cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 21 Documents
Search results for , issue "volume 9 number 2 july 2026" : 21 Documents clear
Effect of Exercise, Metformin, and Their Combination on Ki-67 Expression and Endometriotic Implants in a Mouse Model of Endometriosis Hutri Agusti; Inu Mulyantoro
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1109

Abstract

Objective: To determine the effects of exercise, metformin, and their combination on Ki-67 expression and endometriotic implants in a mouse model of endometriosis.Methods: This experimental study used 28 three-month-old BALB/c mice with induced endometriosis, which were randomly and equally divided into four groups (K, P1, P2, and P3). On day 15, group P1 received a swimming protocol (10 minutes/day) for 14 days, group P2 received metformin (4 mg/day) for 14 days, and group P3 received a combination of both treatments, while group K served as the control and received no treatment. Immunohistochemical analysis of Ki-67 expression was performed on peritoneal tissues from the abdominal and pelvic cavities and measured using the Remmele Scale Index. Endometriotic implant areas were analyzed using a computer-based tracing method. Statistical analysis was performed using SPSS version 32, with significance set at p < 0.05.Results: There were significant differences in Ki-67 expression (p = 0.002) and endometriotic implant area (p < 0.001) among the groups. Ki-67 expression was significantly lower in the P1 group compared to the other groups, while the implant area was significantly lower in the P2 group compared to the other groups.Conclusion: Exercise and metformin may be effective potential treatments for endometriosis by reducing Ki-67 expression and endometriotic implant size.Pengaruh Olahraga, Metformin dan Kombinasi terhadap Ekspresi Ki-67 dan Implantasi Endometriosis pada Mencit Model EndometriosisAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh olahraga, metformin, dan kombinasinya terhadap ekspresi Ki-67 dan implan endometriotik pada model mencit endometriosis.Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental dengan menggunakan 28 ekor mencit BALB/c berumur tiga bulan dengan endometriosis yang diinduksi, yang dibagi secara acak dan merata menjadi empat kelompok (K, P1, P2, dan P3). Pada hari ke-15, kelompok P1 diberikan protokol renang (10 menit/hari) selama 14 hari, kelompok P2 diberikan metformin (4 mg/hari) selama 14 hari, dan kelompok P3 diberikan kombinasi kedua perlakuan, sedangkan kelompok K sebagai kontrol tidak diberikan perlakuan. Analisis imunohistokimia ekspresi Ki-67 dilakukan pada jaringan peritoneum rongga abdomen dan pelvis, serta diukur menggunakan Indeks Skala Remmele. Luas implan endometriotik dianalisis menggunakan metode penelusuran berbasis komputer. Analisis statistik dilakukan menggunakan SPSS versi 32 dengan tingkat signifikansi p < 0,05.Hasil: Hasil penelitin ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna pada ekspresi Ki-67 (p = 0,002) dan luas implan endometriotik (p < 0,001) antar kelompok. Ekspresi Ki-67 secara signifikan lebih rendah pada kelompok P1 dibandingkan kelompok lainnya, sedangkan luas implan secara signifikan lebih rendah pada kelompok P2 dibandingkan kelompok lainnya.Kesimpulan: Olahraga dan metformin berpotensi menjadi terapi yang efektif untuk endometriosis dengan menurunkan ekspresi Ki-67 dan ukuran implan endometriotik. 
Pain Management and Shared Decision-Making in Office-Based Gynecologic Procedures: Evidence-Based Strategies and Clinical Perspectives Aymane Ouriaghli; Ayadine Abdeladim; Alilou Ismail; Moukit Mounir; Rahmoune Mohammed; Moulay El Mehdi El Hassani; Kouach Jaouad; Baba Habib Moulay Abdellah
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1062

