cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Agrokompleks
Published by Universitas Hasanuddin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
PEMBUATAN RAGI TAPE DAN TAPE (MAKING YEAST TAPE AND TAPE) Rohani islami
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Agrokompleks VOLUME 1 NOMOR 2, DESEMBER 2018
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.747 KB)

Abstract

Tape adalah salah satu makanan tradisional yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dan merupakan hasil fermentasi singkong atau beras ketan. Mutu tape yang baik ditandai dengan aroma yang harum, enak, legit, dan tidak menyengat karena terlalu tinggi kadar alkoholnya Fermentasi tape dipengaruhi oleh mikroorganisme yang terdapat pada ragi yang ditambahkan ke dalam beras ketan.Tujuan dilakukannya praktikum ini yaitu untuk mengetahui cara pembuatan tape ketan dan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ragi terhadao tingkat kemanisan tape ketan yang dihasilkan. Metode yang digunakan yaitu metode pengolahan dan metode pengujian sensori. Hasil yang diperoleh dari praktikum ini yaitu. tape yang dihasilkan memiliki aroma, warna, rasa khas tape, sedangkan tekstur yang dihasilkan lembut dan sedikit lengket. Kesimpulan dari praktikum ini yaitu proses pembuatan tape dilakukan dengan melalui berbagai tahap yaitu penimbangan, pencucian, perendaman, pengukusan, penambahan ragi dan pembungkusan.             Tape is one of the traditional foods that are widely consumed by Indonesian people and is the result of fermented cassava or sticky rice. Good tape quality is characterized by a fragrant aroma, tasty, legit, and not stinging because of too high alcohol content Fermentation tape is influenced by microorganisms found in yeast added to glutinous rice. The purpose of this practicum is to find out how to make sticky tape and to determine the effect of yeast concentration on the sweetness level of sticky tape produced. The method used is processing method and sensory testing method. The results obtained from this lab are. the tape produced has a distinctive aroma, color, taste, while the resulting texture is soft and slightly sticky. The conclusion of this practicum is that the process of making tape is done through various stages, namely weighing, washing, soaking, steaming, adding yeast and wrapping.
POTENSI PATI RESISTEN DARI BERBAGAI JENIS PISANG – A REVIEW (Potential Resisten Starch Prepared by Banana – A Review) Andi Nur Fajri Suloi
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Agrokompleks VOLUME 2 NOMOR 1, JUNI 2019
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.77 KB)

Abstract

Era yang semakin berkembang ini, konsumen menuntut sebuah produk pangan yang tidak hanya mengenyangkan tetapi juga memberikan dampak positif terhadap kesehatan, atau biasa disebut dengan pangan fungsional. Salah satu komponen dalam bahan pangan yang bersifat fungsional bagi tubuh adalah pati resisten. Pati resisten didefinisikan sebagai fraksi pati yang tidak dihidrolisis oleh enzim yang dihasilkan oleh pankreas selama 120 menit setelah dikonsumsi. Terdapat beberapa manfaat pati resisten, seperti merangsang pertumbuhan dan / atau aktivitas satu atau lebih jenis bakteri baik meliputi lactobacilli dan bifidobacteria, menurunkan respon glikemik dan insulemik pada manusia penderita diabetes, memiliki efek perlindungan terhadap kanker kolon karena mikroflora mampu mengubah pati resisten menjadi senyawa asam lemak berantai pendek, serta berpotensi sebagai prebiotik. Pati resisten dapat diperoleh melalui perlakuan fisik, kimiawi atau enzimatik pada bahan pangan yang banyak mengandung pati seperti pisang. Pisang merupakan salah satu komoditi hasil pertanian dengan kandungan karbohidrat yang tinggi dan sebagian besar terdiri atas pati. Pisang tua mengandung 70-80% pati berdasarkan berat kering
PENENTUAN KONSENTRASI RAGI PADA PEMBUATAN ROTI (Determining of Yeast Concentration on Bread Making) Kerina Muli Sitepu
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Agrokompleks VOLUME 2 NOMOR 1, JUNI 2019
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.245 KB)

Abstract

Roti merupakan makanan fermentasi berbahan dasar tepung terigu yang sering dikonsumsi masyarakat. Roti disebut sebagai produk fermentasi karena menggunakan ragi dalam pembentukan rasa dan aroma. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memberitahu prosedur pembuatan roti serta mengetahui konsentrasi ragi terhadap kualitas organoleptik roti. Pembuaan roti dilakukan dengan memberikan variasi penambahan ragi masing-masing 1%, 2%, 3%, 4% dan 5% kemudian dilakukan pengujian organoleptik pada msing-masing sampe. Berdasarkan hasil organoleptik, sampel A2 memiliki nilai tertinggi dari segi rasa, warna dan aroma, sementara sampel A5 memiliki nlai tertinggi dari segi tekstur. Semakin banyak ragi yang ditambahkan maka daya kembang adonan akan semakin besar. Berdasarkan hasil pengukuran tinggi adonan, adonan sampel dengan penambahan ragi 4% dan 5% memiliki tinggi adonan tertinggi setelah dipanggang, sementara sampel dengan penambahan ragi 1% memiliki tinggi adonan terendah. Kesimpulan dari praktikum ini adalah pembuatan roti dilakukan melalui enam tahap, yaitu pencampuran, peragian, pemeraman, pembentukan, proofing dan pemanggangan serta jumlah ragi yang ditambahkan akan mempengaruhi mutu organoleptik roti. Bread is a fermented food that often consumed by public. Bread is a fermentation product because it uses yeast for formation of taste and aroma. The purpose of this paper is to inform the procedure for making bread and to determine the concentration of yeast on the organoleptic quality of bread. Bread production is done by giving variations of yeast addition of 1%, 2%, 3%, 4% and 5% then organoleptic testing is carried out on each until. Based on organoleptic results, A2 sample has the highest value in terms of taste, color and aroma, while A5 sample has the highest value in terms of texture. The more yeast is added, the greater the power of the dough. Based on the results of the dough height measurement, the sample dough with the addition of 4% and 5% yeast had the highest dough height after baking, while the sample with 1% yeast addition had the lowest dough height. The conclusion of this practice is that bread making is done through six stages, namely mixing, fermentation, ripening, forming, proofing and roasting and the amount of yeast added will affect the quality of the organoleptic bread.

Page 2 of 2 | Total Record : 13