cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124920     EISSN : 27755614     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 22, No 5 (2023): MKMI" : 10 Documents clear
Faktor–Faktor yang Memengaruhi Cakupan Vaksinasi COVID-19 pada Guru SD di Banda Aceh Syafwinda Mailizar; Fia Dewi Auliani; Farid Bastian
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 5 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.5.326-331

Abstract

Latar belakang: Coronavirus disease 2019 (COVID-19) merupakan penyakit jenis baru yang belum pernah diindentifikasi sebelumnya pada manusia. Penyebab dari COVID-19 yaitu Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV2) yang termasuk dalam keluarga besar coronavirus.Vaksin adalah produk atau zat yang masuk melalui suntikan kedalam tubuh manusia yang akan menstimulasi sistem kekebalan tubuh manusia atau imunitas. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi cakupan vaksinasi COVID-19 pada guru SD Negeri di Banda Aceh.Metode: Penelitin ini deskriptif analitik, dengan desain cross sectional. Penelitian ini termasuk jenis penelitian lapangan (field research). Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei hingga Juni 2023 di wilayah kerja Sekolah Dasar Negeri se-Kota Banda Aceh. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuisioner. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan pengujian validitas dan reliabilitas melalui SPSS.Hasil: Didapatakan hasil Guru SD belum mendapatkan vaksin COVID-19 dengan persentase sebesar 65,6%, guru SD memiliki tingkat pengetahuan rendah terhadap vaksin COVID-19 sebesar 53,3%, guru SD Negeri memiliki sikap kurang baik terhadap vaksinasi COVID-19 sebesar 62,2%, berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan uji chi-square diperoleh nilai p-value 0,002 (P<0,05) menunjukan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan capaian vaksin COVID-19 pada guru SD Negeri di Banda Aceh.Simpulan: Penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan sikap guru terhadap capaian vaksinasi COVID-19 pada guru SD Negeri di Banda Aceh. Hasil ini menunjukan bahwa pengetahuan dan sikap merupakan faktor yang mempengaruhi vaksinasi COVID-19 pada Guru SD di Banda Aceh.Kata kunci: pengetahuan; sikap; vaksinasi COVID-19; guru SD Title: Factors Affecting COVID-19 Vaccination Coverage on Elementary Teachers in Banda AcehBackground: Coronavirus disease 2019 (COVID-19) is a new type of disease that has never been previously identified in humans. The cause of COVID-19 is Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV2) which belongs to the large family of coronaviruses. So this study aims to determine the factors that influence the coverage of COVID-19 vaccination for public elementary school teachers in Banda Aceh.Method: This research is an analytic descriptive study, with a cross sectional design. This research is a type of field research. This research was conducted from May to June 2023 in the working area of Public Elementary Schools in the city of Banda Aceh. Sampling was done by using random sampling technique. Data collection is done by distributing questionnaires. Research data were analyzed using validity and reliability tests through SPSS.Result: The results showed that elementary school teachers had not received the COVID-19 vaccine with a percentage of 65.6%, elementary school teachers had a low level of knowledge about the COVID-19 vaccine by 53.3%, public elementary school teachers had an unfavorable attitude towards the COVID-19 vaccination by 62, 2%, based on the results of the analysis using the chi-square test, a p-value of 0.002 (P <0.05) which means that this indicates that there is a relationship between knowledge and achievement of the COVID-19 vaccine in public elementary school teachers in Banda Aceh. Conclusion: Research shows that there is a significant relationship between the level of knowledge and attitudes of teachers towards the achievement of the COVID-19 vaccination of public elementary school teachers in Banda Aceh. These results show that knowledge and attitudes are two factors that influence COVID-19 vaccination for elementary school teachers in Banda Aceh.Keywords: knowledge; attitude; COVID-19 vaccination;elementary school teacher
Hubungan Fungsi Kognitif dengan Kejadian Hipertensi di Rumah Sakit Meuraxa Dwi Indra Kesuma; Khatab Khatab; Mursyida Mursyida
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 5 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.5.296-301

