cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Rekayasa Hijau
ISSN : 25794264     EISSN : 25501070     DOI : -
Jurnal Rekayasa Hijau diterbitkan 3 kali dalam satu tahun. Berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian dan kajian analisis di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, desain dan kebijakan ramah lingkungan.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2019)" : 14 Documents clear
Analisis Pengaruh Konsentrasi Asam dan Basa terhadap Recovery Tembaga (Cu) dari Limbah Elektronika -, Salafudin; Kamal, Netty; Pratiwi, Vibianti Dwi
Jurnal Rekayasa Hijau Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.364 KB) | DOI: 10.26760/jrh.v3i1.2819

Abstract

ABSTRAKPenangan limbah elektronika dengan cara recycle dapat menjadi sumber alternatif untuk mendapatkan material yang bernilai. Salah satu komponen utama dalam pembuatan peralatan elektronika adalah PCB. Printed Circuit Board (PCB) mengandung banyak material logam yang berharga seperti tembaga (Cu) sekitar 25% b/b. Dari segi ekonomi maupun kebutuhan pasar, material tembaga layak untuk di recovery. Salah satu cara recovery tembaga dari PCB limbah elektronika adalah dengan proses hidrometalurgi. Pada proses ini PCB direaksikan dengan larutan asam kuat seperti HNO3 sehingga membentuk Cu(NO3)2. Parameter yang digunakan adalah konsentrasi perolehan tembaga, sedangkan variabel yang berubah pada penelitian ini adalah konsentrasi HNO3, NaOH dan jenis PCB sebagai limbah elektronika. Konsentrasi tembaga yang dihasilkan dalam percobaan ini dicari menggunakan metode AAS (Atomic Absorption Spectroscopy). Hasil yang didapatkan dihitung menggunakan Anova dengan software Minitab 17 untuk melihat pengaruh konsentrasi asam dan basa terhadap jenis PCB limbah elektronika. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan anova dengan Minitab 17 didapatkan pengaruh HNO3 7N pada waktu percobaan 60 menit lebih signifikan dalam mendaur-ulang tembaga dari PCB televisi.Kata Kunci: Limbah Elektronik, PCB, Tembaga, MinitabABSTRACTHandling of electronic waste by recycle can be an alternative source for obtaining valuable material. One of the main components in making electronic equipment is PCB. Printed Circuit Board (PCB) contains many valuable metal materials such as copper (Cu) around 25% b / b. In terms of economy and market needs, copper material is suitable for recovery. One method of copper recovery from PCB electronic waste is the hydrometallurgical process. In this process the PCB is reacted with a strong acid solution such as HNO3 to form Cu(NO3)2. The parameters used were the concentration of copper recovery, while the variable that changed in this study was the concentration of HNO3, NaOH and PCB type as electronic waste. The concentration of copper produced in this experiment was sought using the AAS method (Atomic Absorption Spectroscopy). The results obtained were calculated using Anova with Minitab 17 software to see the effect of acid and base concentrations on the type of electronic waste PCB. Based on the calculation results using Anova by Minitab 17, the influence of the HNO3 7N on the 60 minute was found to be more significant in recycling copper from a television PCB.Keywords: Electronic Waste, PCB, Copper, Minitab
Tipologi Courtyard pada Permukiman Tionghoa Lasem Duhita, Dian
Jurnal Rekayasa Hijau Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.63 KB) | DOI: 10.26760/jrh.v3i1.2820

