cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 1 (2012)" : 6 Documents clear
KARAKTERISTIK OUTGOING LONGWAVE RADIATION (OLR) BERDASARKAN EMPIRICAL ORTHOGONAL FUNCTION (EOF) DAN KAITANNYA DENGAN CURAH HUJAN DI WILAYAH INDONESIA [CHARACTERISTICS OF OUTGOING LONGWAVE RADIATION (OLR) BASED ON EMPIRICAL ORTHOGONAL FUNCTION (EOF) AND TH Iis Sofiati
Jurnal Sains Dirgantara Vol 10, No 1 (2012)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.902 KB)

Abstract

Metode Empirical Orthogonal Function (EOF) telah banyak digunakan pada berbagai penelitian untuk berbagai disiplin ilmu, dan salah satu aplikasinya untuk penelitian atmosfer. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik yang lebih spesifik dari variabilitas Outgoing Longwave Radiation (OLR) dan kaitannya dengan curah hujan dengan menggunakan metode EOF. EOF merupakan metode yang dapat digunakan untuk mengkomposisikan ulang data deret waktu pentad (data lima harian) OLR dalam menggambarkan variabilitasnya. Dari hasil analisa EOF didapat bahwa score-1 dan score-2 menunjukkan variasi OLR terhadap waktu, dimana score-1 menggambarkan karakteristik tahunannya, sedangkan score-2 menggambarkan fluktuasi OLR yang berhubungan dengan fluktuasi Southern Oscillation Index (SOI). Analisa korelasi yang dihasilkan dari EOF score-1 dengan curah hujan berkorelasi negatif, dengan nilai koefisien korelasi maksimum yang cukup baik sebesar 0,83. Hasil lain dari analisa EOF yang ditunjukkan dengan nilai proporsi pertama sebesar 19,8% menggambarkan adanya fluktuasi tahunan dari OLR, dimana terjadi nilai yang berlawanan di wilayah Utara dan Selatan ekuator, dan hal ini dimungkinkan berkaitan dengan adanya sirkulasi Hadley. Sedangkan untuk nilai proporsi kedua sebesar 8,7% menggambarkan adanya fenomena El Niño, dan hal ini berkaitan dengan adanya sirkulasi Walker.Kata kunci: Outgoing Longwave Radiation (OLR), Curah hujan, Empirical Orthogonal Function (EOF)
KARAKTERISTIK TINGKAT GANGGUAN GEOMAGNET REGIONAL INDONESIA [CHARACTERISTIC OF GEOMAGNETIC DISTURBANCE LEVEL OVER INDONESIAN REGION] Mamat Ruhimat; John Maspupu; Mira Juangsih; Visca Wellyanita; Kiyohumi Yumoto
Jurnal Sains Dirgantara Vol 10, No 1 (2012)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1118.171 KB)

Abstract

Tingkat gangguan geomagnet merupakan besaran yang menggambarkan aktivitas geomagnet, yang mencakup informasi tentang fenomena yang terjadi di magnetosfer. Gangguan geomagnet ini diperoleh dari pengukuran variasi harian geomagnet yang sudah bebas dari variasi hari tenangnya. Data variasi harian geomagnet yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari pengukuran magnetometer yang dilakukan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) bekerjasama dengan Universitas Kyushu dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada stasiun-stasiun pengamatan geomagnet di Kototabang, Pontianak, Parepare, Manado, dan Kupang. Untuk mengetahui karakteristik gangguan geomagnet regional Indonesia dari kelima stasiun tersebut digunakan suatu metode yang dikenal dengan analisis komponen utama (Principal Component Analysis/PCA). Dengan penelitian ini diharapkan dapat mengetahui tingkat gangguan geomagnet regional Indonesia. Hasil perhitungan tingkat gangguan geomagnet dari 5 stasiun secara visual menunjukkan hasil gangguan yang hampir sama. Dari hasil analisis komponen utama kelima stasiun memiliki korelasi data yang kuat antara stasiun satu dengan lainnya. Disamping itu gangguan geomagnet dari stasiun Manado merupakan gangguan geomagnet paling dominan yang ditunjukkan dengan nilai eigen tertinggi 2,81.Kata Kunci: Gangguan geomagnet, Variasi harian geomagnet, Analisis komponen utama
ANALISIS PENINGKATAN JUMLAH KANDUNGAN ELEKTRON MALAM HARI DI LINTANG RENDAH INDONESIA [ANALYSIS ENHANCEMENT OF ELECTRON CONTENT AMOUNT NIGHT-TIME IN INDONESIAN TOTAL LOW LATITUDE] - Asnawi
Jurnal Sains Dirgantara Vol 10, No 1 (2012)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (988.463 KB)

