cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan
ISSN : 25988573     EISSN : 25991388     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 2 (2020)" : 8 Documents clear
Metode Estimasi Hemoglobin pada Situasi Sumberdaya Terbatas: Kajian Pustaka Mukhlissul Faatih; Frans Dany; Ratih Rinendyaputri; Kambang Sariadji; Ida Susanti; Uly A. Nikmah
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v4i2.2961

Abstract

Abstrak Ada beberapa teknik untuk mengestimasi Hemoglobin (Hb) yang telah tersedia secara komersial. Sebagian besar metode ini tidak cocok untuk kondisi di negara berkembang dengan keterbatasan sumber daya, terutama karena harga pembelian peralatan yang tinggi atau biaya operasional yang tinggi. Kajian ini dilakukan untuk meninjau metode estimasi Hb yang dapat dilakukan pada situasi seumberdaya terbatas dari perspektif negara berkembang. Kajian pustaka dilakukan melalui database PubMed untuk studi-studi yang membandingkan berbagai teknik estimasi Hb. Kajian ini mendapatkan 13 artikel yang dimasukkan dalam kajian ini. Mengestimasi Hb pada kondisi yang sumberdayanya terbatas diperlukan metode yang ekonomis, praktis, cepat, valid, dan handal. Cyanmethemoglobin langsung telah menjadi gold-standard untuk estimasi hemoglobin, tetapi metode lain seperti Haemoglobin Color Scale (HCS), teknik Sahli, teknik Lovibond-Drabkin, teknik Tallqvist, metode tembaga-sulfat, HemoCue®, dan Automated Haematology Analyzer (AHA) juga tersedia. Setiap metode memiliki prinsip kerja yang berbeda dan kelebihan serta kekurangannya masing-masing. HemoCue® adalah metode terbaik untuk skrining awal anemia karena dapat diandalkan, mudah dibawa, tidak memerlukan catu daya dan mudah digunakan dikondisi sumber daya yang kurang tanpa perlu melatih petugas kesehatan. HCS adalah metode potensial lain yang dapat digunakan dalam situasi kekurangan sumber daya. Namun, metode tersebut harus diselidiki lebih lanjut melalui studi yang lebih besar sebelum diimplementasikan. Kata kunci: Metode estimasi hemoglobin Abstract There are several techniques for estimating Hemoglobin (Hb) that are commercially available. Most of these methods are not suitable for conditions in developing countries with limited resources, mainly due to equipment prices or high operational costs. This study was conducted to review the methods of estimating Hb which can be carried out in limited resource situations from the perspective of developing countries. A literature review was carried out through the PubMed database for studies comparing various Hb estimation techniques. Results of the literature review, 13 articles were included in this review. Hb estimation in limited resources situations required methods that are not expensive, practical, quick, valid, and reliable. Direct cyanmethemoglobin has become the gold standard for estimating hemoglobin, but other methods such as Hemoglobin Color Scale (HCS), Sahli technique, Lovibond-Drabkin technique, Tallqvist technique, copper-sulfate method, HemoCue®, and Automated Hematology Analyzer (AHA) are also available. Each method has a different working principle and its advantages and disadvantages. HemoCue® is the choice method for initial screening of anemia because it is reliable, portable, does not require a power supply and is easy to use in poor resource conditions without requiring health worker’s training. HCS is another potential method that can be used in limited resource situations. However, these methods must be further investigated through larger studies before it’s implementation. Keywords: Haemoglobin estimation method
Tren Pemilihan Metode Kontrasepsi di Masyarakat di Beberapa Negara Dunia: Tinjauan Diena Karfiena Rahma Danti; Rano Kurnia Sinuraya
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v4i2.3182

