cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 18, No 1 (2016)" : 6 Documents clear
KAJIAN SPASIAL EVALUASI RENCANA TATA RUANG BERBASIS KEBENCANAAN DI KABUPATEN KUDUS PROVINSI JAWA TENGAH Suryanta, Jaka; Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.979 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2016.18-1.392

Abstract

ABSTRAKPemerintah daerah diberikan kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya melalui Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Dokumen RTRW diharapkan menjadi dasar dalam pengaturan, pengendalian dan pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten/Kota sehingga pembangunan dapat dilakukan secara berkelanjutan dan terhindar dari bencana, mengingat di setiap wilayah administrasi Kabupaten di Indonesia selalu dijumpai bagian yang rawan bencana. Kajian ini bertujuan untuk mengevaluasi dokumen RTRW Kabupaten Kudus berdasarkan data spasial kebencanaan. Metode yang digunakan adalah analisis overlay data spasial rawan bencana terhadap pola ruang dan struktur ruang serta wighting/scoring. Analisis spasial menunjukkan pola ruang yang sudah didesain akan terdampak rawan bencana seluas 13.023,22 ha terdiri atas wilayah rawan banjir 11.692,52 ha (89,78%) dan longsor 1.331,17 ha (10,22%). Rawan banjir berdampak pada lahan pertanian sawah 9.497,83 ha (85,32%), permukiman sebesar 1.168,28 ha (10,5%), sedangkan rawan longsor terjadi di wilayah hutan lindung sebesar 459,68 (34,53%), kawasan pertanian tanaman pangan sebesar 524,90 ha (39,43%) dan kawasan hutan produksi sebesar 120,89 ha (13,32%). Hasil penelitian menunjukkan kondisi exsisting sawah dan kawasan hutan bertampalan dengan wilayah rawan bencana longsor dan banjir maka RTRW memungkinkan untuk ditinjau kembali. Struktur ruang khususnya jaringan jalan dapat memberikan akses ke wilayah terdampak longsor maupun banjir dengan baik sehingga evakuasi mudah dilaksanakan. Implementasi pola ruang maupun struktur ruang selanjutnya perlu kajian rekayasa penanggulangan wilayah rawan bencana dengan cara struktural berupa bangunan fisik, maupun peningkatan kapasitas masyarakat dan pemasangan instrumen peringatan dini yang akan dipasang baik pada wilayah rawan longsor maupun banjir. Alokasi pola ruang khususnya pada sawah yang rawan terdampak banjir dan hutan yang rawan terdampak longsor perlu ditinjau kembali atau dibuat infrastruktur untuk mengurangi dampak.Kata kunci: keruangan, rencana tata ruang wilayah (RTRW), kebencanaan, Kabupaten KudusABSTRACTLocal governments are given the authority to regulate and manage their own domestic affairs through spatial planning. Documents of Spattial Planing (RTRW) which become the basics for regulating, controlling and utilizating the district area to implementing sustainable development and avoid disaster, considering that every administrative Regency in Indonesia have disaster-prone areas. This study aims to evaluate the Spatial Planning Document of Kudus District based on spatial disaster data. The method used is the overlaying analysis of disaster-prone spatial data to the spatial patterns and structures as well as the space wighting/scoring. The spatial analysis showed that spatial patterns will be affected by a disaster-prone area of 13.023,22 hectares consisting of flood-prone area 11.692,52 ha (89,78%) and landslides 1.331,17 ha (10,22%). Prone to flooding impact on agricultural land paddy 9.497,83 ha (85,32%), settlement of 1.168,28 ha (10,5%), while prone to landslides occurred in the protected forest area of 459,68 (34,53%), the area of food crops amounted to 524,90 ha (39,43% ) and production forest area of 120,89 ha (13,32%). The results showed some areas of rice fields and forest areas overlap with the potential for landslides and flooding so RTRW allow to be reviewed. The spatial structure mainly the road network access to areas of landsliding and flooding so that the evacuation is well implemented. In the implementation of the spatial planning and structure need to feasibility study due to reduce disaster-prone by using structural means that physically, as well as community capacity building and need to install of early warning instruments that will be used in either region of landslides and floods prone. The spatial pattern allocation  especially used for rice fields that affected by floods and landslides affected the vulnerable forest need to be reviewed or created infrastructure to reduce the impact.Keywords: spatial, spatial planning, disaster, Kudus District
ANALISIS SPASIAL KEMAMPUAN LAHAN DALAM PERENCANAAN PENGELOLAAN DAS MIKRO Wahyuningrum, Nining; Supangat, Agung Budi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1131.601 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2016.18-1.393

