cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. grobogan,
Jawa tengah
INDONESIA
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
ISSN : 26147203     EISSN : 25799932     DOI : -
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2579-9932 (online), ISSN: 2614-7203 (print), diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1: Mei 2022" : 11 Documents clear
Dosa Anak Lembu Emas dan Citra Diri Harun: Refleksi Kajian Biblis Keluaran 32:1-35 tentang Kepemimpinan Kristiani Andreas Joswanto; Carolina Etnasari Anjaya; Yonatan Alex Arifianto
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 1: Mei 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i1.368

Abstract

Aaron's contribution to building the statue of the golden calf set a bad precedent for Christian leadership. Aaron had the gift of experience, opportunity, and ability to save the Israelites from mortal sin, but he did not. This article aims to explore the meaning of Harun's actions in the event of the statue of the calf, provide an analysis of it, and a reflective description of the event of Christian leadership today. The research method uses a qualitative approach through a literature study approach about Aaron's leadership and his reflection on the narrative of Exodus 32:1-35. The conclusion was found that Harun's error was caused because leadership motivation was based on self-image which led to a compromising attitude towards the truth or not having the courage to oppose untruth so that it is reflective for Christian leadership to be able to stand on the truth of God's word with full trust in God and keep away selfishness and greed and unfavorable motivations. And Christian leaders are required to clean their leadership motivation from self-image and replace it with pure motivation in all service to God and others.AbstrakKontribusi Harun dalam membangun patung tuangan anak lembu emas menjadi preseden buruk bagi kepemimpinan Kristen. Harun memiliki anugerah pengalaman, kesempatan dan kemampuan untuk menghindarkan bangsa Israel dari dosa besar, namun dia tidak melakukannya. Artikel ini bertujuan mendalami makna tindakan Harun dalam peristiwa patung tuangan anak lembu, memberi-kan analisis terhadapnya dan deskripsi reflektif peristiwa tersebut terhadap kepe-mimpinan Kristen saat ini. Metode penelitian menggunakan kualitatif melalui sebuah pendekatan studi literatur tentang kepemimpinan Harun dan refleksinya pada narasi Keluaran 32:1-35. Hasil simpulan ditemukan bahwa kesalahan Harun diakibatkan karena motivasi kepemimpinan didasarkan kepada citra diri yang berujung pada sikap kompromi terhadap kebenaran atau tidak memiliki kebera-nian dalam menentang ketidakbenaran, sehingga reflektif bagi kepemimpinann Kristen harus dapat berdiri diatas kebenaran firman Tuhan dengan penuh percaya kepada Tuhan dan menjauhkan egois dan keserakahan serta motivasi yang tidak berkenan. Dan para pemimpin Kristen disyaratkan untuk membersihkan motivasi kepemimpinannya dari citra diri dan menggantikannya dengan motivasi murni dalam segala pelayanan kepada Tuhan dan sesama.
Peran Tongkonan Tallu dalam Kehidupan Bergereja Sebagai Institusi Sosial Windira Lawangan Tatung
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 1: Mei 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i1.135

Abstract

This study aims to describe that the Tongkonan is one of the important elements in the life of the Toraja people. Tongkonan not only functions as a traditional house but is also referred to as a social institution because in it there are patterns of organization, power, and leadership. Seeing its function, Tongkonan as a culture can shape human behavior for the better. This research was conducted in the Marintang Simbuang area, Mengkendek sub-district, Tana Toraja district. The theoretical studies used are culture and social institutions. As one of the cultures, Tongkonan Tallu has contributed to passing down the basics of life, both in society and in church life. Therefore, the role of Tongkonan Tallu as a culture can direct how humans behave towards life, work, time, nature, and human relationships with each other. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bahwa tongkonan merupakan salah satu elemen penting dalam kehidupan masyarakat Toraja. Tongkonan tidak hanya berfungsi sebagai rumah adat tetapi juga disebut sebagai salah satu institusi sosial, sebab di dalamnya terdapat pola organisasi, kekuasaan, dan kepemimpinan. Melihat fungsinya, tongkonan sebagai salah satu kebudayaan dapat membentuk perilaku manusia menjadi lebih baik. Penelitian ini dilakukan di daerah Marintang Simbuang, kecamatan Mengken-dek, kabupaten Tana Toraja. Adapun kajian teori yang digunakan ialah kebu-dayaan dan institusi sosial. Sebagai salah satu budaya, Tongkonan Tallu telah berkontirubusi dalam mewariskan dasar-dasar dalam kehidupan, baik dalam masyarakat maupun kehidupan bergereja. Oleh karenanya, peran Tongkonan Tallu sebagai suatu kebudayaan dapat mengarahkan bagaimana manusia berperilaku terhadap hidup, karya, waktu, alam, dan hubungan manusia dengan sesamanya.
Pendampingan Pastoral bagi Pasangan yang Bercerai Tjutjun Setiawan; Fitry Riny Lasmaria; Yanto Paulus Hermanto; Karyo Utomo
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 1: Mei 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i1.343

