cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019" : 11 Documents clear
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Karang Lunak Asal Teluk Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia Didit Kustantio Dewanto; Finarti Finarti; Roni Hermawan; Samliok Ndobe; Putut Har Riyadi; Wendy Alexander Tanod
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.812 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v14i2.583

Abstract

Bioaktif antioksidan merupakan substansi yang penting bagi kesehatan manusia. Karang lunak telah diketahui memproduksi bioaktif dengan keragaman struktur dan aktivitas biologi, termasuk memproduksi bioaktif antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan bioprospeksi karang lunak dari perairan Teluk Palu sebagai penghasil antioksidan. Penelitian meliputi pengambilan sampel, identifikasi, ekstraksi (maserasi) karang lunak, skrining konstituen kimia, pengujian aktivitas antioksidan (penangkapan radikal DPPH), dan penentuan IC50. Pengambilan sampel dilakukan di Teluk Palu, pesisir desa Kabonga Besar, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Berdasarkan bentuk koloni monomorfik, tujuh sampel karang lunak yang digunakan pada penelitian ini termasuk dalam genus Sinularia, Dampia dan Sarcophyton. Analisis konstituen kimia mengindikasikan adanya senyawa saponin, fenolik, triterpenoid, dan alkaloid. Hasil pengujian aktivitas antioksidan dengan metode DPPH, menunjukkan ekstrak kasar karang lunak menunjukkan persentase inhibisi radikal DPPH yang lemah. Hasil pengujian aktivitas antioksidan (metode DPPH) dari fraksi hasil partisi tujuh ekstrak kasar karang lunak berpotensi sebagai antioksidan dengan kategori kuat sampai lemah. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak karang lunak asal Teluk Palu berpotensi sebagai sumber antioksidan. Karang lunak di pesisir Desa Kabonga Besar didominasi oleh genus Sinularia. Antioxidant Activity of Soft Corals Extracts from Palu Bay, Central Sulawesi, IndonesiaAbstractThe antioxidants substances are important for human health. Soft corals have been known to produce compounds with a variety of structural and biological activities, including bioactive antioxidants. The aim of this research was to obtain information of soft coral bioprospection from Palu Bay as an antioxidant. The research included sampling, identification, extraction (maceration) of soft corals, screening of chemical constituents, antioxidant activity assay (DPPH’s radical scavenger), and determination of IC50. Soft coral samples were collected from Palu Bay, coastal village of Kabonga Besar, Donggala District, Central Sulawesi. Based on the shape of the monomorphic colony, seven soft coral samples that were used in this study belong to the genus Sinularia, Dampia and Sarcophyton. Analysis of chemical constituents indicated the presence of saponin compounds, phenolics, triterpenoids, and alkaloids. The results of the antioxidant activity by DPPH method showed that soft coral crude extracts have a weak percentage of DPPH’s radical inhibition, while the results of the fraction had potential to be antioxidants with strong to weak categories. From the results of this study, it concluded that the soft coral extracts from Palu Bay have the potential as a source of antioxidants. The genus Sinularia dominates soft coral on the coast of Kabonga Besar Village.
COVER DEPAN JPBKP VOL. 14 NO. 2 TAHUN 2019 Pascapanen dan Bioteknologi KP, Jurnal
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.531 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v14i2.642

Abstract

Karakterisasi Gelembung Renang Ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus sp.) dan Kolagen yang dihasilkan melalui ekstrasi Asam Asetat Sugeng Hadinoto; Joice P. M. Kolanus; Syarifuddin Idrus
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.43 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v14i2.589

