cover
Contact Name
Ahmadi Riyanto
Contact Email
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Phone
+628111166998
Journal Mail Official
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Editorial Address
Gedung Widyasatwaloka, Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI Jl. Raya Jakarta-Bogor Km 46, Cibinong 16911
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology)
ISSN : 16930339     EISSN : 25798634     DOI : https://doi.org/10.32491
Aims and Scope Aims: Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology) aims to publish original research results on fishes (pisces) in fresh, brackish and sea waters including biology, physiology, and ecology, and their application in the fields of fishing, aquaculture, fisheries management, and conservation. Scope: This journal publishes high-quality articles dedicated to all aspects Aquaculture, Fish biodiversity, Fisheries management, Fish diseases, Fishery biotecnology, Moleculer genetics, Fish health management, Fish biodiversity.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013" : 10 Documents clear
Ichthyofauna distribution in downstream region of Opak River, Yogyakarta [Persebaran iktiofauna di bagian hilir Sungai Opak, Yogyakarta] Djumanto Djumanto; Maria Intan P. Devi; Eko Setyobudi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v13i2.97

Abstract

Opak River, a river upstream on the slopes of Merapi Mount and empties into Indian Ocean, has a diverse aquatic biotic such as fishes. The aim of this study was to determine the species, abundance, and distribution of fishes in the downstream region of Opak River in Yogyakarta. The length of Opak River was approximately 60 km, the length in upper and downstream region around 30 km each. There were five sampling stations, and the station 1 was located in 5 km away from the river mouth, then followed by station 2 until 5, with the distance between stations around of 4-6 km. Fish sampling was conducted every week from May to June 2012 with six replicates, using electrofishing operated by local fishermen. The result showed that there were 2295 individuals of fishes comprising of 7 orders, 23 families, 30 genera, and 35 species. Of them, there were 26 freshwater species, 5 estuarine species, 3 marine species, and 1 catadromous species. Estuarine and marine species could penetrate into freshwater as far as about 10 km and 5 km from the river mouth, respectively. The most abundant family was Cyprinidae, and the highest individual abundance was Barbonymus sp., followed by Puntius binotatus and Rasbora argyrotaenia. The length distribution among fishes ranged between 2.2 and 36.0 cm, with an average of 9.12 cm. The shortest fish was Sicyopterus longifilis, while the longest was Anguilla marmorata. The weight distribution among fishes ranged from 0.07 to 505.0 g, with an average of 14.9 g. Abstrak Sungai Opak yang berhulu di lereng Gunung Merapi dan bermuara di Samudera Hindia, memiliki biota air yang bera-gam jenis, misalnya ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyajikan informasi spesies, kelimpahan, dan distribusi ikan di wilayah hilir Sungai Opak di Yogyakarta. Panjang Sungai Opak sekitar 60 km, panjang di wilayah hulu dan hilir masing-masing sekitar 30 km. Pengambilan contoh ditetapkan sebanyak lima stasiun yang dimulai dari muara, yaitu stasiun 1 terletak 5 km dari muara sungai, kemudian diikuti oleh stasiun 2 sampai 5, dengan jarak antar stasiun sekitar 4-6 km . Pengambilan contoh ikan dilakukan setiap minggu dari Mei hingga Juni 2012 dengan enam ulangan, menggu-nakan alat kejut yang dioperasikan oleh nelayan setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah ikan hasil tangkapan diperoleh sebanyak 2295 individu yang berasal dari 7 ordo, 23 famili, 30 genera, dan 35 spesies. Berdasar-kan habitatnya, ada sebanyak 26 spesies air tawar, 5 spesies air payau, 3 spesies air asin , dan 1 spesies katadromus. Spesies ikan air payau mampu bergerak masuk ke sungai yang tawar sejauh 10 km dari muara, sedangkan spesies ikan air asin bergerak sejauh 5 km dari muara. Famili yang memiliki kelimpahan spesies paling banyak adalah Cyprinidae dan kelimpahan individu tertinggi adalah Barbonymus sp. kemudian diikuti oleh Puntius binotatus dan Rasbora argyrotaenia. Distribusi panjang ikan berkisar antara 2,2 dan 36,0 cm, dengan rata-rata 9,12 cm. Ikan terpendek adalah Sicyopterus longifilis, sedangkan terpanjang adalah Anguilla marmorata. Distribusi bobot individu ikan berkisar 0,7505,0 g , dengan rata-rata 14,9 g.
Species composition of glass eels (Anguilla spp.) recruiting to the Palu River, Central Sulawesi [Komposisi spesies glass eels (Anguilla spp.) yang beruaya di muara Sungai Palu, Sulawesi Tengah] Novalina Serdiati; Samliok Ndobe; Abigail Moore; Deddy Wahyudi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v13i2.98

