cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 1 (2022)" : 15 Documents clear
Masalah Terkait Obat pada Pasien Onkologi: Apa yang Harus Diperhatikan oleh Apoteker? Yovita Diane Titiesari; Helin Yovina Nursalim; Jessica Nathania
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.71911

Abstract

Pasien kanker seringkali memiliki regimen terapi yang kompleks dan rawan terjadi kesalahan pengobatan. Penelitian ini bertujuan menentukan masalah, penyebab, dan klasifikasi obat yang berhubungan dengan masalah terkait obat (drug related problems/DRPs) pada pasien kanker. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif. Kasus DRP dilaporkan oleh apoteker klinis di rumah sakit khusus kanker selama periode Januari sampai Agustus 2021. DRP terkait obat kanker diklasifikasikan mengunakan sistem klasifikasi DRP menurut PCNE versi 9.1. Kelas terapi obat yang terlibat diklasifikasikan menggunakan klasifikasi berdasarkan MIMS. Dari 146 laporan DRP yang berhubungan dengan pasien kanker, masalah DRP yang paling banyak terjadi adalah keamanan pengobatan (63,7%) dan efektivitas pengobatan (17,81%). Penyebab DRP yang sering terjadi adalah pemilihan obat (38,06%), pemilihan dosis obat (21,94%), dan durasi terapi obat (14,84%). Selain itu, golongan obat yang mempengaruhi sistem saraf pusat, antiinfeksi, dan obat yang bekerja pada sistem kardiovaskular dan hematopoietik adalah jenis obat yang paling sering berkaitan dengan DRP. Apoteker harus lebih memperhatikan pemilihan obat dan dosis serta durasi pengobatan, tidak hanya pada kemoterapi tetapi juga pada obat-obatan pendukung kemoterapi, saat memberikan asuhan kefarmasian untuk pasien kanker.
Peran Apoteker Klinis dalam Tim Onkologi Multidisiplin untuk Meningkatkan Keamanan Pengobatan Yovita Dianie Titiesari; Luh Nyoman Vidya Saraswati
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.71912

Abstract

Pendekatan multidisiplin sering kali digunakan dalam penanganan medis pada sekelompok pasien yang memiliki kompleksitas secara patogenesis maupun pengobatannya, salah satunya pada pasien kanker. Studi ini bertujuan untuk menentukan peranan apoteker klinis dalam tim onkologi multidisiplin. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif yang datanya diambil secara retrospektif di sebuah rumah sakit kanker di Indonesia. Intervensi yang dilakukan apoteker klinis terhadap masalah terkait obat (drug related problem/DRP) diklasifikasikan menggunakan PCNE Drug Related Problem versi 9.1. Tipe intervensi yang diberikan oleh apoteker klinis kemudian dikelompokkan sesuai klasifikasi yang diajukan oleh Allenet et al. Klasifikasi ini telah tervalidasi untuk mendokumentasikan intervensi oleh apoteker klinis yaitu penambahan obat baru, penghentian obat, penggantian obat, penggantian rute administrasi obat, pemantauan obat, optimasi mode administrasi dan penyesuaian dosis. Terdapat 148 intervensi yang dilakukan oleh apoteker klinis dari 146 masalah terkait obat yang ditemukan, 79,7% dari intervensi tersebut ditujukan langsung kepada dokter penulis resep. Intervensi yang paling sering diberikan oleh apoteker klinis yang penghentian terapi (45,9%), penyesuaian dosis (24,0%) dan penggantian terapi (8,2%). Dokter sebagai penulis resep menerima dengan baik intervensi yang diberikan dan mengimplementasikan intervensi tersebutsecara penuh pada 89,7% kasus. Apoteker merupakan bagian penting dalam tim multidisiplinonkologi yang berperan aktif dalam mendeteksi dan juga mengusulkan intervensi untuk mengurangi masalah terkait obat dan meningkatkan keamanan obat. Tingginya tingkat penerimaan intervensi menunjukkan bahwa intervensi yang diberikan oleh apoteker klinis sangatlah efektif dalam pengobatan pasien.
Efektifitas Penggunaan Enoxaparin dan Fondaparinux Sebagai Antikoagulan Pada Pasien Covid-19 di RSUD Sidoarjo Novianti Fatli Azizah; Renny Nurul Faizah; Digna primasanti; Ikrimatul Khuluqiyah Prihantini; Imanda Gita Romadhian
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.71913

Abstract

Covid-19 merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh coronavirus tipe baru. Tidak hanya menyebabkan pneumonia viral, SARS-CoV-2 juga memiliki dampak terhadap sistem kardiovaskular. Sebanyak 16-49% kasus severe Covid-19 ditemukan memiliki komplikasi trombotik, yang ditandai dengan peningkatan nilai d-dimer, fibrinogen, pemanjangan waktu prothrombin, dan trombositopenia. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas penggunan obat Enoxaparin dan Fondaparinux sebagai antikoagulan pada pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sidoarjo. Desain penelitian yang digunakan adalah Observasional yang bersifat retrospektif pada pasien rawat inap Covid-19 selama pada Bulan Mei - Agustus 2020, dimana subyek terbagi dalam 3 kelompok pasien yang mendapat terapi antikoagualan injeksi sub-cutan. Masingmasing kelompok diukur kadar d-dimer sebelum dan sesudah pemberian antikoagulan. Pada kelompok 1 (pasien mendapat terapi Enoxaparin 1x injeksi per-hari) dengan rata-rata penggunaan antikoagulan selama 5,5 hari, dimana penurunan kadar d-dimer tidak signifikan. Kelompok 2 (pasien mendapat terapi Enoxaparin 2x injeksi per-hari), rata-rata penggunaan antikoagulan 5,6 hari dengan rata-rata penurunan d-dimer sebesar 1596 µg/l. Pada kelompok 3 (pasien mendapat terapi Fondaparinux 1x injeksi per-hari), rata-rata penggunaan antikoagulan 3,5 hari, dengan rata-rata penurunan d-dimer sebesar 1630 µg/l. ada perbedaan bermakna dari nilai d-dimer sebelum dan sesudah pemberian Enoxaparin 2x sehari dan Fondaparinux 1x sehari. Berdasarkan hasil statistik, diketahui bahwa kelompok pemberian antikoagulan terbaik dalam menurunkan nilai d-dimer adalah kelompok 3 (Fondaparinux).
Perbedaan Efektifitas Terapi Eritropoetin Alfa dan Beta Pada Pasien Hemodialisis Reguler di RSUD Sidoarjo Renny Nurul Faizah; Novianti Fatli Azizah; Hari Purwoko
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.71914

Abstract

Erythropoietin adalah langkah terakhir dalam pengobatan anemia yang disebabkan oleh penyakit ginjal kronis. Ada beberapa pilihan untuk eritropoietin rekombinan, yaitu eritropoietin alfa dan eritropoietin beta. Erythropoietin alfa dan beta adalah dua bentuk rhEPO yang memiliki urutan asam amino yang sama tetapi berbeda dalam rantai glikosilasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas eritropoietin alfa dan eritropoietin beta dengan mengamati peningkatan kadar hemoglobin pasien. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain pre-post-test pada 2 kelompok pasien yang mendapat terapi eritropoietin di Unit Hemodialisis. RSUD Sidoarjo periode September-Oktober 2019. Setiap kelompok diukur kadar Hbnya sebelum dan sesudah pemberian eritropoietin selama 1 bulan. Terdapat 52 responden yang memenuhi kriteria inklusi, dimana 29 pasien pada kelompok eritropoietin alfa dan 23 pasien pada kelompok eritropoietin beta. Rata-rata peningkatan Hb subjek yang menggunakan eritropoietin beta lebih besar daripada eritropoietin alfa. Berdasarkan uji statistik diperoleh nilai p=0,049 (p<0,05), artinya ada perbedaan yang signifikan antara perbedaan kadar Hb setelah eritropoietin alfa (0,02g/dl) dan eritropoietin beta (0,48g/dl ) dan tidak ada reaksi obat yang tidak diinginkan dari kedua kelompok penelitian.
Efisiensi Biaya Floor Stock Dengan Paket Tindakan di Poliklinik Bedah RSUP Dr. Sardjito Anisa Dewi Ratnaningtyas
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.72123

Abstract

Floor stock atau sistem persediaan lengkap di ruangan merupakan pendistribusian sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai untuk persediaan di ruang rawat disiapkan dan dikelola oleh Instalasi Farmasi. Pengelolaan obat yang efisien merupakan salah satu faktor yang penting dalam keberhasilan manajemen secara keseluruhan, serta bertujuan untuk terjaminnya ketersediaan obat yang bermutu baik, secara tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu serta digunakan secara rasional sehingga dana yang tersedia dapat digunakan dengan sebaik-baiknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelayanan floor stock dengan paket tindakan di poliklinik bedah umum dan poliklinik bedah orthopedi RSUP Dr. Sardjito terhadap efisiensi biaya yang dikeluarkan. Penelitian ini menggunakan metode observasional deskriptif. Data diambil secara retrospektif pada 22 Maret - 11 Juni 2021 dan secara prospektif pada 14 Juni - 3 September 2021. Berdasarkan hasil penelitian, setelah dilakukan pelayanan floor stock dengan paket tindakan terjadi efisiensi biaya pengeluaran yang dibuktikan dengan adanya penurunan biaya pengeluaran sebesar 21,19% untuk poliklinik bedah umum dan 43,50% untuk poliklinik bedah orthopedi.

Page 2 of 2 | Total Record : 15