cover
Contact Name
Frans Paillin Rumbi
Contact Email
fransrumbi24@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.bia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. tana toraja,
Sulawesi selatan
INDONESIA
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
ISSN : 26554682     EISSN : 26554666     DOI : -
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual adalah Jurnal peer-review yang diterbitkan oleh STAKN Toraja, berfokus pada isu-isu terbaru dalam dunia Teologi secara khusus berkaitan dengan Kontekstualisasi Teologi di Indonesia dengan beberapa spesifikasi yakni: 1.Studi Biblika 2.Injil dan Kebudayaan 3.Gereja dan Masyarakat 4.Dinamika Pendidikan Kristen 5.Riset Teologi Praktika 6.Musik Kontekstual
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021" : 10 Documents clear
Pilatus Dalam Pengakuan Iman Rasuli: Dalam Terang 1 Timotius 6:12-13 Yonky Karman
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i2.256

Abstract

Churches and theologians usually interpret the mention of Pilate in the Apostles' Creed as a time frame during the reign of Roman political rulers for the events of Jesus' passion, thereby providing a historical framework for Christ's redemptive work. The phrase “under Pontius Pilate” in the church creed is taken for granted with the same meaning as the Greek phrase epi Pontiou Pilatou in 1 Timothy 6:13, the only direct reference in the New Testament. However, the Bible translation of the Greek phrase is usually “before Pontius Pilate”, slightly different from the creedal formulation. Biblically, there is a connection between epi Pontiou Pilatou and Jesus’ long testimony before Pilate’s trial in the gospel of John, the only gospel that explicitly mentions Jesus coming into the world “to testify to the truth” (John 18:37, NRSV). This article adds a theological significance to that mention in light of I Timothy 6:12-13. Not only Jesus “suffered under Pontius Pilate”, He also gave testimony “before” the Roman administrator, a representation of the then world, and thus the witness of the church throughout the ages before the world.Gereja dan teolog biasanya menafsirkan penyebutan Pilatus dalam Pengakuan Iman Rasuli sebagai kerangka waktu selama pemerintahan penguasa politik Romawi untuk peristiwa sengsara Yesus, demikian memberikan kerangka sejarah untuk karya penebusan Kristus. Frasa “di bawah pemerintahan Pontius Pilatus” dalam kredo gereja diandaikan begitu saja sama maksudnya dengan frasa epi Pontiou Pilatou dalam teks Yunani 1 Timotius 6:13, satu-satunya rujukan langsung dalam Perjanjian Baru. Namun, terjemahan Alkitab untuk frasa Yunani itu biasanya “di muka Pontius Pilatus”, sedikit berbeda dari rumusan kredo. Secara alkitabiah, ada hubungan antara epi Pontiou Pilatou dan kesaksian panjang Yesus di muka pengadilan Pilatus dalam Injil Yohanes, satu-satunya Injil yang secara eksplisit menyebutkan Yesus datang ke dalam dunia “untuk memberi kesaksian tentang kebenaran” (Yoh. 18:37). Artikel ini menambahkan signifikansi teologis untuk penyebutan itu bahwa Yesus tidak hanya “menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus”, tetapi juga bersaksi “di muka” wali negeri Romawi itu, sebuah representasi dunia waktu itu. Begitu juga kesaksian gereja sepanjang masa di hadapan dunia.
Mengisahkan Ziarah Eksodus Melalui Eskterior Bangunan Gereja Rasid Rachman
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i2.273

