cover
Contact Name
Dani Saepuloh
Contact Email
danie_saepuloh@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
danie_saepuloh@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Segara
ISSN : 19070659     EISSN : 24611166     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal SEGARA (p-ISSN: 1907-0659, e-ISSN: 2461-1166) adalah Jurnal yang diasuh oleh Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan – KKP, dengan nomenklatur baru Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, KKP dengan tujuan menyebarluaskan informasi tentang perkembangan ilmiah bidang kelautan di Indonesia, seperti: oseanografi, akustik dan instrumentasi, inderaja,kewilayahan sumberdaya nonhayati, energi, arkeologi bawah air dan lingkungan.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 1 (2020): April" : 6 Documents clear
Distribusi dan Kajian Dampak Radionuklida 137Cs di Pesisir Barat Pulau Sumatera Murdahayu Makmur; Wahyu Retno Prihatiningsih; Mohamad Nur Yahya
Jurnal Segara Vol 16, No 1 (2020): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.811 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i1.7694

Abstract

Penelitan mengenai distribusi radionuklida 137Cs pada sedimen dan air laut permukaan  dan kajian dampaknya terhadap biota telah dilakukan di perairan laut di sepanjang pesisir barat Pulau Sumatera, pada 2015. Sampel sedimen diambil menggunakan sedimen grab, dikeringkan, dihaluskan dan dihomogenkan. Sampel air laut permukaan sebanyak 80 liter diprekonsentrasi dan endapannya dikeringkan. Pengukuran dilakukan menggunakan spektrometri gamma baik untuk sedimen dan air laut. Hasil pengukuran aktivitas 137Cs pada sedimen berkisar dari 0,013 Bq/Kg sampai dengan 0,589 Bq/Kg dengan rerata 0,233 Bq/Kg (n=18) dan pada air laut permukaan dari 0,042 Bq/m3 sampai dengan 0,205 Bq/m3 dengan rerata sebesar 0,123 Bq/m3 (n=7). Aktivitas 137Cs pada sedimen dan air laut yang terukur sepanjang pesisir barat Pulau Sumatera mempunyai rentang konsentrasi aktivitas yang hampir sama dengan hasil penelitian yang dilakukan lokasi lainnya di Samudera India. Menggunakan program Erica Tool Tier 2, diketahui bahwa tidak ada dampak 137Cs terhadap biota pada lokasi penelitian, karena nilai rasio total dosis yang diterima oleh biota tersebut lebih kecil dari 1 dibandingkan dengan screening level Tier 2 sebesar 10 μGy/h.
Dampak Tsunami Selat Sunda di Provinsi Banten dan Upaya Mitigasinya Tubagus Solihuddin; Hadiwijaya Lesmana Salim; Semeidi Husrin; August Daulat; Dini Purbani
Jurnal Segara Vol 16, No 1 (2020): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1602.788 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i1.8611

Abstract

Bencana tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 datang secara tiba-tiba tanpa ada peringatan dini dari pihak berwenang; merenggut nyawa lebih dari 430 orang dan menimbulkan kerusakan infrastruktur di wilayah pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penilaian cepat terkait dampak kerusakan dan mencoba melakukan analisis sumber tsunami serta memberikan rekomendasi terkait upaya pengurangan dampak risiko bencana tsunami di masa mendatang. Metode yang digunakan terdiri dari analisis citra satelit, observasi fisik lapangan, dan wawancara. Wilayah pesisir barat Kabupaten Pandeglang merupakan daerah yang terkena dampak tsunami paling parah, khususnya di Kecamatan Sumur, Panimbang, dan Labuan. Ketinggian gelombang tsunami di daerah tersebut mencapai 1-6 m dengan jangkauan genangan mencapai 200 m dari garis pantai. Sumber tsunami dari runtuhan material tebing  G. Anak Krakatau akibat meningkatnya aktivitas vulkanik dan membangkitkan gelombang tsunami di sekitar Selat Sunda. Tingkat kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana dinilai masih rendah, oleh karena itu upaya mitigasi yang sangat direkomendasikan adalah adaptasi melalui peningkatan kewaspadaan dan pemahaman masyarakat terhadap bencana, juga penataan dan pengelolaan wilayah pesisir yang berwawasan bencana. Upaya tersebut dapat dikombinasikan dengan peningkatan kapasitas peringatan dini tsunami, pemetaan secara detil daerah rawan bencana, pengembangan desain rumah ramah tsunami.
Struktur Komunitas Terumbu Karang di Perairan Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur Niken Financia Gusmawati; Candra Dwi Puspita; Herlina Ika Ratnawati
Jurnal Segara Vol 16, No 1 (2020): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.947 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i1.8649

Abstract

Coral reefs are ecosystems with high productivity while being very vulnerable to environmental changes. The oil spill incident in Balikpapan Bay in 2018 still caused damage to the coral reef ecosystem in Tanjung Jumlai, Penajam Paser Utara Regency, East Kalimantan due to the use of dispersants in handling oil spills. Research on the condition of coral reefs is carried out to ensure the sustainability of the benefits of ecosystem products and services provided by coral reef ecosystems to communities around Balikpapan Bay. Coral reef research has been carried out at three transect station locations in the Tanjung Jumlai reef area. This research is aimed to determine the distribution, abundance, and structure of coral reef ecosystems in these waters. The study was conducted in October 2019. Data collection was carried out using the Point Intercept Transect (PIT) method. The results showed that the average percentage of coral cover was 55.7% with a good coral cover category. Substrate covering the bottom of the coral reef ecosystem is dominated by Acropora Tubulate and Acropora Branching from the biotic component, and Dead Coral with Algae and Rubble from the abiotic component. Diversity index value (H') in the waters is categorized as low species richness. This research has been identified only 10 genera in the study area where 9 genera are hard coral species. Similarity Index value (E) included in the medium category and dominance index value (D) belong to the medium category which means that there are no species that are very dominant in the observation area. Water quality at station 1 representing all observation stations shows results that the study area are still appropriate for marine biota according to Minister of Environment Decree 51/2004, except for nitrate content. Sediments also show no trace of hydrocarbons.Coral reefs are ecosystems with high productivity while being very vulnerable to environmental changes. The oil spill incident in Balikpapan Bay in 2018 still caused damage to the coral reef ecosystem in Tanjung Jumlai, Penajam Paser Utara Regency, East Kalimantan due to the use of dispersants in handling oil spills. Research on the condition of coral reefs is carried out to ensure the sustainability of the benefits of ecosystem products and services provided by coral reef ecosystems to communities around Balikpapan Bay. Coral reef research has been carried out at three transect station locations in the Tanjung Jumlai reef area. This research is aimed to determine the distribution, abundance, and structure of coral reef ecosystems in these waters. The study was conducted in October 2019. Data collection was carried out using the Point Intercept Transect (PIT) method. The results showed that the average percentage of coral cover was 55.7% with a good coral cover category. Substrate covering the bottom of the coral reef ecosystem is dominated by Acropora Tubulate and Acropora Branching from the biotic component, and Dead Coral with Algae and Rubble from the abiotic component. Diversity index value (H') in the waters is categorized as low species richness. This research has been identified only 10 genera in the study area where 9 genera are hard coral species. Similarity Index value (E) included in the medium category and dominance index value (D) belong to the medium category which means that there are no species that are very dominant in the observation area. Water quality at station 1 representing all observation stations shows results that the study area are still appropriate for marine biota according to Minister of Environment Decree 51/2004, except for nitrate content. Sediments also show no trace of hydrocarbons.
Perubahan Spasial dan Temporal Luas Wilayah untuk Pengembangan Wisata Bahari di Bagaian Barat Pulau Gili Ketapang Probolinggo Jawa Timur Dino Gunawan Pryambodo; Muhamad Hasanudun; Edi kusmanto; Nasir Sudirman
Jurnal Segara Vol 16, No 1 (2020): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2632.137 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i1.8648

Abstract

Pulau Gili Ketapang yang berpenduduk padat, dengan kepadatan mencapai 12.356 jiwa/ km2 dan mempunyai luasan sebesar 68 hektar atau 0,68 km2 termasuk katagori pulau kecil. Dengan adanya Perda Kab. Probolinggo no15 th.2001 menjadika Pulau Gili Ketapang menjadi salah satu destinasi wisata bahari di Kab.Probolinggo, pesona pasir putih di barat wilayah dari Pulau Gili Ketapang yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Perubahan luasan wilayah hamparan pasir putih tersebut akan mengurangi wilayah hamparan pasir putih tersebut karena kehilangan hamparan pasir tersebut akan mengurangi keragaman destinasi wisata. Metoda penelitian menggunakan google earth image digunakan sebagai sumber masukan utama untuk membuat peta perubahan wilayah selain penelitian lapangan yang berupa pengukuran garis pantai, batimetri dan pola arus di wilayah perairan Gili Ketapang. Dari data citra Satelit dari tahun 2004 sampai tahun 2018 terjadi penyusutan luas wilayah untuk pasir putih di Barat Pulau Gili Ketapang sebesar 0.288 Ha. Batimetri Perairan Gili Ketapang secara umum memiliki kedalaman terukur antara 0-34 meter, Daerah terdalam terdapat disebelah utara Pulau Gili Ketapang dengan jarak sekitar 1.700 m. Sebelah Barat dari Pulau Gili Ketapang memiliki dasar laut yang agak dangkal kurang dari 20 m sehingga sangat cocok untuk dikembangkan menjadi daerah wisata bahari.
Penentuan Daya Dukung Lingkungan dan Faktor Pembatasnya di Tambak Kecamatan Tabalar dan Biatan, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur Andi Akhmad Mustafa; hasnawi hasnawi; Erna Ratnawati; A.Indra Jaya Asaad
Jurnal Segara Vol 16, No 1 (2020): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.764 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i1.7983

Abstract

Daya dukung dan faktor pembatasnya memiliki pengaruh penting terhadap keberhasilan kegiatan akuakultur, termasuk tambak di Kabupaten Berau.  Oleh karena itu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menentukan daya dukung lingkungan dan faktor pembatasnya di tambak Kecamatan Tabalar dan Biatan, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur agar produktivitas tambak dapat ditingkatkan dan berkelanjutan.  Faktor yang dipertimbangkan dalam analisis daya dukung lingkungan dan faktor pembatasnyaadalah  topografi dan hidrologi, kualitas tanah, kualitas air, dan iklim. Penentuan daya dukung lingkungan dengan sistem pembobotan yang  mengacu pada modifikasi Poernomo (1992) diaplikasikan dalam penelitian ini.   Faktor pembatas daya dukung lingkungan ditentukan dengan mengembangkan pendapat dari Sys et al. (1993). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya dukung lingkungan di kawasan pertambakan di Kecamatan Tabalar dan Biatan adalah masing-masing 67,36 dan 65,84%, sehingga luas tambak yang dapat didukung berturut-turut: 533,95 dan 38,50 ha.  Di Kecamatan Tabalar dan Biatan didapatkan faktor pembatas sedang  dari daya dukung lingkungan tambak berupa ∆ pH (pHF-pHFOX) tanah, C organik tanah,  N-total tanah, dan bahan organik total air,  sedangkan faktor pembatas berat berupa PO4  air, NH3 air, dan bulan kering. Untuk mengurangi faktor pembatas sehingga meningkatkan daya dukung lingkungan tambak disarankan untuk menerapkan konservasi lahan, meningkatkan kesuburan tanah, dan mengelola air secara tepat.
Analisis Kesesuaian Perairan untuk Budi daya Rumput Laut Menggunakan Multidimensional Scaling (MDS) Permana Ari Soejarwo; Thonas Indra Maryanto
Jurnal Segara Vol 16, No 1 (2020): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1526.983 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i1.6424

Abstract

Penilaian kesesuaian perairan dalam mendukung kegiatan budidaya rumput laut salah satunya dipengaruhi oleh parameter kualitas perairan. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan kesesuaian perairan dalam mendukung kegiatan budidaya rumput laut dengan pendekatan Multidimensional Scaling. Hal ini diharapkan akan diperoleh tingkat kesesuaian perairan serta parameter kualitas perairan yang paling dominan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas perairan di Pulau Panjang dalam mendukung kegiatan budidaya rumput laut yaitu cukup sesuai dengan nilai berkisar antara 58-68. Parameter kualitas perairan yang paling dominan yaitu fosfat dengan nilai perubahan RMS 6,376. Penelitian ini menunjukkan bahwa dominannya kandungan fosfat di wilayah perairan Pulau Panjang merupakan indikator terjadinya pencemaran yang bersumber dari limbah domestik yang diduga berasal dari kegiatan pertanian, peternakan serta limbah rumah tangga. Namun demikian tingkat kesesuaian perairan di Pulau Panjang apabila dikelola dengan baik atau mendapatkan perhatian yang lebih dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan budidaya rumput laut, maka dapat berpengaruh terhadap tingkat kesesuaian perairan. Sehingga kualitas perairan di Pulau Panjang dapat mengalami pergeseran kearah sesuai.

Page 1 of 1 | Total Record : 6