Abstract

ABSTRAKHunian Tionghoa di Lasem Jawa Tengah merupakan salah satu peninggalan budaya di Indonesia yang masih meninggalkan warisan hingga saat ini. Hunian Tionghoa di Lasem berkembang sejak abad ke-15, dimana kawasan ini mulai membentuk kawasan pecinan khas yang dikenali melalui hunian courtyard dan gerbang masuk sebagai bagian dari fasade bangunan. Permukiman yang didirikan membentuk kawasan yang terpisah dari kawasan pribumi. Masing-masing kawasan memiliki bangunan penting berupa tempat ibadah (kelenteng) dan keraton sebagai inti permukiman. Hunian courtyard Tionghoa di Lasem memiliki unsur budaya campuran, seperti adanya elemen arsitektur bergaya Cina, kolonial serta Jawa. Tujuan penelitian ini antara lain menganalisis tipologi hunian courtyard di permukiman Tionghoa Lasem dimana terdapat akulturasi langgam arsitektur di dalamnya. Metoda penelitian yang digunakan adalah deskriptif dimana pengambilan data dilakukan secara kualitatif. Setiap tipe hunian courtyard memberikan image berbeda tergantung dari komposisi bangunan yang ada di dalamnya sehingga memiliki ciri khas tertentu. Suasana ruang courtyard dipengaruhi oleh hadirnya gerbang dengan atap ngang shan, bangunan utama berupa thienching maupun chengshen serta hulung yang melengkapi elemen hunian. Kavling hunian courtyard memiliki variasi bentuk akibat dari perubahan yang ada pada elemen fisik sehingga ruang courtyard berpotensi untuk berubah dan berkembang menjadi bangunan tumbuh.Kata kunci: Hunian Courtyard, Permukiman Tionghoa, LasemABSTRACTChinese occupancy in Lasem, Central Java is one of the cultural heritages in Indonesia which still leaves a legacy until now. Chinese occupancy in Lasem developed since the 15th century, where the area began to form a distinctive Chinatown area that was recognized through courtyard and entrance gates as part of the building facade. Established settlements form a separate area from the indigenous region. Each area has an important building in the form of a place of worship (kelenteng) and a palace as the core of the settlement. Chinese courtyard occupancy in Lasem has a mixture of cultural elements, such as the presence of Chinese, colonial and Javanese architectural elements. The purpose of this study included analyzing the residential typology of courtyard in the Chinese settlement of Lasem where there was acculturation in the style of architecture. The research method used is descriptive where data collection is done qualitatively. Each type of residential courtyard gives a different image depending on the composition of the building in it so that it has certain characteristics. The atmosphere of the courtyard room is influenced by the presence of a gate with the roof of the Ngang Shan, the main building in the form of thienching and chengshen and hulung which complements the residential elements. Courtyard residential plots have a variety of forms as a result of changes in physical elements so that courtyard space has the potential to change and develop into a growing building.Keywords: Courtyard Houses, Chinese Settlement, Lasem
Evaluasi Sistem Proteksi Aktif dan Pasif sebagai Upaya Penanggulangan Bahaya Kebakaran pada Gedung X Mall Ratnayanti, Katarina Rini; Hajati, Nur Laeli; Rizki Utama, Mutiara Indah
Jurnal Rekayasa Hijau Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.842 KB) | DOI: 10.26760/jrh.v3i1.2816

Abstract

ABSTRAKX Mall merupakan sebuah pusat perbelanjaan yang menyediakan berbagai fasilitas lengkap mulai dari pusat perbelanjaan, arena rekreasi, kawasan kuliner, bank, hingga tempat peribadatan. X Mall termasuk tingkat risiko bahaya kebakaran sedang III yang memiliki potensi pemicu kebakaran dari dalam dan luar gedung. Maka dari itu X Mall perlu menerapkan sistem proteksi kebakaran dan sarana pendukung yang baik untuk mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran. Penelitian ini dilakukan dengan cara observasi dan wawancara langsung dengan pihak X Mall untuk mengetahui kelengkapan dan kondisi sistem proteksi aktif, sistem proteksi pasif, serta manajemen kebakaran yang telah diterapkan. Hasil observasi dan wawancara kemudian dibandingkan kesesuaiannya dengan peraturan yang berlaku di Indonesia yaitu Kepmen PU No.10/KPTS/2000 dan SNI. Hasil penelitian menunjukan bahwa sistem proteksi aktif, sistem proteksi pasif, sarana penyelamatan jiwa, dan manajemen tanggap kebakaran sudah cukup baik dengan umumnya persentase kesesuaian ≥80%.Kata kunci: kebakaran, bahaya kebakaran, mall, proteksi aktif, proteksi pasif, manajemen kebakaranABSTRACTX Mall is a shopping centre that provides complete facilities such as supermarket, recreation arena, culinary, bank, also place of worship. The level of risk of fire hazard in X Mall is classified as Moderate III Fire Hazard that has the potential fire triggering from inside and outside the building. Therefore X Mall needs to implements fire protection system and good supporting facilities to prevent and overcome fire hazards. This research was done by observation and direct interviews with the X Mall to find out the availability and condition of active protection system, passive protection system, and fire management that have been implemented. The results of observation are then compared to the applicable regulations that are Kepmen PU No. 10/KPTS/2000 and SNI. The final results showed that active and passivefire protection system, lif saving facilities, and fire reponse management is quite good, with generally the percentage of suitability ≥80%.Keywords: fire, fire hazard, mall, active protection, passive protection, fire management
Profil Kualitas Udara Kota Cimahi Provinsi Jawa Barat Wardhani, Eka
Jurnal Rekayasa Hijau Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (979.649 KB) | DOI: 10.26760/jrh.v3i1.2821