Abstract

Everyone certainly does not want the ark of his household to be destroyed and end in divorce. In reality, many couples divorce for various reasons, and it has an impact not only on the children and the family but also on the divorced couple. The church generally provides assistance when the married couple is about to divorce. Still, after the court's decision has been issued, which legalizes their divorce, pastoral assistance is no longer carried out. This study examines how important pastoral assistance is for divorced couples so that it can reduce the impact on their lives who are in pre-divorce or post-divorce. The method used is a literature study and using an interview instrument with one of the divorced couples, and the conclusion obtained is how important it is for the church to provide pastoral care for divorced couples so that they can continue to live and continue their daily lives and build a more spiritual life. better yet, prevent adultery due to biological needs that are not channeled as a logical consequence of a divorce. The divorced couple may be directed to be able to reconcile again if they cannot bear to control lust.AbstrakSetiap orang pasti tidak menginginkan bahtera rumah tangganya hancur dan berujung dengan perceraian. Dalam realita hidup banyak dijumpai pasangan-pasangan yang melakukan perceraian dengan berbagai alasan dan itu memberikan dampak bukan hanya terhadap anak-anak, keluarga tetapi juga terhadap pasangan yang bercerai tersebut. Gereja pada umumnya memberikan pendampingan pada waktu pasangan menikah itu hendak bercerai, tetapi setelah keluarnya putusan pengadilan yang mensahkan perceraian mereka, pendampingan pastoral tidak lagi dilakukan. Penelitian ini mengkaji bagaimana pentingnya pendampingan pastoral bagi pasangan bercerai sehingga dapat mengurangi dampak dalam kehidupan mereka yang sedang dalam pra-perceraian ataupun pasca perceraian. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dan menggunakan instrumen wawancara dengan salah satu pasangan yang bercerai, dan kesimpulan yang didapat adalah betapa penting gereja melakukan pendampingan pastoral bagi pasangan yang melakukan perceraian agar mereka tetap dapat menjalankan dan melanjutkan kehidupan sehari-hari dan membangun kehidupan rohani dengan lebih baik lagi, mencegah terjadinya perzinahan karena kebutuhan biologis yang tidak tersalurkan sebagai konsekuensi logis dari sebuah perceraian, serta tidak tertutup kemungkinan pasangan bercerai ini diarahkan untuk dapat rujuk kembali.apabila mereka tidak tahan bertarak.
Pandangan Etika Kristen terhadap Tindakan Eutanasia pada Pasien Tahap Terminal Titik Haryani
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 1: Mei 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i1.367

