cover
Contact Name
Alfian Rokhmansyah
Contact Email
jurnalilmubudaya.fibunmul@gmail.com
Phone
+6285385388335
Journal Mail Official
jurnalilmubudaya.fibunmul@gmail.com
Editorial Address
Jl. Ki Hajar Dewantara, Gunung Kelua, Kec. Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia 75123
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 25497715     EISSN : 25497715     DOI : -
Jurnal Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya) merupakan jurnal yang dikelola oleh Fakultas Ilmu Budaya sebagai media publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang bahasa, sastra, seni, dan budaya, termasuk pengajarannya. Terbit sebanyak empat kali setahun, yaitu pada bulan Januari, April, Juli, dan Oktober, dan diterbitkan hanya dalam format elektronik.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2026): April 2026" : 11 Documents clear
Synesthesia of IbuIbu Belu: Bodies of Border as Contemporary Dance in Choreomusicology Perspective Dewi, Maharani Luthvinda; Wijayanto, R. Danang Cahyo; Putro, Renaldi Lestianto Utomo
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 10, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v10i2.25920

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada analisis bentuk sinestetik sebagai hasil perseptual dalam karya tari kontemporer Ibulbu Belu: Bodies of Border (IBUBOB) yang dipentaskan di Teater Besar ISI Surakarta tahun 2022. Urgensi studi ini didasarkan pada fakta bahwa kajian sebelumnya cenderung menganalisis dimensi tari, musik, dan ruang secara terpisah, serta belum memposisikan gejala sinestetik sebagai fokus kajian utama. Penelitian ini mengajukan argumen bahwa bentuk sinestetik adalah sebuah konstruksi perseptual yang dikonstruksi secara kausal oleh strategi koreomusikal dan teknologi pemanggungan. Metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis konten dua-tahap (formalis dan resepsi) diterapkan, menggunakan data rekaman audio-visual, observasi, wawancara, dan studi pustaka berupa narasi audiens. Penelitian menemukan hasil dua penyebab utama. Pertama, strategi koreomusikal yang mengintegrasikan body percussion dan instrumen Tihar dalam pola ritmis paralel dan unison. Kedua, desain pemanggungan yang memanfaatkan lantai kayu parkit berlapis vynil sebagai instrumen perkusif pasif dan sonifikasi melalui mic condensor yang mengubah bunyi kinetik subtil (hentakan kaki) menjadi lanskap suara imersif. Temuan membuktikan bahwa kedua elemen teknis ini secara sistematis mengarahkan persepsi audiens, yang termanifestasi dalam narasi sinestetik seperti detak jantung kolektif. Disimpulkan bahwa bentuk sinestetik adalah akibat perseptual yang dapat dirancang secara sadar oleh seniman melalui keputusan teknis yang terintegrasi.  Kata kunci: Bentuk, Sinestetik, Tari Kontemporer, IBUBOB, Sonifikasi.
Students’ Attitude on Languages They Acquired, Learned, and Use: A Case Study of Double Major Students Handayani, Magpika -; Utomo, Aries
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 10, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v10i2.26602

Abstract

People's movement and the world's quick changes have an impact on language use nowadays. This condition makes it difficult for people to maintain the language they have learned, such as their first and second language, in order to continue interacting with their community, or to learn a new language in order to be able to communicate with others for specific purposes, such as future preparation and environment adaptation. This study examines the views of double major students toward the languages they have studied, acquired, and used in an attempt to comprehend how students view globalization. It describes how the students view English as the language they have learnt, and Khek, Tio Ciu, and Bahasa Indonesia as the languages they have learned and used. By elucidating the preliminary analysis and focusing on the data to portray students' attitudes on the language they learned, acquired, and utilized, the data were investigated inductively. The findings indicate that students pursuing a double major at Politeknik Tonggak Equator have a positive attitude toward Khek or Tio Ciu and Bahasa Indonesia as the languages they have learned and use. Additionally, they have a similar attitude toward English as the language they have learned because they value and receive it emotionally. Since each of their three languages has a specific function in their communication, they demonstrate their loyalty, pride, and awareness of the usage of their first, second, and third languages.Keywords: Students’ attitude, Language Acquired, Learned and Use, Case Study
Transmisi Budaya dalam Praktik Bue’ Anak pada Masyarakat Sebulu Kabupaten Kutai Kartanegara Yohana, Saferi; Hanum, Irma Surayya; Putri, Eka Aprilia; Maryam, Aufa; Madhani, Muadz
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 10, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v10i2.26792