Abstract

Demand for tropical eel seed has been increased and many tropical eel populations are under pressure. To conserve eel biodiversity and manage eel populations sustainably, it is necessary to identify eel species and their recruitment patterns at regional and watershed scales. The research objective was to determine the species composition and temporal recruitment patterns of glass eels recruiting to Palu River in Central Sulawesi. Glass eels sampling were conducted in January-April 2009, May-November 2010 and April-December 2011. Identification under anaesthetic (15-17.5 ppm clove oil solution) was based mainly on the number of ano-dorsal vertebrae (ADV). Species composition was dominated by two commercially species, Anguilla marmorata and A. bicolor pacifica with substantial variation and no clear temporal patterns. Specimens of other species that important from conservation and biodiversity aspects were present at each month but cannot be accurately identified using the ADV method. DNA analysis method is required to identify these specimens. Abstrak Permintaan benih ikan sidat tropis meningkat dan banyak populasi sidat tropis telah mengalami tekanan. Untuk meles-tarikan keanekaragaman hayati ikan sidat dan mengelola populasi sidat secara berkelanjutan, perlu identifikasi spesies maupun pola rekrutmennya pada skala regional maupun daerah aliran sungai. Tujuan penelitian adalah menentukan komposisi jenis dan pola rekrutmen glass eels secara temporal di Sungai Palu, Sulawesi Tengah. Sampling dilakukan pada bulan Januari-April 2009, Mei-November 2010, dan April-Desember 2011. Identifikasi contoh ikan dalam kea-daan pingsan (menggunakan larutan minyak cengkeh 15-17.5 ppm) terutama didasarkan pada jumlah anodorsal vertebrae (ADV). Komposisi jenis didominasi oleh dua spesies bernilai ekonomis, yaitu Anguilla marmorata dan Anguilla bicolor pacifica, namun sangat bervariasi tanpa pola musiman atau tahunan yang jelas. Setiap bulan terdapat beberapa spesimen dari spesies lain, yang penting dari aspek konservasi dan biodiversitas, namun tidak dapat diidentifikasi secara pasti dengan metode ADV. Untuk mengidentifikasi spesimen tersebut dibutuhkan metode analisa genetik (DNA).
Biologi reproduksi ikan belanak (Moolgarda engeli, Bleeker 1858) di Pantai Mayangan, Jawa Barat [Reproduction and spawning patterns of the mullet (Moolgarda engeli, Bleeker 1858) in Mayangan Coastal Waters, West Java] Kanti Nuti Wigati; Lenny S. Syafei
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v13i2.99

Abstract

The aim of this research was to study reproduction and spawning patterns of the mullet (Moolgarda engeli, Bleeker 1858). This research was conducted in May-October 2011 and fish were captured by using trammel net with mesh size of 0.75; 1.5; 2.5 inch. Total fish caught during research were 226 fish comprising 146 males and 80 females. The range of total length and total weight of fish sample were 129-230 mm and 20.55-99.65 g. Sex ratios of mature fish for male and female was 1:1.4 among mature fish. Condition factors ranged from 0.38 to 1.69. The mature fish with the highest gonadosomatic index (GSI) was found in August. Total fecundity of mullet ranged from 63,627-132,106 eggs and this species was categorized as total spawner. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji biologi reproduksi dan pemijahan ikan belanak (Moolgarda engeli, Bleeker 1858). Penelitian ini dilakukan pada Mei-Oktober 2011 dan ikan ditangkap dengan menggunakan alat tangkap jaring berlapis dengan ukuran mata jaring 0,75; 1,5; 2,5 inci. Total ikan contoh yang tertangkap selama penelitian berjumlah 226 ekor, terdiri atas 146 ekor ikan jantan dan 80 ekor ikan betina. Kisaran panjang total dan bobot total ikan yang tertangkap masing-masing adalah 129-230 mm dan 20,55-99,65 g. Nisbah kelamin ikan jantan dan betina yang matang gonad adalah 1:1,4. Faktor kondisi ikan belanak berkisar antara 0,38-1,69. Ikan yang matang gonad dengan IKG ter-tinggi berada pada bulan Agustus. Fekunditas total berkisar 63.627-132.106 butir dan spesies ini dikelompokkan seba-gai ikan pemijah serempak.
Struktur trofik komunitas ikan di Sungai Cisadea Kabupaten Cianjur, Jawa Barat [Trophic structure of fish community in Cisadea River, Cianjur, Jawa Barat] Epa Paujiah; Dedy Duryadi Solihin; Ridwan Affandi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v13i2.100