Abstract

This article is to show that Christian ethics have a role in the act of euthanasia in someone who is terminally ill. This decision-making is closely related to the human spirit in the realm of eternity. Suicide or murder is against the sixth commandment of the Torah. Mistakes in making decisions will result in fatal mistakes related to Heaven and Hell. The Lord Jesus is an example for humans in the face of suffering. The light sufferings of the world work out eternal glory above all that is greater. Euthanasia has pros and cons; therefore, Christians must return to the Bible as a basis for making decisions about euthanasia in terminally ill patients.Artikel ini untuk menunjukkan bahwa etika Kristen memiliki peranan terhadap tindakan  eutanasia pada seorang yang mengalami sakit tahap terminal. Pengambilan keputusan ini sangat berhubungan dengan roh manusia dialam kekekalan. Bunuh diri atau membunuh bertentangan dengan hukum ke enam dalam Hukum Taurat. Kesalahan dalam mengambil keputusan akan mengakibatkan kesalahan fatal yang berhubungan dengan Surga dan Neraka. Tuhan Yesus adalah teladan bagi manusia dalam menghadapi penderitaan. Penderitaan ringan dalam dunia mengerjakan kemuliaan kekal melebihi segala-galanya yang lebih besar. Eutanasia menjadi pro dan kontra, oleh sebab itu orang Kristen harus kembali kepada Alkitab sebagai dasar dalam pengambilan keputusan dalam tindakan eutanasia pada pasien tahap terminal.
Theopreneurship dalam Kemandirian Finansial Gereja Perintisan Franseda Sihite; Henny P Mendrofa
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 1: Mei 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i1.354

Abstract

Financial independence is very important to ensure the continuation of the ministry of a newly started church. The pastor's family's financial needs and church facilities can be supported by the way the servant of God is an entrepreneur. Theopreneurship contains a theological dimension, namely as a mandate given by God to pastors to manage the potential of themselves and their congregations, even though there are different views about whether a servant of God is an entrepreneur. This study uses the Literature Study method to explain the interests and efforts of a servant of God in entrepreneurship to support the financial independence of the pioneering church. The results of the study found that a servant of God who is starting a new church should be self-employed as a Theopreneur, who acts as a servant (doulus and huperetes) and steward (oikonomos) and also needs to teach, involve and mentor members of the congregation or community whom he serves for joint entrepreneurship so as to effectively achieve the financial independence of the pioneering church for the glory of the Kingdom of God.AbstrakKemandirian finansial sangat penting menjamin kelanjutan pelayanan sebuah gereja yang baru dirintis. Kebutuhan keuangan keluarga gembala dan fasilitas gereja dapat ditopang dengan cara hamba Tuhan itu berwirausaha. Theopreneurship mengandung dimensi teologis yaitu sebagai mandat yang diberikan Tuhan kepada para gembala untuk mengelola potensi diri dan jemaatnya, meski ada perbedaan pandangan soal baik buruknya seorang hamba Tuhan berwirausaha. Penelitian ini menggunakan metode Studi Literatur untuk menjelaskan kepentingan dan upaya seorang hamba Tuhan melakukan wirausaha guna mendukung kemandirian finansial gereja perintisan. Hasil penelitian mendapatkan bahwa seorang hamba Tuhan yang sedang merintis gereja baru patut berwirausaha secara mandiri sebagai seorang Theopreneur, yang berperan sebagai seorang pelayan (doulus dan huperetes)  dan penatalayan (oikonomos),  juga perlu mengajar, melibatkan dan melakukan mentoring terhadap anggota jemaat atau masyarakat yang dilayaninya untuk berwirauaha bersama sehingga efektif mencapai kemandirian finansial gereja perintisan bagi kejayaan Kerajaan Allah. 
Kepemimpinan Pelayan dalam Membangun Lifestyle Spiritual Generasi Digital Joni Manumpak Parulian Gultom; Martina Novalina; Didimus Sutanto B Prasetya
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 1: Mei 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i1.341