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi dalam rangka pengendalian pencemaran udara di kota tersebut mengingat perkembangan Kota Cimahi yang terus mengalami perkembangan. Analisis kualitas udara dilakukan di laboratorium PT. Unilab Perdana yang telah mendapatkan akreditasi oleh KAN No. LP-195-IDN. Pengambilan sampel dilakukan pada tanggal 15 September 2017 sedangkan untuk analisis di laboratorium di lakukan pada tanggal 15 sampai dengan 27 September 2017. Parameter yang dianalisis yaitu SO2, CO2, NO2, O3, HC, PM10, PM2,5, Pb, NH3, dan H2S. Pengambilan sampel kualitas udara dilakukan secara langsung di lapangan di 8 titik. Berdasarkan hasil penelitian di Kota Cimahi kualitas udara masih tergolong baik hal tersebut terlibat bahwa parameter kualitas udara ambien masih memenuhi baku mutu sesuai PP 41/1999 tentang PPU. Upaya pengendalian pencemaran udara harus terus dilaksanakan mengingat angka penyakit ISPA di kota ini yang menempati posisi tertinggi dibandingkan dengan penyakit lainnya.ABSTRACTThis research is in collaboration with the Environmental Agency (DLH) of Cimahi City in order to control air pollution in the city due to the development of Cimahi City. Air quality analysis was carried out in the laboratory of PT. Unilab Perdana which has been accredited by KAN No. LP-195-IDN. Sampling was carried out on 15 September 2017 while the analysis in the laboratory was conducted on 15 to 27 September 2017. The parameters analyzed were SO2, CO2, NO2, O3, HC, PM10, PM2,5, Pb, NH3, and H2S . Air quality sampling is carried out directly in the field at 8 points. Based on the results of research in Cimahi City, air quality is still relatively good, it is involved that ambient air quality parameters still meet the quality standards according to PP 41/1999 concerning PPU. Air pollution control must continue to be carried out considering the number of lung infection diseases in this city which occupies the highest position compared to other diseases.
Optimasi Dimensi Connecting Rod Al2024 dan Tulangan Baja 4340 pada Kawasaki Ninja 150 R Menggunakan ANSYS Latief, Alfan Ekajati; Anggraeni, Nuha Desi
Jurnal Rekayasa Hijau Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1212.382 KB) | DOI: 10.26760/jrh.v3i1.2867

