cover
Contact Name
sekretariat_jppdas
Contact Email
sekred.jppdas@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bpt.kpdas@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
ISSN : 25795511     EISSN : 25796097     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (JPPDAS) ) is an official publication that publishes scientific papers of research results in the field of watershed management. This Journal was published primarily by Watershe Management Technology Center on April 2017. Journal scopes include are land and vegetation management, soil and water conservation, land rehabilitation, hydrology, social, economic, institutional, remote sensing and Geographic Information Systems (GIS) that support watershed management technologies.
Arjuna Subject : -
Articles 67 Documents
KELEMBAGAAN MITIGASI KEKERINGAN DI KABUPATEN GROBOGAN (Institution of drought mitigation in Grobogan Regency) Faiqotul Falah; Purwanto Purwanto
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Managem
Publisher : Center for Implementation of Standards for Environmental and Forestry Instruments Solo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.029 KB) | DOI: 10.20886/jppdas.2018.2.2.151-172

Abstract

ABSTRACTDrought that occurs almost every year in Grobogan Regency should be anticipated and mitigated by all stakeholders. This paper aims to review the institutional aspects on drought mitigation in Grobogan, as a source to develop a policy on drought mitigation. The data were collected through literature review, structured interviews, and focus group discussion. The data analysis was conducted qualitatively using analysis matrixes of policies’ content, stakeholders’ roles, and institutional capabilities. This study showed that : 1) The government of Grobogan Regency had issued six regulations related to general disaster mitigation and strategy of drinking water supply, but no spesific regulation on drought mitigation issued yet; 2) there is no database on the losses caused by drought and no information about potential water source locations in Grobogan Regency; 3) there are no master plans to anticipate and mitigate drought disasters; and 4) a Disaster Response Forum and Drinking Water & Environmental Health Working Group have been established, but not specifically dealing with drought. The required steps to mitigate drought in Grobogan are: 1) Establishment of Drought Mitigation Forum; 2) Preparation of drought information database including identification of new water sources and water conservation technology; 3) Preparation of Drought Mitigation Master plan; and 4) Drafting and establishing local regulations on water utilization, protection and utilization of springs, and drought mitigation system.Keywords: drought; institution; mitigation; master plan ABSTRAKKekeringan yang terjadi hampir setiap tahun di Grobogan seharusnya dapat diantisipasi dan dikurangi dampak negatifnya secara bersama oleh semua pihak yang terkait. Tulisan ini bertujuan mengkaji kelembagaan mitigasi kekeringan di Kabupaten Grobogan, sebagai bahan penyusunan kebijakan mitigasi kekeringan. Pengumpulan data dilakukan dengan metode studi pustaka, wawancara terstruktur, dan diskusi kelompok terarah. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan bantuan matrik analisis isi kebijakan, matrik peran parapihak, serta matrik analisis kapabilitas lembaga. Hasil kajian menunjukkan bahwa : 1) Pemerintah Kabupaten Grobogan telah mengeluarkan enam peraturan terkait penanggulangan bencana secara umum serta strategi penyediaan air minum, namun belum ada aturan khusus mengenai mitigasi kekeringan; 2) belum ada data kerugian akibat kekeringan yang terjadi setiap tahun, serta data titik-titik potensi sumber air di Kabupaten Grobogan; 3) belum ada rencana induk untuk antisipasi dan mitigasi bencana kekeringan, dan 4) telah dibentuk Forum Tanggap Bencana dan Pokja AMPL (Air Minum Penyehatan Lingkungan), namun tidak secara khusus menangani kekeringan. Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mitigasi kekeringan di Kabupaten Grobogan adalah : 1) Pembentukan Forum Mitigasi Kekeringan; 2) Penyusunan database informasi bencana kekeringan, termasuk identifikasi sumber air dan teknologi konservasi air yang aplikatif; 3) Penyusunan Rencana Induk Mitigasi Kekeringan; dan 4) Penyusunan dan penetapan aturan pemanfaatan air, aturan perlindungan dan pemanfaatan mata air, serta sistem mitigasi kekeringan.Kata kunci: kekeringan; kelembagaan; mitigasi; rencana induk
IDENTIFIKASI BAMBU DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI KEDOME LOMBOK TIMUR DAN ALTERNATIF MANFAAT UNTUK KONSERVASI SEMPADAN SUNGAI (The identification of bamboo at Kedome Sub Watershed East Lombok and its alternatives conservation for the river buffer zones) Mega Mentari; Tri Mulyaningsih; Evy Aryanti
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Managem
Publisher : Center for Implementation of Standards for Environmental and Forestry Instruments Solo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jppdas.2018.2.2.111-122

Abstract

ABSTRACTMost bamboo has a tight sympodial rhizome root system that can be used for conservation of river border. Generally, bamboo in each watershed has a variation, such as in Tiupupus watershed North Lombok District, there were found 4 bamboo genera, 9 species, and 1 variety while in Meniting watershed, West Lombok District, there were found 6 genera of 8 species of bamboo. This study aims to determine species of bamboo and its distribution along buffer zones of the Kedome river in East Lombok District. Sampling method was conducted by exploring the bamboo in the buffer zone as long as 6.000 m, the width of the two paths on both sides of the river was 50 m each. Data were analyzed using description method. The results showed: there were 3 bamboo genera, 5 species and 1 variety e.g. Gigantochloa apus, Gigantochloa atter, Thyrsostachis siamensis, Bambusa maculata, Bambusa vulgaris, and Bambusa vulgaris var. vittata. Species of Gigantochloa atter and Bambusa vulgaris have tight sympodial rhizome roots, rounded and thick canopy. Both types of bamboo are recommended to be used as soil and water conservation plants in the watershed.Keywords: bamboo; Kedome River; Lombok ABSTRAKKebanyakan bambu mempunyai sistem perakaran rhizome simpodial rapat yang dapat digunakan untuk konservasi sempadan sungai. Pada umumnya di setiap Daerah Aliran Sungai (DAS), bambu mempunyai variasi yang berbeda-beda, seperti di DAS Tiupupus Kabupaten Lombok Utara ditemukan 4 marga bambu, 9 jenis, dan 1 varietas, sedangkan di DAS Meniting Kabupaten Lombok Barat ditemukan 6 marga dari 8 jenis bambu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis bambu dan persebaran bambu yang berada di sempadan Sungai Kedome Kabupaten Lombok Timur. Pengambilan sampel menggunakan metode jelajah yaitu dengan menjelajahi sempadan Sungai Kedome sepanjang 6.000 m, lebar kedua jalur di kiri kanan sungai masing-masing 50 m. Data dianalisis menggunakan metode deskripsi. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 3 marga bambu dengan 5 jenis dan 1 varietas, yaitu: Gigantochloa apus, Gigantochloa atter, Thyrsostachis siamensis, Bambusa maculata, Bambusa vulgaris, dan Bambusa vulgaris var. vittata. Jenis Gigantochloa atter dan Bambusa vulgaris mempunyai sistem perakaran rimpang yang sangat rapat, rumpun juga sangat rapat dan bentuk kanopi yang membulat. Kedua jenis bambu ini direkomendasikan untuk dijadikan tumbuhan konservasi tanah dan air di sempadan sungai.Kata kunci: bambu; Sungai Kedome; Lombok
PENGARUH PERSENTASE PENUTUPAN HUTAN TERHADAP DEBIT PUNCAK DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI HUTAN ALAM KABUPATEN TANAH LAUT (The effect of forest coverage percentage on peak discharge in the natural forest sub watershed, Tanah Laut Regency) Esa Bagus Nugrahanto; Rahardyan Nugroho Adi; Agung Budi Supangat; Nunung Puji Nugroho
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Managem
Publisher : Center for Implementation of Standards for Environmental and Forestry Instruments Solo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.286 KB) | DOI: 10.20886/jppdas.2018.2.2.123-136

Abstract

ABSTRACTThe percentage of forest coverage holds an important role in regulating water in watersheds. This paper studies the influence of forest coverage percentage on peak discharge in sub watersheds with various percentage of natural forest areas. The study took place in Bakar, Tanjung, Iwakan, and Langsat Sub Watersheds, Tanah Laut Regency, South Kalimantan Province in 2017. The percentage of natural forest varied from 9,7 to 98% of the the sub watershed areas. This research was conducted by direct measurement of rainfall and stream water levels that were converted into peak discharge. The peak discharges between sub watersheds were compared to the rainfall and the percentage of forest. The results showed that in general the percentage of natural forest coverage affect the peak discharge. The forest coverage showed a positive response in lowering the peak discharge when the rainfall was below 115 mm/day. Bakar and Tanjung Sub Watersheds that had low percentage of natural forest coverage had higher peak discharge than Langsat and Iwakan Sub Watersheds, which had higher percentage of forest coverage. The relationship between the percentages of natural forest coverage with peak discharge marked by the coefficient of determination value of 53.3%. Since the existence of forest is very important as the hydrological controller, forest conservation efforts and reforestation should be conducted in the upper sub watersheds.Keywords: peak discharge; natural forest coverage; rainfall; sub watershedsABSTRAKPersentase penutupan hutan memegang peran penting dalam mengatur tata air Daerah Aliran Sungai (DAS). Hutan dengan fungsi hidrologisnya berpengaruh terhadap debit sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh persentase penutupan hutan terhadap debit puncak di sub DAS hutan alam. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2017 di Sub DAS Bakar, Sub DAS Tanjung, Sub DAS Iwakan, dan Sub DAS Langsat, Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan. Persentase hutan alam bervariasi dari 9,7 sampai 98% dari uas sub DAS. Penelitian dilakukan dengan pengkuran langsung data curah hujan dan tinggi muka air (TMA) yang dikonversi menjadi debit puncak. Data debit puncak antar sub DAS dibandingkan menurut curah hujan dan persentase penutupan hutan alam. Hasil penelitian menunjukkan secara umum persentase penutupan hutan berpengaruh terhadap debit puncak. Penutupan hutan memberikan respon yang positif dalam menurunkan debit puncak ketika curah hujan dibawah 115 mm/hari. Sub DAS Bakar dan Tanjung yang memiliki persentase penutupan hutan alam yang rendah memiliki debit puncak yang lebih tinggi dibandingkan dengan Sub DAS Langsat dan Iwakan yang memiliki persentase penutupan hutan yang tinggi. Pengaruh persentase penutupan hutan alam terhadap debit puncak ditandai oleh koefisien determinasi sebesar 53,3%. Keberadaan hutan sangat penting sebagai pengatur hidrologi sehingga sangat penting untuk dilakukannya upaya konservasi dan penghijauan di hulu sub DAS yang diamati.Kata kunci: debit puncak; penutupan hutan alam; curah hujan; sub DAS
MITIGASI BANJIR STRUKTURAL DAN NON-STRUKTURAL UNTUK DAERAH ALIRAN SUNGAI RONTU DI KOTA BIMA (Structural and non-structural flood mitigation for Rontu Watershed in Bima City) Rizki Kirana Yuniartanti
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Managem
Publisher : Center for Implementation of Standards for Environmental and Forestry Instruments Solo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1010.756 KB) | DOI: 10.20886/jppdas.2018.2.2.137-150

Abstract

ABSTRACTFlood is one of natural disasters that often occur in Indonesia. This disaster also occurred in Bima City on December 21, 2016, December 23, 2016, and January 2, 2017 with the affected area were Mpunda, Rasanae Timur, Asakota, Rasanae Barat, and Raba districts. The urban areas become the most affected areas, mainly in the residential areas that located more than 50 meters from the flood plains. The variations of flood heights ranged from 1-4 meters. In addition to the hydrometeorological factors, the flood in Bima was caused by several factors, such as: loss of riparian areas function which turned into settlements nowadays, siltation in the downstream areas, poor management of urban drainage systems, reduced vegetation cover in upstream, and narrowing of river bodies. With the increasing of hydro-meteorological disaster problems and challenges, recommendations of structural and non-structural infrastructure to reduce the risk of flood disaster are needed. Therefore, this research aims to provide recommendations of structural and non-structural as an effort to mitigate flood disaster in Bima City. Analytical methods used in this research were participatory mapping, flood hazards mapping and modeling, and qualitative description. Results showed that the management of Rontu watershed in controlling flood would be effective and efficient by combining the structural and non-structural development. Mapping and modeling the flood-affected areas can become a source in the riparian planning regulation to reduce the risk of flooding.Keywords: flood; structural; and non structural ABSTRAKBanjir merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia. Bencana ini juga terjadi di Kota Bima pada tanggal 21 Desember 2016, 23 Desember 2016, dan 2 Januari 2017. Wilayah terdampak di Kota Bima adalah kecamatan Mpunda, Rasanae Timur, Asakota, Rasanae Barat, dan Raba. Kawasan perkotaan menjadi kawasan yang paling terdampak, terutama kawasan permukiman yang berjarak >50 meter dari sempadan sungai. Genangan banjir dapat mencapai ketinggian yang bervariasi, yaitu berkisar 1-4 meter. Selain faktor hidrometeorologi, banjir di Bima disebabkan oleh berbagai faktor; diantaranya hilangnya fungsi sempadan sungai yang saat ini banyak berubah menjadi kawasan permukiman, pendangkalan pada bagian hilir sungai, sistem drainase perkotaan yang buruk, berkurangnya tutupan vegetasi pada bagian hulu, serta penyempitan badan sungai. Dengan meningkatnya permasalahan dan tantangan bencana hidrometeorologi tersebut, maka diperlukan rekomendasi struktural dan non struktural untuk mengurangi risiko bencana banjir. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memberikan arahan rekomendasi struktural dan non struktural sebagai upaya mitigasi bencana banjir Kota Bima. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemetaan partisipatif, pemetaan dan pemodelan bahaya banjir, dan juga deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan upaya pengelolaan DAS Rontu untuk pengendalian banjir dapat efektif dan efisien jika mengkolaborasikan antara pembangunan infrastruktur struktural dan pembangunan nonstruktural. Pemetaan kawasan terdampak banjir dan pemodelan banjir dapat menjadi acuan dalam penataan ruang di kawasan sempadan sungai untuk dapat mengurangi risiko banjir.Kata kunci: banjir; struktural; dan non structural
GERMADAN RAWA PENING: TINDAKAN BERSAMA DALAM PENGELOLAAN COMMON POOL RESOURCES (Germadan Rawa Pening: Collective action in managing common pool resources) S. Agung Sri Raharjo; Faiqotul Falah; S. Andy Cahyono
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Managem
Publisher : Center for Implementation of Standards for Environmental and Forestry Instruments Solo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (899.913 KB) | DOI: 10.20886/jppdas.2019.3.1.1-12

Abstract

ABSTRACTGermadan is one form of lake management policy implemented through the establishment of institutions involving many stakeholders. The institutional management of the Rawa Pening Lake is a collective action to the preservation of the Rawa Pening Lake. This study aimed to evaluate the implementation of Germadan in the perspective of the theory of collective action. The research used a qualitative approach. Data collection through in-depth interviews, observation, and literature study. The descriptive analysis was carried out to describe the implementation and to identify the successes and failures of Germadan. Based the analysis, it can be concluded that as a collective action, Germadan has failed. This failure is due to imperfection of participation in planning and implementation of the program, and the lack of enforcement of agreed rules and lack of incentives for both economic and social incentives in their implementation.Keywords: Germadan; Rawa Pening; collective action; stakeholders ABSTRAKGermadan merupakan salah satu bentuk kebijakan pengelolaan danau yang dilaksanakan melalui pembentukan kelembagaan yang melibatkan banyak pemangku kepentingan. Kelembagaan pengelolaan Danau Rawa Pening merupakan tindakan bersama untuk kelestarian Danau Rawa Pening. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelaksanaan Germadan dalam perspektif teori collective action. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi pustaka. Analisis secara deskriptif dilakukan untuk menggambarkan pelaksanaan Germadan dan mengetahui keberhasilan maupun kegagalan collective action dalam Germadan. Berdasarkan analisis dapat disimpulkan bahwa sebagai sebuah tindakan bersama, Germadan telah gagal. Kegagalan ini disebabkan oleh partisipasi dalam penyusunan perencanaan dan pelaksanaan program tidak sempurna, dan tidak adanya upaya penegakan aturan yang telah disepakati serta kurangnya insentif baik insentif ekonomi maupun sosial dalam pelaksanaannya.Kata kunci: Germadan; Rawa Pening; collective action; pemangku kepentingan
DINAMIKA BENTUKAN LAHAN FLUVIAL AKIBAT SEDIMENTASI DI SUNGAI GRINDULU, SEGMEN ARJOSARI-PACITAN (Fluvial landform dynamics caused by sedimentation of Grindulu River, Arjosari-Pacitan Segment) Arina Miardini
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Managem
Publisher : Center for Implementation of Standards for Environmental and Forestry Instruments Solo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1442.593 KB) | DOI: 10.20886/jppdas.2019.3.1.13-26

Abstract

ABSTRACTLandforms experience dynamics during the geomorphological process. The fluvial process occurs due to the flow of water from erosion, erosion transportation, and sedimentation activities. Sedimentation material is resulted from erosion transported through the river. Later the deposited erosion will produce landform variations. Therefore, information of landform dynamic is important in controlling runoff and floods. The purpose of this study was to identify and determine the dynamics of the fluvial landform in Grindulu River, Arjosari-Pacitan Segment. The method used is combination of desk analysis and field surveys. The desk analysis is conducted to identify the types of landforms through visual interpretation of SPOT-7 Imagery, while field surveys are to determine sample units using purposive sampling. Based on landform analysis in the Arjosari-Pacitan Segment, there were five fluvial landforms processes due to sedimentation namely point bar, channel bar, flood plain, meandering, and natural levee. The dynamics that occur are dominated by the aggradation process, namely the addition of flood plain landform area of 0.872 ha (0.216%), channel bar of 0.091 ha (0.019%), and natural levee of 0.014 ha (0.002%). The identification of landforms can be used as a basis in spatial planning to optimize water system in watershed.Keywords: landform; fluvial; sedimentation; Grindulu Watershed ABSTRAKBentuklahan mengalami dinamika selama terjadinya proses geomorfologi. Proses fluvial terjadi akibat aliran air dari aktivitas erosi, transportasi, dan sedimentasi. Material sedimentasi berasal dari hasil erosi yang terangkut melalui sungai yang kemudian diendapkan yang nantinya akan menghasilkan variasi bentuklahan. Dengan demikian informasi mengenai dinamika bentuklahan sangat penting untuk mengendalikan aliran permukaan dan banjir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengetahui dinamika bentuklahan hasil proses fluvial di Sungai Grindulu, Segmen Arjosari-Pacitan. Metode yang digunakan yaitu kombinasi antara desk analysis (dilakukan untuk mengidentifikasi jenis-jenis bentuklahan melalui interpretasi citra SPOT-7) dan survey lapangan (menentukan unit sampel secara purposive sampling). Hasil analisis bentuk lahan pada Segmen Arjosari-Pacitan diperoleh lima bentuklahan proses fluvial akibat sedimentasi yaitu point bar, channel bar, flood plain, meandering, dan natural levee. Dinamika yang terjadi didominasi oleh proses agradasi yaitu penambahan luasan bentuklahan flood plain sebesar 0,872 ha (0,216%), channel bar sebesar 0,091 ha (0,019%), dan natural levee sebesar 0,014 ha (0,002%). Identifikasi bentuklahan ini dapat dijadikan dasar dalam perencanaan tata ruang untuk mengoptimalkan tata air dalam DAS.Kata kunci: bentuklahan; fluvial; sedimentasi; DAS Grindulu
ANALISIS KEKRITISAN LAHAN UNTUK PERENCANAAN REHABILITASI LAHAN DAS SOLO BAGIAN HULU (Analyses of degraded land for rehabilitation planning in upper Solo Watershed) Nining Wahyuningrum; Tyas Mutiara Basuki
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Managem
Publisher : Center for Implementation of Standards for Environmental and Forestry Instruments Solo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (960.121 KB) | DOI: 10.20886/jppdas.2019.3.1.27-44

Abstract

ABSTRACTWater erosion is one of the causes of degraded land and a decrease in land productivity. Improvement of degraded land needs to detect sources of erosion and vulnerability level of the degraded land. The research was conducted to predict the vulnerability of soil erosion and distribution of degraded land in order to support the implementation programme of Land Rehabilitation and Soil Conservation. The research was conducted in upper Solo Watershed. Soil erosion was predicted using Universal Soil Loss Equation (USLE). The analysis of Land Capability Class was undertaken to determine the suitability of current landuse with its capability. Analysis of critical land was based on the regulations of the Directorate General of Watershed Management and Social Forestry (BPDAS-PS) Nomor 4/V-SET/2013. The data used were DEM (Digital Elevation Model) Aster (30 m x 30 m), map of the Regional Physical Planning Program for Transmigration (RePPProT) scale 1: 250,000, map of forest area (1: 50,000) from BPKH (Forest Zone Determination Center), land cover map from BPKH (1: 50,000), Google Earth imagery, rainfall data from 93 rain stations and field surveys. The results show that the upper Solo Watershed is dominated by land categorized as potentially degraded (54%), followed by slightly degraded (35%), while land which is classified as degraded occupied 7% of the total watershed. The dominant land capability is categorized as Vth class and limited by soil erosion (89%). Dry land agriculture areas were found at land capability VIth and VIIth which should not utilized for agricultural activities. Implementation of agroforestry and teracing are alternatives to prevent further land degradation and to improve the current condition.Keywords: degraded; land; planning; watershed; rehabilitation ABSTRAKErosi oleh air merupakan salah satu penyebab terjadinya degradasi dan penurunan produktivitas lahan yang mengakibatkan lahan kritis. Upaya perbaikan lahan-lahan kritis perlu mendeteksi sumber-sumber penyebab erosi dan tingkat kekritisan lahan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat erosi dan distribusi lahan kritis dengan tujuan agar penerapan program Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah dapat tepat sasaran dan lahan berfungsi optimal. Penelitian dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Solo bagian hulu. Besarnya erosi tanah diprediksi dengan Universal Soil Loss Equation (USLE). Analisis KPL (Kemampuan Penggunaan Lahan) dilakukan untuk mengetahui kesesuaian penggunaan lahan dengan kemampuannya. Analisis lahan kritis didasarkan pada peraturan Ditjen Bina Pengelolaan DAS dan Perhutanan Sosial (BPDAS-PS) No.4/VSET/2013. Data yang digunakan berasal dari analisis DEM (Digital Elevation Model) Aster ukuran 30 m x 30 m, peta Regional Physical Planning Program for Transmigration (RePPProT) skala 1: 250.000, peta kawasan hutan skala 1: 50.000 dari BPKH (Balai Penetapan Kawasan Hutan), peta penutupan lahan BPKH skala 1: 50.000, Citra Google Earth, data hujan dari 93 stasiun hujan dan survey lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DAS Solo bagian Hulu didominasi lahan yang potential kritis (54%), diikuti agak kritis (35%), dan yang kritis 7%. Kemampuan Penggunaan Lahan (KPL) yang dominan adalah kelas V dengan pembatas utama erosi (89%). Dijumpai areal tegalan pada lahan dengan KPL VI dan VII yang seharusnya tidak sesuai untuk pertanian. Upaya yang dilakukan untuk tetap mempertahankan areal yang belum kritis dan memperbaiki areal yang sudah kritis adalah penerapan agroforestri dan terasering.Kata kunci: degradasi; lahan; perencanaan; DAS; rehabilitasi
KARAKTERISTIK DAN PERSEPSI PETANI TERHADAP INOVASI TEKNIK SOIL BIOENGINEERING UNTUK MITIGASI LONGSOR DI KABUPATEN BANJARNEGARA JAWA TENGAH (Characteristics and farmers’perception to Soil Bioengineering technique for mitigation of landslide at Banjarnegara Regency, Central Java ) Baharinawati Wilhan Hastanti; Pranatasari Dyah Susanti
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Managem
Publisher : Center for Implementation of Standards for Environmental and Forestry Instruments Solo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (967.356 KB) | DOI: 10.20886/jppdas.2019.3.1.45-58