Abstract

Latar belakang: Perubahan tekanan darah berkaitan dengan keadaan fungsi kognitif. Tekanan darah yang tinggi dapat meningkatkan terjadinya gangguan vaskularisasi pada otak, yang tentunya akan berpengaruh terhadap sistem kerja otak yang menjadi pusat kognitif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahuai ada tidaknya hubungan hipertensi dan fungsi kognitif di Rumah Sakit Meuraxa.Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Pengambilan data dilakukan di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Meuraxa Banda Aceh.  Sampel dalam penelitian ini adalah semua pasien hipertensi di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Meuraxa Banda Aceh. Variabel independent yang digunakan adalah fungsi kognitif sedangkan variabel dependent pada penelitian ini adalah hipertensi. Teknik analisis data yang digunakan ialah analisis univariat dan analisa bivariat. Pengukuran akan di lakukan dengan menggunakan uji chi-square melalui bantuan program SPSS.Hasil: Pasien lebih banyak berjenis kelamin perempuan sebesar 66% dan berusia lebih dari 60 tahun (60%). Fungsi kognitif normal cenderung memiliki tingkat hipertensi yang tidak begitu tinggi dengan persentase pasien hipertensi stadium 1 dan 2 berjumlah 81,5% dibandingkan dengan pasien dengan gangguan fungsi kognitif yang mencapai 93,5%. Hasil uji hipotesis didapatkan p-value (0,00) < (0,011) sehingga disimpulkan bahwa hipotesa awal (H0) ditolak yang berarti terdapat hubungan antara fungsi kognitif terhadap kejadian hipertensi di poliklinik penyakit dalam Rumah Sakit Meuraxa Banda Aceh.Simpulan: Berdasarkan uji hubungan diperoleh kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara hubungan hipertensi dengan fungsi kognitif di poliklinik penyakit dalam Rumah Sakit Meuraxa Banda Aceh.Kata kunci: stroke; hipertensi; fungsi kognitif; tekanan darah Title: Relationship between Cognitive Function and Hypertension Incidence at Meuraxa HospitalBackground: Cognitive function is associated with variations in blood pressure. High blood pressure can increase the incidence of vascular disorders in the brain, which affects the brain's work system, which is the cognitive center. At Meuraxa Hospital, the purpose of this investigation was to determine if there was a correlation between hypertension and cognitive function.Method: This type of research is an analytic observational study with a cross-sectional design. Data collection was carried out at the Internal Medicine Polyclinic, Meuraxa General Hospital, Banda Aceh. The sample in this study were all hypertensive patients at the Internal Medicine Polyclinic at Meuraxa Hospital in Banda Aceh. The independent variable used is cognitive function, while the dependent variable in this study is hypertension. The data analysis techniques used are univariate analysis and bivariate analysis. Measurements will be made using the chi-square test with the help of the SPSS program.Result: The majority of patients were over 60 years old and are female (60%). The percentage of patients with stage 1 and 2 hypertension is lower among those with normal cognitive function, at 81.5%, compared to those with impaired cognitive function, where the percentage reaches 93.5%. The hypothesis test yielded a p-value of (0.00) (0.011), indicating that the null hypothesis (H0) was rejected, indicating that cognitive function and the incidence of hypertension in the internal medicine polyclinic at Meuraxa Hospital Banda Aceh are associated.Conclusion: Based on the relationship test, it was concluded that there was a significant relationship between hypertension and cognitive function at the internal medicine polyclinic at Meuraxa Hospital in Banda Aceh.Keywords: stroke; hypertension; cognitive function; blood pressure
Gambaran Pengetahuan Ibu tentang Imunisasi Dasar Bayi di Kecamatan Simpang Tiga Putri Balqis; Ratih Ayu Atika; Aditya Candra
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 5 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.5.332-336

Abstract

Latar belakang: Imunisasi adalah upaya pencegahan penyakit menular dengan memberikan “vaksin” sehingga terjadi imunitas terhadap penyakit tersebut. Menurut data Kemenkes RI (2018) cakupan imunisasi dasar lengkap di Indonesia dalam lima tahun terakhir selalu diatas 85%, tenaga kesehatan dalam hal ini juga mempunyai pengaruh besar, seperti komunikasi yang efektif dengan para orang tua terutama ibu, penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang kelengkapan imunisasi dasar bayi di Kec. Simpang Tiga Aceh Besar.Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, populasi terjangkau adalah masyarakat yang memiliki bayi di Kecamatan Simpang Tiga Aceh Besar dengan jumlah sampel 97 responden. Pengambilan sampel menggunakan proportional sampling melalui teknik simple random sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Penelitian ini menggunakan analisis univariat.Hasil: Hasil penelitian ini yaitu karekteristik ibu di Kecamatan Simpang Tiga mayoritas berusia 26-30 tahun (49,5%), berpendidikan SMA/Sederajat dan Sekolah Tinggi (43,3%), dan tidak bekerja/ibu rumah tangga (73,2%). Tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar bayi di Kecamatan Simpang Tiga mayoritas berkategori kurang (69,1%), cukup (25,8%), dan baik (5,2%).Simpulan: Pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar bayi di Kecamatan Simpang Tiga berkategori kurang terdiri umur 26-30 tahun. Pengetahuan cukup terdiri dari ibu umur 26-30 tahun. Pengetahuan baik terdiri dari ibu dengan umur 26-30 tahun.Kata kunci: imunisasi dasar bayi; pengetahuan ibu; karakteristik ibuTitle: Description of Mother's Knowledge about Basic Immunization of Babies in Simpang Tiga DistrictBackground: Immunization is an effort to prevent infectious diseases by giving a "vaccine" so that immunity against the disease occurs. According to data from the Ministry of Health of the Republic of Indonesia (2018) the coverage of complete basic immunization in Indonesia in the last five years has always been above 85%, this study aims to find out the description of mother's knowledge regarding the completeness of basic immunization of infants in Kec. Simpang Tiga Aceh Besar.Method: This study used a descriptive method, the reachable population is people who have babies in Simpang Tiga Aceh Besar District with a sample size of 97 respondents. Sampling used proportional sampling through simple random sampling technique in accordance with the inclusion criteria and the exclusion criteria. This study uses univariate analysis.Result: The results of this study were that the majority of mothers in Simpang Tiga District were aged 26-30 years (49.5%), had high school/equivalent and high school education (43.3%), and did not work/housewives (73.2%). 2. The level of knowledge of mothers about infant dasay immunization in Simpang Tiga sub-district, the majority are in the poor category (69.1%), sufficient (25.8%), and good (5.2%).Conclusion: Mothers' knowledge about basic immunization for infants in Simpang Tiga District was in the less category, the majority consisting of mothers aged 26-30 years. The majority of knowledge consists of mothers aged 26-30 years. The majority of good knowledge consists of mothers aged 26-30 years.Keywords: infant basic immunization; mother's knowledge; mother's characteristics
Gambaran Pengetahuan Orang Tua tentang Dehidrasi dan Penanganannya pada Anak di Bawah Lima Tahun Askia Ul Haq Bakry; Eka Yunita Amna; Isfanda Isfanda
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 5 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.5.302-307

Abstract

Latar belakang: Dehidrasi adalah suatu kondisi kehilangan air dan garam secara berlebihan dari dalam tubuh. Dehidrasi pada Anak di Bawah Lima Tahun (Balita) sering terjadi akibat diare dan menjadi salah satu penyebab terbanyak kematian pada anak. Anak yang mengalami dehidrasi perlu penanganan yang tepat mengingat bahaya yang terjadi dan dapat berujung pada kematian. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan orang tua tentang dehidrasi dan penanganannya pada balita.Metode Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan jumlah responden 95 orang. Variabel independen pada penelitian ini adalah pengetahuan, penanganan, dan tingkat pendidikan orang tua. Variabel dependen adalah dehidrasi pada balita. Analisis data menggunakan uji chi-square. Teknik pengambilan data berupa purposive sampling. Hasil: Analisis chi-square mendapatkan bahwa pengetahuan orang tua tentang dehidrasi memiliki hubungan dengan kejadian dehidrasi pada balita (p-value= 0,001). Terdapat adanya hubungan pengetahuan orang tua tentang penanganan dehidrasi dengan kejadian dehidrasi pada balita (p-value= 0,001). Tidak adanya hubungan antara pendidikan orang tua dengan kejadian dehidrasi pada balita (p-value= 0,238).Simpulan: Kesimpulan bahwa terdapat hubungan pengetahuan dan penanganan orang tua dengan kejadian dehidrasi pada balita. Pengetahuan orang tua memiliki peranan besar dalam kesehatan anak. Hal ini dapat diliat dari penanganan orang tua terhadap kesehatan anak, penanganan orang tua didasari oleh pengetahuan yang dimiliki oleh setiap orang tua.Kata kunci: dehidrasi; pengetahuan; penanganan; balita Title: Description of Parental Knowledge about Dehydration and its Management in Children Under Five YearsBackground: Dehydration is a condition that results from the excessive loss of water and salt from the body. Dehydration in children is common to diarrhea and become one of the most common causes of death in children. Dehydration in children need proper treatment in view of the danger and eventually lead to death. The purpose of this study is to identify a parent knowledge of dehydration and the treatment of children under five years of age. Method: This study used a cross sectional method with a total of 95 respondents. Independent variable in this study are the knowledge, treatment, education level of parents. A dependent variable is dehydration in children under five. Data retrieval technique is purposive sampling.Result: Chi-square analysis found that parent knowledge of dehydration had a relationship with the incidence of dehydration in children under five years (p-value= 0,001). There is a relationship between parent knowledge about treatment dehydration and the incidence of dehydration in children under five years (p-value= 0,001). There is no relationship between education level of parents and the incidence of dehydration in children under five years (p-value= 0,238).Conclusion: The conclusion that there is a connection relationship between parent knowledge and treatment with the incidence of dehydration in children under five years. Parents knowledge has a big role in children’s health. This can be seen from the parent treatment of children’s health, the treatment of parents is based on the knowledge that each parent has.Keywords: dehydration; knowledge; treatment; children under five years
Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Upaya Pencegahan Ibu dengan Kejadian Stunting Widya Syahputri Munthe; Ratih Ayu Atikah; Aditya Candra
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 5 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.5.337-341

Abstract

Latar belakang: Kurang gizi dan stunting merupakan dua masalah yang saling berkaitan. prevalensi stunting di Indonesia mencapai 32% lebih tinggi dari WHO. Aceh merupakan provinsi dengan angka stunting tinggi dengan persentase 37,3%. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan antara tingkat pengetahuan dan upaya pencegahan ibu dengan kejadian stunting di Puskesmas Kecamatan Penanggalan Kota Subulussalam.Metode: Jenis penelitian ini deskriptif analitik dengan desain cross sectional  variabel bebas dalam penelitian ini  tingkat pengetahuan dan upaya pencegahan, sedangkan variabel terikat Stunting. Sampel dalam penelitian ini memenuhi kriteria inklusi sebanyak 61 orang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan 13 Februari s/d 13 Maret 2023. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling dimana jumlah sampel sama dengan populasi telah memenuhi kriteria inklusi ibu di Puskesmas Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam yang bersedia menjadi responden dalam penelitian, ibu dengan anak yang telah terdiagnosa stunting di Kecamatan Penanggalan.Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 8 orang (13,1%) dengan tingkat pengetahuan baik terhadap kejadian stunting pada anak yang pendek 5 orang (8,2%), dari 53 orang orang tua dengan tingkat pengetahuan yang kurang terhadap kejadian stunting yang pendek 42 orang (68,9%) dengan perilaku pencegahan baik terhadap kejadian stunting yang pendek 4 orang (6,6%). Selanjutnya dari 54 orang orang tua dengan perilaku pencegahan yang kurang terhadap kejadianstunting, yang pendek 43 orang (70,5%). Hubungan tingkat pengetahuan ibu terhadap kejadian stunting pada anak didapatka p-value 0,022 dimana terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan kurang orang tua terhadap kejadian stunting pada anak.Simpulan: Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan upaya pencegahan Ibu dengan kejadian stunting.Kata kunci: stunting; pengetahuan ibu; upaya pencegahan ibu Title: The Relationship between Mother's Knowledge Level and Prevention Efforts with Stunting IncidentsBackground: Malnutrition and stunting are two interrelated problems. Aceh is a province with a high stunting rate with a percentage of 37.3%. The aim is to identify the relationship between the level of knowledge and efforts to prevent mothers with the incidence of stunting at the Penanggalan District Health Center, Subulussalam City.Method: This type of research is descriptive analytic with a cross-sectional design. The independent variable in this study is the level of knowledge and prevention efforts, while the dependent variable is stunting. The sample in this study that met the inclusion criteria was 61 people. This research was conducted from 13 February to 13 March 2023. The sampling technique in this study was total sampling where the number of samples was the same as the population that met the inclusion criteria. with children who have been diagnosed with stunting in the Penanggalan District.Result: : The results of this study showed that out of 8 people (13.1%) with a good level of knowledge about the incidence of stunting in short children 5 people (8.2%) out of 53 parents with a low level of knowledge about stunting incidents, 42 people (68.9%) were short with good prevention behavior for stunting events were short 4 people. The relationship between the level of knowledge of the mother and the incidence of stunting in children was obtained with a p-value of 0.022, where there was a relationship between the level of lack of knowledge of parents and the incidence of stunting in children.Conclusion: Based on the research results obtained, there is a relationship between the level of knowledge and efforts to prevent mothers from stunting.Keywords: stunting; mother's knowledge; mother's prevention efforts
Karakteristik Penderita Hipertensi yang Dirawat Inap di RSUD Meuraxa Imam Khalasha Tigana; Farid Bastian; Satria Safirza
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 5 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.5.308-313

Abstract

Latar belakang: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM) dengan angka kejadian yang tinggi baik di negara maju maupun negara berkembang termasuk Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018, didapatkan peningkatan angka kejadian hipertensi sebesar 8,31% dibandingkan angka kejadian hipertensi pada tahun 2013. Prevalensi hipertensi di Provinsi Aceh pada tahun 2018 sebesar 26,45% dari total penduduk berusia 18 tahun. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik penderita hipertensi yang dirawat inap di RSUD Meuraxa kota Banda Aceh tahun 2022. Metode: Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif dengan subjek buku status pasien yang terdapat di ruang rekam medis, yang mana jumlah sampel penelitian sebanyak 70 orang. Sampel dalam penelitian direkrut dengan menggunakan non-probability sampling yaitu purposive sampling dengan menggunakan beberapa pertimbangan tertentu sesuai dengan kriteria yang diinginkan untuk dapat menentukan jumlah sampel yang akan diteliti. Kriteria sampel pada penelitian ini adalah pasien penderita hipertensi primer dan sekunder yang dirawat inap di RSUD Meuraxa, baik laki-laki maupun perempuan, dan tercatat didalam rekam medis periode tahun 2022. Penelitian dilakukan diruang rawat inap RSUD Meuraxa Banda Aceh.Hasil: Berdasarkan hasil penelitian, terdapat temuan bahwa penderita hipertensi paling banyak ditemukan pada rentang usia 56-65 tahun, yaitu sebanyak (32.9%). Jika dilihat dari segi jenis kelamin, penderita hipertensi yang paling banyak ditemukan adalah perempuan, sebanyak (68.6%). Selanjutnya, apabila dilihat dari segi derajat hipertensi, hipertensi derajat 2 merupakan yang paling umum, dengan jumlah sebanyak (88.6%). Sebanyak (72.9%) dari penderita hipertensi tidak mengalami komplikasi. Dalam pengobatan menggunakan obat antihipertensi, golongan Calcium Channel Blocker (CCB) merupakan yang paling banyak digunakan, sebanyak (46%). Berdasarkan lama rawatan, mayoritas penderita hipertensi dirawat kurang dari 1 minggu, yaitu sebanyak (74%). Simpulan: Penelitian menemukan bahwa hipertensi derajat 2 merupakan yang paling banyak diderita oleh responden yaitu sebanyak 62 orang (88.6%).Kata kunci: hipertensi; karakteristik pasien Title: Characteristics of Hypertension Patients Hospitalized at Meuraxa HospitalBackground: Hypertension, a non-communicable disease (PTM), is common in Indonesia and other developing nations. Hypertension incidence increased 8.31% in 2018 compared to 2013. Aceh Province's 18-year-old population had 26.45% hypertension in 2018. This study examined 2022 hypertensive patients treated at Meuraxa Hospital in Banda Aceh City.Method: This research method employs a descriptive quantitative approach with a sample size of 70 for the subject of the patient status book in the medical record room. The number of samples to be investigated was determined using non-probability sampling, namely purposive sampling, with specific considerations based on the desired criteria. Male and female patients with primary and secondary hypertension who were hospitalized at Meuraxa Hospital between 2022 and 2023 and whose medical records were documented were used as the sample criteria for this study. The research was conducted in the hospital ward of Banda Aceh's Meuraxa Hospital.Results: Based on the results of the study, it was found that most people with hypertension were found in the age range of 56-65 years, namely (32.9%). In terms of gender, the most common hypertension sufferers were women (68.6%). Furthermore, when viewed in terms of the degree of hypertension, grade 2 hypertension is the most common, with a total of (88.6%). As many (72.9%) of hypertension sufferers did not experience complications. In the treatment of using antihypertensive drugs, the Calcium Channel Blocker (CCB) group is the most widely used, as much as (46%). Based on the length of stay, the majority of hypertensive patients were treated for less than 1 week, namely (74%).Conclusion: The study found that 62 people (88.6%) suffered from grade 2 hypertension the most.Keywords: hypertension; patient characteristic
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Prediabetes Mujiono Mujiono; Ari Udijono; Diana Kusuma
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 5 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.5.314-318

Abstract

Latar belakang: Prediabetes merupakan awal terjadinya diabetes mellitus. Prediabetes tidak mempunyai gambaran khas seperti diabetes mellitus, akan tetapi prevalensi prediabetes lebih besar dibandingkan dengan diabetes mellitus yaitu 29,9%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian prediabetes pada pegawai kantor ketenagalistrikan di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan observasional analitik menggunakan rancangan studi cross-sectional. Sampel penelitian seluruh pegawai kantor ketenagalistrikan di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta bagian administrasi dan lapangan yang telah melakukan pemeriksaan berkala kesehatan tahun 2022 sebanyak 1.329 orang. Variabel yang diteliti adalah umur, masa kerja, jenis pekerjaan, IMT, lingkar perut dan kadar HDL yang dihubungkan dengan kejadian prediabetes. Analisis data sekunder dengan melakukan analisis univariat dan bivariat. Uji statistik menggunakan uji chi-square.Hasil: Pegawai yang mengalami prediabetes sebanyak 29,6% dengan karakteristik umur ≥40 tahun (55,2%), masa kerja > 5 tahun (30,5%), bekerja dibagian administrasi (35,1%), IMT dalam kategori gemuk (37,4%), lingkar perut berisiko (38,7%) dan kadar HDL rendah (36,4%). Terdapat hubungan yang signifikan antara umur (p = 0,0001), masa kerja (p = 0,007), jenis pekerjaan (p = 0,0001), IMT (p = 0,0001), lingkar perut (p = 0,0001), dan kadar HDL (p = 0,006) dengan kejadian prediabetes pada kantor ketenagalistrikan di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.Simpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa kejadian prediabetes terjadi karena kadar HDL yang rendah, kurangnya aktifitas fisik, dan pertambahan umur yang meningkatkan risiko terjadinya suatu penyakit.Kata kunci: HDL; HbA1c; prediabetes Title: Factors Associated with the Prevalence of PrediabetesBackground: Prediabetes is the beginning of diabetes mellitus. Prediabetes does not have typical features like diabetes mellitus, but the prevalence is more than diabetes mellitus at 29,9%. This study aims to determine the factors associated with the incidence of prediabetes in electric power office employees in Central Java and the Special Region of Yogyakarta..Method: Quantitative research with an analytic observational approach using a cross-sectional study design. The research sample is all employees of the electricity office in Central Java and the Special Region of Yogyakarta for the administrative and field sections who have carried out periodic health checks in 2022 as many as 1,329 people. The variables studied were age, length of service, type of work, BMI, abdominal circumference and HDL levels with the incidence of prediabetes. Secondary data analysis by conducting univariate and bivariate analysis. Statistical tests use the chi-square test.Result: Employees with prediabetes were 29,6% with characteristics of age ≥40 years (55,2%), working experience > 5 years (30,5%), working in administration (35,1%), BMI in the fat category (37,4%), at-risk abdominal circumference (38,7%), and low HDL levels (36,4%). There is a significant relationship between age (p = 0,0001), years of service (p = 0,007), type of work (p = 0,0001), BMI (p = 0,0001), abdominal circumference (p = 0,0001), and HDL levels (p = 0,006) with the incidence of prediabetes.Conclusion: This study concluded that the incidence of prediabetes occurs due to low HDL levels, lack of physical activity, and increasing age which increases the risk of diseaseKeywords: HDL; HbA1c; prediabetes
Hubungan antara Neutrofil Limfosit dengan Lama Rawatan dan Angka Kematian Pasien COVID-19 di RSUD Meuraxa Banda Aceh Evi Maryani; Nur Fitriani; Andri Andri
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 5 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.5.283-290