Abstract

ABSTRAKConnecting rod berfungsi menghubungkan piston ke crankshaft, sistem ini membentuk mekanisme sederhana yang mengubah gerak lurus menjadi gerak melingkar ataupun sebaliknya. Umumnya connecting rod dirancang berbenruk I agar kuat dan ringan dengan material baja. Pengurangan massa pada connecting rod dapat mengurangi momen inersia engine, meningkatkan performa dan fuel efficiency engine. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dimensi optimum connecting road menggunakan material Al 2024 dan tulangan baja 4340.Dimensi optimum harus dapat menahan tegangan dan regangan maksimum yang terjadi pada connecting rod ketika menerima beban tekan dan tarik. Penelitian dilakukan dengan melakukan varisi dimensi profil I dan bentuk tulangan dengan dimensi lain menyesuaikan spesifikasi connecting rod Kawasaki Ninja 150 R. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa connecting rod dengan profil I, bentuk tulangan webbing merupakan tulangan paling optimal dengan ketebalan 8 mm dengan berat total 0,12 Kg.Kata kunci: connecting rod, tulangan baja, Al2024, ANSYSABSTRACTThe connecting rod serves to connect the piston to the crankshaft; this system forms a simple mechanism that converts straight motion into circular motion or vice versa. Generally, connecting rods are designed to be made in order to be strong and lightweight with steel material. Reducing the mass of the connecting rod can reduce the moment of engine inertia, improve the performance and fuel efficiency engine. This study aims to obtain the optimum dimensions of the connecting road using Al 2024 material and steel reinforcement 4340. The optimum dimension must be able to withstand the maximum stress and strain that occurs in the connecting rod when receiving compressive and tensile loads. The study was conducted by varying the dimensions of profile I and shape of reinforcement with other dimensions adjusting the specifications of the connecting rod Kawasaki Ninja 150 R. The results showed that the connecting rod with profile I, the form of webbing reinforcement was the most optimal reinforcement with a thickness of 8 mm and total mass 0,12 kg.Keywords: connecting rod, reinforcement steel, Al2024, ANSYS.
Analisis Pengaruh Waktu Aktivasi dan Adsorpsi dalam Pemanfaatan Karbon Aktif dari Serutan Kayu menjadi Adsorben Limbah Cair Pratiwi, Vibianti Dwi; Kamal, Netty; Juhanda, Suparman
Jurnal Rekayasa Hijau Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (824.195 KB) | DOI: 10.26760/jrh.v3i1.2822

Abstract

ABSTRAKIndustri pemanfaatan kayu cukup sering ditemukan di Indonesia, namun limbah yang dihasilkan tidak diolah dan hanya dibuang ke lingkungan. Limbah serutan kayu yang mengandung rantai karbon dapat dimanfaatkan menjadi karbon aktif. Pengaruh kualitas karbon aktif dari serutan kayu ini diuji berdasarkan waktu aktivasi dan daya adsorpsi limbah cair. Karbon aktif dibuat melalui pirolisis hingga mencapai suhu 5000C dengan ukuran 100-150 mesh dan diaktivasi dengan H3PO4 10% selama 6 jam, 12 jam, dan 18 jam. Karbon aktif yang dihasilkan digunakan sebagai adsorben dan diujikan pada limbah cair zat warna tekstil Sumikaron Yellow Brown S-2RL. Adsorpsi dilakukan dengan variasi waktu 1 jam, 2 jam dan 3 jam. Selanjutnya larutan zat warna yang telah dijerap oleh karbon aktif dianalisa menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 480nm. Berdasarkan absorbansi atau konsentrasi (%) pengurangan warna yang dihitung menggunakan anova dengan software Minitab 17, pengaruh yang lebih signifikan dalam pemanfaatan karbon aktif dari serutan kayu yaitu pada waktu aktivasi 12 jam dan waktu adsorpsi 3 jam. Karbon aktif dari limbah serutan kayu mampu mengurangi limbah cair zat warna sebesar 98,2519%. Hasil uji pendahuluan dengan menghitung bilangan iod dari adsorben karbon aktif yang telah diaktivasi selama 12 jam menjadi kondisi terbaik dengan menjerap iod sebanyak 144,8961 mg/g.Kata Kunci: limbah cair, karbon aktif, serutan kayu, MinitabABSTRACTThe wood utilization industry is quite often found in Indonesia, but the waste produced is not processed and is only disposed of into the environment. Wood shavings containing carbon chains can be used as activated carbon. The effect of the quality of activated carbon from wood shavings was tested based on the activation time and adsorption liquid waste’s capacity. Activated carbon is made through pyrolysis to reach a temperature of 5000C with a size of 100-150 mesh and activated with 10% H3PO4 for 6 hours, 12 hours, and 18 hours. The activated carbon produced was used as an adsorbent and tested on the liquid waste of textile dye Sumikaron Yellow Brown S-2RL. Adsorption is carried out with variations of 1 hour, 2 hours and 3 hours. Furthermore, the dye solution that has been absorbed by activated carbon is analyzed using a spectrophotometer with a wavelength of 480nm. Based on the absorbance or concentration (%) of color reduction calculated using anova with Minitab 17 software, a more significant effect on the utilization of activated carbon from wood shavings is the activation time of 12 hours and the adsorption time of 3 hours. Activated carbon from wood shavings waste is able to reduce dye wastewater by 98.2519%. The results of the preliminary test by calculating iodine number from the adsorbent of activated carbon which has been activated for 12 hours are the best conditions by absorbing iodine is 144.8961 mg/g.Keywords: liquid waste, activated carbon, wood shavings, Minitab
Meminimasi Risiko pada Rantai Pasok Menggunakan Kerangka Kerja Suplly Chain Risk Management di PT. Adhi Chandra Dwiutama Syah Tjaja, Arief Irfan; Sekartyasto, Dio Rizcki; Imran, Arif
Jurnal Rekayasa Hijau Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.038 KB) | DOI: 10.26760/jrh.v3i1.2818

Abstract

ABSTRAKRantai Pasok merupakan jaringan dari perusahaan- perusahaan yang bekerja secara bersama untuk menciptakan dan mengantarkan suatu produk ke konsumen akhir. Perusahaan - perusahaan tersebut bergerak di bidang supplier, manufaktur, distributor, ritel/toko dan perusahaan jasa logistik. Didalam rantai pasok terdiri dari berbagai aliran informasi yang harus dikelola oleh perusahaan. Oleh karena itu, untuk menciptakan rantai pasok yang terintegritas dan unggul perusahaan perlu mengelola rantai pasok dengan menggunakan supply chain management. Dalam proses rantai pasok, manajemen risiko rantai pasok dibutuhkan untuk mengendalikan risiko-risiko yang mungkin muncul agar tidak menggangu berjalannya rantai pasok. Proses manajemen risiko rantai pasok dimulai dengan identifikasi proses bisnis dalam rantai pasok, lalu mengidentifikasi risiko dalam proses bisnis. Kemudian dilakukan penilaian nilai konsekuensi dan probabilitas melalui kuesioner. Identifikasi risiko menghasilkan 64 risiko, 33 risiko dengan tingkat rendah, 21 dengan tingkat menengah, dan 10 tingkat tinggi. Setelah mendapatkan risiko berdasarkan tingkatannya, dilakukan perancangan mitigasi terhadap risiko yang paling tinggi.Kata kunci: Rantai Pasok, Manajemen Risiko Rantai Pasok, MitigasiABSTRACTSupply Chain is a network of companies that work together to create and deliver a product into the hands of the end user. These companies usually include suppliers, manufactur, distributors, retail / stores and logistic service companies. In the supply chain consists of various streams of information that must be managed by the company. Therefore, to create an integrated and superior supply chain, companies need to manage supply chains using supply chain management. In the supply chain, supply chain risk management is needed to control the risks that may happen in order not to disrupt supply chain. Supply chain risk management process begins with the identification of business processes in the supply chain, then identify risks in the business process. After that, a risk assessment is performed to assess the risk probability and consequences through the questionnaires. Risk identification brings out 64 risks, 33 lowrisk, 21 to medium-risk, and 10-high risk. After obtaining the risk based on its level,then do some design risk mitigation to the high-risk.Keywords: Supply chain, supply chain risk management, mitigation
Meminimasi Risiko pada Rantai Pasok Menggunakan Kerangka Kerja Suplly Chain Risk Management di PT. Adhi Chandra Dwiutama Arief Irfan Syah Tjaja; Dio Rizcki Sekartyasto; Arif Imran
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v3i1.2818

