cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Selaras : Kajian Bimbingan dan Konseling serta Psikologi Pendidikan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 2 (2019): November 2019" : 6 Documents clear
GAMBARAN BURNOUT PADA DOSEN STAKN KUPANG Sance Mariana Tameon
Jurnal Selaras : Kajian Bimbingan dan Konseling serta Psikologi Pendidikan Vol. 2 No. 2 (2019): November 2019
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.813 KB) | DOI: 10.33541/Jsvol2iss1pp1

Abstract

Burnout merupakan sebuah gejala psikologis seperti kelelahan fisik, emosional, mental dan depresi yang dapat terjadi pada orang yang bekerja. Hasil penelitian Maslach menunjukkan bahwa pekerjaan yang berorientasi melayani orang seperti profesi perawat, pendeta, guru, psikolog, konselor dan dosen berkorelasi dengan burnout. Dosen di STSKN Kupang pun mengalami burnout, di mana faktor pendukung terjadinya burnout adalah tekanan dari pihak pimpinan, diperlakukan tidak adil oleh pimpinan, tidak menerima adanya perbedaan, kesejahteraan yang tidak diperhatikan, pemberian pekerjaan yang berlebihan yang tidak sesuai dengan kemampuan dosen, lingkungan kerja yang tidak kondusif, adanya aturan yang terkadang membuat dosen memiliki batasan dalam berinovasi, kurangnya apresiasi dari lingkungan kerja yang membuat dosen merasa tidak bernilai dan hubungan yang tidak terjalin baik antar dosen, dosen dengan pimpinan dan dosen dengan pegawai. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jenis metode survey dimana jumlah sampelnnya adalah 47 orang dosen.Dari hasil analisis data ditemukan bahwa Burnout Dosen STAKN Kupang adalah sebesar 44,66 %. Berdasarkan gender didapati bahwa dosen STAKN Kupang yang berjenis kelamin perempuan mengalami burnout sebesar 41,46% sedangkan jenis kelamin laki-laki sebesar 47,25%. Selain itu, dari status pernikahan didapati bahwa dosen STAKN Kupang yang menikah mengalami burnout sebanyak 47,22 % dan yang belum menikah sebesar 40,43%. Kata Kunci: burnout, dosen ABSTRACT Burnout is a psychological symptom such as physical, emotional, mental fatigue and depression that can occur in people who work. The results of Maslach's research show that work oriented to serving people such as the nurse profession, pastors, teachers, psychologists, counselors, and lecturers correlates with burnout. The lecturer at State of Christian Religious College of Kupang (STAKN Kupang) also experienced burnout, in which the supporting factors for burnout were pressure from the leadership, being treated unfairly by the leadership, not accepting any differences, unnoticed welfare, giving excessive work that was not in accordance with the ability of the lecturer, work environment not conducive, the existence of rules that sometimes make lecturers have limits in innovating, lack of appreciation of the work environment that makes lecturers feel worthless and the relationships are not intertwined between lecturers, lecturers and leaders and lecturers with employees. This study uses quantitative research methods with the type of survey method where the number of samples is 47 lecturers. From the results of data analysis, it was found that lecturer burnout was 44.66%. Based on gender, it was found that lecturers of STAKN Kupang who were female experienced burnout by 41.46% while the male was 47.25%. Besides that, from the marital status, it was found that lecturers of STAKN Kupang who were married experienced burnout as much as 47.22% and those who were not married at 40.43%. Keywords: burnout, lecturer
PENGEMBANGAN KARAKTER SISWA SMA BERDASARKAN THE BIG FIVE FACTOR OF PERSONALITY DALAM MEMBERIKAN LAYANAN BIMBINGAN KARIR Renatha Ernawati; Ronny Gunawan; Evi Deliviana
Jurnal Selaras : Kajian Bimbingan dan Konseling serta Psikologi Pendidikan Vol. 2 No. 2 (2019): November 2019
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.932 KB) | DOI: 10.33541/Jsvol2iss1pp1

