cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017" : 11 Documents clear
Cover Belakang JPBKP Vol. 12 No. 2 Tahun 2017 JPBKP JPBKP
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i2.508

Abstract

Optimasi Pertumbuhan Bakteri Laut Salinicola peritrichatus LBF-1-0025 dalam Senyawa Alkana Ratna Cempaka Lingga; Ahmad Thontowi; Elvi Yetti; Anto Budiharjo; Isworo Rukmi; Yopi Yopi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i2.344

Abstract

AbstrakPentana, dekana, pentadekana, dan parafin merupakan jenis kelompok senyawa alkana yang tidak dapat larut dalam air dan sulit terdegradasi. Sifat ini yang menjadikan senyawa alkana dapat mencemari lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi optimum senyawa alkana bagi pertumbuhan isolat LBF-1-0025 dan mengidentifikasinya secara molekuler berdasarkan gen 16S rDNA. Dari skrining awal diketahui bahwa isolat LBF-1-0025 memiliki potensi tinggi dalam mendegradasi senyawa pentana, dekana, pentadekana, dan parafin. Optimasi pertumbuhan isolat LBF-1-0025 pada beberapa senyawa alkana dilakukan dengan menumbuhkannya dalam medium Artificial Sea Water (ASW) yang mengandung beberapa konsentrasi senyawa pentana, dekana, pentadekana, dan paraffin. Isolat LBF-1-0025 mampu tumbuh secara optimal pada pentana 150 ppm, dekana 200 ppm, pentadekana 150 ppm, dan parafin 200 ppm setelah 3 hari inkubasi. Hasil analisis sekuen gen 16S rDNA, bakteri LBF-1-0025 memiliki kemiripan sebesar 97% dengan Salinicola peritrichatus DY22.The Growth Optimization of Marine Bacteria  Salinicola  peritrichatus LBF-1-0025 in AlkanesAbstractPentane, decane, pentadecane, and paraffin are kind of groups of alkane compounds that are insoluble in water and difficult to degrade. This characteristic cause alkane compounds to pollute the environment. The aims of this research were to determine the optimum concentration of alkane compounds for the growth of isolate LBF-1-0025 and molecular identification based on 16S rDNA gene. From initial screening test, it was known that isolate LBF-1-0025 had high potential in degrading pentane, decane, pentadecane and paraffin compounds. Growth optimization of isolate LBF-1-0025 on several alkane compounds were carried out by culturing it in ASW medium containing various concentration of alkane (pentane, decane, pentadecane, and paraffin). Isolate LBF-1-0025 had optimum growth in pentane 150 ppm, decane 200 ppm, pentadecane 150 ppm and paraffin 200 ppm after 3 days incubation. Result analysis of 16S rDNA gene showed that isolate LBF-1-0025 had a similarity of 97% with  Salinicola  peritrichatus DY22.
Evaluasi Mutu Tuna Loin Segar untuk Sashimi yang Diolah di atas Perahu selama Penanganan dan Distribusinya di Ambon Theresia Dwi Suryaningrum; Diah Ikasari; Hasta Octavini
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i2.329

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi mutu tuna loin segar untuk sashimi yang diolah di atas perahu oleh nelayan skala kecil di kota Ambon. Pengamatan dilakukan terhadap mutu tuna loin segar saat didaratkan, dikemas dan ketika tiba di tempat pengiriman, yang meliputi suhu pusat, pH, TVB, Angka Lempeng Total (ALT), serta sifat sensorinya. Pengamatan juga dilakukan terhadap kondisi sanitasi, sarana dan prasarana yang digunakan dengan menggunakan metode swab terhadap  cemaran mikroba yang meliputi ALT, E. coli dan Salmonella. Pada tahap akhir dilakukan evaluasi implementasi Good Manufacturing Practice (GMP) dengan menilai sarana dan prasarana berdasarkan persyaratan teknik dalam KEPMEN No. 52A/KEPMEN/2013. Hasil penelitian menunjukkan suhu pusat loin berkisar antara 10,58 -16,53 oC, jauh di atas suhu untuk tuna sashimi yaitu maksimal 4,4 oC. Kandungan TVB tuna loin yang didaratkan berkisar antara 13,6-14,04 mgN%, yang mengindikasikan bahwa tuna loin tergolong segar. Secara sensori, panelis mengidentifikasi adanya lapisan pelangi tipis pada permukaan loin segar yang menunjukkan ikan mengalami stres sebelum dimatikan. Pengiriman loin segar keluar kota Ambon berpengaruh terhadap penurunan mutu sensori serta peningkatan jumlah ALT. Tuna loin yang didaratkan di pos pendaratan  terlebih dahulu menyebabkan terjadinya penurunan nilai sensori  dan peningkatan jumlah ALT yang lebih cepat, namun demikian tuna loin masih tetap tergolong segar ketika sampai di tempat pengiriman. Hasil swab pada kapal, miniplant dan es yang digunakan menunjukkan jumlah bakteri berkisar antara 105-106 koloni/g, mengindikasikan kondisi sanitasi yang kurang terjaga. Hasil evaluasi terhadap implementasi GMP pada miniplant yang digunakan menunjukkan hanya 59% kriteria memenuhi persyaratan yang ditetapkan.   Evaluation of Fresh Tuna Loin Quality for Sashimi Processed on Boat during Handling and Distribution in AmbonAbstractStudy aimed to evaluate fresh tuna loin quality for sashimi processed on boat by small scale fishermen in Ambon. Observation was conducted on the quality of fresh tuna loin during landing, packaging, and final delivery point, for central temperature, pH, TVB, total plate count (TPC) and sensory properties. Observation was also done on the sanitation condition of facilities and equipments used in tuna loin processing by using swab method on the parameter of microorganism contaminant such as Total Plate Count (TPC), E coli and Salmonella. At final stage, evaluation of Good Manufacturing Practice (GMP) implementation was done by assessing several criteria of facilities and equipments based on technical requirements stated in KEPMEN no 52A/KEPMEN/2013. The results showed that the central temperature of loin ranged between 10.56 -16.53 oC, far above the temperature for tuna sashimi i.e 4.4 oC. TVB content of tuna loin was ranging from 13.6 to 14.04mgN%, indicating that the loin were still fresh. Based on sensory evaluation, the panelists identified the presence of thin rainbow layer on the loin’s surface, indicating that the fish experienced stress before died. Delivery process of fresh tuna loin out of Ambon city affected to the decrease of sensory scores as well as the increase of total plate count (TPC) values. Tuna loin which was firstly landed in landing post resulted the decrease of sensory scores and increase of bacterial content, however, the loin was still categorized as fresh for sashimi when arrived at the delivery point. Results of swab test on inner boat’s surface, miniplant and ice crushed used in processing stage showed that they contained bacteria ranged from 105-106 colonies/g, indicating less maintained sanitary conditions. Evaluation on the GMP implementation of the miniplant showed that only 59% criteria met the required GMP.
Kandungan Fukosantin dan Fenolik Total pada Rumput Laut Coklat Padina australis yang Dikeringkan dengan Sinar Matahari Muhammad Nursid; Dedi Noviendri
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i2.341