Abstract

ABSTRAKRantai Pasok merupakan jaringan dari perusahaan- perusahaan yang bekerja secara bersama untuk menciptakan dan mengantarkan suatu produk ke konsumen akhir. Perusahaan - perusahaan tersebut bergerak di bidang supplier, manufaktur, distributor, ritel/toko dan perusahaan jasa logistik. Didalam rantai pasok terdiri dari berbagai aliran informasi yang harus dikelola oleh perusahaan. Oleh karena itu, untuk menciptakan rantai pasok yang terintegritas dan unggul perusahaan perlu mengelola rantai pasok dengan menggunakan supply chain management. Dalam proses rantai pasok, manajemen risiko rantai pasok dibutuhkan untuk mengendalikan risiko-risiko yang mungkin muncul agar tidak menggangu berjalannya rantai pasok. Proses manajemen risiko rantai pasok dimulai dengan identifikasi proses bisnis dalam rantai pasok, lalu mengidentifikasi risiko dalam proses bisnis. Kemudian dilakukan penilaian nilai konsekuensi dan probabilitas melalui kuesioner. Identifikasi risiko menghasilkan 64 risiko, 33 risiko dengan tingkat rendah, 21 dengan tingkat menengah, dan 10 tingkat tinggi. Setelah mendapatkan risiko berdasarkan tingkatannya, dilakukan perancangan mitigasi terhadap risiko yang paling tinggi.Kata kunci: Rantai Pasok, Manajemen Risiko Rantai Pasok, MitigasiABSTRACTSupply Chain is a network of companies that work together to create and deliver a product into the hands of the end user. These companies usually include suppliers, manufactur, distributors, retail / stores and logistic service companies. In the supply chain consists of various streams of information that must be managed by the company. Therefore, to create an integrated and superior supply chain, companies need to manage supply chains using supply chain management. In the supply chain, supply chain risk management is needed to control the risks that may happen in order not to disrupt supply chain. Supply chain risk management process begins with the identification of business processes in the supply chain, then identify risks in the business process. After that, a risk assessment is performed to assess the risk probability and consequences through the questionnaires. Risk identification brings out 64 risks, 33 lowrisk, 21 to medium-risk, and 10-high risk. After obtaining the risk based on its level,then do some design risk mitigation to the high-risk.Keywords: Supply chain, supply chain risk management, mitigation
Analisis Pengaruh Konsentrasi Asam dan Basa terhadap Recovery Tembaga (Cu) dari Limbah Elektronika Salafudin -; Netty Kamal; Vibianti Dwi Pratiwi
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v3i1.2819

Abstract

ABSTRAKPenangan limbah elektronika dengan cara recycle dapat menjadi sumber alternatif untuk mendapatkan material yang bernilai. Salah satu komponen utama dalam pembuatan peralatan elektronika adalah PCB. Printed Circuit Board (PCB) mengandung banyak material logam yang berharga seperti tembaga (Cu) sekitar 25% b/b. Dari segi ekonomi maupun kebutuhan pasar, material tembaga layak untuk di recovery. Salah satu cara recovery tembaga dari PCB limbah elektronika adalah dengan proses hidrometalurgi. Pada proses ini PCB direaksikan dengan larutan asam kuat seperti HNO3 sehingga membentuk Cu(NO3)2. Parameter yang digunakan adalah konsentrasi perolehan tembaga, sedangkan variabel yang berubah pada penelitian ini adalah konsentrasi HNO3, NaOH dan jenis PCB sebagai limbah elektronika. Konsentrasi tembaga yang dihasilkan dalam percobaan ini dicari menggunakan metode AAS (Atomic Absorption Spectroscopy). Hasil yang didapatkan dihitung menggunakan Anova dengan software Minitab 17 untuk melihat pengaruh konsentrasi asam dan basa terhadap jenis PCB limbah elektronika. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan anova dengan Minitab 17 didapatkan pengaruh HNO3 7N pada waktu percobaan 60 menit lebih signifikan dalam mendaur-ulang tembaga dari PCB televisi.Kata Kunci: Limbah Elektronik, PCB, Tembaga, MinitabABSTRACTHandling of electronic waste by recycle can be an alternative source for obtaining valuable material. One of the main components in making electronic equipment is PCB. Printed Circuit Board (PCB) contains many valuable metal materials such as copper (Cu) around 25% b / b. In terms of economy and market needs, copper material is suitable for recovery. One method of copper recovery from PCB electronic waste is the hydrometallurgical process. In this process the PCB is reacted with a strong acid solution such as HNO3 to form Cu(NO3)2. The parameters used were the concentration of copper recovery, while the variable that changed in this study was the concentration of HNO3, NaOH and PCB type as electronic waste. The concentration of copper produced in this experiment was sought using the AAS method (Atomic Absorption Spectroscopy). The results obtained were calculated using Anova with Minitab 17 software to see the effect of acid and base concentrations on the type of electronic waste PCB. Based on the calculation results using Anova by Minitab 17, the influence of the HNO3 7N on the 60 minute was found to be more significant in recycling copper from a television PCB.Keywords: Electronic Waste, PCB, Copper, Minitab
Tipologi Courtyard pada Permukiman Tionghoa Lasem Dian Duhita
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v3i1.2820