Abstract

AbstrakSaat ini kontrasepsi seakan menjadi kebutuhan primer. Layaknya Indonesia, negara lain menggunakankontrasepsi guna menstabilkan pertumbuhan penduduk. Perkembangan keilmuan tentu berdampak langsungterhadap perkembangan metode kontrasepsi. Tinjauan artikel ini bertujuan untuk mengetahui tren dan faktorumum yang memengaruhi penggunaan kontrasepsi dalam lima tahun terakhir. Jurnal yang digunakan didapatdari laman situs Pubmed dan ScienceDirect dengan kata kunci “effectiveness of contraception”; “Trend ofContraception” dan “Cost Effectivenesss Analysis of Contraception”. Kriteria jurnal terdiri dari kriteria inklusidan kriteria eksklusi. Kriteria inklusi adalah jurnal berbahasa inggris yang dipublikasi lima tahun terakhir.Sementara kriteria eksklusi adalah jurnal riview dan jurnal yang membahas penggunaan kontrasepsi di suatunegara; populasi dengan penyakit tertentu. Sebanyak 18 jurnal dari 14 negara yang lolos ulasan denganmetode PICO. Mayoritas negara di dunia percaya bahwa long acting reversible contraceptive (LARC)merupakan metode kontrasepsi paling efektif. Tujuh dari empat belas negara menjadikan short acting reversible contraceptive (SARC) sebagai metode paling banyak digunakan. Faktor umum yang memengaruhi pemilihan kontrasepsi diantaranya tempat tinggal, agama, usia, aktivitas seksual, jumlah anak, dan tingkat pendidikan. Tren pemilihan metode kontrasepsi di dunia masih condong kepada SARC walaupun sudah banyak penelitian yang menyatakan LARC jauh lebih efektif dan cost-effective.Kata kunci: Kontrasepsi, LARC, Faktor sosialAbstract Currently, contraception seems to be a primary need. Like Indonesia, other countries use contraception to stabilize population growth. Advances in science have an impact on the development of contraceptivemethods. This review article aims to examine general trends and factors affecting contraceptive use in the pastfive years. The journals used were obtained from the Pubmed and ScienceDirect web pages with the keyword"effectiveness of contraception"; "Trend of Contraception" and "Cost-Effectiveness Analysis of Contraception".Journal criteria consist of inclusion criteria and exclusion criteria. The inclusion criterion is an English languagejournal published in the last five years. Exclusion criteria were review journals; study population with diseases.A total of 18 journals from 14 countries passed the review using the PICO method. The majority of countries inthe world believe that long-acting reversible contraceptive (LARC) is the most effective contraceptive method.Seven of the fourteen countries have made short-acting reversible contraceptive (SARC) the most widely used method. General factors that influence the choice of contraception include a place of residence, religion, age, sexual activity, number of children, and level of education. The trend in choosing contraceptive methods in the world is still leaning towards SARC even though there have been many studies that have claimed that LARCis more effective and cost-effective.Keywords: Contraception, LARC, Social factors
Kebijakan Perlindungan Tenaga Kesehatan dalam Menghadapi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) di Indonesia Christa Gumanti Manik; Sri Mardikani Nugraha; Maya Ryandita
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v4i2.3274

