cover
Contact Name
I Wayan Putra Yasa
Contact Email
yanputra666@gmail.com
Phone
+6285238950355
Journal Mail Official
yanputra666@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana No. 11, Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah
ISSN : 25992635     EISSN : 2599140X     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jjps.v8i2
Widya Winayata: Jurnal Jurusan Pendidikan Sejarah is a scientific journal published by the Department of History Education, Faculty of Law and Social Sciences, Universitas Pendidikan Ganesha. This journal aims to accommodate articles of research results and results of community service in education and history learning. In the end, this journal can describe the development of science and technology in the field of historical education for the academic community. This journal is published three times a year.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2013)" : 7 Documents clear
PEWARISAN NILAI – NILAI KEPAHLAWANAN MELALUI PEMENTASAN BARIS JANGKANG DI DESA PAKRAMAN PELILIT, NUSA PENIDA, KLUNGKUNG, BALI Wantiasih, Ayu
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i2.1027

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) sejarah keberadaan Baris Jangkang di Desa Pakraman Pelilit, Nusa Penida, Klungkung, Bali; (2) prosesi pementasan Baris Jangkang dalam kaitannya dengan ritual di Pura Desa di Desa Pakraman tersebut; dan (3) nilai-nilai kepahlawanan yang bisa diwariskan kepada masyarakat di Desa Pakraman setempat lewat pementasan Baris Jangkang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) metode penentuan informan; (2) metode pengumpulan data (observasi, wawancara, dan studi dokumentasi); (3) metode penjaminan keabsahan data; (4) metode analisis data; dan (5) metode penulisan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Baris Jangkang terlahir dari kemenangan yang diperoleh oleh Desa Pelilit melawan Desa Watas dan Desa Tanglad dalam sebuah perang perebutan wilayah kekuasaan yang terjadi di Desa Pelilit. Nama Baris Jangkang sendiri berasal dari kalahnya musuh melawan Desa Pelilit dengan berlari terjengkang-jengkang, sehingga oleh I Jero Kulit diciptakanlah sebuah tarian yang disebut dengan Baris Jangkang karena melibatkan barisan pasukan. Prosesi pementasan Baris Jangkang diawali dengan tabuh oleh sekaa gong. Jro mangku nyakap banten, sedangkan penari merias diri. Sebelum pementasan dimulai, semua penari, penabuh, dan alat musik diberikan tirtha penglukatan untuk menyucikan agar tidak terjadi hal yang tidak diharapkan dilanjutkan dengan melakukan persembahyangan untuk memohon agar Ida Sang Hyang Widhi Wasa merestui dan menghidupkan tarian sehingga memiliki taksu. Pementasan Baris Jangkang berlangsung sekitar 15 menit diiringi dengan pesantian sebagai penetralisir kekuatan jahat yang mengganggu para penari. Nilai-nilai kepahlawanan yang dapat diwariskan kepada masyarakat di Desa Pakraman setempat lewat Baris Jangkang antara lain: (1) nilai keberanian; (2) nilai persatuan; (3) nilai rela berkorban; (4) nilai patriotisme; dan (5) nilai religius. Kata Kunci: sejarah, prosesi, pewarisan nilai kepahlawanan, Baris Jangkang.
“PURA GOA GIRI PUTRI” SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN MULTIKULTUR BAGI WARGA DESA PAKRAMAN SUANA, NUSA PENIDA, KLUNGKUNG, BALI Jaya Wardani, Ayu
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i2.1028

