cover
Contact Name
Julius July
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Medicinus : Jurnal Kedokteran
  • Medicinus : Jurnal Kedokteran
  • Website
ISSN : 19783094     EISSN : 26226995     DOI : -
Core Subject : Health,
Medicinus: Jurnal Kedokteran is an official journal of the Faculty of Medicine, Universitas Pelita Harapan launched in the year 2007. Medicinus is a peer-reviewed and open-access journal that covers basic, translational, or clinical aspects of health and medical science. Medicinus accepts original research articles, review articles, and also interesting case reports. Medicinus: Jurnal Kedokteran is published three times a year in February, June, and October.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 9 (2015): June 2015 - September 2015" : 5 Documents clear
ANTIBIOTIC SUSCEPTIBILITY IN UROPATHOGEN FROM INTENSIVE CARE PATIENTS WITH URINE CATHETER Wibowo, Angeline Nifiani M; Cucunawangsih, Cucunawangsih
Medicinus Vol. 4 No. 9 (2015): June 2015 - September 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/med.v4i9.1187

Abstract

Background: Multi-Drug Resistance Organisms (MDROs) are defined as organisms that acquired non-susceptibility to more than one antimicrobial agent. Intensive care patients are immune-compromised patients, using catheter and are given broad-spectrum antibiotics. Hence, the chance to develop microbial resistance is high. The aim of this study is to see the etiology and the microbial susceptibility pattern of catheter-associated urinary tract infection patients treated in intensive care.Materials and Methods: The urine samples were taken from catheterized patients admitted to intensive care in Siloam Lippo Village, Tangerang, Indonesia in a one year period from July 2013 until June 2014. We confirmed species identification with Vitex-2 Compact® from Biomérieux, France. The susceptibility of antibiotics is according to Clinical and Laboratory Standard Institute (CLSI). Results: We managed to get 113 urine culture results with mean of age 57.03 ± 18.505 (years). There were 67 males (59.3%) and 46 females (40.70%) that were acquired in the sample. The result of species identification showed that Escherichia coli was the dominant isolate from the urine culture (40.63%), followed by Klebsiella pneumoniae (12.5%). The percentage of MDRO was found to be 71.9%. The antibiotics susceptibility of Escherichia coli for Amoxicilin, Ampicillin/Sulbactam, Ciprofloxacin and Levofloxacin are 50%, 58%, 76% and 75% respectively. Meanwhile the susceptibility against Amikacin and Meropenem are 100% for Escherichia coli and Klebsiella pneumoniae. Conclusion: The proportion of Escherichia coli was the highest among with susceptibility of Meropenem was still high susceptibility for both gram negative and gram positive bacteria.  
GASTROINTESTINAL STROMAL TUMOR Sebastian, Jeremy; Sobarna, Lucky Faizal
Medicinus Vol. 4 No. 9 (2015): June 2015 - September 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/med.v4i9.1188

Abstract

Latar Belakang: Gastrointestinal Stromal Tumor (selanjutnya disebut GIST) adalah salah satu jenis neoplasma pada jalur gastrointestinal (GI) yang paling sering. Penyakit ini sering diketemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan radiologis, walaupun pada tumor berukuran besar gejalanya lebih nyata. Karena itu kami mengangkat topik ini dengan tujuan agar rekan - rekan petugas kesehatan dapat mengenali penyakit ini dengan lebih baik.Metode: Wanita 52 tahun dirawat dengan keluhan BAB berdarah menahun. Endoskopi menunjukkan adanya divertikel pada jejunum dan CT scan memperlihatkan adanya massa tumor di dinding ileus. Pada pasien kemudian dilakukan tindakan reseksi tumor. Paska operasi tidak ditemukan adanya komplikasi pada pasien dan tidak terdapat tanda - tanda rekurensi tumor.Diskusi: Penanganan GIST memerlukan pendekatan multidisiplin. Tumor yang terlokalisir memerlukan operasi sebagai terapi utama. Terapi adjuvant menggunakan imatinib diperlukan untuk mencegah rekurensi. Sedangkan pada tumor yang sudah berkembang atau sudah mengalami metastasis, imatinib merupakan terapi utama. Tindakan operasi pada tahap ini masih dipertimbangkan untuk mengurangi efek massa. Follow up pada pasien dilakukan secara berkala dan lamanya tergantung pada faktor prognosisnya.
DEKONTAMINASI DAN PEMBERSIHAN AKHIR (TERMINAL CLEANING) DI LINGKUNGAN ICU (Intensive Care Unit) Cucunawangsih, Cucunawangsih
Medicinus Vol. 4 No. 9 (2015): June 2015 - September 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/med.v4i9.1189

Abstract

Patogen MDRO, seperti vancomycin-resistant enterococci (VRE), methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), Acinetobacter spp., extended spectrum beta-lactamase (ESBL)-producing bacteria, dan Clostridium defficile seringkali menyebabkan kolonisasi/healthcare-associated infection (HAI) di lingkungan ICU. Sejumlah penelitian membuktikan bahwa petugas kesehatan menularkan pathogen ini melalui kontak langsung dengan tangan atau sarung tangan setelah menyentuh permukaan yang terkontaminasi atau pasien. Lingkungan berperan penting pada penyebaran hospital-acquired pathogens (HAP) dan terjadinya HAI. Metode pembersihan dan dekontaminasi rutin yang telah diterapkan dan dilakukan di lingkungan rumah sakit seringkali gagal ataupun tidak efektif dalam menggurangi penyebaran patogen MDRO. Kegagalan ini disebabkan tidak seluruh permukaan medis dan rumahtangga yang seringkali tersentuh tidak terdekontaminasi dengan sempurna. Untuk itu diperlukan tindakan lanjutan berupa pembersihan terminal menggunakan metode baru, seperti (1) hydrogen peroxide vapor (HPV) dan (2) sinar UV yang telah terbukti efektif secara mikrobiologi, aman dan mudah digunakan.
GAMBARAN KLINIKOPATOLOGIK ASTROSITOMA HIGH GRADE Kristiani, Erna
Medicinus Vol. 4 No. 9 (2015): June 2015 - September 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/med.v4i9.1190

Abstract

Astrositoma merupakan glioma tersering. Tumor ini bisa mengenai  dewasa dan anak-anak.World Health Organization (WHO) mengelompokkan astrositoma menjadi 4 grade berdasarkan karakteristik histologik. Astrositoma high grade terdiri atas astrositoma anaplastik (grade III) dan glioblastoma (grade IV).Data Departemen Patologi Anatomik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) tahun 2001-2010 melaporkan kejadian astrositoma sebanyak 179 kasus atau sekitar 20% dari seluruh tumor intrakranial, astrositoma anaplastik ditemukan sebanyak 12 kasus, dan  glioblastoma 42 kasus.Seperti pada tumor otak lain, astrositoma high grade mengakibatkan gejala dan tanda gangguan neurologik fokal dan umum. Pemeriksaan radiologik pilihan adalah dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Astrositoma anaplastik memberikan gambaran hypointense pada T1 dan hyperintense pada T2 dengan efek massa yang bervariasi. Karakteristik glioblastoma pada MRI berupa lesi iregular menyangat kontras di sekeliling nekrosis sentral (ring enhancement) dan edema vasogenik luas di sekitar tumor.Astrositoma anaplastik secara histopatologik dicirikan dengan atipia inti, peningkatan selularitas, serta aktivitas proliferasi yang nyata. Glioblastoma secara histopatologik serupa dengan astrositoma anaplastik, disertai adanya proliferasi vaskular dan/atau nekrosis. Astrositoma anaplastik dan khususnya glioblastoma mempunyai variasi gambaran histologik yang beragam, antara lain varian small cell, granular cell, giant cell, dan gliosarcoma.
EMBOLI PARU Octaviani, Fidelia; Kurniawan, Andree
Medicinus Vol. 4 No. 9 (2015): June 2015 - September 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/med.v4i9.1191

Abstract

Emboli paru merupakan salah satu kegawatdaruratan pada bidang kardiovaskular yang cukup sering terjadi dengan berbagai manifestasi klinis dari keadaan yang asimptomatik hingga keadaan yang mengancam nyawa. Insidensi terjadinya emboli paru pada populasi mencapai 23 per 100,000 penduduk dengan tingkat mortalitas mecapai 15%. Emboli paru dapat disebabkan oleh tromboemboli vena, emboli udara, lemak, cairan amnion, fragmen tumor, dan sepsis. Pemeriksaan ventilation-perfusion scintigraphy masih menjadi baku emas untuk menegakkan diagnosis emboli paru. Sedangkan pemeriksaan lain dapat dilakukan untuk membantu klinisi mendiagnosis kejadian emboli paru. Tatalaksana pada emboli paru akut harus dilakukan dengan segera dengan menggunakan antikoagulan seperti unfractioned heparin, LMWH atau vitamin K antagonis, dilanjutkan dengan trombolitik atau embolektomi apabila trombolitik tidak dapat dilakukan. 

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol. 15 No. 1 (2025): October Vol. 14 No. 3 (2025): June Vol. 14 No. 2 (2025): February Vol. 14 No. 1 (2024): October Vol 13, No 3 (2024): June Vol. 13 No. 3 (2024): June Vol. 13 No. 2 (2024): February Vol 13, No 2 (2024): February Vol 13, No 1 (2023): October Vol. 13 No. 1 (2023): October Vol 12, No 3 (2023): June Vol. 12 No. 3 (2023): June Vol 12, No 2 (2023): February Vol. 12 No. 2 (2023): February Vol 10, No 3 (2022): October 2022 - January 2023 Vol 10, No 2 (2022): June 2022 - September 2022 Vol 10, No 1 (2022): February 2022 - May 2022 Vol 9, No 3 (2021): October 2021-January 2022 Vol 12, No 1 (2022): October Vol. 12 No. 1 (2022): October Vol 11, No 3 (2022): June Vol. 11 No. 3 (2022): June Vol 11, No 2 (2022): February Vol. 11 No. 2 (2022): February Vol. 10 No. 3 (2021): June 2021 Vol 10, No 3 (2021): June 2021 Vol 10, No 2 (2021): February : 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): February : 2021 Vol 11, No 1 (2021): October Vol. 11 No. 1 (2021): October Vol 7, No 3 (2018): June 2018 - September 2018 Vol. 10 No. 1 (2020): October:2020 Vol 10, No 1 (2020): October:2020 Vol. 9 No. 3 (2020): June 2020 Vol 9, No 3 (2020): June 2020 Vol 9, No 2 (2020): February : 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): February : 2020 Vol 7, No 2 (2018): February 2018 - May 2018 Vol 7, No 1 (2017): October 2017 - January 2018 Vol. 9 No. 1 (2019): October:2019 Vol 9, No 1 (2019): October:2019 Vol 8, No 3 (2019): June 2019 Vol. 8 No. 3 (2019): June 2019 Vol 8, No 2 (2019): February : 2019 Vol. 8 No. 2 (2019): February : 2019 Vol. 7 No. 3 (2018): June 2018 - September 2018 Vol. 7 No. 2 (2018): February 2018 - May 2018 Vol 6, No 3 (2017): June 2017 - September 2017 Vol 6, No 2 (2017): February 2017 - May 2017 Vol 6, No 1 (2016): October 2016 - January 2017 Vol 5, No 3 (2016): June 2016 - September 2016 Vol 5, No 2 (2016): February 2016 - May 2016 Vol 5, No 1 (2015): October 2015 - January 2016 Vol 4, No 9 (2015): June 2015 - September 2015 Vol 4, No 8 (2015): February 2015 - May 2015 Vol. 8 No. 1 (2018): oktober 2018 Vol 8, No 1 (2018): oktober 2018 Vol. 7 No. 1 (2017): October 2017 - January 2018 Vol. 6 No. 3 (2017): June 2017 - September 2017 Vol. 6 No. 2 (2017): February 2017 - May 2017 Vol. 6 No. 1 (2016): October 2016 - January 2017 Vol. 5 No. 3 (2016): June 2016 - September 2016 Vol. 5 No. 2 (2016): February 2016 - May 2016 Vol. 5 No. 1 (2015): October 2015 - January 2016 Vol. 4 No. 9 (2015): June 2015 - September 2015 Vol. 4 No. 8 (2015): February 2015 - May 2015 More Issue