Abstract

Introduction: Pain during office-based gynecologic procedures is a frequent source of patient distress and may negatively affect satisfaction, adherence to care, and willingness to undergo future procedures. Optimizing pain management and integrating shared decision-making are therefore essential components of high-quality gynecologic practice.Evidence Acquisition: A narrative, non-systematic review of the literature was conducted using PubMed/MEDLINE, Scopus, Web of Science, and the Directory of Open Access Journals (DOAJ). Articles published between 2005 and 2025 were identified using keywords related to gynecologic procedures, pain management, analgesia, and shared decision-making. Randomized controlled trials, meta-analyses, observational studies, guidelines, and selected French-language publications were included. Evidence was qualitatively assessed based on methodological quality and clinical relevance.Results: Pain is commonly reported during office gynecologic procedures in the absence of targeted interventions. Systemic analgesics alone appear to provide limited intra-procedural pain relief, whereas local anesthetic techniques and procedural modifications are associated with reduced pain. Vaginoscopic hysteroscopy, small-diameter instruments, and saline distension media have been associated with improved tolerance. Shared decision-making has been associated with lower perceived pain, reduced anxiety, and higher patient satisfaction across procedures.Conclusions: Effective pain management in office gynecology requires a multimodal, patient-centered approach. Combining evidence-based analgesic strategies with procedural optimization and shared decision-making may improve patient experience and procedural acceptance.Keywords: Office gynecologic procedures; Pain management; Intrauterine device; Endometrial biopsy; Hysteroscopy; Shared decision-making
Association Between Antepartum Hemorrhage and Preterm Delivery at Dr. Hasan Sadikin General Hospital in 2025 Azis Muktasim; Windi Nurdiawan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1191

Abstract

Objective: This study aimed to determine the association between antepartum hemorrhage and the risk of preterm birth at Dr. Hasan Sadikin General Hospital in Bandung in 2025.Methods: This analytical observational study used a retrospective cross-sectional design and secondary data from patients’ medical records. The study population comprised all pregnant women who received obstetric care at Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung. A total sampling technique was used, including all subjects who met the inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed using logistic regression in SPSS version 27.0.Result:  A total of 102 medical records were included in the analysis. Multivariate logistic regression revealed that women with antepartum hemorrhage had an eightfold higher risk of preterm birth compared with those without antepartum hemorrhage.Conclusion: Antepartum hemorrhage was significantly associated with an increased risk of preterm birth at Dr. Hasan Sadikin General Hospital in Bandung in 2025 (p < 0.05).Hubungan Perdarahan Antepartum dan Risiko Persalinan Preterm di RSUP Dr. Hasan Sadikin Tahun 2025AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perdarahan antepartum dan risiko persalinan preterm di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2025.Metode: Penelitian observasional analitik ini menggunakan desain potong lintang retrospektif dengan memanfaatkan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis pasien. Populasi penelitian mencakup seluruh ibu hamil yang mendapatkan pelayanan obstetri di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Teknik total sampling digunakan dengan memasukkan seluruh subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan menggunakan regresi logistik dengan perangkat lunak SPSS versi 27.0.Hasil: Sebanyak 102 rekam medis dianalisis dalam penelitian ini. Analisis regresi logistik multivariat menunjukkan bahwa ibu hamil dengan perdarahan antepartum memiliki risiko delapan kali lebih tinggi mengalami persalinan preterm dibandingkan dengan ibu hamil tanpa perdarahan antepartum.Kesimpulan: Perdarahan antepartum berhubungan secara signifikan dengan peningkatan risiko persalinan preterm di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2025 (p < 0,05).
The Accuracy of Systemic Inflammatory Indices as Preeclampsia Markers: A Retrospective Study Harvey Alvin Hartono; Pramudyo Dwiputro
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1072