Abstract

Interactions in fish community in an ecosystem can be assessed through food habits analysis. This study aims to assess the trophic structure of fish communities in Cisadea River. Fishes were collected using active and passive fishing gear at six locations representing upstream, midstream, and downstream areas at the dry season (June-November 2012). During the observation, sample was caught of 666 individuals consists of 48 species. A total of 250 individuals were analyzed for their food composition and digestive tract morphology to determine their trophic groups. Based on large group of organisms, fish community in Cisadea River consists three guild is carnivorous, omnivorous and herbivorous fish which dominated by carnivore and omnivore fish. Based on food organism taxon, the fishes were assigned to four groups i.e. insectivore, phy-toplanktivore, crustacivore, and molluscivore, with eight groups of food organisms (phytoplankton, insects, macrophytes, crustaceans, mollusc, fish, protozoa, and rotifers). In the upstream and midstream areas, the primary diet was insects and algae, whereas in the downstream the diet consists of algae, crustaceans, and insects. Abstrak Interaksi yang terjadi pada suatu komunitas ikan dapat dikaji melalui analisis makanan alaminya. Penelitian ini bertu-juan untuk mengkaji struktur trofik komunitas ikan di Sungai Cisadea. Ikan dikoleksi dengan menggunakan alat tang-kap aktif dan pasif di enam lokasi yang mewakili wilayah bagian hulu, tengah dan hilir selama musim kemarau (Juni-November 2012). Selama pengamatan, sampel yang diperoleh sebanyak 666 individu yang termasuk dalam 48 spesies. Sebanyak 250 individu dianalisis komposisi makanannya dan morfologi saluran pencernaannya untuk mengetahui ke-lompok trofik pada komunitas ikan tersebut. Berdasarkan golongan besar organismenya, komunitas ikan di Sungai Cisadea terdiri atas tiga kelompok, yaitu karnivora, omnivora, dan herbivora dengan kelompok ikan yang mendominasi adalah ikan omnivora dan karnivora. Berdasarkan takson organisme makanannya, komunitas ikan di Sungai Cisadea dibagi menjadi empat kelompok, yaitu insektivora, fitoplanktivora, krustasivora, dan moluskivora. Kelompok takson organisme makanannya ialah fitoplankton, insekta, makrofita, krustase, moluska, ikan, protozoa, dan rotifer. Di wilayah sungai bagian hulu dan tengah makanan utama ikan terdiri atas insekta dan alga, sedangkan di bagian hilir terdiri atas alga, krustase, dan insekta.
Kloning promoter P-actin ikan mas, Cyprinus carpio Lin. 1758 dan analisis fungsionalnya menggunakan gen target protein pendaran hijau (GFP) Andi Aliah Hidayani; Odang Carman; Alimuddin Alimuddin
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v13i2.101

