cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan
ISSN : 25988573     EISSN : 25991388     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 3 (2018)" : 10 Documents clear
Faktor yang Mempengaruhi Ibu Hamil Memilih Penolong Persalinan di Wilayah Kerja Puskesmas Malakopa Kabupaten Kepulauan Mentawai Desi Fitria Neti; Lukman Waris; Aris Yulianto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.584 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i3.126

Abstract

Abstrak Kematian ibu dan anak masih menjadi masalah kesehatan. Risiko mengalami kematian ibu atau bayi bagi ibu melahirkan sangat dipengaruhi di mana seorang ibu hamil memilih penolong persalinan. Studi ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi ibu hamil dalam memilih penolong persalinan di wilayah kerja Puskesmas Malakopa Kabupaten Kepulauan Mentawai. Metode penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang. Data dikumpulkan pada Puskesmas Malakopa Kabupaten Kepulauan Mentawai Provinsi Sumatrera Barat bulan Maret 2017. Teknik pengambilan sampel secara random sampling, data dianalisis dengan menggunakan SPSS. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan telaah dokumen. Hasil penelitian Ibu hamil di wilayah Puskesmas Malakopa yang memilih bersalin dengan tenaga kesehatan sebesar 62,9%, persalinan ditolong oleh tenaga non kesehatan sebesar 37,1%. Uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara faktor internal dan eksternal pada kelompok ibu hamil terhadap pemilihan penolong persalinan. Untuk itu disarankan dalam meningkatkan cakupan persalinan nakes di wilayah kerja Puskesmas Malakopa Kabupaten Kepulauan Mentawai diperlukan perhatian kusus bagi tenaga kesehatan terhadap faktor yang mempengaruhi ibu hamil dalam memilih penolong persalinan. Kata kunci: Ibu Hamil, Penolong Persalinan Abstract Maternal and child mortality is still becoming health problem. The risk of having a mother or baby’s death for the mother of childbirth is strongly influenced where a pregnant woman chooses a birth attendant. This study aimed to determine the factors that influence pregnant women in choosing birth attendants in the working area of Malakopa Health Center, Mentawai Islands District. This research is quantitative method with cross- sectional design. Data was collected at Malakopa Health Center, Mentawai Islands District, West Sumatera Province, in March 2017. The sampling technique was random sampling. Data was analyzed using SPSS. Collecting data through observation, interviews, and document review. The results of the study of pregnant women in the Malakopa Health Center area who chose to give birth with health workers were 62.9%, deliveries were assisted by non-health workers by 37.1%. The statistic test showed no significant relationship between internal and external factors in the group of pregnant women on the selection of birth attendants. It is recommended that in increasing coverage of health workers in the working area of the Malakopa Health Center, Mentawai District need special attention for health workers on factors that affect pregnant women in choosing birth attendants. Keywords: Pregnant Women, Birth attendants
Gambaran Karakteristik dan Motivasi Tim Nusantara Sehat: Hasil Monitoring dan Evaluasi Periode 1 dan 2 Mieska Despitasari; nita prihartini; Harimat Hendarwan
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.693 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i3.639