Abstract

Untuk mewujudkan kondisi lahan yang produktif sesuai dengan daya dukung DAS diperlukan rencana detil sehingga mudah diterapkan di lapangan. Perencanaan detil perlu didahului dengan penelaahan global untuk mengetahui gambaran umum kondisi lahan aktual, sehingga dapat digunakan untuk menetapkan prioritas-prioritas lokasi yang penting untuk segera ditangani. Dalam paper ini dilakukan analisis kemampuan penggunaan lahan (land use capability analysis) skala detil (DAS mikro) berdasar kepada informasi semi detil (sub DAS) dengan menggunakan ArcMap 9.3. Penelitian dilakukan di DAS Mikro Naruwan yang termasuk dalam Sub DAS Keduang, DAS Solo. DAS Solo merupakan salah satu dari 108 DAS prioritas yang harus dipulihkan. Hasil analisis menunjukkan bahwa 38% lokasi penelitian didominasi tegal, kebun campur 23%, hutan 20% dan sisanya oleh sawah, permukiman dan semak belukar. Meskipun kebun campur dan hutan mendominasi, akan tetapi terdapat 56,24% penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan klas kemampuan lahannya. Pada lahan yang tidak sesuai tersebut 33,14% mengalami erosi pada taraf sangat berat (>480 ton/ha). Lahan yang tidak sesuai tersebut terutama adalah tegal. Karena sebagian besar merupakan lahan milik masyarakat sehingga tidak mudah untuk merubah penggunaannya. Oleh sebab itu perlu dilakukan kompromi untuk mengurangi dampak negatifnya yaitu dengan pengembangan hutan rakyat dengan sistem agroforestri, perbaikan hutan di bantaran sungai, peningkatan persentase penutupan lahan, pembuatan teras gulud, pemberian mulsa, pembuatan rorak, pembangunan dam penahan dan dam pengendali untuk mengendalikan erosi. Kata kunci: kemampuan lahan, penggunaan lahan, erosi, perencanaan, konservasiABSTRACTTo create a productive land condition in accordance with the carrying capacity of watershed needs a detailed planning so it is applicable in the field. The detailed planning needs to be preceded by a global assessment to comprehend the actual general description, so it can be used to set priorities that are important to be addressed. In this paper, land use capability analysis were used in the detail planning (micro-catchment) based on the semi-detail (sub-watershed) information by utilizing GIS analysis. The study was conducted in Naruwan micro watershed which is included in Keduang Sub-Watershed of Solo Watershed. Solo Watershed is one of 108 watersheds that should be recovered. Analysis show that 38% of the area is dominated by dryland, 23% mixed garden, 20% production forest, and the rest consisted of paddy field, settlement and shrubs. Although the mixed garden and forest dominate, but there are 56,24% of the land use that is suitable to its land capability. The 33,4% of the unsuitable land use, have very severe erosion (>480 ton/ha). The unsuitable land use is  dry land agriculture. Since most of the land belonging to the community, so it is not easy to change its usage. Therefore it is necessary to compromise the type of land uses which reducing its negative impact namely the development of community forest by applying  agroforestry system, improvement of riparian forest, increasing the percentage of permanent land cover, terracing, mulching, manufacture of sediment trap (rorak), building retaining dam and control dam to control erosion.Keywords: land capability, land use, erosion, planning, conservation
Halaman Muka MIG Vol. 18 No. 1 2016 Globe, Redaksi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1726.283 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2016.18-1.740

Abstract

DAMPAK EL NIÑO 1997 DAN EL NIÑO 2015 TERHADAP KONSENTRASI KLOROFIL-A DI PERAIRAN SELATAN JAWA DAN BALI-SUMBAWA Martono, Martono
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (831.314 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2016.18-1.389

