cover
Contact Name
Irfan Noor
Contact Email
albanjari@uin-antasari.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
irfannoor@uin-antasari.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman
ISSN : 14129507     EISSN : 25276778     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
AL-BANJARI merupakan Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman yang diterbitkan oleh Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin sebagai media penuangan dan pengkajian karya ilmiah dalam bidang studi Islam. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali dalam setahun (Januari dan Juli)
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 2 (2013)" : 18 Documents clear
TARIKAT SYEIKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI: TELAAH ATAS KITAB KANZ AL-MA'RIFAH Hadi, Abdul
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 2 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.687 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v12i2.449

Abstract

Perkembangan tasawuf di Nusantara menjadi salah satu icon dalam melihat persoalan sufistik. Keragaman pemikiran tasawuf sangat mewarnai pola kehidupan beragama, sedangkan praktek keagamaan yang menjadi refresentasi dari ragam pemikiran beragama menjadi sangat bervariasi dan tidak jarang dihiasi dengan wacana "kontroversial" yang sangat tajam, sehingga terkadang saling mengkafirkan satu dengan lainnya. Dalam konteks institusi keagamaan yang tergolong dalam tarikat juga mempunyai varian yang bermacam-macam, sehingga berbagai kelompok tarikat tersebar di mana-mana dan mempunyai ciri khas masing-masing sesuai dengan wacana keagamaan dan "pengalaman beragama" pengembang tarikat. Dalam beberapa kenyataan ada saja "perbedaan" antara pelaksana tarikat di suatu daerah dengan daerah lainnya meskipun dengan tarikat yang sama. Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari sebagai penulis yang produktif dalam berbagai bidang ilmu-ilmu keislaman, seperti tauhid, fiqh dan tasawuf. Di antara karya beliau adalah kanz al-ma'rifah yang bercorak tasawuf namun dalam beberapa pembahasannya berhubungan dengan praktik keagamaan dan sangat dekat tradisi tarikat, namun tarikat Sammaniyah yang selama ini di dekatkan dengan Arsyad al-Banjari tidak begitu tampak dalam kanz al-ma'rifah namun tarikat Syaziliyah lah yang lebih tampak.
VISI SPIRITUAL MASYARAKAT BANJAR Noor, Irfan
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 2 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.616 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v12i2.443

Abstract

This article aims to explain the influences of sufism on Banjarese culture. The description is regarded important owing to tha fact that first arrival of Islam in this region in 16th century can be not separated from the role of sufism and sufi orders in Islamic intellectual discourses in Indonesia commonly. The existence of Islam, therefore, as etnic identity of this society necessarily was coloured of sufism in its character. This article concludes that the influences of sufism on Banjarese culture were reflected in social attitudes towards traditional ceremonies and social costums based on religious spiritual background.
TARIKAT TIJANIYAH DI KALIMANTAN SELATAN Syafruddin Syafruddin
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 2 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v12i2.448

Abstract

Ajaran tarikat Tijaniyah memiliki karakteristik tersendiri dari tarikat lainnya. Di antara karakteristik itu adalah (a) tarikat ini mengambil format baru sebab, Ahmad at-Tijani tidak mengharuskan pengikutnya menunjukkan sikap ketakwaan yang berlebih-lebihan, dan menekankan pada kebaradaan juru syafaat antara manusia dengan Tuhan, juru syafaat itu Ahmad at-Tijani sendiri serta wiridnya sederhana dan tegas, (b) pengakuan Ahmad at-Tijani mencapai dua kedudukan, yaitu sebagai wali Quthb al-Aqthab dan Khatm al-Waliyah. (c) tarikat ini melarang pengikutnya merangkap keanggotaan dengan tarikat lain, (d) tarikat ini tidak memiliki silsilah, kalaupun ada silsilahnya lebih pendek dari tarikat lain. (e) tarikat ini melarang pengikut merokok karena dianggap najis, dan (f) tarikat ini tampaknya tidak bertentangan dengan syariat Islam.
TASAWUF LOKAL DATU ABDUSSHAMAD BAKUMPAI DI MARABAHAN Ahmad Syadzali
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 2 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v12i2.446

Abstract

Syekh Datu Abdusshamad was a pioneer in spreading mystical Islam in Dayak’s land, especially among Bakumpais, indegenous people. Only by his significant role in this context, could Bakumpais take a part in the islamization procces of Dayaks. Their forgotten role in the history of local Islam must be caused by lackness of research conducted hitherto that mentioned sufficiently Bakumpais role with their distinctive character of religiosity and, even, Syekh Datu’ Abdusshamad’s pioneership in that context
TARIKAT SYEIKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI: TELAAH ATAS KITAB KANZ AL-MA'RIFAH Abdul Hadi
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 2 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v12i2.449

