cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berkala Arkeologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
We are a journal on archaeology published by Balai Arkeologi Yogyakarta every May and November each year. This journal seek to promote and shares research results and ideas on archaeology to the public. We covers original research results, ideas, theories, or other scientific works from the discipline of Archaeology mainly in the Indonesian Archipelago and Southeast Asia. Interest from other disciplines (such as history, anthropology, architecture, geology, etc.) must be related to archaeological subject to be covered in this journal. Our first edition was published on March 1980.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 10 No 2 (1989)" : 7 Documents clear
Cover Berkala Arkeologi Vol. 10 No. 2 September 1989 Berkala Arkeologi
Berkala Arkeologi Vol 10 No 2 (1989)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.614 KB)

Abstract

Frontmatter Berkala Arkeologi Vol. 10 No. 2 September 1989 Berkala Arkeologi
Berkala Arkeologi Vol 10 No 2 (1989)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.543 KB)

Abstract

Sangiran For The Archaeologist A Short Guide For Students Gert-Jan Bartstra
Berkala Arkeologi Vol 10 No 2 (1989)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3071.327 KB) | DOI: 10.30883/jba.v10i2.540

Abstract

To-day the most important locality of Pleistocene hominids in Southeast Asia is Sangiran. This is where Homo erectus fossils come from, to which species the famous Pithecanthropus and Meganthropus belong. Geographically or physiograplhically the area of Sangiran can be described as a basin surrounded by hills, of which the highest summits lie c1bout 180 m above sea level. From a geological point O'f view, however, Sangiran is a dome, where different deposits have been pushed upwards. As a result of subsequent erosion splendid stratigraphic sections are to be found, where Pleistocene and older deposits are exposed.
Analisis Sisa Gajah Dari Kecamatan Tamban, Kabupaten Batola (Kalimantan Selatan): Suatu Pengumuman Rokus Due Awe
Berkala Arkeologi Vol 10 No 2 (1989)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1810.929 KB) | DOI: 10.30883/jba.v10i2.541

Abstract

Dalam tahun 1987 Pusat Penelitian Arkeologi Nasio­nal diminta untuk mengoreksi suatu temuan yang baru dilakukan oleh Bidang Permuseuman Sejarah dan Purba­kala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebu­dayaan Propinsi Kalimantan Selatan. Penemuan tersebut dituangkan dalam sebuah laporan yang dilengkapi dengan beberapa buah foto dan denah lokasi penemuan. Di da­lam laporan itu diinformasikan bahwa berdasarkan ukur­an tulang yang besar-besar, tim yang bersangkutan me­nyatakan bahwa sisa-sisa binatang fosil yang ditemukan itu berasal dari suatu individu yang disebut sebagai go­rila. Setelah dilakukan pengamatan terhadap foto-foto yang dilampirkan, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mengidentifikasikan sebagai salah satu individu Bangsa Proboscidea (Bangsa berbelalai atau gajah).
Proses Perkembangan Kesenian Dalam Perubahan Kebudayaan Bambang Soelistyanto
Berkala Arkeologi Vol 10 No 2 (1989)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3978.446 KB) | DOI: 10.30883/jba.v10i2.542

Abstract

Kalau kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan hasil cipta, rasa dan karsa masyarakat, maka kesenian adalah unsur kebudayaan yang bersumber pada rasa, khususnya rasa keindahan. Rasa estetis inilah yang mendorong budi daya manufiia untuk menciptakan berbagai ragam kesenian guna pennenuhan hidupnya.
Korelasi Sikap Lengan Rangka Manusia Dengan Jenis Kelamin Pada Kubur Primer Membujur Dari Situs Kubur Masa Perundagian Fadhila Arifin Aziz
Berkala Arkeologi Vol 10 No 2 (1989)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1522.299 KB) | DOI: 10.30883/jba.v10i2.543

Abstract

Sisa-sisa kubur yang ditemukan di berbagai tempat kepulauan Indonesia, merupakan salah satu bukti kegiatan manusia masa lampau yang berhubungnn dengan aspek religi. Dalam praktek penguburannya terkandung unsur gagasan sub-sistem religi yang memiliki aspek supernatural, teknologi, dan kondisi sosial yang terwujud dalam perlakuan mayat. Data arkeologi berupa sisa kubur dari masa perundagian yang ditemukan selama ini, memberikan informasi mengenai hal di atas (Soejono 1975: 72-76). Keanekaragaman baik dalam variasi dan corak khusus kubur maupun daerah persebarannya, ditunjukkan oleh sisa-sisa kubur masa perundagian ini.
Bentuk-Bentuk Gerabah Kubur Peti Batu Sokoliman: Hubungannya Dengan Tahap Penguburan Goenadi Nitihaminoto
Berkala Arkeologi Vol 10 No 2 (1989)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2192.993 KB) | DOI: 10.30883/jba.v10i2.544