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Sejarah berdirinya Pura Goa Giri Putri; (2) Struktur dan fungsi jajaran pelinggih di Pura Goa Giri Putri; dan (3) Unsur-unsur yang bisa dimaknai sebagai media pendidikan multikultur bagi warga Desa Pakraman Suana dan pengunjung yang datang ke pura ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) Penentuan lokasi penelitian; (2) Metode penentuan informan; (3) Metode pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumentasi dan studi pustaka); (4) Metode penjaminan keabsahan data; (5) Metode analisis data; dan (6) Metode penulisan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pura Goa Giri Putri adalah pura yang berada di Desa Pakraman Suana berdiri pada masa pemerintahan Dalem Bungkut pada tahun Saka 200 yang menganut sistem kepercayaan Majapahit yang sebelumnya sudah turun Dewa Siwa dan Dewi Kwam In di satu goa di Nusa Penida pada tahun Saka 50. Struktur dan fungsi jajaran pelinggih Pura Goa Giri Putri antara lain (1) Strukturnya menggunakan Struktur Areal; (Areal Pertama); (Areal kedua); (areal ke tiga); (Areal keempat); (areal kelima); dan (Areal keenam/terakhir); (2) Fungsi Pelinggih-pelinggih Pura Goa Giri Putri yakni: (1) Pemujaan terhadap dewa-dewi Hindu dalam wujud manefestasinya sebagai bhatara-bhatari; (2) Pemujaan terhadap dewa-dewi non Hindu; (1) Dewi Kwam In; (2) Altar Dewa Langit. Pada Pura Goa Giri Putri terdapat beberapa unsur-unsur yang bisa dimaknai sebagai media pendidikan multikultur antara lain: (1) Pelinggih Dewi Kwam In; (2) Pangayongan Altar Dewa Langit ; (3) Pelinggih Dewi Gangga; (4) Pelinggih Dewa Ganesha; (5) Para pemedek (pengunjung) yang tangkil dari berbagai kalangan dan berbagai kepercayaan; (6) Tata cara persembahyangan/sujud bhakti para pemedek pada areal keenam.
Pura Puru Sada Sebagai Cagar Budaya Dilihat dari Persepetif Sejarah, Struktur dan Fungsinya Sebagai Media Pendidikan Pewarisan Nilai Budaya. Agus Eka Sanjaya, I Pt
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i2.1029

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) sejarah berdirinya Pura Purushada di Desa Kapal, Badung, Bali; (2) struktur Pura Purushada tersebut; dan (3) fungsi dari Pura Purushada sebagai media pendidikan pewarisan nilai budaya. Penelitian ini menggunakan metode kerja sejarah yaitu: (1)Heuristik (pengumpulan bukti/jejak melalui teknik observasi, studi dokumen dan wawancara); (2) Kritik Sumber; (3) Interprestasi; dan (4) Historiagrafi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Pura Purusadha berdasarkan sumber-sumber yang ditemukan dalam penelitian ini menunjukan bahwa pura ini dibangun pada abad ke-12 M dimasa pemerintahan Sri Maharaja Jaya Sakti dan nantinya dilanjutkan oleh Raja Mengwi pertama yang bernama I Gusti Agung Ngurah Made Agung Bima Sakti atau Cokorde Sakti Blambangan, yang berhasil menguasai Buleleng, Blambangan, Jembrana dan Mengwi. Hal ini didukung pula oleh adanya pelinggih yang bernama pelinggih Ratu Made. Sedangkan pemangkunya adalah keturunan dari Ki Gusti Celuk yang bernama Ki Demang Copong. Mengenai struktur pura ini menggunakan Tri Mandala dan pada mandala utama terdapat Prasada yang menjadi cirri khas dari pura ini dan terdapat patung Sri Jaya Nengrat dan Ratu Manik Galih sebagai benda cagar budaya. Fungsi Pura Purusadha sebagai pewarisan nilai budaya dapat disoroti dari fungsi nilai religius magis,nilai dibidang politik dan nilai yang bersifat laten yang cenderung bersifat sosial ekonomis.
CANDI BUDHA KALIBUBUK DI DESA KALIBUKBUK, BULELENG-BALI (SEJARAH PENEMUAN, BENTUK , UKURAN, PROSES PEMUGARAN DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN IPS TERPADU SERTA PENGGUNAANYA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL) Penti Sarjana, Putu
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i2.1025