Abstract

ABSTRACTSoil Bioengineering technique is a soil and water conservation technology innovation for landslide mitigation. The success of technological innovation is influenced by the perception and characteristic of the user community. This study aimed to determine the characteristics of farmers as potential users and their perceptions that were measured based on an assessment of characteristics of technology innovation. This study used a qualitative approach combined with the support of qualitative data quantification. Data collected consist of primary data and secondary data. Primary data include the characteristics of respondents and their perceptions of Soil Bioengineering innovation in the form of assessment variables consisting of certain indicators which are then measured using a Likert scale. The characteristics of farmers prospective users of Soil Bioengineering techniques are: 1) productive age, 2) lack of education (junior high school), 3) narrow land ownership (0.1 to 0.3 hectares), 4) the commodity planted is salak, 5) experience as farming (16 - 20 years) and, 6) medium/ middle income levels (3- 4.9 million rupiah per month). Farmer's perceptions are generally positive to Soil Bioengineering. Positive perception techniques if it was measured based on: 1) relative advantage, 2) compatibility, 3) simplicity, 4) trialability and 5) observability.Keywords: perception; community; innovation; technique; soil bioengineering; mitigation;landslide ABSTRAKTeknik Soil Bioengineering merupakan inovasi teknologi konservasi tanah dan air untuk mitigasi longsor. Keberhasilan inovasi teknologi ini dipengaruhi oleh persepsi dan karakteristik masyarakat pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik petani sebagai calon pengguna dan persepsinya yang diukur berdasarkan penilaian terhadap karakteristik inovasi teknik Soil bioengineering. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang dipadukan dukungan kuantifikasi data kualitatif. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer meliputi karakteristik responden dan persepsinya terhadap inovasi Soil Bioengineering yang berupa variabel-variabel penilaian yang terdiri dari indikator-indikator tertentu yang kemudian diukur dengan menggunakan skala Likert. Karakteristik petani calon pengguna Teknik Soil Bioengineering adalah: 1) berusia produktif, 2) berpendidikan rendah (SMP), 3) luas kepemilikan lahan yang sempit (0,1 sampai 0,29 hektar), 4) komoditi yang ditanam adalah salak, 5) Berpengalaman sebagai bertani (16 – 20 tahun) dan, 6) tingkat pendapatan yang sedang/ menengah (3- 4,9 juta rupiah per bulan). Persepsi petani umumnya positif terhadap teknik Soil Bioengineering. Mempunyai persepsi positif bila diukur berdasarkan: 1) keuntungan relatif, 2) kesesuaian, 3) kesederhanaan, 4) ketercobaan/ dapat dicoba dan 5) keteramatan/ dapat diamati.Kata kunci: persepsi; masyarakat; inovasi; teknik; soil bioengineering; mitigasi; longsor
ANALISIS KELAYAKAN POTENSI EKOWISATA AIR TERJUN RIAM JITO DI KECAMATAN KEMBAYARAN, KABUPATEN SANGGAU, KALIMANTAN BARAT (Feasibility analysis on potential ecotourism of Riam Jito Waterfall in Kembayan District, Sanggau Regency, West Kalimantan) Dian Charity Hidayat; Retno Maryani
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Managem
Publisher : Center for Implementation of Standards for Environmental and Forestry Instruments Solo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.06 KB) | DOI: 10.20886/jppdas.2019.3.1.59-78

