cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 1 (2015)" : 5 Documents clear
ARUS CINCIN DAN PENGARUHNYA TERHADAP MEDAN GEOMAGNET DI WILAYAH INDONESIA (RING CURRENT AND IT'S EFFECT ON THE GEOMAGETIC FIELD IN INDONESIA REGION) Mamat Ruhimat
Jurnal Sains Dirgantara Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (927.757 KB)

Abstract

Arus cincin yang mengalir di ionosfer sekitar ekuator dapat diketahui keberadaannya pada kejadian gangguan geomagnet. Dalam peristiwa rekoneksi magnet terjadi transfer energi dari angin surya menuju magnetosfer bagian dalam. Energi ini diteruskan hingga terekam di permukaan Bumi dan menyebabkan adanya penurunan intensitas medan geomagnet yang dikenal dengan gangguan geomagnet. Dengan menggunakan data angin surya dan medan magnet antarplanet, dapat diperkirakan besarnya energi kopling angin surya magnetosfer, medan listrik merger, dan energi injeksi untuk arus cincin. Dari tiga kejadian yang dianalisis, dua di antaranya yaitu pada 3 Mei 2010 dan 29 Mei 2010 memiliki energi injeksi untuk arus cincin masing-masing Q =14,8 nT/jam dan 21,4 nT/jam. Berdasarkan hasil pemetaan gangguan geomagnet di wilayah Indonesia terlihat adanya pergeseran gangguan geomagnet dari Timur ke Barat. Hal ini menunjukkan adanya aliran arus cincin yang mengalir dari Timur ke arah Barat. Sedangkan kejadian 12 Juni 2010 menghasilkan energi injeksi yang rendah Q = 2,9 nT/jam, dan tidak menunjukan adanya arus cincin.Kata Kunci: Gangguan geomagnet, Magnetosfer, Angin surya, Transfer energi, Arus cincin
PROYEKSI AWAL MUSIM DI JAWA BERBASIS HASIL DOWNSCALING CONFORMAL CUBIC ATMOSPHERIC MODEL (CCAM) (SEASON ONSET PROJECTION IN JAVA BASED ON CCAM DOWNSCALING OUTPUT) Haries Satyawardhana; Armi Susandi
Jurnal Sains Dirgantara Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (849.296 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2015.v13.a2311

Abstract

Penelitian mengenai awal musim dengan kriteria Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menggunakan curah hujan dasarian di Indonesia telah banyak dilakukan, namun data yang digunakan masih memiliki keterbatasan dalam periode analisis, resolusi spasial yang masih rendah dan masih belum dapat menghasilkan proyeksi ke depan. Penggunaan model iklim adalah jawaban untuk mengatasi semua keterbatasan tersebut. Penelitian ini menggunakan Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) untuk downscaling dari data model iklim global dan reanalisis National Center for Environmental Prediction/National Center for Atmospheric Research (NCEP/NCAR). Periode waktu yang digunakan adalah periode 1991 2010 (20 tahun) sebagai periode baseline (kondisi saat ini) dan periode 2011 2030 sebagai periode proyeksi ke depan. Penentuan awal musim pada penelitian ini menggunakan kriteria curah hujan dasarian dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa proyeksi dengan menggunakan skenario A2 IPCC menyimpulkan bahwa Awal Musim Kemarau (AMK) di sebagian besar daerah Pulau Jawa datang lebih cepat, sedangkan Awal Musim Hujan (AMH) cenderung mundur atau datang lebih lambat dari baseline. Dengan kata lain, Pulau Jawa diproyeksikan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan musim hujan yang lebih pendek dibandingkan kondisi saat ini.Kata kunci: CCAM, Downscaling, AMK, AMH
VARIASI DIURNAL UAP AIR DI LAPISAN TROPOSFER BAWAH SAAT MADDEN JULIAN OSCILLATION FASE AKTIF MEMASUKI KAWASAN BARAT INDONESIA BERBASIS ANALISIS DATA GPS (DIURNAL VARIATION OF LOW LEVEL MOISTURE WHEN THE ACTIVE PHASE OF MADDEN JULIAN OSCILLATION ENTERING AREA OF WESTERN INDONESIA BASED ON GPS DATA ANALYSIS) Aries Kristianto; Tri Wahyu Hadi; Dudy Darmawan Wijaya
Jurnal Sains Dirgantara Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1298.139 KB)