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Untuk mengetahui proses penemuan, bentuk dan proses pemugaran Situs Budha Kalibubuk (2) Untuk mengetahui strategi belajar dalam pemanfaatan Candi Budha Kalibukbuk sebagai sumber Pembelajaran di SMP Negeri 3 Banjar. (3) Untuk mengetahui aspek-aspek yang berguna dari Candi Budha Kalibukbuk sebagai sumber pembelajaran IPS Terpadu dan kontribusinya dalam perkembangan sejarah Lokal di Bali Utara. Penelitian ini dilaksanakan dengan melakukan pengkajian ke situs Candi Budha Kalibukbuk dan mencari solusi dalam pemecahan yang dihadapi oleh pembelajaran IPS terpadu terkait kurangnya minat siswa disekolah dalam mempelajarinya dengan mengembangkan sumber pembelajaran diluar kelas dengan Candi Budha Kalibukbuk sebagai sasaranya. Dalam pengembangan pembelajaran ini peneliti menggunakan kelas VII-1 pada SMP Negeri 3 Banjar. Selain itu peneliti mencoba mengkaji potensi yang dimiliki oleh Candi Budha Kalibukbuk. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Kualitatif. Adapun langkah-langkahnya yaitu penentuan tempat penelitian, metode penentuan informan, metode pengumpulan data yang terdiri dari teknik observasi, teknik wawancara dan teknik dokumentasi, teknik validitas data, dan metode Analisis data. Penentuan tempat dan informan dipergunakan sebagai acuan obyek penelitian dan sumber informasi yang mendukung penelitian. Data-data di dapatkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang telah terkumpul kemudian divaliditas dan dianalisis dengan langkah-langkah kualitatif. Hasil penelitian ini ialah (1) Candi Budha Kalibukbuk ditemukan pada tahun 1994, candi ini berbentuk stupa yang terdiri dari 2 Candi Perwara dan 1 Candi Induk. Ukuran Candi Induk dengan tinggi 12 meter dan lebar 7 meter dan Candi Perwara berukuran tinggi 5 meter dan lebar 2,7 meter; (2) Strategi yang bisa dipergunakan dalam pemanfaatan Candi Budha Kalibukbuk sebagai sumber pembelajaran diantaranya model kontekstual, pembelajaran diluar kelas, metode karyawisata, inquiri dan diskusi kelompok dan hasilnya metode ini mampu meningkatkan kreatifitas dan pemahaman siswa; (3) Aspek-aspek dari Candi Budha Kalibukbuk yang dapat dikembangkan dari sumber pembelajaran diantaranya aspek bentuk, aspek pewarisan nilai toleransi dan candi ini memiliki nilai yang strategis bagi perkembangan sejarah bagi Bali pada umunya dan Bali utara pada khususnya.
Ritual Kematian Sebagai Media Pendidikan Nonformal Guna Memperkuat Tindakan Sosial Menghormati Leluhur (Studi Kasus Pada Etnis Cina Di Lingkungan Widyasari Kelurahan Kampung Baru, Singaraja , Buleleng Bali) Lilis arysta Dewi, Ni Pt.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i2.1031

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui (1) Sistem keyakinan yang melatar belakangi Etnis China melakukan ritual kematian; (2) penyelenggaraan ritual dari persiapan sampai pemujaan roh leluhur; dan (3) kaitan antara ritual kematian dengan pendidikan nonformal sebagai sarana memperkuat tindakan sosial menghormati leluhur pada etnis China di Lingkungan Widyasari, Singaraja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu : (1) teknik penentuan informan; (2) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, dan studi dokumen); (3) validitas data; (4) teknik analisis data; (5) teknik penulisan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan etnis china melakukan ritual kematian karena ada keyakinan hubungan timbal balik antara yang hidup dan yang mati dapat mempengaruhi kualitas hidup mereka yang masih di dunia. Proses ritual terdiri dari tahap persiapan. Tahap pelaksanaan yang merupakan hari puncak dan jenazah dibawa ke pemakaman. Pasca pelaksanaan, melakukan penghormatan dengan pergi ke kuburan almarhum dan membawa sesaji. Ritual kematian dapat dijadikan media pendidikan yang mengandung nilai-nilai yang berguna bagi kehidupan untuk menambah ilmu tentang kebudayaan yang nantinya bisa diteruskan ke generasi berikutnya secara berkesinambungan melalui pendidikan nonformal, seperti mempekuat tindakan sosial menghormati leluhur.
PURA BEJI SEBAGAI CAGAR BUDAYA DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN DI DESA SANGSIT, SAWAN, BULELENG, BALI Yogi Adi Prawira, I Gede
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i2.1026

