cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
sutarno.haryono151@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Greget
ISSN : 1412551X     EISSN : 2716067X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Greget focuses on theoretical and empirical research in the Dance Arts. The journal welcomes the submission of manuscripts with the theoretical or empirical aspects from the following broadly categories.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 2 (2017)" : 7 Documents clear
TARI PAGAR PENGANTIN PADA UPACARA PERNIKAHAN DI KOTA PALEMBANG Damri Aprizal
Greget Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (750.001 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i2.2364

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengkaji Tari Pagar Pengantin pada upacara pernikahan di Kota Palembang. Fokus utamanya dari aspek bentuk beserta unsur-unsur penyajiannya. Penelitian ini menggunakan landasan teori bentuk dari Suzzane K. Langer. Penelitian menggunakan penelitian tekstual untuk analisisnya menggunakan analisis bentuk. Tari ini ditarikan oleh lima orang penari yaitu penari utama pengantin sebagai primadona dan ke empat penarinya sebagai dayang, dengan penari utama yaitu pengantin menari di atas nampan yang terbuat dari kuningan emas yang berada di atas pelaminan pengantin sebagai tempat pertunjukan dengan fungsi untuk memberikan sajian kepada tamu undangan. Hasil pembahasan skripsi ini menunjukan bahwa wujud tari Pagar Pengantin merupakan media penghormatan tuan rumah terhadap tamu undangan yang datang.Kata kunci: Bentuk, Unsur-unsur penyajian, Tari Pagar Pengantin. Abstract This research investigates the Pagar Pengantin dance in wedding ceremonies in the city of Palembang. The main focus is on aspects of form and elements of performance. The research uses Susanne K. Langer’s theory of form. A textual method is used to analyze the form. This dance is performed by five dancers. One dancer is the prima donna and acts as the bride, while the other four dancers are her ladies-in-waiting. The main dancer (portraying the bride) dances on top of a brass tray on the ornately decorated stage where the bride and groom are seated,performing to entertain the guests at the wedding. The results of the research show that the form of the Pagar Pengantin dance is a medium through which the host honours the guests who attend the wedding ceremony.Keywords: Form, elements of performance, Pagar Pengantin dance.
IMPLIKATUR DAN DAYA PRAGMATIK DALAM SENI PERTUNJUKAN Sutarno Haryono
Greget Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (916.643 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i2.2361

Abstract

Abstrak Pertuturan antara manusia yang satu dengan yang lain, memerlukan daya pragmatik atau paling tidak kekuatan dialog yang sama memiliki budaya yang sama. Pemahaman implikatur akan lebih mudah jika penutur dan mitra tutur telah berbagi pengalaman. Pengalaman dan pengetahuan tentang konteks tuturan yang melingkupi ujaran atau kalimat- kalimat yang disampaikan oleh penutur. Mitra tutur sulit untuk memahami dan menangkap maksud penutur yang terimplikasikan atau tersirat dari tuturan penutur, jika tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang dunia di sekitarnya. Interpretasi dalam memahami kalimat ataupembicaraanharus memiliki kesamaan makna, apa yang dibicarakan diperlukan latar belakang budaya yang tidak berbeda. Dengan demikian akan terjadi komunikasi implikatur yang sama dan tidak akan terjadi interpretasi yang berbeda serta pembicaraan akan terjalin dengan baik.Kata kunci: Pertuturan, Implikatur, Daya Pragmatik, dan Budaya. Abstract The speech that takes place between people requires pragmatic force, or at least an equal dialogic force and a similar culture. The understanding of implicature becomes easier if the speaker and interlocutor have a shared experience –experienceand knowledge about the context which surrounds the speech or sentences uttered by the speaker. The interlocutor will have difficulty understanding or grasping the implicit meaning contained in the speaker’s utterance if he does not have a similar knowledge or experience of the world around him. In order to interpret or understand a sentence or utterance, the interlocutor must have a similar understanding of what is being said as well as a similar cultural background. In this way, the communication will have the same implicature and there will be no difference in interpretation, thus ensuring a conversa- tion with a good interaction.Keywords: Speech, Implicature, Pragmatic Force, and Culture.
PERANAN OTORITAS ESTETIS PADA TARI GOLEK LAMBANGSARI DI PURA MANGKUNEGARAN Endah Purwaning Tyas
Greget Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1065.167 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i2.2358