Abstract

Foto Karakter merupakan potret karakter atau kepribadian manusia yang dapat diamati dalam perilaku sehari-hari manusia. Foto Karakter dapat ditinjau dari sudut pandang teori The Big Five Personality yang disusun melalui pendekatan yang sederhana agar mampu menggambarkan kepribadian seseorang melalui sifat-sifat yang telah dibuat peringkatnya oleh individu tersebut dan kemudian dianalisis melalui metode analisis faktor. The Big Five Personality memiliki 5 dimensi atau faktor yang dapat mengelompokkan sifat-sifat dasar manusia. Kelima dimensi itu adalah Openness to experience, Conscientiousness, Extraversion, Agreeableness, dan Neuroticism. Metode penelitian yang digunakan, yakni metode kualitatif eksplanatori, dimana peneliti menggali secara mendalam data yang diperoleh dari lapangan dan dikaitkan dengan karir siswa, dengan sampel siswa SMA 7 PSKD Depok. Faktor dominan yang dimiliki oleh seluruh peserta didik di SMA PSKD 7 Depok, yaitu kepribadian Neuroticism dengan total skor 1794 dan rata-rata sebesar 26,38, yang berarti pada umumnya peserta didik di SMA PSKD 7 Depok memiliki karakteristik kepribadian Neuroticism positif yang dominan, sehingga guru Bimbingan dan Konseling dapat menyusun rencana layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik untuk dapat mencapai karir yang sesuai dengan gambaran kepribadian tersebut. Kata Kunci: foto karakter, the big five personality, karir, dan siswa ABSTRACT Photo characters are portraits of human characters or human personalities thatcan be observed in everyday human behavior. Photo characters can be viewed from the perspective of The Big Five Personality theory, which is arranged through a simple approach to be able to describe a person's personality through the traits that have been ranked by the individual and then analyzed through the factor analysis method. The Big Five Personality has 5 dimensions or factors that can classify basic human traits. The five dimensions are Openness to experience, Conscientiousness, Extraversion, Agreeableness, and Neuroticism. This research used qualitative explanatory method, which researchers explore in depth the data obtained from the field and are associated with student careers, with a sample of PSKD 7 Senior High School students in Depok. The dominant factor possessed by all students in PSKD 7 Senior High School in Depok, namely Neuroticism personality with a total score of 1794 and an average of 26.38, which means that in general students at PSKD 7 Senior High School in Depok have dominant positive Neurotic personality characteristics, so Guidance and Counseling teachers can develop service plans that are tailored to the needs of students to be able to achieve a career that is in line with the personality description. Keywords: photo character, big five personality, guidance and counseling
GENERASI PHI: ADAPTABILITAS KARIER, KEMAMPUAN METAKOGNITIF, & DUKUNGAN SOSIAL Lucky Purwantini; Ratna Duhita Pramintari
Jurnal Selaras : Kajian Bimbingan dan Konseling serta Psikologi Pendidikan Vol. 2 No. 2 (2019): November 2019
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.04 KB) | DOI: 10.33541/Jsvol2iss1pp1