Abstract

El Niño adalah fenomena oseanografi yang terjadi di Samudera Pasifik tropis akibat interaksi antara laut dan atmosfer. El Niño menyebabkan bencana kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia. Penelitian mengenai dampak El Niño terhadap karakteristik oseanografi di perairan Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak El Niño 1997 dan El Niño 2015 terhadap kelimpahan konsentrasi klorofil-a di perairan selatan Jawa dan Bali-Sumbawa. Data yang digunakan adalah indeks NIÑO3.4, klorofil-a bulanan, angin permukaan, arus permukaan dan tinggi muka laut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis anomali konsentrasi klorofil-a selama El Niño. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama El Niño terjadi kenaikan konsentrasi klorofil-a di perairan ini. Kenaikan konsentrasi klorofil-a di perairan selatan Jawa mencapai 678% dalam periode El Niño 1997 dan 78% dalam periode El Niño 2015. Sementara itu, kenaikan konsentrasi klorofil-a di perairan selatan Bali-Sumbawa lebih rendah sekitar 165% dalam periode El Niño 1997 dan 69% dalam periode El Niño 2015. Meskipun demikian, faktor utama yang menyebabkan kenaikan konsentrasi klorofil-a sangat tinggi di perairan selatan Jawa dalam periode El Niño 1997 adalah Indian Ocean Dipole fase positif dan arus eddy searah jarum jam sepanjang pantai selatan Jawa selama September-November 1997 .Kata kunci: klorofil-a, El Niño, indian ocean dipole (IOD), arus eddy       ABSTRACTEl Niño is an oceanography phenomenon which occurs in the tropical Pacific Ocean which caused by interaction between sea and atmosphere. El Niño causes drought disaster in the most of the Indonesian region. Research about impact of El Niño on characteristics of oceanography in the Indonesian waters still limited. This research is conducted to understand impact of El Niño 1997 and El Niño 2015 on abundance of chlorophyll-a concentration in the southern waters of Java and Bali-Sumbawa. Data used consists of NIÑO3.4 index, monthly chlorophyll-a, surface wind, surface current and sea level. Method used in this research was anomaly analysis of chlorophyll-a concentration during El Niño. Results showed that during El Niño occur increasing chlorophyll-a concentration in these waters. Increasing of chlorophyll-a concentration in the southern water of Java reached 678% in the period of El Niño 1997 and reached 78% in the period of El Niño 2015. Meanwhile, increasing of chlorophyll-a concentration in the southern water of Bali-Sumbawa lower about 165% in the period of El Niño 1997 and 69% inthe period of El Niño 2015.Nevertheless, the main factors that caused increase a very high of chlorophyll-a concentration in the southern waters of Java in the period of El Niño 1997 was the positive phase of Indian Ocean Dipole and cyclonic eddies along southern coasts of Java during September-November 1997.Keywords: chlorophyll-a, El Niño, indian ocean dipole (IOD), eddy current
EKSTRAKSI INFORMASI PENUTUP LAHAN AREA LUAS DENGAN METODE EXPERT KNOWLEDGE OBJECT-BASED IMAGE ANALYSIS (OBIA) PADA CITRA LANDSAT 8 OLI PULAU KALIMANTAN Zylshal, Zylshal; Susanto, Heri; Hidayat, Sarip
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1078.749 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2016.18-1.390