Abstract

The exterior of Church building is the clearest face of the community of its members because it is openly showed by anybody. It is not only evidence of the very art and historical heritage but also a content of theological narrative and re-narrative of Church role in the world. This writing will show that there is a theological narrative behind the Church building. In this writing, that theological narrative is limited to the story of the journey and the sojourn of the Israel people in the wilderness to the promised land. From the exodus narrative, I renarrate the role of the Church in the context where it lives. This writing used the theory of bottom with three elements, namely: concept, category, and proposition. The early concept is the exodus narrative according to the Bible. Catching the category, this exodus concept will be anriched by the blended with the narrative of some Church buildings in Indonesia, theology of the Old Testament and liturgy, the anthropology of culture, and the philosophy of architecture. The result of this research is renarrative of the living Church buildings. The proposition is an offer on an interrelation between Biblical narrative, a historical roll of the Church building, and the renarrative or the storytelling renewal, with the present of Church mission. Eksterior bangunan gereja adalah wajah paling jelas persekutuan anggotanya, sebab terlihat secara terbuka oleh siapa pun. Ia bukan hanya bukti mahakarya seni arsitektur dan peninggalan sejarah, tetapi juga berisi narasi teologis dan merenarasikan peran gereja di dunia. Tulisan ini ingin memperlihatkan bahwa ada narasi teologi di balik eksterior bangunan gereja. Dalam tulisan ini, narasi teologi tersebut dibatasi pada kisah perjalanan dan persinggahan umat Israel di padang gurun menuju tanah perjanjian. Dari narasi eksodus tersebut, saya merenarasikan peran gereja di dalam konteksnya.Tulisan ini menggunakan teori dari bawah dengan tiga unsur, yaitu: konsep, kategori, dan proposisi. Konsep awal adalah narasi eksodus sebagaimana kesaksian Alkitab. Untuk mencapai kategori, konsep eksodus ini akan diperkaya dengan memadukan narasi beberapa bangunan gereja di Indonesia, teologi Perjanjian Lama dan liturgi, antropologi budaya, dan filsafat arsitektur. Hasil penelitian adalah renarasi bangunan gereja yang hidup. Proposisi berupa tawaran akan hubungan-hubungan antara narasi Alkitab, guliran historis bangunan gereja berdiri, dan renarasi atau pembaruan penceritaan, dengan misi gereja kini. 
Continuing the Paul Mission for the Gentiles in the New Era Naomi Sampe; Perdi Masuang; Gantina Banne Lembang; Rinus Menok Sara; Karel Sanda Toding
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i2.319

Abstract

The research in this paper seeks to find some thought as a product of research that examines the important role of Paul's mission in the early church planting. In addition, this article will examine the pattern of Paul's mission so that church growth is very sporadic. The purpose of this research is to show that Paul's success strategy in mission is very worthy and interesting to be researched and studied, so that it becomes a cornerstone for the church today to continue Paul's mission pattern. Methodology in this research is going to use the theory of Francis Watson which based on the freedom of Paul mission, and also it want to take advantage based on the theory of Terence L. Donaldson that stated the universalism of Paul mission. This research shows that through God's help, Paul succeeded in establishing Gentiles churches. The churches today may learn that the preaching of the Gospel to the new generation today has its own challenges, because the different context. Another thing that today's church needs to learn is that Paul's passion and strategy in his mission has enabled him to build churches for other nations in various places for the glory of Christ.Penelitian dalam tulisan ini hendak berupaya menemukan beberapa refleksi sebagai hasil riset yang meneliti tentang peran penting misi Paulus terhadap perintisan gereja perdana. Selain itu, risalah ini hendak meneliti bagaimana pola misi Paulus sehingga pertumbuhan gereja sangat sporadis. Tujuan penelitian ini adalah hendak menunjukkan bahwa strategi keberhasilan Paulus dalam misi sangat layak dan menarik untuk diteliti dan dipelajari, agar menjadi batu penjuru bagi gereja masa kini untuk melanjutkan pola misi Paulus. Teologi misi Paulus yang berkaitan dengan pekerjaan misionaris yang dia layani saat itu. Tulisan ini mencoba menggunakan perspektif Francis Watson tentang kebebasan misi rasul Paulus. Selain itu juga didasarkan pada teori Terence L. Donaldson yang menyatakan tentang universalisme dari misi Paulus. Metodologi dalam penelitian ini akan menggunakan teori Francis Watson yang didasarkan pada kebebasan misi Paulus, serta ingin memanfaatkan teori Terence L. Donaldson yang menyatakan universalisme misi Paulus. Penelitian ini memperlihatkan bahwa melalui pertolongan Tuhan, Paulus berhasil mendirikan gereja-gereja non-Yahudi. Manfaat bagi gereja masa kini adalah bahwa Pemberitaan Injil bagi generasi era baru saat ini memiliki tantangan tersendiri karena konteksnya tidak sama lagi dengan era Paulus. Hal lain yang perlu dikaji oleh gereja era masa kini adalah semangat dan strategi Paulus dalam misinya, telah memampukannya membangun gereja-gereja bagi bangsa-bangsa lain untuk kemuliaan Kristus.
Signifikansi YouTube Sebagai Medium Pewartaan Injil bagi Generasi Milenial di Indonesia David Eko Setiawan
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i2.190