Abstract

Promoter in the expression vector plays an important role on regulating of gene expression in transgenic fish. In fish transgenesis, researcher convinced that the use of all-fish expression vector is safety and prospective. The study was performed to isolate P-actin promoter, the promoter which has ubiquitous, constitutive, housekeeping characteristics, of common carp as a first step to construct all-common carp expression vector. Common carp P-actin promoter (ccBA) was isolated using PCR method with FBP1, RBP1, and RBP2 primers. Sequencing was performed using ABI PRISM 3100 machine, and analysis of sequences was conducted using GENETYX version 7 software. The results of sequence analysis showed that the length of DNA fragment obtained was approximately 1.5 kb. Results of homology with P-actin promoter sequence of a gene bank database (Accession No.: M24113) was 97.5%. The evolutionary conserved of transcription factor for P-actin promoter including CCAT, CArG, and TATA boxes were found in the sequence. Ubiquitous and higher expression of green fluorescent protein driven by ccBA promoter in muscle of common carp larvae was detected. It is most likely that the isolated sequence is a common carp P-actin promoter. Abstrak Promoter dalam vektor ekspresi berperan penting dalam mengatur ekspresi gen pada ikan transgenik. Dalam transgenesis ikan, peneliti yakin bahwa penggunaan vektor ekspresi semua ikan aman dan prospektif. Penelitian ini dilakukan untuk mengisolasi promoter P-aktin, promoter yang memiliki karakteristik ubiquitous, constitutive, house keeping, dari ikan mas sebagai langkah awal untuk mengkonstruksi vektor ekspresi semua ikan mas. Promoter P-aktin ikan mas (ccBA) diisolasi menggunakan metode PCR dengan primer FBP1, RBP1, dan RBP2. Sequensing dilakukan dengan menggunakan mesin ABI PRISM 3100, dan analisis sekuen dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak GENE-TYX versi 7. Hasil analisis sekuen menunjukkan bahwa panjang fragmen DNA yang diperoleh adalah sekitar 1,5 kb. Hasil homologi dengan sekuen promoter P-aktin dari pangkalan data bank gen (No. Aksesi: M24113) adalah sebesar 97,5%. Faktor transkripsi yang tetap secara evolusioner untuk promoter P-aktin promoter termasuk CCAT, CArG, dan boks TATA ditemukan dalam sekuen. Ubiquitous dan ekspresi tertinggi protein pendaran hijau (GFP) dikendalikan oleh promoter ccBA dalam otot larva ikan mas yang dideteksi. Dengan demikian, kemungkinan besar bahwa sekuen yang terisolasi adalah promoter P-aktin ikan mas.
Performa ikan hias rainbow kurumoi (Melanotaenia parva Allen, 1990) dengan pemberian maggot [Performance of ornamental fish Lake Kurumoi rainbowfish (Melanotaenia parva Allen, 1990) fed using maggot] Yogi Himawan; I Wayan Subamia
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v13i2.102

Abstract

Kurumoi rainbowfish (Melanotaenia parva Allen, 1990) is an Indonesian ornamental fish which has quite attractive color. The objective of eksperiment is to determine the performance of rainbow kurumoi fed using maggot. Treatment design used completely randomized design (CRD), in the form of feeding: A (pellet), B (maggot), and C (maggot fish silage). Each treatment was repeated three times. Rainbow Kurumoi that used have an average weight of 9.1±0.1 g and standard length of an average of 3.5±0.02 cm, maintained solids tocking 10 fish per container in containers measuring length x width x height is 50 cm x 40 cm x 30 cm and filled with water as much as ±20 L with a stagnant system for 21 days. Feeding as much as 10% of the biomass was given twice a day. The results showed that the highest growth achieved in treatment C with final weights and average length of raw 15.23±0.5 g and 5.2±1.0 cm. Survival rate of each treatment had similar results which amounted to100%. Water quality parameters during the maintenance period are still in the normal range. Abstrak Ikan hias rainbow kurumoi (Melanotaenia parva Allen, 1990) merupakan spesies asli Indonesia yang memiliki warna cukup menarik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis performa ikan hias rainbow kurumoi yang diberi pa-kan maggot. Perlakuan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), berupa pemberian pakan: A (pelet), B (maggot), dan C (maggot silase ikan). Tiap perlakuan diulang tiga kali. Ikan rainbow kurumoi dengan bobot rata-rata 9,1±0,1 gram dan panjang baku rata-rata 3,5±0,02 cm, dipelihara dengan padat tebar 10 ekor per wadah dalam wadah berukuran panjang x lebar x tinggi adalah 50 cm x 40 cm x 30 cm dan diisi air sebanyak ± 20 L dengan sistem stagnan selama 21 hari. Pemberian pakan sebanyak 10% dari biomassa dua kali setiap hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertum-buhan tertinggi dicapai pada perlakuan C dengan bobot akhir dan panjang baku rata-rata 15,23±0,5 gram dan 5,2±1,0 cm. Sintasan tiap perlakuan memiliki hasil yang sama yakni sebesar 100%. Parameter kualitas air selama masa pemeliharaan masih berada pada kisaran normal.
Iktiofauna di perairan hutan tropis dataran rendah, Hutan Harapan Jambi [Ichthyofauna of lowland rainforest waters, Harapan Rainforest, Jambi] Tedjo Sukmono; Dedy Duryadi Solihin; M. F. Rahardjo
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v13i2.103