Abstract

Tujuan penelitian ini (1) Untuk mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi pura Beji dijadikan Cagar Budaya, (2) Untuk mengetahui aspek-aspek yang terdapat di pura Beji yang memiliki nilai-nilai pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, dengan langkah-langkah yaitu (1) Teknik penentuan informan menggunakan teknik snow ball; (2) Teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumen, observasi, dan wawancara; (3) Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) faktor-faktor yang melatarbelakangi pura Beji dijadikan Cagar Budaya adalah faktor politik yaitu adanya usulan dari tetua desa Sangsit untuk melestarikan pura Beji sebagi Cagar Budaya hal ini dilakukan untuk menghindari klaim masyarakat Sangsit terhadap benda-benda peninggalan sejarah tersebut yang diperkirakan berdiri pada abad XV pada masa pemerintahan Pasek Sakti Batu Lepang, dan faktor budaya yaitu pura Beji memiliki keunikan khas Buleleng yaitu motif ukiran bunga yang bercukilan lebar, dangkal tapi runcing (2) aspek-aspek di pura Beji yang memiliki nilai-nilai pendidikan terdapat pada jajaran palinggih-palinggih yang semuanya itu mengandung fungsi religius, fungsi sosial, fungsi pelestarian budaya, dan dan fungsi pendidikan. Pura Beji juga mengandung nilai-nilai pendidikan seperti pendidikan tatwa, pendidikan ritual, pendidikan etika dan pendidikan estetika. Kata Kunci : Pura Beji, Cagar Budaya, Pendidikan.
“PURA ULUWATU DI DESA PECATU, KECAMATAN KUTA SELATAN, BADUNG, BALI” (Studi Tentang Perkembangan Pura Sebagai Destinasi Pariwisata serta Kontribusinya Bagi Pendidikan Sejarah) Candra Yastari, Ni Luh Putu
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i2.1030

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui (1) sejarah berdirinya Pura Uluwatu di Desa Pecatu; (2) perkembangan Pura Uluwatu, sebagai destinasi pariwisata di Bali; dan (3) kontribusi Pura Uluwatu bagi pendidikan sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) rancangan penelitian; (2) teknik penentuan lokasi penelitian; (3) teknik penentuan informan; (3) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen); (4) validitas data (triangulasi data atau triangulasi sumber data dan triangulasi metode); dan (5) teknik analisis data. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, ada dua sumber mengenai Pura Uluwatu yaitu sumber tertulis dan sumber lisan. Perkembangan Pura Uluwatu sebagai objek wisata di Bali, Kontribusi keberadaan Pura Uluwatu bagi pendidikan sejarah antara lain : (a) Pura Uluwatu menyimpan amanat yang terkandung dalam kisah sejarah yaitu tentang keberadaan Pura Uluwatu itu sendiri, (b) Menumbuhkan kecintaan siswa atau peserta didik terhadap peninggalan sejarah / budaya yang menjadi warisan leluhur Bali, (c) Menumbuhkan kesadaran kesejarahan dan wawasan budaya pada diri siswa untuk ikut serta dalam menjaga dan melestarikan peninggalan purbakala / sejarah yang ada disekitar kita, (d) Kunjungan ke Pura Uluwatu dapat membantu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih gamblang tentang materi-materi pembelajaran di sekolah yang berkaitan materi sejarah lokal. Kata Kunci: sejarah, perkembangan sebagai destinasi pariwisata, kontribusi

Page 1 of 1 | Total Record : 7