cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
journal.pm.uinsuka@gmail.com
Editorial Address
Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta 55281, Indonesia.
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan
ISSN : 2580863X     EISSN : 25977768     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan (ISSN : (p) 2580-863X | (e) 2597-7768 ) is a peer-reviewed journal published and managed by Islamic Community Development, Faculty of Da'wah and Communication, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta in collaboration with Asosiasi Pembangunan Sosial Indonesia (APSI) and Perkumpulan Pengembangan Masyarakat Islam (P2MI). This scientific journal specifically addresses findings, new methods, and research experiences on Muslim society development. This journal includes, but not limited to, research in social policy of development, community-based tourism, Islamic philanthropy of development, and Islamic community development. The journal has been indexed in DOAJ and accredited by the Indonesian Ministry of Research Technology and ranked Sinta 2 (second grade) by Science and Technology Index.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2018)" : 13 Documents clear
Pengelolaan Sentra Industri Kerajinan Blangkon dan Efeknya Bagi Masyarakat Kampung Bugisan Lisa Indrawati
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.074 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.022-06

Abstract

Kampung Bugisan in town of Yogyakarta is an area that is quite well-known as the center of the Blangkon craft industry. However, there is an assumption that the local government has not wholeheartedly provided an affirmative program for crafts that have long been carried out by the community. Through the absurd basic assumptions, this article would like to describe the management of the Blangkon craft industry center and its effect on the lives of the people of Kampung Bugisan. Because this article is a development of field research, I tries to narrate the facts using a qualitative approach. Data collection techniques are carried out by interview, observation and documentation. All data are seen as validity of the data and analyzed through the process of reduction data, display data, and conclusion drawing. The results of this study indicate that the emergence of the center of the Blangkon craft industry in Kampung Bugisan originated from individuals who later developed into group activities. The raw materials used are Batik cloth, drill cloth, cardboard paper or ‘kloso’, sewing thread and patchwork. The production process through several stages including preparing materials and tools, making ‘congkeng’, mewiru, making Blangkon or mblangkon, and finishing. The marketing of Blangkon handicrafts in Kampung Bugisan is done by selling at Beringharjo Market, and with online media. The positive impact of the Blangkon business in Kampung Bugisan is the creation of jobs, absorbing workers, the emergence of new craftsmen, and increasing income. But there is also another aspect that might be a challenge for the activists of the Blangkon craft industry, which is creating increasingly fierce competition and changing people’s lifestyles.[Kampung Bugisan Kota Yogyakarta merupakan kawasan yang cukup terkenal sebagai sentra industri kerajinan Blangkon. Namun ada asumsi yang muncul bahwa pemerintah daerah belum sepenuh hati memberikan afirmatif program bagi kerajinan yang sudah sejak lama dilakukan oleh masyarakat. Melalui asumsi dasar yang absurd maka artikel ini hendak mendeskripsikan pengelolaan sentra industri kerajinan blangkon dan efeknya bagi kehidupan masyarakat Kampung Bugisan. Oleh karena artikel ini pengembangan dari penelitian lapangan, penulis mencoba menarasikan fakta yang ada dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Semua data dilihat validitas datanya dan dianalisis melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa munculnya sentra industri kerajinan Blangkon di Kampung Bugisan berawal dari individu yang kemudian berkembang menjadi kegiatan kelompok. Bahan baku yang digunakan adalah kain batik, kain drill, kertas karton atau kloso, benang jahit dan kain perca. Proses produksinya melalui beberapa tahap diantaranya menyiapkan bahan dan alat, membuat congkeng, mewiru, membuat blangkon atau mblangkon, dan finishing. Pemasaran kerajinan blangkon di Kampung Bugisan dilakukan dengan menjual di Pasar Beringharjo, dan dengan media online. Dampak positif adanya usaha Blangkon di Kampung Bugisan adalah terciptanya lapangan pekerjaan, menyerap tenaga kerja, munculnya pengrajin baru, dan meningkatkan penghasilan. Namun juga ada aspek lain yang kiranya menjadi tantangan bagi para pegiat industri kerajinan Blangkon, adalah menciptakan persaingan semakin ketat dan mengubah gaya hidup masyarakat.]
Kebijakan Negara dalam Mengakomodir Agama Pribumi Perspektif Sosial-Antropologi Abd Aziz Faiz
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.216 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.022-01