Abstract

Pendahuluan: Corona virus disease (COVID-19) adalah penyakit yang menyerang sistem pernapasan disebabkan oleh virus SARS CoV-2. Pasien yang terinfeksi COVID-19 mengalami penurunan sistem imun akibat peningkatan rasio neutrofil disertai penurunan limfosit. Hal tersebut dapat mempengaruhi lama rawatan dan kematian pasien. Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui peningkatan dan penurunan rasio neutrofil limfosit (RNL) disertai hubungan terhadap lama rawatan dan kematian pasien COVID-19.Metode: Jenis penelitian deskriptif analitik pendekatan cross sectional pengambilan data dengan purposive sampling pada bulan Januari-Oktober 2021 berjumlah 200 sampel. Data diambil dari catatan rekam medik pasien sesuai kriteria inklusi. Data dalam penelitian ini dilakukan analisis univariat, bivariat, dan multivariat.Hasil: Hasil analisis univariat menunjukkan jumlah pasien dengan RNL >3,13 lebih banyak dibandingkan dengan ≤3,13. Pasien COVID-19 dengan lama rawatan <14 hari lebih banyak dibandingkan ≥14 hari. Pasien yang dirawat dengan status sembuh lebih banyak dibandingan meninggal. Analisis bivariat mendapatkan hasil tidak terdapat hubungan antara RNL dengan lama rawatan dengan nilai p sebesar 0,908 (Lebih dari α 0,05). Akan tetapi, terdapat hubungan antara peningkatan RNL dengan kematian pasien (nilai p = 0,001). Analisis multivariat regresi logistik multinomial pada RNL dan lama rawatan berpengaruh terhadap kematian pasien COVID-19.Kesimpulan: Kesimpulan terdapat hubungan antara peningkatan RNL dengan kematian, tetapi tidak terdapat hubungan antara RNL dengan lama rawatan.Kata kunci: COVID-19, Rasio Neutrofil Limfosit (RNL), lama rawatan, kematian pasien Title: Relationship Between Neutrophil Lymphocytes and Length of Care and Death Rate of Covid-19 Patients in Meuraxa Hospital Banda AcehBackground: Corona virus disease (COVID-19) is a disease that affects the respiratory system caused by the SARS CoV-2 virus. Patients infected with COVID-19 experience a decrease in the immune system due to an increase in the ratio of neutrophils accompanied by a decrease in lymphocytes. This can affect the length of treatment and death of the patient.  to determine the increase and decrease in the ratio of neutrophil lymphocytes (RNL) along with the relationship to the length of treatment and death of COVID-19 patients.Method: This type of descriptive analytical research with a cross-sectional approach, data were collected by purposive sampling in January-October 2021, totaling 200 samples. Data were taken from patient medical records according to the inclusion criteria. The data in this study were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate.Result: The results of the univariate analysis showed that the number of patients with RNL >3.13 was higher than that of those with ≤3.13. More COVID-19 patients with a length of stay <14 days than ≥14 days. More patients who were treated with recovery status than died. Bivariate analysis showed that there was no relationship between RNL and length of stay, with a p value of 0.908 (more than α 0.05). However, there is a relationship between increased RNL and patient death (p value = 0.001). Multivariate analysis of multinomial logistic regression on RNL and length of stay has an effect on the death of COVID-19 patients. Discussion: There is a correlation between increased RNL and mortality, but there is no correlation between RNL and duration of stay.Keywords: COVID-19, Neutrophil Lymphocyte Ratio (RNL), length of stay, patient death
Hubungan antara Status Gizi dan Kondisi Lingkungan Kerja dengan Produktivitas Pegawai (Studi pada Kantor Ketenagalistrikan di Semarang) Indriyani Widayati; Ari Udijono; Lu&#039;luil Ma&#039;rifati
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 5 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.5.319-325

Abstract

Latar belakang: Tingkat produktivitas kerja sangat penting dalam menjalankan tugas dan fungsi sebagai pegawai kantor ketenagalistrikan. Produktivitas kerja dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya status gizi dan kondisi lingkungan kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara status gizi dan kondisi lingkungan kerja dengan produktivitas pegawai kantor ketenagalistrikan di Semarang.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan pendekatan observasional analitik menggunakan rancangan studi cross-sectional. Penelitian dilakukan pada Mei s.d. Juli 2023 dengan populasi seluruh pegawai kantor ketenagalistrikan di Kota Semarang sebanyak 677 pegawai. Variabel bebas adalah status gizi dan kondisi lingkungan kerja, sedang variabel terikatnya adalah produktivitas kerja pegawai kantor ketenagalistrikan di Kota Semarang. Data dalam penelitian ini diambil menggunakan kuesioner yang disebarkan melalui Google Form kemudian dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji chi-square.Hasil: Usia responden dalam penelitian ini diketahui paling muda adalah 25 tahun dan paling tua berusia 57 tahun. Produktivitas kerja pegawai kategori baik lebih banyak pada responden dengan status gizi tidak normal (60%) dibandingkan responden dengan status gizi kategori normal (55,10%). Produktivitas kerja pegawai kategori baik lebih banyak pada responden yang mendapatkan kondisi lingkungan kerja yang baik (75%) dibandingkan responden yang mendapatkan kondisi lingkungan kerja yang kurang (31,30%). Hasil analisis bivariat pada penelitian di kantor ketenagalistrikan Semarang menunjukkan secara statistik tidak ada hubungan antara status gizi dengan produktivitas pegawai (nilai p = 1,000) dan ada hubungan antara kondisi lingkungan kerja dengan produktivitas pegawai (nilai p = 0,000).Simpulan: Pada kantor ketenagalistrikan di Semarang, diketahui bahwa terdapat hubungan antara kondisi lingkungan kerja dengan produktivitas kerja pegawai (nilai p = 0,000), sedang status gizi tidak berhubungan secara statistik (nilai p = 1,000). Melihat adanya hubungan antara lingkungan kerja dengan produktivitas kerja, maka diharapkan ada peningkatan kualitas lingkungan kerja baik secara fisik maupun non fisik sehingga dapat menjadi jembatan peningkatan produktivitas kerja pegawai.Kata kunci: status gizi; lingkungan kerja; produktivitas kerja Title: Employee Productivity in Relation to Nutritional Status and Working Environment Conditions (Study at the Electricity Office in Semarang)Background: In performing duties and responsibilities as an employee of the electricity office, the level of work productivity is crucial. Several factors, such as nutritional status and the conditions of the workplace, can have an effect on work productivity. This study's objective was to examine the relationship between Semarang office workers' nutritional status and working environment conditions and their productivity.Method: This is a quantitative study employing an analytical observational methodology and a cross-sectional design. The study was conducted between May and July of 2023, with a sample size of 677 electricity office employees in Semarang City. The independent variables are nutritional status and working environmental conditions, while the dependent variable is the work productivity of electricity office employees in Semarang City. This study's data were collected via a Google Form questionnaire and analyzed using univariate and bivariate analysis with the chi-square test.Result: The youngest participant in the research was 25 years old, while the oldest participant was 57 years old. Sixty percent of respondents with an abnormal nutritional status were more productive at work than those with a normal nutritional status (55.10 percent). The work productivity of employees who receive good working conditions is greater (75%) than that of respondents who receive subpar working conditions (31.30%). The results of bivariate analysis in research at the Semarang electricity office show that statistically there is no relationship between nutritional status and employee productivity (p value = 1.000) and there is a relationship between working environmental conditions and employee productivity (p value = 0.000).Conclusion: The Semarang power office found that working environment conditions and staff productivity were significantly associated (p = 0.000), while nutritional status was not (p = 1.000). The association between the work environment and employee productivity suggests that improving the physical and non-physical quality of the workplace will boost productivity.Keywords: nutritional status; work environment; work productivity
Hubungan Jenis Kelamin dengan Kejadian Ulkus Diabetikum di RSUD Meuraxa Banda Aceh Teuku Muhamad Haikal Zikransyah; Fakhrul Rizal; M. Hendro Mustaqim
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 5 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.5.291-295