Abstract

Abstrak Nusantara Sehat (NS) adalah salah satu program yang mendukung fokus kebijakan Kementerian Kesehatan periode 2015–2019 terkait pelayanan kesehatan (yankes) primer, termasuk mendukung program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Diharapkan melalui program NS, dapat terjadi peningkatan akses dan kualitas yankes di Daerah Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK). Program NS dilakukan dengan penempatan tenaga kesehatan (nakes) berbasis tim yang terdiri dari beberapa jenis nakes pada tahun 2015 yang terbagi ke dalam dua periode. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran karakteristik dan motivasi tenaga Nusantara Sehat periode 1 dan 2 sebagai salah satu komponen pemberi layanan di DTPK. Penelitian dengan studi kuantitatif yang didesain potong lintang. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang dijawab oleh 690 responden NS. Data dianalisis dengan deskriptif. Jenis nakes dengan proporsi di atas 15% adalah tenaga kesehatan lingkungan, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga gizi dan perawat. Tenaga dokter menempati proporsi terkecil. Sebagian besar berpendidikan terakhir diploma III. Kurang dari 30% yang berjenis kelamin laki-laki. Responden terbanyak berusia 20-24 tahun. Berdasarkan perhitungan skor motivasi Alderfer, tidak ada satupun responden yang masuk ke dalam kategori motivasi rendah. Hampir 92% responden memiliki motivasi tinggi dan berbeda bermakna untuk variabel usia dengan p-value = 0,036 (p<0,05). Walaupun responden berasal dari berbagai periode keberangkatan, jenis tenaga, tingkat pendidikan terakhir, jenis kelamin dan kemiripan wilayah geografis, tidak ada perbedaan skor motivasi antar kelompok. Peningkatan penyebaran informasi pendaftaran sehingga lebih luas dapat dilakukan dengan memperpanjang tenggat waktu terjangkau oleh seluruh masyarakat Indonesia dan menumbuhkan minat untuk mendaftar menjadi tenaga Nusantara Sehat. Kata kunci: motivasi nakes, DTPK, nusantara sehat Abstract Nusantara Sehat (NS) is one of the programs that supports the Ministry of Health’s policy focus for the 2015-2019 period regarding primary health care, including supporting the National Health Insurance (JKN) program. It is expected that through the NS program, there will be an increase in access and quality of services in remote areas, borders and islands (DTPK). The NS program is conducted by placing team-based health workers consisting of several types of health workers in 2015 divided into two periods.This study aims to describe characteristics and motivation of Nusantara Sehat batch 1 and 2 as one of service provider component in Indonesia’s remote areas (DTPK). Data was obtained by filling out a quantitative questionnaire by 690 respondents. 555 respondents were filling out a questionnaire. The study used cross sectional design and the data is processed descriptively. Environmental health workers, midwives, public health personnel, nutritionist and nurses were types of personnel with more than 15% proportions. Doctors occupy the smallest proportion. Most recently educated diploma III. Less than 30% are male. Most respondents aged 20-24 years. Based on the calculation of Alderfer motivation score, none of the respondents were low motivated. Almost 92% of respondents have high motivation and are significantly different for age variables with p-value = 0.036 (p <0.05). Although respondents came from various periods of departure, type of staff, recent education level, gender and similarity in geographical area, there were no differences in motivation scores between groups. To increase the widespread distribution of registration information and longer deadlines so that it is affordable for all Indonesian people and foster interest in registering as a Nusantara Sehat staff. Keywords: health worker motivation, remote areas, nusantara sehat
Kendala Organisasi Berbasis Komunitas dalam Program Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS: Studi Kasus pada Dua LSM Peduli AIDS di Jakarta Ranti Suciati; Mujiati Mujiati; Novianti Novianti
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.716 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i3.761

Abstract

Abstrak Semakin meningkatnya jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia, berdampak tidak hanya pada masalah kesehatan, memacu pemerintah untuk melibatkan masyarakat sipil dalam Organisasi Berbasis Komunitas (OBK) untuk ikut berperan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Pentingnya identifikasi kendala atau hambatan yang dihadapi oleh OBK memunculkan strategi atau alternatif solusi untuk mengatasi kendala, serta memberikan gambaran model intervensi yang lebih sinkron antara pemerintah dan masyarakat. Desain penelitian adalah kualitatif dengan melakukan studi kasus di dua LSM Peduli AIDS di Jakarta. Informan dipilih secara purposive sampling yaitu pengurus, anggota/petugas, dan dampingan dari dua OBK. Pengumpulan informasi dengan wawancara mendalam berdasarkan pedoman wawancara dan diolah menggunakan metode content analysis. Kendala yang dihadapi OBK yaitu alur rujukan BPJS yang mengikuti domisili sehingga memberatkan pasien, kurang optimalnya koordinasi dan kerjasama antara OBK dengan Puskesmas, belum meratanya kualitas dan kapasitas SDM anggota OBK, persoalan administratif organisasi, sumber dana yang tidak selalu kontinu, adanya perbedaan kepentingan antara OBK dengan pihak kepolisian, serta masih tingginya stigma masyarakat terhadap penderita HIV/AIDS. Solusi mengatasi kendala OBK dilakukan dengan peningkatan efektifitas pelaksanaan program pemerintah melalui OBK, antara lain dengan penerapan fleksibilitas pengelolaan dana berdasarkan kinerja OBK, peningkatan kapasitas SDM, pemantapan sistem manajerial, pemahaman alur layanan kesehatan di Puskesmas, serta social support bagi penderita HIV/AIDS. Kata kunci: organisasi berbasis komunitas, LSM, HIV/AIDS Abstract The increasing number of HIV/AIDS cases in Indonesia that impact not only on health issues, spur the Government to involve civil society in community-based organizations (OBK) to play a role in HIV/AIDS prevention program. Identification of constraints or obstacles faced by OBK do as they can generate alternative strategies or solutions to overcome these constraints, and provide a more synchronous model of intervention between the government and the community. This type of research is a case study at two AIDS Awareness NGOs in Jakarta. The informants were chosen by purposive sampling ie the board, members/officers, and assistants from the two NGOs. Information collection with by in-depth interview based on interview guideline and processed using content analysis method. Constraints faced by the OBK is the issue of referral flow pathways that follow the domicile so burdensome patients, less optimal coordination and cooperation between OBK with primary health care, uneven quality and capacity of human resources of NGO members, organizational administrative issues, sources of funds that are not always continuous, different interests between the OBK with the police department, and the stigma. Reduction of obstacles faced by OBK can be done by increasing the effectiveness of government program implementation through OBK, among others by applying flexibility of fund management based on OBK performance, human resource capacity building, managerial system strengthening, understanding of health service flow in primary health care, and social support for patient HIV/AIDS. Keywords: community-based organizations, NGOs, HIV/AIDS
Kasus-Kasus Maternal di Berita Online Menyangkut Hak Asasi yang Patut Menjadi Pelajaran dalam Pendidikan Bidan di Indonesia Mahindria Vici Virahayu; D. Dasuki; O. Emilia; M. Hasanbasri; M. Hakimi
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.282 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i3.813