Abstract

Sebagai remaja, generasi Phi (generasi Z Indonesia) menghadapi dua kali masa transisi, yaitu masa transisi dari sekolah menengah atas ke perguruan tinggi dan masa transisi dari perguruan tinggi ke dunia kerja. Kedua masa transisi ini menimbulkan stres karena generasi Phi diharuskan mengambil keputusan mengenai kariernya, yang merupakan salah satu tugas perkembangan remaja. Dalam mempersiapkan karier, terlebih dalam menghadapi masa transisi kedua, dibutuhkan kemampuan metakognitif dan dukungan dari orang-orang terdekat seperti keluarga, teman, dan significant other. Penelitian ini ingin mengeksplorasi apakah terdapat hubungan antara adaptabilitas karier dengan kemampuan metakognitif dan dukungan sosial pada generasi Phi yang akan menghadapi masa transisi kedua. Subjek adalah 107 mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir/skripsi. Instrumen penelitian ini terdiri atas Career Adapt-abilities Scale (CAAS), Metacognitive Awareness Inventory (MAI), dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Penelitian ini menemukan bahwa kemampuan metakognitif dan dukungan sosial tidak dapat memprediksi adaptabilitas karier pada generasi Phi yang akan menghadapi masa transisi kedua. Kata Kunci: adaptabilitas karier, kemampuan metakognitif, dukungan sosial, generasi phi ABSTRACT As a teenager, generation Phi (generation Z Indonesia) encountered two transition. First, the transition from high school to college. Second, the transition from college to the work. These, two transition are stressful because the generation Phi is required to make career-decisions, which is one of the tasks of adolescent development. In career preparation in the second transition, generation Phi required a metacognitive abilities and support from the closest people such as family, friends, and significant other. This study aims to explore the relationship between career-adapt-ability and metacognitive abilities and social support among the generation Phi who will encounter a second transition period. Subjects are 107 undergraduate students who accomplish their thesis. Instruments of this study are. The Career Adapt-Ability Scale (CAAS), the Metacognitive Awareness Inventory (MAI), and the Multidimensional Scale of Social Perception Support (MSPSS). The study found that metacognitive abilities and perceived social support could not predict career adaptability among generation Phi in their second transition. Keywords: career adaptability, metacognitive abilities, social support, Phigeneration
BIMBINGAN KELOMPOK MENGGUNAKAN TEKNIK DESENSITISASI SISTEMATIK UNTUK MENURUNKAN TINGKAT GLOSSOPHOBIA PESERTA DIDIK SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) Khairunisa1; Oktafiana Kiranida; Happy Karlina Marjo; Wirda Hanim
Jurnal Selaras : Kajian Bimbingan dan Konseling serta Psikologi Pendidikan Vol. 2 No. 2 (2019): November 2019
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.319 KB) | DOI: 10.33541/Jsvol2iss1pp1

Abstract

Salah satu fobia yang dialami Peserta didik adalah Glossophobia. Glossophobia juga disebut dengan kecemasan berbicara di depan umum. Glossophobia merupakan phobia sosial dimana penderita memiliki ketakutan pada situasi sosial yang dapat menyebabkan masalah dalam sekolah atau kehidupan social lainnya (Werhadiantiwi, 2014). Glossophobia terjadi karena pikiran alam bawah sadar mengambil alih tingkat kesadaran seseorang menjadi seakan-akan kondisi yang mengancam nya, sehingga Peserta didik lebih milih untuk menghindar dari situasisituasi yang menurut nya sangat mengancam. Glossophobia ditandai dengan adanya gejala-gejala seperti kebingungan-kebingungan, tidak tahu ingin berkata apa, gemeteran, dan sebagainya. Peserta didik yang mengalami glossophobia akan mengakibatkan hal-hal yang sangat fatal seperti tidak berkembang secara optimal dan bahkan berkelanjutan hingga dewasa. Dengan demikian, untuk mengurangi tingkat glossophobia yang dialami Peserta didik, guru bimbinngan dan konseling dapat memberikan layanan bimbingan dan konseling yang berupa bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik desensitisasi sistematis. Teknik desensitisasi sistematis merupakan teknik yang memfokuskan untuk mengurangi tingkat kecemasan atau fobia. Kata Kunci: cognitive behavior theraphy, kematangan karir, konseling kelompok ABSTRACT One of the phobias experienced by students is Glossophobia. Glossophobia is also called public conversation. Glossophobia is a social phobia where sufferers have social problems that can cause problems in school or other social life (Werhadiantiwi, 2014). Glossophobia occurs because the subconscious takes over a person's level of consciousness as if to overcome the one who made it, so that more students choose to avoid changes that are in accordance with their interests. Glossophobia is characterized by existing conflict-like confusion, not knowing what to say, echoing, and so on. Students who improve glossophobia will continue things that are very fatal such as development that is not optimal and even sustainable for adults. Thus, to reduce the level of glossophobia experienced by students, teachers can provide guidance and counseling services that contain group guidance using systematic desensitization techniques. An integrated desensitization technique is a technique that focuses on improving the level of focus or phobia. Keywords: group guidance, systematic desensitization, glossophobia
STRATEGI GURU MENINGKATKAN KEPEDULIAN PESERTA DIDIK TERHADAP KORBAN BULLYING Ujang Khiyarusoleh; Anwar Ardani
Jurnal Selaras : Kajian Bimbingan dan Konseling serta Psikologi Pendidikan Vol. 2 No. 2 (2019): November 2019
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.77 KB) | DOI: 10.33541/Jsvol2iss1pp1

