cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Naditira Widya
ISSN : 14100932     EISSN : 25484125     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 1 (2011): April 2011" : 7 Documents clear
SUMBER BAHAN DAN TRADISI ALAT BATU AWANG BANGKAL Nia Marniati Etie Fajari
Naditira Widya Vol 5 No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i1.61

Abstract

Abstrak. Awang Bangkal tercatat sebagai salah satu situs paleolitik tertua di Kalimantan bagiantenggara. Penelitian pada 1970an telah berhasil menemukan kapak-kapak perimbas di beberapalokasi yang berada di aliran Sungai Riam Kanan ini. Kini penelitian lebih lanjut di lokasi tersebutsulit dilakukan, karena sebagian besar badan Sungai Riam Kanan telah tenggelam akibatpembendungan sungai untuk waduk pembangkit listrik. Yang masih tampak tersisa di daerahAwang Bangkal saat ini adalah perbukitan yang mengandung sumber batuan. Makalah ini akanmemaparkan dan membahas hasil survei di Awang Bangkal pada tahun 2010 yang berhasilmengumpulkan sampel batuan bahan alat dan beberapa temuan artefaktual. Hasil analisis temuanmemberikan gambaran mengenai jenis batuan apa saja yang digunakan untuk membuat alatbatu, serta tradisi budaya alat batu yang berkembang di Awang Bangkal. Jika dilihat dari tradisi alatbatunya, temuan artefaktual di situs ini tidak hanya menunjukkan ciri teknologi paleolitik tetapi jugateknologi neolitik. Hal ini dibuktikan dengan temuan beliung batu dan batu berbentuk paku yangsudah dikerjakan dengan baik dan dihaluskan.
BARK-CLOTH AND BARK-CLOTH BEATER FROM THE INDONESIAN ARCHIPELAGO Sunarningsih Sunarningsih
Naditira Widya Vol 5 No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i1.62

Abstract

Abstract. Archaeological remains of bark-cloths in the Indonesian Archipelago are few and leavingus only bark-cloth beaters. On the other hand, remains of bark-cloth can still be found in associationwith bark-cloth beaters in China, Taiwan, Thailand, and Malaysia. Nevertheless, a number of villagesin Indonesia are still producing bark-cloth; hence the inventory and documentation of suchethnographic data can still be carried out. Many museums in Europe collect ornamented barkcloths.Today, the productions of bark-cloths in the Indonesian Archipelago are intended as souvenirs,for instance, wall ornament. Apparently, the existence of bark-cloths in the past is closely related tothe identity of a society. Thus, this article discusses the remains of bark-cloth beaters found inIndonesia in comparison to that of in other Asian countries and their ethnographic data. Informationon bark-cloth beaters were collected from publications and archaeological research reports of BalaiArkeologi Banjarmasin (Centre for Archaeology, Banjarmasin). The outcome of the discussion wasintended to motivate further comprehensive research on bark-cloth beaters.
PENGGAMBARAN ARSITEKTUR BERKONSTRUKSI KAYU ABAD KE-9–10 MASEHI PADA RELIEF KARMAWIBHANGGA CANDI BOROBUDUR Hari Setyawan
Naditira Widya Vol 5 No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i1.63

Abstract

Abstrak. Masyarakat Jawa Kuna pada abad ke-9-10 Masehi adalah masyarakat kerajaan denganpengaruh Hindhu-Buddha pada kehidupan sehari-harinya. Hampir seluruh aspek kehidupanmasyarakat terpengaruh oleh budaya Hindhu-Buddha dari India. Hal ini dapat terlihat jelas padakarya arsitekturnya yang monumental, di antaranya berupa percandian. Dalam kaitannya denganilmu arkeologi, candi atau kompleks percandian adalah hasil karya arsitektural yang memilikiperan penting dalam merekonstruksi kehidupan manusia pada masa lalu. Relief yang dipahatkanpada dinding atau bidang candi menyimpan banyak informasi. Informasi tersebut merepresentasikankehidupan pada saat candi tersebut difungsikan oleh masyarakat pendukungnya. Hal ini dapatdiketahui pada pahatan relief di Candi Borobudur, khususnya pada relief Karmawibhangga. Dilihatdari tema ceritanya, relief Karmawibhangga pada kaki Candi Borobudur banyak memberiketerangan mengenai kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa Kuna abad ke-9-10 Masehi. Tulisanini membahas beberapa relief yang menggambarkan arsitektur bangunan berkonstruksi kayu,baik sakral maupun profan. Jadi, berdasarkan data relief Candi Borobudur, kita dapat mengetahuitipe bangunan konstruksi kayu yang didirikan pada abad ke-9-10 Masehi di Jawa Tengah.
INFORMAN DALAM PENELITIAN ETNOARKEOLOGI PADA BALAI ARKEOLOGI BANJARMASIN Wasita Wasita
Naditira Widya Vol 5 No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i1.71