Abstract

AbstrakRumput laut cokelat Padina australis dikenal memiliki kandungan fukosantin dan fenolik total yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fukosantin dan fenolik total serta aktivitas antioksidan P. australis yang dikeringkan dengan sinar matahari. Rumput laut cokelat diambil dari Pantai Binuangeun, Lebak, Banten, Indonesia lalu dikeringkan selama 0, 1, 2, 3 dan 4 hari.  Kandungan fukosantin dianalisis dengan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) sedangkan kandungan fenolik total diukur dengan menggunakan  metode Folin-Ciocalteau. Uji antioksidan dilakukan dengan metode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kandungan fukosantin pada rumput laut P. australis semakin menurun seiring dengan bertambahnya waktu pengeringan sedangkan kandungan fenolik total pada hari ke 1, 2 dan 3 tidak menunjukkan perbedaan tetapi pada hari ke 4 kandungannya menurun tajam. Kandungan fukosantin dan fenolik total tersebut jauh di bawah kandungan fukosantin dan fenolik yang berasal dari rumput laut segar. Hasil uji DPPH memperlihatkan bahwa aktivitas antioksidan ekstrak rumput laut semakin menurun dengan bertambahnya waktu pengeringan. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa fukosantin dan fenolik merupakan faktor yang menentukan aktivitas antioksidan. Fucoxanthin and Total Phenolic Content of  Padina  australis Brown Algae after Sun Drying ProcessAbstractThe brown algae  Padina  australis is known to have high fucoxanthin and phenolic content. This study aimed to investigate fucoxanthin and polyphenol content as well as antioxidant activity of  P. australis after sun drying process. The brown algae was collected from Binuangeun beach, Lebak, Banten, Indonesia and sun dried for 0 (fresh), 1,2,3 and 4 days. Fucoxanthin content was analyzed by using High Performance Liquid Chromatography (HPLC) whereas total phenolic content was measured by Folin-Ciocalteau method. Antioxidant activity was determined by 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) method. The results of study showed that fucoxanthin content decreased in line with drying time, while total phenolic content showed no difference on 1st, 2nd and 3rd day but on 4th day it decreased sharply. It was found that fucoxanthin and phenolic content of dried seaweeds decreased as compare to fresh seaweed. The results of DPPH assay showed that the antioxidant activity of seaweed extract decreased with the increasing of the drying time. This research revealed that fucoxanthin and phenolic were significant factor that determining antioxidant activity.
Kandungan Nutrisi, Aktivitas Penghambatan ACE dan Antioksidan Hemibagrus nemurus Asal Waduk Cirata, Jawa Barat, Indonesia Rini Susilowati; Diini Fithriani; Sugiyono Sugiyono
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i2.355

Abstract

AbstrakKandungan nutrisi dan aktivitas biologis ikan baung (Hemibagrus nemurus) ditentukan oleh kondisi lingkungan dan ketersediaan sumber makanannya. Ikan baung yang dikonsumsi oleh masyarakat sebagai sumber protein dapat ditemukan di habitat aslinya dan lingkungan budidaya dalam karamba jaring apung. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan nutrisi dan aktivitas biologis ikan baung asal Waduk Cirata sebagai penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE inhibitor) dan antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar protein dan kadar abu ikan baung hasil budidaya maupun alam tidak berbeda nyata, sedangkan kadar lemak ikan baung hasil tangkapan alam jauh lebih tinggi dibanding kadar lemak hasil budidaya. Kadar mineral makro dan mikro menunjukkan perbedaan yang signifikan pada kadar K (budidaya 313,04±14,84 mg/100g; alam 457,33±7,50 mg/100g) dan Ca (budidaya 29,15±1,06 mg/100g; alam 42,13±0,85 mg/100g). Mineral mikro didominasi oleh Zn sebesar 0,42±0,04 mg/100g (budidaya) dan 0,44±0,02 mg/100g (alam). Asam amino esensial (AAE) yang dominan yaitu lisin sebesar 7,70±0,97 mg/g (budidaya) dan fenilalanin sebesar 0,80±0,26 mg/g (alam), sedangkan asam amino non esensial (AANE) yang utama pada populasi budidaya adalah alo iso-leusin sebesar 13,77±0,23 mg/g dan prolin 1,79±0,70 mg/g (alam). Rasio AAE/AANE populasi budidaya memiliki nilai sebesar 0,83 dan alam sebesar 0,54. Aktivitas biologi ikan baung menunjukkan nilai aktivitas antioksidan pada populasi budidaya sebesar 0,16±0,02 µmol Fe2+/g dan alam sebesar 0,09 µmol Fe2+/g berat kering. Sedangkan aktivitas penghambat  ACE menunjukkan nilai penghambatan pada populasi budidaya sebesar 96,18±1.37% dan alam  sebesar 88,76±1,82%. Secara umum, ikan baung dari Waduk Cirata memiliki kandungan gizi dan komposisi kimia yang bagus, begitu juga dengan bioaktivitasnya sebagai penghambat ACE, sehingga berpotensi sebagai bahan baku suplemen kesehatan, khususnya untuk suplemen penghambat ACE. Nutritional Contents, ACE Inhibitor and Antioxidant Activities of  Hemibagrus nemurusfrom Cirata Reservoir, West Java, IndonesiaAbstractThe nutritional content and biological activities of redtail catfish (Hemibagrus  nemurus) are determined by environmental condition and food sources. Redtail catfish is consumed by peoples as protein source. It can be found in their natural habitat as well as in maricultured-cage system. This study was carried out to determine the nutritional content and biological activity of redtail catfis h from Cirata Reservoir as ACE and antioxidant inhibitor. The result showed the that protein and ash contents of both populations were not significantly different, while fat content of wild population  was much higher than that of cultured. The Mineral content showed  significant difference for K content (cultured 313.04±14.84 mg/100g; wild 457.33±7.50 mg/100g) and Ca content (cultured 29.15±1.06mg/100g; wild 42.13±0.85 mg/100g). The micro minerals were dominated by Zn i.e., 0.42±0.04 mg/100 for cultured and 0.44±0.02 mg/100g for wild fish. The essential amino acids (EAA) were dominated by lysine i.e., 7.70±0.97 for cultured and phenylalanine i.e., 0.80±0.26 mg/g for wild; while the major non-essential amino acids (AANE) were alo iso-leoucine i.e., 13.77±0.23 mg/g (cultured) and proline i.e., 1.79±0.70 mg/g (wild). The EAA/AANE ratio showed that the cultured population was 0.83 and wild was 0.54. The biological activity of redtail catfish showed that the cultured population had antioxidants activity value of 0.16±0.02 µmol Fe2+/g while the wild was 0,09 µmol Fe2+/g. The inhibitory activity of angiotensin in converting enzyme (ACE inhibitory) of wild population was 84.41±1.17% and cultured was 88.76±1.82%. In general redtail catfish from Cirata Reservoir had a complete nutrient content and chemical composition, as well as its bioactivity as ACE inhibitor. So that the fish is very potent for raw material of health supplement, especially for ACE inhibitor supplement
Optimasi Metode Ekstraksi Fukoidan Kasar dari Rumput Laut Cokelat Sargassum binderi Sonder Ellya Sinurat; Rinta Kusumawati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i2.388

