cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Medika Muda
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2018)" : 5 Documents clear
HUBUNGAN ANTARA high sensitive C-REACTIVE PROTEIN (hsCRP) DAN NITRIC OXIDE (NO) PADA PENDERITA HIPERTENSI Dolly Dolly; indranila Kustarini Samsuria
Media Medika Muda Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.233 KB)

Abstract

Latar belakang: Hipertensi erat kaitannya dengan gangguan vasodilatasi dan disfungsi endotel.Inflamasi vaskular dapat terjadi baik pada permulaan maupun perkembangan hipertensi, inflamasi menimbulkan pelepasan sitokin inflamasi seperti hsCRP. NO berperan sebagai vasodilator pada pembuluh darah. Penurunan NO disebabkan terjadinya penurunan aktivitas nitric oxide synthase (NOS) yang dihambat sintesisnya oleh peningkatan hsCRP. Hipertensi dan inflamasi kronik akan mengakibatkan disfungsi endotel. Tujuan penelitian ini adalah mengetahuii hubungan hsCRP dan NO pada pasien hipertensi.Metode: Rancangan penelitian belah lintang, 30 subjek pasien hipertensi yang berobat di klinik PROLANIS periode Juli sampai September 2017 di Semarang. hsCRP dilakukan pengukuran dengan metoda ELISA, sedangkan NO dengan metoda reaksi Griess. Analisis data mengunakan uji korelasi Spearman.Hasil: hsCRP laki-laki dan perempuan 3,57 (0,19–19,67) dan 2,72 (0,43–15,88) nilai p=0,707. NO laki-laki dan perempuan 59,67 ± 34,28 dan 69,21 ± 43,29 nilai p=0,572. Berdasarkan lamanya hipertensi ≤ 1 tahun dan >1 tahun hsCRP 5,22 ± 6,71 dan 4,73 ± 4,66 nilai p=0,961 dan hipertensi ≤1 tahun dan >1 tahun NO 52,06 ± 41,38 dan 71,12 ± 39,37 nilai p=0,292. Hasil analisis menunjukkan hubungan yang signifikan antara hsCRP dan NO (r=0,692; p<0,001)Simpulan: Terdapat korelasi positif kuat antara hsCRP dan NO pada pasien hipertensi. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menilai faktor-faktor yang mempengaruhi hipertensi, seperti IL–6 dan TNF–α sebagai sitokin inflamasi yang lainKata kunci: 
HUBUNGAN FERITIN DAN JUMLAH LEUKOSIT DENGAN KADAR TSH PADA PASIEN TALASEMIA DENGAN TRANSFUSI Veronica Prawira; Meita Hendrianingtyas
Media Medika Muda Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.027 KB)

Abstract

Latar belakang: Talasemia merupakan penyakit genetik dimana terjadi kelainan pembentukan rantai globin. Penderita talasemia dapat terjadi gangguan sistem endokrin, salah satunya disfungsi tiroid. Prevalensi dan derajat keparahan pada disfungsi tiroid ini belum banyak diteliti. Kadar Thyroid Stimulating Hormone (TSH) menggambarkan keadaan hipotalamus–hipofisis–tiroid dan digunakan untuk menentukan fungsi tiroid. Pasien talasemia dengan transfusi terjadi inflamasi. Feritin, salah satu parameter cadangan besi juga merupakan protein fase akut yang meningkat pada keadaan inflamasi. Kadar feritin pada penderita talasemia menunjukkan inflamasi dan jumlah cadangan besi pada penderita tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan feritin dan jumlah leukosit sebagai petanda inflamasi dengan kadar TSH pada pasien talasemia dengan transfusi.Metode: Penelitian belah lintang terhadap 40 pasien talasemia dengan transfusi rutin di PMI Kota Semarang selama periode Juni–Juli2016. Uji normalitas data menggunakan Shapiro–Wilk dan analisa hubungan menggunakan uji Spearman. Pemeriksaan leukosit dengan menggunakan metode flow cytometri pada alat hematologi analyzer, sedangkan untuk pemeriksaan kadar TSH dan kadar Feritin menggunakan metode Enzyme–linked immunosorbent assay (ELISA).Hasil: Analisis korelasi terdapat hubungan positif lemah bermakna antara jumlah leukosit dengan kadar TSH (r=0,326; p=0,004) dan tidak terdapat hubungan bermakna antara kadar feritin dengan kadar TSH (r=0,084; p=0,605)Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara jumlah leukosit dengan kadar TSH dan tidak terdapat hubungan bermakna antara kadar feritin dengan kadar TSH. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh pada disfungsi tiroid dan diperlukan pemeriksaan tambahan untuk fungsi tiroid lain, yaitu free thyroxine (FT4). Pemeriksaan ulang fungsi tiroid dalam jangka waktu tertentu diperlukan pada nilai TSH dengan batas atas tinggi dari nilai normal.
HUBUNGAN MASA SIMPAN PACKED RED CELL DENGAN KEJADIAN FEBRILE NON HAEMOLYTIC TRANSFUSION REACTION (FNHTRs) Alamsyah Alamsyah; Dian Widyaningrum; Edward KSL
Media Medika Muda Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.678 KB)