Abstract

Abstrak. Tulisan ini dibahas berdasarkan pada laporan penelitian etnoarkeologi Balai ArkeologiBanjarmasin yang disimpan di perpustakaan Balai Arkeologi Yogyakarta, utamanya berkaitandengan pemilihan informan dan pemanfaatan data wawancara. Fokus studi ini adalah menemukansiapa saja informan dalam penelitian tersebut dan informasi apa yang diberikan. Caramengetahuinya dengan melihat hasil penggalian data yang terekam dalam laporan penelitian.Dengan melihat paparan data dan memperhatikan sinkron tidaknya dengan masalah penelitian,dapat diukur seberapa besar dukungan data tersebut dalam membantu meraih tujuan. Oleh karenaitu, data dapat dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu, relevan, kurang relevan, dan tidak relevandengan masalah penelitian. Sementara itu, siapa informannya akan dibedakan berdasarkanidentitasnya, sehingga muncul kategori informan sebagai pelaku budaya (penganut agama nenekmoyang,para pemimpin upacara, dan para pejabat kademangan), dan penerima warisan budaya(bukan pemeluk agama nenek-moyang dan bukan pejabat kademangan). Pemilihan informandan informasinya penting dilakukan, karena itu akan mempengaruhi hasil penelitian. Hal inilahyang akan dicemati dalam laporan penelitian etnoarkeologi di Balai Arkeologi Banjarmasin untukdiketahui langkah-langkah yang telah dilakukan. Dengan demikian, diharapkan di masa-masamendatang data informan dapat lebih mendukung analisis dan pembahasan tema penelitian.
KEHADIRAN BELANDA DAN TATA KOTA BALIKPAPAN Nugroho Nur Susanto
Naditira Widya Vol 5 No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i1.99

Abstract

Pada abad ke-19 Masehi, tepian Teluk Balikpapan yang awalnya dipandang tidak penting, menjadidaerah yang fenomenal dan strategis. Kawasan Balikpapan menjadi terkenal sebagai daeraheksplorasi tambang minyak pertama di Kalimantan oleh Belanda, yang akhirnya menjadi sumberdaya perekonomian utama dalam industri pengolahan perminyakan dan gas bumi. Peran industriperminyakan dan pengolahannya menjadikan Balikpapan daerah yang kaya dan sering dipandanglebih penting, bahkan menggeser keberadaan Tenggarong sebagai pusat kesultanan danSamarinda sebagai pusat kota adminitrasi. Tulisan ini membahas alasan pemilihan Balikpapansebagai tambang minyak pertama Belanda di Kalimantan dan perkembangannya menjadi daerahpenting di Nusantara. Dengan demikian, kita dapat mengetahui tingkat kemampuan manusiadalam memanipulasi alam dan menjadikannya sebuah lingkungan yang layak huni.
KUBUR TAJAU SANGA SANGA DAN VARIASI TRADISI BUDAYA AUSTRONESIA DI ASIA TENGGARA Hartatik Hartatik
Naditira Widya Vol 5 No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i1.100