Abstract

AbstrakFukoidan merupakan polisakarida sulfat yang berasal dari rumput laut cokelat.  Salah satu faktor yang mempengaruhi mutu fukoidan adalah metode ekstraksi. Pada penelitian ini dilakukan optimasi ekstraksi fukoidan kasar dari rumput laut Sargassum binder Sonder untuk mendapatkan rendemen dan mutu paling tinggi. Optimasi tersebut dilakukan dengan empat metode ekstraksi yaitu: HCl 0,1 N pH 4 pada suhu kamar selama 6 jam, HCl 0,1 N pH 4 pada suhu 85 °C selama 4 jam, akuades pada suhu 85 °C selama 4 jam dan larutan CaCl2 2% pada suhu 85 °C selama 4 jam. Untuk masing-masing metode dilakukan 3 kali ulangan dengan bahan baku yang sama dan pada waktu berbeda. Parameter mutu fukoidan yang dianalisis meliputi: rendemen, total gula, asam uronat, kadar sulfat dan gugus fungsi polisakarida sulfat dengan FT-IR. Rendemen tertinggi diperoleh dengan metode ekstraksi HCl 0,1 N pH 4 pada suhu 85 oC selama 4 jam sebesar 6,0% dan terendah dengan metode ekstraksi menggunakan larutan CaCl2 2% sebesar 2,57%. Kandungan sulfat tertinggi diperoleh dengan metode larutan CaCl2 2% selama 4 jam sebesar 8,69%. Metode ekstraksi kasar fukoidan dari S. binderi Sonder yang paling optimum menggunakan pelarut air pada suhu 85 °C selama 4 jam dengan rendemen dan kandungan sulfat yaitu 3,36% dan 8,10%. Optimization of Crude Fucoidan Extraction Methods from Brown Seaweed  Sargassum  binderi  SonderAbstractFucoidan is a sulphate polysaccharide isolated from brown seaweed. One of the factors that affect the quality of fucoidan is the method of extraction. To obtain the highest yield and highest quality, crude fucoidan was extracted from  Sargassum  binderi Sonder using four methods; at room temperature in 0.1 N HCl pH 4 solution for 6 hours, at 85 °C in 0.1 N HCl pH 4 solution for 4 hours, at 85 °C in water for 4 hours and at 85 °C containing 2% CaCl2 in water for 4 hours. Three replications were performed for each method with the same raw material and different times. The fucoidan quality parameters analyzed were fucoidan yield, total sugar, uronic acid, sulphate content and functional groups of the sulphate polysaccharide with FT-IR. The highest yield was obtained by extraction method of 0.1 N HCl at 85  °C, pH 4 for 4 hours (6.0%), whereas extraction by 2% CaCl2 solution only produced 2.57% fucoidan. The optimum method of extraction crude fucoidan from  S.  Binderi Sonder with highest fucoidan yield (3.36%) and sulphate content (8.10%) of and was achieved by water extraction at 85 °C for 4 hours.
Studi Laju Umpan pada Proses Biokonversi Limbah Pengolahan Tuna menggunakan Larva Hermetia illucens Arif Rahman Hakim; Agus Prasetya; Himawan T. B. M. Petrus
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i2.469

