cover
Contact Name
Akhmad Mustofa
Contact Email
garadaiva@gmail.com
Phone
+6287712362590
Journal Mail Official
jitipari@unisri.ac.id
Editorial Address
Jl. Sumpah Pemuda No. 18 Joglo Surakarta 57136
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI)
ISSN : 25029347     EISSN : 25794523     DOI : 10.33061/jitipari
JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) is a scientific periodical publication issued by the Faculty of Technology and Food Industry, Slamet Riyadi University, Surakarta. This journal holds the results of food research and also reviews of journals / articles in the food and industry sector. This journal is used to publish research results at the level of students, lecturers, and observers in the food sector.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 1 (2017): JITIPARI" : 10 Documents clear
KERUPUK SAYUR DENGAN VARIASI KONSENTRASI BUBUR SAWI HIJAU (Brassica rapa) DAN RASIO TEPUNG TERIGU-TAPIOKA Yoga Irawan, Yustina Wuri Wulandari & Merkuria Karyantina
JITIPARI Vol 2 No 1 (2017): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.761 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v2i1.1529

Abstract

Kerupuk sangat populer di Indonesia, mengandung pati cukup tinggi, serta dibuat dari bahan dasar campuran tepung terigu-tapioka. Kerupuk dapat juga dimodifikasi dengan bahan dari sayuran salah satunya substitusi sawi hijau. Sawi hijau mudah rusak bila terlalu lama disimpan, terkena paparan sinar matahari dan tidak segera diolah. Sawi hijau yang diolah menjadi kerupuk akan meningkatkan nilai fungsional dan gizi sawi.Variasi kerupuk sangat beragam dari bahan baku dan juga bahan pembantu. Salah satunya adalah dengan penambahan bubur sawi dalam adonan kerupuk. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian pembuatan kerupuk sayur dengan variasi konsentrasi bubur sawi hijau dan rasio tepung terigu-tapioka. Penelitian ini dilakukan dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor yaitu rasio tepung terigu-tapioka (1:3, 2:2, 3:1) dan konsentrasi bubur sawi hijau dalam 250 ml air (50 g, 100 g, 150 g, 200 g).Hasil penelitian kerupuk sawi hijau yang paling disukai panelis yaitu rasio tepung terigu 100 g, tepung tapioka 100 g (2:2) dan konsentrasi bubur sawi hijau 50 g/250 ml air. kerupuk sawi hijau tersebut mempunyai karakteristik sebagai berikut : kadar air 7,25%; kadar abu 1,30%; kadar lemak 22,35%; kadar serat kasar 9,75%; warna hijau muda (2,13); rasa sawi hijau terasa (2,33); tekstur (3,20); dan disukai panelis (3,33).Kata kunci : kerupuk, sawi hijau, tepung terigu-tapioka.
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI AWAL BAKTERI ASAM LAKTAT HALOFIL PROTEOLITIK SELAMA FERMENTASI SAUS IKAN LELE (CLARIAS SP) Niko Listiyo, Nanik Suhartatik & Kapti Rahayu Kuswanto
JITIPARI Vol 2 No 1 (2017): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.783 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v2i1.1530

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan isolat Bakteri. Asam Laktat (BAL) halofil yang mampu menghasilkan enzim proteolitik. Isolat yang diperoleh diidentifikasi awal untuk menentukan genus bakteri, sehingga didapatkan isolat yang potensial untuk dikembangkan sebagai kultur starter pada pembuatan kecap ikan lele.Dalam penelitian ini, kecap ikan lele dibuat dengan kadar garam 10% dan difermentasi selama 3, 5, dan 7 hari, dilakukan analisis total populasi BAL dengan cara ditumbuhkan pada medium deMann Rogosa Sharpe (MRS) yang telah ditambahkan CaCO3 1%, NaCl 7% dan Na Azida. Pengujian isolat BAL penghasil enzim proteolitik, dilakukan dengan cara menumbuhkan pada medium yang ditambahkan kasein 2%. Bakteri asam laktat yang tumbuh pada medium dengan kadar garam 7%, selanjutnya dilakukan skrining sifat penghasil enzim proteolitik, dengan menumbuhkan pada medium yang ditambahkan kasein 2%. Isolat yang diperoleh, dikarakterisasi menggunakan metode standar antara lain: uji morfologi sel, pengecatan Gram, uji katalase, uji produksi gas, uji pertumbuhan pada suhu, dan pH.Isolasi bakteri selama fermentasi kecap ikan lele, diperoleh isolat sebanyak 71 isolat bakteri penghasil asam. Namun berdasarkan uji konfirmasi hanya diperoleh 6 isolat BAL, dari 6 isolat tersebut dipilih 2 isolat BAL. Dengan melihat sifat-sifat karakterisitik fenotip yang muncul, berdasarkan Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology, isolat diidentifikasi sebagai genus Pediococcus sp.Kata kunci: BAL halofil proteolitik, isolasi, identifikasi, kecap ikan lele
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB DAN KARAKTERISTIK MAKANAN KADALUARSA YANG BERDAMPAK BURUK PADA KESEHATAN MASYARAKAT Liss Dyah Dewi Arini
JITIPARI Vol 2 No 1 (2017): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.098 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v2i1.1531

Abstract

Bahan pangan sering tercemar oleh mikroorganisme. Mikroba biasanya berasal dari lingkungan sekitar yang kebanyakan merupakan mikroba pembusuk. Selain itu, mikroba dapat berasal dari hasil olahan suatu bahan pangan serta pada kondisi tertentu saat penyimpanan. Karena mikroba dapat kita jumpai di mana saja maka bahan pangan sangat jarang dijumpai dalam keadaan steril. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor penyebab dan karakteristik makanan yang telah mengalami kadaluarsa. Metode yang digunakan adalah mengamati produk makanan yang sudah kadaluarsa ataupun yang belum kadaluarsa secara organoleptik dari segi warna, tekstur, bau, rasa dan ada tidaknya mikroorganisme, kemudian hasil pengamatan dibandingkan antara produk makanan yang belum kadaluarsa atau masih segar dengan produk makanan yang telah kadaluarsa. Dari penelitian dan pengamatan pada makanan kadaluarsa didapatkan hasil yaitu faktor-faktor penyebab kadaluarsa yaitu berupa kerusakan mikrobiologis, kerusakan mekanis, kerusakan fisik, kerusakan biologis dan kerusakan kimia serta karakteristik pada makanan kadaluarsa adalah karbohidrat: berubah warna, berlendir, berjamur dan bau basi; protein: cair (menggumpal dan encer), padat (lembek, berlendir dan busuk); lemak: berwarna kekuningan, bau tengik, rasa asam; gula: rasa asam dan bergas; buah dan sayur: berubah warna menjadi lebih gelas, berair dan lembek dan makanan kaleng: menggembung dan berkarat pada kemasan.Kata kunci : faktor penyebab, karakteristik, makanan kadaluarsa, kesehatan masyarakat
FORMULASI PERMEN JELLY EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper betle L.) – DAUN SUJI (Pleomele angustofolia) Hapsari Putri Purwaningtyas, Nanik Suhartatik & Akhmad Mustofa
JITIPARI Vol 2 No 1 (2017): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.017 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v2i1.1532

Abstract

Daun sirih merupakan tanaman herbal yang banyak tersedia di Indonesia. Daun sirih banyak mengandung minyak atsiri, polifenol, dan flavonoid. Antioksidan yang sangat bermanfaat bagi kesehatan sehingga berpotensi sebagai sumber bahan pangan fungsional. Salah satunya dapat dimanfaatkan ekstraknya untuk pembuatan permen jelly. Daun suji ditambahkan sebagai pewarna alami dari permen jelly. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi ekstrak daun sirih dan daun suji yang optimal dalam pembuatan permen jelly. Selain itu juga bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari permen Jelly yang dihasilkan. Permen jelly yang dihasilkan diharapkan dapat memenuhi standar mutu SNI dan disukai oleh konsumen. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama yaitu konsentrasi ekstrak daun sirih 1, 3, dan 5% dan faktor kedua konsentrasi ekstrak daun suji 0, 2, dan 4%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan yang mempunyai aktivitas antioksidan maksimal dan disukai konsumen adalah konsentrasi ekstrak daun sirih 5% dan konsentrasi ekstrak daun suji 2%. Permen jelly tersebut mempunyai karakteristik : aktivitas antioksidan 90,62%; total fenol 2,23 mg ekuivalen asam galat/100 g; kadar air 18,43%; kadar abu 1,49%; kadar gula total 42,21%; kekenyalan 15,85 mm devision; warna hijau tua (3,07); tekstur kenyal (3,47); rasa sirih sedikit pahit (2,07); dan disukai (2,47).Kata kunci: Permen jelly, daun sirih, daun suji, antioksidan
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN SENSORI ES KRIM TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza) DENGAN VARIASI PENAMBAHAN BUBUR BUAH NANAS (Ananas comosus) Citra Tiara, Merkuria Karyantina & Nanik Suhartatik
JITIPARI Vol 2 No 1 (2017): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.032 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v2i1.1533

Abstract

Temulawak merupakan salah satu jenis rimpang yang sering digunakan untuk bahan baku obat tradisional. Temulawak mengandung zat warna kuning (kurkumin). Begitu pula dengan nanas yang termasuk salah satu bahan pangan yang merupakan sumber antioksidan. Temulawak serta nanas belum banyak dimanfaatkan sebagai produk pangan, padahal keduanya memiliki kandungan antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomis temulawak dan nanas dengan mengolahnya menjadi es krim yang juga mengandung antioksidan tinggi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama temulawak (10, 20, dan 30 g) sedangkan faktor yang kedua bubur buah nanas (40, 50, dan 60 g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah kombinasi perlakuan ekstrak temulawak 30 g dan bubur buah nanas 60 g. Es krim temulawak nanas tersebut mempunyai karakteristik: kadar abu 0,855 %; kadar protein 1,458 %; kadar lemak 1,172%; aktivitas antioksidan 71,965 %; kecepatan meleleh 10,55 menit; overrun 7,02 %; warna kuning (3,933), tekstur lembut (3,800), rasa dan aroma temulawak terasa (4,000), rasa dan aroma nanas terasa (3,867), serta disukai oleh konsumen (2,867).Kata Kunci: Antioksidan, es krim, nanas, temulawak
KARAKTERISTIK YOGHURT SUSU WIJEN (Sesamun indicum) DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK BUAH BIT (Beta vulgaris) Guruh, Merkuria Karyantina & Nanik Suhartatik
JITIPARI Vol 2 No 1 (2017): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.878 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v2i1.1534

Abstract

Biji wijen merupakan salah satu bahan nabati yang mempunyai berbagai macam manfaat bagi kesehatan tubuh. Begitu pula dengan buah bit yang termasuk salah satu bahan pangan yang merupakan sumber antioksidan. Biji wijen serta buah bit belum banyak dimanfaatkan sebagai produk pangan, padahal keduanya memiliki kandungan antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomis biji wijen dan buah bit dengan mengolahnya menjadi yoghurt yang mengandung antioksidan tinggi dan disukai konsumen. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama prosentase biji wijen (10, 12, dan 14%) sedangkan faktor yang kedua konsentrasi ekstrak buah bit (5, 10, dan 15%). Hasil penelitian yang optimal adalah kombinasi perlakuan prosentase biji wijen 14% dan konsentrasi ekstrak buah bit terhadap susu 15%. Yoghurt susu wijen-buah bit tersebut mempunyai karakteristik sebagai berikut: aktivitas antioksidan 42,56%; kadar protein 43,95%; gula total 4,70%; pH 4,64 ; warna (3,00); rasa (2,46); tekstur (2,06); aroma (2,40); dan kesukaan keseluruhan (2,13).Kata kunci: antioksidan, biji wijen, buah bit, yoghurt.
KARAKTERISTIK SELAI FUNGSIONAL YANG DIBUAT DARI RASIO BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyhizus)-JAMBU BIJI MERAH (Psidium guajava)-NANAS MADU (Ananas comosus) DENGAN VARIASI PENAMBAHAN GULA Risti Febriani, Kapti Rahayu Kuswanto & Linda Kurniawati
JITIPARI Vol 2 No 1 (2017): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.052 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v2i1.1535

Abstract

Buah naga merah, jambu biji merah, dan nanas madu merupakan buah-buahan yang kaya akan antioksidan alami dan vitamin C. Buah-buahan tersebut memiliki potensi sebagai bahan selai. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama rasio buah naga merah: jambu biji merah:nanas madu (1:2:3, 3:1:2, dan 2:3:1), sedangkan faktor yang kedua kadar gula (50, 55, dan 60%). Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan selai yang bersifat fungsional yaitu mempunyai aktivitas antioksidan dan kadar vitamin C yang tinggi serta disukai panelis. Hasil penelitian yang direkomendasikan adalah kombinasi perlakuan rasio buah naga merah:jambu biji merah:nanas madu 3:1:2 dan penambahan gula 55%. Karakteristik selai yang direkomendasikan adalah: aktivitas antioksidan 71,34%; kadar vitamin C 82,67 mg/100g; kadar air 29,74% b/b; kadar gula 63,24% b/v; kadar pektin 1,45% b/b; kadar padatan tak terlarut 8,53% b/b. Selai yang paling baik menunjukkan warna merah; aroma buah yang dominan buah jambu biji merah; dan tekstur mudah dioles.Kata kunci: Antioksidan, buah naga, jambu biji, nanas madu, selai, vitamin C
KARAKTERISTIK BISKUIT DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG IKAN PATIN (Pangasius sp) DAN PENAMBAHAN EKSTRAK JAHE GAJAH (Zingiber officinale var. Roscoe) Aprilana Dwi Ningrum, Nanik Suhartatik & Linda Kurniawati
JITIPARI Vol 2 No 1 (2017): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.387 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v2i1.1536

Abstract

Biskuit adalah kue kering yang terbuat dari tepung terigu dan merupakan salah satu produk makanan yang populer di masyarakat, biskuit mengandung karbohidrat, protein, dan lemak sehingga bagus dikonsumsi terutama anak-anak. Biskuit yang beredar di pasaran mempunyai kadar protein yang relatif rendah yaitu minimum 9% sehingga perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kadar proteinnya. Pemanfaatan tepung ikan patin sebagai substitusi dalam pembuatan produk pangan akan meningkatkan kandungan protein, serta lebih meningkatkan kandungan gizinya. Penelitian ini dilakukan dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dua faktor yaitu rasio tepung terigu : tepung ikan patin (90 : 10)%, (85 : 15)%, (80 : 20)% dan kadar ekstrak jahe gajah (4, 6, 8, dan 10%). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formula biskuit tepung ikan patin dengan penambahan ekstrak jahe gajah yang mempunyai aktivitas antioksidan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan rasio tepung terigu : tepung ikan patin dan kadar ekstrak jahe gajah yang terbaik adalah pada rasio tepung terigu : tepung ikan patin (85 : 15)% dan kadar ekstrak jahe gajah 4%. Hasil biskuit ikan patin yang terbaik mengandung kadar air 1,71%; kadar abu 1,56%; kadar protein 20,54%; kadar lemak 10,45%; aktivitas antioksidan 81,18%; volume pengembangan 0,32%; warna kuning kecoklatan (2,80); rasa amis tidak terasa (1,20); flavour jahe terasa (2,00); memiliki kerenyahan atau tekstur renyah (2,93); dan disukai panelis (2,47).Kata kunci: Biskuit, tepung ikan patin, ekstrak jahe gajah, substitusi.
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN UJI ORGANOLEPTIK COOKIES KULIT BUAH NAGA (Hylocereus undatus) DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG AMPAS TAHU Desi Triwulandari, Akhmad Mustofa & Merkuria Karyantina
JITIPARI Vol 2 No 1 (2017): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.303 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v2i1.1537

Abstract

Cookies merupakan kue kering yang renyah, tipis, datar dan berukuran kecil. Bahan baku cookies adalah tepung terigu. Kulit buah naga dan ampas tahu dapat dimanfaatkan dalam pembuatan cookies, yang merupakan hal baru dalam industri makanan. Kulit buah naga adalah limbah yang belum banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan, padahal memiliki antioksidan yang tinggi. Selain itu ditambahkan tepung ampas tahu hasil samping dari pembuatan tahu, ampas tahu memiliki kandungan protein nabati. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan cookies yang mengandung protein tinggi dan antioksidan serta disukai oleh konsumen.Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama prosentase tepung ampas tahu (0, 10, dan 20%) sedangkan faktor yang kedua konsentrasi tepung kulit buah naga (5, 10, dan 15%).Hasil penelitian yang optimal adalah kombinasi tepung ampas tahu 10% dan tepung kulit buah naga 4% dengan kadar air air 1,69%, kadar gula total 36,23%, kadar protein 6,61%, aktivitas antioksidan 78,16%, volume pengembangan 1,09%, warna (2,40), rasa (2,00), kerenyahan (2,87) dan disukai panelis (2,73).Kata kunci: ampas tahu, cookies, dan kulit buah naga.ABSTRACT
SUBSTITUSI TEPUNG KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L.) PADA MIE KERING DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK BIT (Beta vilgaris L.) Ariska Dian Pertiwi, Yannie Asrie Widanti & Akhmad Mustofa
JITIPARI Vol 2 No 1 (2017): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.721 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v2i1.1538

Abstract

Mie adalah produk makanan yang sangat terkenal dan disukai berbagai kalangan dari mulai anak-anak hingga orang dewasa. Mie merupakan makanan yang mengandung protein yang berasal dari bahan utamanya yaitu tepung terigu protein tinggi. Substitusi tepung kacang merah akan meningkatkan kandungan protein dan meningkatkan kandungan gizi mie kering.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi perlakuan terbaik dalam peningkatan nilai gizi protein mie kering yang disukai konsumen. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor yaitu rasio tepung terigu : tepung kacang merah 85:15; 75:25; 65:35; dan kadar ekstrak bit 20; 30; 40; 50%. Dari penelitian yang sudah dilakukan kombinasi perlakuan yang terbaik dalam meningkatkan gizi protein serta yang disukai konsumen adalah pada perlakuan substitusi tepung kacang merah 15% dan kadar ekstrak bit 50%. Mie yang dihasilkan memiliki karakteristik sebagai berikut : kadar air 5,24%; kadar abu 2,24%; kadar protein 15,66%; aktivitas antioksidan 17,62%; angka asam 3,61 mg KOH/g minyak; warna merah muda terang (2,26); aroma agak langu (2,20); tekstur agak kenyal (2,26); dan kesukaan keseluruhan menunjukkan disukai oleh panelis (3,06).Kata kunci: mie, tepung kacang merah, ekstrak bit, substitusi.

Page 1 of 1 | Total Record : 10