Abstract

Ekstraksi informasi penutup/penggunaan lahan area luas seperti di Pulau Kalimantan umumnya terkendala oleh variasi nilai spektral di beberapa area yang berbeda, serta sulitnya mendapatkan hasil perekaman yang bebas dari awan. Klasifikasi visual, meski memberikan hasil yang baik, merupakan pekerjaan yang membutuhkan waktu dan tenaga yang relatif banyak, belum lagi potensi pengaruh subjektifitas interpreter. OBIA yang sudah mulai diterima dan banyak digunakan dalam klasifikasi digital bisa menjadi alternatif tambahan selain interpretasi visual maupun analisis digital berbasis piksel konvensional. Penelitian ini menggunakan data Landsat 8 OLI orthorectified yang telah melalui proses mosaicking dan cloud masking untuk mendapatkan citra satu Pulau Kalimantan yang bebas awan. Layer NDVI, MNDWI, NDBI, BSI, SAVI, dan Built-up Index kemudian diturunkan dari data Citra Landsat untuk dimasukkan ke dalam tahap segmentasi dan klasifikasi. Segmentasi dilakukan dengan menggunakan algoritma Multiresolution Segmentation dan Spectral Difference Segmentation. Klasifikasi dilakukan dengan menggunakan serangkaian multilevel threshold yang disusun dalam bentuk decision tree. Empat belas kelas penutup/penggunaan lahan kemudian berhasil diekstrak, dengan nilai overall accuracy 77,65%. Metode yang digunakan juga menunjukkan akurasi yang tinggi untuk kelas hutan lahan kering, perkebunan, kebun campur dan semak belukar dengan nilai akurasi di atas 80%. Hasil ini menunjukkan bahwa metode ini bisa dijadikan sebagai alternatif dalam mengidentifikasi dan mengekstrak informasi tutupan vegetasi untuk kegiatan pemetaan area luas.Kata kunci: OBIA, area luas, perubahan penutupan/penggunaan lahan, citra landsat, decision treeABSTRACTLarge area landuse/landcover extraction such as on the island of Borneo using Landsat 8 data are generally constrained by the great variations in the spectral values, due to the vast use of different scenes with different acquisition time, as well as the fact that it almost impossible to get a completely cloud-free image of the whole island. Visual classification, despite the good results, is a labour-intensif job that requires a huge time and effort, not to mention the potential influence of interpreter’s subjectivity. While the pixel based digital classification suffer from“salt pepper” effect as well as almost exclusively relied on spectral information, OBIA has been accepted and widely used in digital classification as an alternative for the visual interpretation and conventional pixel-based classification, with its ability to use additional contextual information. This study aimed to used OBIA method on Landsat 8 OLI cloudfree mosaic dataset for the whole Borneo region to create a landuse/landcover map using both spectral and contextual information, as well as ancilarry DEM data. Additional layers of NDVI, MNDWI, NDBI, BSI, SAVI, and Built-up Index were then derived from Landsat data to be used in the segmentation and classification process. Multiresolution Segmentation algorithm and Spectral Difference Segmentation were then conducted respectively. The classification wasdone by using a series of multilevel crisp classification using thresholds in the form of a decision tree. Fourteen of landuse/landcover classes were then successfully extracted, with a value of 77.65% on overall accuracy. The proposed method showed reasonable high accuracy for the forest, plantation, mixed garden and shrub classes with the accuracy all above 80%. These results indicate that the proposed method can be used as an alternative to identify and extract information related to vegetation cover for large areamapping activities.Keywords: OBIA, large area, land use cover change (LULC), landsat image, decision tree
MODEL PERUBAHAN PENUTUPAN/PENGGUNAAN LAHAN UNTUK IDENTIFIKASI LAHAN KRITIS DI KABUPATEN BOGOR, KABUPATEN CIANJUR, DAN KABUPATEN SUKABUMI Kubangun, Siti Hadjar; Haridjaja, Oteng; Gandasasmita, Komarsa
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1012.37 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2016.18-1.391

Abstract

Pemanfaatan lahan yang melampaui kemampuan lahannya, dapat mengakibatkan degradasi lahan. Degradasi lahan jika dibiarkan akan menimbulkan lahan kritis. Dampak yang terjadi akibat lahan kritis mengakibatkan lahan mengalami penurunan kualitas sifat-sifat tanah, penurunan fungsi konservasi, fungsi produksi, hingga berpengaruh pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat yang memanfaatkan lahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lahan kritis, berdasarkan pemodelan perubahan penutupan/penggunaan lahan dengan metode Artificial Neural Network (ANN). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lahan-lahan yang tergolong kritis mencakup lahan berlereng dengan penutupan/penggunaan lahan yang telah terkonversi. Faktor utama penyebab konversi lahan adalah tingginya kebutuhan hidup terhadap pangan, sandang, dan papan, akibat meningkatnya kepadatan penduduk. Selain hal tersebut, kemiringan lereng, jarak dari jalan, dan jarak dari permukiman juga menjadi faktor penyebab perubahan lahan. Upaya pemanfaatan lahan sebaiknya didukung oleh peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang tidak hanya berorientasi pada kebutuhan sosial dan ekonomi, namun juga berorientasi pada lingkungan yang berkelanjutan.Kata kunci:  jaringan saraf tiruan, perubahan penutupan/penggunaan lahan, model spasial, lahan kritis.ABSTRACTOver used of land can caused the degradation, it can be lead to the critical of the land. The impacts of this issue such as the decreasing of the soil characteristics quality, conservation function, production, affecting social and economic of the society which used the land.  This research aims to identify the critical land based on the land use cover change models with Artificial Neural Network (ANN) method. This research shows the critical lands including land with the slope which has been converted with the land use cover change models. The main factors caused land converse are the high of need of food, clothing, and shelter, cause of the increasing population density. Besides those factors, the shape of slope, distance from the road and settlements   are also the result of the land changing. The efforts in using the land should be supported by the increasing of the human resources, which are not only be oriented on the need of social and economic, but also on the sustainable environment.Keywords: artificial neural network (ANN), land use cover change (LUCC), spatial models, critical land.

Page 1 of 1 | Total Record : 6