Abstract

The virtual world affects the growth of the spiritual lifestyle of the digital generation. The digital era is in a different quality of church leadership. A breakthrough in servant leadership by looking at Jesus' leadership is very significant. This article raises servant leadership as a solution to building a digital generation lifestyle. The question is; what is Servant Leadership in the Bible? How is the practice? And what strategies are used in developing a digital generation lifestyle? The objectives of the research are [1] to describe the biblical notion of servant leadership, [2] to explain the practice of leadership, and [3] to formulate strategies for developing a digital generation lifestyle. The research method is descriptive and qualitative. Servant leadership is [1] based on empathy, communication, and adaptability in small groups. [2] Passionate non-judgmental spirituality, and good verbal communication. [3] The strategy of forming a digital generation lifestyle with the capacity of the gift of the Holy Spirit, actions to become a beloved leader, and building high integrity. Research contributions; [1] pastoral team in serving the digital generation, [2] reference sources in the practice of spiritual ministry,[3] for prospective pastors and students from theological schools who are prepared to become church leaders.AbstrakDunia virtual telah mempengaruhi pertumbuhan lifestyle rohani gene-rasi digital. Generasi digital berada dalam kualitas kepemimpinan gereja yang berbeda.Terobosan baru dalam kepemimpinan pelayan dengan melihat model kepemimpinan Yesus sangat penting. Artikel ini mengangkat kepemimpinan pelayan sebagai solusi membangun lifestyle generasi digital. Pertanyaannya; apakah yang dimaksud Kepemimpinan Pelayan dalam Injil? Bagaimana praktik-nya? Serta strategi apakah yang digunakan dalam membangun lifestyle generasi digital? Tujuan dari penelitian [1] Menjabarkan pengertian kepemimpinan pela-yan yang Alkitabiah, [2] Menjelaskan praktek dalam kepemimpinan tersebut, [3] Merumuskan strategi dalam pembangunan lifestyle generasi digital. Metode pe-nelitian dengan kualitatif deskriptif. Hasil nya kepemimpinan pelayan[1] menda-sarkan atas empati, komunikasi dan adaptif dalam kelompok kecil. [2] Spiritua-litas bergairah tanpa menghakimi, dan komunikasi verbal yang baik. [3] Strategi pembentukan lifestyle generasi digital  dengan kapasitas karunia Roh Kudus, tindakan untuk menjadi pemimpin dicintai, serta membangun integritas tinggi. Kontribusi penelitian; [1] team penggembalaan dalam melayani generasi digital, [2] Sumber referensi dalam praktek pelayanan rohani,[3] untuk calon pendeta dan mahasiswa dari sekolah teologi yang dipersiapkan menjadi pemimpin gereja
Yohanes Pembaptis dan Fenomena Post-Truth di Era Digital: Sebuah Kajian Lukas 3:19-20 Rocky Samuel Karinda
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 1: Mei 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i1.358

Abstract

Pembacaan Lukas 3:19-20 tidak banyak menjadi perhatian karena terhenti pada pemahaman sebagai pemisah antara pelayanan Yohanes Pembaptis dan misi Yesus. Artikel ini berisi kajian kritik teks dan sosio-historis yang berupaya memunculkan sisi yang terpinggirkan ketika membaca Lukas 3:19-20, yaitu Lukas yang mengungkapkan pertarungan jatidiri antara Herodes dan Yohanes Pembaptis sebagai landasan penting dalam kehidupan beriman komunitas Lukas.  Melalui kajian ini akan didapatkan pemahaman bahwa Lukas 3:19-20 adalah sebuah penegasan jatidiri bagi komunitas Lukas mengenai perilaku kehidupan yang harus dipelihara dalam kehidupan beriman maupun bermasyarakat yaitu menampilkan jati diri yang berintegritas, berhati Nurani dan konsisten, dalam praktiknya menolak bungkam terhadap praktik kejahatan.
Melayani Dunia tanpa Menjadi Duniawi Immanuel Sukardi; Maria Patricia Tjasmadi; Rinawaty Rinawaty
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 1: Mei 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i1.360

Abstract

The task of a servant of God is to carry out two divine mandates at once, the spiritual mandate of salvation and the social mandate of development. Based on the initial study, there were many problems faced by God's servants in service, related to economic, emotional, and spiritual formation, which are serious problems faced by the world community as a result of the Covid-19 pandemic. The church as an institution, or God's servants as implementers of the divine mandate, is required to reformulate the service model that is relevant to the pandemic situation, during or after it. This study aims to examine how to serve the world without being "worldly". The method used is a qualitative approach (qualitative research), in which research results are presented in the form of descriptive data processed from data sets (written, oral, and behavioral observa-tions). The big dilemma above has been studied correctly and deeply through a spiritual approach without neglecting physical needs. So that God's servants can be a source of blessings in their field of service.Abstrak.Tugas seorang hamba Tuhan adalah mengemban dua mandat ilahi sekaligus, mandat spiritual penyelamatan dan mandat sosial pembangunan. Berdasarkan kajian awal, ditemui banyak permasalahan yang dihadapi oleh hamba Tuhan dalam pelayanan, terkait ekonomi, emosional, dan spiritual formation, yang merupakan persoalan serius yang dihadapi masyarakat dunia sebagai dampak pandemi Covid-19. Gereja sebagai institusi, atau para hamba Tuhan sebagai pelaksana mandat illahi, dituntut dapat merumuskan kembali model pelayanan yang relevan dengan situasi pandemi, selama atau sesudahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana cara melayani dunia tanpa menjadi “duniawi”. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif (qualitative research), di mana hasil penelitian disajikan dalam bentuk data deskriptif yang diolah dari himpunan data (tulisan, lisan, serta observasi perilaku). Dilema besar di atas telah dikaji secara benar dan mendalam melalui pendekatan rohani tanpa mengabaikan kebutuhan jasmani. Sehingga para hamba Tuhan dapat menjadi sumber berkat di ladang pelayanannya.
Pendidikan yang Misioner-Afirmatif: Sebuah Penelusuran Konsep dan Praksis Pendidikan Lembaga Penginjilan GZB di Toraja Sri Herawati P. S. Banne; Tomi Supriyanto
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 1: Mei 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i1.361

Abstract

This paper is an attempt to understand the insights and praxis of education applied by Gereformeerde Zendingsbond in Toraja as the entrance to the Gospel. The education that is applied is not only to get the Toraja people to become Christians but also as a pattern to instill and root the teachings of the Christian faith for the Toraja people and bring life to the Toraja people in a better direction. This paper uses a descriptive method with a historical study approach. The research invites readers to understand the pattern of Education in Toraja through the Gereformeerde Zendingsbond which is a pattern of Education that remains contextual to this day in Toraja. Education that is illuminated by God's Word, brought by Gereformeerde Zendingsbond, has brought the Toraja people to ever-better changes in various fields of life, including education, health, and social life. This affirmative-missionary education eventually became a pattern of education applied in schools belonging to the Toraja Church for the betterment of Toraja society.AbstrakTulisan ini merupakan upaya untuk memahami wawasan dan praksis pendidikan yang diterapkan oleh Gereformeerde Zendingsbond di Toraja sebagai pintu masuk Pekabaran Injil. Pendidikan yang diterapkan bukan sekadar untuk memperoleh masyarakat Toraja menjadi Kristen, tapi juga sebagai pola untuk menanamkan dan mengakarkan pengajaran iman Kristen bagi masyarakat Toraja serta membawa kehidupan masyarakat Toraja ke arah yang lebih baik. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi historis. Penelitian mengundang pembaca untuk memahami pola Pendidikan di Toraja melalui Gere-formeerde Zendingsbond yang merupakan pola Pendidikan yang tetap konteks-tual hingga saat ini di Toraja. Pendidikan yang diterangi oleh Firman Tuhan, yang dibawa oleh Gereformeerde Zendingsbond, telah membawa masyarakat Toraja kepada perubahan yang senantiasa lebih baik dalam berbagai bidang kehidupan, antara lain: pendidikan, kesehatan, serta sosial kemasyarakatan. Pen-didikan yang misioner-afirmatif ini pada akhirnya menjadi pola Pendidikan yang diterapkan dalam sekolah-sekolah milik Gereja Toraja untuk kemajuan masya-rakat Toraja
Pelayan Publik yang tidak Mencari Keuntungan Diri: Sebuah Refleksi Nehemia 5:14-19 Hadi Pranata; Priska Petrecia Hamenda
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 1: Mei 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i1.329

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk membangun sebuah refleksi teologis berdasarkan teks Nehemia 5:14-19 tentang sikap Nehemia yang tidak mencari keuntungan diri sendiri dalam membangun tembok Yerusalem. Metode yang digunakan adalah refleksi naratif atas teks kitab suci, Nehemia 5:14-19. 

Page 1 of 2 | Total Record : 11