Articles
9 Documents
Search results for
, issue
"Vol 7 No 1 (2013): April 2013"
:
9 Documents
clear
POTENSI SITUS GUA HUNIAN PRASEJARAH DI KAWASAN KARST PEGUNUNGAN MERATUS, KALIMANTAN SELATAN
Bambang Sugiyanto
Naditira Widya Vol 7 No 1 (2013): April 2013
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (186.081 KB)
|
DOI: 10.24832/nw.v7i1.90
Abstrak. Situs gua prasejarah yang telah memberikan informasi yang komprehensif mengenai pemukiman adalahGua Babi dan Gua Tengkorak yang ditemukan di zona utara lingkungan karst Pegunungan Meratus. Kawasankarst ini ditemukan memanjang dari zona utara sampai dengan selatan. Setiap zona menunjukkan kronologi okupasiyang berbeda-beda dari masa Mesolitik sampai Neolitik. Tulisan ini membahas faktor-faktor yang menjadi dasarpertimbangan manusia prasejarah dalam mengokupasi kawasan karst Pegunungan Meratus. Studi ini dilakukandengan menggunakan metode deskriptif dan penalaran induktif. Hasil studi menunjukkan bahwa okupasi kawasanPegunungan Meratus telah terjadi sekitar 6.000 tahun lalu oleh kelompok manusia yang memiliki mata pencaharianberburu dan mengumpulkan makanan. Kegiatan okupasi di kawasan karst tersebut dilandasi oleh pertimbanganpotensi air bersih dan sumber daya alimentasi yang potensial yang mendukung eksistensi keseharian manusia.
METAL AGE AND ITS PROBLEMS IN SOUTH KALIMANTAN
Sunarningsih Sunarningsih
Naditira Widya Vol 7 No 1 (2013): April 2013
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3686.595 KB)
|
DOI: 10.24832/nw.v7i1.91
Abstract. Metal age in Indonesia is the period when humans were familiar with metalworking. In general, metaltools were used for either everyday or ritual purposes. However, there are also metal tools which are used asideofacts as well as technofacts. The results of a number of archaeological researches in South Kalimantanindicate that data of metal tools are very few. Therefore, the determination on the earliest use of metal tools andthe varieties of its use has not been comprehensively understood. This paper discusses a number of archaeologicalresearches in Kalimantan in the effort to identify problems related to metal culture. The research method used inthis study was descriptive and inductive reasoning. Data were collected by studying research reports of the Centrefor Archeology, Banjarmasin, literatures on metal culture in Indonesia as well as metal tools references of thecollection of Lambung Mangkurat Museum. The results showed that metal age sites in South Kalimantan aresettlements indicated by material cultures of fragments of iron tools or iron slag. Besides fragments of iron, neitherthe complete artefacts nor the chronology, have been identified yet.
RUMAH PANJANG DAYAK MONUMEN KEBERSAMAAN YANG KIAN TERKIKIS OLEH ZAMAN: STUDI KASUS DAYAK KANAYATN DI KALIMANTAN BARAT
Hartatik Hartatik
Naditira Widya Vol 7 No 1 (2013): April 2013
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (689.411 KB)
|
DOI: 10.24832/nw.v7i1.92
Abstrak. Rumah panjang merupakan hunian tradisional komunitas Dayak yang dapat ditemukan di sejumlahtempat di pedalaman Kalimantan. Rumah panjang atau betang atau radakng atau balai atau lamin mempunyaiarsitektur dan komponen bangunan yang serupa. Arsitektur rumah panjang Dayak berupa rumah yang ditopangdengan sejumlah tiang penyangga setinggi satu hingga dua meter. Komposisi bangunan rumah panjang terdiri atassebuah aula persegi panjang yang dikelilingi oleh puluhan bilik kecil yang dihuni oleh sebuah keluarga. Auladifungsikan sebagai tempat berkumpul sehari-hari ataupun mewadahi kegiatan adat. Interaksi sosial dalam rumahpanjang tersebut membentuk ikatan batin dan rasa kebersamaan yang kuat antarpenghuninya. Namun, selamaempat dekade belakangan ini lambat-laun penggunaan rumah panjang banyak yang ditinggalkan. Tulisan inimembahas eksistensi rumah panjang dan nilai-nilai kebersamaan komunitas Kanayatn yang tidak lagi berdiam dirumah panjang. Studi ini dibahas dengan menggunakan metode deskriptif dengan penalaran induktif. Hasil kajianrumah panjang ini menunjukkan tidak dimanfaatkannya rumah panjang sebagai hunian komunal tidak berartihilangnya nilai kebersamaan yang selama ini telah mengakar dalam kehidupan komunitas Dayak. Namun demikian,perubahan gaya hidup tersebut tetap menbawa dampak yang signifikan, yaitu merenggangnya proses interaksisosial sehari-hari.
PELESTARIAN KAWASAN PECINAN SINGKAWANG, PROVINSI KALIMANTAN BARAT
Ida Bagus Putu Prajna Yogi
Naditira Widya Vol 7 No 1 (2013): April 2013
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (184.201 KB)
|
DOI: 10.24832/nw.v7i1.93
Abstrak. Indonesia adalah negara yang lambat-laun memudar sejarah eksistensinya. Kehilangan tersebut diakibatkanoleh banyaknya bukti fisik sejarah Indonesia yang dihancurkan demi sejumlah faktor. Di antara faktor-faktor tersebutyang sering dijadikan alasan penghancuran selama empat dekade belakangan ini adalah pembangunan masyarakatyang sejahtera. Salah satu bukti fisik yang sedikit demi sedikit diabaikan kelestariannya adalah kawasan Pecinan diKota Singkawang. Tulisan ini membahas komunitas Cina di Singkawang dalam perkembangan sejarah Indonesiadan strategi pelestarian kawasan Pecinannya. Studi tersebut dilakukan menggunakan metode deskriptif-analitisdengan penalaran induktif. Hasil studi menunjukkan bahwa komunitas Cina telah berkontribusi dalam perkembanganperekonomian di kawasan Singkawang. Dengan demikian, penciptaan kawasan Pecinan dapat diajukan sebagaisalah satu strategi pelestarian sekaligus pemanfaatan cagar budaya Kota Singkawang.
LINGKUNGAN PENGENDAPAN DI SITUS NEGERI BARU, KALIMANTAN BARAT
Yuka Nurtanti Cahyaningtyas
Naditira Widya Vol 7 No 1 (2013): April 2013
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (8271.291 KB)
|
DOI: 10.24832/nw.v7i1.172
Situs Negeri Baru terletak di tepi aliran Sungai Pawan yang bermuara di Selat Karimata. Satuan batuandi Situs Negeri Baru adalah aluvium dan endapan rawa, yang terdiri atas lingkungan pengendapan aluvium resen,aluvium tua, dan endapan rawa dataran pantai. Tulisan ini membahas lebih jauh karakteristik lingkungan pengendapandi kawasan Situs Negeri Baru. Studi ini dilakukan dengan analisis sedimentologi dan stratigrafi berdasarkan datadari delapan belas kotak ekskavasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa korelasi perubahan lingkungan pengendapansecara lateral dan vertikal pada rangkaian endapan kuarter di Situs Negeri Baru diindikasikan merupakan perubahandari lingkungan permukaan pantai atas (upper shoreface) menjadi sol. Lingkungan pengendapan ini terletak padaestuari dan permukaan pantai (shoreface) dan sangat dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut.