cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Invensi (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni)
ISSN : 24600830     EISSN : 26152940     DOI : -
INVENSI adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Jurnal INVENSI memuat semua tulisan yang berobjek materi seni, baik seni pertunjukan, seni rupa, maupun seni media rekam dan bersifat multidimensional. INVENSI bermaksud untuk memberikan ruang mewadahi berbagai macam ide, gagasan, atau kritik yang merupakan hasil penelitian empiris kuantitatif dan kualitatif terkait dengan seni pertunjukan, seni rupa, dan seni media rekam yang belum pernah diterbitkan dalam bentuk apapun.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2019): Juni 2019" : 7 Documents clear
“Tanangan”: Gerak Tubuh sebagai Ekspresi Pengendalian Diri Kurniadi Ilham
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 4, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.563 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v4i1.2660

Abstract

Abstrak Karya “Tanangan” adalah sebuah pertunjukan tari yang menggagas tentang seseorang, bagaimana memahami sesuatu kondisi dengan dan mencari solusi atas masalah tertentu dengan penuh kesadaran dan dengan pikiran dan hati yang tenang. Kisah tersebut lahir dari kegelisahan di mana seseorang seringkali sulit mengendalikan diri dalam memahami dan mengatasi suatu permasalahan, karena hati dan pikirannya tidak sinkron. Pengendalian diri bersandar kepada silat yang menjadi rujukan untuk pengajaran moral, patriotisme, kekuatan, totalitas ekspresi, dan aktualisasi nilai, serta pertahanan kuat akan identitas terhadap pengembangan serta pengendalian diri. Dasar-dasar tahapan dalam mempelajari silat berpengaruh untuk mengetahui tentang diri atau tubuh. Keseriusan untuk mempelajari silat, karena berhubungan dengan Sang Pencipta, sesama manusia, serta alam sekitar. Ketiga perihal menjadi gabungan yang seimbang, sehingga manusia sadar akan dirinya. Aspek silat yakni aspek mental spiritual, aspek seni budaya, aspek bela diri, sehingga proses karya menggunakan tahap pengumpulan bahan dan pengolahan bahan dari tiga perguruan silat sebagai perlintasan yaitu Silat Tuo di Paninggahan, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatra Barat, Perguruan Silat Cempaka Putih di Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur, dan Perguruan Silat Bima (Budaya Indonesia Mataram) Cabang Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Dekonstruksi menjadi metode yang digunakan dalam pengembangan koreografi, gerak tubuh keseharian, dan silat menjadi materi dasar yang dikembangkan. Abstract The work "Tanangan" is a dance work that conceives of someone who is able to understand and handle problems with full awareness and with a calm mind and heart. The stories are born of anxiety where someone tries to avoid deep understanding, because his heart and mind are out of sync. Self-control relies on silat which is a reference for morality, patriotism, strength, totality of expression and value actualization and a strong defense of self-identity and leadership. Basics in the process of martial arts to know about yourself or the body. Seriousness to learn martial arts, because it deals with the Creator, fellow human beings, and the natural surroundings. Thirdly about being a balanced combination, human beings will be aware of themselves. Aspects of martial arts include mental spiritual aspects, aspects of art culture, aspects of martial arts, and so on, from the three silat colleges as crossings namely Silat Tuo in Paninggahan, Solok Regency, West Sumatra Province, Cempaka Putih Silat College in Magetan Regency, East Java Province and Silat College Bima (Indonesian Culture of Mataram) Magelang Branch, Central Java Province. Deconstruction becomes a method used in the development of choreography, daily body movements and martial arts into the basic material developed.
Visualisasi Upacara Tawur Agung Kesanga dalam Film Dokumenter “Di Balik Awan Tengger” Yogi Widya Saka Warsaa
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 4, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.894 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v4i1.2671