Abstract

Abstrak Tenaga kesehatan (nakes) dalam penanganan pandemi Coronavirus Disease (COVID-19) menghadapi berbagai isu, seperti kekurangan Alat Pelindung Diri (APD), kelelahan fisik, tekanan psikososial karena stigmatisasi dan diskriminasi. Mengingat pentingnya peran nakes dalam sistem kesehatan, khususnya terkait penanganan COVID-19, penulisan ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan perlindungan nakes pada saat pandemi COVID-19, dengan menelaah regulasi, jurnal terkait, media (elektronik) nasional dan internasional, serta data nakes yang menangani, terinfeksi, dan meninggal karena COVID-19. Segitiga kebijakan Waltz dan Gilson digunakan dalam menganalisis kebijakan. Kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah pusat antara lain terkait dengan relaksasi kebijakan dalam memenuhi ketersediaan APD, insentif, penyediaan transportasi dan penginapan, telemedicine, kewajiban penggunaan masker, dan layanan psikososial berupa buku pedoman dan konseling online. Permasalahan yang ada terkait kebijakan tersebut seperti pengawasan kualitas APD donasi masih berada di level rumah sakit, insentif finansial untuk nakes hanya sampai tiga bulan, telemedicine menuai pro dan kontra dalam penegakan diagnosis penyakit, dan layanan psikososial berupa konseling online dan buku pedoman masih bersifat umum. Pemerintah perlu mengawasi ketersediaan APD yang berkualitas. Diperlukan insentif finansial yang berkelanjutan sampai wabah berakhir dan insentif non-finansial seperti memberlakukan paid sick leave, mengatur jumlah jam kerja yang tepat, serta menyediakan layanan psikososial yang ditujukan khusus untuk nakes dan meningkatkan penyebaran informasi layanan psikososial tersebut. Diperlukan pelatihan berkelanjutan dalam merespon wabah dan kerjasama multisektoral dalam pengembangan layanan kesehatan berbasis teknologi. Pemerintah perlu menghimpun data nasional nakes yang terinfeksi maupun meninggal. Pemakaian masker dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) harus menjadi budaya dikalangan masyarakat. Kata kunci : Kebijakan, Tenaga Kesehatan (Nakes), Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Abstract Health workers battling Coronavirus Disease (COVID-19) outbreak face various issues, such as lack of Personal Protective Equipment (PPE), physical fatigue, and psychosocial pressures. Considering the health workers’ significant role in the health system, this paper aims to analyse Indonesian government’s policies related to the protection of health workers during the COVID-19 outbreak, by examining regulations, related journals, national and international (electronic) media, and related data on health workers contracting the disease. Waltz and Gilson’s policy triangle was used for the policies analysis. Government’s policies related to the protection of health workers involve easing policies to meet PPE demands, providing financial incentives, providing online psychosocial services, transportation, and hotel, using telemedicine, and wearing masks in public spaces. Issues related to the policies include lack of quality monitoring for donated PPE, the financial incentives for health workers which are only for three months, and the use of telemedicine which is still debatable. We suggest that government needs to monitor the availability of high-quality PPE, arrange appropriate working hours for health workers, provides the financial incentives at least until the outbreak ends, as well as provides non-financial incentives, such as paid sick leave and psychosocial services specialy intended for health workers. Multisectoral cooperation to develop technology-based health services and continued training for health workers in responding the outbreak are needed. Government needs to collect and publish data on health worker infection rates and deaths nationally. It is also important to keep promoting the use of masks and good hygiene practices in the society. Keywords: Policy, Health Workers, Coronavirus Disease 2019 (COVID-19)
Incentive Distribution of Specialist Doctors in Government General Hospital Andi Leny Susyanty; Harimat Hendarwan; Amir Su'udi
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v4i2.3310