Abstract

This study aims to analyze the mechanisms of cultural transmission in the practice of  bue' anak, identify the shifts that occur, and understand the meanings that perpetuate cultural meanings in parenting practices. The research method used is a qualitative approach with an interpretive ethnographic framework. Data were collected through observation and in-depth interviews. The data were then analyzed using Clifford Geertz's cultural interpretation approach and supplemented with the habitus and practices of cultural transmission. The results indicate that bue' anak is a cultural transmission practice that occurs orally and naturally through custom, imitation, and intergenerational interaction. This practice serves not only as a means of lulling children to sleep but also as a means of establishing emotional connections, representing values, and strengthening cultural identity through language, symbols, and bodily experiences. However, in the modern context, this practice has undergone a shift marked by the increasing use of digital technology as a substitute for live singing. This change has resulted in a reduction in emotional interaction and the potential loss of cultural meanings inherent in the practice of bue' anak.
Mitos Kenakalan Remaja pada Tuturan Siniar Podkes Selesai: Kajian Semiotika Roland Barthes Mulyani, Dwi; Purwanti, Purwanti
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 10, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v10i2.25704

Abstract

Bentuk kenakalan remaja kini mengalami pergeseran yang awalnya hanya kenakalan remaja biasa sekarang justru menjurus ke segi-segi kriminal. Kenakalan remaja sebagai fenomena sosial tidak hanya hadir di dalam realitas keseharian, tetapi juga menjadi topik dalam media digital seperti siniar Podkes Selesai, yang secara tidak langsung membentuk cara pandang pendengar terhadap perilaku penyimpangan tersebut. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini untuk mengetahui makna mitos kenakalan remaja dalam tuturan siniar Podkes Selesai dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Penelitian ini merupakan jenis kepustakaan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dari penelitian ini berupa tuturan pada siniar Podkes Selesai. Teknik pengumpulan data yang digunakan teknik simak bebas cakap libat dan teknik catat. Teknik analisis data yang digunakan yaitu metode padan ekstralingual dengan teknik pilah unsur penentu (PUP) untuk menemukan tanda berupa kata, frasa, dan kalimat pada data penelitian. Hasil penelitian secara umum, yakni (1) Denotasi pada siniar Podkes Selesai yaitu gambaran atau representasi kenakalan remaja dari pengalaman penutur, (2) Konotasi dari siniar Podkes Selesai yaitu mengacu pada makna simbolik dari kenakalan remaja seperti sesuatu yang diwajarkan, pencarian identitas, keberanian, kebanggan, kedewasaan, dan eksistensi, (3) Mitos dari siniar Podkes Selesai yaitu perilaku menyimpang dan kekerasan dilegitimasi sebagai bagian dari norma sosial yang dianggap wajar, sehingga membuat hal menyimpang sebagai bentuk pencarian jati diri yang salah. Melalui penelitian ini, siniar bukan hanya sebuah audio visual yang berisi percakapan yang membahas mengenai isu sosial saja, tetapi juga dapat menghasilkan makna mitos-mitos budaya melalui tanda verbal.
Absurditas Dalam Naskah Drama Manufaktur Anatomi Kera Karya Gulang Satriya Pangarso Halimah, Nur; Yusriansyah, Eka; Hanum, Irma Surayya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 10, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v10i2.26204