Abstract

Gelembung renang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kolagen karena mempunyai kandungan protein kolagen yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi kimia gelembung renang ikan tuna sirip kuning dan karakteristik kolagen yang diperoleh melalui ekstraksi menggunakan asam asetat 0,2 M. Gelembung renang ikan tuna sirip kuning diuji kandungan komposisi proksimat, logam berat (Hg, Pb, Cd dan As) dan asam amino. Kuantitas dan kualitas kolagen hasil ekstraksi dilihat melalui parameter rendemen, komposisi proksimat, logam berat, cemaran mikroba dan karakteristik fisikokimia (gugus fungsi, berat molekul, asam amino, dan stabilitas termal). Hasil penelitian menunjukkan bahwa gelembung renang ikan tuna sirip kuning mengandung protein 19,17%, yang didominasi oleh jenis asam amino glisin 5,71 mg/g, arginin 3,72 mg/g dan alanin 3,95 mg/g. Kandungan logam berat gelembung renang masih berada di bawah ambang batas. Ekstraksi kolagen dari gelembung renang ikan tuna sirip kuning  menggunakan asam asetat 0,2 M menghasilkan rendemen kolagen sebesar 1,15%. Kolagen yang dihasilkan mengandung protein sebesar 94,14%, yang didominasi oleh asam amino glisin 1957,75 mg/g, arginin 827,96 mg/g dan alanin 825,98 mg/g; tidak terdeteksi logam berat (Hg, Pb, Cd dan As); dan bebas dari cemaran Escherichia coli, Salmonella dan Coliform. Karakteristik gugus fungsi dan berat molekul menunjukkan kolagen yang diperoleh tergolong kolagen Tipe I, dan kolagen yang dihasilkan memiliki kestabilan termal yang tinggi sehingga dapat diaplikasikan pada industri makanan, farmasi dan kosmetik. Characterization of Swimbladder and its Collagen of Yellow Fin Tuna    (Thunnus sp.) Produced from Acetic Acid ExtractionAbstractSwimbladder can be used as raw material for collagen because it cointains high collagen protein. This study aimed to determine the chemical composition of the yellowfin tuna swimbladder and characterize the collagen obtained through extraction using 0.2 M acetic acid. The proximate composition, heavy metals (Hg, Pb, Cd and As) and amino acid content of yellowfin tuna swimbladder were observed. The quantity and quality of the obtained collagen were assigned through the parameters of yield, proximate composition, heavy metals, microbial contamination and physicochemical characteristics (functional groups, molecular weights, amino acids, and thermal stability). The result showed that yellowfin tuna swimbladder contained 19.17% protein, where glycine, arginine and alanine were the major amino acids found (i.e., 5.71 mg/g glycine; 3.72 mg/g arginine; and 3.95 mg/g alanine). The heavy metals contain of  swimbladder was found below the threshold. The yield of collagen extracted using acetic acid 0.2 M was 1.15%. The collagen of yellowfin tuna swimbladder contained protein of 94.14%, which was dominated by the amino acid glycine of 1957.75 mg/g, arginine of 827.96 mg/g and alanine of 825,98 mg/g; heavy metals (Hg, Pb, Cd and As) were not detected; collagen was free from contamination of Escherichia coli, Salmonella and Coliform. Characteristics of functional groups and molecular weights showed that collagen obtained was classified as Type I collagen, and collagen produced had high thermal stability therefore it can be applied to the food, pharmaceutical and cosmetics industries.
Cover Belakang JPBKP Vol. 14 No. 2 Tahun 2019 Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi KP
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.523 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v14i2.643

Abstract

Karakterisasi Edible Film dari Karagenan dan Kitosan dengan Metode Layer by Layer Rany Dwimayasanti; Bayu Kumayanjati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.168 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v14i2.603