Abstract

Uap air di lapisan troposfer bawah (Low-level Moisture/LLM) berperan dalam pertumbuhan awan hujan. Teknologi Global Positioning System (GPS) mampu mengekstraksi uap air LLM dengan menerapkan metode kombinasi selisih uap air total hasil ekstrasi groundbased GPS dengan Precipitable Water Vapor (PWV) di lapisan troposfer atas ECMWF. Variasi diurnal LLM berbasis data GPS di beberapa kawasan yang ada di bagian barat Indonesia, yaitu wilayah Jawa bagian Barat dianalisis terutama saat fase aktif Madden Julian Oscillation (MJO) sebagai salah satu variabilitas dominan yang sangat penting di daerah tropis. Kejadian MJO November 2009 di wilayah Jawa bagian Barat memberikan dampak terhadap variasi harian LLM, dimana anomali hariannya meningkat seiring dengan menurunnya anomali OLR saat MJO onset, dan menurun saat pasca MJO. Di bagian utara menunjukkan konsentrasi LLM menurun dari barat-timur, sedangkan di bagian selatan konsentrasinya meningkat. Variasi dari utara-selatan menunjukkan konsentrasi LLM yang cenderung berubah-ubah, sementara di bagian timur peningkatan uap air ke arah selatan sesuai dengan analisis vektor angin. Variasi diurnal LLM November 2009 saat fase MJO aktif secara umum konsentrasinya lebih tinggi dibandingkan pra dan pasca MJO. Dari analisis indeks konvektif citra satelit MTSAT IR1 juga menunjukkan LLM saat MJO berkaitan dengan aktivitas konvektif, baik pada periode pra-MJO, saat onset, aktif hingga pasca MJO.Kata Kunci: LLM,GPS, MJO, OLR
EVALUASI DAN PREDIKSI CUACA ANTARIKSA BERDASARKAN PERUBAHAN HARIAN INDEKS AKTIVITAS MATAHARI: SSN, F10.7, FXRAY, DAN EFLARE (EVALUATION AND PREDICTION OF SPACE WEATHER BASED ON DAILY CHANGES OF SOLAR ACTIVITY INDICES: SSN, F10.7, FXRAY, AND EFLARE) Rhorom Priyatikanto
Jurnal Sains Dirgantara Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.651 KB)

Abstract

Cuaca antariksa menjadi aspek yang penting dalam peradaban modern karena umat manusia semakin mengandalkan teknologi antariksa. Kondisi ini mendorong adanya upaya yang baik dalam mengukur kondisi terkini antariksa dan memperkirakan masa depan. Sejumlah indeks telah didefinisikan sebagai parameter cuaca antariksa, terutama aktivitas magnetik Matahari. Studi ini menelaah variabilitas dan parameter statistik dari empat indeks, yakni bilangan bintik Matahari (SSN), fluks radio 10 cm (F10.7), fluks sinar-X latar belakang (Fxray), dan energi total flare (Eflare). Siklus 23 dan 24 dipilih sebagai batas waktu analisis. Tujuannya adalah untuk mengetahui variabilitas setiap indeks sepanjanng siklus Matahari serta mengetahui karakter perubahan harian indeks tersebut. Berdasarkan analisis tersebut, tidak ditemukan perbedaan fase yang signifikan di antara fluktuasi keempat indeks meski amplitudo variasi yang berbeda teramati. Perubahan harian dari indeks tersebut hampir mengikuti distribusi Gaussian sehingga pengelompokkan ke dalam kelas diskrit dapat dilakukan. Batasan statistik 0,25? dan 0,85? dapat dipakai untuk membedakan perubahan kecil dan besar.Kata Kunci: Bintik Matahari, Emisi radio, Sinar-X, Energi flare
REANALISIS WEATHER RESEARCH AND FORECAST - FOUR DIMENSION DATA ASSIMILIATION (WRF-FDDA) UNTUK MENINGKATKAN AKURASI ESTIMASI POTENSI ENERGI ANGIN DI DAERAH LEPAS PANTAI (STUDI KASUS: PANTAI SELATAN JAWA BARAT) Nurry Widya Hesty; Tri Wahyu Hadi
Jurnal Sains Dirgantara Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.867 KB)

Abstract

Peta potensi energi angin lepas pantai yang akurat, memiliki resolusi tinggi, dan tidak tergantung pengukuran insitu sangat dibutuhkan untuk mengurangi biaya pengukuran langsung dan mendorong pengembangan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Angin di Indonesia. Dalam penelitian ini, dilakukan teknik asimilasi data nudging FDDA untuk memperbaiki akurasi model cuaca skala meso WRF di lepas pantai selatan Jawa Barat menggunakan data angin permukaan laut Cross-Calibrated Multi-Platform (CCMP) sebagai data asimilasi. Tes sensitifitas dilakukan dengan membandingkan enam buah parameterisasi Planetary Boundary Layer (PBL) terhadap sampel. Hasil uji menyatakan skema PBL Yonsei University (YSU) menjadi skema yang paling mendekati data stasiun pengamatan dan terpilih untuk dijalankan sepanjang 2008. Hasil model diverifikasi dengan data stasiun pengukuran di Sukabumi. Hasil verifikasi menunjukkan asimilasi data FDDA dapat mereduksi nilai RMSE dan menghasilkan pola distribusi angin mirip dengan data stasiun pengukuran.Kata kunci: WRF, FDDA, Potensi angin, Lepas pantai

Page 1 of 1 | Total Record : 5