Abstract

Penggunaan simbol hewan dalam karya seni dan sastra telah menjadi medium alegoris yang kuat sejak puluhan ribu tahun lalu untuk merepresentasikan tingkah laku, moralitas, hingga kritik sosial manusia. Penelitian ini mengkaji fenomena simbolisasi hewan dan hubungan timbal balik antara manusia dan hewan dalam naskah drama Manufaktur Anatomi Kera karya Gulang Satriya Pangarso. Naskah Ini menampilkan narasi unik mengenai pemujaan terhadap kera sebagai refleksi atas krisis eksistensial manusia. Tujuan dari penelitian Ini adalah untuk mendeskripsikan narasi dan bentuk-bentuk absurditas yang terdapat dalam naskah tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Analisis dilakukan dengan berlandaskan pada teori Absurdisme Albert Camus sebagai kerangka utama, yang didukung oleh teori Semiotika Roland Barthes sebagai pendekatan untuk membedah tanda-tanda simbolik dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Narasi absurditas dalam naskah Manufaktur Anatomi Kera terkonstruksi melalui jalinan alur yang tidak linear, dialog-dialog yang melampaui logika konvensional, serta karakterisasi tokoh yang terjebak dalam kondisi anomali; (2) Bentuk-bentuk absurditas termanifestasi dalam penggambaran semesta yang absurd, upaya tokoh dalam pencarian makna dan kedamaian hidup di tengah kekacauan, serta munculnya konsep spiritualisme yang tidak lazim melalui pemujaan terhadap hewan. Penelitian Ini menyimpulkan bahwa simbolisasi kera dalam naskah tersebut bukan sekadar figuratif, melainkan representasi dari keterasingan manusia dan upaya sia-sia dalam mencari pegangan hidup di tengah dunia yang tak masuk akal.Kata kunci: Absurdisme, Manufaktur Anatomi Kera, Albert Camus, Semiotika, Simbolisme Hewan
Representasi Israel dalam Media Massa Daring CNN Indonesia: Analisis Wacana Kritis Theo Van Leeuwen Juliyanti, Herliana; Wahyuni, Ian; Mubarok, Ahmad
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 10, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v10i2.22713

Abstract

Fungsi media tidak hanya sekadar menyajikan fakta, tetapi juga dapat melakukan konstruksi sosial berdasarkan ideologi media. Dalam konteks ini, tujuan peneliti adalah menelaah cara Israel direpresentasikan oleh CNN Indonesia melalui pemberitaan konflik dengan Palestina, terutama pada periode Oktober 2023 hingga Agustus 2024. Representasi tersebut dianalisis menggunakan pendekatan analisis wacana kritis untuk mengetahui bagaimana Israel dimunculkan dalam teks berita. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian kepustakaan. Data yang dikumpulkan berupa kutipan teks dari berita daring CNN Indonesia yang membahas konflik Israel-Palestina. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode Simak Bebas Libat Cakap (SBLC), teknik dokumentasi, dan teknik catat. Dalam penelitian ini digunakan teori Analisis Wacana Kritis (AWK) model Theo Van Leeuwen, khususnya strategi inklusi, untuk menganalisis cara Israel dimunculkan dalam pemberitaan. Data dianalisis menggunakan metode padan referensial dengan teknik Pilah Unsur Penentu (PUP) dan Hubung Banding Menyamakan (HBS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya bentuk strategi inklusi yang digunakan CNN Indonesia untuk menampilkan Israel dalam teks berita, diantaranya yaitu diferensiasi-indiferensiasi digunakan untuk menampilkan Israel sebagai aktor tunggal yang bertanggung jawab atas penderitaan warga palestina; objektivitas-abstraksi digunakan untuk menegaskan perlakuan ataupun jumlah korban imbas serangan Israel; kategorisasi, identifikasi dan determinasi digunakan untuk menampilkan citra Israel yang cenderung negatif; individualisasi-asimilasi digunakan untuk menjelaskan bahwa yang bertanggung jawab hanya pihak Israel secara individu atau berkelompok; dan asosiasi-disosiasi digunakan untuk menunjukkan ada atau tidaknya keterkaitan Israel terhadap konflik lainnya. Mengenai representasi, CNN Indonesia membentuk konstruksi makna melalui pemilihan kata, frasa, dan struktur kalimat yang menunjukkan Israel dengan konotasi negatif sehingga dapat menggiring opini pembaca.
AN ANALYSIS OF FLOUTING MAXIM IN ANYONE BUT YOU (2023) FILM Ardelia, Diva Laili; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 10, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v10i2.23185