Abstract

enis pengemas biodegradable saat ini sangat diperlukan untuk mengurangi penggunaan plastik sintetik, di antaranya dengan pengembangan pengemas edible film yang lebih ramah lingkungan. Karagenan dan kitosan merupakan polimer alam yang berpotensi menjadi bahan dasar dalam pembuatan edible film. Penelitian pembuatan edible film berbahan dasar karagenan dan kitosan dengan metode layer-by-layer telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi karagenan dan kitosan yang berbeda terhadap kualitas edible film yang dihasilkan. Karakterisasi film yang dilakukan meliputi uji kuat tarik, elongasi, kelarutan, water vapour permeability (WVP) dan morfologi permukaan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial 2 faktor dengan variasi karagenan (1,0%, 1,5%, 2,0%, 2,5%) dan variasi kitosan (0,5%, 1,0%, 1,5%, 2,0%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap kombinasi konsentrasi karagenan dan kitosan menghasilkan nilai yang berbeda-beda. Kenaikan konsentrasi karagenan dan kitosan tidak selalu berbanding lurus terhadap kenaikan nilai kuat tarik, elongasi, kelarutan, WVP dan morfologi permukaan edible film. Secara umum, dari seluruh perlakuan yang ada dapat disimpulkan bahwa kombinasi karagenan 2,5% dan kitosan 1,0% adalah formulasi terbaik. Characterization of Layer-by-Layer assembly of Carrageenan and Chitosan-based Edible FilmAbstractBiodegradable packaging development particularly for maintaining the quality and shelf life of food products is necessarily needed. Carrageenan and chitosan are natural polymers that are potential for raw materials of biodegradable films production. Research on the making of carrageenan and chitosan-based films has been carried out using layer-by-layer method. This study aimed to determine the effects of various concentrations of carrageenan and chitosan on the quality of edible films. The parameter observed were tensile strength, elongation at break, solubility, water vapor permeability (WVP) and surface morphology. The experimental design used were variations of carrageenan concentrations i.e 1,0%, 1.5%, 2,0%, 2.5% and chitosan i.e. 0.5%, 1,0%, 1.5%, 2,0%. The results showed that each combination of carrageenan and chitosan concentrations produced different film characteristic values. The increasing of carrageenan and chitosan concentrations was not linearly affected all the parameters including the tensile strength, elongation at break, solubility, WVP and surface morphology. Based on the findings, it can be concluded that the combination of 2.5% carrageenan and 1,0% chitosan was the best formulation.
VARIASI TEMPORAL KADAR SAKSITOKSIN DALAM KEKERANGAN DARI PERAIRAN TANJUNG BALAI, SUMATRA UTARA Januar, Hedi Indra; Dwiyitno, Dwiyitno; Annisah, Umi; Putri, Ajeng Kurniasari
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.06 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v14i2.613

Abstract

Kekerangan merupakan salah satu biota ekonomi penting di sektor perikanan. Namun, dengan sifatnya sebagai filter feeder, pencemaran lingkungan perairan dapat mempengaruhi keamanan pangannya, misalnya pencemaran senyawa saksitoksin, yang sering terakumulasi di biota kekerangan. Saksitoksin adalah senyawa yang dihasilkan oleh fitoplakton perairan, sehingga kadarnya dapat bervariasi secara temporal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi temporal  secara musiman (muson timur, peralihan, dan barat) dari kadar saksitoksin pada tiga jenis biota kerang ekonomis (Anadara granosa, Anadara antiquata, dan Polymesoda erosa) yang diperoleh dari Perairan Tanjung Balai. Kekerangan diketahui sebagai produk unggulan di sentra perikanan Tanjung Balai. Variasi temporal kadar saksitoksin dihubungkan dengan kualitas air, untuk mengetahui korelasinya terhadap lingkungan tempat hidup kekerangan. Kualitas air dianalisis secara in situ menggunakan metode potensiometri dan kolorimetri, sementara kuantifikasi saksitoksin dilakukan menggunakan teknik spektrometri massa. Hasil analisis memperlihatkan bahwa kadar saksitoksin dari ketiga jenis kerang bervariasi antara 0,04 hingga 0,16 mg STXeq/kg berat basah kerang. Hal ini menunjukkan kekerangan di wilayah ini aman dari bahaya saksitoksin (ambang maksimum 0,8 mg STXeq/kg). Kadar bahan berbahaya ini tidak secara signifikan (P>0,05) dipengaruhi oleh ukuran dan jenis kerang. Namun, akumulasinya di musim muson barat secara signifikan (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan musim muson timur dan peralihan. Hal ini diduga terkait dengan musim penghujan di muson barat yang meningkatkan polusi nutrien akibat limpasan terestrial. Kondisi ini diduga memicu peningkatan pertumbuhan fitoplakton, termasuk jenis penghasil saksitoksin, sehingga memicu peningkatan akumulasinya di kekerangan.
Karakteristik Glukosamin Hidroklorida Hasil Hidrolisis Kitosan menggunakan Asam dan Ultrasonikasi Bhatara Ayi Meata; Uju Uju; Wini Trilaksani
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v14i2.548