Abstract

Latar belakang: Salah satu komponen sel darah yang sering digunakan untuk transfusi adalah Packed Red Cell (PRC). Pemberian transfusi komponen darah dapat disertai dengan reaksi transfusi baik reaksi transfusi cepat atau lambat. Reaksi transfusi sebagian besar (55%) berupa demam atau reaksi panas non hemolitik atau febrile non haemolytic transfusion reaction (FNHTRs). Penyebab dari kejadian tersebut dikaitkan dengan adanya allogenic leucocytes dan pelepasan sitokin proinflamasi seperti IL-1, IL-6, IL-8, TNFα, Cell-free DNA (cfDNA), histone serta dipengaruhi oleh lama masa simpan darah.Metode: Studi cross-sectional, pasien yang mendapat transfusi PRC di Bank Darah Rumah Sakit dr. Kariadi Semarang, selama 1 januari 2015 hingga 30 Agustus 2017. Analisis hubungan menggunakan uji Chi-quare.Hasil: Sejumlah 90 pasien yang mendapat transfusi PRC diikutkan dalam penelitian. Reaksi transfusi terjadi pada usia ≥ 45 tahun sebanyak 30 pasien (51,7%), jenis kelamin perempuan 37 pasien (63,8%), durasi transfusi 60-120 menit 41 pasien (70,7%) dan volume transfusi >50 cc47 pasien (81%). Analisa hubungan menunjukkan hubungan yang signifikan antara masa simpan PRC > 14 hari dengan kejadian reaksi transfusi (p=< 0,001) dan dengan kejadian demam (p=<0,001). Reaksi lainnya masa simpan > 14 hari 11 pasien (34,4%) dan masa simpan < 14 hari 21 pasien (65,6%).Simpulan: Terdapat hubungan yang positif antara masa simpan darah lebih dari 14 hari dengan kejadian reaksi transfusi febril non hemolitik.
HUBUNGAN ANTARA JUMLAH CD4 DAN KADAR HEMOGLOBIN PASIEN HIV Benyamin Massang; Edward KSL; Purwanto AP
Media Medika Muda Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.222 KB)

Abstract

Latar belakang: Molekul CD4 merupakan penanda utama limfosit T helper. Pemeriksaan kadar CD4 rutin dilakukan pada pasien HIV untuk evaluasi perkembangan penyakit. HIV menurunkan jumlah CD4 menyebabkan penurunan kadar hemoglobin melalui aktivasi gen pro–apoptosis (karena penurunan jumlah CD4 dan peningkatan jumlah monosit) dan pemberian anti retroviral (zidovudin).Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross–sectional. Hasil pemeriksaan laboratorium pasien HIV di poli HIV dan rawat inap RSUP Dr. Kariadi Semarang periode Juni–September 2017 dicatat. Kriteria eksklusi yaitu riwayat transfusi, perdarahan, keganasan, defisiensi (Fe, asam folat dan B12), penyakit metabolik dan autoimun. Kriteria inklusi yaitu pasien positif HIV usia 18 sampai 60 tahun. Dilakukan telaah dokumen rekam medis responden sebanyak 34 pasien yang belum mendapat terapi ARV, 34 pasien yang sudah mendapat terapi ARV. Pemeriksaan CD4 menggunakan BD FACS Count (metode flowcytometry), kadar hemoglobin menggunakan Sapphire (metode fotometry). Analisis data menggunakan uji Spearman. Signifikansi dicapai jika p<0,05.Hasil: Analisis menunjukkan hubungan lemah positif signifikan antara jumlah CD4 dan kadar hemoglobin pada pasien HIV yang belum mendapat terapi ARV (r= 0,349; p = 0,043), yang sudah mendapat terapi ARV menunjukkan hubungan sedang positif signifikan (r = 0,452; p = 0,007). Keseluruhan kelompok menunjukkan hubungan sedang positif signifikan (r = 0,581; p = <0,001).Simpulan: Terdapat hubungan sedang positif signifikan antara jumlah CD4 dan kadar Hb pada pasien HIV. 
HUBUNGAN DIPSTIK URIN DAN FLOWSITOMETRI URIN DENGAN KULTUR URIN PADA INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) Bilma Riasari Guspa; Muji Rahayu; Indranila Kustarini Samsuria
Media Medika Muda Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.596 KB)

Abstract

Latar belakang: Infeksi saluran kemih (ISK) adalah adanya mikroorganisme dalam urin. Bakteriuria bermakna bila pertumbuhan mikroorganisme murni lebih dari 105 colony forming units (CFU) pada kultur urin. Pemeriksaan laboratorium untuk deteksi ISK adalah dipstik urin (nitrit dan lekosit esterase) dan flowsitometri (jumlah leukosit dan bakteri). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara hasil pemeriksaan dipstik dan flowsitometri dengan pemeriksaan kultur urin.Metode: Penelitian belah lintang pada 42 sampel pria yang menderita ISK di RSUP Dr. Kariadi Semarang selama bulanAgustus–September 2017. Metode pemeriksaan disptik Combur adalah kolorimetri, metode flowsitometri menggunakan Sysmex UF1000i, dan kultur menggunakan metode konvensional. Uji data korelasi menggunakan contingency coefficient test.Hasil: Tidak terdapat hubungan bermakna dari dipstrik nitrit terhadap kultur (r=0,190 dan p=0,210), terdapat hubungan positif lemah antara dipstik lekosit esterase dengan kultur (r=0,363 dan p=0,012), terdapat hubungan positif kuat dari flowsitometri lekosit terhadap kultur (r=0,534 dan p=0,000) dan terdapat hubungan positif kuat antara flowsitometri bakteri dengan kultur (r=0,534, p=0,000). Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna dari dipstik nitrit terhadap kultur. Terdapat hubungan bermakna dari dipstrik lekosit esterase, flowsitometri lekosit, terdapat hubungan yang bermakna antara flowsitometri bakteri dengan kultur. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh pada diagnostik ISK.

Page 1 of 1 | Total Record : 5