Abstract

Harapan Rainforest Jambi, the first restoration ecosystem area on lowland rainforest in Indonesia, has various types of aquatic ecosystem. Research was conducted in September 2012 to July 2013 aimed to assess the diversity of freshwater fish species that naturally exist in Harapan rainforest. Fish sampling conducted on eight water bodies in the area of Harapan Rainforest base on different habitat typology by using nets, gill nets, scoop net, traditional trap, and fishhook. The results showed the diversity of fish in the Harapan Rainforest consisting of 123 fish species, 25 families, and 52 genera. Cyprinidae has much species (59 species of fish). Based on the category of IUCN Red List conservation status of fish in the Harapan Rainforest are divided into 5 categories: not evaluated 74 species, data deficient 4 species, least concern 41 species, nearly threatened 3 species, and endangered 1species. Abstrak Hutan Harapan Jambi merupakan kawasan restorasi ekosistem pada areal hutan hujan tropis dataran rendah pertama di Indonesia, memiliki berbagai tipe ekosistem perairan. Penelitian dilakukan pada bulan September 2012 hingga Juli 2013 bertujuan untuk mengkaji keanekaragaman spesies ikan air tawar alami yang ada di areal tersebut. Pengambilan contoh ikan dilakukan pada delapan badan air di areal Hutan Harapan berdasarkan tipologi habitat menggunakan jala, jaring insang, sudu, serok, seruau, bubu dan pancing. Hasil penelitian menunjukkan keanekaragaman ikan di Hutan Harapan terdiri atas 123 spesies ikan, 25 famili, dan 52 genera. Famili Cyprinidae mempunyai spesies terbanyak (59 spesies). Berdasarkan kategori status konservasi IUCN Red List ikan di Hutan Harapan terbagi atas lima kategori yaitu: belum dievaluasi 74 spesies, informasi kurang 4 spesies, berisiko rendah 41 spesies, hampir terancam 3 spesies, dan genting 1 spesies.
Variasi genetik populasi ikan brek (Barbonymus balleroides Val. 1842) sebagai dampak fragmentasi habitat di Sungai Serayu [Genetic variation of population barb (Barbonymus balleroides Val. 1842) as habitat fragmentation impact in Serayu River] Bahiyah Bahiyah; Dedy Duryadi Solihin; Ridwan Affandi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v13i2.104

Abstract

The alteration of environmental characteristics and population separation caused by long term river barrage may affect morphological and genetic variation. This research aimed to ensure that the barb of this research is Barbonymous balleroides and to analyze genetic variation of barb at various habitats (upstream, reservoir, and downstream zones) in Serayu River, Banjarnegara. This research was conducted through DNA isolation and amplification by PCR and sequencing, along with water quality measurement. Result of phylogenetic tree showed that Barbonymus balleroides separated from its’ outgroup (Puntius orphoides dan Barbonymus gonionotus) as 6.34%. Genetic intraspecies distance of B. balleroides showed two clusters by similarity 2.0%. Barb population in Serayu River was identified as B. balleroides based on 710 bp fragment length of CO1 gene. Mrica reservoir development caused habitat fragmentation in Serayu River and increased genetic variation of barb population. Barb of downstream zone formed separate cluster from barb of reservoir and upstream zones marked basa cytosine (C) to downstream zone compared reservoir and upstream zone. Abstrak Perubahan karakteristik lingkungan dan pemisahan populasi ikan akibat pembendungan sungai dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan variasi morfologi (morfometrik) dan genetik. Penelitian ini bertujuan untuk memastikan bahwa ikan brek yang dikaji pada penelitian ini adalah spesies Barbonymus balleroides dan mengkaji variasi ge-netik ikan brek pada berbagai habitat (hilir, waduk dan hulu) di Sungai Serayu wilayah Kabupaten Banjarnegara. Pe-nelitian meliputi isolasi dan amplifikasi DNA dengan PCR dan sekuensing, serta pengukuran parameter lingkungan. Hasil penelitian dari pohon filogenetik menunjukkan bahwa spesies ikan brek (Barbonymus balleroides) dan out gro-upnya (Puntius orphoides dan Barbonymus gonionotus) berbeda dengan jarak genetik ‘P’ sebesar 6,34%. Jarak genetik intraspesies B. balleroides memperlihatkan terdapat dua klaster dengan jarak perbedaan 2,0%. Populasi ikan brek yang dianalisis termasuk ke dalam spesies B. balleroides berdasarkan panjang fragmen 710 bp gen CO1. Pembangunan Wa-duk Mrica menyebabkan terjadinya fragmentasi habitat di Sungai Serayu. Hal ini mengakibatkan variasi genetik pada ikan brek. Ikan brek yang mendiami zona bawah waduk membentuk klaster yang terpisah dari ikan brek yang mendiami zona waduk dan atas waduk ditandai adanya basa sitosin (C) pada zona bawah dibandingkan zona lainnya.
Tampilan warna ikan maanvis, Pterophyllum scalare Schultze 1823, yang diberi pakan tepung udang dan tepung wortel [Color performance of angel fish, Pterophyllum scalare Schultze 1823 that fed shrimp meal and carrot meal] Agus Kurnia; Hamsah Hamsah; Wellem H. Muskita
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v13i2.105