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi guru meningkatkan kepedulian peserta didik terhadap korban bullying yang bersekolah di SD Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Sumber penelitian ini adalah guru kelas SD Negeri Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2016/2017. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa strategi guru meningkatkan kepedulian peserta didik terhadap korban bullying SD di Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes adalah sebagai berikut: memotivasi, menasehati, bimbingan secara kelompok dan individu, melakukan tindakan pengawasan, memberi peringatan dan hukuman, menjadi tokoh teladan atau panutan, kerjasama dengan orangtua, kerja kelompok, memberikan penghargaan, memasang slogan dan tata tertib di kelas. Kata Kunci: kepedulian, peserta didik, strategi guru ABSTRACT The study aims to find out how the strategy of teacher to improve the careness of learness about bullying victims in the 4th grade SD di Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes. This type of this research is qualitative research with case study approach. The source of this research is the teacher of 4th grade Elementary School Bumiayu District, Brebes Regency, in the 2016/2017 school year. Technique of data collection using interviews, observation and documentation. Data analysis techniques use data reduction, data presentation and verification. The results of the study indicate that the teacher’s strategy to improve students’ careness of the 4th grade bullying victims SD di Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes as follows: motivating, counseling, grup and individual guidance, taking surveillance, giving warning and punishment, beaing a role model, working withparents, groups, rewarding, show of slogans and order in the classroom. Keywords: careness, learner, teacher strategies
KONSELING KELOMPOK PERSPEKTIF INTEGRATIVE (TEKNIK DISPUTE COGNITIVE & TEKNIK IMAGERI) UNTUK MENCEGAH UPAYA PERCOBAAN BUNUH DIRI SISWA BERASRAMA DI PESANTREN Dwinda Tiara Putri; Rif’ah Purnamasari; Wirda Hanim; Happy Karlina Marjo
Jurnal Selaras : Kajian Bimbingan dan Konseling serta Psikologi Pendidikan Vol. 2 No. 2 (2019): November 2019
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.241 KB) | DOI: 10.33541/Jsvol2iss1pp1

Abstract

Bunuh diri merupakan masalah serius yang tidak bisa dipandang sebelah mata oleh masyarakat di seluruh dunia. Data yang diberikan dalam WHO: suicide data tercatat 800 orang meninggal dalam kasus bunuh diri dan terjadi setiap 40 detik perorang. Bunuh diri menjadi gejala global dan terjadi di sepanjang perjalan hidup manusia. Hal ini menjadi tanggung jawab negara dikarenakan pemuda adalah penerus dan harapan bangsa, generasi yang akan membangun kejayaan bangsa, perjalanan hidup bangsa ini masih panjang dan sangat membutuhkan peran serta pemuda-pemudi dalam membangun bangsa dan negara. Penelitian ini difokuskan pada perspektif integrative (teknik dispute kognitif dan teknik imageri) untukmencegah upaya tindakan bunuh diri pada siswa berasrama di pesantren. Metode yang akan digunakan adalah menggunakan kajian pustaka dengan memaparkan hasil penelitian terdahulu yang relevan pada penelitian ini. Kata Kunci: bunuh diri, konseling kelompok, perspektif integrative, teknik dispute cognitive, teknik imageri ABSTRACT Suicide is a serious problem that cannot be underestimated by people around the world. Data provided in WHO: suicide data there were 800 people died in suicides and occurred every 40 seconds per person. Suicide is a global symptom and occurs throughout the course of human life. This is the responsibility of the state because the youth is the successor and hope of the nation, a generation that will build the glory of the nation, the life journey of this nation is still long and very much needs the participation of young people in developing the nation and state. This study focused on integrative perspectives (cognitive dispute techniques and imagery techniques) to prevent attempts at suicide in boarding students in boarding schools. The method that will be used is to use literature review by describing the results of previous studies that are relevant in this study. Keywords: suicide, group counseling, integrative perspective, cognitive disputetechnique, imageri technique

Page 1 of 1 | Total Record : 6