Abstract

AbstrakSeiring dengan berkembangnya industri tuna, limbah pengolahan yang dihasilkan semakin meningkat. Namun demikian pemanfaatan limbah tersebut belum optimal. Biokonversi bahan organik limbah tuna menjadi biomassa larva sebagai bahan pakan diharapkan mampu mengatasi permasalahan tersebut. Biokonversi menggunakan larva Hermetia illucens atau Black Soldier Fly (BSF) memiliki keunggulan dibandingkan proses konversi lain; di antaranya larva BSF mampu mengkonversi berbagai macam bahan organik, memiliki kandungan nutrisi tinggi serta bukan vektor penyakit. Tujuan penelitian ini ialah mempelajari laju umpan larva BSF dalam mengkonversi limbah tuna menjadi biomassa larva. Limbah tuna yang digunakan sebagai umpan larva BSF adalah kepala dan jeroan. Larva dipelihara selama 19 hari dengan pemberian umpan bervariasi (60, 80, 100 mg/larva/hari). Analisa dilakukan terhadap konsumsi umpan, indeks pengurangan limbah (waste reduction index/WRI), efisiensi konversi umpan tercerna (efficiency of conversion of digested-feed/ECD), tingkat kelulusan hidup (survival rates /SR), bobot larva, kandungan protein dan lemak larva. Hasil penelitian menunjukkan kepala dan jeroan tuna dapat digunakan sebagai pakan BSF, dengan nilai SR 41,33 – 98,33%. Laju umpan yang menghasilkan proses biokonversi paling optimum adalah umpan berupa kepala tuna sebesar 60 mg/larva/hari (K60). Nilai parameter pada perlakuan K60 adalah konsumsi umpan 77,09 %, WRI 4,06 % per hari, ECD 8,32 %, bobot larva 72,59 mg dan SR 98,33 %. Limbah berupa kepala tuna menghasilkan konsumsi umpan, WRI, ECD, bobot larva dan SR yang lebih tinggi dibandingkan limbah jeroan tuna. Penggunaan limbah kepala tuna dapat dimanfaatkan untuk mereduksi limbah sekaligus menghasilkan bahan pakan yang potensial. Kandungan larva BSF dengan umpan kepala tuna 60 mg/larva/hari meliputi protein 25,38 %, lemak 6,85 % dan air 62,81 %.Feeding Rates Study on the Bioconversion of Tuna Processing Waste using  Hermetia  illucens LarvaeAbstractAlong with the rising of tuna industries, the processing waste is increasing. However, the utilization of this waste has not optimal yet. Bioconversion of organic matters from waste into larvae biomass as feed is expected to overcome the problems. Bioconversion using  Hermetia  illucens or Black Soldier Fly (BSF) larvae has many advantages over other conversion processes; such as the ability of BSF larvae to convert various organic materials, high nutritional content and not a disease vector. The aim of this study was to determine the optimal feed rate of BSF larvae in converting tuna waste to larvae biomass. Tuna wastes used as feed of BSF larvae were head and viscera. The larvae were cultivated for 19 days with varied feeding rates (60, 80, 100 mg/larva/day).The analyzes were performed on feed consumption, waste reduction index (WRI), efficiency of conversion of digested-feed (ECD), survival rate (SR), larvae weight, larvae protein and its fat. The results showed that head and viscera can be used as BSF feed, with SR 41.33 - 98.33%. The feeding rate that produce most optimum bioconversion process was 60 (mg/larvae/day) of tuna head (K60). The K60 treatment showed the substrate conpsumtion value of 77,09%, WRI 4,06% per day, ECD 8,32%, larvae weight 72,59 mg and SR 98,33%. Tuna head waste produced substrate consumption, WRI, ECD, larvae weight and SR higher than waste of tuna viscera. The use of tuna head waste can be utilized to reduce waste as well as to produce potential feed ingredients. The content of BSF larvae fed by 60 mg tuna head/larvae/day were 25,38% of protein, 6.85% of fat and 62,81% of moisture
Pemanfaatan Limbah Cair Produksi Alkali Treated Sargassum sebagai Bahan Baku Pupuk Cair Jamal Basmal; Vina Asfia Chori; Nurhayati Nurhayati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i2.259