Abstract

The study was conducted to investigate the effect of shrimp head meal and carrot meal in the diet on the skin coloration of maanvis (Pterophyllum scalare). Measurement of skin coloration was performed after the fish fed four kinds of diet treatment supplied with: 40 g shrimp head meal/100 g diet (Diet A); 40 g carrot meal/100 g diet (Diet B); 20 g shrimp head meal + 20 g carrot meal / 100 g diet (Diet C) and one diet without add pigment source as a control diet. The fish fed three times a day for 40 days rearing. Measurement of skin coloration of fish was done in two times (seventh day and thirty fifth day of rearing) by using score sheet. In the seventh day of experiment, the skin color of maanvis in all of groups showed dominantly of silver color (45-92%) followed by yellow color (3-9%). Black color of the fish in A and D groups were 5% and 8%, while the fish in B and C group were 48% and 37%. In the end of experiment, the skin color of fish fed diet contained pigment (diet A, diet B, and diet C) showed increasingly in black color (39-61%) and yellow color (12-19%), while silver color of the fish fed diet contained pigment were decreasing between 20-45%. In con-clusion, the shrimp head meal and carrot meal supplemented in the diet could improve the skin color of maanvis. Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh tepung kepala udang dan tepung wortel sebagai sumber pewarna alami dalam pakan buatan terhadap warna ikan maanvis (Pterophyllum scalare). Penilaian persentase setiap jenis warna dan tingkat kecerahan warna ikan maanvis dilakukan setelah ikan uji diberi pakan yang mengandung tepung kepala udang dan tepung wortel dengan komposisi masing-masing perlakuan A (40 g tepung kepala udang per 100 g pakan), perlakuan B (40 g tepung wortel per 100 g pakan), perlakuan C (campuran 20 g tepung kepala udang dan 20 g tepung wortel per 100 g pakan), perlakuan D(kontrol) diberi pakan komersial dengan merek Takari selama 35 hari. Penilaian warna ikan maanvis dilakukan sebanyak dua kali yaitu penilaian awal (setelah 7 hari masa adaptasi pakan) dan penilaian akhir setelah 35 hari masa pemeliharaan. Penilaian warna ikan maanvis dilakukan dengan menggunakan Score Sheet yaitu suatu metode pengujian organoleptik berdasarkan warna dengan melibatkan panelis. Hasil penilaian menunjukkan bahwa persentase warna ikan maanvis pada awal penelitian pada semua perlakuan relatif didominasi oleh warna silver (berkisar 45-92%), warna kuning berkisar 3-9%, warna hitam pada perlakuan A dan D masing-masing 8% dan 5%, se-mentara warna hitam pada perlakuan B dan C masing-masing 48% dan 37%. Pada akhir penelitian, warna hitam dan kuning pada ikan maanvis yang diberi pakan perlakuan persentasenya meningkat masing-masing berkisar 39-61% dan 12-19% sedangkan warna silver persentasenya turun menjadi 20-45%. Hasil ini menyimpulkan bahwa pemberian kom-binasi tepung kepala udang dan tepung wortel dapat meningkatkan performa warna kulit ikan maanvis.
Revitalisasi pengelolaan budi daya perikanan karamba di Sungai Riam Kanan [Revitalization of fish cage aquaculture management in Riam Kanan Stream] Mijani Rahman
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v13i2.106