Abstract

Objective: This study aimed to assess the association between systemic inflammatory indices, including the systemic immune inflammation index (SII), neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR), monocyte-to-lymphocyte ratio (MLR), systemic inflammation response index (SIRI), and pan immune inflammation value (PIV), and the development of preeclampsia.Methods: A retrospective study was performed at a tertiary healthcare facility from January to June 2025. This study employed a cross sectional design involving 100 samples, divided into two groups: the preeclampsia group (n=50) and the control group (n=50). Hematological parameters and inflammatory indices were compared, with a p-value < 0.05 indicating statistical significance.Results: Normality tests, receiver operating characteristic (ROC) curve analyses, and correlation tests were conducted to evaluate the systemic immune index (SII), neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR), monocyte-to-lymphocyte ratio (MLR), systemic inflammation response index (SIRI), and pan immune inflammation value (PIV). Both the correlation test and ROC curve analyses showed no significant results for any variable (p > 0.05), with sensitivity and specificity ranging from 50 – 56% and 36 – 62%, respectively.Conclusion: The preeclampsia group tended to have higher inflammatory parameters, but the differences were not statistically significant. Future research could include additional inflammatory markers, such as CRP and fibrinogen, and consider confounding factors for more accurate results.Akurasi Indeks Inflamasi Sistemik Sebagai Penanda Preeklamsia: Sebuah Studi RetrospektifAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara indeks inflamasi sistemik yaitu systemic immune-inflammation index (SII), neutrophil to lymphocyte ratio (NLR), monocyte to lymphocyte ratio (MLR), systemic inflammation response index (SIRI), dan pan immune inflammation value (PIV) dengan kejadian preeklampsia.Metode: Studi restropektif dilakukan di fasilitas kesehatan tersier periode Januari – Juni 2025. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional. Studi ini meliputi 100 sampel, dibagi menjadi 2 kelompok: grup preeklamsia (n=50) dan kontrol (n=50). Parameter hematologi dan indeks inflamasi dibandingkan untuk dianalisis dengan nilai p< 0,05 dianggap signifikan secara statistik. Hasil: Uji normalitas, receiver operating characteristics (ROC) curve, dan uji korelasi dilakukan untuk menganalisis systemic immune index (SII), neutrophil to lymphocyte ratio (NLR), monocyte to lymphocyte ratio (MLR), systemic inflammation response index (SIRI), dan pan-immune inflammation value (PIV). Hasil uji korelasi dan ROC curve tidak menunjukkan hasil bermakna pada seluruh variabel (p> 0,05) dengan rentang sensitivitas dan spesifisitas masing-masing sebesar 50 – 56% dan 36 – 62%.Kesimpulan: Kelompok preeklamsia cenderung mempunyai parameter inflamasi lebih tinggi, tetapi tidak berbeda signifikan. Studi berikutnya dapat mengggunakan parameter inflamasi lebih banyak seperti CRP dan fibrinogen, dan menganalisis faktor perancu supaya hasil studi lebih akurat. 
Characteristics of Ovarian Cancer Patients From 2017 – 2023 Hacantya Pradipta; Vegy Supriadi; Gatot Nyarumenteng Adhipurnawan Winarno
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1120

Abstract

Objectives: Ovarian cancer is a malignancy originating in the ovaries and is the most lethal gynecological cancer. It is among the ten most common cancers affecting women in Indonesia. This study aimed to describe the characteristics of ovarian cancer patients treated at Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, during 2017 – 2023.Methods: This retrospective descriptive study was conducted using medical records of ovarian cancer patients treated at Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, from 2017 – 2023. Data collected included age, parity, body mass index (BMI), clinical stage, histopathological findings, and treatment performed.Results: A total of 475 patients were identified. The most common characteristics were age 40 – 60 years (59.58%), nulliparity (53.47%), high BMI (51.37%), and clinical stage IIIC (22.74%). The predominant histopathological type was epithelial (78.74%), and the most frequently performed treatment was optimal debulking (33.05%). Most patients were diagnosed at advanced stages, consistent with the nonspecific presentation of ovarian cancer.Conclusion: Ovarian cancer patients were predominantly middle-aged, nulliparous, overweight, diagnosed at advanced stages, and had epithelial histopathology. The high proportion of advanced-stage diagnoses underscores the importance of increasing awareness, promoting early detection, and optimizing healthcare services to improve prognosis.Karakteristik Pasien Kanker Ovarium Periode 2017 – 2023Abstrak Tujuan: Kanker ovarium merupakan keganasan yang berasal dari ovarium dan merupakan kanker ginekologi paling mematikan. Kanker ini termasuk dalam sepuluh jenis kanker tersering pada perempuan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik pasien kanker ovarium yang dirawat di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung selama periode 2017 – 2023.Metode: Penelitian deskriptif retrospektif ini dilakukan menggunakan data rekam medis pasien kanker ovarium yang dirawat di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung pada periode 2017 – 2023. Data yang dikumpulkan meliputi usia, paritas, indeks massa tubuh (IMT), stadium klinis, hasil histopatologi, serta tindakan yang dilakukan.Hasil: Sebanyak 475 pasien diidentifikasi selama periode penelitian. Karakteristik yang paling sering ditemukan adalah usia 40 – 60 tahun (59,58%), nuliparitas (53,47%), IMT tinggi (51,37%), dan stadium klinis IIIC (22,74%). Tipe histopatologi yang paling dominan adalah tipe epitel (78,74%), dan tindakan yang paling sering dilakukan adalah optimal debulking (33,05%). Sebagian besar pasien terdiagnosis pada stadium lanjut, sesuai dengan gejala kanker ovarium yang tidak spesifik.Kesimpulan: Pasien kanker ovarium didominasi oleh perempuan usia paruh baya, nulipara, dengan kelebihan berat badan, terdiagnosis pada stadium lanjut, dan memiliki histopatologi tipe epitel. Tingginya proporsi diagnosis pada stadium lanjut menegaskan pentingnya peningkatan kesadaran, deteksi dini, dan optimalisasi layanan kesehatan untuk memperbaiki prognosis pasien kanker ovarium. 
Diagnostic Challenges of Antiphospholipid Syndrome in Recurrent Pregnancy Loss: A Case Report Ni Luh Lany Christina Prajawati; Artha Falentin Putri Susilo
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1026