Abstract

AbstrakPenelitian pemanfaatan limbah cair hasil produksi Alkali Treated Sargassum telah dilakukan dengan variasi lama waktu pemasakan Sargassum di dalam larutan KOH 0,1% pada suhu konstan 80 °C. Variasi waktu pemasakan yang diberikan 0, 120, 240 dan 360 menit. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui komposisi kandungan unsur hara makro (N, P, K), Corganik, rasio C/N, dan sifat fisik (electrical conductivity, total dissolved solute, nilai kekentalan dan pH) limbah cair produksi Alkali Treated Sargassum yang diakibatkan perlakuan suhu pemasakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah cair dari produksi Alkali Treated Sargassum mengandung unsur hara makro N antara 124-200,5 ppm, P 22-59 ppm; K 0,078-0,094%, Corganik, 2.000-3.550 ppm; rasio C/N antara 15-23, nilai Electrical conductivity (EC) 4,23- 5,90 mS/cm, Total Dissolved Solute (TDS) 0,21- 0,46%, nilai kekentalan 3,57-4,46 cPs dan pH 8,67-7,12. Perlakuan terbaik berdasarkan nilai tertinggi ditemukan pada perlakuan Sargassum yang dipanaskan pada suhu 80 °C selama 360 menit dalam larutan KOH 0,1% dengan nilai EC  5,9 mS/cm; TDS 0,46%; pH 7,12; nilai kekentalan 4,64 cPs; kadar N 200,6 ppm; K 0,094 ppm; Corganik 3.550 ppm dan C/N 23. Utilization of Liquid Waste from Alkali Treated Sargassum Processing as a Raw Material for Liquid FertilizerAbstractResearch on the utilization of liquid waste from Alkali Treated Sargassum processing was carried out by variation of cooking time of Sargassum in 0.1% KOH at constant temperature of 80 °C. Cooking time was varied 0, 120, 240 and 360 minutes. The objective of this research was to evaluate macro nutrient content (N, P, K), Corganic, C/N ratio, and physical properties (electrical conductivity, total dissolved solute, viscosity value and pH value) of the liquid waste, due to the cooking time treatment. Result of the experiment showed that liquid waste from Alkali Treated Sargassum contained 124-200.5 ppm N; 22-59 ppm P; 0,078-0.094% K, 2,000-3,550 ppm Corganic; 15-23 C/N ratio, 4.23-5.90 mS/cm Electrical conductivity (EC), 0.21-0.46% Total Dissolved Solute (TDS), 3.57-4.46 cPs viscosity value and pH 8.67-7.12. The best treatment based on the macro nutrient value and physical properties was cooking the liquid waste in hot 0.1% KOH solution at 80 °C time for 360 minutes, in which the properties of the liquid waste was 5.9 mS/cm EC value; 0.46% TDS; pH 7.12; 4.64 cPs viscocity; 200.6 ppm N content; 0.094 ppm K content; 3,550 ppm Corganic and 23 C/N ratio.
Preface JPBKP Vol. 12 No. 2 Tahun 2017 Preface, Preface
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i2.509

Abstract

Cover Depan JPBKP Vol. 12 No. 2 Tahun 2017
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i2.507

Abstract

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue