cover
Contact Name
Guskarnali
Contact Email
guskarnali@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
guskarnali@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bangka,
Kepulauan bangka belitung
INDONESIA
PROMINE
ISSN : 23547316     EISSN : 26207737     DOI : -
Jurnal ilmiah dengan nama Promine merupakan terbitan berkala ilmiah Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Bangka Belitung yang terbit setiap bulan Juni dan Desember dalam setahun yang meliputi bidang Eksplorasi (Geologi dan Geofisika), Geoteknik/Geomekanika, Pengolahan Minerba, Reklamasi, dan Pasca Tambang.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 1 (2013): PROMINE" : 6 Documents clear
GEOTHERMOMETER DAN HEAT LOSS DALAM EKSPLORASI GEOKIMIA LAPANGAN PANASBUMI DAERAH CISUKARAME, KABUPATEN SUKABUMI, PROPINSI JAWA BARAT Intan Paramita Haty; Ardian Nofri Nugroho
PROMINE Vol 1 No 1 (2013): PROMINE
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (806.837 KB) | DOI: 10.33019/promine.v1i1.63

Abstract

Keberadaan dan jenis manifestasi panasbumi mata air panas berperan penting dalam menentukan besarnya suhu reservoar dan dapat digunakan untuk menghitung besarnya hilang panas alamiah panasbumi (heat loss). Berdasarkan pengolahan data lapangan, diperoleh nilai geothermometer panasbumi Cisukarame berkisar 188°C-212°C. Diperoleh pula nilai heat loss daerah Cisukarame sebesar 19.367 kj/kg. Nilai hilang panas alamiah ini dapat digunakan untuk menentukan potensi yang dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga panasbumi
PENGELOLAAN PERTAMBANGAN YANG BERDAMPAK LINGKUNGAN DI INDONESIA JEANNE DARC NOVIAYANTI MANIK
PROMINE Vol 1 No 1 (2013): PROMINE
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.919 KB) | DOI: 10.33019/promine.v1i1.64

Abstract

Usaha Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral dan batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan serta kegiatan pasca tambang (Pasal 1 butir 6 Undang-Undang No.4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara). Pertambangan mempunyai beberapa karakteristik , yaitu tidak dapat diperbaharui (non renewable), mempunyai resiko relatif lebih tinggi dan pengusahaannya mempunyai dampak lingkungan baik fisik maupun lingkungan yang relatif lebih tinggi dibandingkan pengusahaan komoditi lain pada umumnya. Pentingnya penerapankegiatan industri dan/atau pembangunan yang berbasis lingkungan, perlu disadari oleh setiap elemen bangsa, karena persoalan lingkungan merupakan permasalahan bersama. Hanya saja dalam pratiknya, diperlukan lembaga formal pengendali yang secara yuridis berwenang untuk itu. Pengendalian kegiatan dan operasionalisasi industri, dalam prakteknya terwujud dalam konsep dan program kerja sistematis dalam bentuk perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Pengelolaan lingkungan hidup harus bermuara pada terjaminnya kelestarian lingkungan, seperti tercantum dalam Pasal 1 butir 2 Undang-Undang No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
PEMETAAN ZONASI AKUIFER AIR TANAH UNTUK SUMBER AIR BERSIH MASYARAKAT DESA BALUNIJUK Franto Franto; Rika Favoria Gusa
PROMINE Vol 1 No 1 (2013): PROMINE
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.796 KB) | DOI: 10.33019/promine.v1i1.65

Abstract

Pemanfaatan air tanah yang cenderung meningkat akan mengakibatkan berbagai dampak negatif, berupa penurunan muka air tanah, penurunan mutu air, dan penurunan tanah (Subsidence) akibat kosongnya rongga-rongga didalam tanah karena hilangnya air. Salah satu cara untuk mengetahui stratigrafi batuan dan kondisi akuifer di dalam tanah adalah dengan teknik geolistrik, karena geolistrik merupakan alat untuk mendeteksi perlapisan batuan di dalam bumi. Untuk mengetahui perlapisan batuan dan kondisi akuifer di Desa Balunijuk maka dilakukan pendugaan geolistrik pada 4 titik sampel dengan sebaran berdasarkan topografi Desa Balunijuk, Adapun metode geolistrik yang digunakan adalah rangkaian elektroda menurut konfigurasi Wenner. Dari ke empat titik pendugaan geolistrik tersebut maka diperoleh daerah penelitian yang diwakili penampang E-F merupakan daerah paling potensial mengandung air tanah yang tersimpan dalam akuifer dangkal, dengan demikian di daerah ini dapat dilakukan kegiatan pengeboran air tanah sedangkan untuk daerah penelitian yang diwakili penampang C-D merupakan alternatif daerah yang cukup potensial mengandung air tanah yang tersimpan dalam akuifer dangkal. Namun lapisan pasir yang mengandung air tanah di daerah ini tidak setebal lapisan pasir yang dimiliki daerah penelitian dalam penampang E-F. Sedangkan untuk Lapisan batuan di Desa Balunijuk terdiri dari 3 bagian yaitu: lapisan lempung pasiran dengan nilai tahanan jenis 165-18.207 Ωm, lapisankrikil pasiran dengan nilai tahanan jenis 22,5-258 Ωm, dan lapisan lempung dengan nilai tahanan jenis 2,04-20,5 Ωm serta hasil analisis air permukaan bahwa air permukaan yang diambil dari semua titik sampel tidak layak di jadikan sebagai sumber air baku air minum.
KARAKTERISTIK ENDAPAN TIMAH SEKUNDER DAERAH KELAYANG DAN SEKITARNYA KEBUPATEN BANGKA BARAT Mardiah Mardiah
PROMINE Vol 1 No 1 (2013): PROMINE
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.716 KB) | DOI: 10.33019/promine.v1i1.66