Abstract

- Abstrak Tari Golek Lambangsari merupakan tarian yang berkembang di dalam Pura Mangkunegaran yang pada mulanya berasal dari Keraton Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan teori otoritas dari Max Weber dan RM. Pramutomo, konsep bentuk dari Y. Sumandiyo Hadi dan Effort-Shape dari Laban. Penulisan skripsi ini menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan otoritas estetis memberikan warna pada Tari Golek Lambangsari. Warna yang dimaksudkan meliputi teknik, motif gerak dan rasa. Hal ini dapat dilihat dari bentuk dan iringannya. Bentuk Tari Golek Lambangsari di Pura Mangkunegaran sudah mengalami perubahan proses artistik, hal ini dapat dilihat dari bentuk gerak yang telah mengalami modifikasi. Selain itu perubahan pada iringan tari yang memiliki rasa iringan gaya Surakarta. Perubahan bentuk Tari Golek Lambangsari ini dikarenakan adanya peranan otoritas estetis yang dijalankan oleh Mangkunegara VII.Kata kunci: Tari Golek Lambangsari, bentuk tari, peranan otoritas estetis. Abstract Golek Lambangsari is a dance that first originated in the Yogyakarta Keraton but subsequently developed in the Mangkunegaran Palace. This research uses Max Weber and RM. Pramutomo’s theories of authority, Y. Sumandiyo Hadi’s concept of form, and Laban’s Effort- Shape theory. The dissertation is written using a qualitative method. The results of the research show that the role of aesthetical authority colours the Golek Lambangsari dance in aspects of technique, motifs of movement, and ambience. This is evident in both the form and the musical accompaniment of the dance. The form of Golek Lambangsari in the Mangkunegaran Palace has undergone a process of artistic change, as seen in the modified form of the movements. The musical accompaniment has been altered to adopt a Surakarta-style feel. The changes that have influenced the form of the Golek Lambangsari dance are due to the role of aesthetical authority implemented by Mangkunegara VII.Keywords: Golek Lambangsari dance, dance form, role of aesthetical authority.
ANALISIS ESTETIS TARI BROMASTRO KARYA WAHYU SANTOSO PRABOWO S Sumargono
Greget Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1236.231 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i2.2363

Abstract

Abstrak Penelitianini mengungkapdan mengidentifikasi estetika ataukeindahantari Bromastro karya Wahyu Santoso Prabowo dengan titik perahatian pada analisis unsur- unsur tari dan bentuk hubungan sebagai pembentukan keindahan tari.Oleh karena itudipaparkan diskripsi Tari Bromastroyang berhubungan dengan musik tari dan rasa gerak tarinya untuk diidentifikasi, sehingga kesan harmoni muncul dalam koreografi tari tersebut. Analisis estetik ini juga didasarkan pada konsep kepenarian tari tradisi Jawa gaya Surakarta baik teknik maupun rasa sebagai koridornya. Konsep tersebut meliputi pacak, pancat, lulut, luwes, ulat, wiled, irama, dan gendhing yang juga dikenal dengan konsep Hastha Sawanda. Kata kunci: Tari Bromastro, gendhing, dan estetik Abstract This writting will disclose and identyfy the aesthetics of Bromastro dance by aplying a special attentionto the analysis of dance’s elementsand the relations of one element to the others. The notation patterns of the music of the dance were describet in detail so that it was posible to identify the tempo, laya, rhythm, musical taste and the pattern of kendangan mungkus. The result is that we know the choreography of Bromastro dance has harmonious impresion. This aestetic analysis was based on the aesthetic concept of javanese traditional dancing of Surakarta style,both the technique and its taste. The concept covers pacak, pancat, lulut, luwe, ulat, wiled, rhythm and gendhing which are known as hastha sawanda.Keywords: Bromastro, gendhing, and aesthetic.
FUNGSI TARI LENGGER PUNJEN DALAM UPACARA NYADRAN TENONGAN DI DUSUN GIYANTI DESA KADIPATEN KECAMATAN SELOMERTO KABUPATEN WONOSOBO Diajeng Rahma Yusantari
Greget Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1348.618 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i2.2359

