cover
Contact Name
Reza Dino Mahardika
Contact Email
rezadino15@gmail.com
Phone
+6285782089890
Journal Mail Official
bioma@unj.ac.id
Editorial Address
Gd. Ki Hajardewantara Lt. 6-7 Universitas Negeri, RT.7/RW.14, Rawamangun, Kec. Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Bioma : Jurnal Biologi Indonesia
ISSN : 01263552     EISSN : 25809032     DOI : https://doi.org/10.21009/bioma.v21i2
Bioma is a national peer-reviewed and open access journal that publishes significant and important research from all area of biosciences fields such as biodiversity, biosystematics, ecology, physiology, behavior, genetics and biotechnology.
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol. 16 No. 1 (2020): Bioma" : 4 Documents clear
RASIO FREKUENSI PAKAN ALAMI Tubifex UNTUK SUBSTITUSI Artemia PADA BERBAGAI KELAS UKURAN BENIH IKAN BOTIA (Chromobotia macracanthus Bleeker) Nina Meilisza; Rina Hirnawati
Bioma Vol. 16 No. 1 (2020): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Bioma16(1).1

Abstract

Artemia merupakan pakan utama pada benih botia hingga umur tiga bulan sehingga substitusi Artemia sangat penting untuk pemeliharaan yang efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rasio frekuensi Tubifex untuk mensubstitusi Artemia pada benih ikan botia. Benih botia yang digunakan berumur satu bulan dengan bobot 35-90 mg dan panjang 13-20 mm yang dipelihara dalam sistem resirkulasi selama delapan minggu hingga berumur tiga bulan. Desain penelitian adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dua faktor yaitu faktor kesatu merupakan kelas ukuran ikan S (35-54 mg), M (55-74 mg), L (75-94 mg) dan faktor kedua berupa lima rasio frekuensi substitusi Artemia: Tubifex dari A (4:0) yaitu 4 kali sehari untuk Artemia dan 0 kali sehari untuk Tubifex, B (3:1), C (2:2), D (1:3) dan E (0:4). Lima belas perlakuan interaksi dihasilkan dari kedua faktor yaitu SA (ukuran S; rasio frekuensi A), SB, SC, SD, SE, MA, MB, MC, MD, ME, LA, LB, LC, LD, dan LE diulang dua kali. Pengamatan dilakukan dengan mengukur pertumbuhan yaitu bobot, panjang total, serta sintasan. Parameter penunjang berupa kualitas air dan proksimat pakan. Data dianalisis statistik dilanjutkan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tubifex dapat diberikan sebanyak 4 kali per hari pada seluruh kelas ukuran ikan tanpa pemberian Artemia. Kata kunci: Frekuensi pakan, Artemia, Tubifex, Chromobotia macracanthus, benih
BAMBOOS OF THE BATU PUTU BIODIVERSITY PARK LAMPUNG Yeni Rahayu
Bioma Vol. 16 No. 1 (2020): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Bioma16(1).2

Abstract

Sumatra has a high diversity of bamboo (around 80 species of bamboo, and an unfinished record) in Indonesia. Lampung is one of the regions in Sumatra that has a great number of bamboo species and the endemic bamboos that has not been studied. The Batu Putu Biodiversity Park is an area designed by the local government to become Bamboo Education Tourism Center. Within a few years, the Batu Putu Biodiversity Park ecosystem can be changed effects a tourism activity. The exploratory study has been done to discover the bamboo species that originally grew in the Batu Putu Biodiversity Park, Lampung - Sumatra. The data that has been obtained from this study is important as a part of bamboo diversity data in Lampung, and Sumatra generally. Besides, it gave information about bamboo species that suitable to grow on the rocky soils. The result showed four genera, consisting of five species, namely Dendrocalamus asper, Gigantochloa atroviolacea, G. hasskarliana, Schizostachyum zollingeri, and Dinochloa sp. The last species is a candidate for a new record of Sumatran climbing bamboos, even new species candidates that we can not decide yet due to lack of samples and some particular conditions.
Aktivitas Antifungi Ekstrak Etanol Biji Anggur Terhadap Malassezia furfur dan Trichophyton mentagrophytes: Antifungal Activity of Grape Seeds Ethanol Extract Against Malassezia furfur and Trichophyton mentagrophytes Vilya Syafriana; Fathin Hamida; Dian Puspita; Fitria Haryani; Elsa V. Nanda
Bioma Vol. 16 No. 1 (2020): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Bioma16(1).3

Abstract

Anggur (Vitis vinifera L.) merupakan tanaman buah perdu merambat yang termasuk ke dalam keluarga Vitaceae. Salah satu bagian dari tanaman anggur yang diketahui dapat bersifat sebagai antimikroba adalah bagian biji. Ekstrak etanol biji anggur mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin dan terpenoid yang dapat berkhasiat sebagai antifungi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antifungi ekstrak etanol biji anggur terhadap Malassezia furfur dan Trichophyton mentagrophyes yang merupakan fungi penyebab infeksi dermatofitosis. Ekstrak dibuat dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Uji aktivitas antifungi dilakukan dengan metode difusi cakram pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dengan konsentrasi 5%, 10%, 20%, dan 40%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji anggur (Vitis vinifera L.) mempunyai aktivitas antifungi terhadap T. mentagrophytes pada konsentrasi 5%, 10%, 20%, dan 40% dengan Diameter Daya Hambat (DDH) berturut-turut sebesar 6,92 mm; 9,84 mm; 12,51 mm; dan 14,88 mm. Akan tetapi, hasil uji terrhadap M. furfur menunjukkan tidak adanya daya hambat yang terbentuk.
KEANEKARAGAMAN CAPUNG (ODONATA) DI SEKITAR KAWASAN CAGAR BIOSFER GIAM SIAK KECIL- BUKIT BATU RIAU Hasni Ruslan
Bioma Vol. 16 No. 1 (2020): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Bioma16(1).4

Abstract

Capung berperanan sebagai indikator kualitas air yang bersih. Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui keanekaragaman capung di GSKBB Riau. Penelitian dilakukan tanggal 5- 11 Mei 2018. Penelitian dilakukan dengan metode scan sampling menggunakan jaring serangga dan kamera. Penelitian dilakukan pada tiga lokasi. Dari hasil penelitian ditemukan di zona inti 3 famili, 15 spesies, dan 48 individu, di HTI ditemukan 1 famili, 4 spesies dan 19 individu, di transisi 2 famili, 8 spesies, dan 31 individu. Nilai kesamaan komposisi capung,antar lokasi tidak terdapat kesamaan spesies. Indeks keanekaragaman di zona inti, dan transisi tergolong sedang, sedangkan dilokasi HTI tergolong rendah. Indeks kemerataan di zona inti, HTI, dan transisi tergolong tinggi. Capung Orthetrum Sabina ditemukan di zona inti, dan HTI dengan jumlah individu tertinggi, sedangkan di transisi ditemukan pada spesies Rhyothermis Phyllis. Berdasarkan indeks nilai penting (INP) yang tinggi pada ketiga lokasi, ditemukan pada spesies Orthetrum Sabina. Faktor abiotik pada tiga lokasi hampir sama, kecuali kecerahan , lebih tinggi di hutan sekunder, dari pada HTI, dan Transisi.

Page 1 of 1 | Total Record : 4