Abstract

Tulisan ini membahas investigasi peningkatan jumlah kandungan elektron (TEC) malam hari di lintang rendah Indonesia. Analisis statistik menggunakan data GISTM dari dua tempat, Bandung (6,90 ºLS 107,6 ºBT) dan Pontianak (0,03 ºLS 109,33 ºBT) pada saat aktivitas matahari minimum periode 2009 dan periode aktivitas matahari menuju naik tahun 2011. Analisis ruang berdasarkan IPP satelit yang melintas pada saat kemunculan peningkatan TEC malam hari antara Bandung dan Pontianak diperoleh distribusi kemunculan merata dengan intensitas amplitudo sedikit lebih tinggi sekitar Pontianak yang mengindikasikan adanya peran pergerakan gelombang yang dapat menyebabkan pelemahan ataupun penguatan gangguan skala kecil pada TEC. Dari statistik kemunculan peningkatan TEC malam hari diperoleh kemunculan yang tinggi saat akitivitas matahari maksimum tahun 2011 baik di Bandung maupun Pontianak dengan kemunculan tertinggi pada bulan-bulan equinoks. Pengaruh aktivitas geomagnet tidak tampak, karena aktivitas geomagnet baik pada tahun 2009 maupun tahun 2011 tidak mempengaruhi pola kemunculannya. Berdasarkan pola kemunculannya maka peningkatan TEC malam hari adalah komplemen dari kemunculan gelembung plasma.Kata Kunci: GISTM, Ionosfer, Peningkatan TEC malam hari, TEC
POPULASI SAMPAH ANTARIKSA MENJELANG PUNCAK AKTIFITAS MATAHARI SIKLUS 24 [SPACE DEBRIS POPULATION TOWARD THE PEAK OF SOLAR CYCLE 24 Abdul Rachman Hakim
Jurnal Sains Dirgantara Vol 10, No 1 (2012)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (949.604 KB)

Abstract

Aktifitas Matahari mempengaruhi populasi sampah antariksa melalui dampaknya pada kerapatan atmosfer atas. Peningkatan aktifitas Matahari yang meningkatkan kerapatan atmosfer akan mengakibatkan jatuhnya benda-benda di orbit yang cukup rendah. Namun, dampak yang sama menyebabkan turunnya benda-benda di orbit yang lebih tinggi menggantikan posisi benda-benda yang telah jatuh. Dengan menganalisis data orbit benda-benda buatan dalam katalog USSPACECOM sejak Desember 2008 hingga Oktober 2012, ditemukan bahwa populasi sampah antariksa secara umum meningkat meski jumlah yang jatuh terus menerus bertambah. Rata-rata 2,7 sampah antariksa bertambah setiap hari sedang yang jatuh rata-rata hanya 1,1 setiap hari. Besarnya persentase sampah Fengyun 1C, Cosmos 2251, dan Iridium 33 yang masih mengorbit menjadi faktor utama peningkatan populasi tersebut. Selanjutnya, dengan memakai pendekatan teori gas kinetik dan distribusi Poisson, ditemukan peningkatan jumlah sampah secara kontinu untuk ketinggian antara 600 dan 700 km yakni di sekitar ketinggian satelit LAPAN-TUBSAT. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa probabilitas tabrakan LAPAN-TUBSAT pada Oktober 2012 adalah 33,8% lebih tinggi dibanding probabilitasnya pada Desember 2008.Kata kunci: Aktifitas Matahari, Populasi sampah antariksa, Kerapatan atmosfer, LAPAN-TUBSAT, Probabilitas tabrakan
ANALISA KETELITIAN PEMETAAN MULTIQUADRATIC UNTUK FREKUENSI KRITIS IONOSFER REGIONAL [ANALYSIS ACCURACY OF MULTIQUADRATIC METHOD FOR MAPPING OF CRITICAL FREQUENCY OF IONOSPHERIC LAYER REGION] - Jiyo; - Ednofri
Jurnal Sains Dirgantara Vol 10, No 1 (2012)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1114.291 KB)