Abstract

Abstrak Masyarakat Tengger menghayati sesanti “Titi Luri” yang berarti mengikuti jejak para leluhur secara turun-temurun. Salah satunya adalah Upacara Tawur Agung Kesanga. Upacara ini jatuh pada bulan sembilan (sanga) tahun Saka. Globalisasi menciptakan budaya populer yang secara perlahan mulai mengaburkan tradisi lokal dan dapat mengubah tradisi. Sebuah film dokumenter menjadi salah satu solusi untuk menjaga eksistensi Upacara Tawur Agung Kesanga. Rangkaian prosesi Upacara Tawur Agung Kesanga menjadi dasar dari perancangan ini. Abstract Tengger people in East Java, Indonesia believe in a concept called sesanti "Titi Luri" (sesanti is advice) which means to follow the trace, beliefs, and tradition of the ancestors from generation to generation. One of them is Tawur Agung Kesanga Ceremony. This ceremony is held in the kesanga month of saka (Kesanga is the ninth month of the Hindu’s calendar). Globalization creates populer culture, which in a way begin to obscure the local culture and change the traditional cuture. The documentary film becomes one of the solutions to maintain the existence of Tawur Agung Kesanga ceremony. The Tawur Agung Kesanga ceremonial procession becomes the basis of this research plan.
Potret Kemiskinan sebagai Ide Penciptaan Seni Lukis Fananantsoa Jean Eddy
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 4, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.494 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v4i1.2661

Abstract

Abstrak Hidup itu seperti hitam dan putih. Di antara dua warna itu, ada banyak hal yang kita lihat dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari seperti kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, dan lain-lain. Kita semua memiliki banyak pengalaman dalam kehidupan kita dari apa yang kita lakukan, lihat, dengar, rasakan, cium, dan lain-lain. Kemiskinan bukanlah pilihan dan tidak ada yang terlahir untuk menjadi miskin tetapi ada beberapa orang yang masih sulit kehidupanya. Pertanyaannya adalah: “Apakah mereka memilih menjadi miskin? Apakah mereka melanggarnya? Apakah ini kutukan? Atau apakah itu hasil dari kemalasan?” Artikel jurnal yang berjudul “Ekspresi Kemiskinan sebagai Ide Penciptaan Seni Lukis” ini adalah untuk menunjukkan dalam karya seni visual apa itu ekspresi kemiskinan melalui perasaan sendiri. Bagi penulis juga sangat penting untuk menunjukkan bahwa tidak hanya sisi negatif dari kemiskinan yang ditampilkan tetapi juga sisi positif karena semua orang memiliki hak yang sama seperti bahagia, bercanda, bermimpi, dan lain-lain. Pesan sederhana penulis adalah bahwa kita semuanya manusia, mari kita hentikan diskriminasi, jangan hanya mengawasi mereka, mari semua mendidik jiwa, pikiran dan hati kita untuk saling menjaga satu sama lain. Kita semua manusia. Abstract Life is like black and white. Between those two colors, there are many things that we see and feel in our everyday life such happiness, sadness, anger etc. We all have many experiences in our lives from what we do, see, hear, feel, smell, etc. The poverty is not a choice and no one was born to be poor but there are some people who are still in difficulties. The question is that : “Did they choose it? Do they diserve it? Is it a curse? Or is it the result of laziness? My Final Project’s title “Expression of Poverty as an idea of creating the painting Art work” in order to show what is expression of poverty through the feeling. And it is very important also to show two sides which are negative and positive in the Art works because all people have the same right like to be happy, to joke, to dream, etc. Thet simple message is that we all are humans, let’s stop discrimination, let’s not just watch them, let’s educate our souls, minds and hearts in order to take care of each other. We are all humans.
Perancangan Kampanye Social Movement Bahaya Smartphone bagi Anak Indriati Suci Pravitasari
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 4, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.131 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v4i1.2672

