cover
Contact Name
Irfan Noor
Contact Email
albanjari@uin-antasari.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
irfannoor@uin-antasari.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman
ISSN : 14129507     EISSN : 25276778     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
AL-BANJARI merupakan Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman yang diterbitkan oleh Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin sebagai media penuangan dan pengkajian karya ilmiah dalam bidang studi Islam. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali dalam setahun (Januari dan Juli)
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 1 (2019)" : 14 Documents clear
PERSEPSI DAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP WISATA SYARIAH (HALAL TOURISM) DI PULAU SANTEN KABUPATEN BANYUWANGI Achmad Fawaid; Juzrotul Khotimah
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v18i1.2532

Abstract

Sharia / halal tourism tourism is a trend and golden opportunity for the region. Banyuwangi as one of the regions that has natural resources such as coastal, sea, and small islands trying to develop the tourism sector located in Santen Island, Karangrejo Banyuwangi Village with sharia tourism forms. The aim of the research is to find out how the perceptions and attitudes of the community towards the existence of sharia tourism (halal tourism) in Banyuwangi Regency. The research methods used in this study are interviews, documentation and observation. While the analysis is interactive models consisting of several components such as: data reduction, presentation data, drawing and testing data. The finding of this study is the application of the concept of Islamic tourism on Santen Island are still not optimal. The community has a positive perception with a value of 75%, a positive attitude with an 80% value and positive participation with a value of 85% of visitors, the results of the Islamic travel concept of 70% of visitors who consider the location clean and 30% of visitors consider the location unclean, visitors say facilities which is quite adequate on Santen Island with a value of 65% of visitors assuming that the separation of men and women has not been carried out in accordance with the concept of Islamic tourism. While the economic impact has experienced an increase in the local economy and reduced unemployment for the people on the island of Santen. Wisata syariah/halal tourism menjadi tren dan golden opportunity bagi daerah. Banyuwangi sebagai salah satu daerah yang memiliki sumber daya alam seperti: pesisir, laut, dan pulau kecil mencoba untuk mengembangkan sektor pariwisata yang berada Pulau Santen Kelurahan Karangrejo Banyuwangi dengan bentuk wisata syariah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana  persepsi dan sikap masyarakat terhadap adanya  wisata syariah (halal tourism) di Kabupaten Banyuwangi. Beberapa metode penelitian yang digunakan  diantaranya  adalah wawancara, dokumentasi dan observasi. Sedangkan analisis yang dapat digunakan diantaranya adalah  model interaktif yang terdiri dari beberapa  komponen seperti: reduksi data, data presentasi, menggambar dan menguji data. Temuan dalam penelitian ini termasuk penerapan konsep pariwisata Islam di Pulau Santen masih belum optimal. Masyarakat memiliki persepsi positif dengan nilai 75%, sikap positif dengan nilai 80%  dan partisipasi positif dengan nilai 85%  dari pengunjung, hasil  konsep perjalanan syariah sebesar 70% dari pengunjung yang menganggap lokasi bersih dan 30% pengunjung menganggap lokasi tidak bersih, pengunjung mengatakan fasilitas yang ada cukup memadai di Pulau Santen dengan nilai 65% para pengunjung menganggap bahwa pemisahan laki-laki dan perempuan belum terlaksana sesuai dengan konsep pariwisata islami, sedangkan dari dampak ekonomi telah mengalami peningkatan ekonomi lokal dan mengurangi pengangguran bagi masyarakat di Pulau Santen.
AKSESIBILITAS PENDIDIKAN BAGI KAUM DISABILITAS PADA MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI (MIN) DI KOTA BANJARMASIN Syarifah Salmah; Tamjidnoor Tamjidnoor
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v18i1.2995

Abstract

The government guarantees the equal and same rights to access education. But the problem is, is it true that education can be accessed by all levels of society without exception, including those with disabilities? We must look at the issue of education for individuals with special needs through its implementation or in other words whether schools really have accepted disabled people to enjoy regular education like other children. This study aims to find out how schools within the Ministry of Religion, especially at the level of State Islamic Elementary School (MIN), as an institution that is authorized to implement the government policies that provide easy and equitable access to education. This research is a survey research conducted on 5 state Islamic elementary schools with research time starting from July 2018 to December 2018. The target population is all MIN, and all of them will be observed in depth. From the results of the study we can conclude that all of the State Islamic Elementary School (MIN) in Banjarmasin are not responsive to disability. This is indicated by the absence of supporting facilities for this matter and there are no disability students who attend all these MIN. Then the socialization of the related legal basis is indeed unknown to the school as an executor who directly serves the community. Pemerintah menjamin hak yang sama untuk mengakses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Tetapi yang menjadi permasalahan adalah, apakah benar pendidikan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali termasuk bagi kaum disabilitas. Isu pendidikan bagi individu berkebutuhan khusus ini harus kita lihat melalui dilihat dari implementasinya atau dengan kata lain apakah sekolah benar-benar telah menerima kaum disabilitas untuk menikmati pendidikan regular seperti anak-anak lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sekolah yang berada di lingkungan Kementrian Agama khususnya pada tingkat Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) sebagai pelaksana kebijakan pemerintah, melakukan upaya akses pendidikan yang adil dan merata. Penelitian ini menrupakan penelitian survey serta dilaksanakan pada seluruh MIN di Kota Banjarmasin yang berjumlah 5 MIN dengan waktu penelitian mulai dari tanggal Juli 2018 sampai dengan Desember 2018. Populasi target adalah seluruh MIN yang berjumlah 5 dan semuanya akan di observasi secara mendalam. Dari hasil penelitian dapat kami simpulkan bahwa seluruh Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) di Kota Banjarmasin dapat kami katakan tidak layak disabilitas. Hal ini ditandai dengan tidak adanya fasilitas pendukung hal tersebut dan tidak ada pula siswa disabilitas yang bersekolah di semua MIN tersebut. Kemudian sosialisasi dasar hukum terkait memang tidak diketahui oleh pihak sekolah sebagai pelaksana yang langsung melayani masyarakat.
AGRESI KULTUR DIGITAL DAN KONSUMERISME PADA IDENTITAS URANG BANJAR DI ERA PASCAMODERN Supriansyah Supriansyah
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v18i1.2544