Abstract

Abstrak Tari Lengger Punjenmerupakan tari berpasangan laki-laki dan perempuan yang hidup dan berkembang di Dusun Giyanti Kabupaten Wonosobo. Di Dusun Giyanti, Kabupaten Wonosobo setiap tahunnya selalu mengadakan Upacara Nyadran Tenongan yang didalamnya selalu dipentaskan tari Lengger Punjen. Mayarakat percaya jika tidak melaksanakan Upacara Nyadran Tenongan akan terjadi malapetaka seperti penyakit dan gagal panenkarena mereka percaya denganadanya roh leluhur yang menjaga Dusun Giyanti. Landasan teori bentuk dari Suzane K. Langer dan teori fungsi Anthony Shay. Penelitian ini bersifat kualitatif. Tari Lengger Punjen disajikan dalam Upacara Nyadran Tenongan memiliki fungsi sebagai cerminan dan legitimasi tatanan sosial, wahana ekspresi ritus yang bersifat sekuler dan religious, hiburan atau kegiatan rekreasional, saluran maupun pelepas kejiwaan, cerminan nilai estetik, dan sebagai cerminan pola kegiatan ekonomi.Kata kunci: Tari Lengger Punjen, bentuk dan fungsi. Abstract The Lengger Punjen dance is a duet, performed by a male and female dancer, which devel- oped and exists in the Giyanti hamlet of Wonosobo. Each year, in this hamlet, the Nyadran Tenongan ceremony is held and the Lengger Punjen dance is always performed during this ceremony. The local community believes that if they fail to hold the Nyadran Tenongan ceremony, they may be afflicted by disaster, such as illness or a failed harvest, because the spirits of their ancestors guard the wellbeing of the Giyanti hamlet. The research is qualitative and is based on Susanne K. Langer’s theory of form and Anthony Shay’s theory of function. The function of the Lengger Punjen dance performed at the Nyadran Tenongan ceremony is a reflection of the legitimacy of the social order, a vehicle of ritual expression that is both secular and religious in nature, a form of entertainment or a recreational activity, a channel for spiritual release, a reflection of aesthetical values, and a reflection of a pattern of economic activities.Keywords: Lengger Punjen dance, form, and function.
PROSES KREATIF EKO SUPRIYANTO DALAM KARYA TARI CRY JAILOLO Pipin Riyanto
Greget Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1031.476 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i2.2360

Abstract

Abstrak Penulisan ini mengungkap tentang proses kreatif Eko Supriyanto dalam karya tari Cry Jailolo. Skripsi ini menggunakan metode penelitain Kualitatif dengan pendekatan koreografi dan deskriptif analitis, dengan mendiskripsikan koreografi tari Cry Jailolo mulai dari gerak, pola lantai, iringan, rias dan busana, dan waktu dan tempat pertunjukan. Untuk prosses kreatif menggunakan teori Alma M. Hawkins. Untuk membahas masalah bentuk pertunjukan menggunakan teori Soedarsono Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karya tari Cry Jailolo ini merupakan karya yang digarap Eko Supriyanto melalui proses kreatif dengan tahapan-tahapan yaitu riset, training, conditioning, rehearseal dan performing.Kata kunci: Proses kreatif dan koreografi tari Cry Jailolo Abstract This paper discusses the creative process of Eko Supriyanto in the Cry Jailolo dance. The dissertation uses a qualitative research method with a choreographic and analytical descriptive approach, describing the choreography of the Cry Jailolo dance with regard to aspects of movement, floor pattern, accompaniment, make-up and costume, and time and place of performance. Alma M. Hawkins’ theory is used to discuss the creative process and Soedarsono’s theory is used to discuss the form of the performance. The results of the research show that the Cry Jailolo dance was composed by Eko Supriyantoby means of a creative process which involved the stages of research, training, conditioning, rehearsing, and performing.Keywords: Creative process and choreography of the Cry Jailolo dance.
KESENIAN RAKSASA DALAM UPACARA BERSIH DESA DI DESA SALAMREJO KECAMATAN BINANGUN KABUPATEN BLITAR Rifa Fitriana
Greget Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1697.29 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i2.2362

Abstract

Abstrak Kesenian Raksasa adalah kesenian rakyat yang disajikan dalam upacara bersih desa sejak tahun 2005. Kesenian Raksasa ada karena kepercayaan masyarakat Desa Salamrejo mengenai kehadiran Eyang Genderuwo Senin sebagi danyang penunggu desa. Kesenian ini dipertunjukan dalam bentuk arak-arakan dan memakai kostum butho. Penelitian ini bersifat kualitatif menggunakan pendekatanetnokoreologi dengan metode etnografi tari yang ditulis secara deskriptif analisis. Hasil penelitian ini dapat diperoleh gambaran bahwa kesenian Raksasa dalam upacara bersih desa, memiliki arti sebagai sarana penyempurna dari upacara bersih desa. Bagi masyarakat desa Salam rejo hingga sekarang percaya bahwa upacara bersih desa dengan menyajikan kesenian Raksasa, desa mereka dapat terlindungi dari segala musibah dan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.Kata kunci: Raksasa, upacara, bentuk dan fungsi. Abstract Raksasa is a folk art that has been performed in village cleansing rituals since 2005. The art of Raksasa exists because of the belief of the Salamrejo village community in the presence of Eyang Genderuwo Senin, a spirit (danyang)who guards the village. The performance takes the form of a procession and uses the costume of an ogre or butho. The research is qualitative, using an ethnochoreological approach with an ethnographical dance method, and is written in the form of a descriptive analysis. From the results of the research it can be seen that the art of Raksasa in village cleansing ceremonies is significant as a medium for perfecting the ceremony. The commu- nity in Salamrejo still believes that holding a village cleansing ceremony with a performance of Raksasa will protect them from all kinds of disaster and help improve the economic situation of the community.Keywords: Raksasa, ceremony, form, and function.

Page 1 of 1 | Total Record : 7