cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Kandai
ISSN : 1907204X     EISSN : 25275968     DOI : -
Kandai was first published in 2005. The name of Kandai had undergone the following changes: Kandai Majalah Illmiah Bahasa dan Sastra (2005) and Kandai Jurnal Bahasa dan Sastra (2010). Since the name of journal should refer to the name that was registered on official document SK ISSN, in 2016 Kandai started publish issues with the name of Kandai (refer to SK ISSN No. 0004.091/JI.3.02/SK.ISSN/2006 dated February 7th, 2006, stating that ISSN 1907-204X printed version uses the (only) name of KANDAI). In 2017, Kandai has started to publish in electronic version under the name of Kandai, e-ISSN 2527-5968.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2012): KANDAI" : 10 Documents clear
PEMANFAATAN KARYA SASTRA DALAM PEMBELAJARAN MENULIS MELALUI TEKNIK MENULIS ULANG (The Utilization of Literary Works in Teaching Writing through Rewriting Technique) Besse Darmawati
Kandai Vol 8, No 1 (2012): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v8i1.5174

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikankan tata cara pembelajaranmenulis yang baik dan efektif dengan menawarkan dua hal pokok, yaitu materi ajar berupa karya sastra (puisi) dan teknik pembelajaran menulis berupa teknik menulis  ulang.  Sejalan  dengan  tujuan  tersebut,  penelitian  ini  menerapkan metode  deskriptif  kualitatif  dengan  mengedepankan  penerapan  data  dalam proses  pembelajaran.  Data  dalam  penelitian  ini  adalah  puisi  yang  berjudul “Fire and Ice” karya Robert Frost. Data diperoleh dari Wikipedia yang telah diterbitkan oleh Harper‟s Magazine pada tahun 1920. Berdasarkan hasil penelitian, materi ajar puisi dan teknik menulis ulang dapat diterapkan dalam pembelajaran menulis bahasa Inggris melalui rencana pembelajaran yang ditetapkan.  Rencana  pembelajaran  tersebut  didesain  dengan  menggunakan materi   ajar   puisi,   kemudian   siswa   diarahkan   untuk   menulis   dengan menggunakan teknik menulis ulang. Rencana pembelajaran tersebut dapat pula membantu guru dan siswa agar dapat berinteraksi secara aktif dan efektif dalam proses pembelajaran menulis bahasa Inggris di kelas. This research is aimed to describe the way of teaching writing well and effectively by suggesting two mainpoints, those are poetry as a part of literary works as teaching material and rewriting technique as an applicable techniquein teaching writing. As line with the aim, this research applies qualitative descriptive method which focuses on the application of a datum in teaching-learning process. The datum of this research is a poem under the title of “Fire and Ice” by Robert Frost. The datum is from Wikipedia which had published by Harper‟s  Magazine  in  1920.  Based  on  the  result  of  this  research,  teachingmaterial of poetry and rewriting technique can be applied in teaching English writing through lesson plan designed. The lesson plan is designed by usingteaching material of poetry, and then the students are directed to write by using rewriting technique. The lesson plan can also guide teacher and students to interact actively and effectively in teaching and learning English writing in theclassroom.
PERBANDINGAN EMPAT VERSI CERITA “PUTRI PINANG MASAK” DAN NILAI-NILAI BUDAYA JAMBI (The Comparison Four Versions of “Putri Pinang Masak” Folktale and Jambi Cultural Values) NFN Fitria
Kandai Vol 8, No 1 (2012): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v8i1.5187

