cover
Contact Name
Irfan Noor
Contact Email
albanjari@uin-antasari.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
irfannoor@uin-antasari.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman
ISSN : 14129507     EISSN : 25276778     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
AL-BANJARI merupakan Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman yang diterbitkan oleh Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin sebagai media penuangan dan pengkajian karya ilmiah dalam bidang studi Islam. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali dalam setahun (Januari dan Juli)
Arjuna Subject : -
Articles 23 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 1 (2018)" : 23 Documents clear
MODEL EVALUASI PENDIDIKAN BERBASIS PROSES MENURUT HADITS Nurul Zainab
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v17i1.1465

Abstract

Hadith is the second source of knowledge for Muslims after the Qur'an. The proclamation of a hadith needs to be extracted, to provide power for the development of science because it really comes from the words, actions and taqrir of Prophet Muhammad SAW. In the context of education, there are many hadiths that can serve as the basis of developing the subject of educational evaluation. Based on the study of hadith contained in this article, it is found a hadith history at-Tirmidhi which explains the virtue of honesty and get away from the nature of lies. In addition to the results of research, sanad and matan hadith,  this hadith is sahih because the aspect of the content of the hadith does not conflict with the Qur'an and other sahih hadiths. In this article it is also found the meaning of hadith and its implications for the development of educational evaluation that can provide treasures for educators in carrying out the assessment process in learning.Hadis merupakan sumber pengetahuan kedua bagi umat muslim setelah al-Qur’an, kehujjahan sebuah hadis perlu digali sehingga memberikan kekuatan bagi pengembangan ilmu pengetahuan karena memang benar-benar berasal dari ucapan, tindakan maupun taqrir Nabi Muhammad SAW. Dalam konteks pendidikan khususnya evaluasi banyak hadis yang dijadikan sumber landasan pengembangan evaluasi. Berdasarkan penelitian hadis yang ada di dalam artikel ini, didapati sebuah hadis riwayat at-Tirmidzi yang menjelaskan keutamaan kejujuran dan menjauhi sifat kebohongan. Hadits ini bernilai shohih karena secara jalur sanad tidak ada yang terputus dan dari aspek isi hadits tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan hadits-hadits shohih lainnya. Selain hasil penelitian sanad dan matan hadits. Di dalam artikel ini juga didapati makna hadis serta implikasinya terhadap pengembangan evaluasi pendidikan yang dapat memberikan khazanah bagi pendidik dalam melaksanakan proses penilaian dalam pembelajaran.
HUKUM PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL BAGI WANITA DALAM MASA ‘IDDAH DAN IHDÂD (PERSPEKTIF QIYÂS) Affan Hatim
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v17i1.1567

Abstract

This literature study was conducted by reviewing library materials to find out how Islamic law’s perspective on the issue of social media used by women to upload photos featuring beauty in the 'iddah and ihdâd periods.  The result of this study showed that the use of social media in the form of uploading photos showing beauty in the period of 'iddah and ihdâd is prohibited and not justified by Islamic law. This law of prohibition is based on the qiyâs argument against the prohibition of going out from the house and wearing make up for women in the period of 'iddah and ihdâd. This is because there are similarities' illah, that is the ethics and politeness of the wife by showing grief and mourning over the death of the husband. The qiyâs form of this problem is qiyas al-sabr, jaly and aulawy. Dalam penelitian yang bersifat penelitian normatif atau penelitian kepustakaan ini, dilakukan penelitian dengan meninjau bahan pustaka untuk mengetahui bagaimana menurut hukum Islam tentang masalah penggunaan media sosial oleh wanita dalam 'iddah dan ihdâd dalam bentuk mengunggah foto yang menampilkan kecantikan, dengan melakukan qiyâs ke aktivitas unggah, hingga larangan keluar dari rumah dan berdandan. Hasil dari penelitian hukum ini adalah bahwa penggunaan media sosial dalam bentuk pengunggahan foto yang menunjukkan kecantikan oleh perempuan dalam masa 'iddah dan ihdd dilarang dan tidak dibenarkan dalam hukum Islam. Hukum larangan ini didasarkan pada argumentasi qiyas terhadap larangan keluar dan make up untuk wanita dalam masa 'iddah dan ihdâd karena ada persamaan' illah, yaitu etika dan kesopanan sang istri dengan menunjukkan kesedihan dan berkabung atas kematian sang suami. Bentuk qiyâs dari masalah ini adalah qiyas al-sabr, jaly dan aulawy.
PARALLEL FRAMEWORK OF MUḤAMMAD AND MOSES'S STORY: AN ANALYSIS OF THE NARRATIVES OF ḤALĪMAH AL-SAʿDIYYAH Ahmad Sanusi Azmi
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v17i1.1922

Abstract

Kajian modern tentang asal-usul sīrah Nabawiyah telah menelusuri dan menemukan keberadaan pengaruh kitab suci sebelumnya dan unsur-unsurnya dalam narasi sīrah. Kisah tentang Halimah, sang ibu susuan, menurut Raven, menunjukkan kejadian paralel dengan kematangan Yesus ketika bayi, dalam Injil. Selain itu, para sarjana Muslim seperti Ibn Hisham ditemukan konsisten dalam membuat perbandingan paralel antara Muhammad dan Musa dalam karyanya. Tulisan ini memfokuskan pada kehidupan awal yang terfokus pada periode Ḥalīmah al-Sa'diyyah dengan menganalisis penggunaan referensi Al-Quran dalam narasi. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode pendekatan kritis dan analisis tekstual untuk membaca cerita. Kajian ini menemukan proposisi bahwa ada dua kemungkinan alasan yang mengarahkan Ibn Hisham menambahkan ayat 28:12 dari Al-Qur'an sebagai referensi atas catatan waktu Muhammad sebagai bayi yang menyusu. Isu pertama ketidakjelasan digital dalam narasi Ibn Isāq. Dan yang kedua adalah memberikan kepercayaan kepada kisah kedua nabi, Muhammad dan Musa.Modern studies of the origin of sīrah nabawiyyah have traced and suggested the existence of influence of previous scriptures and their elements within the sīrah narrative. The extraordinary speed and marks of physical maturity in Prophet Muḥammad’s wet-nurse period with Halimah, which, according to Raven, indicates a parallel occurrence with Jesus' precocity in the Gospels of the Infancy. Besides, Muslim scholars such as Ibn Hishām was found to consistently make parallel comparison between Muḥammad and Moses in his work. This study aims to explore the narratives of Prophet Muḥammad’s early life, with special focus to his period with Ḥalīmah al-Sa’diyyah and analyse the use of Quranic reference in the narrative. The study is qualitative in nature in which the researcher employed critical and textual analysis to examine the story. The present study in its finding proposes that there are two possible reasons which lead Ibn Hishām to adduce verse 28:12 of the Quran as his reference to the account of Muḥammad’s time as a suckling infant. The first is to elucidate lexical obscurity in the narration of Ibn Isḥāq. And the second is to give credence to the similarity between the accounts of two prophets, Muḥammad and Moses.

Page 3 of 3 | Total Record : 23