Abstract

Glukosamin adalah suatu bahan organik yang terlibat dalam struktur dan fungsi sendi termasuk glikolipid, glikoprotein, dan proteoglikan. Pengembangan metode produksi glukosamin diperlukan untuk memenuhi kebutuhan glukosamin sebagai suplemen sendi yang semakin tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metode produksi glukosamin hidroklorida yang menghasilkan rendemen tinggi dengan waktu produksi yang relatif singkat. Efek ultrasonikasi dan tanpa ultrasonikasi sebagai pretreatment pada hidrolisis asam ditentukan terlebih dahulu. Selanjutnya produksi glukosamin dilakukan dengan ultrasonikasi selama 30 dan 40 menit dan hidrolisis menggunakan asam hidroklorida (HCl) 37 %, dengan rasio 1:9 (b/v) pada suhu 60 dan 80 oC selama 90 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ultrasonikasi memberikan pengaruh nyata terhadap rendemen glukosamin hidroklorida. Ultrasonikasi selama 40 menit dan hidrolisis pada suhu 80 oC menghasilkan rendemen glukosamin tertinggi yaitu70,13±0,67%, kelarutan 96±0,02%, pH 4,1±0,17, Loss on Drying (LoD) 1,00±0,001%,dan Loss on Ignition (LoI) 0,23±0,05%. Spektrum FTIR glukosamin yang dhasilkan menunjukkan kemiripan dengan standar, dengan nilai derajat deasetilasi sebesar 98,58-99,82%. Characteristics of Glucosamine Hydrochloride Produced from Hydrolysis of Chitosan Using Acid and UltrasonicationAbstractGlucosamine is an organic compound involving in structural and function of joints including glycolipids, glycoproteins, and proteoglycans. Development of glucosamine production is needed to meet the increasing of glucosamine demand as a joint supplement. The aim of this study was to acquire a method of glucosamine hydrochloride production which produced high yields with relatively short production time. Effect of ultrasonication and without ultrasonication was determined earlier. Furthermore, glucosamine production was carried out by ultrasonication pretreatment for 30 and 40 minutes and hydrolysis using 37% hydrochloric acid (HCl), with a ratio of 1:9 at 60 and 80 oC for 90 minutes. The result showed that ultrasonication gave a significant effect on the yield of glucosamine hydrochloride. The treatment of hydrolysis chitosan at 80 oC and 40 minutes ultrasonication time produced the highest yield of glucosamine hydrochloride, i.e. 70.13±0.67%, solubility of 96±0.02%, pH value of 4.1±0.17, LoD of 1.00±0.001%, and LoI of 0.23±0.05%. The glucosamine FTIR spectrum showed a similarity to the standard, with the degree of deacetylation of 98.58-99.82%.
Formulasi Tablet Suplemen Spirulina yang Diperkaya dengan Virgin Fish Oil Mata Tuna (Thunnus sp.) Siti Balqis Huriyah; Iriani Setyaningsih; Wini Trilaksani
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.913 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v14i2.606

Abstract

Suplemen makanan kesehatan di pasaran saat ini sebagian besar terdiri dari satu jenis bahan baku, sehingga berpotensi hanya memiliki satu manfaat. Spirulina diketahui memiliki kandungan protein tinggi tetapi kadar lemaknya rendah, oleh karena itu dilakukan penelitian tentang pembuatan tablet Spirulina dengan tambahan sumber lain untuk mendapatkan nutrisi lengkap dan seimbang yang sangat diperlukan. Naskah ini melaporkan formulasi Spirulina yang diperkaya dengan mikroenkapsulat virgin fish oil (VFO) mata tuna; yang terdiri dari tiga tahap, yaitu kultivasi Spirulina; preparasi, ekstraksi, dan mikroenkapsulasi VFO mata tuna (Thunnus sp.); serta formulasi tablet. Ada tiga formula dalam hal rasio Spirulina dan mikroenkapsulat VFO mata tuna, yaitu P1 (250:180 mg); P2 (200:230 mg); P3 (150:280 mg). Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula P3 merupakan formulasi terbaik berdasarkan karakteristik fisik, aktivitas antioksidan (IC50 133,27 ppm), dan kadar lemak 14,67%. Tablet P3 memiliki proporsi asam amino arginin tertinggi (3,30%) dan asam dokosaheksaenoat (18,03%), serta dapat memenuhi 18,6% dari angka kecukupan gizi asam lemak omega-3 untuk wanita hamil trimester pertama. Formulation of Spirulina Supplement Tablets Enriched with Virgin Fish Oil From Tuna (Thunnus sp.)  Eyes AbstractHealth food supplements on the market today mostly consist of one type of raw material, so that potentially they only have one benefit. Spirulina is known to have a high protein content but a low fat content, therefore research on making Spirulina tablets with the addition of other sources to get complete and balanced nutrition is necessary. This paper reports the formulation of Spirulina enriched with tuna eye Virgin Fish Oil (VFO) microencapsulate; that consisted of three stages, namely Spirulina cultivation; preparation, extraction, and microencapsulation of tuna (Thunnus sp.) eye VFO; and tablet formulations. There were three formulas in regards to the ratio of Spirulina and tuna eye VFO microencapsulate, namely P1 (250: 180 mg); P2 (200: 230 mg); P3 (150: 280 mg). The results showed that the P3 formula was considered the best formulation based on physical characteristics, antioxidant activity (IC50 133.27 ppm), and fat content of 14.67%. The P3 tablet had the highest proportion of arginine amino acids (3.30%) and docosahexaenoic acid (18.03%) and can provide 18.6% of the nutritional adequacy rate of omega-3 fatty acids for the first trimester pregnant women. 
Kontaminasi Logam Berat (HG, PB, dan CD) dan Batas Aman Konsumsi Kerang Hijau (Perna virdis) dari Perairan Teluk Jakarta di Musim Penghujan Giri Rohmad Barokah; Dwiyitno Dwiyitno; Indrianto Nugroho
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.907 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v14i2.611