Abstract

Abstract Maintaining and fulfilling the needs of specialist doctors in government public hospitals is still a challenge. Government general hospitals have not been able to meet the minimum standard for specialist doctors. The distribution of personnel and the incentives received by specialist doctors varies between regions. This study aims to provide recommendations related to policies to meet the needs of specialist doctors at government general hospitals. This cross-sectional research study was conducted in May - December 2017 in 19 hospitals in 18 districts/cities. A total of 134 specialist doctors and dental specialists were respondents in this study. The fulfillment of non-financial incentives for specialist doctors, 28.4% lived in official homes, 41.8% received official vehicles and 73.1% were facilitated to attend seminars/education and training. Fulfillment of financial incentives shows that 73.1% of their income is sufficient for the family’s needs for 1 month and 63.5% can save. Further east, the incentives received by specialist doctors are greater. The combined capacity of central and local budgets can be optimized to provide adequate and equitable incentives to retain specialist doctors in government hospitals, especially in less desirable areas and with limited budgets. Keywords: adequacy, disparity, incentive Abstrak Keberadaan dan kecukupan dokter spesialis di rumah sakit umum pemerintah masih menjadi kendala. Masih banyak rumah sakit yang belum memenuhi standar minimal dokter spesialis di rumah sakit dan masih adanya disparitas distribusi tenaga dan insentif dokter spesialis di tiap daerah. Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan rekomendasi kebijakan terkait pemenuhan kebutuhan dokter spesialis dari aspek penyediaan insentif bagi dokter. Penelitian ini dilakukan secara cross-sectional dan dilaksanakan pada bulan Mei - Desember 2017 di 19 RS di 18 kabupaten / kota. Sebanyak 134 dokter spesialis dan dokter gigi spesialis yang menjadi responden penelitian ini. Sebanyak 28,4% tinggal di rumah layanan yang disediakan, 73,1% dari pendapatannya mencukupi kebutuhan keluarga selama 1 bulan, 63,5% dapat menabung, 41,8% dapat kendaraan, 73,1% telah difasilitasi untuk mengikuti seminar / pendidikan dan pelatihan. Semakin ke timur, insentif yang diterima dokter spesialis semakin besar. Kombinasi kemampuan anggaran pusat dan daerah dapat dioptimalkan untuk memberikan insentif yang memadai dan merata untuk mempertahankan dokter spesialis di rumah sakit pemerintah, terutama di daerah yang tidak diminati dan dengan kendala anggaran. Kata kunci: kecukupan, disparitas, insentif
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Jaminan Kualitas Peralatan di Puskesmas Widianto Pancaharjono; Danny Fajar Mogsa; Armedy Ronny Hasugian; Hadjar Siswantoro; Armadji Kamaludi Syarif; Agus Dwi Harso; Sri Idaiani; Tince Arniati Jovina
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v4i2.3674

Abstract

Abstrak Diperkirakan 40–70% alat-alat medis di negara-negara miskin dan berkembang mengalami kerusakan, tidak dapat digunakan atau tidak digunakan sesuai tujuannya dan akan memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan. Beberapa penelitian menunjukkan masih kurangnya kualitas peralatan di Puskesmas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai faktor-faktor yang memengaruhi jaminan kualitas alat-alat medis dan nonmedis yang ada di Puskesmas. Penelitian ini merupakan analisis lanjut dari penelitian “Pengembangan Indeks Mutu Pelayanan Kesehatan Puskesmas” pada tahun 2017. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan 200 puskesmas terpilih sebagai sampel penelitian. Analisis univariat dilakukan untuk menilai karakteristik responden. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-square untuk menilai faktor-faktor yang berhubungan dengan jaminan kualitas terhadap peralatan di tempat pelayanan. Variabel yang dianalisis yaitu dilakukan monitoring terhadap pemeliharaan peralatan medis dan nonmedis (p209); ada tempat penyimpanan/gudang sarana dan peralatan yang memenuhi persyaratan (p255); dilakukan kalibrasi atau validasi instrumen/alat ukur tepat waktu dan oleh pihak yang kompeten sesuai prosedur (p820); terdapat bukti dokumentasi dilakukannya kalibrasi atau validasi, dan masih berlaku (p821); ditetapkan kebijakan dan prosedur untuk memisahkan alat yang bersih dan alat yang kotor, alat yang memerlukan sterilisasi, alat yang membutuhkan perawatan lebih lanjut (tidak siap pakai), serta alat-alat yang membutuhkan persyaratan khusus untuk peletakannya (p868) terbukti mempunyai hubungan secara bermakna dan variabel “dilakukan kalibrasi atau validasi instrumen/alat ukur tepat waktu dan oleh pihak yang kompeten sesuai prosedur” berpeluang sebesar 27,681 kali mempunyai jaminan kualitas yang baik terhadap peralatan di tempat pelayanan dibandingkan dengan Puskesmas yang tidak melakukannya. Kata Kunci : Alat kesehatan, sterilisasi, kalibrasi Abstract An estimated 40–70% of medical equipment in poor and developing countries are damaged, unusable or unused under its purpose and will affect the quality of health services. Several studies have shown that there is still a lack of equipment quality in Puskesmas. The purpose of this study is to assess the factors that affect the quality assurance of medical and non-medical devices in Puskesmas. This study is an in-depth analysis of the “The Development of Puskesmas Health Service Quality Index” in 2017. A cross-sectional design is used with 200 Puskesmas as the research sample. Univariate analysis and Chi-square test were conducted to assess the characteristics of the respondents and the factors associated with quality assurance of equipment at the service center. The analyzed variables are monitoring of medical and non-medical equipment maintenance (p209); storage area/warehouse that meets the requirements (p255); instruments / measuring instruments calibration or validation is carried out on time by competent parties according to procedures (p820); there is still valid documentary evidence of calibration or validation (p821); there is established policies and procedures to use clean and dirty tools, tools requiring sterilization, further treatment and special requirements for their placement (p868) proved to be significant. instruments / measuring instruments calibration or validation is carried out on time by competent parties according to procedures had a 27,681 times chance of having a good quality assurance of equipment in the service place compared to Puskesmas that did not do so. Keywords: health devices, sterilization, calibration
Poor Tuberculosis Treatment Outcomes Associated with Older Age, Previous Treatment, HIV and Drug Resistance at Seven Hospitals in Indonesia Dona Arlinda; Retna Mustika Indah; Aris Yulianto; Agus Dwi Harso; Armaji Kamaludi Syarief; Muhammad Karyana
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v4i2.3698

Abstract

Abstract Indonesia is a high burden country for tuberculosis (TB), multidrug-resistant (MDR) TB, and TB-HIV. We aimed to determine factors associated with poor TB treatment outcomes. A hospital-based TB Registry at seven referral hospitals in Java and Bali included data from patients aged ≥15 years who were diagnosed with TB from 1 January 2014 - 31 December 2015. The factors were assessed by logistic regression. From 2,051 TB patients, 1,180 (57.5%) were male and median age was 38 years (IQR 27-50 years), 452 (22%) had previous TB treatment history, 1,447 (70.6%) had pulmonary TB, 216 (10.5%) TB-HIV, 296 (14.4%) TB-DM and 248 (12.1%) were resistant to ≥1 anti-TB drug. Treatment outcome was unknown for 135 (6.6%) subjects and 1,137 (55.4%) who were still on treatment. Among the 779 with available outcome, 358 (46%) were treatment success, 248 (31.8%) transferred out, 112 (14.4%) defaulted, 46 (5.9%) died and 15 (1.9%) failed. After controlling other factors, poor TB treatment was associated with age ≥38 years (p=0.003; aOR 1.58; 95% CI 1.2-2.1), previous history of TB treatment (p<0.001; aOR 2.55; 95% CI 1.5-4.2) and resistance to ≥1 anti-TB drug (p<0.001; aOR 11.66; 95% CI 3.8-36.1). Mortality was associated with previous history of TB treatment (p=0.003; aOR 3.87; 95% CI 1.7-9.6), TB-HIV (p=0.001; aOR 10.43; 95% CI 4.2-26.1), and resistance to ≥1 anti-TB drug (p=0.001; aOR 9.48; 95% CI 2.6-34.0). Treatment in TB patients with older age, history of previous TB treatment, HIV, and drug resistance should be closely monitored. Keywords: Indonesia, tuberculosis, treatment outcome Abstrak Indonesia adalah negara dengan beban tinggi untuk tuberkulosis (TB), TB resisten obat (MDR) dan TB-HIV. Analisis ini bertujuan untuk menentukan faktor yang terkait dengan luaran pengobatan TB yang buruk. Registri TB berbasis rumah sakit di tujuh rumah sakit rujukan di Jawa dan Bali mencakup data dari pasien berusia ≥15 tahun yang didiagnosis TB dari 1 Januari 2014 - 31 Desember 2015. Faktor-faktor tersebut dinilai dengan regresi logistik. Dari 2.051 pasien TB, 1.180 (57,5%) laki-laki dan median usia 38 tahun (IQR 27-50 tahun), 452 (22%) memiliki riwayat pengobatan TB sebelumnya, 1.447 (70,6%) memiliki TB paru, 216 (10,5%) TB-HIV, 296 (14,4%) TB-DM dan 248 (12,1%) resisten terhadap ≥1 obat anti-TB. Luaran pengobatan TB tidak diketahui untuk 135 (6,6%) subjek dan 1.137 (55,4%) yang masih dalam pengobatan. Di antara 779 dengan luaran pengobatan diketahui, 358 (46%) pengobatan berhasil, 248 (31,8%) pindah, 112 (14,4%) putus pengobatan, 46 (5,9%) meninggal dan 15 (1,9%) gagal. Setelah dikontrol terhadap faktor lain, luaran pengobatan TB yang buruk dikaitkan dengan usia ≥38 tahun (p = 0,003; aOR 1,58; 95% CI 1,2-2,1), riwayat pengobatan TB sebelumnya (p <0,001; aOR 2,55; 95% CI 1,5-4,2) dan resistansi terhadap ≥1 obat anti-TB (p <0,001; aOR 11,66; 95% CI 3,8-36,1). Kematian dikaitkan dengan riwayat pengobatan TB sebelumnya (p = 0,003; aOR 3,87; 95% CI 1,7-9,6), TB-HIV (p = 0,001; aOR 10,43; 95% CI 4,2-26,1), dan resistansi terhadap ≥1 anti -TB obat (p = 0,001; aOR 9,48; 95% CI 2,6-34,0). Pengobatan pada pasien TB dengan usia yang lebih tua, riwayat pengobatan TB sebelumnya, HIV dan resistansi obat harus dipantau secara ketat. Kata kunci: Indonesia, tuberkulosis, luaran pengobatan
Gambaran Kualitas Hidup Pasien dengan Keluhan Dispepsia yang Diberi Perawatan dengan Jamu (Data Registri Jamu 2014-2018) Tri Wahyuni Lestari; Nita Prihartini; Delima Delima
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v4i2.3769

Abstract

Abstrak Registri jamu merupakan sistem pencatatan pelayanan kesehatan menggunakan jamu atau herbal berbasis web yang dikembangkan oleh Balitbangkes. Artikel ini bertujuan mengetahui gambaran kualitas hidup pasien dengan keluhan dispepsia yang diberi jamu oleh dokter praktik jamu. Desain penelitian Registri Jamu yaitu potong lintang. Data dikumpulkan dari data rekam medik 186 pasien dispepsia yang berobat pada 64 dokter yang termasuk dalam jejaring dokter praktik jamu di 10 provinsi di Indonesia tahun 2014—2018. Data diekstrak dari sistem pencatatan Registri Jamu dan dianalisis secara deskriptif. Kualitas hidup dinilai menggunakan instrumen kualitas hidup 4 dimensi (8 pertanyaan) dan skala Nepean khusus dispepsia. Hasil analisis menunjukkan sebagian besar pasien dispepsia yang berobat pada dokter praktik jamu adalah perempuan, usia 45—64 tahun, pendidikan tamat perguruan tinggi, pekerjaan wiraswasta, berobat pada fasyankes klinik, berada di provinsi Jawa Tengah. Enam gejala umum dispepsia terbanyak yaitu: tidak nafsu makan, lemah/letih, sulit tidur, nyeri ulu hati, demam, dan pucat. Kualitas hidup pasien dengan keluhan dispepsia yang diberi perawatan dengan jamu oleh dokter praktik jamu cenderung rmeningkat seiring dengan bertambahnya frekuensi waktu kunjungan. Kata kunci: dispepsia, registri jamu, kualitas hidup Abstract Jamu Registry is a web-based health service recording system developed by Balitbangkes. This article aims to describe the quality of life of patients with dyspepsia treated with jamu by doctors. Research on Jamu Registry was a cross-sectional study. Data was collected from medical record of 186 dyspepsia patients treated by 64 doctors prescribing herbal medicine in their services in 10 provinces in Indonesia from 2014—2018. This data was extracted from the Jamu Registry recording system and analyzed descriptively. The quality of life was assessed using 4 dimensions (8 items) quality of life questionnaire and Nepean scale for dyspepsia. The results showed dyspepsia patients in this study were mostly female, aged 45—64 years, highly educated, worked as an entrepreneur, sought treatment at clinical health facility, located in Central Java province. The six common symptoms of dyspepsia recorded were: lack of appetite, weakness / fatigue, sleep disorders, heartburn, fever and pallor. The quality of life of patients with dyspepsia who were given jamu by the herbal medicine practitioner tended to increase along with the frequency of visit. Keywords: dyspepsia, herbal medicine registry, quality of life
Gambaran Penyakit Reproduksi Wanita pada Pasien Rawat Inap yang Menggunakan BPJS Kesehatan di Salah Satu Rumah Sakit Kelas A di Jakarta Cicih Opitasari
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v4i2.4505