Abstract

Kubur tajau merupakan bentuk penguburan yang menggunakan wadah berupa tajaubahan batuan atau guci keramik sebagai wadah kubur. Lima puluh dua kubur tajau telah ditemukanpada ekskavasi 2010 di Sanga Sanga. Ada beberapa aspek yang dapat diungkapkan daripengkajian kubur tajau tersebut, yaitu aspek religi, sejarah pendukung budaya kubur tajau, danaspek sosial ekonomi. Sampai saat ini, Balai Arkeologi Banjarmasin telah dapat mengungkapkankarakter Situs Sanga Sanga sebagai situs tunggal dengan pertanggalan situs awal abad ke-18Masehi. Tulisan ini mengulas beberapa hal yang belum dikaji dalam penelitian tahun 2010, yaitumengapa bekal kubur tidak ditemukan dalam himpunan kubur tajau ini? Dan, apakah hubungannyadengan tradisi kubur Austronesia? Kajian ini akan dilakukan dengan menggunakan perbandingandata penguburan di wilayah lain di Kalimantan dan analogi etnografis. Jawaban pertanyaan tersebutmemberikan pemahaman tentang sejarah kebudayaan Sanga Sanga, terutama tentang masyarakatpendukung budaya kubur tajau dan konsep kepercayaannya.
PRELIMINARY STUDY ON BURIAL CHARACTERISTICS OF HARINGEN Vida Pervaya Rusianti Kusmartono
Naditira Widya Vol 5 No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i1.101

Abstract

The archaeological remains discovered in a site reflect past human behavior attemptingto adjust oneself with one’s surrounding environment. Thus, there should have been a closerelationship between choosing a prospective activity location and human’s strategy to fulfill one’sbasic needs. Among the sites in the central region of Kalimantan, which indicate the potency todepict the occurrence of a persisting religious-based-tradition of past civilization, is Haringen. Untilnow, one of the traditions which still show the continuity of old culture is burial. In regard to thisresearch, the effort to identify the characteristics of Haringen burial was carried out by using ethnoarchaeologicalapproach. Based on analogical analysis on ethnographic data of the Maanyancommunities who reside in Haringen today, the discussion was foussed on past human behavior inHaringen concerning death management, both involving tangible and intangible features. Therefore,I assume the Haringen burial characteristic is an implementation of the concept of Kaharinganbelief, which is principally, founded from religious concepts occurred in prehistoric period; a periodwhen the concept of ancestor worship was initially developed and elaborated with the concept of‘axis mundi’, which is materialized in form of terraced structures.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 17 No 1 (2023): Naditira Widya Volume 17 Nomor 1 Tahun 2023 Vol 16 No 2 (2022): Naditira Widya Volume 16 Nomor 2 Tahun 2022 Vol 16 No 1 (2022): Naditira Widya Volume 16 Nomor 1 Tahun 2022 Vol 15 No 2 (2021): NADITIRA WIDYA VOLUME 15 NOMOR 2 OKTOBER 2021 Vol 15 No 1 (2021): NADITIRA WIDYA VOLUME 15 NOMOR 1 APRIL 2021 Vol 14 No 2 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 2 OKTOBER 2020 Vol 14 No 1 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 1 APRIL 2020 Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 13 No 1 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 13, No 1 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 12 No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018 Vol 12, No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018 Vol 12, No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018 Vol 12 No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018 Vol 11, No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017 Vol 11 No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017 Vol 11 No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017 Vol 11, No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017 Vol 10 No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016 Vol 10, No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016 Vol 10, No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016 Vol 10 No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016 Vol 9 No 2 (2015): OKtober 2015 Vol 9, No 2 (2015): OKtober 2015 Vol 9, No 1 (2015): April 2015 Vol 9 No 1 (2015): April 2015 Vol 8, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 8 No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 8 No 1 (2014): April 2014 Vol 8, No 1 (2014): April 2014 Vol 7, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 7 No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 7, No 1 (2013): April 2013 Vol 7 No 1 (2013): April 2013 Vol 6 No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 6, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 6 No 1 (2012): April 2012 Vol 6, No 1 (2012): April 2012 Vol 5, No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 5, No 1 (2011): April 2011 Vol 5 No 1 (2011): April 2011 Vol 4 No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 4, No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 4 No 1 (2010): April 2010 Vol 4, No 1 (2010): April 2010 Vol 3 No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2 Vol 3, No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2 Vol 3 No 1 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.1 Vol 3, No 1 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.1 Vol 2, No 2 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.2 Vol 2 No 2 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.2 Vol 2, No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1 Vol 2 No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1 Vol 1, No 2 (2007): Naditira Widya Volume 1 Nomor 2 Tahun 2007 Vol 1 No 2 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.2 Vol 1 No 1 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.1 Vol 1, No 1 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.1 No 16 (2006): Naditira Widya Nomor 16 Oktober 2006 No 16 (2006): Naditira Widya Nomor 16 Oktober 2006 More Issue