Abstract

Fish farming systems and floating net (KJA) at Riam Kanan Stream in South Kalimantan Province has cultivated by public since the 1980s. The main problem of fish cage aquaculture in the Riam Kanan Stream is the high cost production and high mortality. Late in 2012 there was a massive fish dying in floating nets. Conditions of hypoxia and hyper ammonification is a major cause of fish dying as a result that accumulation of uneaten artificial feed and fish feces that fused to the bottom waters. Feeding arrangement and space allocation for the number of fish cage placement is the right solution for the management of sustainable fish cage aquaculture. The addition of the frequency and length of feeding time will increase the effectiveness of the artificial feed used so that to reduce the load of organic waste. The number of units that can be operated at 100 m of stream length based of Riam Kanan Stream carrying capacity as 63-64 units. Abstrak Usaha budi daya ikan sistem karamba dan karamba jaring apung (KJA) di Sungai Riam Kanan Provinsi Kalimantan Se-latan telah diusahakan masyarakat sejak tahun 1980an. Permasalahan utama yang dihadapi pembudidaya ikan karamba adalah biaya produksi dan mortalitas ikan peliharaan yang tinggi. Akhir tahun 2012 terjadi kematian massal ikan budi daya dalam karamba/KJA. Kondisi hipoksia dan hiperamonifikasi merupakan penyebab utama kematian massal ikan sebagai akibat akumulasi pakan buatan yang tidak termakan oleh ikan mengendap di dasar perairan menyatu dengan kotoran ikan. Pengaturan pemberian pakan dan alokasi jumlah dan ruang untuk penempatan karamba merupakan solusi yang tepat untuk pengelolaan budi daya perikanan karamba berkelanjutan. Penambahan frekuensi dan lama waktu pemberian pakan akan meningkatkan efektifitas pemanfaatan pakan buatan sehingga dapat mengurangi beban limbah organik. Jumlah unit karamba yang dapat diusahakan pada panjang sungai 100 m sesuai dengan daya dukung perairan Sungai Riam Kanan yang ditetapkan dari kapasitas daya dukung sebanyak 63-64 unit.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 22 No 2 (2022): June 2022 Vol 22 No 1 (2022): February 2022 Vol 21 No 3 (2021): October 2021 Vol 21 No 2 (2021): June 2021 Vol 21 No 1 (2021): February 2021 Vol 20 No 3 (2020): October 2020 Vol 20 No 2 (2020): June 2020 Vol 20 No 1 (2020): February 2020 Vol 19 No 3 (2019): October 2019 Vol 19 No 2 (2019): June 2019 Vol 19 No 1 (2019): February 2019 Vol 18 No 3 (2018): October 2018 Vol 18 No 2 (2018): June 2018 Vol 18 No 1 (2018): February 2018 Vol 17 No 3 (2017): October 2017 Vol 17 No 2 (2017): June 2017 Vol 17 No 1 (2017): February 2017 Vol 16 No 3 (2016): October 2016 Vol 16 No 2 (2016): June 2016 Vol 16 No 1 (2016): February 2016 Vol 15 No 3 (2015): October 2015 Vol 15 No 2 (2015): June 2015 Vol 15 No 1 (2015): Februari 2015 Vol 14 No 3 (2014): Oktober 2014 Vol 14 No 2 (2014): Juni 2014 Vol 14 No 1 (2014): Februari 2014 Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013 Vol 13 No 1 (2013): Juni 2013 Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012 Vol 12 No 1 (2012): Juni 2012 Vol 11 No 2 (2011): Desember 2011 Vol 11 No 1 (2011): Juni 2011 Vol 10 No 2 (2010): Desember 2010 Vol 10 No 1 (2010): Juni 2010 Vol 9 No 2 (2009): Desember 2009 Vol 9 No 1 (2009): Juni 2009 Vol 8 No 2 (2008): Desember 2008 Vol 8 No 1 (2008): Juni 2008 Vol 7 No 2 (2007): Desember 2007 Vol 7 No 1 (2007): Juni 2007 Vol 6 No 2 (2006): Desember 2006 Vol 6 No 1 (2006): Juni 2006 Vol 5 No 2 (2005): Desember 2005 Vol 5 No 1 (2005): Juni 2005 Vol 4 No 2 (2004): Desember 2004 Vol 4 No 1 (2004): Juni 2004 Vol 3 No 2 (2003): Desember 2003 Vol 3 No 1 (2003): Juni 2003 Vol 2 No 2 (2002): Desember 2002 Vol 2 No 1 (2002): Juni 2002 Vol 1 No 2 (2001): Desember 2001 Vol 1 No 1 (2001): Juni 2001 More Issue