Abstract

This study compares four versions of the story of "Putri Pinang Masak" byusing structural analysis. The equation of the four versions of the story are found in the Putri Pinang Masak characterizations and plot used, which is a straightline  (progressive),  while  the  difference  can  be  seen  from  the  theme  andbackground elements. The elements of cultural values found in Jambi society from the fourth version of the story is, the position of women in Jambi, society, ingenuity, and courage. Penelitian ini membandingkan empat cerita “Putri Pinang Masak” denganmenggunakan analisis struktur. Persamaan dari keempat versi itu ditemukan dari penokohan Putri Pinang Masak dan alur yang digunakan, yaitu alur lurus (progresif), sedangkan perbedaan terlihat dari tema dan latar. Unsur nilai-nilai budaya masyarakat Jambi yang ditemukan dari keempat versi cerita yaitu, kedudukan wanita dalam masyarakat Jambi, kecerdikan, dan keberanian.
AFIKS DERIVASIONAL PEMBENTUK VERBA DALAM BAHASA BUGIS (Verb Forming Derivational Affixes in Buginese Language) Firman AD
Kandai Vol 8, No 1 (2012): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v8i1.5175

Abstract

This study describes about analysis of verb forming derivational affixes inBuginese language. The analysis was using descriptive-qualitative method to explain the affixation in verb forming. The results of the study shows that verbforming  derivasional  affixes  in  Buginese  language  covers  prefix,  sufix,  andconfix. In Buginese language there is only affix that can change the word class and there is verb that formed from noun. The affixes that are prefix {a-}, {po-},{makke-}, {paka-}, {mappa-}, {pari-}, {pasi-}, {ri-}, {ma-}, {si-}, {ta-}, {ripa-},{appa-}, and {pa-}. In  Buginese language, there is only one suffix dan confixfor each that can form verb, sufix {-i} and confix {makka-...-eng}. Penelitian ini mendeskripsikan analisis afiks derivasional pembentuk verba dan proses perubahan morfologis yang terjadi dalam bentuk dan makna sebuah kata dalam bahasa Bugis. Teknik analisis yang digunakan adalah metode kualitatif-desktiptif yang menjelaskan afiksasi dalam pembentukan verba. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa afiks derivasional pembentuk verba dalam bahasa Bugis mencakup prefiks, sufiks, dan konfiks. Dalam bahasa Bugis hanya ada afiks yang dapat mengubah kelas kata dan hanya ada verba yang terbentuk dari  nomina.  Afiks-afiks  tersebut  terdiri  atas  prefiks  {a-},  {po-},  {makke-},{paka-}, {mappa-}, {pari-}, {pasi-}, {ri-}, {ma-}, {si-}, {ta-}, {ripa-}, {appa-}, dan {pa-}. Dalam bahasa Bugis, sufiks dan konfiks pembentuk verba masing-masing hanya ada satu, yaitu sufiks {-i} dan konfiks {makka-...-eng}.
NILAI LOKALITAS ORANG BAJO DALAM CERPEN “LANDO” (Locality Value of Bajonese in “Lando” Short Story) Heksa Biopsi Puji Hastuti
Kandai Vol 8, No 1 (2012): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v8i1.5189

Abstract

Short story entitled “Lando” written by Ucu Agustin tells the story about two kids  who  live  far  away  from  their  ancestor‟s hometown.  The  author  raisedlocality of Bajonese as the color of her short story. This paper discusses  localityvalue of Bajonese conteined therein. The approach used in the discussion is structuralism with reference to Francois-Robert Zacot‟s ethnographic research result at the phase of understanding locality value in the story. From the discussion it is known that the author explores the nuances of bajo by using dictions from Bajo language. The value of Bajonese locality is represented with the inclusion of Bajo culture either in the form of myths and beliefs and way of Bajo people life that cannot be separated from sea. Even readers who have not learned at all about bajo can acquire imagery of Bajonese by reading “Lando” short story. Cerpen “Lando” karya Ucu Agustin berkisah tentang dua anak Bajo yang hidup jauh dari kampung halaman leluhur mereka. Pengarang mengangkat nuansa lokal orang Bajo sebagai warna untuk cerpennya. Tulisan ini membahas tentang nilai lokalitas orang Bajo yang termuat di dalamnya. Pendekatan yang digunakan ialah pendekatan struktural dengan mengacu pada hasil penelitian etnografi Francois-Robert Zacot pada tahap pemahaman nilai lokalitas orang Bajo   dalam   cerpen   ini.   Dari   pembahasan   diketahui   bahwa   pengarang mengeksplorasi  nuansa  Bajo  dengan  penggunaan  beberapa  kosa  kata  daribahasa    Bajo.    Nilai    lokalitas    orang    Bajo    direpresentasikan    dengandimasukkannya budaya Bajo baik berupa mitos dan kepercayaan maupun cara hidup mereka yang tidak lepas dari laut. Pembaca yang belum mengetahui samasekali  tentang  orang  Bajo,  bisa  memperoleh  gambaran  yang  cukup  denganmembaca cerpen “Lando”.
PREPOSISI RING DALAM BAHASA BALI (The Preposition Ring in Balinese Language) Ida Ayu Putu Aridawati
Kandai Vol 8, No 1 (2012): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v8i1.5184