Abstract

Indonesia as a multicultur state has accommodating and acknowledged the existence of indigenous religions with other names, Penghayat Kepercayaan (belivers of mystical gorup), even its position now equivalent to six religions recognized by the state, but in the context of practical services it needs to be investigated further. Unfortunately, the state has not used the definition of religion social-anthropologically yet, it uses a biased politically definition. The implication is that the state see indigenous religion as not religion. This led to the need for religiousization of it followers which led to the conflicts of mission from six world religions. Because of this, indigenous religions experienced conflict with the state, in the same time it also conflict with six world religions. Their position was finally squashed, therefore the recommendations of this paper looked at the need for Penghayat Kepercayaan to be placed in the Ministry of Religion by forming the BIMAS Penghayat Kepercayaan, at least the country put indigenous religion important and equivalent with six world religions.Indonesia sebagai negara multikultur telah mengakomodir dan mengakui eksistensi agama pribumi dengan nama lain yaitu Penghayat Kepercayaan, dan bahkan kedudukannya setara dengan agama besar, meski dalam konteks pelayanan praktis perlu diteliti lebih jauh. Sayangnya hinga saat ini negara belum menggunakan definisi agama secara sosial-antropologis, tetapi menggunakan definisi yang bias politik kekuasaan. Implikasinya adalah negara memandang agama pribumi bukan agama. Hal ini membawa perlunya agamaisasi pengikut agama pribumi yang menimbulkan konflik misi dari agamaagama besar. Karena itu, agama pribumi mengalami konflik dengan negara, juga dengan agama-agama besar sekaligus. Posisi mereka akhirnya serba terjepit, karena itu rekomendasi tulisan ini memandang perlu Penghayat Kepercayaan diletakkan di Kementerian Agama dengan membentuk BIMAS Penghayat Kepercayaan, setidaknya dengan demikian negara meletakkan agama pribumi penting dan setara dengan agama besar lainnya.
Merawat Tradisi Melestarikan Batik Lukis: Pengembangan SDM Melalui Program Capacity Building Remaja di Sanggar Kalpika Renita Rahmawati
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.616 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.022-07

Abstract

This study examines capacity building activities in preserving painting batik carried out by Sanggar Kalpika Tamansari Yogyakarta in 2018. The purpose of capacity building that has been studied, hopes to be an example for other communities. Basically, this study is the result of the development of capacity building activities carried out by Sanggar Kalpika to produce field data. In order for the resulting data to be tested for validity, I conducted a study through a qualitative approach. The process is to conduct interviews and observation studies to the actors of capacity building activities. Furthermore, the data studied was carried out by the process of data reduction, data display, and conclusion drawing. That way, this paper will explain about preparation, analysis, planning, implementation, and evaluation. An important indicator in the success of this activity is that cooperation and solidarity with each other are so strong that the work done can go according to plan. Even the support of surrounding communities who are not involved in the members though. On the other hand, I found weaknesses, namely the recruitment of members carried out only specifically for the Tamansari community. That way, the community outside Tamansari will not be able to get involved and know in detail about the activities carried out by the Sanggar Kalpika. This is due to the limited resources of the members and the increasing competition for batik painting. In addition, another prominent aspect is the recruitment of members. The membership recruitment process is not generally opened only for teenagers of Tamansari. This condition has an impact on the preservation of batik painting because of the shrinking interest of teenagers. The reason found by me, many teenagers after attending the training were not interested in participating in the advanced program because they chose to continue their studies in college.[Studi ini mengkaji kegiatan capacity building dalam melestarikan batik lukis yang dilakukan oleh Sanggar Kalpika Tamansari Yogyakarta pada tahun 2018. Tujuan capacity building yang telah dikaji, harapannya dapat menjadi contoh bagi masyarakat lain. Pada dasarnya, kajian ini hasil pengembangan kegiatan capacity building yang dilakukan Sanggar Kalpika sehingga menghasilkan data lapangan. Agar data yang dihasilkan dapat diuji validitasnya, penulis melakukan kajian melalui pendekatan kualitatif. Adapun prosesnya dengan melakukan wawancara dan studi observasi kepada para pelaku kegiatan capacity building. Selanjutnya, data yang dikaji dilakukan proses reduksi data, display data, hingga penarikan kesimpulan. Dengan begitu, tulisan ini hendak menjelaskan tentang persiapan, analisis, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Indikator penting dalam keberhasilan kegiatan ini adalah kerjasama dan solidaritas satu sama lain yang sangat kuat sehingga usaha yang dilakukan dapat berjalan sesuai dengan rencana. Bahkan dukungan masyarakat sekitar yang tidak terlibat dalam anggota sekalipun. Di sisi lain, penulis menemukan kelemahan, yaitu rekrutmen anggota yang dilakukan hanya khusus masyarakat Tamansari. Dengan begitu, masyarakat luar Tamansari tidak akan dapat terlibat dan mengetahui secara detail tentang kegiatan yang dilakukan oleh Sanggar Kalpika. Hal ini disebabkan karena keterbatasan sumber daya anggota dan semakin meningkatnya persaingan usaha kerajinan batik lukis. Selain itu, aspek lain yang menonjol adalah rekruitmen anggota. Proses rekruitmen anggota tidak secara umum dibuka hanya diperuntukkan bagi remaja Tamansari. Kondisi ini berdampak pada pelestarian batik lukis karena semakin menyusutnya minat remaja. Alasan yang dijumpai penulis, banyak remaja pasca mengikuti pelatihan tidak tertarik mengikuti program lanjutan karena memilih untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.]

Page 2 of 2 | Total Record : 13