Abstract

Abstrak Gerakan menghormati hak asasi manusia dalam pelayanan kesehatan maternal di berbagai negara mendorong petugas kesehatan bertindak lebih manusiawi. Perempuan selama ini diam karena tidak ingin memutus hubungan harmonis dengan bidan serta jarangnya isu ini diangkat dalam pertemuan profesi dan publikasi ilmiah menyebabkan perhatian yang rendah terhadap hak asasi manusia dalam pelayanan kesehatan maternal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kegagalan dalam pemenuhan hak kesehatan ibu hamil dan bersalin serta mengeksplorasi alasan-alasan yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Metode penelitian dilakukan dengan melakukan penelusuran berita online kompas.com, tribunnews.com, dan detiknews.com tahun 2016-2018 dengan kata kunci “malpraktik” dan “bidan”, tentang persoalan hak asasi manusia dalam pelayanan bidan. Kami mengikuti kasus dalam lebih dari satu media online, disertai perkembangan berita tentang kasus tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dominasi bidan dalam pelayanan kesehatan maternal di Indonesia, berdampak pada pengabaian hak asasi perempuan dan keselamatan. Kejadian ini pada kelompok orang dengan pendapatan rendah dan kelompok yang mampu. Didapatkan praktik bidan di luar kewenangan, kemungkinan motivasi mendapatkan keuntungan, dominasi bidan, posisi sosial perempuan yang rendah dalam pelayanan kesehatan maternal, dan keterlibatan masyarakat yang rendah untuk mendukung perempuan yang mengalami ketidakadilan dalam layanan kesehatan. Kepercayaan dan ketergantungan perempuan pada bidan, berdampak pengabaian hak asasi dan keselamatan ibu, tindakan di luar kewenangan, untuk pencarian keuntungan dalam praktik pribadi. Organisasi profesi dan pendidik bidan harus memasukkan penerapan hak asasi manusia dalam praktik kebidanan melalui kasus-kasus dari berita online dalam pertemuan berkala asosiasi profesi, serta kurikulum pendidikan, untuk mencegah dampak buruk pengabaian hak asasi ibu di masa depan. Kata kunci: pengabaian hak asasi dalam layanan bidan, kasus malpraktik bidan, penguatan pendidikan bidan Abstract The movement to respect human rights in maternal health services in various countries encourages health workers to act more humanely. Low attention to human rights issue in maternal health services due to the silent of the victims-because women do not want to break the harmonious relationship with midwives, and this issue is rarely raised in professional meetings and scientific publications. This study aims to identify failures in fulfilling the health rights of pregnant women and childbirth and explore the reasons for this. The research method is done by searching online news kompas.com, tribunnews.com, and detiknews.com in 2016-2018 with the keywords “malpractice” and “midwife”, about human rights issues in midwifery services. We followed the case in more than one online media, accompanied by the case progress report. The results of the study show that the dominance of midwives in maternal health services in Indonesia has an impact on neglecting women’s human rights and safety. This event is in the group of people with low income and groups who are able. The practice of midwive’s out of authority, possible motivations for profit, dominance of midwives, low social position of women in maternal health services, and low community involvement in supporting women who experience inequality in maternal health services. Trust and dependence of women on midwives, impact on neglecting human rights and maternal safety, actions that are beyond authority, for seeking profit in private practice. Midwife professional organizations and educators must incorporate the application of human rights in midwifery practice through cases from online news in periodic meetings of professional associations, as well as educational curricula, to prevent the adverse effects of neglecting maternal rights in the future. Keywords: neglect of human rights in midwife services, midwife malpractice case, strengthening midwifery education
Karakteristik dan Pengetahuan Pasien tentang BPJS Kesehatan di Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk Lusiana Apriani; Nanda Aula Rumana
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.224 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i3.851