Abstract

Research site is located in Kelayang and surrounding areas, Bangka Barat Regency, Province of Bangka Belitung. Research location largely entered into PT. Timah, Tbk Contract of Work. Geographically, this area lies in 535000 – 555000 mE and 9815000 – 9835000 mN, 48S zone,with total area is approximately 400 km, consists ofland and offshore. The rock type composed of granite rock units (Late Triassic – Early Jura) and alluvial unit (Quarter) with landform units is eroded hills, alluvial plain, and fluvial. Based on the interpretation of shallow seismic data showed basin and borehole data, the study area were filled by alluvial deposits, suspected contains tin minerals bearing. The correlation from some borehole sindicates that cassiteritemineral content in an economical quantity especially at drillholes on valley mainly in the marine (offshore). The cassiterite mineralis closely associated with the presence of the valley as a place to accumulate. Based on the drilling data which is for correlation, interpreted that there are 2 layers of sediment that contain of secondary tin depositis kaksa layer above the bedrock, and mincan layer as reworking of the kaksa layer found in finesand to clayey layer.
KONTROL GEOMORFOLOGI DAN PETROLOGI TERHADAP LATERISASI ENDAPAN NIKEL DESA MOLORE DAN LAMERURU, KECAMATAN LANGGIKIMA KABUPATEN KONAWE UTARA PROVINSI SULAWESI TENGGARA Rakhmad Budi Waluyo.
PROMINE Vol 1 No 1 (2013): PROMINE
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.289 KB) | DOI: 10.33019/promine.v1i1.67

Abstract

Daerah telitian secara geografis terletak pada koordinat UTM zona 51S antara 418.500mE – 422.00mE dengan 9.630.500mN-9.635.500mN, secara administratif terletak pada desa Molore dan Lameruru, Kec.Langgikima, Kab. Konawe Utara, Prov. Sulawesi Tenggara. Bentuk lahan daerah telitian terdiri dari 5 satuan bentuk lahan yaitu bentuk lahan perbukitan berlereng curam (S1), bentuk lahan dataran (S2), bentuk lahan pantai (M1), bentuk lahan teluk (M2), dan tubuh sungai (F1). Stratigrafi daerah telitian dari batuan yang tua ke muda sebagai berikut : satuan peridotit, satuan konglomerat Pandua, dan satuan alluvial. Dari analisis kekar dan bidang sesar didapati 2 sesar yaitu sesar Molore dengan nama Normal Right Slip Fault, dan sesar pancuranbernama Reverse Right Slip Fault. Cadangan Terukur Pit Molore A6 sebanyak 3.892.473MT sedangkan cadangan terukur Pit Lamururu (A3) sebanyak 17.715.265MT. Padaluasan yang sama sebesar 22 Ha Cadangan Terukur Nikel di A6 Molore jauh lebih kecil dibandingkan dengan cadangan di A3 Lameruru. Hal ini menggambarkan bahwa laterisasi di Pit A6 Molore tidak berkembang bagus bila dibandingkan dengan laterisasi di Pit A3 Lameruru, hal ini dipengaruhi faktor bentuk lahan dimana bentuk lahan di Pit A6 Molore berupa perbukitan berlereng curam, sedangkan Pit A3 Lameruru bentuk lahannya dataran.
MINERALISASI DAN POLA ALTERASI DAERAH LAKEA, KECAMATAN LAKEA KABUPATEN BUOL, PROVINSI SULAWESI TENGAH Idarwati Idarwati
PROMINE Vol 1 No 1 (2013): PROMINE
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.473 KB) | DOI: 10.33019/promine.v1i1.68

Abstract

The research area is located in the village of Lakea, Lakea subdistrict, Buol district, Central Sulawesi Province. Constituent Lithology within research area consists of three units, these are litodem lava basalt that mainly be composed by lava andesite and lava basalt which partly fractured, volcanic breccia, and tuff; Sandstone Unit mainly composed by sandstone, mudstone, muddy sandstone, and conglomerate; and the last unit is limestone as Coral Limestone Unit. Alteration assemblage is divided into four zones, namely argillic alteration zone (silicon oxide (kuarsa), magnesium aluminum iron silicate hydroxide, potassium aluminum silicate hydroxide dan sodium calcium aluminum silicate (albit), phyllic alteration zone (serisit/muskovit-kuarsa-klorit-feldspar), propylitic alteration zone (Chlorite-serpentine, Illite, Albite, calcian, ordered, Quartz, Muscovite ), and silicified alteration zone (quartz/silica + adularia + calcit± illite). The mineralization is controlled by open space filling with disseminated distribution. Gold mineralization usually associated with pyrite, chalcopyrite, and galena. Mineralization is found fill the major structural pattern with southeast-northwest direction. The fluid inclusion measurement results obtained that microthermometry Th (homogenization temperature when the fluid trapped in the crystals) ranged from 172 ~ 332 °C with a measurement range from 180.9 to 211.0 °C, and the melting temperature (first ice melting Temperatures / Tm) average ranges -1, 2 to 0.8 C. By calculations, the depth of the formation rate is 79.4 ~ 1712 m, and under pressure about 8.2 ~ 130.3 bar.

Page 1 of 1 | Total Record : 6