Abstract

The rapid development of information technology has given rise to a variety of social media platforms that can connect many people from all walks of life, and in all places quickly. In various studies show that most users of the platform have the millennial generation. Freedom and speed to access it is a consideration for the use of social media as a medium for proclaiming the gospel. YouTube as a social media platform, very popular with millennials, can help evangelists in communicating it attractively, creatively, interactively, and inspiratively. The problem with this research is how is the significance of YouTube as a medium for evangelism for the millennial generation in Indonesia? While the purpose of this study is to explain the significance of YouTube as a medium for proclaiming the gospel for the millennial generation in Indonesia. In this study, it was found that basically, YouTube is significant as a medium for proclaiming the gospel for the millennial generation in Indonesia because it is in accordance with the context of those who like social media platforms that are attractive, creative, interactive, and inspiring.Perkembangan teknologi informatika yang begitu cepat memunculkan berbagai platform media sosial yang dapat menghubungkan banyak orang dari segala lapisan, dan di segala tempat secara cepat. Dalam berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengguna terbanyak dari platform tersebut ada generasi milenial. Kebebasan dan kecepatan untu mengaksesnya, menjadi pertimbangan pemanfaatan media sosial sebagai medium pewartaan Injil. YouTube sebagai salah satu platform  media sosial, sangat digemari oleh generasi milenial, dapat menolong pewarta injil dalam mengkomunikasikannya secara atraktif ,  kreatif, interatif dan inspiratif. Masalah penelitian ini adalah bagaimanakah signifikansi YouTube sebagai medium pewartaan Injil bagi generasi milenial di Indonesia? Sedangkan tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan signifikansi YouTube sebagai medium pewartaan Injil bagi generasi milenial di Indonesia. Pada penelitian ini ditemukan bahwa pada dasarnya YouTube  signifikan sebagai medium pewartaan Injil bagi generasi milenial di Indonesia karena sesuai dengan konteks mereka yang menggemari platform media sosial yang atraktif,  kreatif, interatif dan inspiratif. 
Khotbah yang Berwawasan Misiologis Johana Ruadjanna Tangirerung
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i2.259

Abstract

A church is then called a church if it carries out a mission. Preaching is part of the mission of the church. Preaching in the context of Christianity is a form of verbal preaching of the gospel. The Protestant Church places preaching at the center of worship. The strategic position of this sermon can be the starting point for a missiological sermon. Even though the sermon is the center of worship and one of the models of preaching the gospel, but whether these sermons have a missiological perspective. The purpose of this study is to describe the basis of the sermon which is called missiological insight. Another goal is that through this descriptive description, the church understands further the mission of the church in preaching the gospel and then becomes an evaluative starting point for present-day church sermons towards missionary-minded sermons towards missionary congregations. This study uses a descriptive qualitative approach, which relies on efforts to describe and describe the phenomenon of contemporary sermons to be confronted with the reality of the sermons offered, namely sermons with a missiological perspective. This research shows that preaching the gospel through preaching is a means of preaching the gospel and it is part of the church's mission and churches need to develop missiological-minded preaching for church growth. A sermon with a missiological perspective is a sermon that can direct and move all elements of the congregation to be involved in carrying out God's mission as a result of these sermons in the context of church growth.Gereja barulah disebut gereja jika melakukan misi. Berkhotbah adalah bagian dari misi gereja. Khotbah dalam konteks kekristenan adalah salah satu bentuk pemberitaan Injil secara verbal. Gereja Protestan menempatkan khotbah sebagai pusat ibadah. Posisi strategis khotbah inilah yang dapat menjadi titik berangkat khotbah yang misiologis. Sekalipun khotbah adalah pusat ibadah dan salah satu model pemberitaan Injil, akan tetapi apakah khotbah-khotbah tersebut sudah berwawasan misiologis. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pendasaran khotbah yang disebut berwawasan misiologis. Tujuan lain adalah melalui uraian deskriptive ini gereja memahami lebih jauh misi gereja dalam pemberitaan Injil lalu menjadi titik berangkat evaluatif terhadap khotbah-khotbah gereja masa kini menuju khotbah yang berwawasan misiologis.Penelitian ini menggunakan metode pendekatan descriptive qualititavie, yang bertumpu pada upaya menguraikan dan mendeskripsikan fenomena khotbah-khotbah masa kini untuk diperhadapkan pada realitas khotbah yang ditawarkan yaitu khotbah yang berwawasan misiologis. Penelitian ini memperlihatkan bahwa pemberitaan Injil melalui khotbah adalah sarana pemberitaan Injil dan itu adalah bagian dari misi gereja dan gereja-gereja perlu untuk mengembangkan khotbah yang berwawasan misiologis untuk pertumbuhan gereja. Khotbah yang berwawasan misiologis adalah khotbah yang dapat mengarahkan dan menggerakkan seluruh elemen jemaat untuk terlibat dalam pelaksanaan misi Allah sebagai dampak dari khotbah-khotbah tersebut dalam rangka pertumbuhan gereja.
Agama Kristen dan Hoax: Peran Agama Kristen dalam Menekan Hoax Donny Paskah Martianus Siburian
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i2.257

