cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124920     EISSN : 27755614     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 2 (2019): MKMI" : 7 Documents clear
Pengaruh Kondisi Fisik Sumur dan Penurunan Kualitas Air (BOD) terhadap Kejadian Penyakit (Studi Kasus Industri Soun di Desa Manjung Kecamatan Ngawen Kabupaten Klaten) Hera Rachmawati
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 18, No 2 (2019): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.086 KB) | DOI: 10.14710/mkmi.18.2.19-22

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Desa Manjung adalah sentral industri soun di Kabupaten Klaten. Industri soun menghasilkan limbah cair yang memiliki kadar BOD di atas baku mutu yaitu sebanyak 1.290 mg/L. Tingginya kadar BOD dalam air menandakan tingginya kandungan mikroorganisme. Kelompok coliform, Escherichia coli, Streptococcus, dan Staphylococcus terkandung di dalam BOD dapat menyebabkan terjadinya gangguan pencernaan dan iritasi kulit. Hal tersebut mungkin dapat menyebabkan terjadinya gangguan pencernaan dan iritasi kulit di Desa Manjung. Tujuan x.penelitian, untuk mengetahui x.hubungan x.kondisi fisik sumur dan penurunan kualitas x.air (BOD) dengan x.kejadian gangguan kesehatan yang dialami warga Desa Manjung.Metode: Penelitian.observasional analitik denganxpendekatan case control. Sampel sebanyak 38 responden (19 kelompok kasus dan 19 kelompok kontrol) dengan purposive sampling. Analisis data dengan uji Chi-square.Hasil: Hasil uji laboratorium kadar BOD terdapat 5 sampel air sumur atau sebesar 13,15% yang memiliki baku mutu air badan air kelas I dari 38 sampel air sumur. Hasil uji hubungan menunjukkan bahwa kondisi dinding sumur (p-value = 0,032; OR = 7,650(1,370-42,713)), kondisi lantai sumur (p-value = 0,040; OR = 5,926(1,287-27,283)), dan kadar BOD dalam sampel air sumur (p-value = 0,046) berhubungan dengan kejadian penyakit. Kondisi bibir sumur (p-value = 0,065; OR = 6,182(1,101-34,700)) tidak berhubungan dengan kejadian penyakit.Simpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah gangguan kesehatan yang terjadi berhubungan dengan kondisi dinding sumur, kondisi lantai sumur, dan kadar BOD dalam sampel air sumur.
Analisis Pelaksanaan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga bagi Orang dengan Gangguan Jiwa Berat di Puskesmas (Studi Kasus Skizofrenia di Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang) Lathifah Safaatul Uzhma
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 18, No 2 (2019): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.23 KB) | DOI: 10.14710/mkmi.18.2.23-27

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang : Kesehatan jiwa termasuk dalam salah satu indikator Standar Pelayanan Minimum (SPM) dan Indikator Keluarga Sehat (IKS) PIS-PK yang keduanya fokus pada penanganan ODGJ. Laporan dari Dinas Kesehatan Kota Semarang menunjukkan adanya peningkatan jumlah kasus gangguan mental (Schizophrenia) setiap tahun. Berdasarkan data dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah, terdapat 325 orang gangguan jiwa (psikotik) dan 67 anak gangguan jiwa (psikotik) yang dilaporkan oleh masyarakat dan belum menerima layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi PIS-PK untuk orang dengan gangguan jiwa berat di Puskesmas Kota Semarang.Metode : Penelitian kualitatif ini menggunakan metode wawancara mendalam.Hasil : PIS-PK membantu dalam pengumpulan data ODGJ terutama dalam kasus Schizophrenia. Program ODGJ dibantu oleh PIS-PK, karena tidak ada program khusus yang dimaksudkan untuk ODGJ. Tetapi intervensi lebih lanjut untuk ODGJ belum dilaksanakan dalam kegiatan PIS-PK. Intervensi lebih lanjut hanya akan dilakukan pada 3 masalah yang paling besar muncul di masyarakat dan masalah ODGJ (Schizophrenia) tidak termasuk di dalamnya. Intervensi lebih lanjut dapat dilakukan dengan program kolaborasi lintas sektor antara PIS-PK dan program ODGJ, sehingga IKS dan SPM dapat dicapai secara bersamaan. Selain itu, tidak ada sinkronisasi antara data laporan SPM dan data ODGJ pada PIS-PK. Sehingga data tersebut belum dapat menunjukkan kasus secara nyata. Meskipun data ODGJ terdapat di PIS-PK, hal ini bisa menjadi referensi dalam mengambil intervensi di masyarakat.Simpulan : Temuan kasus ODGJ dapat dibantu dengan memaksimalkan formulir deteksi dini SRQ 29.
Dampak Pemberian Biskuit pada Ibu Hamil Berisiko Kekurangan Energi Kronis terhadap Kadar Hemoglobin Sairuroh Sairuroh
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 18, No 2 (2019): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.475 KB) | DOI: 10.14710/mkmi.18.2.1-6

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Pada 2016 penyebab Angka Kematian Bayi tertinggi di Kabupaten Tegal adalah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Salah satu penyebab BBLR adalah kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil. Program pemberian makanan tambahan (PMT) pada ibu hamil merupakan upaya untuk mencegah BBLR. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh PMT pada ibu hamil berisiko KEK terhadap kadar hemoglobin saat akan melahirkan.Metode: Desain penelitian kuasi eksperimen. Subyek penelitian 51 ibu hamil berisiko KEK (Lingkar Lengan Atas <23,5cm) dari keluarga miskin (perlakuan) yang mendapat PMT dan 51 ibu hamil berisiko KEK non keluarga miskin sebagai kontrol. PMT berupa 5 keping biskuit/hari dari Kemenkes RI yang diberikan selama 90 hari. Pengumpulan data dengan wawancara terstruktur dan pengukuran kadar Hemoglobin yang dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan. Analisis data menggunakan General Linear Model.Hasil: Peningkatan kadar hemoglobin kelompok perlakuan (1,29 ±0,76 g/dl) lebih tinggi (p=0,032) daripada kelompok kontrol (0,97±0,75 g/dl). Tingkat kecukupan energi (TKE) kelompok kontrol (67,6±10,7%) lebih tinggi (p=0,003) dari TKE kelompok perlakuan (60,4±13,3%), Tingkat kecukupan protein (TKP) kelompok perlakuan (96,4±30,4%) lebih tinggi (p=0,015) dari pada kelompok kontrol (83,6±20,97%). Setelah dikontrol TKE, PMT biskuit meningkatkan kadar hemoglobin ibu (p=0,005).Simpulan: PMT biskuit pada ibu hamil berisiko KEK meningkatkan kadar Hemoglobin pada saat akan melahirkan.
Hubungan Kadar Timbal (Pb) dengan Kadar Malondialdehid (MDA) dalam Darah pada Ibu Hamil di Wilayah Pantai Kabupaten Brebes Hari Ismanto
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 18, No 2 (2019): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.093 KB) | DOI: 10.14710/mkmi.18.2.28-34

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang : Kematian ibu di Jawa Tengah tertinggi ditemukan di Kabupaten Brebes dengan jumlah kasus sebesar 54 kasus pada 2016 dan 52 kasus pada 2015. Paparan timbal dimungkinkan menjadi penyebabnya. Penelitian ini dilakukan di 4 wilayah pesisir Kecamatan di Brebes. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan hubungan antara kadar timbal (Pb) dengan kadar malondialdehyde (MDA) dalam darah ibu hamil.Metode : Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan desain Cross Sectional. Sampel adalah ibu hamil yang berjumlah 85 orang. Data dianalisis secara deskriptif dengan analisis univariat, data mengenai kadar Pb dan MDA dianalisis dengan uji hubungan Rank-Spearman.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata usia ibu hamil adalah 30,15 tahun dengan rentang usia terbesar adalah 20-35 tahun. Rerata usia kehamilan adalah 27,62 minggu atau dominan berada pada trimester 2 dan 3 kehamilan (43,5% dan 54,1%). Ibu hamil dalam penelitian ini adalah orang yang berisiko tinggi terpapar tembakau dan pestisida (28,2% dan 78,8%). Rerata kadar timbal dalam darah ibu hamil sebesar 42.67 μg / dl dan MDA sebesar 377.3 ng/ml. Hasil uji hubungan antara kadar timbal dan kadar MDA dalam darah ibu hamil menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan (p>0,05).Simpulan : Kadar timbal dalam darah di wilayah ini dapat dikaji lebih dalam. Ibu hamil disarankan untuk mencegah terkena paparan timbal dengan menghindari asap rokok, pestisida, tidak mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi timbal, dan meminimalkan paparan asap kendaraan.
Efek Caffeine Terhadap Jumlah Sel Inflamasi pada Penyembuhan Luka Skin Graft pada Tikus Sprague Dawley Wahyu Haris Prabowo
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 18, No 2 (2019): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.053 KB) | DOI: 10.14710/mkmi.18.2.7-13

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Skin graft terapi pilihan pada proses penyembuhan luka yang berkembang pesat. Sistem imunitas berperan dalam penyembuhan luka skin graft. Kopi mengandung caffeine (1,3,7-trimethylxanthine) sebagai antioksidan berperan dalam penyembuhan luka melalui sistem imun. Tujuan penelitian ini membuktikan efek caffeine berbagai dosis dalam meningkatkan jumlah sel inflamasi pada luka skin graft.Metode: Studi eksperimental dengan “Blinded randomized post test only controlled group design”. Seluruh sampel (Tikus Sprague Dawley) dilakukan Skin Graft Autologus pada waktu yang bersamaan. Sampel dibagi secara acak menjadi 4 grup (K= Tanpa intake caffeine), (P1= Caffeine 3 mg), (P2 = Caffeine 6 mg), (P3 = Caffeine 9 mg). Perhitungan jumlah sel makrofag jaringan, sel neutrofil dan monosit darah tepi dilakukan pada hari ke 7 pasca Skin Graft. Data dianalisis dengan metode ANOVA, Kruskall-Wallis dan Mann-Whitney Test.Hasil: Perbandingan jumlah makrofag jaringan didapatkan perbedaan yang bermakna antara kelompok K dengan P2 (p = 0,011), K dengan P3 (p = 0,008); P1 dengan P2 (p = 0,009); P1 dengan P3 (p = 0,006); dan P2 dengan P3 (p = 0,008). Perbedaan tidak bermakna didapatkan antara kelompok K dengan P1 (p = 0,343). Pada hasil uji neutrofil darah tepi, uji Kruskal Wallis didapatkan nilai p = 0,961, sehingga tidak didapatkan perbedaan bermakna. Pada hasil uji monosit, Hasil uji One Way ANOVA didapatkan nilai p = 0,160, tidak ada perbedaan bermakna jumlah monosit darah tepi pada keempat kelompok.Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna jumlah sel makrofag jaringan pada penggunaan caffeine dosis bertingkat proses penyembuhan luka skin graft autologus tikus Sprague Dawley.
Hubungan Faktor Lama Menderita DM dan Tingkat Pengetahuan dengan Distres Diabetes pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Tahun 2017 (Studi di Wilayah Kerja Puskesmas Rowosari, Kota Semarang) Fitrianur Laili
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 18, No 2 (2019): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.937 KB) | DOI: 10.14710/mkmi.18.2.35-38

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang : Distres Diabetes adalah suatu kondisi yang banyak dialami oleh penderita Diabetes Mellitus (DM). Sebagaimana disebutkan sebesar 48,5% penderita DM Tipe 2 berisiko terkena Distres Diabetes. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis hubungan antara durasi DM dan tingkat pengetahuan mengenai Distres Diabetes pada penderita DM Tipe 2 tahun 2017.Metode : Populasi dalam penelitian ini adalah penderita DM Tipe 2 yang tercatat di Puskesmas Rowosari, Kota Semarang, tahun 2017, yang berjumlah 231 orang. Sampel minimal adalah 100 responden yang diambil dengan metode sampel acak sederhana, dan analisis data menggunakan uji Rank-Spearman dengan interval kepercayaan 95%.Hasil : Hasil menunjukkan bahwa rerata durasi DM adalah 4,66 tahun, rerata tingkat pengetahuan adalah 4,33 poin, dan rerata skor distres diabetes adalah 51,16 poin. Nilai signifikansi untuk variabel durasi DM dan tingkat pengetahuan masing-masing adalah p=0,005 (rp=-0,280) dan p=0,001 (rp=-0,654).Simpulan : Simpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara durasi DM dan tingkat pengetahuan dengan distres diabetes.
Hubungan Asupan Zat Gizi, Aktivitas Fisik, dan Persentase Lemak Tubuh dengan Kebugaran Jasmani Rhosidatus Salamah
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 18, No 2 (2019): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.871 KB) | DOI: 10.14710/mkmi.18.2.14-18

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Kebugaran jasmani merupakan kemampuan individu untuk melakukan aktivitas fisik dengan mudah tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan. Kebugaran jasmani akan menunjang kemampuan atlet namun diperlukan asupan yang memiliki kandungan zat gizi yang cukup dan seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan zat gizi, aktivitas fisik, dan persentase lemak tubuh dengan kebugaran jasmani pada atlet taekwondo. Metode: Jenis penelitian ini adalah explanatory research dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh atlet taekwondo anggota Klub HTC Central Semarang (laki-laki dan perempuan) sebanyak 50 responden. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling, subjek sejumlah 42 orang. Bivariat dianalisis dengan menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment dan Rank Spearman. Multivariat dianalisis menggunakan uji regresi linier dengan variabel dummy.Hasil: Tidak ada hubungan antara tingkat konsumsi energi (p = 0,528, r = -0,100) dan tingkat konsumsi lemak (p = 0,741 r = 0,052) dengan persentase lemak tubuh pada atlet taekwondo. Ada hubungan antara tingkat konsumsi energi (p = 0,035 r = -0,326) dengan kebugaran fisik pada atlet taekwondo. Tidak ada hubungan tingkat konsumsi lemak (p=0,188 r=-0,207). Ada hubungan antara aktivitas fisik (p=0,000 r=0,822) dengan kebugaran fisik pada atlet taekwondo. Ada hubungan antara persentase lemak tubuh (p = 0,005 r = -0,422) dengan kebugaran fisik pada atlet taekwondo. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa aktivitas fisik merupakan variabel yang paling berhubungan dengan kebugaran jasmani atlet taekwondo. Simpulan: Penelitian ini merekomendasikan agar atlet dapat meningkatkan asupan energi guna mencukupi kebutuhan atlet, serta kebugaran

Page 1 of 1 | Total Record : 7