Abstract

This article examines the identity of the Banjar people who have been trapped in issues of ethnicity, religion and culture. The social construction of the identity of contemporary or urban Banjar people is still not touched by many researchers. Known as a religious and obedient society, the urban Banjar people cannot avoid contact with the clash of differences, where the presence of the internet makes it easy to clash or friction with various things. Living in the postmodern era, the Banjar community met with digital culture and consumerism. Both are very susceptible to coloring Islam, which is also happened in forming the identity of the Banjar people itself. Two important questions in this article, namely what do the Banjar people face in the postmodern era? And what is the effect on the construction of the identity of the Banjar people? In fact, the spirituality of the Banjar community which is touched by digital culture and consumerism is transformed by infecting the secular side and the melting of traditionalism in Banjar's public life. The culture of Ahlussunnah wal jamaah of the Banjar community is no longer rigid but mingles with several different ideologies or ideologies. The Islamic identity of the Banjar people is no longer dominated by the ideology of Aswaja. At the same time, political conditions play an active role, so there is silence on the worship side because it is intertwined with consumerism, digital culture and the strengthening of the flow of Islamic populism in society. Artikel ini mengulik identitas masyarakat Banjar yang selama ini masih terjebak dalam persoalan etnisitas, keberagamaan dan kebudayaan. Konstruksi sosial atas identitas urang Banjar kontemporer atau urban masih belum banyak disentuh oleh banyak peneliti. Dikenal sebagai masyarakat yang religious dan taat beribadah, urang Banjar urban tidak bisa mengelak bersentuhan dengan benturan berbagai perbedaan, di mana dengan kehadiran internet memudahkan terjadi benturan atau gesekan dengan berbagai hal. Hidup di era pascamodern, masyarakat Banjar berjumpa dengan kultur digital dan budaya konsumerisme. Dua kultur yang sangat rentan mewarnai keberislaman, yang mana juga sebagai identitas urang Banjar itu sendiri. Dua pertanyaan penting dalam artikel ini, yaitu apa saja yang dihadapi dalam kehidupan masyarakat Banjar di era pascamodern? Dan apa pengaruhnya terhadap konstruksi identitas urang Banjar? Spritualitas masyarakat Banjar yang dijamah kultur digital dan konsumerisme bertransformasi dengan menjangkiti sisi sekuler dan mencairnya tradisionalisme di kehidupan publik Banjar. Kultur Ahlussunnah wal Jamaah masyarakat Banjar tidak lagi rigid dan berbaur cair dengan beberapa paham atau ideologi yang berbeda. Identitas Keberislaman urang Banjar tidak lagi didominasi dibatasi ideologi Aswaja. Di saat yang sama kondisi politik turut memainkan peran aktif, sehingga terjadi pendangkalan pada sisi peribadatan karena berkelindan dengan konsumerisme, kultur digital dan menguatnya arus populisme Islam di masyarakat.
KITAB JAWI SEBAGAI KARYA KEARIFAN TEMPATAN MELAYU : ANALISIS SEJARAH INTELEKTUAL Rahimin Affandi Abd. Rahim; Awang Azman bin Awang Pawi; Ahmad Farid Abd Jalal; Mohd Puaad Bin Abdul Malik
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v18i1.2528

Abstract

This article examines the treasures of the Arabic Malay books (Kitab Jawi) which have a wealth of Malay local wisdom. There are three important aspects of the contents of the Malay books discussed in this article, namely: (1) uruf and Malay local wisdom; (2) the principle of Malay local wisdom formula and (3) proof of Kitab Jawi as Malay local wisdom that can be promoted at this time. The results of this study confirm several things. First, the awareness of the world community about local wisdom belonging to the community of the non-European may be filled by expressing the concept of local wisdom based on Islamic knowledge. Secondly, the constructs and formulas of Malay local wisdom are indeed rather unique because they are the result of the sentiment between Islam and Malay thought. Third, Kitab Jawi is indeed the most important product of local Malay Islamic wisdom. This can be seen in terms of the formation of Jawi writings and the constructs of science that were awakened by previous Malay scholars. Artikel ini mengkaji khazanah kitab-kitab Arab Melayu (Kitab Jawi) yang memiliki kekayaan akan kearifan lokal Melayu. Ada tiga aspek penting kandungan kitab-kitan Melayu yang dibahas dalam artikel ini, yaitu :  (1) uruf dan kearifan lokal Melayu; (2) asas formula kearifan lokal Melayu dan (3) pembuktian kitab jawi sebagai kearifan lokal Melayu yang bisa dipromisikan di masa ini. Hasil kajian ini menegaskan beberapa hal. Pertama, kesadaran masyarakat dunia tentang kearifan lokal milik masyarakat peribumi bukan Eropa boleh diisi dengan mengemukakan konsep kearifan lokal berasaskan ilmu melayu Islam. Kedua, konstruk dan formula kearifan lokal Melayu memang agak unik kerana merupakan hasil sentesis antara Islam dengan pemikiran Melayu. Ketiga, kitab jawi memang merupakan produk kearifan lokal Melayu Islam yang terpenting. Ini dapat dilihat dari segi pembentukan tulisan jawi dan konstruk ilmu yang dibangunkan oleh ulama melayu masa silam.

Page 2 of 2 | Total Record : 14