Abstract

Prepositions ring marking the six relationships of meaning. The emergence of those meanings caused by the relationship between the lingual unit one with another unit in a sentence. The presence of preposition ring in a sentence can beas a core element filler (mandatory) and the outer core filler element (is not mandatory). As the filler element of core (mandatory) if it is suggested by thefiller verb of its predicate, while the outer core filler element (is not mandatory) or an additional element if it is not implied by the predicate verb filler. In the sentence  construction,  additional  elements  have  the  freedom  of  position.  Inaddition, the prepositions ring in sentence construction are arbitrary or can be vanished and there is also the mandatory characteristic or cannot be vanished. Preposisi ring dalam bahasa Bali menandai enam hubungan makna. Munculnya  makna-makna itu  akibat  adanya  hubungan  antara  satuan  lingualyang satu dengan satuan lingual lain di dalam sebuah kalimat. Kehadiran preposisi ring dalam kalimat dapat sebagai pengisi unsur inti (bersifat wajib) dan sebagai pengisi unsur luar inti (bersifat tidak wajib). Sebagai pengisi unsurinti (bersifat wajib) jika diisyaratkan oleh verba pengisi predikatnya, sedangkan sebagai pengisi unsur luar inti (bersifat tidak wajib) atau unsur tambahan jikatidak diisyaratkan oleh verba pengisi predikatnya. Di dalam konstruksi kalimat, unsur tambahan memiliki kebebasan letak. Selain itu, preposisi ring dalam konstruksi kalimat ada yang bersifat manasuka atau dapat dilesapkan dan adapula yang bersifat wajib atau tidak dapat dilesapkan.
SUBALTERNITAS TOKOH AKU DALAM CERPEN MINGGU LEGI DI KYOTO KARYA SATYAGRAHA HOERIP (Subalternity of Aku Character in Satyagraha Hoerip’s Short Story “Minggu Legi di Kyoto”) Budi Agung Sudarmanto
Kandai Vol 8, No 1 (2012): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v8i1.5190

Abstract

This paper discusses about the character of I (Aku) and the otherness processas a subaltern in the story Minggu Legi di Kyoto, a short story by Satyagraha Hoerip. Gayatri C Spivak‟s postcolonial theory about the subaltern and Edward Said‟s on the Orientalism becomes the approach as guidance in this analysis. In addition, to provide flexibility to the analysis, the describing data was carried out sociologically. The analysis results which is conducted by deconstructing the discourse suggests that the discourses presented by the figures I (Aku) just gave space for the subaltern of the figure I (Aku) himself. Makalah ini membahas tentang tokoh Aku dan proses peliyanan tokoh Akusebagai subaltern dalam cerpen Minggu Legi di Kyoto karya Satyagraha Hoerip. Teori poskolonial Gayatri C. Spivak tentang subaltern dan Edward Said tentangorientalisme sebagai sebuah pendekatan menjadi tuntunan dalam analisis ini. Disamping itu, untuk memberi keleluasaan analisis, pendeskripsian data dilakukan secara  sosiologis.  Hasil  analisis  yang  dilakukan  dengan  mendekonstruksi wacana menunjukkan bahwa wacana-wacana yang dimunculkan oleh tokoh Aku justru memberi ruang subaltern bagi tokoh Aku sendiri.
NASIONALISME PENDUDUK PERBATASAN ENTIKONG-SERAWAK DALAM PERSPEKTIF KEBAHASAAN Evi Noviyanti
Kandai Vol 8, No 1 (2012): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v8i1.5164