Abstract

Dalam makalah ini kami membahas pengujian ketelitian peta frekuensi kritis lapisan ionosfer (foF2) regional Indonesia, yang ditentukan menggunakan metode Multiquadratic. Pengujian telah dilakukan menggunakan data pengamatan di Biak, Pontianak, Kototabang, Sumedang, dan Pameungpeuk selama tahun 2006-2007 dan 2009-2010, serta menggunakan data tambahan yang diturunkan dari model ionosfer. Hasil analisis adalah Pertama, penerapan metode Multiquadratic menggunakan data pengamatan menghasilkan peta foF2 yang relatif lebih teliti dibandingkan dengan menggunakan data asimilasi. Kedua, nilai foF2 hasil pemetaan berkorelasi linier dengan data pengamatan dan akan semakin mendekati nilai sebenarnya jika jarak antar titik rujukan terdekat juga semakin kecil. Ketiga, penerapan metode Multiquadratic menggunakan data pengamatan dengan jarak antar titik rujukan terdekat kurang dari 1600 km menghasilkan galat relatif hingga 0,25 dan simpangan baku 0,24. Sedangkan penerapan dengan data asimilasi menghasilkan galat relatif hampir sama dan jarak antar titik rujukan terdekat kurang dari 1000 km. Keempat, ketelitian peta foF2 yang dihasilkan dengan metode ini dapat ditingkatkan dengan cara menambahkan titik rujukan sedemikian sehingga jarak antar titik rujukan terdekat hanya beberapa ratus kilometer saja. Cara ini dapat dilakukan dengan menggunakan data asimilasi. Kelima, khususnya daerah-daerah di Indonesia yang belum memiliki stasiun pengamatan ionosfer maka perlu dilakukan pemetaan dengan menggunakan data asimilasi.Kata kunci: Frekuensi kritis, Multiquadratic, Asimilasi, Titik rujukan, Galat realtif, Simpangan baku1 PENDAHULUAN
PRAKIRAAN CURAH HUJAN DI WILAYAH SITU CILEUNCA KABUPATEN BANDUNG DENGAN METODE STATISTIK NON-LINEAR [RAINFALL PREDICTION OVER THE CILEUNCA LAKE AREA AT BANDUNG REGENCY WITH NON-LINEAR STATISTICAL METHOD] Dadang Subarna; M. Yanuar J. Purwanto; Kukuh Murtilaksono; - Wiweka-
Jurnal Sains Dirgantara Vol 10, No 1 (2012)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (877.299 KB)

Abstract

Sebagai bagian dari Cekungan Bandung, Situ Cileunca memegang peranan penting dalam memasok sumber air baku untuk penduduk Kabupaten dan Kota Bandung. Curah hujan di area Situ Cileunca memperlihatkan bentuk fungsi distribusi probabilitas logaritmik normal yang tak simetris dengan kurtosis berharga negatif. Sesuai dengan karakteristik data maka metode analisis deret waktu linear dan non-linear yang sesuai telah diterapkan untuk mendapatkan nilai statistik deskriptif, probabilitas, pemodelan dan prakiraan ke depan berbasis data curah hujan bulanan dari tahun 1993 sampai 2011 di atas Situ Cileunca Kabupaten Bandung. Data curah hujan bulanan terdiri dari 230 data dengan koefisien variabilitas sebesar 78%, sedangkan untuk pemodelan digunakan 200 data dalam rangka memperoleh parameter non-linear optimal. Langkah pertama, dicari waktu tunda dari keseluruhan data yang diterapkan dengan menggunakan metode autokorelasi dan informasi mutual yang menghasilkan waktu tunda 2, lalu dicari dimensi embedding secara iterasi. Diperoleh dimensi embedding 23 dengan koefisien korelasi 0,6 yang merupakan nilai paling besar dari 30 dimensi embedding yang dicoba. Dimensi embedding 23 merupakan batas atas dari jumlah variabel bebas yang cukup untuk pemodelan dinamika curah hujan.Kata kunci: Curah hujan, Non-linear, Statistik, Situ Cileunca Waktu tunda, Dimensi embedding

Page 1 of 1 | Total Record : 6