Abstract

Kompleks kubur peti batu di Gunung Kidul tersebut telah diteliti oleh J.L. Moens pada tahun 1934, kemudian dilanjutkan oleh van der Hoop pada tahun berikutnya. Kompleks kubur peti batu tersebut antara lain terdapat di Kajar, Sokoliman, dan Bleberan. Pada kubur peti batu di Kajar ditemukan 35 individu bertumpukan pada kedalaman 80 cm dengan bekal kubur berupa beberapa alat dari besi, antara lain arit. Temuan lain berupa cincin perunggu, sebuah mangkuk terakota berbentuk tempurung, dan ratusan mutisalah. Pada salah satu kerangka ditemukan sebilah pedang besi yang telah patah, dipegang di tangan kiri, sedangkan pada pedang itu sendiri masih melekat bekas-bekas tenunan kasar. Kubur peti batu yang di temukan di Bleberan berisi tiga rangka manusia bertumpukan dalam posisi terlentang dengan kepala di sebelah utara. Tiga buah benda besi terletak di atas dada rangka yang paling atas. Cincin tembaga, pisau besi, dan beberapa manik -manik tersebar di antara rangka-rangka tersebut (R.P. Soejono, 1984).

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

1989 1989


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 2 (2022) Vol 42 No 1 (2022) Vol 41 No 2 (2021) Vol 41 No 1 (2021) Vol 17 No 2 (1997) Vol 40 No 2 (2020) Vol 40 No 1 (2020) Vol 13 No 1 (1993) Vol 39 No 2 (2019) Vol 39 No 1 (2019) Vol 38 No 2 (2018) Vol 38 No 1 (2018) Vol 37 No 2 (2017) Vol 37 No 1 (2017) Vol 36 No 2 (2016) Vol 36 No 1 (2016) Vol 35 No 2 (2015) Vol 35 No 1 (2015) Vol 34 No 2 (2014) Vol 34 No 1 (2014) Vol 33 No 2 (2013) Vol 33 No 1 (2013) Vol 32 No 2 (2012) Vol 32 No 1 (2012) Vol 31 No 2 (2011) Vol 31 No 1 (2011) Vol 30 No 2 (2010) Vol 30 No 1 (2010) Vol 29 No 2 (2009) Vol 29 No 1 (2009) Vol 28 No 2 (2008) Vol 28 No 1 (2008) Vol 27 No 2 (2007) Vol 27 No 1 (2007) Vol 26 No 2 (2006) Vol 26 No 1 (2006) Vol 25 No 1 (2005) Vol 24 No 1 (2004) Vol 23 No 2 (2003) Vol 23 No 1 (2003) Vol 22 No 1 (2002) Vol 21 No 2 (2001) Vol 21 No 1 (2001) Vol 20 No 1 (2000) Vol 19 No 2 (1999) Vol 19 No 1 (1999) Vol 18 No 2 (1998) Vol 18 No 1 (1998): Edisi Khusus Vol 17 No 1 (1997) Vol 16 No 2 (1996) Vol 16 No 1 (1996) Vol 15 No 3 (1995): Edisi Khusus Vol 15 No 2 (1995) Vol 15 No 1 (1995) Vol 14 No 2 (1994): Edisi Khusus Vol 14 No 1 (1994) Vol 13 No 3 (1993): Edisi Khusus Vol 13 No 2 (1993) Vol 12 No 1 (1991) Vol 11 No 1 (1990) Vol 10 No 2 (1989) Vol 10 No 1 (1989) Vol 9 No 2 (1988) Vol 9 No 1 (1988) Vol 8 No 2 (1987) Vol 8 No 1 (1987) Vol 7 No 2 (1986) Vol 7 No 1 (1986) Vol 6 No 2 (1985) Vol 6 No 1 (1985) Vol 5 No 2 (1984) Vol 5 No 1 (1984) Vol 4 No 2 (1983) Vol 4 No 1 (1983) Vol 3 No 1 (1982) Vol 2 No 1 (1981) Vol 1 No 1 (1980) More Issue