Abstract

The population in the border area is the stronghold of the leading Indonesian. Sense of nationalism they have to stay awake, for the integrity of NKRI awake.However, their presence in remote areas causing less attention from thegovernment for incompleteness of facilities and inadequate infrastructure. Thissituation is a factor decreasing their sense of nationalism. Entikong is a districtdirectly adjacent to the Sarawak state of Malaysia. Striking differences whencomparing the social and economic situation in Entikong with towns in Sarawak.This discussion aims to discuss the sense of nationalism from the perspective oflinguistic Entikong population. Data obtained from direct observation andinterviews with residents in the district Entikong. From the foregoing it is knownthat sense of nationalism of Entikong people in linguistic perspective is quit high. Penduduk yang berada di daerah perbatasan merupakan benteng terdepanbangsa Indonesia. Oleh karena itu, rasa nasionalisme mereka harus tetapterjaga agar integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap terjaga.Namun, keberadaan mereka di daerah yang terpencil menyebabkan merekakurang mendapat perhatian dari pemerintah. Kelengkapan sarana danprasarana jauh dari kata memadai. Keadaan yang demikian dapat menjadifaktor penyebab surutnya rasa nasionalisme penduduk yang tinggal di daerahperbatasan. Entikong merupakan sebuah kecamatan yang berbatasan langsungdengan negara bagian Serawak, Malaysia. Perbedaan cukup mencolok dapatditemui jika membandingkan keadaan sosial dan ekonomi di Entikong dengankota-kota di Serawak, Malaysia. Pembahasan ini bertujuan untuk membahasrasa nasionalisme penduduk Entikong dari perspektif kebahasaan. Datadiperoleh melalui opservasi langsung dan wawancara dengan penduduk dikecamatan Entikong. Dari pembahasan ini diketahui bahwa walaupun terdapatperbedaan yang signifikan antara Entikong dan Serawak, nasionalismependuduk Entikong dalam perspektif kebahasaan cukup tinggi.
JIWA BAHARI MASYARAKAT MANDAR DALAM KALINDAQDAQ (Maritime Spirit of Mandar Society in Kalindaqdaq) NFN Jemmain
Kandai Vol 8, No 1 (2012): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v8i1.5185

Abstract

Kalindaqdaq is an oral literary work of Mandar society forming poetry and contented  much  by  its  supporting  society.  Kalindaqdaq  is  related  closely  tofeeling, thought, and background of who creates it. Thus, kalindaqdaq can arise in any condition of human life. Problem of research is focused on kalindaqdaq describing maritime spirit of Mandar society. The aim is to describe and toexplain kalindaqdaq relating to maritime spirit owned by Mandar society. This research is descriptive qualitative describing object as it should be. Result ofresearch shows that maritime spirit of Mandar society is described in kalindaqdaq, it is caused by Mandar society is coastal society in which part of them live in Mandar bay. Kalindaqdaq adalah salah satu bentuk sastra lisan Mandar yang berbentukpuisi dan sangat digemari oleh masyarakat pendukungnya. Kalindaqdaq sangat erat hubungannya dengan perasaan, pikiran, dan latar belakang orang yangmenciptakannya. Dengan demikian kalindaqdaq dapat muncul dalam berbagaimacam situasi dalam kehidupan manusia. Masalah penelitian ini difokuskan pada kalindaqdaq yang menggambarkan jiwa bahari masyarakat Mandar. Tujuannya untuk mendeskripsikan dan menjelaskan kalindaqdaq yang berkaitan dengan jiwa bahari yang dimiliki oleh masyarakat Mandar. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif yang menggambarkan objek sesuai apa adanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jiwa bahari masyarakat Mandar tergambar dalam kalindaqdaq, karena memang masyarakat Mandar adalah masyarakat bahari yang sebahagian besar mendiami pesisir Teluk Mandar.
MENGUNGKAP MAKSUD TERSEMBUNYI PERTANYAAN ANAK USIA 5 TAHUN DALAM PERCAKAPAN KELUARGA I Wayan Pageyasa
Kandai Vol 8, No 1 (2012): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v8i1.5165