Abstract

ABSTRACTRiam Jito, waterfall located in a protected forest area in Mobui village, is well known of its uniqueness and natural tourism object attractiveness. It becomes an opportunity for the surrounding people, particulary for the Harapan Maju farmer group, which already has a certification for community forest utilization permit (IUPHHKm) to utilize environment service and to leverage their welfare eventually. The feasibility study is aimed to analyse the environment potential and recommend strategies to develop conservational and sustainable tourism object. The ODTWA (Objek Daya Tarik Wisata Alam = Nature based Tourism Objects and Attraction) analysis shows that the Riam Jito waterfall and Maria cave deserved to obtain further development as natural and religious tourism object by reaching its potential level up to 74.5%. According to the SWOT (Strength, Weakness, Opportunity and Threat) analysis, some major issues to be followed up are related to facilities and infrastructure development, regulation to minimize the social gap and ecosystem conservation, local government and private partnership sector, and capacity building for Pokdarwis as the tourism object management.Keywords: ecotourism; religious tourism; SWOT analysis ABSTRAKAir terjun Riam Jito yang terletak di kawasan hutan lindung Dusun Mobui memiliki keunikandan daya tarik wisata alam. Hal tersebut merupakan kesempatan bagi masyarakat sekitar, terutama Kelompok Tani Harapan Maju yang telah memiliki ijin Usaha Pemanfaatan Hutan Kemasyarakatan (IUPHKm), untuk meningkatkan kesejahteraan melalui pemanfaatan jasa lingkungan kawasan tersebut. Pemanfaatan potensi wisata di wilayah IUPHKm diperkuat dengan adanya Gua Maria yang lokasinya berdekatan dan berpotensi untuk dikembangkan menjadi wisata religi. Kajian ini bertujuan untuk melihat kelayakan kawasan tersebut dan strategi yang dapat digunakan untuk mengembangkan usaha wisata yang lestari dan berkesinambungan. Berdasarkan hasil analisa dengan menggunakan metode Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA), kawasan air terjun Riam Jito dan Gua Maria layak untuk dijadikan tujuan wisata alam dan wisata religi dengan tingkat kelayakan sebesar 74,5%.  Menurut analisis Strength, Weakness, Opportunity and Threat (SWOT), beberapa hal yang harus dilakukan yaitu membangun sarana dan prasarana, menyusun peraturan tentang pengelolaan agar tidak ada kesenjangan sosial dan ekosistem tetap terjaga, menggalang kerjasama dengan pemerintah daerah dan pihak swasta serta menyelenggarakan pelatihan sumber daya manusia Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) selaku pengelola objek wisata. Selanjutnya, beberapa strategi pengembangan ekowisata juga perlu diterapkan.Kata Kunci: wisata alam; wisata religi; analisis SWOT
MODEL PENGELOLAAN TERBAIK UNTUK KEBERLANJUTAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) PADA SUB DAS CILIWUNG HULU (The Best Management Model For Sustainability Watershed At The Upper Ciliwung Sub Watershed) Mahawan Karuniasa; Haqqi Annazili Daulay; Muchammad Saparis Soedarjanto
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Managem
Publisher : Center for Implementation of Standards for Environmental and Forestry Instruments Solo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (840.274 KB) | DOI: 10.20886/jppdas.2019.3.1.79-88

Abstract

ABSTRACTThe sustainability of the ecosystem functions of the Upper Ciliwung Sub Watershed is disrupted, indicated by the exceeding of the minimum erosion hazard level compared to its tolerable erosion. This condition is caused by imbalance between forest areas compared to other land uses such as dryland agricultural, paddy fields, and settlement of the watershed. The purpose of this study was to determine the best watershed management practices in the Upper Ciliwung Sub Watershed based on the watershed sustainability model. The data for the sustainability model were obtained through the Analytical Hierarchy Process (AHP). The results showed that the area of forest had the highest value among other land cover aspects with a value of 52.8%. In succession, the next priority was the area of paddy fields by 24.4%; the area of dryland agriculture was 17.9% and the settlement area was 4.9%. It can be concluded that efforts were needed to: 1). Increase the area of forests and reduce the area of dryland agriculture; 2). Managing the area of settlements; 3). Increasing the area of paddy fields.Keywords: watersheds, management practices, environmental restoration ABSTRAKKeberlanjutan fungsi ekosistem Sub DAS Ciliwung Hulu terganggu, ditunjukkan oleh nilai tingkat bahaya erosi minimum yang melebihi batas yang dapat ditoleransi. Hal ini karena kawasan hutan memiliki proporsi yang tidak sebanding dengan luas pertanian lahan kering, luas sawah dan luas permukiman di wilayah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan praktik pengelolaan DAS terbaik di Sub DAS Ciliwung Hulu berdasarkan model keberlanjutan DAS. Data yang digunakan untuk keberlanjutan DAS Ciliwung Hulu diperoleh melalui Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas hutan memiliki nilai tertinggi di antara aspek tutupan lahan lainnya dengan nilai 52,8%. Secara berturut-turut, prioritas berikutnya adalah luas sawah sebesar 24,4%; luas pertanian lahan kering dengan nilai 17,9% dan luas permukiman sebesar 4,9%. Dapat disimpulkan bahwa diperlukan upaya untuk: 1). Meningkatkan luas hutan dan mengurangi luas pertanian lahan kering; 2). Mengelola luas permukiman; dan 3). Meningkatkan luas sawah.Kata kunci: Daerah Aliran Sungai, praktik manajemen, restorasi lingkungan