Abstract

Perkembangan tasawuf di Nusantara menjadi salah satu icon dalam melihat persoalan sufistik. Keragaman pemikiran tasawuf sangat mewarnai pola kehidupan beragama, sedangkan praktek keagamaan yang menjadi refresentasi dari ragam pemikiran beragama menjadi sangat bervariasi dan tidak jarang dihiasi dengan wacana "kontroversial" yang sangat tajam, sehingga terkadang saling mengkafirkan satu dengan lainnya. Dalam konteks institusi keagamaan yang tergolong dalam tarikat juga mempunyai varian yang bermacam-macam, sehingga berbagai kelompok tarikat tersebar di mana-mana dan mempunyai ciri khas masing-masing sesuai dengan wacana keagamaan dan "pengalaman beragama" pengembang tarikat. Dalam beberapa kenyataan ada saja "perbedaan" antara pelaksana tarikat di suatu daerah dengan daerah lainnya meskipun dengan tarikat yang sama. Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari sebagai penulis yang produktif dalam berbagai bidang ilmu-ilmu keislaman, seperti tauhid, fiqh dan tasawuf. Di antara karya beliau adalah kanz al-ma'rifah yang bercorak tasawuf namun dalam beberapa pembahasannya berhubungan dengan praktik keagamaan dan sangat dekat tradisi tarikat, namun tarikat Sammaniyah yang selama ini di dekatkan dengan Arsyad al-Banjari tidak begitu tampak dalam kanz al-ma'rifah namun tarikat Syaziliyah lah yang lebih tampak.
VISI SPIRITUAL MASYARAKAT BANJAR Irfan Noor
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 2 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v12i2.443

Abstract

This article aims to explain the influences of sufism on Banjarese culture. The description is regarded important owing to tha fact that first arrival of Islam in this region in 16th century can be not separated from the role of sufism and sufi orders in Islamic intellectual discourses in Indonesia commonly. The existence of Islam, therefore, as etnic identity of this society necessarily was coloured of sufism in its character. This article concludes that the influences of sufism on Banjarese culture were reflected in social attitudes towards traditional ceremonies and social costums based on religious spiritual background.
TAREKAT-TAREKAT DI KALIMANTAN SELATAN ( Alawiyyah, Sammniyyah dan Tijniyyah ) Asmaran Asmaran
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 2 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v12i2.445

Abstract

There is no doubt that islamization of Nusantara can not be separated from significant role of sufism. The term "wals" in Indonesia, for example, refers to preachers or spreaders of Islam in the earlies periods of its history, and with same meaning the "datu" in South Kalimantan, such as Datu Kelampayan (attributed to the prominent Islamic leader, 'lim, Muhammad Arsyad al-Banjr). Based on this historical background, it is not strange that sufi orders developed rapidly in South Kalimantan. According to the scientific researches conducted, in South Kalimantan found Junaidiyyah, Naqsabandiyyah, Naqsabandiyyah-Khalidiyyah, Qadiriyyah-Naqsabandiyyah, Alawiyyah, Sammniyyah, and Tijniyyah. This article is discussion on the three latter orders; some of them took root in ulama's networks in middle east, but the others in Java
TARIKAT SUFIYAH ISLAM DALAM PEMIKIRAN TASAWUF H. ABDUL MUIN HIDAYATULLAH Murjani Sani
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 2 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v12i2.447

Abstract

Karya ilmiah ini hanya mendeskripsikan keberadaan (asal-usul, perkembangan, mursyid, silsilah, pengikut, suluk, wirid dan praktiknya) Tarikat Sufiyah Islam (TSI) dalam pemikiran tasawuf H. Abdul Muin Hidayatullah. Hasilnya menunjukkan bahwa TSI ini dibangun oleh H. Abdul Muin sejak tahun 1955 setelah ia (menurut pengakuannya) dibawa ke alam rohani (liqa barzakhi) bertemu dengan Rasulullah, nabi Adam dan nabi Musa serta 40 orang pimpinan negara Islam. Ketika itu (menurutnya), ia dibaiat sebagai Mursyid Zahir tarikat ini, sementara Mursyid Batinnya adalah Rasulullah. Mulai saat itulah tarikat ini dikembangkannya hingga ia meninggal dunia (1995) dalam usia 87 tahun. Mursyid penggantinya adalah anaknya sendiri, K.H. Abdullah al-Mahdi dan mengembangkannya hingga sekarang.TSI ini merupakan tarikat baru dalam sejarah ketarikatan, karena tidak termasuk dalam deretan tarikat yang ada di dunia Islam. Unsur ketarikatan terpenuhi dalam tarikat ini, seperti adanya mursyid, anggota/murid, suluk/khalwat, amaliah (wirid) dan praktiknya. Kecuali itu sebagaimana dikemukakan di atas, silsilah mursyidnya yang tidak bersambung karena H. Abdul Muin selaku pimpinannya mengaku bertemu langsung dengan Rasulullah dan mendapatkan ajaran/amaliah (wirid) TSI daripadanya. Padahal dalam tataran teori sufistik disebutkan bahwa silsilah mursyid haruslah bersambung (muttasil), sehingga tidak diragukan lagi ke muktabarahannya. Konsekuensi logis dari ketidak-bersambungan silsilah mursyid ini menjadi lahan adanya pro-kontra terhadapnya, sebagaimana halnya tarikat al-Tijaniyah. Meski pun demikian, ternyata Tarikat Sufiyah Islam ini berkembang cukup pesat, sekarang anggotanya mencapai 7.000 orang, ada yang berstatus pendengar, pelajar, pengikut dan pendukung. Mereka tersebar di Kalimantan Selatan terutama di Banjarmasin, Tabunganen dan di Kabupaten Tabalong, dan aktif melaksanakan ajaran/amaliah (wirid) yang ditentukan. Karena itu keberadaannya cukup berarti (berdampak positif) bagi pembinaan keimanan dan ketakwaan anggotanya, meski pun hal ini masih perlu dilakukan penelitian.

Page 2 of 2 | Total Record : 18