Abstract

In the 4.0 era information has been transforming much faster and influencing daily interactions. Based on social recent phenomenon people were not given the interest to utilize these opportunities to look for the truth instead of prioritizing emotions, preferences to justify. This social atmosphere absolutely reduces the essential meaning of the ‘truth’ itself.  The 'truth' and 'untruth' can not be seen. The capability to analyze by the clear mind of intellect as one of the values of being a religious human has been paralyzed. The truth is claimed by like or dislike to something. How religion especially Christianity has its crucial functions as a social institution to reduce the hoax spreading behavior in its congregation will be provided in this paper. This study took palace in the HKBP Church in Bagansiapiapi, Rokan Hilir, Riau, Indonesia using the qualitative approach by taking the data from observation and interviews. The result shows found that religion by its dogma and religious leader comprehensively reduce the hoax spreading behavior in the congregation.Realitas Kemajuan Informasi 4.0 telah memengaruhi kehidupan. Berdasarkan fenomena terkini memperlihatkan bahwa orang-orang tidak lagi mau memberikan perhatian pada kebenaran yang hakiki dari sebuah informasi yang ia terima. Melainkan cenderung mengklaim kebenaran tersebut seturut dengan preferensi subjektif. Atmosfer kehidupan sosial seperti ini mereduksi perbedaan antara suka-tidak suka dan benar-salah menjadi demikian tipis. Alih-alih menjalani proses nalar yang panjang dan melelahkan, masyarakat cenderung tergesa-gesa mengklaim sesuatu yang disukainya sebagai kebenaran, sebaliknya tergesa-gesa menganggap salah atau sesat sesuatu yang dibenci/tidak disukai. Penelitian ini mencoba mengeksplorasi bagaimana agama sebagai pranata, khususnya agama Kristen memainkan peran yang krusial pada fenomena hoax. Penelitian ini dilaksanakan di Jemaat Gereja HKBP Bagansiapiapi ressort Bagansiapiapi, kabupaten Rokan Hilir, provinsi Riau-Indonesia menggunakan metodologi penelitian kualitatif dengan teknik wawancara dan observasi. Temuan memperlihatkan bahwa agama Kristen secara sistematis dan praksis menjalankan perannya sebagai pranata sosial melalui lembaga gereja. Peran tersebut berakar dari doktrin yang menekan prilaku penyebaran hoax. Penelitian juga memperlihatkan pemuka agama andil dalam menekan perilaku penyebar hoax bagi jemaat 
Gereja dan Gerakan Anti Vaksin: Sebuah Kajian Netnografi Komunitas Keagamaan Virtual Bakhoh Jatmiko
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i2.293

Abstract

The development of technology has created a new space for social interaction mediated by the internet (computer-mediated communications). Space which built on an agreement and shared understanding among the members. The author conducted research on virtual religious group expressing an opposite opinion to the general belief of the church, namely rejects COVID-19 vaccines. This research aims to find the religious reasons behind their exception on the COVID-19 vaccine. The research method applied in this study is qualitative with the netnography research approach. This approach was conducted to study culture and online community (cyberspace) using social interaction mediated by computer/internet. After underwent sets of research procedures, the author found the religious argumentations used to reject the vaccine, namely: the cares of an adverse effect of the vaccine; hesitancy of vaccine test procedures; moral and ethical objection; an intact of faith expression; religious - apocalyptic mindset; and the belief of global elite conspiracy.Perkembangan teknologi telah menciptakan ruang interaksi sosial baru yang dimediasi oleh internet (computer mediated communications). Ruang ini dibangun atas kesepakatan maupun kesepahaman antar anggotanya. Penulis melakukan penelitian terhadap kelompok virtual keagamaan yang mengungkapkan pemikiran yang berlawanan dengan keyakinan gereja pada umumnya, yaitu menolak vaksin COVID-19. Riset ini bertujuan untuk menemukan alasan-alasan keagaaman dibalik penolakan mereka terhadap vaksin COVID-19. Metode Penelitian yang digunakan di dalam kajian ini adalah kualitatif dengan pendekatan netnografi. Pendekatan ini dilakukan untuk mempelajari budaya dan komunitas daring (cyberspace) yang memanfaatkan interaksi sosial yang termediasi oleh komputer/internet. Setelah melewati serangkaian prosedur penelitian, penulis menemukan argumentasi-argumentasi keagamaan yang digunakan untuk menolak vaksin, yaitu: kekhawatiran terhadap efek negatif vaksin, keraguan dalam prosedur uji vaksin, keberatan moral dan etis, ekspresi iman yang utuh, pola pikir religious - apokaliptik, dan keyakinan tentang konspirasi elit global.
Interseksionalitas Pengalaman Perempuan Toraja: Sebuah Konstruksi Teologi Feminis Melalui Ritus Ma’ Bua’ Kasalle Vani Mega Rianna Mantong Tendenan
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i2.287

Abstract

This paper discusses the Toraja ritual, namely ma' bua' kasalle as a life thanksgiving ceremony which then becomes the basis for offering a feminist theological perspective, regarding the intersectionality of women's experiences in ritual. The method used in this article is a qualitative method with an analytical description approach that brings together Ronald L. Grimes' thoughts on ritual as a bodily experience with Denise L. Carmody's thoughts on women's experiences rooted in the experience of the Christian faith. The aim is to provide a feminist theological perspective that the intersectionality in the experience of Toraja women results in an attempt at equality in cultural rituals such as ma' bua' kasalle. The results show that the intersectionality of the experiences of Toraja women occurs through the first pa'gellu' dance, the second group of nani and simbong songs and the third is the placement of the fallen women who are in the tower. The three representations have created a dynamic and inclusive space for action, language, and relations. The interaction between the experiences of Toraja women is a source of self-empowerment and community. The thesis statement of this paper is that the intersectionality of the Toraja women's experience means a social interaction that involves the role of women with all their existence including faith, perspective, and presence as an effort to equal women in culture.Tulisan ini membahas tentang ritual Toraja yaitu ma' bua' kasalle sebagai upacara syukuran kehidupan yang kemudian menjadi dasar untuk menawarkan perspektif teologi feminis, tentang interseksionalitas pengalaman perempuan dalam ritual. Metode yang digunakan dalam artikel ini ialah metode kualitatif dengan pendekatan deskripsi analitis yang mempertemukan pemikiran Ronald L. Grimes tentang ritual sebagai pengalaman tubuh dengan pemikiran Denise L. Carmody tentang pengalaman perempuan yang berakar pada pengalaman iman Kristen. Tujuannya adalah untuk memberikan perspektif teologis feminis bahwa interseksionalitas dalam pengalaman perempuan Toraja menghasilkan upaya kesetaraan dalam ritual budaya seperti ma' bua' kasalle. Hasil penelitian menunjukkan interseksionalitas pengalaman perempuan Toraja terjadi melalui pertama tari pa'gellu', kedua kelompok nyanyian nani dan simbong dan ketiga adalah penempatan tumbang perempuan yang berada di menara. Ketiga representasi tersebut telah menciptakan ruang aksi, bahasa dan relasi yang dinamis dan inklusif. Interaksi antar pengalaman perempuan Toraja menjadi sumber pemberdayaan diri dan komunitas. Pernyataan tesis makalah ini ialah interseksionalitas pengalaman perempuan Toraja berarti suatu interaksi sosial yang melibatkan peran perempuan dengan segala keberadaan dirinya termasuk iman, perspektif dan kehadirannya sebagai upaya kesetaraan perempuan dalam budaya.
Rahim Mandul Allah: Suatu Konstruksi Imajinatif yang Menginterpretasi Realitas Chaotic Penciptaan bagi Pengalaman Perempuan Mandul Risye Yulika Rieuwpassa
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i2.304

Abstract

This paper proposes a constructive imagination that sees the world as an infertile womb of God in the context of creation. The chaosmic dimension of Catherine Keller gives positive fluctuations for nihil and chaos that is often interpreted as evil and ugliness. My thesis is that the chaosmic contributes to the imagination’s positive affirmation of infertility and God’s infertility. This paper attended purpose to give a new lens to the reality of Barren women and make approving for barren women in the social community. The method was a descriptive qualitative method with a literary study approach. Finally, this paper invites the reader to accept barren and childfree women and see the world as a home and house in a diversity of chaotic.Tulisan ini mengusulkan sebuah imajinasi konstruktif yang melihat dunia sebagai rahim mandul Allah dalam konteks penciptaan. Dimensi chaosmic dari Catherine Keller menghasilkan fluktuasi positif bagi nihil dan chaos yang sering ditafsir sebagai kejahatan dan keburukan. Penulis berpendapat bahwa Pemikiran tersebut turut memberi ruang imajinasi untuk mengafirmasi kemandulan secara positif dan menampilkan kemandulan Allah. Penulisan ini bertujuan untuk memberi lensa baru dalam melihat realitas kemandulan perempuan, serta memberi ruang bagi perempuan mandul dalam komunitas masyarakat. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, kualitatif deskriptif, dengan pendekatan studi literatur. Pada akhirnya, Konstruksi dalam tulisan ini menghasilkan undangan bagi pembaca untuk menerima perempuan mandul dan perempuan yang memutuskan untuk tidak memiliki anak. Serta, melihat dunia sebagai rumah bersama dalam kebersamaan chaotic. 
Uang Panai Pada Suku Bugis Makassar dan Implikasinya Bagi Orang Kristen Eliyanata Ratuk Rammang; Buce Zeth Tuhumury
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i2.246

Abstract

The purpose of this paper is to find out what the panai money wedding dowry tradition is and to know the biblical perspective on the Bugis panai money panai wedding dowry tradition and to know the implications of the panai money panai wedding dowry tradition for Christians today in Congko Village, Marioriwawo District, Soppeng Regency. The research method used in writing this thesis is to use qualitative methods, namely interviews that are managed by qualitative phenomenology. The conclusions of this study are: 1) a marriage dowry is a common thing. In the Bible, there is no prohibition on giving a dowry of marriage but also no commandment to give a dowry, so in this case, there is no absolute condition regarding a dowry of marriage; 2) one of the wedding dowry traditions is the panai money tradition which is characteristic of the Bugis people. Panai money itself is a form of appreciation to Bugis women; 3) there are differences in the implementation of the panai money tradition between Muslim Bugis and Christian Bugis; 4) the government, the church, traditional leaders, and the community all have nothing against the implementation of the panai money tradition.Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui apa itu tradisi mahar pernikahan uang panai dan untuk mengetahui perspektif Alkitab terhadap tradisi mahar pernikahan uang panai Suku Bugis serta mengetahui implikasi dari tradisi mahar pernikahan uang panai bagi orang Kristen pada masa kini di Desa Congko, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah dengan menggunakan metode kualitatif yaitu wawancara yang dikelola secara fenomenologi kualitatif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: 1) mahar pernikahan merupakan suatu hal yang biasa dijumpai. Dalam Alkitab tidak ada larangan untuk memberikan mahar pernikahan tetapi juga tidak ada perintah untuk memberikan mahar, sehingga dalam hal ini tidak ada syarat mutlak terkait mahar pernikahan; 2) tradisi mahar pernikahan yakni memberikan uang panai merupakan salah satu ciri khas Orang Bugis. Tradisi ini merupakan bentuk penghargaan kepada wanita Bugis.; 3) ada perbedaan pelaksanaan tradisi uang panai antara orang Bugis Islam dan orang Bugis Kristen; 4) pemerintah, gereja, tokoh-tokoh adat, dan masyarakat semua tidak ada yang menentang pelaksanaan tradisi uang panai.

Page 1 of 1 | Total Record : 10