeli dengan harga terjangkau. Sehingga sangatlah penting untuk mendapatkan informasi kondisi tanaman padi pada tahap awal musim tanam padi. Seiring dengan perkembangan aplikasi penginderaan jauh, data satelit telah menjadi sumber data penting untuk memantau kondisi tanaman pada skala besar. Dalam dua puluh tahun terakhir, telah banyak metode menggunakan data penginderaan jauh yang dikembangkan untuk memantau kondisi tanaman. NDVI dan kelembaban berdasarkan analisis Tasseled Cap Transformation dari Landsat TM selama musim tanam (Juni sampai dengan Oktober 2004) telah digunakan untuk menganalisis pola tanam. Analisis logical inference berdasarkan pengetahuan dan pengalaman dari tahap pertumbuhan padi dapat menghasilkan matriks kalender tanam. Studi ini dilakukan untuk menjelaskan alternatif metode atau teknik penginderaan jauh untuk memantau kondisi pertanian. Analisis lebih lanjut pada data dan informasi akan berguna untuk mempertimbangkan perencanaan pengelolaan pertanian yang lebih proporsional. Kata Kunci: pola tanam pertanian, kelembaban, kehijauan, analisis logical inference.
DINAMIKA PEMANFAATAN LAHAN BENTANG ALAM GUMUK PASIR PANTAI PARANGTRITIS, KABUPATEN BANTUL M., Fakhruddin; Poniman, Aris; H, Malikusworo
GEOMATIKA Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1103.157 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2010.16-2.239

Abstract

The sand dunes’ range or landscape in Parangtritis beach are not instantly formed instead they are formed over a long period of time to form their distinct and unique physical shapes. On the other hand, the existence of sand dunes is threatened by a number of forces which are potentially damaging to their survival. This research is intended to analyzing land utilization in the area of sand dunes.Keywords: Landuse, landscape, sand dune, coastal.ABSTRAKHamparan atau bentang alam gumuk pasir di Pantai Parangtritis tidak terbentuk secara instan, tetapi dalam kurun waktu yang cukup lama membentuk kenampakan fisik yang menarik dan unik. Disisi lain, keberadaan gumuk pasir menghadapi berbagai tekanan yang berpotensi merusak kelestariannya. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemanfaatan lahan di kawasan bentang alam gumuk pasir.Kata Kunci: Penggunaan Lahan, bentanglahan, gumuk pasir, pesisir

Page 1 of 1 | Total Record : 7