Abstract

Communication plays a crucial role in daily interactions, and to ensure effective exchanges, certain conversational rules must be followed. When these rules are intentionally broken, the resulting implications often reveal more than the words themselves. This research analyzes the flouting of conversational maxims as proposed by Grice in the romantic comedy film Anyone But You (2023), focusing on the main characters, Bea and Ben. Using a qualitative descriptive method, the study identifies and categorizes instances in which the characters flout the maxims of quantity, quality, relation, and manner, and aims to identify the strategies they use to flout these maxims. The data, drawn from the characters' dialogues, reveal how flouting is employed to express emotional complexity, especially in the context of their love-hate relationship. The results show that Bea frequently flouts the maxim of quantity to emphasize her argument and persuasion, while Ben often flouts the maxim of relevance by redirect the conversation and giving unrelated comments. They both also flout the maxims of quality and manner to create humor, conceal true feelings. This study highlights how such linguistic strategies enhance the narrative, and it contributes to a deeper understanding of pragmatic phenomena in cinematic dialogue. Additionally, this research has differences from prior studies by applying the flouting maxim theory to romantic comedies with love-hate relationship dynamics.Keywords: Flouting Maxim, Romantic Comedy, Anyone but You
The Representation of Campbell's Monomyth in Mission: Impossible Dead Reckoning Part One (2023) Film Devianti, Helfina; Kuncara, Singgih Daru
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 10, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v10i2.19051

Abstract

This study aimed to determine the representation of monomyth in the Mission: Impossible Dead Reckoning Part One film through the character Ethan Hunt using Campbell’s hero’s journey theory. This study also analyzed the plot and Ethan’s characterization to find out whether the plot in the modern film is related to Campbell’s hero’s journey theory. This study also focused on Ethan’s journey as the main character who goes through various events according to Campbell’s hero’s journey. The data source in this study is the Mission: Impossible Dead Reckoning Part One film. The story in this film was relevant to the modern world, exploring the dangers of out-of-control AI technology. The data taken in this study were dialogues, monologues, and events that represent the hero’s journey experienced by Ethan as the main character. The data collection technique was watching the film repeatedly, looking at the transcription of the film, highlighting important events, and taking notes for the analysis. This study used a structuralism approach that concentrates more on identifying and describing the structures in the hero’s journey. The analysis of this data showed that Mission: Impossible - Dead Reckoning Part One successfully represents the monomyth through the character of Ethan by using Campbell’s hero’s journey theory. The analysis of the plot and Ethan’s characterization in this film showed that although this film is modern, Campbell’s hero’s journey theory is still relevant and applicable, even though the story has a different context from traditional myths or legends.
The Symbols of Anxiety in Rumaan Alam’s “Leave The World Behind” Satria, Ridho Pratama; Prafitri, Wilma; Muhajir, Fatimah
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 10, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v10i2.24780

Abstract

This research examines the meanings of the symbols appearing in Rumaan Alam's novel "Leave The World Behind." The discussion for the meaning of these symbols utilize the New Criticism theory. This study found two important symbols from the story: the house and the animal (deer and flamingo). The house represents the calm and well-prepared personality of the homeowner. The animals represent the mode or the passage of transportation. These symbols emerge to explain the issue of anxiety inherent in humans. The animals represent the full meaning of anxiety. When anxiety arises, humans tend to flee to protect themselves. The house represents the need to remain calm and prepared to face the anxiety that arises.
The Ideas of Love in William Shakespeare’s Sonnets: An Existential-Psychological Analysis Based on Rollo May’s Theory of Love Tantri, Agra Liz; Muhajir, Fatimah
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 10, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v10i2.24058

Abstract

This study aims to examine the representation of the idea of love in three famous sonnets by William Shakespeare: Sonnet 18 (“Shall I compare thee to a summer’s day?”), Sonnet 116 (“Let me not to the marriage of true minds”), and Sonnet 64 (“When I have seen by Time’s fallen hand defaced”), written during the Renaissance period. Using a humanistic approach, this study seeks to uncover how Shakespeare portrays love as a human experience using Rollo May's existential theory of love, which encompasses four forms of love: Sex, Eros, Philia, and Agape. The approach used was qualitative-descriptive, with textual analysis of lines of sonnets containing the theme of love. The focus of the research was to identify how Rollo May’s forms of love can be found and interpreted in those sonnets. The results show that the three sonnets do not emphasize the physical aspect of love (sex), but rather present a deeper and more complex form of love. The findings demonstrate that love in Shakespeare's sonnets has an existential dimension that aligns with Rollo May's view of love as a profound and meaningful human experience.

Page 1 of 2 | Total Record : 11