Abstract

ABSTRAKHunian Tionghoa di Lasem Jawa Tengah merupakan salah satu peninggalan budaya di Indonesia yang masih meninggalkan warisan hingga saat ini. Hunian Tionghoa di Lasem berkembang sejak abad ke-15, dimana kawasan ini mulai membentuk kawasan pecinan khas yang dikenali melalui hunian courtyard dan gerbang masuk sebagai bagian dari fasade bangunan. Permukiman yang didirikan membentuk kawasan yang terpisah dari kawasan pribumi. Masing-masing kawasan memiliki bangunan penting berupa tempat ibadah (kelenteng) dan keraton sebagai inti permukiman. Hunian courtyard Tionghoa di Lasem memiliki unsur budaya campuran, seperti adanya elemen arsitektur bergaya Cina, kolonial serta Jawa. Tujuan penelitian ini antara lain menganalisis tipologi hunian courtyard di permukiman Tionghoa Lasem dimana terdapat akulturasi langgam arsitektur di dalamnya. Metoda penelitian yang digunakan adalah deskriptif dimana pengambilan data dilakukan secara kualitatif. Setiap tipe hunian courtyard memberikan image berbeda tergantung dari komposisi bangunan yang ada di dalamnya sehingga memiliki ciri khas tertentu. Suasana ruang courtyard dipengaruhi oleh hadirnya gerbang dengan atap ngang shan, bangunan utama berupa thienching maupun chengshen serta hulung yang melengkapi elemen hunian. Kavling hunian courtyard memiliki variasi bentuk akibat dari perubahan yang ada pada elemen fisik sehingga ruang courtyard berpotensi untuk berubah dan berkembang menjadi bangunan tumbuh.Kata kunci: Hunian Courtyard, Permukiman Tionghoa, LasemABSTRACTChinese occupancy in Lasem, Central Java is one of the cultural heritages in Indonesia which still leaves a legacy until now. Chinese occupancy in Lasem developed since the 15th century, where the area began to form a distinctive Chinatown area that was recognized through courtyard and entrance gates as part of the building facade. Established settlements form a separate area from the indigenous region. Each area has an important building in the form of a place of worship (kelenteng) and a palace as the core of the settlement. Chinese courtyard occupancy in Lasem has a mixture of cultural elements, such as the presence of Chinese, colonial and Javanese architectural elements. The purpose of this study included analyzing the residential typology of courtyard in the Chinese settlement of Lasem where there was acculturation in the style of architecture. The research method used is descriptive where data collection is done qualitatively. Each type of residential courtyard gives a different image depending on the composition of the building in it so that it has certain characteristics. The atmosphere of the courtyard room is influenced by the presence of a gate with the roof of the Ngang Shan, the main building in the form of thienching and chengshen and hulung which complements the residential elements. Courtyard residential plots have a variety of forms as a result of changes in physical elements so that courtyard space has the potential to change and develop into a growing building.Keywords: Courtyard Houses, Chinese Settlement, Lasem

Page 1 of 2 | Total Record : 14