cover
Contact Name
Arsyl Elensyah Rhema Machawan
Contact Email
arsyl.machawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
arsyl@umy.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Japanese Language Education and Linguistics
ISSN : 25975277     EISSN : 26150840     DOI : -
Core Subject : Education,
Journal of Japanese Language Education and Linguistics (JJEL) is an online journal, open access peer review journal, published twice a year every February and August. This journal is for all contributors who are concerned with research related to the study of Japanese language education and Japanese Linguistics.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2017): Agustus" : 15 Documents clear
Pandangan Mahasiswa Penutur Bahasa Jepang Terhadap Privasi dalam Komunikasi Ditinjau dari Gender Sonda Sanjaya
Journal of Japanese Language Education and Linguistics Vol 1, No 1 (2017): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jjlel.1101

Abstract

Pandangan mahasiswa dan mahasiswi penutur bahasa Jepang terhadap privasi dalam komunikasi yang tidak diketahui dan dipahami para pembelajar bahasa Jepang menyebabkan terjadinya kesalahpahaman dalam komunikasi bahasa Jepang. Guna mengurangi gangguan komunikasi dan kesalahpamahan, maka diperlukan kajian penelitian mengenai privasi dalam komunikasi di kalangan mahasiswa penutur bahasa Jepang berdasarkan gender. Penelitian ini dilakukan dengan metode analisis kontrastif dengan tujuan mengidentifikasi tingkat keterbukaan mahasiswa dan mahasiswi penutur bahasa Jepang mengenai privasi dalam komunikasi, mengidentifikasi faktor penyebab mahasiswa dan mahasiswi penutur bahasa Jepang membicarakan privasi kepada mitra tutur, mengidentifikasi persamaan dan perbedaan respons mahasiswa dan mahasiswi penutur asli bahasa Jepang terhadap topik pembicaraan yang berkaitan dengan privasi.         Penelitian ini dilakukan dengan teknik survey dengan mendistribusi kuesioner kepada 109 responden (31 laki-laki dan 78 perempuan). Responden adalah mahasiswa dan mahasiswi penutur asli bahasa Jepang di Jepang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam hal privasi mahasiswa penutur bahasa Jepang cenderung lebih tertutup daripada mahasiswi penutur bahasa Jepang. Kemudian, baik mahasiswa maupun mahasiswi penutur bahasa Jepang menilai bahwa faktor yang menyebabkan penutur membicarakan privasi adalah hubungan kepercayaan atau rasa saling percaya. Namun demikian, tingkat intimasi lebih dijadikan faktor pertimbangan bagi mahasiswi penutur bahasa Jepang daripada mahasiswa penutur bahasa Jepang. Kemudian, dalam hal respons terhadap pertanyaan mengenai privasi, mahasiswa penutur bahasa Jepang cenderung lebih tegas untuk tidak menyampaikan informasi privasi daripada mahasiswi penutur bahasa Jepang. 
Noni dan Temo dalam Serial Drama Jepang: Kajian Sintaksis dan Semantis Arsyl Machawan
Journal of Japanese Language Education and Linguistics Vol 1, No 1 (2017): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jjlel.1106

Abstract

Penelitian ini adalah suatu kajian sintaksis dan semantis mengenai setsuzokujoshi noni dan temo dalam percakapan serial drama Jepang. Noni dan temo sering digunakan oleh orang Jepang dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya sering ditemukan juga penggunaannya dalam acara televisi, serial drama Jepang, dan lain-lain. Noni dan temo merupakan salah satu materi pembelajaran pada jenjang S1. Dalam tesis ini penulis mencoba untuk mendeskripsikan apakah materi noni dan temo yang diberikan di bangku perkuliahan sama dengan penggunaannya dalam realita kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang.Menurut para ahli makna noni dan temo dikategorikan menjadi masing-masing empat makna sesuai konteks kalimatnya, noni yang bermakna konsekwensi yang gagal, hubungan yang kontras, diluar prediksi, serta menyatakan perasaan kecewa. Sementara temo bermakna untuk menyatakan hal yang kontradiksi, kalimat majemuk, pertanyaan terhadap suatu hal, serta bermakna kenyataan dan kebalikan dari kenyataan. Selain kategorisasi tersebut, akan dilihat fungsi noni dan temo yang digunakan bersama pada kalimat bermakna keadaan, aktifitas, pengaruh, maksud atau keinginan, serta kalimat tanya.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa makna dan fungsi noni dan temo yang dikemukakan oleh para ahli, semuanya muncul pada serial drama Jepang. Sementara pada teks bahan ajar ada yang tidak muncul. Yaitu, noni yang bermakna mengontraskan suatu hal tidak ditemukan. Kemudian, pada teks bahan ajar, temo yang digunakan bersama kalimat bermakna pengaruh, kalimat yang bermakna maksud atau keinginan tidak ditemukan. Selanjutnya, noni yang digunakan bersama kalimat yang bermakna aktifitas, kalimat yang bermakna pengaruh, kalimat yang bermakna maksud atau keinginan, serta kalimat tanya  tidak ditemukan.                              
Respon Terhadap Pujian Pembelajar Bahasa Jepang Rosi Rosiah
Journal of Japanese Language Education and Linguistics Vol 1, No 1 (2017): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jjlel.1102