Abstract

Abstrak Manusia sekarang ini tidak lepas dari sarana komunikasi yaitu smartphone, saat ini smartphone mengalami perkembangan yang sangat pesat terutama pada operasi sistem serta program dan aplikasi yang digunakan dalam setiap smartphone, yang dapat meningkatkan kemudahan operasi tiap smartphone. Berbagai perkembangan kemajuan tentu memiliki dua dampak, positif dan negatif. Berbagai fitur dan aplikasi canggih yang ditawarkan dalam smartphone penggunanya betah berlama-lama menatap layar dalam waktu yang cukup lama. Fungsi smartphone kini tidak hanya sebagai sarana komunikasi semata, namun berubah sebagai gaya hidup. Para pengguna smartphone tidak hanya di kalangan usia dewasa dan remaja saja namun, kini sudah sampai pada anak-anak, padahal anak-anak belum mampu memfilter dan membedakan mana yang baik dan tepat bagi dirinya, pada berbagai kecanggihan pada fitur-fitur smartphone. Pada perancangan ini maka pendekatan komunikasi visual dengan menggunakan sosial media, selain layak diterapkan juga dinilai tepat dalam mengikuti arus perkembangan smartphone, dan sosial media merupakan media kampanye yang paling ampuh sebagai sarana dalam menjembatani sebuah pesan bagi target audience dalam perancangan ini. Abstract Humans today are inseparable from the means of communication, smartphones, nowadays smartphones are experiencing very rapid development, especially in operating systems and programs and applications used in each smartphone, which can improve the ease of operation of each smartphone. Various developments in progress certainly have two effects, positive and negative. Various advanced features and applications offered in the smartphone, the users feel at home for a long time staring at the screen for quite a long time. The function of smartphone now is not only a means of communication, but changes as a lifestyle. Smartphone users are not only among adults and adolescents, but now it has reached children, even though the children have not been able to filter and differentiate what is good and right for themselves, on the various sophistication of smartphone features. In this design the visual communication approach using social media, in addition to being feasible to be applied is also considered appropriate in following the development of smartphones, and social media is the most powerful campaign media as a means of bridging a message for the target audience in this design.
Guna dan Fungsi Tari Bedana bagi Masyarakat Etnis Arab Melayu Jambi Hasnah Sy, Sy; Hartati M; Riswani Riswani
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 4, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.02 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v4i1.2665

Abstract

Abstrak Etnik Arab Melayu merupakan salah satu sub-etnik Melayu Jambi. Mayoritas mereka bermukim di Desa Seberang yang berseberangan dengan Angso Duo Kota Jambi. Bedana berupa tarian dengan iringan ansambel musik gambus berkhas Arabic telah diwarisi secara turun-temurun dari leluhur mereka. Tulisan ini mengkaji aspek guna dan fungsi tari Bedana yang telah fungsional untuk memeriahkan dan memberi suasana hiburan bagi pelaksanaan berbagai upacara berciri khas budaya Islami yang dimiliki masyarakat etnis Arab Melayu Jambi tersebut, sehingga tari Bedana menjadi identitas etnik Arab Melayu di tengah-tengah masyarakat etnis lain di Kota Jambi. Capaian tulisan ini berupa deskripsi kualitatif pada aspek guna tari Bedana sebagai pemeriah helat, hiburan, dan menjadi wadah komunikasi dalam sebuah interaksi sosial mereka. Pada sisi fungsi, tari ini berhubungan dengan aspek status sosial ekonomi masyarakat pendukung, identitas budaya, masalah keberlanjutan status budaya, dan sebagai penguat sosial budaya etnis Arab Melayu di Jambi. Abstract Ethnic of Malay Arab represent one of the Malay sub-ethnic of Jambi. Their Majority live in countryside defect which is beside with Angso Duo of Jambi Town. Bedana in the form of dance with music ensemble accompaniment of gambus typical of Arabic have inherit hereditaryly from their ancestor. This article study aspect use and function of Bedana dance which have functional to enliven and give entertainment amusement atmosphere to execution various ceremony have cultural special of Islami had by ethnical society of Arab Malay of Jambi, that Bedana dance become ethnic identity of medial Arab Malay of other ethnical society in Town of Jambi. This Performance Article in the form of descriptions qualitative at aspect utilize dance of Bedana as ceremonial of party, entertainment, and become the place of communications in a social interaction of them. At function side, this dance relate to social status aspect of supporter society economics, cultural identity, problem continue cultural status, and as social of ethnical culture of Arab Malay in Jambi.
Nilai Estetika yang Terdapat pada Limbah Kaca di Galeri Otak Atik Daerah Yogyakarta Ajeng Putri Palupi
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 4, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.869 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v4i1.2669

Abstract

Abstrak Limbah kaca adalah bahan yang sulit diuraikan dan bersifat tajam, banyak ditemukan di sekitar lingkungan. Limbah kaca dianggap sebagai benda yang tidak memiliki nilai, oleh sebab itu diperlukan suatu proses pengolahan limbah kaca agar menghasilkan suatu hiasan kaca yang bernilai estetik. Selain itu, pemilihan bahan baku kaca sangat berpengaruh pada hasil jadi pembuatan hiasan kaca tersebut. Proses pengolahan limbah kaca ini sangat menarik untuk diteliti karena prosesnya yang berbeda dengan hasil yang sangat menarik. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, teknik wawancara dan teknik dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis data menggunakan pendekatan estetika. Seniman kaca di Galeri Otak Atik Yogyakarta ingin menciptakan inovasi baru dengan cara mengubah limbah kaca, barang yang dianggap berbahaya dan tidak berguna menjadi suatu karya seni yang memiliki estetik tinggi. Dengan keterampilan yang dimiliki seorang seniman, kaca mampu menciptakan suatu karya seni yang sangat indah dan unik. Abstract Glass waste is a material that is sharp and difficult to decipher. It is widely found around the environment. Glass waste is considered a thing that has no value. To make it valuable, it is required processing steps to produce an aesthetic glass decoration. In addition, the selection of glass raw materials is very influential on the finish products of glass ornaments. The processing of glass waste is a very interesting topic for a research because the processing steps are different from other aesthetic products. Data collection method used is descriptive qualitative method. Data collection methods used are observation, interview, and documentation technique. Data analysis used in this research is data analysis using aesthetic approach. Glass artists at the Yogyakarta Otak Atik Gallery want to create new innovations by changing glass waste, that is considered harmful and useless good, into a work of art that has a high aesthetic value. The skills of the glass artists can create a work of art that is very beautiful and unique.
Berbalas Pantun dalam Adat Perkawinan di Desa Muka Sungai Kuruk Kecamatan Seruway Kabupaten Aceh Tamiang Isra Fahriati
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 4, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.36 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v4i1.2670

Abstract

Abstrak Penelitian yang berjudul “Berbalas Pantun dalam Adat Perkawinan di Desa Muka Sungai Kuruk Kecamatan Seruway Kabupaten Aceh Tamiang” mengangkat masalah pesan apa saja yang terkandung dalam kegiatan berbalas pantun pada adat pelaksanaan perkawinan di Aceh Tamiang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan pesan apa saja yang terkandung pada seni berbalas pantun dalam adat perkawinan di Aceh Tamiang. Subjek dalam penelitian ini adalah Wak Ngah, Wak Alang, M. Djhuned Thaher, penggelut, dan masyarakat yang mengapresiasikan budaya berbalas pantun. Penentuan sampel dilakukan secara sampling purposive. Metode yang digunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pantun sering digunakan sebagai media penyampaian pesan pada acara perkawinan yang berisi tentang masalah perkawinan yang harus dipenuhi pihak laki-laki kepada pihak perempuan seperti syarat harus menggunakan inai, membawa emas, sirih, dan elang 7 hari yang terdiri dari tebu, bale, kain, dan harus memahami arti dari tujuan pernikahan tersebut. Disarankan penelitian yang berhubungan dengan berbalas pantun dalam adat perkawinan di Desa Muka Sungai Kuruk Kecamatan Seruway Kabupaten Aceh Tamiang dapat dilanjutkan oleh peneliti lain sehingga dapat terungkap hal-hal yang belum terungkap melalui penelitian ini. Abstract The study entitled "Balanced in the Marriage Indigenous in the village of Muka Sungai Kuruk, Seruway District, Aceh Tamiang District" raised the problem of any messages contained in the rhyme-reciprocal activity on the custom of marriage in Aceh Tamiang. This study aims to find out and describe what messages are contained in the art of replying to rhymes in marriage customs in Aceh Tamiang. Subjects in this study were Wak Ngah, Wak Alang, M. Djhuned Thaher, activist, and the community who appreciated the culture of repayment. Determination of the sample is done by purposive sampling. The method used is a descriptive qualitative method. Data collection is done through observation, interview, and documentation techniques. The results of the data analysis show that pantun is often used as a medium for sending messages on marriage events that are about marital problems which must be fulfilled by men to women such as the requirement to use a host, carrying gold, betel and 7-day eagle consisting of sugar cane, bale , cloth and must understand the meaning of the purpose of the marriage. It is suggested that research related to the reverberation of rhymes in marriage customs in the village of Muka Sungai Kuruk, Seruway sub-district, Aceh Tamiang district, could be continued by other researchers so that it could be revealed that things had not been revealed through this research.

Page 1 of 1 | Total Record : 7