Abstract

Cemaran logam berat dapat terakumulasi pada air laut, sedimen dan biota laut yang hidup di dalamnya. Biota laut seperti kerang hijau (Perna viridis) yang tercemar logam berat melebihi ambang batas yang diijinkan akan membahayakan kesehatan apabila dikonsumsi oleh manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat pada air, sedimen dan kerang hijau (P. viridis) di Teluk Jakarta. Pengambilan sampel dilakukan pada tiga sentra lokasi budidaya kerang hijau di Teluk Jakarta yaitu Cilincing, Kalibaru dan Kamal Muara pada musim penghujan bulan Oktober 2016. Hasil penelitian menunjukkan kandungan logam berat pada air laut di lokasi Cilincing, yaitu Pb 0,368 mg/L; Cd 0,007 mg/L; dan Hg 0,072 mg/L dan di lokasi Kalibaru, yaitu Pb 0,422 mg/L; Cd 0,005 mg/L; dan Hg 0,045 mg/L, sudah melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh Kepmen LH No.51/2004. Kandungan Hg pada sedimen perairan di lokasi Cilincing (0,85 mg/kg), Kalibaru (0,77 mg/kg) dan Kamal Muara (0,86 mg/kg) sudah melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh WAC 173-204-320. Namun demikian, kandungan Hg, Cd dan Pb pada kerang hijau budidaya di semua lokasi pengambilan sampel masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh Peraturan Kepala BPOM No 8 Tahun 2018. Analisis batas aman konsumsi kerang hijau yang tercemar logam berat yang dilakukan pada penelitian ini menunjukkan bahwa kerang hijau baik di lokasi Cilincing, Kalibaru dan Kamal Muara masih aman dikonsumsi hingga 1 kg/minggu pada orang dewasa dengan berat badan rata-rata 60 kg. Heavy Metals Contamination (Hg, Pb and Cd) and Safety Level for Consumption of Green Mussels (Perna viridis) at Jakarta Bay in Rainy SeasonAbstractContamination of heavy metals can be accumulated in marine water, sediment and organisms. Marine organisms such as green mussels (Perna viridis) that were contaminated by heavy metals could be harmful to human health. This research aimed to determine heavy metals concentration in marine water, sediment and green mussels (P. viridis) at Jakarta Bay. Sampling was conducted at three aquaculture stations i.e. Cilincing, Kalibaru and Kamal Muara in rainy season in October 2016. The study showed that concentrations of Pb, Cd and Hg in marine water from Cilincing (0.368 mg/L of Pb; 0.007 mg/L of Cd; and 0.072 mg/L of Hg) and Kalibaru (0.422 mg/L of Pb; 0.005 mg/L of Cd; and 0.045 mg/L of Hg) were exceeded the standard quality criteria as regulated by Decree of the Minister of Environment No. 51/2004. The concentration of Hg in marine sediment from all of the sampling stations, i.e. Cilincing (0.85 mg/kg), Kalibaru (0.77 mg/kg) and Kamal Muara (0.86 mg/kg) have exceeded the safety limit as regulated by WAC 173-204-320. However, the concentration of Hg, Cd and Pb in green mussels (P. viridis) from all of the sampling stations were still below the safety level set by the Regulation of Director Indonesia National Agency of Drug and Food Control No. 5, 2018. The tolerable weekly intake consumption that was calculated in this study showed that green mussels from Cilincing, Kalibaru and Kamal Muara aquaculture areas can be consumed up to 1 kg/week for adult with an average body weight of 60 kg.
Pengaruh Pemberian Nannochloropsis oculata terhadap Kadar Total Kolesterol dan Berat Badan Tikus Sprague Dawley yang Mengalami Hypercholesterolemia Diini Fithriani; Etyn Yunita; Ajeng Kurniasari; Fauzan Martha
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.419 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v14i2.357