Abstract

This research problem is what are the hidden meaning of five age children‟squestion in family conversation? The purpose of this research is to describe and gain  a  deep  understanding  of  the  hidden  meaning  of  five  aged  children‟s question in family conversation. The design used in this study was decriptive qualitative design. The result of the study: (1) the hidden meaning of five age children‟s quetion in family conversation are the ruling in five forbid ask and reject, (2) understand the question, in particular the purpose hidden in the question, a person must consider the context of the speech very well. Without it, the hidden meaning of five aged children‟s quetion in family conversation cannot be interpreted correctly. A similar question when different context would lead to differences in meaning. Masalah penelitian ini adalah: Apa maksud tersembunyi pertanyaan anak usia  5  tahun  dalam  percakapan  keluarga?  Penelitian  ini  bertujuan  untukmendekripsikan dan memperoleh pemahaman yang mendalam tentang maksud tersembunyi pertanyaan anak usia lima tahun dalam percakapan keluarga yang berbahasa Indonesia. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalahrancangan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian yang diperoleh: (1) maksud tersembunyi dalam pertanyaan anak usia lima tahun dalam percakapan keluargaada lima, yakni memerintah, mengajak, melarang, meminta, dan menolak, (2) dapat memahami pertanyaan, khususnya maksud dan fungsi tersembunyi dalam pertanyaan,  seseorang  harus  memperhatikan  konteks  tuturan  dengan  baik.Tanpa hal tersebut, implikatur pertanyaan tidak dapat dimaknai dengan benar. Suatu pertanyaan yang sama apabila berbeda konteksnya akan menimbulkanperbedaan maknanya.
IDENTITAS GENDER DALAM NOVEL LELAKI TERINDAH KARYA ANDREI AKSANA (Gender Identity in Novel Lelaki Terindah by Andrei Aksana) Ery Agus Kurnianto
Kandai Vol 8, No 1 (2012): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v8i1.5186

Abstract

This article discussed about undynamic gender identity of Valent‟s character in novel “Lelaki Terindah” written by Andrei Aksana. The approach used was the  concept  of  Stuart  Hall  about  identity.  Descriptive  analysis  used  in  thisresearch focused on two items, (1) what obstacle faced by Valent in transgender was and (2) what strategy to overcome the obstacle from social environmentfaced by Valent.The result indicated that feminism and masculine concept and identity evaluation by other people and body identity become an obstacle character in transgender. The steps used to overcome the obstacle was to carry out dynamism gender identity and sexual, characteristic, attitude, behavior to become a woman.Tulisan ini akan membahas  ketidakdinamisan identitas gender tokoh Valent dalam novel Lelaki Terindah karya Andrei Aksana. Pendekatan yang digunakandalam  penelitian  ini  adalah  konsep  Stuart  Hall  mengenai  identitas.  Teknik analisis deskriptif diterapkan dalam tulisan ini dengan penekanan pada dua hal, yaitu (1) halangan apa yang dihadapi oleh tokoh Valent dalam bertransgender;(2)  strategi  tokoh  Valent  dalam  menghadapi  halangan  yang  muncul  dari lingkungan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep maskulinitas femininitas dan penilaian identitas oleh orang lain serta identitas tubuh menjadi faktor penghalang tokoh Valent dalam bertransgender. Langkah yang di tempuh oleh tokoh Valent untuk menghadapi halangan tersebut adalah dengan melakukan kedinamisan  identitas  gender  dan  seksual,  sifat,  sikap,  dan  perilaku  untuk menjadi perempuan. 

Page 1 of 1 | Total Record : 10