Abstract

Dalam berkomunikasi dengan bahasa Jepang pujian merupakan ungkapan yang sering digunakan oleh orang Jepang dalam membuka sebuah percakapan dan merupakan sebuah prototipe orang Jepang bahwa mereka sangat sering memuji lawan bicara. Sebagai pembelajar bahasa Jepang yang nantinya akan berinteraksi langsung dengan penutur asli bahasa Jepang. Penting untuk mengetahui respon seperti apa yang akan digunkan sebagai penelitian pendahuluan. Penelitian ini mengenai respon terhadap pujian pembelajar bahasa Jepang Indonesia, khususnya pembelajar bahasa Jepang UPI tingkat IV. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pembelajar bahasa Jepang merespon pujian dalam bahasa Jepang.Hasil dari Data dikumpulkan dengan Discourse Complement Test (DCT) , yang terdiri dari 18 situasi kepada 20 sampel penelitian adalah Pembelajar bahasa Jepang banyak merespon pujian dengan kategori menerima dan dengan strategi yang paling banyak digunakan adalah menolak pujian. Pembelajar bahasa Jepang menggunakan kategori menerima sesuai dengan teori kesantunan apabila kita menerima pujian maka, dianggap menjaga positif face lawan bicara.
Kesalahan Penggunaan ~Nakerebanaranai dan ~Bekida Azizia Freda
Journal of Japanese Language Education and Linguistics Vol 1, No 1 (2017): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jjlel.1107

Abstract

Penelitian ini membahas tentang kesalahan penggunaan ~nakerebanaranai dan ~bekida para pembelajar bahasa  Jepang semester VIII Universitas Negeri Surabaya. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kemiripan makna yang dimiliki keduanya, yaitu menyatakan suatu keharusan yang memungkinkan pemakaiannya tidak sesuai dengan konteks kalimat. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk kesalahan penggunaan verba bantu~nakerebanaranai dan ~bekida, mengetahui penyebab kesalahannya, dan mengetahui metode mengatasi kesalahan.            Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.  Penelitian ini menggunakan metode tersebut karena terdapat perhitungan angka-angka untuk mengukur instrument tes yang akan dijadikan sebagai data dengan metode kuantitatif dan dianalisis secara deskriptif dengan metode kualitatif. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengambil data dalam penelitian ini adalah tes tertulis, angket, dan wawancara.            Hasil penelitian menyatakan bahwa pembelajar bahasa Jepang semester VIII Universitas Negeri Surabaya dalam menggunakan verba bantu ~nakerebanaranai dan ~bekida masih ada yang belum bisa membedakan penggunaan kedua verba tersebut. Hal ini dapat diketahui dengan kesalahan dalam makna dan gramatikal. Kesalahan yang paling banyak dilakukan oleh pembelajar pada verba bantu ~nakerebanaranai  adalah ~nakerebanaranai yang menyatakan bahwa subjek tidak dapat mengontrol keadaan sesuai dengan keinginan diri sendiri. Sedangkan pada verba bantu ~bekida, kesalahan terbanyak terdapat dalam ~bekida dengan pola kalimat ~bekidewanai.            Penyebab kesalahan yang dilakukan oleh pembelajar disebabkan oleh ketidaktahuan akan pembatasan kaidah, salah menghipotesiskan konsep, penerapan kaidah yang tidak sempurna, dan penyamarataan berlebihan. Hal ini dapat diatasi dengan pengajar hendaknya menjelaskan secara detail dengan mencari dan membaca berbagai sumber ajar sebagai acuan untuk mengajar. Pengajar perlu memberikan materi pengajaran dengan metode yang lebih menarik, pengajar seharusnya mengajarkan tentang pembentukan struktur kedua verba bantu secara jelas dan terperinci dengan berbagai contoh kalimat. 
Analisis Kontrastif Kalau dalam Bahasa Indonesia dengan To, Ba, Tara dalam Bahasa Jepang Thamita Indraswari
Journal of Japanese Language Education and Linguistics Vol 1, No 1 (2017): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jjlel.1103

Abstract

Pada Bahasa Jepang maupun Bahasa Indonesia, dijumpai jenis kalimat luas bertingkat yang menyatakan syarat. Pada Bahasa Indonesia, jenis kalimat ini ditandai oleh penggunaan konjungsi kalau dalam kalimat. Sedangkan pada Bahasa Jepang, kalimat yang menyatakan syarat diwujudkan dengan penggunaan partikel to, ba, dan tara. Artikel ini berisi tentang deskripsi persamaan dan perbedaan to, ba, tara dalam Bahasa Jepang dan kalau dalam Bahasa Indonesia. Fokus pembahasan persamaan dan perbedaan diarahkan pada segi makna, kategori predikat, dan modus kalimat. Kalau dalam Bahasa Indonesia memiliki tujuh kategori makna. To memiliki tujuh kategori makna, ba empat kategori makna, dan tara tiga kategori makna.   Sehingga, kalau dalam bahasa Indonesia menjadi divergen ketika diterjemahkan dalam bahasa Jepang. Ada lima makna dari kalau yang bisa dipadankan langsung dengan to, sedangkan dua makna lain lebih tepat dipadankan dengan ba atau tara. Untuk memilih padanan yang tepat, hal yang perlu diperhatikan adalah makna serta modus kalimat dari bahasa Indonesia dan bahasa Jepang; khususnya makna serta modus yang menunjukkan gejala shinki, ketsujo dan bunretsu. Dari segi kategori predikat dalam kalimat, baik bahasa Jepang maupun bahasa Indonesia menunjukkan karakteristik yang berpadanan. Tetapi, dari segi modus kalimat,  khusus untuk ba, saat modus menyatakan imperatif, permohonan, saran, ajakan atau kalimat yang menyatakan maksud predikat tidak bisa berupa verba; kecuali jika subjek dalam klausa I dan klausa II berbeda. Juga, diperbolehkan jika predikat dalam klausa I menjelaskan kondisi dari topik klausa. 

Page 2 of 2 | Total Record : 15