Abstract

Abstrak Penyakit reproduksi menjadi beban berat dan memiliki dampak besar terhadap kesehatan dan kualitas hidup wanita. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyakit kelompok reproduksi wanita pada pasien Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang dirawat inap di rumah sakit. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain potong lintang di salah satu rumah sakit (RS) pemerintah di Jakarta. Data penelitian menggunakan seluruh data klaim rawat inap pasien BPJS Kesehatan periode Januari−Desember 2017 yang di dapatkan dari aplikasi E-Klaim INA-CBGs. Semua pasien wanita yang dirawat inap dan tergolong ke dalam kelompok penyakit reproduksi wanita berdasarkan casemix main groups dianalisis secara deskriptif. Total pasien pada kelompok ini sebanyak 1220, sedangkan jumlah kunjungan adalah 1528 kunjungan. Sebanyak 308 kunjungan merupakan kasus readmisi (tingkat readmisi 20,2%). Usia pasien terbanyak pada kelompok umur 35–44 tahun, rata-rata 39 tahun. Sebagian besar dirawat di kelas 3 dan memiliki tingkat keparahan level 1 dengan lama perawatan rata-rata 5,5 hari. Pasien dengan indikasi rawat ICU sebesar 6,6% dan hampir semua pasien dipulangkan atas persetujuan dokter. Diagnosis utama dan sekunder terbanyak masing-masing adalah observasi suspek neoplasma maligna dan anemia. Rerata klaim INA-CBGs pada penyakit reproduksi wanita masih lebih rendah dari tarif RS, kecuali pada gangguan post partum berat dan antepartum berat. Kata kunci : penyakit reproduksi wanita, rawat inap, BPJS Kesehatan, INA-CBGs Abstract Reproductive morbidity becomes a major burden and has a large impact on women’s health and their quality of life. This paper aims to address the diseases of a female reproductive group in hospitalized BPJS Kesehatan patients. This study was conducted using a cross-sectional design in one government hospital in Jakarta. The study used all hospital claim data for BPJS Kesehatan patients from January to December 2017 that was taken from the E-Claim INA-CBGs application. All-female patients who were hospitalized and classified as female reproductive disease groups based on case-mix main groups were analyzed descriptively. The total number of patients in this group was 1220, while the number of visits was 1528 visits. A total of 308 visits were readmission cases (readmission rate of 20.2%). Most of the patients were aged 35-44 years with an average was 39 years. The majority of the patients were treated in the third class and had severity level 1, the mean length of stay was 5.5 days. The patients who had ICU indication were 6.6% and almost all patients were discharged with the physician’s approval. The most common primary and secondary diagnoses were observations of suspected malignant neoplasms and anemia respectively. The mean of INA-CBG claims in female reproductive diseases was still lower than hospital rates, except in severe postpartum and antepartum disorders. Keywords: female reproductive diseases, hospitalized, BPJS Kesehatan

Page 1 of 1 | Total Record : 8