Abstract

Abstrak Berdasarkan amanat Undang-Undang RI Nomor 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, sejak 1 Januari 2014 Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan mulai berlaku dan ditargetkan mulai 1 Januari 2019 semua warga negara sudah terdaftar menjadi peserta BPJS yang tentu berdampak meningkatnya jumlah pasien di pelayanan kesehatan tingkat 1. Meningkatnya jumlah peserta BPJS mempengaruhi tingkat kepuasan masyarakat salah satunya adalah faktor pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan pasien tentang BPJS Kesehatan melalui beberapa indikator antara lain dari peserta jaminan kesehatan, anggota keluarga yang ditanggung, hak dan kewajiban peserta, pendaftaran menjadi peserta, perubahan data kepesertaan, iuran, denda keterlambatan, penghentian pelayanan kesehatan, fasilitas bagi peserta, manfaat akomodasi rawat inap, pelayanan kesehatan yang dijamin, alur pelayanan kesehatan, tata cara mendapatkan pelayanan kesehatan, dan pelayanan kesehatan yang tidak dijamin. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian dilakukan di Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat sebanyak 85 responden dengan teknik pengumpulan data melalui angket. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat pengetahuan peserta BPJS masih rendah, peserta BPJS memilih rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS sesuai keinginan, keterlambatan iuran 2 bulan masih dapat digunakan untuk mendapat pelayanan kesehatan, dan peserta BPJS kelas III dapat dirawat di kelas I. Disarankan kepada pihak Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk untuk mensosialisasikan tentang rujukan berjenjang dari Faskes 1 ke Faskes berikutnya, dan perlu menginformasikan agar menyelesaikan denda keterlambatan iuran untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, serta manfaat akomodasi rawat inap berlaku pada kenaikan kelas. Kata kunci: pengetahuan, pasien, BPJS Kesehatan Abstract Based on the rules of the Republic of Indonesia Law Number 24 of 2011 concerning the Guarantee Organizing Agency Socially, since January 1, 2014 the Health Insurance Organizing Agency will be effective and targeted to start January 1, 2019 all citizens have been registered as BPJS participants which certainly has an increasing number of patients 1. Increasing BPJS participants influence the level of community satisfaction, one of which is the knowledge factor. Research This aims to determine the level of knowledge of patients about BPJS Health through several indicators include participants from health insurance, family members who are covered, rights and obligations participant, registration as participant, change in membership data, contributions, late fees, termination health services, facilities for participants, benefits of inpatient accommodation, guaranteed health services, health service flow, procedures for obtaining health services, and health services not guaranteed. Research uses quantitative methods with descriptive approaches. The research was conducted in the Kebon Jeruk District Health Center, West Jakarta, there were 85 respondents with collection techniques data through questionnaires. The results of the study show that the level of knowledge of BPJS participants is still low, BPJS participants choose hospitals that work with BPJS as desired, late contribution 2 months can still be used to get health services, and class III BPJS participants can be treated in class I. It is recommended to the Kebon Jeruk District Health Center to socialize about tiered referrals from Health Facilities 1 to the next Health Facilities, and need to inform them to complete late fees for obtaining health services, as well as the benefits of inpatient accommodation applies to class increases. Keywords: knowledge, patients, BPJS Health
Gambaran Tingkat Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan FNAB di Laboratorium Patologi Anatomi RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda Tahun 2018 Simanjuntak Mayro; Eko Nugroho; Oswald L Simatupang
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.474 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i3.1075

Abstract

Abstrak Kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien yang timbul akibat dari kinerja layanan kesehatan yang diperoleh setelah pasien membandingkan dengan apa yang diharapkannya, sehingga kepuasan pasien bergantung pada kualitas pelayanan yang diterimanya. Untuk menilai kualitas pelayanan terdapat 5 dimensi yang dapat diukur, yaitu keandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), empati (empathy), dan keberwujudan (tangible). Makin baik kualitas pelayanan yang diberikan, maka akan semakin tinggi tingkat kepuasan pasien. Tujuannya untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan di laboratorium patologi anatomi RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Penelitian deskriptif dilakukan dengan teknik purposive sampling pada pasien yang datang ke Laboratorium Patologi Anatomi RSUD Abdul Wahab Sjahranie, Samarinda, yang memenuhi kriteria. Data yang peroleh berasal dari data primer dengan menggunakan kuesioner yang dikerjakan secara terbimbing. Terdapat kesenjangan (gap) harapan sebesar -0,6 untuk dimensi keandalan, -0,2 untuk dimensi daya tanggap, -0,2 untuk dimensi jaminan, -0,1 dimensi empati, dan -0,9 untuk dimensi keberwujudan. Tingkat kepuasan pasien adalah 96% responden puas dan 4% responden tidak puas. Kata kunci: kepuasan pasien, pelayanan kesehatan, keandalan, daya tanggap, jaminan Abstract Patient satisfaction is a level of patient's feelings rising from the performance of health services that are obtained after the patient compares it with what he expected, so that patient satisfaction depends on the quality of service received. To assess service quality there are 5 dimensions that can be measured, namely reliability, responsiveness, assurance, empathy, and tangible. The better quality of service provided, the higher the level of patient satisfaction. To determine the level of patient satisfaction with services in the anatomical pathology laboratory of the Abdul Wahab Sjahranie Hospital, Samarinda. Descriptive study was conducted by purposive sampling technique carried out on 50 patients who came to the Anatomical Pathology Laboratory of Abdul Wahab Sjahranie Hospital, in Samarinda that met the criteria. The data obtained comes from primary data using a questionnaire that is done in a guided manner. There was an expectation gap of -0.6 for reliability dimensions, -0.2 for responsiveness dimensions, -0,2 for assurance dimensions, -0.1 empathy dimensions and -0,9 for tangible dimensions. The level of patient satisfaction was 96% of respondents were satisfied and 4% of respondents were dissatisfied. Keywords: patient satisfaction, health services, reliability, responsiveness, assurance
Penanganan Balita Gizi Buruk di Puskesmas Provinsi Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Timur Astuti Lamid; Nova Sri Hartati; Fitriana Fitriana; Srilaning Driyah
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.052 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i3.1129

Abstract

Abstrak Masalah balita gizi buruk cenderung menurun pada tahun 2018, namun di beberapa daerah kasus gizi buruk meningkat menjadi KLB. Salah satu penanganannya melalui pemulihan di puskesmas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana penanganan gizi buruk dilakukan oleh tenaga kesehatan puskesmas dan kader posyandu. Desain penelitian menggunakan pendekatan mix methods, berlokasi di Kalimantan Barat, Banten, Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur. Dua kabupaten dipilih dari masing-masing provinsi, selanjutnya dari tiap kabupaten diambil satu puskesmas yang banyak kasus gizi buruk. Informan penelitian adalah Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) puskesmas dan kader posyandu. Data yang dikumpulkan meliputi pelayanan gizi dan kesehatan, makanan terapi, dan penyuluhan serta peranan kader. Cara pengumpulan data dengan wawancara, in-depth interview dan diskusi kelompok terarah. Analisis data kuantitatif disajikan secara deskriptif dan kualitatif dengan content analysis. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar puskesmas di daerah penelitian menangani gizi buruk dengan cara rawat jalan. Belum semua TPG puskesmas mendapat pelatihan gizi buruk, hanya sebagian puskesmas menggunakan makanan terapi sedangkan lainnya menggunakan makanan tambahan yang tidak sesuai dengan pedoman. Dukungan sebagian kader dalam penanganan gizi buruk di puskesmas berupa penemuan kasus gizi buruk dan merujuknya, membagikan PMT ke rumah balita. Penanganan balita gizi buruk di puskesmas belum optimal karena tidak didukung dengan ketersediaan input berupa makanan terapi dan belum semua TPG mendapat pelatihan gizi buruk. Pelatihan gizi buruk untuk tenaga puskesmas perlu ditingkatkan dan sistem pengadaan makanan terapi di daerah perlu diperbaiki, agar kualitas pelayanan gizi buruk menjadi lebih baik. Kata kunci: gizi buruk, TPG, PMT, sistem pengadaan, pelayanan kesehatan Abstract The problem of severe malnutrition children under five years old tends to decline in 2018. One of the treatment measures was through recovery at the health center. The purpose of this study was to evaluate the extent to which severe malnutrition children was handled by health center nutrition officer and posyandu cadre. Mix methods approach was used as research design and the study was located in West Kalimantan, Banten, West Java and East Nusa Tenggara Provinces. Two districts were chosen, then one health center from each district was selected based on the highest severe malnutrition cases. The informants were nutrition officer of health center and posyandu cadres. The data collected were nutrition and health services, therapeutic food, counseling, and the role of cadres. Data was collected through interview, in-depth interview, and focus group discussion. Quantitative data analysis was presented descriptively and qualitative data was presented with content analysis.The majority of health centers handled severe malnutrition children in outpatient treatment setting. Not all nutrition officer of health centre have received training in handling severe malnutrition. Only some health centers used therapeutic food while others used supplementary foods that was not recommended. The support of cadre was seen in the form of finding cases of malnutrition and distributing supplementary food to the malnourished children’s homes. The handling of malnourished children in health centers was not optimal, because it was not supported by the availability of therapeutic food and not all nutrition officer have been trained. For recommendations, nutrition training for health center staff needs to be increased and the system for provision therapeutic food in the regions needs to be improved in order to improve the quality of nutrition services. Keywords: severe malnutrition, health center nutrition officer, mix methods, indepth interview, content analysis
Merokok dan Karies Gigi di Indonesia: Analisis Lanjut Riskesdas 2013 Indirawati Tjahja
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.626 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i3.1133

Abstract

Abstrak Merokok merupakan hal yang biasa ditemui di dunia khususnya di Indonesia. Kebiasaan merokok ini banyak dijumpai pada orang yang berpendidikan tinggi, rendah, berbagai umur, muda maupun umur lanjut, laki-laki, perempuan, bekerja, tidak bekerja, miskin maupun tidak miskin, meskipun merokok diketahui mengganggu kesehatan. Karies gigi merupakan masalah yang utama pada kesehatan gigi–mulut. Tujuan penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, dan merokok dengan karies gigi. Metode dengan menggunakan desain penelitian potong lintang (Cross Sectional). Sampel penelitian adalah semua anggota rumah tangga yang berusia 15 tahun ke atas. Sampel karies gigi berjumlah 173.828 orang. Tidak terdapat hubungan antara merokok dengan karies gigi dengan nilai p:0,664. Namun terdapat hubungan yang bermakna antara variabel umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, sosial ekonomi dengan karies gigi dengan nilai p: 0,000. Bagi perokok maupun bukan perokok yang mempunyai masalah dengan karies gigi sebaiknya ke dokter gigi untuk dilakukan perawatan gigi berupa penambalan gigi atau perawatan saluran akar gigi. Kata kunci: merokok, karies gigi, riskesdas Abstract Smoking is a common behaviur in the world, especially in Indonesia. We meet this smoking habit in people who are highly or low educated, in various ages, include men, women although smoking is known to be dangerous interfere with they are health. Dental caries is a major problem in oral health. Objective whether there is a relationship between smoking and dental caries, is there a relationship between age, sex, education, occupation and socio-economic. The purpose of this study is there a relationship between smoking behavior and dental caries. Method by using the a Cross Sectional research design. The sample of study was all household members aged 15 years and over. The dental caries samples numbered 173,828 people. There was no relationship between smoking behavior and dental caries, with p value of 0.664. But there is a meaningful relationship between the variables of age, gender, socio-economic, education, occupation, with dental caries with p value: 0,000. For smokers and non smokers who have problems with dental caries should go to the dentist and having the dental care in the form of dental fillings or root canal treatment. Keywords: smoking, dental caries, riskesdas
Front Matter Vol. 2 No. 3 Desember 2018 Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Back Matter Vol. 2 No. 3 Desember 2018 Pelayanan Kesehatan, Jurnal Penelitian dan Pengembangan
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 10