Abstract

Introduction: Recurrent pregnancy loss is a complex condition that affects a small number of women, with antiphospholipid syndrome being a well-recognized cause. Antiphospholipid syndrome is an autoimmune disorder associated with vascular thrombosis and pregnancy complications.Case report: We present a 23-year-old woman with four consecutive pregnancy losses and cerebral venous sinus thrombosis. Despite an initial inability to fully confirm APS using the Sydney criteria due to resource limitations that hindered repeated laboratory testing, consultation with the rheumatology department led to a diagnosis based on the European Alliance of Associations for Rheumatology and American College of Rheumatology (ACR/EULAR) 2023 criteria. This case highlights the diagnostic challenges of antiphospholipid syndrome, especially in low-resource settings where repeat laboratory testing is often not feasible, underscoring the importance of alternative classification systems for confirming antiphospholipid syndrome when standard criteria cannot be met. Further research is necessary to validate the ACR/EULAR 2023 classification criteria and evaluate their impact on pregnancy outcomes in patients.Conclusion: To optimize limited resources, improved diagnosis and pregnancy planning for patients with antiphospholipid syndrome and cerebral venous sinus thrombosis are achieved by applying current classification criteria along with multidisciplinary management, including anticoagulation and obstetric care.Tantangan Diagnosis Sindrom Antifosfolipid pada Keguguran Berulang: Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Keguguran berulang adalah kondisi multifaktorial yang memengaruhi sebagian kecil wanita, dengan sindrom antifosfolipid sebagai salah satu penyebab yang dikenal. Sindrom antifosfolipid adalah gangguan autoimun yang berhubungan dengan trombosis vaskular dan komplikasi kehamilan.Laporan kasus: Kami melaporkan seorang wanita berusia 23 tahun yang mengalami empat kali keguguran berturut-turut dan didiagnosis dengan trombosis sinus vena serebri. Meskipun pada awalnya konfirmasi penuh sindrom antifosfolipid, menurut kriteria Sydney tidak memungkinkan karena keterbatasan sumber daya yang menghambat pengulangan pemeriksaan laboratorium, konsultasi dengan bagian reumatologi menghasilkan diagnosis berdasarkan kriteria 2023 dari European Alliance of Associations for Rheumatology dan American College of Rheumatology (ACR/EULAR). Kasus ini menyoroti tantangan diagnostik sindrom antifosfolipid, terutama di lingkungan dengan sumber daya terbatas dengan pemeriksaan laboratorium berulang tidak selalu dapat dilakukan, serta pentingnya penggunaan sistem klasifikasi alternatif untuk menegakkan diagnosis ketika kriteria standar tidak dapat dipenuhi. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memvalidasi kriteria klasifikasi ACR/EULAR 2023 dan menilai dampaknya terhadap hasil kehamilan pada pasien.Kesimpulan: Untuk mengoptimalkan sumber daya yang terbatas, penggunaan kriteria klasifikasi saat ini bersama perawatan antikoagulasi dan obstetri secara multidisipliner memungkinkan diagnosis dan perencanaan kehamilan yang lebih baik bagi pasien dengan sindrom antifosfolipid dan trombosis sinus vena serebral. 
A Case Report of Primary Amenorrhea Due to Imperforate Hymen with Hematocolpos and Hematometra: Diagnosis and Management Zafira Yasmin Fadhila; Hana Fadila; Dani Setiawan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.999

Abstract

Introduction: Imperforate hymen (IH) is a congenital anomaly of the female genital tract that causes obstruction of vaginal flow. This report aims to describe the clinical presentation of an imperforate hymen and the surgical approach used in the patient.Case Illustration: A 13-years-old girl presented to the obstetrics and gynecology clinic with the chief complaint of lower abdominal pain. Physical examination of the external genitalia revealed a bulging, bluish hymenal membrane. Pelvic ultrasonography showed findings consistent with hematocolpos and hematometra. A diagnosis of imperforate hymen was established. A hymenotomy was performed using a cruciate incision technique. Postoperative evaluation two weeks later demonstrated good wound healing without complications.Conclusion: Imperforate hymen should be identified and managed promptly to prevent complications. Hymenotomy using a cruciate incision technique is an effective therapeutic option with favorable clinical outcomes.Amenore Primer Akibat Himen Imperforata dengan Hematokolpos dan Hematometra: Diagnosis dan TatalaksanaAbstrakPendahuluan: Himen imperforata (HI) merupakan anomali kongenital saluran genitalia wanita yang menyebabkan obstruksi saluran vagina. Laporan ini bertujuan untuk mendeskripsikan himen imperforata dan pendekatan pembedahan pada pasien.Ilustrasi Kasus: Seorang perempuan usia 13 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan utama nyeri perut bawah. Inspeksi genitalia eksterna menunjukkan himen menonjol berwarna kebiruan, dan gambaran hematokolpos pada ultrasonografi pelvis. Diagnosis himen imperforata ditegakkan. Tindakan himenotomi dilakukan dengan teknik insisi menyilang. Evaluasi dua minggu pascaoperasi menunjukkan penyembuhan yang baik tanpa komplikasi.Kesimpulan: Himen imperforata perlu diidentifikasi dan ditangani segera untuk mencegah komplikasi. Himenotomi dengan teknik insisi menyilang merupakan pilihan terapi efektif dengan hasil klinis yang baik.
Psychosexual Interventions for Childhood Sexual Abuse Survivors: A Narrative Review in Obstetric and Gynecological Care Mochamad Rizkar Arev Sukarsa; Alce Everdien; Ahmad Ikbal Purnawarman; Immanuel Bachtiar Parlindungan; Jacklyn Yosefin Gracia Lubis; Marsha Marvella; Wynona Monica Ellsa Wiharja
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1074

Abstract

Objective: To evaluate the effectiveness of psychosexual interventions in improving sexual function and related psychological outcomes among women with a history of childhood sexual abuse, and to explore their clinical relevance and applicability in obstetric and gynecological care settings.Methods: A narrative review of literature from PubMed and ScienceDirect, published through February 2026, was conducted. Included studies involved adult women with a history of childhood sexual abuse who received psychosexual interventions and reported sexual or psychological outcomes. Non-primary studies and those failing to meet inclusion criteria were excluded.Results: Eight studies discussing psychosexual interventions were included, mainly comprising of cognitive-behavioral approaches, mindfulness-based therapy, and expressive writing, demonstrated improvements in sexual function, particularly desire and arousal, and reductions in sexual distress. Trauma-focused therapies, including TF-CBT, EMDR, and CPT, primarily reduced PTSD and related psychological symptoms, resulting in indirect effects on sexual health. This review also summarizes main principles of psychosexual interventions relevant for clinical application. Conclusion: Childhood sexual abuse has long-term effects on sexual functioning across multiple domains. Integrating trauma-focused and psychosexual interventions is crucial for supporting recovery and optimizing sexual health outcomes. In clinical practice, this includes routine screening, tailored counseling that accommodates cognitive and emotional vulnerabilities, and the application of trauma-informed and human rights-based care. Future research is warranted to strengthen these clinical applications.Intervensi Psikoseksual pada Penyintas Kekerasan Seksual Anak: Tinjauan Naratif dalam Praktik Obstetri dan GinekologiAbstrakTujuan: Untuk mengevaluasi efektivitas intervensi psikoseksual dalam meningkatkan fungsi seksual dan luaran psikologis terkait pada perempuan dengan riwayat kekerasan seksual pada masa kanak-kanak, serta mengeksplorasi relevansi dan aplikasinya dalam praktik obstetri dan ginekologi.Metode: Tinjauan naratif dilakukan menggunakan PubMed dan ScienceDirect hingga Februari 2026. Studi yang melibatkan perempuan dewasa dengan riwayat kekerasan seksual pada masa kanak-kanak yang menerima intervensi psikoseksual dan melaporkan luaran seksual atau psikologis disertakan. Studi non-primer dan yang tidak memenuhi kriteria tidak diinklusikanHasil: Sebanyak delapan studi yang membahas intervensi psikoseksual disertakan, terdiri dari terapi berbasis mindfulness, expressive writing, dan pendekatan kognitif-perilaku menunjukkan perbaikan fungsi seksual, terutama pada aspek hasrat, gairah, dan distres seksual. Terapi berfokus trauma seperti TF-CBT, EMDR, dan CPT terutama menurunkan gejala PTSD dan gangguan psikologis terkait, dengan efek tidak langsung terhadap kesehatan seksual. Tinjauan ini juga merangkum prinsip-prinsip utama psikoseksual yang relevan bagi praktik klinis.Kesimpulan: Kekerasan seksual pada masa kanak-kanak berdampak jangka panjang terhadap fungsi seksual di berbagai domain. Integrasi terapi berfokus trauma dan intervensi psikoseksual penting untuk mendukung pemulihan dan meningkatkan kesehatan seksual. Dalam praktik klinis, hal ini mencakup skrining rutin, konseling yang disesuaikan dengan keterbatasan kognitif dan emosional, serta penerapan pendekatan berbasis trauma dan hak asasi manusia. Penelitian berkualitas tinggi masih diperlukan untuk memperkuat aplikasi klinis.  
Monochorionic Triplet Pregnancy with an Acardiac Twin: A Poor Prognostic Case Arlen Resnawaldi; Merlin Margareth Maelissa; Desmiranty Anisha Tipaheuw; Steffi Ribka Ngosiem; Joel Apriyanto Fejacreyo Huka
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1034

Abstract

Introduction: Twin Reversed Arterial Perfusion (TRAP) sequence, or acardiac twin, is a rare complication in monochorionic pregnancies due to abnormal placental anastomoses, leading to reversed perfusion and increased risk of heart failure, polyhydramnions, prematurity, and high mortality until 75% if untreated.Case report: A 29-year-old multigravida with a monozygotic triamniotic triplet pregnancy at 20–21 weeks presented with vaginal bleeding. Ultrasound revealed two non-viable fetuses and one suspected intrauterine demise. Vaginal delivery produced two stillbirth females neonatus (295 g and 275 g) and one malformed acardiac fetus (160 g). The placenta was monochorionic with two umbilical cords. Final diagnoses: complete abortion, monozygotic triamniotic triplet pregnancy, and acardiac twin (TRAP).Conclusion: TRAP in monochorionic triplet pregnancy carries poor prognosis. Early detection and referral to tertiary centers with fetal therapy are vital to improve outcomes.Kehamilan Triplet Monokorionik dengan Janin Akardiakus: Kasus dengan Prognosis Buruk AbstrakPendahuluan: Twin Reversed Arterial Perfusion (TRAP) sequence atau janin akardiakus merupakan komplikasi langka pada kehamilan monokorionik yang terjadi akibat adanya anastomosis plasenta abnormal. Kondisi ini menyebabkan aliran perfusi terbalik sehingga meningkatkan risiko gagal jantung pada janin donor (pump twin), polihidramnion, prematuritas, serta mortalitas tinggi hingga mencapai 75% bila tidak ditatalaksana.Laporan Kasus: Seorang wanita berusia 29 tahun, multigravida, dengan kehamilan triplet monozigot triamniotik pada usia kehamilan 20 – 21 minggu datang dengan keluhan perdarahan pervaginam. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan dua janin tidak hidup dan satu janin diduga mengalami kematian intrauterin. Persalinan pervaginam menghasilkan dua neonatus perempuan lahir mati (berat 295 g dan 275 g) serta satu janin akardiakus dengan malformasi (berat 160 g). Plasenta monokorionik dengan dua tali pusat. Diagnosis akhir: abortus komplit, kehamilan triplet monozigot triamniotik, dan janin akardiakus (TRAP sequence).Kesimpulan: TRAP pada kehamilan triplet monokorionik memiliki prognosis yang buruk. Deteksi dini dan rujukan ke pusat pelayanan tersier dengan fasilitas terapi fetal sangat diperlukan untuk memperbaiki luaran kehamilan. 
Adolescent’s Reproductive Health Issues in Remote Areas with Suspected Sexual Violence: A Case Series Gita Sirini Candijaya; JM Seno Adjie; Anna Sofyana; Desmon Andreas Lubis
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1096

Abstract

Introduction: Sexual violence against adolescents is a major public health concern in Indonesia with significant medicolegal and psychosocial consequences. UNICEF estimates that more than 370 million girls in Asia have experienced sexual assault in childhood, while Indonesia’s 2021 National Survey reported a 6.9% lifetime prevalence among youth. Adolescents are particularly vulnerable due to stigma and limited access to adolescent-friendly services. Clinical descriptions of medicolegal genital findings in Indonesian adolescents remain limited.Case Presentation: This case series describes three female adolescents aged 16–18 years who underwent medicolegal genital examination following alleged sexual assault. Two patients had fresh hymenal lacerations consistent with acute penetrative trauma, while one had healed hymenal lacerations. All presented with emotional distress and received clinical assessment, reproductive health counseling, and recommendations for psychological support, sexually transmitted infection evaluation, and follow-up care. Examinations were conducted according to national forensic protocols.Conclusion: Normal or healed genital findings do not exclude sexual violence. Obstetricians and gynecologists play an important role in trauma-informed care. Multisectoral collaboration is needed to ensure comprehensive management and long-term support for adolescent survivors.Temuan Genital Medikolegal pada Remaja dengan Dugaan Kekerasan Seksual di Daerah Terpencil: Seri KasusAbstrakPendahuluan: Kekerasan seksual pada remaja merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan konsekuensi medikolegal dan psikososial yang bermakna. UNICEF memperkirakan lebih dari 370 juta anak perempuan di Asia pernah mengalami kekerasan seksual pada masa kanak-kanak, sedangkan Survei Nasional Indonesia tahun 2021 melaporkan prevalensi seumur hidup sebesar 6,9% pada kelompok usia muda. Remaja rentan akibat stigma dan keterbatasan akses terhadap layanan yang ramah remaja. Deskripsi temuan genital medikolegal pada remaja Indonesia masih terbatas.Laporan Kasus: Seri kasus ini melaporkan tiga remaja perempuan usia 16–18 tahun yang menjalani pemeriksaan genital medikolegal setelah dugaan kekerasan seksual. Dua pasien menunjukkan laserasi himen baru yang konsisten dengan trauma penetratif akut, sedangkan satu pasien memiliki laserasi himen yang telah sembuh. Seluruh pasien mengalami distres emosional dan mendapatkan asesmen klinis, konseling kesehatan reproduksi, serta anjuran dukungan psikologis, evaluasi infeksi menular seksual, dan tindak lanjut.Kesimpulan: Temuan genital yang normal atau telah sembuh tidak menyingkirkan kemungkinan kekerasan seksual. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi berperan penting dalam pelayanan berbasis trauma, dengan kolaborasi multisektoral untuk menjamin penanganan komprehensif dan dukungan jangka panjang bagi penyintas remaja. 

Page 1 of 3 | Total Record : 21