Abstract

Latar Belakang: Ulkus diabetikum merupakan suatu luka kronik yang terjadi pada daerah di perifer tubuh dan paling sering di dapati pada bagian bawah pergelangan kaki yang di akibatkan oleh neuropati perifer, penyakit arteri perifer atau keduanya yang meningkatkan mordibitas, mortalitas, dan mengurangi kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jenis kelamin dengan kejadian ulkus diabetikum di RSUD Meuraxa Banda Aceh.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan retrospektif dan menggunakan data sekunder dari catatan instalasi rekam medis lengkap pasien ulkus diabetikum yang datang berobat ke poli bedah Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa sebanyak 96 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan mengisi lembar penelitian berdasarkan rekam medis dan data dianalisis dengan menggunakan uji Chi square. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini dengan menggunakan metode total sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan mengambil seluruh anggota populasi dimana berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi.Hasil: Penelitian hubungan jenis kelamin dengan kejadian ulkus diabetikum berdasarkan uji statistik dengan menggunakan Uji chi-square, tidak ditemukan hubungan bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian ulkus diabetikum (nilai p = 0,082).Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian ulkus diabetikum pada pasien Rumah Sakit Umum Meuraxa, Banda Aceh.Kata kunci: jenis kelamin; ulkus diabetikum Title: The Relationship between Gender and Diabetic Ulcuses at Meuraxa Hospital, Banda AcehBackground: Diabetic Ulcer is a chronic wound that occurs in peripheral areas of the body and is most often found at the bottom of the ankle caused by peripheral neuropathy, peripheral arterial disease or both which increase morbidity, mortality and reduce the quality of life of patients. This study aims to determine the relationship between gender and the incidence of Diabetic Ulcers at the Meuraxa General Hospital in Banda Aceh. Method: This research is a descriptive analytic study with a retrospective approach and uses secondary data from complete medical rehabilitation records of diabetic ulcer patients who came for treatment at the surgical clinic of the Meuraxa General Hospital—as many as 96 people. Data collection was carried out by filling out research sheets based on medical records, and the data were analyzed using the Chi square test. The sampling technique in this study used the total sampling method, namely the sampling technique of taking all members of the population, which is based on inclusion and exclusion selection. Result: Research on the relationship between gender and the incidence of diabetic ulcers based on statistical tests using the chi-square test found no significant relationship between gender and the incidence of diabetic ulcers (p value = 0.082).Conclusion: There is no correlation between gender and the incidence of diabetic ulcers at Meuraxa General Hospital in Banda Aceh.Keywords: gender; diabetic ulcer

Page 1 of 1 | Total Record : 10