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Nannochloropsis oculata dengan dosis bertingkat terhadap kadar kolesterol total tikus yang dibuat hypercholesterolemia dan pengaruhnya terhadap perubahan berat tikus. Penelitian ini bersifat eksperimental menggunakan hewan percobaan tikus Wistar (Sprague Dawley) jantan.  Sampel terdiri dari 25 ekor tikus  Sprague Dawley yang secara acak dibagi menjadi menjadi 5 kelompok. Kelompok A adalah kelompok kontrol negatif yang diberi pakan standar, kelompok B adalah kontrol positif yang diberi pakan hiperkolesterol, dan  kelompok  C, D dan  E sebagai kelompok perlakuan yang diberikan pakan hiperkolesterol dan pemberian N. oculata dengan dosis 150 mg/ kg bb (kelompok C), 300 mg/ kg bb (kelompok D), dan 600 mg/ kg bb (kelompok E).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa N. oculata memberikan pengaruh positif terhadap penurunan total kolesterol. Semakin tinggi dosis mikroalga yang diberikan maka semakin tinggi penurunan total kolesterol dalam darah. Total penurunan kolesterol pada dosis 150 mg/kg bb adalah 21%, sedangkan pada dosis 300 mg/kg bb adalah 34% dan pada dosis 600 mg/kg bb adalah 42%. Pada kontrol positif mengalami  penurunan 12%, sedangkan kontrol negatif meningkat 3%.  Selain itu, diperoleh hasil bahwa terdapat interaksi periode waktu dan perlakuan terhadap kadar kolesterol. Hasil uji in vivo ini menunjukkan bahwa mikroalga N. oculata berpotensi untuk dikembangkan sebagai suplemen penurun kolesterol dengan dosis efektif 600 mg/kg bb. Pemberian N.oculata  pada dosis 150 mg-600 mg/kg bb selama 28 hari dapat menurunkan jumlah pakan yang dikonsumsi namun jumlahnya belum secara signifikan mempengaruhi berat badan tikus. The Effect of Nannochloropsis oculata on the Decrease in Total Cholesterol Levels and Body Weight  of Sprague Dawley Rats with Hypercholesterolimia AbstractThe aim of this research was to study the effect of Nannochloropsis oculata on the total cholesterol level of hypercholesterolemia rat and the changes of rat weight. This experimental study was conducted using male Wistar (Sprague Dawley) rat. The samples consisted of 25 Sprague Dawley rats that were randomly divided into 5 groups. Group A was a negative control group (standard fed), group B was a positive control (fed with hypercholesterolemia) and the C, D and E groups were the treatment groups given with hypercholesterol feed and N. oculata which was administered orally at a dose of 150 mg/kg bw (group C), 300 mg/kg wb (group D), and 600 mg/kg bw (group E). The results showed that microalgae N. oculata gave a positive effect on the total reduction of cholesterol. The higher the dose of the given microalgae the lower total cholesterol in the rat blood. The total decreased of cholesterol at dose of 150 mg/kg bw was 21%, while at dose of 300 mg/kg bw was 34%, at dose of 600 mg/kg bw was 42%, and in positive control was 12%. However, the negative control increased the cholesterol level at 3%. Statistically, the results showed that there was an interaction between the treatment and the day periode of treatment on the cholesterol blood level. This in vivo test showed that N. oculata is potential as a functional food for reducing cholesterol level with an effective dose of 600 mg/kg bw. Giving N. oculata at a dose of 150 mg-600 mg/kg bw for 28 days can reduce the amount of feed consumed but the amount has not significantly affected the body weight of rat.

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue